Anda di halaman 1dari 31

REST POSITION HABITUAL OCCLUSION

TEMPOROMANDIBULAR JOINT
Sumber: Rakosi, T.; I. Jonas; T. M. Graber I. 1993. Color Atlas of Dental Medicine Orthodontic Diagnosis.
New York: Thieme Medical Publisher. 131-137 pp.

Oleh:
Galang Mahardhika 1601101100xx
Dea Ayu Nastiti 160110110065
Nabila Shery Larasati 1601101100xx
Pembimbing:
Dr. Avi Laviana, drg., Sp.Ort
drg. Charles
Maloklusi Kelas III
Pergerakan
Pergerakan Pergerakan
rotasi disertai
rotasi tanpa rotasi disertai
sliding
sliding sliding anterior
posterior

Selama fase artikular,


Hubungan
mandibula bergerak ke depan Pada kasus-kasus prognati
anatomi/morfologi sesuai
dan menjadi prognatik, mandibula, mandibula
dengan hubungan fungsional
forced bite (fungsional, mengalami sliding posterior
(non-fungsional, true Class III
maloklusi non skeletal, hingga ke posisi maximum
malocclusion prognosis
disebut pseudo Class III, intercusption
tidak menguntungkan)
prognosis menguntungkan)
a. Artikulasi maksimal,
b. Pola penutupan dengan sliding posterior,
c. Pergerakan rotasi murni dari postural rest ke
posisi oklusi,
d. Pola penutpan mandibula dengan sliding anterior
True
Pergerakan rotasi
dengan sliding Forced bite
anterior
Pseudo
Pseudo Forced Bite
Pseudo Forced Bite
True Class III
Skeletal
Malocclusion Koreksi anterior
(e.c dysplasia Path of closure overjet
skeletal) disertai sliding semakin negatif
kompensasi anterior prognosis
dento alveolar unfavorable
overjet tidak
terlalu besar
Cephalogram insisif atas Posisi oklusi yang
pasien tipping ke terjadi pada
labial, insisif dysplasia kelas III
prognati dengan
bawah tipping
mandibula linguoversi insisif
ke lingual, bawah dan
dengan mandibula labioversi insisif
kompensasi diarahkan ke atas sebagaimana
dentoalveolar anterior ketika pada pseudo-
parsial penutupan. forced bite
Sliding anterior

Forced bite

Grafik dari pergerakan penutupan sagital pada


pasien
Posisi istirahat Kontak awal Oklusi Normal
pasien
gigi
Evaluasi Hubungan
antara Posisi Istirahat
dan Oklusi habitual

Bidang Vertikal Bidang Transversal


Bidang Vertikal

Untuk membedakan
true deep overbite
dan pseudo-deep
overbite

Penilaian : Dimensi
Vertikal & Freeway
Space
A. Posisi Oklusal
B. Pseudo-deep overbite dengan freeway space kecil
C. True deep overbite dengan freeway space besar
Ilustrasi skematik dari dua tipe fungsional dari overbite yang dalam menurut
Hotz dan Muhlemann (1952).
Freeway space fisiologis yang terlihat pada regio kaninus, rata-rata 4mm pada
anak-anak dan 2-3mm pada dewasa.
True Deep Overbite Pseudo Deep Overbite

Freeway space besar Freeway space kecil


Infraklusi molar Molar erupsi penuh,
Koreksi : alat fungsional erupsi berlebih dari
freeway space besar insisif
setelah ekstrusi molar Koreksi alat fungsional
free way space freeway space kecil,
cukup ekstrusi molar
Prognosis favorable terganggu nya posisi
istirahat , memicu
terjadinya masalah TMJ.
Prognosis unfavorable
True-Deep Overbite

Pseudo-Deep Overbite
Dilihat dari Bidang Transversal
Pemeriksaan midline:
saat mandibula
bergerak dari rest
position ke habitual Laterognathy
occlusion

Tipe
Fungsi: menentukan
diagnosis banding pada
suatu kasus (unilateral
cross bite) Lateroclusion
Laterognathy
Definisi
Garis tengah RB tidak satu Penyebab:
garis dengan garis tengah Kelainan
wajah saat habitual neuromuskular
occlusion dan rest Asimetri anatomi
position

Lateral cross bite Prognosis:


disertai Kurang baik, jika
laterognathy = true hanya dilakukan
cross bite perawatan kausal
Laterognathy

C
C

Rest position Habitual Occlusion position


Laterognathy

Rest position Habitual Occlusion position


Lateroclusion
Definisi Disebabkan karena:
Garis tengah RB tidak satu Kesalahan tooth guidance
garis dengan garis tengah yang membentuk
wajah, tetapi hanya pada saat interference
posisi habitual
occlusion

Merupakan kesalahan
fungsional, yaitu
maloklusi fungsional
(bukan maloklusi
sebenarnya)
Lateroclusion

C C

Rest position Habitual Occlusion position


Lateroclusion

Rest position berada pada satu garis Intial tooth contact position

Habitual occlusion
Perbedaan Laterognathy dan
Laterocclusion
Laterognathy Laterocclusion
Garis tengah tidak berada Garis tengah tidak berada
pada satu garis, pada saat: pada satu garis, hanya pada
- Rest position saat:
- Habitual occlusion - Habitual occlusion

Penyebab: Neuromuskular Penyebab: Kesalahan tooth


dan Asimetri anatomi guidance

Maloklusi Skeletal Kesalahan maloklusi


fungsional, bukan maloklusi
sebenarnya
Pemeriksaan Klinis TMJ
Tujuan
Menilai tingkat keparahan dari clicking, nyeri, dan disfungsi yang merupakan
karakteristik dari gejala patologis TMJ.
Pemeriksaan Objek Gejala

Auskultasi TMJ Clicking, Krepitasi

Palpasi TMJ, Muscular Rasa nyeri saat palpasi

Analisa Fungsional TMJ, Ekskursi mandibula Dislokasi, Hipermobiliti


Oklusi, Posisi istirahat Limitasi, Deviasi
Kontak prematur, Disfungsi Disfungsi orofacial
Radiografis TMJ Dislokasi, Perubahan dalam
bentuk dan struktur
Jenis jenis Clicking
Inisial Intermediate
Normal

Terminal Reciprocal
Jenis jenis Pemeriksaan
Suara yang dibuat oleh TMJ

Auskultasi dievalusi dengan stetoskop.


Jenis dari clicking selama
membuka dan menutup
mulut harus dicatat : initial,
intermediate, terminal,
reciprocal
Lakukan penekanan ringan
Palpasi lateral pada condylus dengan jari
indeks.
Palpasi kedua sisi secara
simultan.
Catat setiap tingkat
kelembutan dan
ketidakteraturan pergerakan
dari condylus selama
membuka dan menutup mulut
Palpasi dilakukan secara
bersamaan di sisi kiri dan
kanan
Tempatkan jari kelingking
Palpasi pada external auditory
Posterior TMJ meatus dan palpasi pada
permukaan posterior
condylus selama gerakan
membuka dan meunutup
mulut.
Palpasi harus dilakukan
sesuai dengan gerakan
condylus saat menutup
mulut dan gigi beroklusi
sentrik.
Palpasi pterygoid lateral Palpasi daerah terdekat
dengan leher condylus dan
kapsul sendi pada bagian
belakang atas tuberositas
maksilaris.
Pemeriksaan dilakukan dengan
keadaan mulut terbuka dan
mandibula bergerak lateral.
Pada tahap disfungsi inisial
TMJ, otot-otot tersebut
biasanya terluka saat palpasi
hanya pada satu sisi. Pada
tahap yang lebih parah rasa
sakit biasanya bilateral.
Otot termporalis di palpasi
Palpasi pada otot secara bilateral dan ekstraoral.
Bagian anterior, medial dan
temporal posterior otot diperiksa secara
terpisah. Palpasi dilakukan
ketika otot berkontraksi secara
isometris
Gambar kiri : Perlekatan otot
temporal pada prosesus
koronoideus, pada regio
posterolateral dari vestibulum
atas dipalpasi
Mulut pasien harus setengah
terbuka agar bisa melakukan
pemeriksaan.
Otot masseter superficial
Palpasi pada dipalpasi dibawah mata, inferior
terhadap arcus zygomaticus.
Bagian yang lebih dalam dipalpasi
otot masseter pada tingkat yang sama, kurang
lebih selebar 2 jari di depan
tragus.
Gambar kiri : Selama kontraksi
isometris otot maksimum lebar
permukaan otot masseter dan
arah tarikannya bisa dicatat
disekitar sudut gonial.
Perlekatan otot ini sebaiknya
diperiksa untuk mengetahui rasa
nyeri terhadap tekanan.
Titik pemicu tambahan bisa
timbul dan akan terasa sedikit
sakit.
Catat jarak antara tepi insisal
insisif central rahang atas dan
Mencatat jarak rahang bawah saat
maksimum interincisal pembukaan maksimum
dengan Boley gauge.
Pada kasus overbite nilai
maksimum interincisal
ditambahkan sedangkan pada
openbite dikurangi.
Perluasan pembukaan
maksimum rahang biasanya
40-45mm.
Dalam kasus disfungsi TMJ,
hipermobility sering tercatat
dalam tahap inisial dan limitasi
pada tahap lanjutan.