Anda di halaman 1dari 144

DR. IR.

SUDARMOYO, SE, MSc

JTM FTM UPN VETERAN


YOGYAKARTA
Materi:

Logging Environment & Evaluasi Kandungan HC

Log-log Yang Menunjukkan Zona Permeable.


A. Spontaneous Potential (SP)
B. Gamma Ray (GR)

Log-log yang mengukur resistivitas formasi


A. Log Induction
B. Log Lateral

Log-log yang mengukur porositas formasi


A. Log Neutron
B. Log Densitas
C. Log Sonic

Clean Formation Evaluation


Shaly Formation Evaluation
LOGGING ENVIRONMENT
&
EVALUASI KANDUNGAN HC
LOGGING ENVIRONMENT
PROSES INVASI
PROSES INVASI
Selama proses pemboran sumur :

Tekanan lumpur bor, Ph


Tekanan hydrostatic fluida di dalam pori-pori formasi
(Tekanan reservoir), Pres

Ph > Pres

Beda kedua tekanan diatas selalu dikontrol untuk :


Mencegah terjadinya Blowout
Mendorong cairan lumpur bor (mud filtrate) masuk
kedalam formasi porous permeabel (proses invasi).

Proses invasi menimbulkan padatan pada dinding


formasi yang dinamakan Kerak lumpur (mud cake).

Cairan yang masuk kedalam formasi dinamakan Mud


Fitrate
Profil invasi didalam Lubang Bor
Nomenclature:

Borehole:
Rm = Resistivity of mud.
Rmc = Resistivity of mud cake.

Flushed Zone:
Rmf = Resistivity of mud filtrate.
RXO = Resistivity of flushed zone.
SXO = Water Saturation of flushed zone.

Uninvaded or Virgin Zone:


RT = True resistivity of formation.
RW = Resistivity of formation water.
SW = Formation Water Saturation.
RS = Resistivity of adjacent bed
di = Diameter of invasion.
dh = Borehole diameter.
h = Bed thickness.
KARAKTERISTIK
INVASI FILTRAT LUMPUR

INVASI FILTRAT LUMPUR ADALAH AIR FILTRAT


LUMPUR YANG MASUK KE DALAM FORMASI
BATUAN YANG POROUS DAN PERMEABEL
SELAMA PEMBENTUKAN MUD CAKE

BANYAKNYA FILTRAT LUMPUR YANG MASUK


TERGANTUNG PADA JENIS LUMPUR PEMBORAN
DAN JENIS FORMASI BATUAN YANG DIBOR

JAUH DEKATNYA INVASI FILTRAT LUMPUR


(FILTRAT LOSS) MENGINVASI ZONA POROUS
PERMEABEL TERGANTUNG PADA HARGA
POROSITAS DAN PERMEABILITASNYA

JIKA besar DAN K tertentu MAKA INVASI


FILTRAT LUMPUR AKAN DANGKAL

JIKA kecil DAN K besar MAKA INVASI FILTRAT


LUMPUR AKAN JAUH
DIAMETER INVASI FILTRAT LUMPUR FUNGSI
POROSITAS :

> 20 % Di = 2d
15 % < < 20 % Di = 3 d
10 % < < 15 % Di = 5 d
5 % < < 10 % Di = 10 d

Di = Diameter Invasi Filtrat Lumpur


D = Diameter Lubang Bor
= Porositas Batuan, Fraksi
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI DIAMETER FILTRAT
LUMPUR ( DIAMETER ZONA YANG
TERINVASI)

1. JENIS LUMPUR PEMBORAN YANG


DIGUNAKAN

2. PERBEDAAN TEKANAN ANTARA LUMPUR


DAN FORMASI

3. PERMEABILITAS FORMASI

4. POROSITAS FORMASI

5. PROSES PEMBORAN

6. GRAVITY SEGREGATION
1. JENIS LUMPUR PEMBORAN

JUMLAH AIR FILTRAT LUMPUR YANG HILANG


SELAMA PROSES PEMBORAN TERGANTUNG PADA
ADDITIVE DAN TYPE MATERIAL YANG
DIGUNAKAN UNTUK MEMBUAT LUMPUR

SETIAP JENIS LUMPUR PEMBORAN AKAN


MEMPENGARUHI INVASI, TERGANTUNG PADA
WATER LOSS LUMPUR TERSEBUT

KARENA LUMPUR DIPERTIMBANGKAN SEBAGAI


KOMPOSISI YANG HOMOGEN, MAKA SETIAP
LUMPUR MEMBENTUK MUD CAKE DAN KEHI-
LANGAN SEJUMLAH AIR FILTRAT TERTENTU
PADA SAAT PROSES PEMBORAN

JUMLAH AIR FILTRAT YANG HILANG SELAMA


PEMBENTUKAN MUD CAKE TERGANTUNG PADA
ADDITIVE DAN TYPE MATERIAL YANG DIGUNA-
KAN DALAM PEMBUATAN LUMPUR TERSEBUT
2. PERBEDAAN TEKANAN ANTARA
KOLOM LUMPUR DAN FORMASI

PERBEDAAN TEKANAN YANG ADA ANTARA


KOLOM LUMPUR DAN FORMASI, SANGAT
PENTING KARENA AKAN MENENTUKAN
JUMLAH FILTRAT YANG AKAN DITEKAN
MASUK KE FORMASI

JIKA PERBEDAAN TEKANAN YANG ADA


LEBIH BESAR MAKA FLUIDA YANG HILANG
SEMAKIN BESAR

GAMBARAN RATA-RATA PERBEDAAN


TEKANAN YANG BAGUS PADA SAND FACE
= 100 Psi, YANG MANA TEKANAN TERSEBUT
DIGUNAKAN PADA PENENTUAN FLUID
LOSS LUMPUR DALAM PERCOBAAN FILTER
PRESS DI LABORATORIUM
3. PERMEABILITAS (K)

MEMPUNYAI SIFAT YANG MENDUKUNG


TERHADAP MASUKNYA FILTRAT LUMPUR
KE DALAM FORMASI SAMPAI MENCAPAI
KEDALAMAN INVASI YANG TERJAUH
(ULTIMATE DEPTH)

DI SISI LAIN, DAYA DUKUNG PERMABILITAS


INI DIBATASI OLEH WAKTU MASUK FILTRAT
KE DALAM FORMASI BERSAMAAN DENGAN
TERBENTUKNYA MUD CAKE

SEMAKIN BESAR K SEMAKIN DALAM


INVASI, DENGAN BERTAMBAHNYA WAKTU,
MAKA KEMUDAHAN FILTRAT MASUK KE
FORMASI SEMAKIN MENURUN, KARENA
SEMAKIN TEBALNYA MUD CAKE YANG
TERBENTUK
4. POROSITAS

SEBAGAI FAKTOR PENENTU KEDALAMAN


INVASI

JIKA POROSITAS MENINGKAT (SEMAKIN


BESAR) KEDALAMAN INVASI MENURUN

SETIAP JENIS LUMPUR MEMPUNYAI


VOLUME FILTRAT YANG RELATIF KONSTAN

VOLUME AIR FILTRAT LUMPUR YANG


HILANG (MASUK KE DALAM FORMASI)
TIDAK TERGANTUNG PADA JENIS
FORMASINYA TETAPI SANGAT
DIPENGARUHI OLEH JENIS LUMPURNYA

BATUAN FORMASI YANG MEMPUNYAI


VOLUME PORI PER FOOT KEDALAMAN DARI
LUBANG BOR LEBIH BESAR KAPASITAS
PENYIMPANAN (STORAGE) BATUAN LEBIH
BESAR PULA, ARTINYA BATUAN TERSEBUT
POROSITASNYA BESAR MAKA BATUAN
FORMASI TERSEBUT AKAN MEMPUNYAI
ZONE INVASI LEBIH PENDEK DARI BATUAN
FORMASI YANG MEMPUNYAI POROSITAS
YANG LEBIH KECIL
5. PROSES PEMBORAN

SUATU PROSES PEMBORAN DAPAT MERUBAH


KEDALAMAN INVASI FILTRAT

HAL INI TERJADI KARENA ADA KEMUNGKINAN PADA


SAAT PEMBORAN BERLANGSUNG, MUD CAKE YANG
SEBELUMNYA SUDAH TERBENTUK PADA SUATU FORMASI
MENGALAMI KERUSAKAN TERKIKIS (SEBAGIAN ATAU
TOTAL).
JIKA HAL INI TERJADI, PROSES INVASI SEBELUMNYA
TERULANG LAGI, MEMBENTUK MUD CAKE BARU,
AKIBATNYA VOLUME FILTRAT YANG MASUK FORMASI
SEMAKIN BERTAMBAH SEHINGGA DIAMETER INVASI
SEMAKIN JAUH KEDALAM FORMASI

6. GRAVITY SEGREGATION (SG)

PROSES GS TERJADI SETELAH FILTRAT LUMPUR MASUK


KE FORMASI

KECENDERUNGANNYA, FILTRAT FILTRAT LUMPUR AKAN


BERGERAK KE ATAS

PROSES GS INI AKAN MENGUBAH BENTUK ZONA INVASI


FUNGSI DARI WAKTU

PROSES GS INI TERJADI KARENA ADANYA PERBEDAAN


DENSITAS DAN SALINITAS FLUIDA ANTARA FILTRAT
LUMPUR DENGAN AIR FORMASI DALAM PORI BATUAN
(DENSITAS AIR FILTRAT < DENSITAS AIR FORMASI,
SALINITAS AIR FILTRAT < SALINITAS AIR FORMASI )
PADA BAGIAN BAWAH DARI FORMASI, AIR
FILTRAT BERGERAK NAIK DARI DINDING
LUBANG BOR DAN INVASINYA DANGKAL

PADA BAGIAN ATAS, FILTRAT LUMPUR


TERAKUMULASI DI BAGIAN BATAS ATAS
DAN INVASINYA DALAM

JIKA PROSES FILTRASI TELAH SELESAI,


YANG TERJADI ADALAH SEMUA FILTRAT
AKAN MENGUMPUL DI SEPANJANG BATAS
ATAS FORMASI DAN KONDISI INVASINYA
TIDAK MUNCUL PADA SEMUA LAPISAN
TERSEBUT
LAJU ALIR VERTIKAL DARI FILTRAT
TERGANTUNG PADA PERMEABILITAS
VERTIKAL DARI BATUAN DAN PERBEDAAN
DENSITAS ANTAR FLUIDA. SECARA
MATEMATIS :

Kz
Vz 2,74 ( )g

W mf

Keterangan :

Vz = LAJU ALIR VERTIKAL, Ft/day


Kz = PERMEABILITAS VERTIKAL, DARCY
= VISCISITAS AIR, CP
= POROSITAS BATUAN
w, mf = DENSITAS FLUIDA
g = PERCEPATAN GRAVITASI, cm/sec2
RESUME

DIAMETER ZONA INVASI (Di) INI


SUSAH UNTUK DITENTUKAN
KARENA BELUM ADA ALAT UNTUK
MENGUKURNYA

YANG MUNGKIN DILAKUKAN


ADALAH MEMPERKIRAKAN NILAI Di
MENGGUNAKAN KOMBINASI
RESISTIVITY LOG YANG
MEMPUNYAI KEDALAMAN
INVESTIGASI YANG BERBEDA
(DASARNYA : PROFIL RESISTIVITY
BATUAN)

NILAI UMUM UNTUK Di


HIGH POROSITY : Di/d =2
MEDIUM POROSITY : Di/d =5
LOW POROSITY : Di/d =10
TEKNIK UNTUK EVALUASI Di
MENGGUNAKAN DATA PERCOBAAN
(EXPERIMENTAL) :

WATER BASE MUD (NO ADDED FLUID LOSS


CONTROL)

Di
D.C
(0,04643 0,00002381.P).API.t 1/2 0,00635(BHT ST).t 1/2 . 0,01495.Vmud .t 1/2

1,0 0,0063(BHT ST) D 2

EMULSION MUD

D
Di (0,04418 0,000395(B HT ST) 0,0000464. P)API.t 0,0732.V .t
1/2


mud

1,0 0,0081(BHT ST) D 2 1/2


OIL BASE MUD

D
Di (0,04882.A PI.t 0,01696.V .t
1/2


mud

1,0 0,007(BHT ST) 0,0005 P D 2 1/2

KETERANGAN :

API = API STATIC FILTER LOSS RESULT, cc/30min


BHT = TEMPERATUR OF FORMATION OF INTEREST, F
C = DYNAMIC CORRECTION FACTOR FOR GEL WATER
BASE MUD
D = BORE HOLE DIAMETER, INCH
Di = INVASION DIAMETER, INCH
P = PRESSURE DIFFERENTIAL BETWEEN WELL BORE
AND FORMATION, Psi
ST = SURFACE TEMPERATURE AT WHICH API TEST
WAS RUN, F
t = TIME, HOUR
Vmud = MUD VELOCITY IN ANNULUS BETWEEN DRILL
PIPE AND FORMATION, ft/sec
= POROSITAS BATUAN, FRAKSI
Pengaruh Invasi
Pada Pengukuran Resistivitas.

1. Flushed zone dengan diameter (df.)


Mengandung Mud Filtrate (Rmf )
Mengandung Residual Hydrocarbon
Resistivitas Batuan Rxo.
Tebal ~ 6 inches, tapi bisa lebih atau kurang

2. Transition zone dengan diameter (dj.)

Rentangnya bisa beberapa feet.

3. Undisturbed zone:

Punya Resistivitas Air Formasi (Rw),


Resistivitas Batuan (Rt), dan Water
Saturation (Sw) .

Archie membuat percobaan bagaimana


pengaruh invasi filtrat lumpur terhadap
sifat kelistrikan batuan formasi
Percobaan Archie
Percobaan Archie (lanjutan)
A. Resistivitas Air Formasi (Rw).
Archie mula mula mengukur resistivitas air formasi (Rw)
dalam suatu bejana.

Dengan mengukur besar arus I dan voltage V,


maka resistivitas air formasi, Rw

dihitung sbb:

V
Rw = ----- [ ohm-m]
I

B. Resistivitas Batuan, Ro.


Archie kemudian menganalisa sebuah batuan. Mula mula
diukur porositasnya . Pori pori tadi lalu diisi sepenuhnya
(Sw = 1) dengan air formasi yang resistivitasnya telah
diukur sebesar Rw.

Dengan mengukur besar arus I2 dan voltage V, maka


resistivitas batuan, Ro, dihitung sbb:

V
Ro = --------- [ ohmm]
I2

Ternyata Ro > Rw Ro = F Rw
Kemudian Archie mengulang percobaannya dengan salinitas air
formasi yang berbeda.
Diperoleh :
Ro1 = F Rw1
Ro2 = F Rw2
Ro3 = F Rw3

Terlihat bahwa Resistivitas batuan (Ro) berbanding lurus


dengan Resistivitas air formasi (Rw) yang dikandungnya.

Ro = F Rw (1)

dimana F = Formation Resistivity Factor.

Hasil percobaan diatas berupa data F dan untuk sebuah batuan


yang dilakukan kurang lebih 300 contoh batuan.

Harga F dan tersebut lalu di-plot pada sumbu axis dan ordinat
seperti pada gambar dibawah.

Sebuah garis dapat ditarik untuk merepresentasikan titik-titik tsb.


Persamaan garis tadi secara matematis adalah:

a
F = ----------- (2)
m

m = Cementation exponent,
diketahui bahwa besaran m = 1.3 - 2.2
a = Tortuosity Factor
PLOT HUBUNGAN ANTARA FAKTOR RESISTIVITAS
FORMASI (F) VERSUS PERMEABILITAS (K) DAN
POROSITAS ()
C. Resistivitas Batuan (Rt).

Karena yang kita cari adalah oil, maka batuan dalam percobaan
pertama diisi dengan air formasi dan minyak.
Dengan penambahan minyak berarti Sw lebih kecil dari satu :

Sw < 1

Pengukuran menghasilkan Resistivitas Batuan ( Rt )


Dimana :

Rt lebih besar dari Ro,


Rt berbanding lurus dengan Ro.

Rt = I Ro (3)

Dimana I = Resistivity index

Makin kecil Sw makin banyak minyak dalam pori-pori & makin


besar Rt makin besar resistivity index (I).

Jadi I dan Sw berbanding terbalik:

1
I = ----------- (4)
Sw n

Dimana n = Saturation exponent, kira-kira = 2


a=
Dari persamaan (1), (2), (3) dan (4) Archie menyusun formulanya
yang terkenal dalam tahun 1942 adalah sebagai berikut :

F. Rw
Sw n = ------------------- (5)
Rt

Persamaan ini dikenal sebagai Archie Formula.


Rumus ini dipakai sebagai Dasar Interpretasi Data Log sampai
sekarang.

Prinsip Pengukuran Logging :

Mengukur Resistivitas sebuah Reservoir (R1).

Kemudian ukur Resistivitas Reservoir lain yang diketahui


mengandung air (R2).

Dapat disimpulkan bahwa jika (R1) > (R2), maka ada HC


dalam reservoir (R1) .
Resistivity of Water-saturated Formations

F = 100 %

Ro = Rw Ro Rw

Open volume of
water

F=0%

1
Ro = Ro
F

Solid rock
Assume a 100% water-bearing formation
filled with water of resistivity Rw

Water is a conductor
Rock is an insulator

Current travels along


the path of least
resistance

this is referred to as WET


resistivity (Ro) Rw
Ro = f (Rw, Porosity, Pore tortuosity)

Increase porosity
decrease Ro

Decrease porosity
increase Ro

Therefore...

1
Ro
F
1 F= a
Ro F R w where F
F
m
F
Now add oil to that formation...

Oil is an insulator

Current travels along


the path of least
resistance
Rt
Current path now
longer because of oil

Resistivity is
increased

this is referred to as TRUE resistivity (Rt)


Rt = f (R0, amount of oil)

Ro Sw Rt
n

Ro F Rw
Sw
n

Rt Rt

Ratio of wet resistivity to true resistivity


Archies Equation
Tortuosity Factor and
Cementation Exponent Formation Water Resistivity

Saturation Exponent
Porosity Uninvaded Zone Resistivit
Archies Equation
Value for tortuosity factor (a), cementation exponent (m),
and saturation exponent (n). Nilai m berkisar antara 1,3
2,2 ( non cemented highly cemented)

SANDSTONES
CARBONATES
Porosity > 16% Porosity < 16%
(Humble) (Tixier)

a 1.0 0.62 0.81

m 2.0 2.15 2.0

Value for tortuosity factor (a), cementation exponent (m),


and saturation exponent (n) can be determined from core
analysis. Typically assumed to be equal to 2.0
Identifikasi Keberadaan HC dalam
Reservoir
Keberadaan HC dalam ruang pori-pori diketahui dengan
mengukur tahanan-jenis listrik /electrical resistivity formasi.

Asumsi:
Matrix batuan tidak menghantarkan arus listrik.
Ini berarti hantaran listrik sepenuhnya dilakukan
melalui air dalam pori-pori.
Ini dimungkinkan karena air tadi mengandung NaCl.

Jadi Batuan yang mengandung air punya High Conductivity


(atau low resistivity).
1
Note : Conductivity = -----------------
Resistivity
Archies Equation
Rumus ini dapat disederhanakan bila kita punya zona yang
sudah diketahui mengandung air (water bearing), maka
data porositas dapat ditentukan dari log resistivity.
Tortuosity Factor and
Cementation Exponent Formation Water Resistivity

Saturation Exponent
Porosity Uninvaded Zone Resistivity
Formation Resistivity
Factor

Untuk harga-harga porositas yang biasa ditemui


dalam logging, Formation Factor (F) dihitung
sbb:
1
Pada limestone: F = ---------
F2

0.81 0.62
Pada sandstone: F = ------ or F = ------
F2 F 2.15

Dimana m = cementation factor


Prosedur Evaluasi
Formasi

Formation Evaluation dilakukan dengan memakai 3 log :

Log yang menunjukkan Zona Permeabel.

Spontaneous Potential (SP) Log


Gamma Ray Log
Caliper Log

Log Yang Mengukur Resistivitas Formasi (Rt, Rxo)

Induction Log Deep and Shallow (ILd and ILs)


Laterolog Log Deep and Shallow (LLd and LLs

Log Yang Mengukur Porositas.

Density Log
Neutron Log
Sonic Log
Contoh Penggunaan Archie Formula
Formula
(lanjutan)

Penentuan Resistivitas Air Formasi (Rw) :

Perhitungan resistivitas air formasi, Rw, dilakukan


dengan mudah dengan memakai rumus Archie
dalam zona yang mengandung air (lihat fig 2-2) :

Zona D adalah zona air karena harga Resistivitas-


nya rendah, yaitu Rt = 0.3 ohmm (asumsi Sw = 1)
Harga Porositas-nya sebesar 0.35

F Rw
Sw2 = 1 = ---------
0.3

Rw dihitung sebesar 0.045 ohm m.


Mencari Zona Produktif ?

Zona Permeable dicari dengan Log SP atau GR :

Shale base line disebelah kanan menunjukkan shale


(yang tidak permeable dan tidak akan berproduksi).

Penurunan SP kekiri menunjukkan adanya Clean Zones


(sand atau limestone) yang mungkin bisa produktif.

Log-log Resistivitas :

High resistivity menunjukkan HC atau tight zones atau


zona-zona berporositas rendah.

Low resistivity menunjukkan adanya air.

Log-log Porositas

Menunjukkan zona-zona yang berpori-pori atau yang


tight .
LOG YANG MENUNJUKKAN
ZONA PERMEABLE
Log SP
(Spontaneous Potential)
Applikasi Log SP :

Untuk membedakan batuan permeable dan non-


permeable.
Untuk korelasi well to well.
Sebagai reference kedalaman untuk semua log.
Untuk menentukan batas lapisan.
Untuk menghitung harga Rw.
Sebagai clay indicator.

Prinsip kerja :

Sebuah elektroda diturunkan kedalam lubang


sumur lalu direkam potensial listrik berbagai
titik dengan reference potensial elektroda
dipermukaan tanah.

Jadi SP adalah rekaman beda potensial antara


sebuah elektroda yang bergerak dalam sumur
dan sebuah elektroda lain yang ditanam di per-
mukaan tanah.
Lumpur harus bersifat conduktif.
Logging speed bisa 1500 m/hr.
PENGUKURAN LOG SP
Asal Mula Pengukuran Log SP
SP Deflection.

Kurva SP konstan tapi menyimpang ke level lain bila me


lewati batas dua formasi yang berlainan.

Dimuka batuan yang permeabel berisi air, maka


Bila Rmf > Rw SP menyimpang kekiri (SP negatif).
Bila Rmf < Rw SP menyimpang kekanan (SP positif).

Tidak ada penyimpangan SP dimuka batuan yang non-


permeabel atau dimuka shale.
SP DEFLECTION
Penyajian kurva SP:

Kurva SP disajikan di track I dengan satuan millivolt.


Tidak ada skala absolut, namun dipakai harga 10 mV
per small division.
Biasanya dipakai skala 80 sampai 20 mV
Log GR
( Gamma Ray )
Application Log GR.

Standard Gamma Ray Application:

Sebagai Reference utama bagi semua run logging.


Korelasi well to well.
Membedakan lapisan permeable dan nonpermeable.
Menghitung volume clay.

Natural Gamma Ray Tool (NGT) Application:

Mendeteksi, mengenali dan mengevaluasi mineral-mineral


radioaktif.
Mengenali tipe clay dan menghitung volume clay.
Lapisan yang permeable mungkin mengandung garam
Uranium lebih banyak daripada lapisan yang kurang
permeable.
Pembacaan Uranium pada log NGT kadang berguna sebagai
petunjuk adanya pergerakan fluida.
Prinsip Kerja Log GR.

Gamma Rays yang timbul secara alamiah:


Gamma Ray ini timbul secara alamiah dalam batuan
dan punya energi yang relatif rendah.

Alat yang mengukur gamma ray alamiah ini ada dua


macam yaitu:
1. Standard Gammaray Tool (SGT)
2. Natural Gamma Spectrometry Tool (NGT)

SGT mengukur semua GR alamiah yang timbul.


NGT selain mengukur semua GR, juga mengukur
energi GR dan menentukan konsentrasi 3 macam
elemen radioaktif yang biasa ada di alam yaitu:

Uranium (Ur235/238)
Potassium (isotope 19K40) dan
Thorium (Th232)
Induced Gamma Ray Tools:

Dalam alat alat ini dipasang sebuah sumber radioaktif


yang memancarkan gamma ray dengan energi tinggi.
Contohnya adalah alat density log :
FDC - Formation Density Compensated
LDT Litho Density Tool

Depth of Investigation dan


Vertical Resolution.

Depth of Investigation SGT kira kira 10 inci.


Depth of Investigation NGT kira kira 15 inci.

Vertical Resolution SGT kira kira 10 inci dan


Vertical Resolution NGT kira kira 15 inci.
Presentation kurva GR

Kurva gamma ray disajikan dalam Track I.


Skala yang umum dipakai adalah 0-200 API.
Dapat direduksi jadi 0-150 API atau 0-120 API
bila aktivitas gamma ray rendah.
Penyajian kurva kurva NGT sbb:
SGR: Total Gamma Ray.
CGR: total GR dikurangi Uranium
Ratio Th/K
Ratio Th/U
LQC dan Corrections
Dalam batuan yang bebas dari shale, log GR
merekam
harga rendah sekitar 20-30 API.
Dalam suatu Shaly Formation log GR punya
harga antara 80 sampai 300 API.

Environmental corrections

Lubang yang besar dan mud yang berat jenisnya


besar mengurangi harga pengukuran GR batuan.
Alat yang centered dalam lubang sumur akan
menerima gamma ray dalam jumlah yang kurang
dibanding alat GR yang eccentered.

Alat GR yang melakukan survey dalam sumur berisi


lumpur KCl akan menerima GR lebih banyak karena
adanya kandungan Potassium yang besar.

Jadi koreksi dilakukan terhadap:


Hole size dan mud weight.
Koreksi terhadap kandungan KCl
Casing size dan Casing weight
Ketebalan semen.
Contoh Koreksi GR
Terhadap Lubang Sumur

Carilah harga GR sesudah dilakukan koreksi bila harga log


GR = 32 API, hole size (dhole) =12 inci, mud weight (Wmud)
= 9.2 lb/gal, tool diameter (dsonde) = 3 3/8, ketika survey
centered.
Hitung:
t = Wmud x [2.54(dhole) 2.54(dsonde)]/[8.345 x 2]
= 12 g/cm2
Lalu ikuti garis merah (chart) dengan input t = 12 g/cm2
untuk mendapatkan faktor koreksi sebesar 1.2\
GRcorrected = 1.2 x GRlog = 38.4 API
Interpretation

Prosentase shale yang ada dalam batuan dihitung sbb:

(GRlog GRclean)
Vshale = ---------------------------------
(GRshale GRclean)

Survey dengan alat NGT memberikan kurva kurva Uranium,


Potassium dan Thorium.

Figure Mineral Identification from Spectral Gamma Ray


Log Yang Mengukur
Resistivitas Formasi
Rumus Dasar Interpretasi yang utama adalah :

F. Rw
Sw2 = ----------
Rt
Input terpenting adalah Rt, resistivitas uninvaded
zone.

Dengan adanya invasi maka industry logging telah


menciptakan 3 tipe alat Resistivitas yaitu:
Deep investigation.
Medium investigation.
Shallow investigation.

Resistivitas suatu larutan selalu ditampilkan


dengan suhu/temperatur larutan.
Contoh:
Rmf = 0.30 ohm-m @ 80 degF
Rw = 0.10 ohm-m @ 120 degF

Dari data resistivitas dan suhunya, dapat dicari


salinitas larutan; dengan pertolongan Chart Gen-9.

Contoh Soal:
Carilah salinitas larutan mud filtrate dan formation
water diatas ?
Resistivity of NaCl solution
(Schlumberger chart GEN-9)
Klasifikasi dan Aplikasi.

Table 4-1 adalah klasifikasi alat Resistivitas


sampai 1987

Klasifikasi didasarkan pada radius of investigation :

Deep : 3+ feet
Medium : 1.5 - 3 feet
Shallow : 1- 6 inches.

Semua kurva deep,medium dan shallow direkam


memakai electrodes atau coils yang dipasang pada
mandrel silindris, dan ditempatkan kurang lebih
secara centralized dalam lubang sumur.

Alat-alat Microresistivitas memakai sensor yang


dipasang pada tapak/pad yang dipaksa menempel
pada dinding lubang selama survey.
Wilayah yang cocok untuk
pemakaian Log Induction
dan Lateral

Log Induction bekerja dalam :


Fresh mud
Resistivitas formasi < 200 ohm-m
Rmf/Rw > 2.0

Log Lateral akan bekerja lebih baik pada :


Salt Mud
Resistivitas formasi > 200 ohm-m
Rmf/Rw < 2.0
Large borehole >12 in. serta deep invasion
(>40in.)
Pembagian Aplikasi Log Induction & Lateral
Log Induction
Prinsip Kerja.

Alat induction menentukan resistivitas dengan cara


mengukur konduktivitas batuan. Dalam kumparan
transmitter dialirkan arus bolak balik berfrekwensi tinggi
dengan amplituda konstan yang akan menimbulkan
medan magnit dalam batuan.
Medan magnit ini menimbulkan arus Eddy atau arus
Foucault yang dalam fig. 1 dinamakan ground loop.
Besar arus ini sebanding dengan konduktivitas batuan:
Depth of Investigation & Vertical Resolution.
Presentation Log Induction.

The deep Induction log disajikan dalam track 3-4 dengan


skala logaritmik, berupa dashe curve/garis putus- putus
dengan menemonic ILD.
The medium induction log juga dalam lajur 3-4 dengan skala
logaritmik, berupa dotted line dengan mnemonic ILM.
The shallow focussed log juga dalam lajur 3-4, skala
logaritmik, berupa garis kontinyu dengan mnemonic SFLU
(spherically focussed log).
Scala logarithmic biasanya 4 cycles, dari 0.2 s/d 2000
dengan unit [ohmm].
LQC / Interpretation

Permeability secara kwalitatif dapat ditunjukkan oleh adanya


separasi harga ILD,ILM dan SFLU.
Diambil asumsi bahwa mud filtrate telah menggusur semua
formation water dari flushed zone, sehingga harga SFLU lebih
tinggi dari ILD.
ILM mengukur resistivitas transition zone yang sebagian
sudah dimasuki oleh mud filtrate, sehingga harga ILM
ada diantara ILD dan SFLU.
Profile ILD<ILM<SFLU harus terlihat pada log Induction,
karena ini berarti syarat Rmf/Rw > 2.5 terpenuhi.
Koreksi Log Induction.

Induction log perlu dikoreksi terhadap:


Borehole corrections: mud resistivity dan borehole
size (figure 11)
Tool standoff corrections (figure 11)
Bed thickness dan shoulder bed corrections (fig.12)
Invasion corrections (figure 13)

SFLU log juga perlu koreksi terhadap mud


resistivitas
dan borehole size. (figure 10)
Log Lateral
Application Log Lateral.

Alat Laterolog direkayasa untuk mengukur resistivitas


batuan yang dibor dengan salty mud atau lumpur yang
sangat conduktif serta dipakai untuk mendeteksi zona - zona
yang mengandung HC.

Prinsip Kerja Log Lateral.

Sonde pada alat resistivity ini memiliki elektroda


penyangga (bucking electrode) untuk memfokuskan arus
survey dan memaksanya mengalir dalam arah yang tegak
lurus terhadap sonde.
Arus yang terfokuskan ini memungkinkan pengukuran
dilakukan pada batuan dengan arah yang lebih pasti.

Ini merupakan perbaikan terhadap pengukuran yang


memakai arus yang tidak terfocus, yaitu alat ES (Electrical
Survey) yang terdahulu, dimana arus survey lebih suka
mengalir dalam lumpur karena resistivitas lumpur yang
lebih rendah dari resistivitas batuan.
Depth of Investigation and Vertical Resolution
LIMITATION & PRESENTATION

Alat Laterolog dipakai untuk survey dalam sumur berisi


lumpur ber-resistivitas rendah serta dalam batuan yang
resistivitasnya tinggi.
Alat Laterolog dapat secara akurat mengukur resistivitas
batuan dalam kisaran 0.2 40000 ohmm.

Alat Laterolog dianjurkan dipakai bila:


Ratio Rmf/Rw < 2.5
Bila resistivitas batuan lebih dari 200 ohmm.
Bila ketebalan lapisan kurang dari 10 feet.

Deep laterolog disajikan dalam lajur 3-4, skala logaritmik


sebagai garis tipis putus putus dengan mnemonic LLD
Shallow laterolog disajikan dalam lajur 3-4, skala logaritmik
sebagai garis dotted dengan mnemonic LLS
Microresistivity disajikan dalam lajur 3-4, skala logaritmik
sebagai garis solid dengan mnemonic MSFL.

Skala logaritmik biasanya dalam 4 cycle : 0.2 2000 ohmm.


Kurva resistivitas dapat dipakai sebagai indikator prosen
tase clay dalam batuan, VRT:

(Rsand Rt)
VRT = ------------------------- x 4 Rclay/Rt
(Rsand Rclay)

VRT biasanya cenderung terlalu tinggi, kecuali terdapat


batuan yang ber-resistivity tinggi.
Karena clay bersifat konduktif, dengan harga Rsand
yang minimal akan didapatkan harga VRT 100%
Koreksi Log Lateral

MSFL borehole corrections (fig.14)


Borehole corrections terhadap resistivitas
lumpur dan borehole size (fig.15)
Bed thickness corrections (fig.16)
Invasion corrections terhadap invasi mud filtrate
(fig. 17)
Fig.15 Laterolog Borehole Correction Chart
Fig. 17: Laterolog Invasion Correction Chart
Log Yang Mengukur
Porositas
Log Densitas
Aplikasi Log Densitas

Alat density mengukur berat jenis batuan yang


lalu dipakai untuk menentukan porositas batuan tadi.
Bersama log lain misalnya log neutron, lithologi
batuan dan tipe fluida yang dikandung batuan dapat
ditentukan.
Log density dapat membedakan minyak dari gas
dalam ruang poripori karena fluida fluida tadi berbeda
berat jenisnya.

Alat density yang modern juga mengukur PEF


(photoelectric effect) yang berguna untuk menentukan
lithologi batuan, mengidentifikasi adanya heavy
minerals dan untuk mengevaluasi clay.
Log density juga dipakai untuk menentukan Vclay
serta untuk menghitung reflection coefficients
bersama log sonic untuk memproses synthetics
seismogram.
Prinsip Kerja Alat Density

Suatu sumber radioaktif Cs137 berkekuatan 1.5 Curie


memancarkan GR berenergi 662 kev kedalam batuan.

Gamma rays ini berinteraksi dengan electron electron ba


tuan dengan mekanisme yang disebut Compton scattering,
dimana gamma rays tadi kehilangan energinya serta
tersebar kesegala arah.

Proses Compton scattering menghasilkan adanya awan


gamma ray disekitar source dengan radius yang bervariasi
menurut banyaknya electron batuan.

Makin banyak electron batuan makin pendek radius awan


dan akibatnya makin sedikit gamma ray yang sampai ke
detektor (count rates).

Jadi e berbanding terbalik terhadap count rates atau cps


yang diterima oleh detektor

Gamma ray terdeteksi yang sedikit jumlahnya menunjukkan


adanya electron density yg besar.

Bulk density b untuk kebanyakan elemen punya harga yang


hampir sama besar dengan electron density e seperti
persamaan empiris sbb:

b = 1.0704 e 0.1883
Alat Litho density tidak hanya mengukur density, tapi
juga photoelectric absorption index PEF.
Photoelectric absorption terjadi bila gamma ray yang
datang punya energi rendah.
Disini gamma ray tadi ditangkap oleh inti atom dan
sebuah electron dilemparkan keluar oleh atom.

PEF = (Z/10)3.6
dimana:
Z = nomer atom (= jumlah elektron dalam atom).

Tiap element punya harga Z tertentu oleh karena itu PEF


dapat dipakai sebagai petunjuk tipe batuan.
Harga PEF sedikit sekali tergantung pada porositas
batuan seperti terlihat pada Fig.2A berikut.
PEF juga hanya sedikit terpengaruh oleh fluida dalam
pori-pori, tapi log PEF terpengaruh oleh kandungan barite
dalam lumpur, sebab nomer atom Barium tinggi (Z=56).
Menghitung Density Porosity PHID
(yaitu porositas yang diturunkan dari RHOB) :

Karena bulk density b adalah penjumlahan matrix density ma


dan fluid density f dalam poripori maka harga porositas
batuan dapat ditentukan bila diketahui besar ma (diketahui
litologinya terlebih dahulu).

b = ma (1-PHID) + f (PHID)

dari sini diperoleh:

PHID = (b - ma ) / (f - ma )
dimana:
ma = matrix density
f = fluid density dalam pori-pori
QC/Interpretations.

Densitas shales biasanya lebih kecil dari density batuan yang


bebas dari lempung (clean formation). Oleh sebab itu
porositas shales lebih tinggi dari porositas batuan.

Pada pemakaian limestone compatible scales, maka:


Dalam clean limestone RHOB dan NPHI akan overlay
dalam shales RHOB akan berada disebelah kanan NPHI,
Dalam limestone yang mengandung gas, NPHI ada
disebelah kanan RHOB.

Dalam clean sand yang mengandung air, NPHI disebelah


kanan RHOB dengan jarak 6-7 p.u.
Dalam dolomite RHOB ada disebelah kanan NPHI, mirip
seperti dalam shale namun gamma ray biasanya punya
harga lebih rendah dalam dolomite.

Pada pemakaian Sandstone compatible scales,maka:


Dalam batuan sandstone kurva RHOB dan NPHI akan overlay.

Karena PEF air, hidrogen dan oksigen adalah hampir zero,


maka effect porosity terhadap PEF sangat kecil dan basic
lithology biasanya dapat ditentukan langsung dari kurva PEF
(lihat 6.2 Typical log reading).
Perhitungan Volume Shale (Vsh)

Suatu shaly formation digambarkan dalam Fig.7a.


Bila Vsh adalah bagian shale dalam batuan, maka bagian
matrix adalah (1-Vsh-F), sehingga:

b = ma (1-Vsh-F) + sh Vsh + f F
dan
(ma - b ) Vsh (ma - sh )
F = -----------------------------------------------
(ma - f )
sehingga
(ma - b ) F (ma - f )
Vsh = ----------------------------------------
(ma - sh )

Shale mempengaruhi porositas density dan porositas


neutron.
Kalau keduanya dikoreksi terhadap pengaruh shale,
akan didapat porositas efektif sbb:

Fe = FD - Vsh FD

Fe = FN - Vsh FN
Typical Log Readings:
Koreksi RHOB dilakukan terhadap:
Mud cake thickness ( dalam real time)
Mud weight (juga real time)
Rugose hole (real time)
Borehole size.
Log Neutron
Application Log Neutron

Alat Neutron dipakai untuk menentukan primary porosity


batuan, yaitu ruang pori pori batuan yang terisi air, minyak
bumi atau gas.

Bersama log lain misalnya log density, dapat dipakai untuk


menentukan jenis batuan /litologi serta tipe fluida yang
mengisi pori pori batuan.

Elastic scattering:
Partikel neutron berbenturan dengan atom lain.
Akibat benturan tadi partikel neutron berubah arah, namun
punya energy yang tetap/tidak berubah.

Inelastic scattering:
Pada benturan dengan atom lain, partikel neutron kehilangan
sebagian energy-nya yang diberikan kepada atom yang
dibenturnya. Atom ini mengalami excitation,yang kemudian
memancarkan kembali energy tadi dalam bentuk Gamma Ray
yang punya specific spektrum.
Partikel neutron juga berubah arah pada benturan ini.
Prinsip Kerja Alat Neutron

Sumber radioaktif Am241Be memancarkan partikel


Neutron kedalam batuan dengan energi kira kira 5 MeV.

Setelah benturan dengan batuan, energi neutron ini


berkurang sampai ke level 0.1-10 eV (level epithermal).

Benturan- benturan selanjutnya mengurangi energi lebih


jauh sampai kurang dari 0.025 eV (level thermal).

Karena massa Hydrogen yang sama dengan massa


Neutron, atom Hydrogen punya kemampuan paling besar
dalam memperlambat partikel neutron dibanding atom-atom
lain dalam batuan.

Dua buah detektor thermal dipasang 1-2 ft diatas sumber


radioaktif.

Ratio antara jumlah-jumlah pulsa : Nn/Nf merupakan fungsi


porositas.

Ratio ini mempunyai:


Pengaruh lubang sumur yang berkurang
Kedalaman penetrasi yang lebih jauh dibanding dengan
system satu detektor.
Depth of Investigation and Vertical Resolution.
Presentasi Log Neutron.

Neutron porosity disajikan dalam lajur 5 dan 6 dengan


mnemonic NPHI dengan skala:
45% sampai - 15% atau .45 sampai -.15 p.u
60% sampai 0% atau .60 sampai 0 p.u
Log Quality Control and Interpretation.

Shale mempengaruhi pembacaan log sehingga NPHI menjadi


lebih besar dari pada true porosity karena adanya air yang
terikat pada permukaan shales.

Sumur yang washed out juga mengakibatkan pembacaan log


yang lebih besar dari true porosity.

Batuan yang mengandung gas mengandung konsentrasi


hydrogen yang lebih rendah dari pada kalau berisi minyak atau
air; akibatnya pembacaan neutron log akan lebih kecil dari true
porosity.

Pada pemakaian limestone compatible scale sbb


RHOB : 1.95 - 2.95
NPHI : 45% - -15%

Dalam limestone tanpa shale yang berisi air kurva-kurva


RHOB dan NPHI akan overlay.
Dalam batuan shale RHOB ada disebelah kanan NPHI.
Dalam limestone berisi gas, RHOB ada disebelah kiri dari
NPHI. Separasi lebih besar dari 6-7 p.u
Dalam pasir tanpa shale berisi air, RHOB disebelah kiri
NPHI dengan separasi 6-7 p.u
Dalam dolomite tanpa shale berisi air, RHOB ada
disebelah kanan NPHI.
Pada pemakaian sandstone compatible scale sbb
RHOB: 1.90 gr/cc - 2.90 gr/cc
NPHI : 45 % - -15 %

Dalam sandstone tanpa shale yang berisi air kurva-


kurva RHOB dan NPHI akan overlay.

Dalam batuan shale RHOB ada disebelah kanan NPHI.


Dalam sandstone berisi gas, RHOB ada disebelah kiri
dari NPHI. Separasi lebih besar dari 3 p.u

Dalam pasir tanpa shale berisi minyak , RHOB disebelah


kiri NPHI dengan separasi 1-3 p.u
Formasi yang berisi cairan.

Semua titik yang porositasnya berisi cairan akan jatuh dalam


daerah antara garis garis sandstone and dolomite.

True Porosity bisa diperkirakan dengan rumus:

PHI = (PHID + PHIN)/2

Untuk formasi yang clean, dan berisi cairan, porositas diatas


merupakan porositas effectif, dan harganya bisa langsung
dibaca sebagai pertengahan antara log-log Density & Neutron.

Formasi yang berisi gas.

Penggantian cairan dengan gas dalam pori-pori menurunkan


bulk density dan hydrogen content.
Density turun - PHID naik.
Hydrogen content turun - PHIN turun.

Hasilnya adalah crossover effect yang terkenal antara log-log


Neutron dan Density yang menunjukkan keberadaan gas.
Contoh : fig 5-20.

PHIN sebagian besar lebih besar daripada PHID kecuali dalam


interval 1884-1922 ft dimana ada zona crossover, yang
menunjukkan bahwa interval tadi berisi gas.
Cara lain menghitung porositas adalah dengan memakai
rumus:
PHI = (PHID2 + PHIN2)/2
Dengan rumus diatas didapat porositas sebesar 18% yang
dekat sekali dengan harga chart sebesar 17.5%.
Jadi dalam formasi berisi gas, porositas bukan pertengahan
antara Neutron dan Density, tapi 2/3 jarak dari log Neutron
ke log Density.

Shale akan mengurangi pengukuran porositas Density dan


Neutron. Volume shale dapat dihitung sbb:

VDshale = (PHID - PHIeff)/PHIDsh

VNshale = (PHIN - PHIeff)/PHINsh


Environmental Corrections .
Kwalitas log dijamin bagus bila terjadi kontak yang
bagus antara alat neutron dengan dinding lubang.
Environmental corrections yang harus dilakukan
terhadap log NPHI adalah:
Borehole size
Borehole salinity
Borehole temperature and pressure.
Mud cake
Mud weight
Formation salinity
Toll stand-off dari dinding lubang
Contoh Neutron Environmental Correction:
Uncorrected TNPH =34 pu dalam lubang 12 Kurangi
dengan 2 pu sebagai koreksi terhadap bore hole size.
Bila mud cake inch, tidak ada mud cake effect.
Bila salinitas borehole 100 kppm, tambahkan 1 pu.
Bila dipakai natural mud dengan densitas 11 lb/gal
maka tambahkan 2 pu.
Bila suhu borehole 150 degF, tambahkan 4 pu.
Bila 5kpsi water based mud, kurangi 1 pu
Bila 100kppm formation salinity, kurangi 2.5 pu
Total borehole correction: -2+1+2+4-1-2.5 = 1.5 pu.

Associated Mnemonics
Log Sonic
Applikasi log sonic
Untuk menentukan sonic porosity (Fs)
Untuk menentukan volume of clay (Vs)
Bersama log lain untuk menentukan litologi
Time-depth relationship
Menentukan reflection coefficients
Mechanical properties
Menentukan kwalitas semen CBL-VDL

Theory of measurement

Alat sonic mengukur: kecepatan suara/sonic dalam formasi.


Prinsip kerjanya dapat dilihat dalam gambar 1:
Transmitter memancarkan suatu pressure pulse
berfrekwensi 25 kHz.
Pulsa ini menghasilkan 6 gelombang:
Gelombang compressional dan gelombang refraksi
shear yang merambat dalam formasi.
Dua gelombang langsung sepanjang sonde dan
didalam mud.
Dua gelombang permukaan sepanjang dinding lubang
sumur (pseudo Raleigh dan Stoneley)
Laju/kecepatan gelombang-gelombang itu antara 4000 sampai
25 000 ft/sec tergantung pada litologi.
Sebuah gelombang compressional merambat dari
transmitter via mud ke formasi, lalu merambat dalam formasi,
lalu merambat dalam mud lagi untuk mencapai receiver.

Transmitter memancarkan satu pulsa.


Suatu rangkaian electronic mengukur waktu dari pulsa ini
sampai waktu dimana the first negative excursion
dideteksi oleh near receiver.

Transmitter memancarkan satu pulsa lagi.


Diukur waktu dari pulsa kedua sampai waktu dimana
the first negative excursion dideteksi oleh far receiver.

Beda antara kedua waktu tadi lalu dibagi dengan jarak antara
receiver-receiver (span) sebesar dua ft menghasilkan formation
transit times dalam microseconds/ft (sec/ft).

Compressional transit times bervariasi:


40 sec/ft dalam hard formation
150 sec/ft dalam soft formation.

Kebalikan transit time adalah velocity [feet/sec].

Shear wave travel time dapat diukur memakai alat-alat logging


khusus disertai wave form processing.
Log sonic log dipresentasikan seperti gbr. 3 sebagai
DT dalam track 2 dan 3, dengan satuan sec/ft,
membesar dari kanan ke kiri.

Kenaikan porositas menggeser kurva kekiri, sama


dengan pembacaan density dan neutron.

Small pips dalam depth track adalah integrated travel


time.
Antara small pips: 1 msec; antara large pips: 10 msec
Kurva-kurva Caliper dan Gamma Ray - dalam track 1.
Depth of Investigation & Vertical Resolution.
6.3 Mnemonics.
Sonic porosity transform:

Dengan memakai Willie Time Average (WTA):

DTlog DTma 1
S = -------------------- x -------
DTfl - Dtma Cp
dimana:
S = porositas sonic
DTma = transit time dalam 100% matrix.
DTlog = transit time terbaca dari log.
DTfl= transit time dalam 100% fluida
Cp=compaction factor:
Cp=1 dalam hard formation
Cp=DTsh/100 dalam unconsolidated formation

Persamaan Raymer Hunt Gardner (RHG):

Porositas sonic dihitung dengan rumus ini tidak memerlukan Cp


dan lebih mendekati harga core porosity serta porositas
density-neutron dibanding dengan yang dihitung dengan
WTA.

Persamaan RHG adalah sbb:

S = c x (DTlog-DTma)/DTlog

Dimana
c=0.67
c=0.60 dalam gas saturated reservoir rock
Menghitung besar Vsh dari log sonic:

Bila ada shale dalam batuan, persamaan WTA menjadi:

DTlog= DTma (1-F-Vsh) +DTfl. F + DTsh Vsh.

Harga DTsh yang biasa ditemui adalah 80-110 sec/ft.

Anda mungkin juga menyukai