Anda di halaman 1dari 80

SPJD PGRI

KELAHIRAN PGRI
PGRI lahir 25 November 1945
Tujuan PGRI (dalam kongres I) :
Mempertahankan dan menyempurnakan Republik
Indonesia
Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran
sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan
Membela hak dan nasib buruh pada umumnya,
guru pada khususnya
KELAHIRAN PGRI
Kelahiran PGRI merupakan bagian integral
perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut,
menegakkan, menyelamatkan dan
mempertahankan kemerdekaan NKRI
Lembaga pendidikan PGRI merupakan
oganisasi profesi terkait dengan fungsi
keguruan yang berperan sebagai pendidik
bangsa lewat pengajaran.
KONGRES PGRI I (23-25 NoV 1945) DI SURAKARTA

Dalam Mukadimah AD/ART PGRI :


Merupakan manifestasi aspirasi kaum guru Indonesia
untuk ikut bertanggung jawab sebagai pendidik
bangsa demi tercapainya cita-cita kemerdekaan
Komitmen kepada NKRI berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945
PGRI bersifat unitaristis, independen, non partai
politik
PGRI merupakan organisasi profesi guru yang
mewariskan jiwa semangat dan nilai-nilai 1945
SUSUNAN PB PGRI HASIL KONGRES I
Ketua I : Amin Singgih
Ketua II : Rh.Koesnan
Ketua III : Soemitro
Penulis I : Djajeng Soegianto
Penulis II : Ali Marsaban
Bendahara I : Soemidi Adisasmito
Bendahara II : Marto Soedigdo
Anggota : Siti Wahyunah
Anggota : Siswo Widjojo
Anggota : Parmoedjo
Anggota : Siswowardjojo
TUNTUTAN PGRI DI KONGRES I
Sistem pendidikan sedapatnya didasarkan
pada kepentingan nasional
Gaji guru supaya diperhatikan
Dibuatnya UU Pendidikan dan UU Pokok
Perburuhan
Menentukan kepentingan pendidikan
SEJARAH PGRI
PGHB (Persatuan Guru Hindia Belanda) th 1912
berdiri sebagai wujud dari semangat kebangsaan.
Organisasi ini bersifat unitaristik yang adalah
para guru bantu, guru desa, kepala sekolah dan
penilik sekolah

Selain itu juga berdiri PGB (Persatuan Guru


Bantu), PGD (Peserikatan Guru Desa),dll

Bertujuan untuk memperjuangkan persamaan


hak dan posisi dengan pihak Belanda
sejARAH PGRI
TH 1932 PGHB diubah namanya menjadi PGI
(Persatuan Guru Indonesia), hal ini sempat
mengejutkan pihak Belanda karena mencantumkan
kata Indonesia

Jaman penjajahan Jepang PGI tidak aktif karena Jepang


melarang semua bentuk organisasi

Semangat kemerdekaan mewarnai Kongres I PGRI di


Surakarta dan tgl 25 November 1945, PGRI dibentuk.
Sehingga tgl 25 November dinyatakan sebagai Hari
Guru Nasional sesuai dengan Keppres No 78 th 1994
Kongres ii di surakarta (21-23 desember 1946)

Pada kongres ini PGRI mengajukan tuntutan


kepada pemerintah :
Sistem pendidikan didasarkan pada kepentingan
nasional
Gaji guru supaya tidak dihentikan
Dibuat UU Pokok Perburuhan

Susunan Pengurus Besar menjadi :


Ketua I : Rh Koesnan
Ketua II : Soedjono K
Jabatan Ketua III dihapus
Kongres iii di madiun (27-27 febuari
1948)
Susunan Kongres III sebagai berikut :
Ketua I : Soedjono K
Ketua II : Soedarsono

Pada akhir tahun 1948 sampai awal 1949 dengan


kembalinya kekuasaan pemerintah RI di
Yogyakarta, maka PGRI kembali menggerakkan
organisasinya dan memindahkan kedudukannya
dari Solo ke Yogya dengan susunan pengurus
yang baru
Kongres iii di madiun (27-29 febuari
1948)
Susunan Pengurus Besar hasil Kongres III :
Ketua Umum I : Soedjono K
Ketua Umum II : Soedjono (wakil PB di
Jakarta)
Ketua Umum III : Soedarsono
Sekertaris Umum : Soekirno, Soerbakti
Bendahara : Soewandi
Kongres iv di yogyakarta (26-28 febuari 1950)

Memutuskan mengeluarkan Maklumat


Persatuan yang berisikan seruan pada
masyarakat, khususnya guru-guru untuk
menggalang persatuan

Susunan Pengurus Besar menjadi :


Ketua I : Rh Koesnan
Ketua II : Soedjono
Ketua III : Soedjono K
Kongres v di bandung (19-24 desember 1950)

Panca sila sebagai asas organisasi

Menyamaratakan gaji guru untuk semua


golongan

Susunan Pengurus Besar menjadi :


Ketua I : Soedjono
Ketua II : ME Subiadinata
Kongres v di bandung (19-24 desember 1950)

Membentuk komisariat daerah tahap I :


Sumatera Utara : TZ Answar
Sumatera Tengah : A Manan
Sumatera Selatan : Noezoear
Jawa Barat : Jaman Soedjono prawiro
Jawa Tengah : Soenarto
Yogyakarta : Moh.Djoemali
Jawa Timur : Soebandri
Sulawesi Selatan : AN Hardjarati
Jakarta Raya : Soemadi (Koordinator)
Kongres v di bandung (19-24 desember 1950)

Th 1952 dibentuk komisariat daerah yang baru


Kalimantan : E Simorangkir
Sulawesi Utara : EA Parengkuan
Maluku : O Nanulaita
Bali : Made Mendra
Kongres vi di malang (24-30 november 1952)

Dalam bidang organisasi, menetapkan asas


PGRI adalah keadilan sosial dan dasarnya
adalah demokrasi dan PGRI tetap di bawah
GBSBI (Gabungan Serikat Buruh Indonesia)

Dalam bidang perburuhan, memperjuangkan


kendaraan bermotor bagi penilik sekolah,
instruktur Pendidikan jasmani dan Pendidikan
Masyarakat
Kongres vi di malang (24-30 november 1952)

Dalam bidang pendidikan, disetujui


Sistem pengajaran diselaraskan dengan kebutuhan
Negara pada masa pembangunan
KPKB (Kursus Persamaan Kewajiban Belajar)
diubah menjadi SR (Sekolah Rakyat) 6 tahun
KPKB dihapus akhir th 1952/1953
Kursus B-I/B-II untuk pengadaan guru SLTP dan
SLTA diatur sebaik-baiknya
Diadakan Hari Pendidikan Nasional
Kongres vi di malang (24-30 november 1952)

Di bidang umum, anggaran belanja


Kementrian PP & K di tingkatkan menjadi 25%
dari seluruh APBN dan agar Jawatan PP & K
dipusatkan sampai tingkat propinsi saja

Mars PGRI (Basoeki Endropranoto) disahkan

Mengajukan konsep tentang isi dan


pengertian Pendidikan Nasional
Kongres vi di malang (24-30 november 1952)

Susunan Pengurus Besar menjadi :


Ketua I : Soedjono
Ketua II : ME Subiadinata
Panitera Umum : Moehammad Hidajat
Tata Usaha : Soebandri
Panitera Pendidikan : Ktut Nara
Redaksi majalah Suara Guru : Soedjono
Soebandri
Kongres vii di semarang (24 november-1 desember 1954)

Pertama kalinya dihadiri tamu perwakilan dari


Perancis, Filipina dan RRC

Bidang umum, pernyataan mengenai Irian


Barat, korupsi, resolusi mengenai
desentralisasi sekolah, mengenai pemakaian
keuangan oleh Kementrian PP & K dan
mengenai penyempurnaan cara kerja
Kementrian PP & K
Kongres vii di semarang (24 november-1 desember 1954)

Bidang pendidikan, resolusi anggaran belanja


yang harus mencapai 25% dari APBN, UU Sekolah
Rakyat, UU Kewajiban Belajar, film, gambar serta
radio dan pembentukan Dewan Bahasa Nasional

Susunan Pengurus Besar menjadi :


Ketua I : Soedjono
Ketua II : ME Subiadinata
Ketuan III : Hermanoe Ali
Kongres vii di semarang (24 november-1 desember 1954)

Pergantian Komisaris Daerah dan penambahan


Komisariat Daerah :
Sumatera Utara : Idris M,Hutapea
Sumatera Tengah : Achmad Chatib
Sumatera Selatan : Madian
Jakarta Raya : Baheransjah Sutan Indra
Jawa Barat : M Hoesein
Jawa Tengah : Soenarto
Yogyakarta : Muh.Djoemali
Kongres vii di semarang (24 november-1 desember 1954)

Pergantian Komisaris Daerah dan


penambahan Komisariat Daerah :
Jawa Tmur : Hermanoe Ali
Kalimantan Barat : R Sujo
Kalimantan Selatan : Sjahran
Sulawesi Utara : EA Parengkuan
Sulawesi Selatan : JE Tatengken
Bali : Made Mendra
Maluku : M Ruhupatty
Kongres viii di bandung (oktober 1956)
Ada masalah pada saat pemilihan ketua,
ditemukannya kartu pemilih palsu.

Susunan Pengurus Besar menjadi :


Ketua I : ME Subiadinata
Ketua II : Soedjono
Ketua III : M Hoesein
Kongres ix di surabaya (31 oktober-4 november 1959)

Susunan Pengurus Besar :


Ketua Umum : ME Subiadinata
Ketua I : M.Hoesein
Ketua II : Soebandri
Kongres x di gelora bung karno, jakarta oktober 1962

Susunan Pengurus Besar :


Ketua Umum : ME Subiadinata
Ketua I : M Hoesein
Ketua II : Soebandri

Kemudian Juni 1964, Soebandri dipecat karena terlibat


pengkhianatan dengan mendirikan PGRI Non Vaksentral

Susunan Pengurus Besar menjadi :


Ketua Umum : ME Subiadinata
Ketua I : M Hoesein
Ketua II :-
Kongres xi di bandung (15-20 MARET
1967)
Susunan Pengurus Besar :
Ketua Umum : ME Subiadinata
Ketua I : Dra Mien S Wamaen
Ketua II : Maderman BA

Bidang umum dan politik :


Mengembangkan Orde Baru demi suksesnya Dwi
Dharma dan Catur Karya Kabinet Ampera
Mendukung keputusan Sidang Umum Istimewa MPR
Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara
Kongres xi di bandung (15-20 maret
1967)
Dalam bidang umum dan politik :
Menjunjung tinggi HAM
Mengikis habis sisa-sisa PKI
Menyatakan PGRI Non Vaksentral,SSP,PGTI
dinatakan sebagai ormas terlarang karena sebagai
antek PKI
Diaktifkannya kembali 27 pejabat kementrian P &
K yang dipecat Prof.Prijono
Disetujuinya PGRI untuk bergabung dalam Sekber
Golkar
Kongres xi di bandung (15-20 maret
1967)
Di bidang organisasi :
Konsolidasi pengembangan organsasi ke dalam dan ke
luar untuk menciptakan kekompakan
Perubahan dan penyempurnaan AD/ART PGRI yang
sesuai dengna perkembangan politik Orde Baru
Perluasan keanggotaan PGRI dari guru TK sampai
dosen PT
Penentuan kriteria pengurus PGRI mulai tingkat
PB,PD,PC hingga Ranting
Intensifikasi penerangan tentang kegiatan organisasi
Kongres xi di bandung (15-20 maret
1967)
Di bidang organisasi :
Pendidikan kader organisasi secara teratur dan
berencana
PGRI menjadi anggota WCOTP (World
Confederation of Organisation of Teaching
Profession)
Menyatakan PGRI siap menjadi tuan rumah
pelaksanaan Asian Regional Conference WCOTP
Kongres xii di bandung (29 juni-4 juli 1970)

SusunanPengurus Besar :
Ketua Umum : Basyuni Suriamihardja
Ketua I : Slamet
Ketua II : Maderman BA
Sekertaris Jendral : AMD Jusuf

Yang kemudian diubah karena beberapa hal; Slamet pindah ke


Belanda,AMD Jusuf wafat

Susunan Pengurus Besar menjadi :


Ketua I : Maderman BA
Ketua II : Drs WDF Rindhorindo
Sekertaris Jendral : M Hatta
Kongres xii di bandung (29 juni-4 juli 1970)

Perubahan struktur dan basis organisasi PGRI,


yaitu tingkat Cabang meliputi wilayah
kabupaten/kotamadya, sedangkan wilayah
Anak Cabang adalah kecamatan
Administrasi organisasi disederhanakan dan
diseragamkan untuk seluruh wilayah
Indonesia
Lambang dan mars PGRI dilampirkan dalam
buku AD/ART PGRI
KONGRES XIII DI JAKARTA ( 21-25 NOVEMBER 1973)

Pengurus Besar :
Ketua Umum : Basyuni Suriamiharja
Ketua I ; Prof Dr Winarno Surakhmad
Ketua II : Drs Madorman
Sekjen : Drs WDF Rindorindo

Keputusan yang dihasilkan :


PGRI menjadi organisasi profesi
Ditetapkannya Kode Etik Guru Indonesia
Perubahan lambang panji PGRI
Adanya Dewan Pembinaan PGRI
PENGERTIAN JATIDIRI
1. Jatidiri adalah landasan fisologis yang menjadi
norma dalam pola fikir, sikap perbuatan dan
tindakan yang mengikat dan ditaati oleh
anggotanya.

2. Jatidiri PGRI adalah perwujudan dari sifat-sifat


yang khas yang tampak dalam nilai-nilai ,pola
fikir, sikap perbuatan, tindakan, perjuangan, dan
profesionalisasi yang didasarkan pada falsafah
negara Pancasila, serta jiwa, semangat, dan
nilai-nilai 1945
POKOK-POKOK pIKIRAN PEMBUKAAN
ANGGARAN DASAR PGRI
1`Didorong keinginan luhur untuk berperan serta dalam
mempertahankan dan mengisi kemerdekaan RI serta mencerdaskan
kehidupan bangsa, maka perlu dibentuk organisasi guru.

2. Atas berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, pada tanggal 25
November 1945 dalam Kongres Guru I di Surakarta dibentuklah
PGRI.

3. PGRI sebagai tempat berhimpunnya guru dan tenaga kependidikan


lainnya merupakan organisasi profesi, perjuangan, dan
ketenagakerjaan berdasarkan Pancasila, bersifat unitaristik,
independen, dan nonpartisan, dan menjaga persatuan Indonesia
POKOK-POKOK pIKIRAN PEMBUKAAN
ANGGARAN DASAR PGRI
4. PGRI dan seluruh anggotanya selalu berusaha meningkatkan
profesionalisme dalam mewujudkan pendidikan dan kebudayaan
yang berkualitas dalam rangka pembangunan Indonesia.

5. PGRI mengemban amanat cita-cita proklamasi kemerdekaan 17


Agustus 1945, menjamin, menjaga, dan mempertahankan keutuhan
NKRI.

6. Guru sebagai salah satu pilar pembangunan dalam bidang


pendidikan dituntut untuk bekerja secara profesional. PGRI
bertujuan meningkatkan harkat dan martabat guru melalui
kemampuan profesional.
Pengertian PGRI sebagai Organisasi Profesi

Guru adalah pendidik profesional dengan


tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,
da mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah (UUGD pasal 1 ayat (1).
Pengertian pgri sebagai organisasi profesi

Syarat-syarat jabatan profesi (Depdikbud):


a. Melalui pendidikan khusus.
b. Memiliki Kode Etik
c. Menguasai materi pelajaran, metode
pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.
d. Mendapat imbalan yang layak atas
profesinya itu.
Pengertian pgri sebagai organisasi profesi

Tanggungjawab guru:
a. Tanggungjawab moral: guru harus bermoral (dlm
PGRI diatur dalam Kode Etik Guru Indonesia.
b. Tanggungjawab pendidikan: menguasai materi,
metode, membuat RPP, dan evaluasi.
c. Tanggungjawab Kemasyarakatan: aktif dan menjadi
teladan di masyarakat.
d. Tanggungjawab keilmuan: kualifikasi akademik,
memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial,
dan profesional.
e. Menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
Implementasi pgri sebagai organisasi profesi

1. Memiliki asosiasi guru mata pelajaran.


2. Memiliki asosiasi profesi dan keahlian sejenis.
3. Memiliki Jurnal Pendidikan.
4. Memiliki Majalah Suara Guru.
5. Melakukan kegiatan ilmiah baik dilakukan AGMP,
APKS, PT, sekolah, dan Badan Pimpinan
Organisasi.
6. Aktif dalam kegiatan pendidikan (kebijakan
pendidikan, kerjasama dengan mitra dll).
Pgri sebagai organisasi perjuangan
PGRI sebagai wadah untuk mempertahankan,
mengisi, dan membangun NKRI.
Peran guru lewat PGRI sangat strategis dalam
mengisi kemerdekaan RI, dengan memberi
pendidikan kepada seluruh rakyat Indonesia.
Guru merupakan perekat bangsa karena
mendidik bangsa dengan Kurikulum Nasional
yang sama seluruh Indonesia.
Pgri sebagai organisasi
ketenagakerjaan
PGRI memperjuangkan anggotanya untuk
mendapatkan kesejahteraan yang layak.
Untuk memperjuangkan anggotanya PGRI
bergabung dalam Konfedersi Serikat Pekerja
Indonesia (KSPI) di Indonesia, ACT (Asean
Council Teacher), dan anggota Education
Internasional (EI), dan International Labour
Organisation (ILO).
Sifat pgri
Unitaristik: tanpa memandang perbedaan
tempat kerja, kedudukan, agama, suku,
golongan, gender, dan asal usul.
Independen: kemandirian organisasi dengan
mengutamakan kemitrasejajaran dengan
berbagai fihak.
Nonpartisan: bukan merupakan bagian dari
dan tidak berafiliasi kepada partai politik.
Arti nonpartisan
Keputusan Konkernas Nomor VI/Konkernas III/XX/2011 di Gorontalo
tentang Penjelasan Pengertian Sifat Organisasi PGRI Non Partai
Politik:
a. PGRI bukan partai politik dan tidak mendirikan partai politik.
b. Pengurus PGRI tidak boleh merangkap menjadi pengurus partai
politik.
c. Pengurus partai politik tidak boleh menjadi pengurus PGRI.
d. Anggota PGRI dapat menjadi pengurus partai politik.
e. Pengurus PGRI dapat menjadi anggota partai politik.
f. Pengurus partai politik dapat menjadi anggota PGRI.
g. PGRI dapat bekerja sama dengan partai politik.
Arti nonpartisan
h. Pengurus dan/atau anggota PGRI dapat
menjadi anggota DPR RI, DPD RI, dan DPRD.
i. Dlm pemilu baik pilpres/wapres, gub/wagub,
bup/wabup, wakot/wawakot, dan calon
anggota legislatif, PGRI bersikap netral.
j. Anggota PGRI mendukung calon yang
dimaksud butir h yang berfihak kepada
pendidikan dan guru yang dilaksanakan sesuai
dengan perundang-undangan yang berlaku.
KEPENGURUSAN PB PGRI MASA BAKTI XXI TAHUN 2013-2018

Pengurus Harian : 15 orang


Ketua Umum
Ketua (7 orang)
Sekretaris Jenderal
Wakil Sekretaris Jenderal (4 orang)
Sekretaris Departemen : 14 orang
Organisasi dan Kaderisasi
Pendidikan dan Pelatihan
Penegakan Kode Etik
Advokasi, Bantun Hukum, dan Perlindungan Profesi
KEPENGURUSAN PB PGRI MASA BAKTI XXI TAHUN 2013-2018

Pembinaan dan Pengemb. Profesi Guru, Dosen, dan


Tendik
Pembinaan Karir Guru, Dosen, dan Tendik
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Kerjasama dan Pengembangan Usaha
Kesejahteraan dan Ketenagaan
Pemberdayaan Perempuan
Olahraga, Seni, dan Budaya
Pembinaan Mental dan Spiritual
Komunikasi dan Informasi
Hubungan Luar Negeri
Fungsi pgri
1) memajukan profesi,
2) meningkatkan kompetensi,
3) meningkatkan karier,
4) meningkatkan wawasan kependidikan,
5) memberikan perlindungan profesi,
6) meningkatkan kesejahteraan, dan
7) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.
(AD PGRI Pasal 10)
Kewenangan pgri
a. menetapkan dan menegakkan kode etik guru;
b. memberikan bantuan hukum kepada guru;
c. memberikan perlindungan profesi guru;
d. melakukan pembinaan dan pengembangan
profesi guru;
e. Bersama Pemerintah dan LPTK terakreditasi
melaksanakan sertifikasi guru.
f. memajukan pendidikan nasional.
(AD PGRI Pasal 11)
TUJUH SEMANGAT PGRI SAPTA
KARSA PGRI
Program umum PGRI tahun 2013-2018 kelanjutan perluasan, dan
peningkatan program umum 2008-2013. Titik berat program umum
PGRI tahun 2013-2018 bertolak pada program umum Kongres PGRI XXI
dengan semangat sapta karsa PGRI sebagai berikut:

1. membangun PGRI yang kuat dan bermartabat;


2. mewujudkan guru profesional, sejahtera, terlindungi, dan
bermartabat;
3. membangun karakter bangsa;
4. memperjuangkan terpenuhinya hak-hak guru;
5. mengembangkan sistem pengelolaan pendidik dan tenaga
kependidikan yang efektif;
6. mewujudkan pendidikan yang berkualitas; dan
7. meningkatkan dan memperluas hubungan kerjasama dan
Membangun pgri yang kuat dan bermartabat

a. Meningkatkan kinerja pengurus PGRI di semua tingkat


berdasarkan komitmen sesuai janji pengurus pada saat
pelantikan.
b. Memberdayakan pengurus cabang dan ranting dalam rangka
meningkatkan partisipasi anggota, peningkatan iuran, dan
pemahaman terhadap aktivitas/perjuangan PGRI.
c. Melanjutkan realisasi 10 (sepuluh) program penguatan PGRI.
d. Target rekruitmen anggota baru dan pendataan anggota.
e. Meningkatkan penguatan organisasi bertumpu pada 3 (tiga)
fokus penguatan, yaitu kepengurusan, keanggotaan, dan
keuangan.
f. Mengusahakan tercapainya target pendataan anggota PGRI
sekurang-kurangnya 95% dari jumlah guru di lingkungan
Kemdikbud dan Kemenag.
g. Meningkatkan kesadaran anggota tentang kewajiban membayar
iuran.
h. Melaksanakan renovasi Gedung Guru Indonesia (GGI).
Membangun pgri yang kuat dan bermartabat

i. Merealisasikan Pusat Pelatihan Peningkatan Profesionalisme


Guru (P4G) PGRI.
j. Mengoptimalkan pemanfaatan monumen dan
pembangunan museum PGRI di Surakarta.
k. Meningkatkan peran majalah suara guru, website, MNS, dan
media sosial lainnya, serta membangun jurnal ilmiah PGRI.
l. Meningkatkan penegakan Kode Etik Guru Indonesia, peran Dewan
Kehormatan Guru Indonesia, Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis,
Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum, Badan Pembina
Lembaga Pendidikan, Badan Usaha, dan Badan Khusus.
m. Memperjuangkan penempatan kader PGRI dalam jabatan
eksekutif maupun legislatif untuk kepentingan pencapaian tujuan
organisasi.
Mewujudkan guru profesional, sejahtera,
terlindungi, dan bermartabat
a. Menyelenggarakan pelatihan, seminar, sarasehan, lokakarya dan
kegiatan sejenis dalam bidang pendidikan untuk meningkatkan
profesionalisme guru.
b. Memperjuangkan kesejahteraan dan perlindungan guru sesuai
amanat Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen.
c. Meningkatkan peran LKBH PGRI di seluruh provinsi dan
kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
d. Meningkatkan peran DKGI PGRI di seluruh provinsi dan
kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
e. Meningkatkan sosialisasi dan penegakan Kode Etik Guru Indonesia.
f. Meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak.
g. Mengembangkan dan meningkatkan fungsi, kewenangan, dan peran
asosiasi profesi dan keahlian sejenis dalam mewujudkan guru
profesional.
Membangun karakter bangsa
a. Melakukan advokasi kepada penyelenggara negara,
orang tua, dan masyarakat untuk secara bersungguh-
sungguh melakukan pendidikan karakter.
b. Mendorong pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan
kemampuan guru melakukan pendidikan karakter.
c. Mendorong lomba sekolah berkarakter pada setiap
satuan pendidikan.
d. Mendorong peningkatan peran guru dalam proses
pembelajaran karakter.
e. Mendorong guru untuk menjadi teladan dalam
kehidupan sehari-hari.
f. Mendorong terbangunnya pembangunan bangsa
bertumpu pada 4 pilar kebangsaan.
Memperjuangkan terpenuhinya hak
guru
a. Memperjuangkan perlindungan hukum dan profesi.
b. Mendorong penyelenggara pendidikan memberi rasa
aman dan jaminan keselamatan kerja bagi guru dalam
melaksanakan tugas.
c. Mendorong pengembangan profesi dan karir guru sesuai
dengan tuntutan dan pengembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni.
d. Mendorong pemberian penghargaan kepada guru yang
berprestasi dan berdedikasi tinggi.
e. Mengakomodasi dan memperjuangkan remunerasi sistem
penggajian guru terutama pada guru non-PNS.
f. Memperjuangkan status kepegawaian bagi guru non-PNS.
Mengembangkan sistem pengelolaan pendidik dan
tenaga kependidikan yang efektif
a. Mendorong peningkatan kualifikasi dan profesionalitas guru
dalam mewujudkan pendidikan bermutu, guru profesional,
sejahtera, terlindungi, dan bermartabat.
b. Mendorong penyelenggaraan pendidikan calon guru yang
berkualitas.
c. Mendorong pemerintah daerah melakukan pengadaan,
penempatan, dan peningkatan profesi dan karir guru dan tenaga
kependidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
d. Mendorong lahirnya peraturan perundangan dalam meningkatkan
kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan.
e. Mendorong pemerintah memberi perlakuan yang adil kepada
lembaga pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah
maupun yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Mewujudkan pendidikan yang
berkualitas
a. Mendorong peningkatan mutu penyelenggaraan
pendidikan.
b. Mendorong diselenggarakannya wajib belajar 12
tahun.
c. Mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang
kondusif bagi terselenggaranya pendidikan yang
bermutu.
d. Mendorong lahirnya kebijakan pendidikan yang
berpihak pada peningkatan mutu, layanan
masyarakat, dalam mencapai tujuan pendidikan
nasional.
Meningkatkan dan memperluas hubungan kerjasama dan
kemitraan

a. Organisasi kemasyarakatan dan organisasi yang relevan,


b. Lembaga legislatif MPR RI, DPR RI dan DPD RI baik secara
kelembagaan maupun dengan komisi/komite dan fraksi,
c. Instansi pemerintah seperti Kemdikbud, Kemenag,
KemenPAN dan RB, Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA),
Kemnakertrans, dan Kementerian ESDM, lembaga
nondepartemen seperti Bappenas, Polri, Mahkamah
Konstitusi (MK), LIPI, Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP), Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN)
dan lain-lain,
Meningkatkan dan memperluas hubungan Kerjasama
dan kemitraan
d. Lembaga nonpemerintah seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH),
Forum Komunikasi Pembinaan Pendidikan Anak Indonesia
(FKPPAI), Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Yayasan
Bina Pembangunan (YBP), Kongres Wanita Indonesia (KOWANI),
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI), PT Kalbe Farma, International Labour Organitation
(ILO), Komisi Penanggulangan Aid (KPA), dunia usaha dan industri
(DUDI) dan lain-lain,
e. Perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri,
f. ASEAN Council of Teachers (ACT), Persatuan Guru Melayu,
Education International (EI), Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia
(KSPI), Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS), dan Asosiasi
Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia. dan
organisasi guru internasional lainnya, dan
g. Pemerintah dan LPTK dalam program sertifikasi guru dan
pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan.
Kerjasama dengan Organisasi kemasyarakatan

Penandatanganan nota kesepahamanan antara PB


PGRI dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia
tentang Perlindungan Anak dan Guru
Lingkup nota kesepahaman adalah sosialisasi
perlindungan guru, advokasi, dan mediasi
bantuan hukum perlindungan guru dan perserta
didik.
Perlindungan guru meliputi 1) perlindungan
hukum, 2) perlindungan profesi, 3) perlindungan
keselamatan dan kesehatan kerja, dan 4) HaKI.
Kerjasama dengan Organisasi kemasyarakatan

2). Penandatanganan nota kesepahanan antara PB


PGRI dan Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera
1912 tentang pengembangan dan
kesejahteraan guru pada tgl 24 Juni 2011.
Lingkup nota kesepahaman adalah:
Program kesejahteraan dan perlindungan
melalui program asuransi.
Penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan
pengabdian masyarakat.
Kerjasama dengan Organisasi kemasyarakatan

3). Nota kesepahaman antara PB PGRI dengan Rotary Club


tentang Program Pelatihan Guru, pada tanggal 25
November 2014.
Lingkup nota kesepahaman adalah pelatihan bagi 1000
guru SD untuk pembelajaran Matematika dan IPA.
4). Nota kesepahaman antara PB PGRI dengan PT.
Khatulistiwa Jasakti Abadi tentang Penyelenggaraan
Program Satu Guru Satu Laptop (Sagusala) bagi anggota
PGRI.
Lingkup kerjasama meliputi penyediaan pengiriman
barang, pelatihan menggunakan laptop untuk guru dan
tenaga kependidikan, dan layanan purna jual bagi
anggota PGRI di seluruh Indonesia.
Kerjasama dengan Organisasi kemasyarakatan

5). Nota kesepahaman antara PB PGRI dengan Komnas


Pengendalian Tembakau Melanjutkan kerjasama
dengan Komnas Pengendalian Tembakau dalam
rangka pencegahan merokok pada anak usia sekolah.
6). Kerjasama Badan Musyawarah Perguruan Swasta
(BMPS) Pusat dengan PB PGRI melalui perangkat
perlengkapan organisasi yang mengelola pendidikan
yang disebut BPLP dan YPLP PGRI Pusat. YPLP PGRI
Pusat tergabung dalam BMPS Pusat yang selalu
memperjuangkan kesetaraan pelayanan kepada
sekolah negeri dan sekolah swasta. Ketua YPLP PGRI
Pusat menduduki salah satu ketua BMPS Pusat masa
bakti 2013 2018.
Kerjasama dengan Organisasi kemasyarakatan

7). Nota kesepahaman antara PB PGRI dengan


PT. Astra Multi Finance tentang Program
Piranti Edukasi Untuk Guru, pada tgl 14 Juli
2014.
Lingkup kerjasama adalah program
pengadaan komputer dan pemasangan
program edutech bagi guru anggota PGRI
dengan harga khusus dari Spektra FIF.
Kerjasama dengan Organisasi kemasyarakatan

8). Nota Kesepahaman antara PB PGRI dan KSPI


(Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia).
Sebagai afiliasi KSPI bersama dengan
organisasi lain, beberapa orang PB PGRI
menjadi pengurus KSPI.
PB PGRI sebagai afiliasi KSPI bersama dengan
organisasi lain memperjuangkan hak-hak
pekerja termasuk hak guru yaitu penghasilan
minimum untuk guru non-PNS.
Lembaga legislatif MPR RI, DPR RI dan DPD RI baik secara
kelembagaan maupun dengan komisi/komite dan fraksi

1) Nota kesepahaman antara MPR RI dan PB PGRI


tentang kerjasama peningkatan mutu
pendidikan dan pengembangan guru, ditanda
tangani tgl 22 Januari 2010.
Lingkup kerjasama Sosialisasi 4 (empat) Pilar
Kebangsaan (Pancasila, Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan ke-Bhinneka
Tunggal Ika-an) kepada guru, kepala sekolah,
pengawas sekolah dan dinas pendidikan.
Lembaga legislatif MPR RI, DPR RI dan DPD RI baik secara
kelembagaan maupun dengan komisi/komite dan fraksi

2) Nota kesepahaman antara PB PGRI dengan


DPDRI tentang kerjasama tentang
Peningkatan Mutu Pendidikan dan
Pengembangan Guru, pada tanggal 22
Januari 2010.
Lingkup kerjasama mencerdaskan kehidupan
bangsa melalui peningkatan profesionalitas
dan kesejahteraan guru serta peran aktif
PGRI dalam peningkatan mutu pendidikan.
Kerjasama dengan BUMN
1). Nota Kesepahaman antara PB PGRI dengan
PT. Telekomunikasi Indonesia, tentang
peningkatan kompetensi guru pada
tanggal 24 Oktober 2014.

Lingkup kesepahaman adalah pelatihan


10.000 guru SD, SMP, SMA tentang
pengembangan pembelajaran berbasis
TIK yang dilakukan di 164 kab/kota
Kerjasama dengan BUMN
2). Nota Kesepahaman antara PB PGRI dengan PT.
Garuda Indonesia yang ditandatangani pada tanggal
25 Januari 2012 di Jakarta dengan mendapatkan
potongan harga 25% untuk anggota PGRI dan
keluarganya.
3). Nota Kesepahaman antara PB PGRI dengan PT.
Merpati Nusantara yang ditandatangani pada
tanggal 27 Januari 2014 di Surabaya dengan
mendapatkan potongan harga 15% untuk anggota
PGRI dan keluarganya. Perpanjangan kerjasama
dengan dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2014 di
Jakarta.
Kerjasama dengan Instansi Pemerintah
Kementerian Perumahan Rakyat
Lingkup kerjasama di bidang pembangunan perumahan
untuk guru
POLRI
- Nota Kesepahaman antara POLRI dan PGRI
ditandatangani pada tanggal 26 Januari 2012.
- Lingkup kerjasama tentang perlindungan hukum,
perlindungan profesi, dan perlindungan keamanan
kerja guru.
- Sosialisasi ke seluruh jajaran POLRI dan PGRI di tingkat
kecamatan.
- Jangka waktu selama 5 (lima) tahun.
Kerjasama dengan Instansi Pemerintah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Lingkup kerjasama meliputi pemberian penghargaan kepada
guru berprestasi, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan
guru, peningkatan mutu perguruan tinggi PGRI serta
peringatan Hari Guru Nasional

Kementerian Agama
Lingkup kerjasama meliputi peningkatan personalitas dan
kesejahteraan guru madrasah
Kementerian Lingkungan Hidup
Lingkup kerjasama meliputi program saposagu, yaitu
penghijauan lingkungan melalui satu pohon satu guru.
Pertemuan guru nusantara
Pertemuan Guru Nusantara dilaksanakan setiap tahun
yang beranggotakan organisasi guru yang berasal dari
Indonesia (PGRI), Malaysia, Brunai Darussalam, dan
Singapura.
Tujuan pertemuan adalah untuk mendiskusikan
berbagai kajian, penelitian, pengembangan yang
dilakukan oleh empat negara anggota tentang
pengembangan Bahasa Melayu.
Tahun 2015 PGN dilaksanakan di Singapura tanggal 4-5
september 2015.
Tahun 2016 Indonesia sebagai tuan rumah
(penyelenggara) PGN.
Kerjasama dengan luar negeri
4) Kerjasama dengan Malaysia Association for Education
(MAE)
Nota kesepahaman ditandatangani tanggal 13 Oktober
2010 dengan tujuan menyelenggarakan berbagai
program untuk meniongkatkan peran dan martabat
profesi guru.
5) Kerjasama dengan ILO
Kerjasama dilakukan baik dengan ILO Jakarta maupun
ILO Asia Pasific terkait dengan pekerja anak dan peran
guru dalam mengeliminir pekerja anak melalui kegiatan
lokakarya bagi guru, focus group discussion (FGD),
penerbitan booklet, leaflet, dan poster.
Lambang dan panji pgri
Lambang dan panji pgri
I. Bentuk
Cakra/Lingkaran melambangkan cita-cita luhur dan daya upaya menunaikan pengabdian yang terus
menerus.

II. Lukisan, Corak, dan Warna


1. Bidang bagian pinggir lingkaran berwarna merah, melambangkan : pengabdian yang
dilandasi kemurnian dan keberanian bagi kepentingan rakyat
2. Warna Putih dengan tulisan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), melambangkan :
pengabdian yang dilandasi kesucian dan cinta kasih.
3. Panduan warna pinggir merah-putih, melambangkan : pengabdian terhadap Negara, Bangsa
dan Tanah air Indonesia.
4. Suluh berdiri tegak bercorak 4 garis tegak dan datar berwarna kuning dengan nyala 5 sinar
api warna merah, melambangkan :
4.1 Suluh dengan 4 garis tegak dan datar kuning berarti fungsi Guru (Prasekolah, SD, SL,
Perguruan Tinggi) dengan hakiukat tugas pengabdiannya sebagai pendidik yang besar
dan luhur.
4.2 Nyala api dengan lima sinar warna merah :
arti ideologis : Pancasila
arti teknis : sasaran budi, cipta, karsa, dan karya generasi
Lambang dan panji pgri
5. Empat buku mengapit suluh dengan posisi 2 datar dan 2b tegak
(simetris) dengan warna corak putih, melambangkan : sumber
ilmu yang menyangkut nilai-nilai moral, pengetahuan,
keterampilan, dan akhlak bagi tingkatan lembaga-lembaga
pendidikan pra sekolah, dasar menengah dan tinggi
6. Warna dasar tengah hijau, melambangkan : kemakmuran generasi.

III. Arti Keseluruhan


Guru Indonesia denganitikat dan kesadaran pengabdian yang suci
dengan segala keberanian keluhuran jiwa dan cinta kasih
senantiasa menunaikan darma baktinya terhadap Negara, Tanah
Air, dan karsa, dan karya generasi bangsa menjadi Manuasia
Pancasila yang memiliki moral, pengetahuan, keterampilan, dan
akhlak yang tinggi.
Lambang dan panji pgri
IV.Penggunaan

1. Sebagai lambang/lencana
2. Sebagai panji :
2.1 Panji resmi (upacara-upacara)
Bentuk dan berukuran bendera (panjang : lebar 3 : 2), warna
dasar putih polos, lambang di tengah-tengah dengan ukuran
perbandingan lambang dan latar yang serasi (harmonis)
2.2. Panji-panji hiasan
Berbentuk dan berukuran bendera dengan pilihan warna dasar
bebas, asal polos
3. Dipancangkan mendampingi Sang Merah Putih dalam upacara-
upacara atau pertemuan-pertemuan lainnya yang diselenggarakan
oleh organisasi.
Ikrar guru indonesia
1. KAMI GURU INDONESIA, ADALAH INSAN
PENDIDIK BANGSA YANG BERIMAN DAN
BERTAQWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA;
2. KAMI GURU INDONESIA, ADALAH PENGEMBAN
DAN PELAKSANA CITA CITA PROKLAMASI
KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA, PEMBELA
DAN PENGAMALK PANCASILA YANG SETIA PADA
UNDANG UNDANG DASAR 1945;
3. KAMI GURU INDONESIA, BERTEKAT BULAT
MEWUJUDKAN TUJUAN NASIONAL DALAM
MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA;
Ikrar guru indonesia
4. KAMI GURU INDONESIA, BERSATU DALAM
WADAH ORGANISASI PERTUJUAN PERSATUAN
GURU REPUBLIK INDONESIA, PEMBINA
PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA YANG
BERWATAK KEKELUARGAAN
5. KAMI GURU INDONESIA, MENJUNJUNG TINGGI
KODE ETIK GURU INDONESIA SEBAGAI
PEDOMAN TINGKAH LAKU PROFESI DALAM
PENGABDIAN TERHADAP BANGSA, NEGARA,
SERTA KEMANUSIAAN.
Kode etik guru indonesia
Ada di email