Anda di halaman 1dari 18

Konseling dengan

Pendekatan Humanistik
Rogers Theory
Phenomenological approach
Perilaku setiap manusia pada dasarnya
ditentukan oleh persepsi unik individu
tentang dunia
Assumptions
Manusia adalah makhluk berfikir yang secara
individual bertanggung jawab terhadap apa
yang mereka lakukan dan sepenuhnya
mampu mebuat pilihan tentang perilaku
mereka (free will)
Tidak seorang pun dapat memahami perilaku
orang lain tanpa mau melihat dari sudut
pandang orang tersebut
Individu diarahkan oleh persepsi diri yang
disadari dan peran lingkungan
Individu bertindak sesuai konsep dirinya
(congruency).
Konsep diri positif berkembang dalam kondisi
unconditioned positive regard
Tiap manusia punya the actualizing tendency
(innate motive toward growth)
Maslow and Humanistic Psychology

Abraham Maslow(1954, 1962, 1971)


Self-Actualization
Need Hierarchy
Satisfaction of needs
Deficiency vs. growth motivation
Peak experiences
Need Hierarchy
A. BASIC NEEDS (deficiency needs, pre-potent
needs), disusun dalam hirarki. Artinya
kebutuhan di peringkat dasar harus dipenuhi
dulu sebelum individu dapat fokus pada
kebutuhan yang lebih tinggi.
1. PHYSIOLOGICAL- food, water, sleep, sex, etc.
2. SAFETY- security, avoid pain
3. BELONGINGNESS AND LOVE- intimacy, affection,
friendship
4. ESTEEM-achievement, recognition, status
B. GROWTH NEEDS (a.k.a. meta-needs), tidak ada
hirarki.
Fulfill potentials
Understanding
Meaning
Being-love
Peak experiences

C. TRANSCENDENCE NEEDS, kebutuhan tertinggi,


tidak ada hirarki
Transcend ones self
Contribute to society
A sense of obligation to others based on ones gifts
A sense of community.
Gangguan
A. NEUROSIS, gangguan karena defisiensi basic
needs tidak terpenuhi secara memadai.
B. METAPATHOLOGY
Basic needs terpenuhi (satisfied), tapi growth
needs tidak terpenuhi (frustrated), sehingga
menghasilkan:
alienation (merasa dikucilkan)
anguish (kesedihan mendalam)
apathy (apatis, tidak peduli)
cynicism (sinisme)
boredom (kebosanan)
lack of meaning (tidak berarti)
Perls and Gestalt Psychology
Fritz Perls(1947)
Adanya kecenderungan atau naluri/ bakat/
instink ke arah pemeliharaan diri (self-
preservation) dan aktualisasi diri
Ego memfasilitasi self-preservation dan self
actualization dengan menengahi konflik
antara kebutuhan internal dan tekanan
lingkungan
Kesadaran/ Awareness
Gambaran Umum Konseling
Humanistik
Kehidupan (dan masalah) klien hanya dapat
difahami jika dilihat dari sudut pandang (point
of view) klien tersebut (phenomenological
world)
Memandang manusia sebagai naturally good
people yang mampu membuat pilihan dan
menentukan nasib mereka sendiri (self-
actualization)
Menekankan pentingnya penerimaan kepada
klien dan akan memberikan kesempatan
kepada klien untuk menentukan apa yang akan
terjadi dalam sesi terapi (non directive).
Meyakini bahwa hubungan dengan klien (therapeutic
relationship) merupakan senjata utama konseling

Setiap individu memiliki potensi untuk menjadi sehat


jika diberi positive regard dan diijinkan menjadi
dirinya sendiri (Conditions of worth force people to
distort their real feeling, symptoms of disorder
appear) konselor menyediakan unconditional
positive regard dan lingkungan yang aman untuk
klien sehingga klien dapat mengungkap dirinya yang
sebenarnya (true self) dan mengatakan apapun yang
dia rasakan.
Klien dianggap setaraf dengan konselor.
Memperlakukan klien sebagai responsible
individuals
Menekankan pentingnya experiencing
and exploring emotions yang
membingungkan atau menyakitkan
Client-Centered Counseling:
A Working Definition
Konseling dijalankan secara interaktif
dengan menggunakan open-ended
questions dan active listening, yang
menekankan pada tujuan pencegahan
dan strategis (tidak hanya memberikan
informasi).
General Principles for Client-
Centered Counseling
Konselor lebih banyak bertanya dan
mendengarkan, bicara lebih sedikit
Mendekati masing-masing klien sebagai
seorang individu
Memusatkan dulu pada masalah dan
kenyataan yang diidentifikasi klien
Memberikan sikap netral dan non-judgmental
Menawarkan pilihan, tidak direktif
Arah tindakan dan tanggung jawab tindakan
ada pada klien
The Tools of a
Humanistic Therapist
Unconditional positive regard/ penerimaan.
Empathyberusaha memahami dari
perspektif klien
Genuineness konselor perlu sungguh-
sungguh terlibat dan peduli terhadap klien.
Active listening & Mirroring respon klien
agar klien dapat listen to himself secara
lebih baik
Unconditional positive regard
Menyampaikan 3 pesan
1) Peduli terhadap klien
Nonpossessive caring
Willingness to listen
Sabar, hangat, menunjukkan minat/
ketertarikan
Jangan menginterupsi/ menyela,
mengubah pembicaraan, memberikan arah
lain
2) Menerima klien
Unconditional : menerima klien apa
adanya without judging them
Memisahkan klien as a person dari clients
behavior
3) Percaya pada kemampuan klien untuk
berubah
Positive : direfleksikan dalam
kepercayaan konselor pada potensi klien
untuk tumbuh dan menyelesaikan masalah
(potential for growth and problem-solving)
Empathy
Empati yang akurat atau empathic
understanding
Memahami external maupun internal
frame of reference
Reflection, ada dua tujuan:
1. Mengkomunikasikan keinginan konselor untuk
memahami secara emosi
2. Membuat klien lebih peka/ menyadari perasaan
mereka sendiri
Menyaring dan playing back perasaan klien
Congruence
Genuineness
Perasaan dan tindakan konselor harus
kongruen
Mengembangkan kepercayaan