Anda di halaman 1dari 20

INSOMNIA

ANGELINA M. A. K. MAKIN
11 2015 260
GANGGUAN TIDUR
International Code of Diagnosis Diagnostic and Statistical Manual
(ICD) 10 of Mental Disorders (DSM) IV
Organik Gangguan tidur yang berkorelasi
Non organik : Dyssomnia, dengan gangguan mental lain
Parasomnia Gangguan tidur yang disebabkan
oleh kondisi medis umum
Gangguan tidur yang diinduksi
oleh bahan-bahan atau keadaan
tertentu.
Gangguan tidur primer
INSOMNIA

kesulitan untuk memulai dan/atau


mempertahankan tidur,
jumlah tidur nokturnal yang tidak
mencukupi.

Jadi, insomnia dianggap sebagai gejala


dan tanda.
Dapat digunakan sebagai kelainan dengan kriteria diagnostik
berikut:
1. sulit tidur, tidur tidak nyenyak;
2. kesulitan ini ada meski ada kesempatan untuk tidur yang cukup;
3. gangguan tidur ini dikaitkan dengan gangguan pada siang hari; dan
4. kesulitan tidur ini terjadi minimal 3 kali per minggu dan sudah
menyababkan masalah minimal 1 bulan.
Epidemiologi
Konsensus umum : sekitar 30% dari berbagai sampel orang
dewasa yang diambil dari berbagai negara melaporkan satu
atau lebih gejala insomnia
Australia :13% -33% populasi orang dewasa mengalami
kesulitan untuk tidur atau mempertahankan tidur
Menggunakan kriteria DSM IV, menghasilkan perkiraan
prevalensi saat ini sekitar 6%
Faktor Resiko
Usia
Jenis kelamin : prevalensi meningkat pada wanita dan
orang dewasa yang lebih tua
kondisi medis komorbid
gangguan kejiwaan (40%) : Depresi dan Cemas
shift malam atau bergiliran
Klasifikasi
Insomnia Primer
Pola tidur, kebiasaan sebelum tidur dan lingkungan tempat tidur
Insomnia Sekunder
Akibat efek dari hal lain, misalnya:
Kondisi medis
Masalah psikologi
Efek samping dari obat-obatan, penggunaan zat terlarang atau
penyalahgunaan alkohol
International Classification of Sleep Disordes
1. Acute insomnia
2. Psychophysiologic insomnia
3. Paradoxical insomnia (sleep-state misperception)
4. Idiopathic insomnia
5. Insomnia due to mental disorder
6. Inadequate sleep hygiene
7. Behavioral insomnia of childhood
8. Insomnia due to drug or substance
9. Insomnia due to medical condition
10.Insomnia not due to substance or known physiologic condition,unspecified (nonorganic)
11.Physiologic insomnia, unspecified (organic)
Etiologi

Primary Insomnia (15%)


Pscychiatric Disorders (50%)
Other Illnesses, Medications, etc (25%)
Other Sleep Disorders (10%)
Patofisiologi
Biologis

Lingkungan Fisik Hiperarosa

Psikologis
Diagnosis
Riwayat tidur yang sistematis (waktu tidur, waktu yang dibutuhkan
untuk tertidur, frekuensi dan lama terbangunnya bangun di tengah
malam, dan jam berapa pasien keluar dari kamar)
Apakah ada pemicu awal atau apakah gejala itu muncul secara
spontan?
Apakah itu terkait dengan masa stres, kecemasan atau depresi?
Apakah itu dimulai pada masa kanak-kanak dan berlanjut sesudahnya?
Adakah faktor gaya hidup yang berkontribusi terhadap insomnia?
Konsekuensi siang hari ?
Pemeriksaan rutin fisik dan mental dapat memberi petunjuk
mengenai kesehatan komorbid dan kondisi kesehatan mental.
Tes lainnya termasuk prosedur laboratorium dan radiografi tidak
secara rutin ditunjukkan pada insomnia kronis.
Kriteria Diagnostik Insomnia Non-Organik
berdasarkan PPDGJ
a. Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:
Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, ataukualitas tidur yang buruk
Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan
Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihanterhadap akibatnya pada malam
hari dan sepanjang siang hari
Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup berat
dan mempengaruhi fungsi dalam sosialdan pekerjaan
b. Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan.
c. Kriteria lama tidur (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan adanya gangguan, oleh karena luasnya
variasi individual. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada transient insomnia)
tidak didiagnosis di sini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43.0) atau gangguan penyesuaian
(F43.2)
Komplikasi
Gangguan kemampuan berkonsentrasi,
Gangguan memori,
Depresi dan kecemasan
Penurunan kualitas hidup,
Peningkatan angka kematian pada individu yang tidur kurang
dari 5 jam setiap malam.
Penyakit kardiovaskular dan hipertensi
Tatalaksana
A. Non Farmakologi
Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik.
Teknik Relaksasi
Terapi kognitif
Restriksi Tidur
Kontrol stimulus
B. Farmakologi
Pengobatan insomnia secara farmakologi dibagi menjadi dua
golongan yaitu :
a. benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam)
b. non-benzodiazepine(Chloral-hydrate, Phenobarbital)
Pemilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur :

Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur): Sleep inducing anti-insomnia
yaitu golongan benzodiazepine (Short Acting)

Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk kembali ke
proses tidur selanjutnya): Prolong latent phase Anti-Insomnia, yaitu golongan
heterosiklik antidepresan (Trisiklik danTetrasiklik)

Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpecah-pecah
menjadi beberapa bagian (multiple awakening): Sleep Maintining Anti-Insomnia,
yaitu golongan phenobarbital atau golongan benzodiazepine (Long acting)
Kesimpulan
Insomnia merupalan kesulitan untuk masuk tidur, kesulitan dalammempertahankan tidur, atau tidak
cukup tidur.
Insomnia merupakan gangguan fisiologis yang dapat mempengaruhi kinerja dan kehidupan sehari-hari.
Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai faktor
Insomnia didiagnosis dengan melakukan penilaian terhadap pola tidur penderita, pemakaian obat-
obatan, alkohol, atau obat terlarang, tingkatan stres psikis, riwayat medis, aktivitas fisik, dan kebutuhan
tidur secara individual.
Insomnia dapat ditatalaksana dengan cara farmakologi dan non farmakologi, bergantung pada jenis dan
penyebab insomnia.
Obat-obatan yang biasanya digunakan untuk mengatasi insomnia dapat berupa golongan benzodiazepin
(Nitrazepam, Trizolam, dan Estazolam), dan non benzodiazepine (Chloral-hydrate,Phenobarbital).
Tatalaksana insomnia secara non farmakologis dapat berupa terapi tingkah laku dan pengaturan gaya
hidup dan pengobatan di rumah seperti mengatur jadwal tidur.