Anda di halaman 1dari 27

Kegawatdaruratan

Psikiatri

ANGELINA M. A. K. MAKIN
STEVEN LEONARDO
LIVIA KURNIAWAN
BATRISYA BASIR
Kegawatdaruratan Psikiatri

Definisi: tiap gangguan pada pikiran, perasaan dan tindakan


seseorang yang memerlukan intervensi terapeutik segera
Jenis-jenis kegawatdaruratan psikiatri:

Gaduh gelisah
Percobaan Bunuh Diri
Dampak tindak kekerasan
Sindroma Neuroleptik Maligna
Kegawatdaruratan Psikiatri Pada Pasien
GADUH GELISAH
Pasien gaduh gelisah
Pasien dengan gejala psikomotor meningkat disertai ketegangan , kecemasan
dan kebingungan.
Gejala utama: banyak bicara, cepat dan keras , banyak gerak tangan dan kaki,
marah-marah dan takut. Disertai halusinasi dan waham. Pasien dapat menjadi
agresif, bermusuhan dan destruktif
Pasien gaduh gelisah dapat membahayakan orang lain, maupun diri sendiri.
Modalitas terapi yg dapat digunakan
Kekangan Fisik (physical restraint)
Manajemen Farmakologik
Manajemen Psikologik
Meskipun telah dilakukan kekangan fisik, namun tetap diperlukan
medikamentosa untuk meredakan gaduh gelisah
Prosedur Penanganan Pasien Gaduh Gelisah

Bersikap tenang tetapi tetap waspada


Tenangkan keluarga pasien atau pengantar
Lakukan pemeriksaan status psikiatrik serta fisik sedapat mungkin
Apabila perlu, lakukan fixasi terhadap pasien
Cari gangguan yang mendasari keadaan gaduh gelisah
Untuk mengatasi gaduh gelisah, obat yg digunakan umumnya neuroleptika,
atau kombinasi neuroleptika dgn benzodiazepine
Chlorpromazine :
Jangan diberikan bila tekanan darah kurang dari sama dengan 90/60 mmHg
Berikan injeksi 25-50mg, chlorpromazine i.m
Monitor tekanan darah 15 menit dan 30 menit setelah suntikan
Ulangi pemberian chlorpromazine setiap 30-60 menit sampai tercapai kontrol yang adekuat
terhadap gaduh gelisahnya.
Haloperidol :
Berikan injeksi 5 10 mg haloperidol i.m/i.v
Ukur tekanan darah 15 menit dan 30 menit setelah injeksi
Ulangi pemberian haloperidol tiap 30 menit sampai tercapai kontrol yang adekuat
Jika pasien tidak berespons setelah 2 dosis neuroleptik, penambahan
benzodiazepine dapat membantu
Kombinasi haloperidol dan lorazepam/diazepam
Berikan injeksi 2,5 - 5 mg haloperidol im/iv dan 1 2 mg lorazepam im/iv
ataupun diazepam 5 - 10 mg iv
Injeksi intravena lorazepam dan diazepam harus diberikan perlahan-lahan
Pemberian diulang tiap 30 menit sampai ada respon yang cukup
PERCOBAAN BUNUH DIRI

Batasan segala perbuatan yang sengaja dilakukan oleh seseorang yang dapat
membinasakan dirinya dalam waktu yang singkat
Etiologi terdapat berbagai teori tentang perilaku.
Faktor Biologik : berkurangnya peran serotonin sentral perilaku bunuh diri,
misalnya rendahnya metabolit serotonin (5-HIAA) di Cairan Serebro Spinal
Faktor Genetik perilaku bunuh diri cendrung terjadi dalam keluarga dari studi
anak kembar, sedangkan pada studi anak adopsi bahwa faktor genetik
menurunkan threshold utk bunuh diri dan ketidakmampuan mengontrol impuls
diri
Alasan mengapa seseorang bunuh diri
1) Tidak dapat mengendalikan stres maupun krisis
2) Situasi kehidupan yang sangat sulit dan penuh dengan stres
3) Tidak mampu mencari jalan keluar yang lebih baik
4) Adanya halusinasi
5) Waham bersalah

Pada perilaku bunuh diri dapat dijumpai anxietas dan depresi, minum alkohol, adanya penyakit
kronik, harga diri yang rendah, dan kemarahan.
Macam-macam bunuh diri :
1. Bunuh diri egosentrik/egoistik :kurangnya arti ikatan
keluarga atau interaksi sosial
2. Bunuh diri altruistik : terjadi karena integrasi yg
berlebihan dgn lingkungan sosialnya
3. Bunuh diri anomik : terjadi bila relasi antara individu dan
sosial hancur karena penderitaan /kesengsaraan sosial &
ekonomi
Tanda-tanda risiko terjadinya bunuh diri

Tanda - tanda risiko berat :


1. Keinginan mati yang sungguh-sungguh, pernyataan berulang bahwa ia ingin
mati, yg bisa disertai dengan persiapan terinci
2. Depresi dgn gejala rasa salah dan dosa, rasa putus asa, ingin dihukum
berat, disfungsi seks dan kegiatan lain, serta ggn tidur yg berat
3. Psikosis, terutama yg impulsif, perasaan curiga, ketakutan dan panik,
mendengar suara (halusinasi) yg memerintahkan utk bunuh diri
Tanda-tanda bahaya :
1. Pernah melakukan percobaan bunuh diri
2. Penyakit yang menahun
3. Ketergantungan obat dan/atau alkohol
4. Hipokondriasis
5. Bertambahnya usia disertai bertambahnya masalah hidup
6. Pengasingan diri
7. Kebangkrutan
8. Catatan bunuh diri
9. Kesukaran menyesuaikan diri yang kronis
10. Tak jelas adanya keuntungan sekunder
Pemeriksaan
1. Anamnesis :
Untuk mendapatkan kesungguhan niat, penyebab dan cara(percobaan) bunuh
diri
2. Pemeriksaan Fisik :
Utk mendapatkan kelainan organik yg mungkin mendasari tindakan
(percobaan) bunuh diri, maupun akibat yang ditimbulkannya. Dilakukan
pemeriksaan fisik, internistik, dan neurologik.
3. Pemeriksaan psikiatrik:
Utk mendapatkan kelainan psikiatrik
Tes Psikologik :
Utk mencari dasar kepribadian pasien yg mendasari tindakan (percobaan)
bunuh diri serta membantu dalam penatalaksanaan pasien.
Pemeriksaan Laboratorium :
Sesuai dgn kebutuhan atau kelainan organik yang didapatkan.
Penatalaksanaan
Ide-ide bunuh diri, Krisis Bunuh diri, Percobaan Bunuh diri.

Ruang Gawat Darurat

Bag Bedah/Bag Peny Dalam

Bagian Psikiatrik : 1. Masuk RS/Rawat Jalan
2. Psikoterapi
Macam-macam terapi berupa :
1. Psikoterapi individual atau terapi kelompok
2. Terapi keluarga
3. Terapi obat-obat sesuai keadaan
Strategi terapi :
1. Memotong lingkaran pikiran bunuh diri
2. Menguatkan kembali ego pasien, dan memperbaiki mekanisme pembelaan
yg salah
3. Membantu Pasien agar dpt hidup wajar kembali
VIOLENCE

Violence atau tindak kekerasan adalah agresi fisik yang dilakukan oleh
seseorang terhadap orang lain.
Dapat disebabkan gangguan psikotik atau non psikotik

Psikotik Non Psikotik


Gangguan psikotik akut Kecemasan : panik.
Gangguan mental organik Depresi
Skizofrenia PTSD
Gangguan bipolar dengan ciri Psikotik Gangguan kepribadian antisosial
Gangguan waham
Gangguan mental dan perilaku akibat
penggunaan zat
Tanda-tanda adanya perilaku kekerasan yang mengancam

Kata-kata keras/kasar atau ancaman akan kekerasan


Perilaku agitatif
Membawa benda-benda tajam atau senjata
Adanya pikiran dan perilaku paranoid
Adanya penyalah gunaan zat/intoksikasi alkohol
Adanya halusinasi dengar yang memerintahkan untuk melakukan tindak kekerasan
Kegelisahan katatonik
Episode Manik
Episode Depresi Agitatif
Gangguan Kepribadian tertentu
Adanya penyakit di Otak ( terutama di lobus frontal )
Faktor risiko terjadinya tindak kekerasan

Adanya ide-ide kekerasan disertai rencana dan sarana yang tersedia


Adanya riwayat kekerasan sebelumnya
Adanya riwayat gangguan impuls termasuk penjudi, pemabuk,
penyalahgunaan zat psikoaktif,percobaan bunuh diri ataupun melukai diri
sendiri, Psikosis.
Adanya masalah dalam kehidupan pribadi yang nyata
Adanya kesempatan atau suatu cara untuk terjadinya kekerasan
Riwayat percobaan bunuh diri.
Penatalaksanaan
1. Jauhkan dari sumber yang dapat memicu kekerasan
2 Psikotik
a. Injeksi Haloperidol 5-10 mg IM (dapat dikombinasikan dengan Diazepam 10 mg IM, diberikan pada
lokasi yang berbeda
b. Injeksi Olanzapin 10 mg
c. Injeksi klorpromazin 100 mg IM atau lebih
d. Injeksi lorazepam
e. Dapat pula diberikan diazepam 10-20 mg IM atau IV
3. Non Psikotik
Injeksi Diazepam dapat diberikan, dosis yang tidak terlalu tinggi
Sindroma Neuroleptik Maligna (SNM)

Obat neuroleptika dapat menimbulkan efek samping dan salah satunya yang bersifat
akut dan fatal adalah terjadinya SNM
Definisi : suatu keadaan mirip katatonia akibat pemakaian obat gol neuroleptik
Ditandai dgn gejala : panas badan, rigiditas, ketidakstabilan sistem otonomik serta
gangguan kesadaran.
Dapat terjadi komplikasi berupa trombosis vena, cardiac arrest, infark miokard dg
oedem paru, kegagalan fs hati, DIC, syok, dan kematian
Gejala SNM menurut DSM-IV sbb :
A. Perkembangan rigiditas otot yang parah dan peningkatan temperatur yg
berhubungan dgn medikasi neuroleptika
B. 2 gejala berikut : diaforesis , disfagia , tremor, inkontinensia, perubahan
tingkat kesadaran dari kebingungan sampai koma, mutism, takikardia,
peningkatan atau labilitas tekanan darah, leukositosis, bukti laboratorium
adanya kerusakan otot (peningkatan CPK)
C. Gejala pada kriteria A dan B bukan karena zat lain (misalnya phencyclidine)
atau suatu kondisi neurologis/medis umum (misalnya ensefalitis virus)
D. Gejala dalam kriteria A dan B tidak diterangkan lebih baik oleh suatu
gangguan mental (misalnya ggn mood dgn ciri katatonik)
Segera setelah di duga SNM maka : hentikan
neuroleptika & tindakan suportif meliputi :

1. Turunkan suhu tubuh


2. Pasang infus u/ cegah syok dan ggn fs. ginjal
3. Observasi ketat vital sign
4. Pemeriksaan Lab : CPK, DL, profil kimia, LFT, RFT
5. Pengobatan spesifik
Strategi untuk pemberian neuroleptika selanjutnya :

Bila neuroleptika tetap dibutuhkan, pemberiannya ditunda selama mungkin


sesudah SNM teratasi.
Pilihlah neuroleptika dari jenis yang lain terutama golongan dosis efektif tinggi
seperti Thioridazine, Clozapine
Mulailah dgn dosis rendah dg pengawasan ketat
Dapat dikombinasi dgn lorazepam
Tunda pemberian neuroleptika ulangan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah SNM
TERIMA KASIH