Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

Te t a n u s pada Anak d a n Te t a n u s Neonatorum

Antony Halim
Pembimbing : dr. Rosyadi Akbarri, M. Sc, Sp.A
T E TA N U S
Penyakit infeksi akut, disebabkan oleh eksotoksin yang dihasilkan oleh
Clostridium tetani, ditandai dengan peningkatan kekakuan umum dan
kejang pada otot rangka

2
TETANUS NEONATORUM
Penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia < 1 bulan)
Salah satu penyebab kejang yang sering dijumpai pada bayi baru lahir, di
luar trauma kehamilan atau asfiksia

3
EPIDEMIOLOGI
Tetanus tersebar di seluruh dunia dengan angka kejadian
tergantung jumlah populasi masyarakat yang tidak kebal,
tingkat pencemaran biologik lingkungan peternakan /
pertanian, dan adanya luka pada kulit atau mukosa
Tetanus pada anak tersebar di seluruh dunia, terutama
pada daerah risiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT
yang rendah
Angka kejadian pada anak laki-laki >> perempuan akibat
perbedaan aktivitas fisiknya
Tidak menular dari manusia ke manusia
CIRI
Basil, panjang 2-5 m, lebar 0,3-0,5 m
Berbentuk seperti drumstick, gram positif, anaerob obligat
Banyak di tanah, kotoran manusia, hewan peliharaan
Tidak tahan panas, namun spora dapat bertahan pada lingkungan
ekstrim dan anaerob
Menghasilkan 2 eksotoksin, yakni tetanolisin dan tetanospasmin

5
1. 2. 3. 4. 5.

Pencemaran Pertolongan Pemotongan Tali Perawatan Tali Pemberian Imunisasi


Tetanus Toksoid (TT)
Fisik Dan Persalinan di Pusat tidak Pusat tidak
pada Ibu Hamil Tidak
Biologi Tempat Tidak Memenuhi Memenuhi Dilakukan / Kurang
Bersih Persyaratan Lengkap
Persyaratan

6
Spora yang masuk ke dalam tubuh dan berada
dalam lingkungan anerobik, berubah menjadi
vegetatif dan berbiak cepat sambil
menghasilkan toksin. Hipotesis mengenai cara
absorbsi dan bekerjanya toksin:

1. Toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik


PAT O G E N E S I S dan melalui aksis silindrik dibawa ke kornu
anterior susunan saraf pusat.

2. Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik,


masuk ke dalam sirkulasi darah arteri
kemudian masuk ke dalam susunan saraf
pusat.

7
Mekanisme kerja:
1. menimbulkan perubahan potensial membran dan
gangguan enzim yang menyebabkan kolin-
esterase tidak aktif, sehingga kadar asetilkolin
menjadi sangat tinggi pada sinaps yang terkena.
2. Mencegah pelepasan neurotransmitter inhibisi
seperti glisin, GABA, dopamine, dan noradrenalin.
GABA adalah neuroinhibitor yang paling utama
pada SSP, yang berfungsi mencegah pelepasan
impuls saraf yang eksesif. Toksin tetanus secara
spesifik menghambat pelepasan kedua
neurotransmitter tersebut di daerah sinaps
dangan cara mempengaruhi sensitifitas terhadap
kalsium dan proses eksositosis
Disebabkan oleh toksin yang Terutama mengenai saraf simpatis,
memblok sinaps jalur antagonis, menimbulkan pengeluaran keringat
mengubah keseimbangan dan berlebihan, hipertermia, hipotensi,
koordinasi impuls sehingga tonus hipertensi, heart block, atau
otot meningkat dan otot menjadi kaku takikardia

Ganglion Pra Sumsum


Tulang Belakang
Otak Saraf Otonom

Disebabkan oleh toksin yang


menempel pada gangliosides, diduga
menyebabkan kekakuan dan kejang
yang khas pada tetanus

The Power of PowerPoint | thepopp.com 9


Localized Cephalic Generalized Tetanus
Tetanus Tetanus Tetanus Neonatorum
Kontraksi otot persisten Bentuk yang jarang terjadi, Bentuk yang paling dikenal Perjalanan penyakit lebih
pada daerah luka terjadi. berasal dari otitis media dengan manifestasi jelas. cepat dan berat, pada
Kontraksi otot biasa ringan, kronik, luka daerah muka Dibagi menjadi derajat I neonatus
bertahan beberapa bulan dan kepala. Lumpuhnya (ringan), derajat II (sedang),
dan tanpa progres dan N.cranial VII, ataupun pada derajat III (berat), derajat IV
dapat menghilang bertahap. N.III, IV, IX, X, XII (stadium terminal)

11
Tetanus Pada Anak

I II III

TRISMUS RISUS SARDONIKUS OPISTOTONUS

IV V VI
KEJANG UMUM, GANGGUAN SARAF
PERUT PAPAN ASFIKSIA OTONOM

12
Tetanus Neonatorum

I II III

PANAS MENDADAK SULIT MENETEK OPISTOTONUS


(TRISMUS)

IV V VI
KEJANG AKIBAT MULUT MENCUCU
RISUS SARDONIKUS RANGSANGAN SEPERTI IKAN

13
1. Anamnesis

2. Pemeriksaan Fisik : Uji Spatula, spesifisitas


dan sensitivitas tinggi (94%)

DIAGNOSIS

3. Pemeriksaan Penunjang : kultur,


leukositosis, CSF dapat normal, kreatin
kinase meningkat

15
TATALAKSANA
Tetanus Pada Anak
Umum
1. Anak perlu dirawat di Rumah Sakit, diletakkan pada ruang
yang tenang pada unit perawatan intensif dengan stimulasi
minimal
2. Merawat dan membersihkan luka, debridement, membuang
benda asing, kompres, setelah pemberian ATS
3. Diet cukup kalori dan protein
4. Menjaga saluran napas tetap bebas, apabila berat perlu
trakeostomi
5. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit
6. Mengurangi spasme dan mengatasi kejang
Medikamentosa
1. Antikejang : diazepam 5 mg per rektal untuk BB < 12 kg, 10
mg untuk BB >12 kg. IV 0,3 mg/kgBB/kali
2. Antibiotik : Metronidazole IV/oral 15-30 mg/kgBB/hari. Lini II
: Penicillin 50.000 U/kgBB/12 jam
3. Antitoksin : Human Tetanus Immunoglobulin (TIG) 3000-
6000 U atau tetanus antitoksin 40.000 U
Tetanus Neonatorum
Medikamentosa
1. Pasang jaur IV dan beri cairan dengan dosis rumatan
2. Berikan diazepam 10mg/kgbb/hari secara IV dalam 24 jam atau
dengan bolus IV setiap 3-6 jam (dengan dosis 0,1 0,2
mg/kgbb/kali pemberian), maksimum 40 mg/kgbb/hari.
Bila jalur IV tidak terpasang, pasang pipa lambung dan beri
diazepam melalui pipa atau melalui rectum.
Bila perlu, beri tambahan dosis 10 mg/kgbb tiap 6 jam
Bila frekuensi nafas kurang dari 30 kali/ menit dan tidak tersedia
fasilitas penunjang nafas dengan ventilator, diazepam dihentikan
meskipun bayi masih mengalami spasme.
Bila bayi mengalami henti nafas selama spasme atau sianosis
sentral setelah spasme, berikan oksigen dengan kecepatan aliran
sedang, bila belum bernafas lakukan resusitasi, bila tidak berhasil
dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas NICU.
Setelah 5-7 hari, dosis diazepam dapat dikurangi secara bertahap
5-10 mg/hari dan diberikan melalui rute orogastrik.
Pada kondisi tertentu, mungkin diperlukan vencuronium dengan
ventilasi mekanik untuk mengontrol spasme.
Tetanus Neonatorum
3. Berikan bayi Human tetanus imunoglobulin 500 U IM atau
antitoksin tetanus (equine serum) 5000 U IM sebelumnya dilakukan
tes kulit terlebih dahulu.
4. Tetanus toksoid 0,5 ml IM diberikan pada tempat yang berbeda
dengan tempat pemberian antitoksin.
5. Pemberian antibiotik
Lini 1: Metronidazol 30 mg/kgbb/hari dengan interval setiap 6 jam
(oral/parenteral) selama 7-10 hari.
Lini 2 : Penisilin Procain 100.000 U/kgbb/hari IV dosis tunggal 7-10
hari.
6. Jika terdapat sepsis atau bronkopneumonia, berikan antibiotik yang
sesuai.
7. Bila terjadi kemerahan dan atau pembengkakan pada kulit sekitar
pangkal tali pusat, atau keluar nanah dari permukaan tali pusat,
atau bau busuk dari area tali pusat, berikan pengobatan untuk
infeksi lokal tali pusat.
8. Berikan ibunya imunisasi tetanus toksoid 0,5 ml untuk melindungi
ibu dan bayi yang dikandung berikutnya dan minta datang kembali
satu bulan kemudian untuk pemberian dosis kedua.
9. Terapi suportif berupa fisioterapi dapat dilakukan bila terjadi
kekakuan atau spastisitas yang menetap.
Perawatan lanjut bayi tetanus neonatorum:
Rawat bayi di ruang yang tenang dan gelap untuk
mengurangi rangsangan yang tidak perlu, tetapi harus
yakin bayi tidak terlantar.
Lanjutkan pemberian cairan IV dengan dosis rumatan
dan antibiotik dilanjutkan.
Pasang pipa lambung bila belum terpasang dan beri ASI
perah diantara periode spasme. Mulai dengan jumlah
setengah kebutuhan perhari dan naikkan secara
perlahan hingga mencapai kebutuhan penuh dalam dua
hari.
Nilai kemampuan minum dua kali sehari, dan anjurkan
untuk menyusu ASI secepatnya begitu terlihat bayi siap
untuk menghisap.
Bila sudah tidak terjadi spasme dalam 2 hari, bayi dapat
minum baik, dan tidak ada lagi masalah yang
memerlukan perawatan dirumah sakit, maka bayi dapat
dipulangkan.
T H A N K YO U !