Anda di halaman 1dari 31

POKOK BAHASAN

1. Dasar Pemikiran BLU


2. Dasar Hukum
Manfaat
3. Pengertian BLU dan PPK-BLU BLU
4. Bentuk dan Sifat BLU
5. Keleluasaan BLU
6. Persyaratan dan Penetapan BLU
BLU
7. Standar dan Tarif Layanan BLU VS
8. Pengelolaan Keuangan BLU NON BLU
9. Akuntansi BLU
10. Pejabat Pengelola BLU
1
PENDAHULUAN

Ketentuan umum BLU tercantum dalam


UU No. 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, yaitu pada
BAB XII Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum, pasal 68 dan 69.
Ketentuan rinci diatur dalam PP No. 23
Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum.

2
DASAR PEMIKIRAN BLU
(penjelasan PP No. 23/2005)

Paket UU bidang keuangan negara


menandai perubahan yang signifikan di
bidang keuangan negara.
Salah satunya, pergeseran dari
penganggaran tradisional ke
penganggaran berbasis kinerja.
Dari sekedar membiayai masukan dan
proses ke pembayaran terhadap apa yang
akan dihasilkan (output).

3
DASAR PEMIKIRAN BLU
(penjelasan PP No. 23/2005)

Tingkat kebutuhan dana makin tinggi,


sementara sumber dana yang tersedia
terbatas.
Pembiayaan pemerintahan yang
bergantung pada pinjaman semakin
dituntut pengurangannya demi keadilan
antargenerasi.
Pemerintah (PP) berpendapat enterprising
government merupakan paradigma yang
memberi arah yang tepat bagi keuangan
sektor publik.
4
PENGERTIAN BLU dan PPK-BLU

Badan Layanan Umum (BLU) adalah instansi


di lingkungan Pemerintah yang dibentuk
untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat berupa penyediaan barang
dan/atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan dan
dalam melakukan kegiatannya didasarkan
pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
(PP No. 23/2005 pasal 1 angka 1).

5
PENGERTIAN BLU dan PPK-BLU
Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
(PPK-BLU) adalah pola pengelolaan keuangan yang
memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk
menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
mecerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana
diatur dalam Peraturan Pemerintah ini, sebagai
pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan
negara pada umumnya.
(PP No. 23/2005 pasal 1 angka 2).

6
BENTUK dan SIFAT BLU

BLU beroperasi sebagai unit kerja


kementerian negara/lembaga/
pemerintah daerah.
(PP No. 23/2005 pasal 3 ayat 1)

Status hukum BLU tidak terpisah dari


kementerian negara/lembaga/
pemda sebagai instansi induknya.
(PP No. 23/2005 pasal 3 ayat 2)

Kekayaan BLU merupakan kekayaan


negara/daerah yang tidak
dipisahkan. (UU No. 1/2004 pasal 68 ayat 2)
7
KELELUASAAN BLU
Pendapatan yang diperoleh Badan
Layanan Umum sehubungan dengan jasa
layanan yang diberikan merupakan
Pendapatan Negara/Daerah.
(UU No. 1/2004 pasal 69 ayat 4)

Badan Layanan Umum dapat memperoleh


hibah atau sumbangan dari masyarakat
atau badan lain. (UU No. 1/2004 pasal 69 ayat 5)
Pendapatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) dan ayat (5) dapat digunakan
langsung untuk membiayai belanja Badan
Layanan Umum yang bersangkutan.
(UU No. 1/2004 pasal 69 ayat 6)
8
KELELUASAAN BLU

Sumber penerimaan BLU :


o APBN/APBD
o Imbalan jasa yang dipungut dari
masyarakat pengguna barang/jasa
o Hibah terikat dan tidak terikat
o Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain
o Hasil usaha lainnya
(PP No. 23/2005 pasal 14 ayat 1, 2, 3, dan 4)

9
KELELUASAAN BLU

Pendapatan yang diterima dapat


dikelola langsung untuk membiayai
belanja BLU. (PP No.
23/2005 pasal 14 ayat 5)

Pendapatan BLU (selain yang berasal dari


APBN/APBD) dilaporkan sebagai
pendapatan negara bukan pajak
kementerian/lembaga atau pendapatan
bukan pajak pemerintah daerah.
(PP No. 23/2005 pasal 14 ayat 5)

10
PERSYARATAN BLU

Suatu satuan kerja instansi pemerintah


dapat diizinkan mengelola keuangan
dengan PPK-BLU apabila memenuhi
persyaratan substantif, teknis, dan
administratif.
(PP No. 23/2005 pasal 4 ayat 1)

11
PERSYARATAN BLU - Substantif

Persyaratan substantif: menyelenggarakan


layanan umum yang berhubungan dengan:
o Penyediaan barang dan/atau jasa layanan umum;
o Pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan
meningkatkan perekonomian masyarakat atau
layanan umum;
o Pengelolaan dana khusus dalam rangka
meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan
kepada masyarakat.
(PP No. 23/2005 pasal 4 ayat 2)

12
PERSYARATAN BLU - Substantif

Bidang layanan umum yang diselenggarakan


oleh instansi dengan PPK-BLU meliputi
kegiatan pemerintah yang bersifat operasional
dalam menyelenggarakan pelayanan umum
yang menghasilkan semi barang/jasa publik
(quasi public goods).
(Penjelasan PP No. 23/2005 pasal 4 ayat 2)

13
PERSYARATAN BLU - Substantif

Contoh layanan umum :


o Layanan bidang kesehatan
o Penyelenggaraan pendidikan
o Layanan jasa penelitian dan pengujian
o Pengelolaan wilayah/kawasan secara otonom
o Pengelolaan dana bergulir
o Pengelolaan penerusan pinjaman
o Pengelolaan tabungan pemerintah
(Penjelasan PP No. 23/2005 pasal 4 ayat 2)

14
PERSYARATAN BLU - Teknis

Kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan


fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan
pencapaiannya melalui BLU sebagaimana
direkomendasikan oleh menteri/pimpinan
lembaga/kepala SKPD;
Kinerja keuangan satuan kerja instansi ybs
adalah sehat sebagaimana ditunjukkan dalam
dokumen usulan penetapan BLU.
(PP No. 23/2005 pasal 4 ayat 3)

15
PERSYARATAN BLU - Administratif

Dapat menyajikan dokumen:


o Pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan
kinerja pelayanan, keuangan, dan manfaat bagi
masyarakat;
o Pola tata kelola;
o Rencana strategis bisnis;
o Laporan keuangan pokok;
o Standar pelayanan minimum;
o Laporan audit terakhir atau persyaratan bersedia
untuk diaudit secara independen.
(PP No. 23/2005 pasal 4 ayat 4)

16
PENETAPAN BLU
Menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD
mengusulkan instansi pemerintah yang
memenuhi persyaratan substantif, teknis,
dan administratif untuk menerapkan PPK-
BLU kepada Menteri Keuangan/gubernur/
bupati/walikota. (PP No. 23/2005 pasal 5 ayat 1)
Menteri Keuangan/gubernur/bupati/
walikota memberi keputusan penetapan
atau surat penolakan terhadap usulan
penetapan BLU paling lambat 3 (tiga) bulan
sejak diterima dari menteri/pimpinan
lembaga/kepala SKPD.
(PP No. 23/2005 pasal 5 ayat 7)

17
STANDAR LAYANAN
Standar pelayanan minimum BLU ditetapkan
oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/
bupati/walikota .
(PP No. 23/2005 pasal 8 ayat 1)

Standar pelayanan minimum harus


mempertimbangkan kualitas layanan,
pemerataan dan kesetaraan layanan,
biaya serta kemudahan untuk
mendapatkan layanan.
(PP No. 23/2005 pasal 8 ayat 3)

18
TARIF LAYANAN
Imbalan atas barang/jasa layanan yang
diberikan ditetapkan dalam bentuk tarif
yang disusun atas dasar perhitungan biaya
per unit layanan atau hasil per investasi
dana. (PP No. 23/2005 pasal 9 ayat 2)
Tarif layanan diusulkan oleh BLU kepada
menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD.
(PP No. 23/2005 pasal 9 ayat 3)

Usul tarif layanan dari menteri/pimpinan


lembaga/kepala SKPD selanjutnya
ditetapkan oleh Menteri Keuangan/
gubernur/bupati/walikota.
(PP No. 23/2005 pasal 9 ayat 4)

19
PENGELOLAAN KEUANGAN BLU

BLU menyusun rencana strategis bisnis lima


tahunan dengan mengacu kepada
Renstra-KL atau RPJMD.
(PP No. 23/2005 pasal 10 ayat 1)

BLU menyusun RBA tahunan dengan


mengacu kepada rencana strategis bisnis.
(PP No. 23/2005 pasal 10 ayat 2)

RBA (Rencana Bisnis dan Anggaran BLU) adalah


dokumen perencanaan bisnis dan
penganggaran yang berisi program,
kegiatan, target kinerja, dan anggaran BLU.
(PP No. 23/2005 pasal 1 angka 10)

20
PENGELOLAAN KEUANGAN BLU

RBA disusun berdasarkan basis kinerja dan


perhitungan akuntansi biaya menurut jenis
layanannya. (PP No. 23/2005 pasal 10 ayat 3)
RBA disusun berdasarkan kebutuhan dan
kemampuan pendapatan yang
diperkirakan akan diterima dari masyarakat,
badan lain, dan APBN/APBD.
(PP No. 23/2005 pasal 10 ayat 3)

21
PENGELOLAAN KEUANGAN BLU

BLU mengajukan RBA kepada menteri/


pimpinan lembaga/kepala SKPD untuk
dibahas sebagai bagian dari RKA-KL, RKA-
SKPD/Rancangan APBD. (PP No. 23/2005 pasal 11
ayat 1)

RBA yang telah disetujui oleh menteri/


pimpinan lembaga/kepala SKPD diajukan
kepada Menteri Keuangan/PPKD.
(PP No. 23/2005 pasal 11 ayat 3)

22
PENGELOLAAN KEUANGAN BLU

RBA definitif digunakan sebagai acuan


dalam menyusun dokumen pelaksanaan
anggaran BLU untuk diajukan kepada
Menteri Keuangan/PPKD.
(PP No. 23/2005 pasal 12 ayat 1)

Dokumen pelaksanaan anggaran BLU


mencakup seluruh pendapatan dan
belanja, proyeksi arus kas, serta jumlah dan
kualitas jasa dan/atau barang yang akan
dihasilkan.
(PP No. 23/2005 pasal 12 ayat 2)

23
PENGELOLAAN KEUANGAN BLU

Dokumen pelaksanaan anggaran yang


telah disahkan oleh Menteri Keuangan/
PPKD menjadi dasar bagi penarikan dana
yang bersumber dari APBN/APBD.
(PP No. 23/2005 pasal 12 ayat 6)

BLU berhak menarik dana secara berkala


sebesar selisih (mismatch) antara jumlah kas
yang tersedia ditambah dengan aliran kas
masuk yang diharapkan dengan jumlah
pengeluaran yang diproyeksikan, dengan
menerbitkan Surat Perintah Membayar
(SPM). (Penjelasan PP No. 23/2005 pasal 12 ayat 6)

24
AKUNTANSI BLU
Akuntansi dan laporan keuangan BLU
diselenggarakan sesuai Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) yang diterbitkan oleh
asosiasi profesi akuntansi Indonesia.
(PP No. 23/2005 pasal 26 ayat 2)
Catatan:
Saat ini memakai PSAK No. 45 tentang Pelaporan
Keuangan untuk Organisasi Nirlaba

Penggabungan laporan keuangan BLU


pada instansi induknya dilakukan sesuai
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
(PP No. 23/2005 pasal 27 ayat 7)

25
AKUNTANSI BLU

Laporan keuangan BLU meliputi :


Laporan Realisasi Anggaran
Neraca
Laporan Arus Kas
Catatan atas Laporan Keuangan disertai laporan
mengenai kinerja
(PP No. 23/2005 pasal 27 ayat 1)

26
AKUNTANSI BLU

Perbedaan mendasar antara SAK dan


SAP terletak pada basis akuntansi yang
digunakan :
Basis akuntansi SAK accrual
Basis akuntansi SAP cash toward accrual

27
AKUNTANSI BLU

Agar laporan keuangan BLU dapat


digabungkan pada laporan instansi
induknya, maka perlu dibuat 2 Laporan
Realisasi Keuangan :
Satu laporan menggunakan basis akrual
Satu laporan lagi menggunakan basis kas

28
PEJABAT PENGELOLA BLU

Pejabat pengelola BLU terdiri atas :


a. Pimpinan;
b. Pejabat Keuangan;
c. Pejabat teknis.
(PP No. 23/2005 pasal 32 ayat 1)

Pejabat pengelola BLU dan pegawai BLU dapat


terdiri dari pegawai negeri sipil dan/atau tenaga
profesional non-pegawai negeri sipil. (PP No.
23/2005 pasal 33 ayat 1)

29
PEJABAT PENGELOLA BLU

Pejabat pengelola, dewan pengawas, dan


pegawai BLU dapat diberikan remunerasi
berdasarkan tingkat tanggung jawab dan
tuntutan profesionalisme yang diperlukan. (PP No.
23/2005 pasal 36 ayat 1)

Remunerasi yang dimaksud adalah imbalan


kerja yang dapat berupa gaji, tunjangan tetap,
honorarium, insentif, bonus, atas prestasi,
pesangon, dan/atau pensiun. (Penjelasan PP No.
23/2005 pasal 36 ayat 1)

30
TERIMA KASIH

31