Anda di halaman 1dari 33

Abortus

Dr. Hilwah Nora, M.Med.Sci., SpOG


Definisi
B
Etiologi
Etiologi
Faktor Maternal
Penyakit Ibu
Kelainan Traktus Genetalia
Antagonis rhesus
Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus
berkontraksi
Gangguan sirkulasi plasenta
Usia ibu
Etiologi
Faktor Janin
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat
menyebabkan kematian janin atau cacat: kelainan
kromosom, terutama trisomi autosom dan
monosomi X
Kelainan pada plasenta misalnya endarteritis dapat
terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan
oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga
menyebabkan gangguan pertumbuhan dan
kematian janin.
Etiologi
Faktor Paternal
Sperma yang mengalami translokasi
kromosom apabila berhasil menembus zona
pellusida dari ovum akan menghasilkan zigot
yang memiliki material kromosom yang tidak
normal sehingga dapat menyebabkan
keguguran
Etiologi
Faktor eksternal
radiasi, obat-obatan dan bahan kimia
Penyebab lain yang tidak diketahui
Setengah dari kasus abortus disebabkan oleh
abnormalitas janin dengan jumlah sisanya
sebagian diakibatkan oleh sebab- sebab yang tidak
diketahui dan oleh berbagai penyebab lain
Patogenesis
Patogenesis
<8mgg
Klasifikasi Abortus
Kriminalis
Medisinalis
Provokatus
Spontan
Missed
Abortusabortion
imminen
komplit
inkomplit
servikalis
habitualis
insipiens
Abortus Imminens
Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya
perdarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi
masih dalam uterus
Servik tertutup (tanpa dilatasi serviks) ,
perdarahan minimal dan dapat atau tanpa
disertai rasa nyeri
Abortus insipiens
peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi
serviks uteri yang meningkat tetapi hasil
konsepsi masih dalam uterus.
Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering
dan perdarahan bertambah.
Abortus Inkompletus
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal
dalam uterus, serviks terbuka.
Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan
di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan
yang merupakan tanda utama abortus inkompletus.
Pada abortus yang lebih lanjut, perdarahan kadang-
kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan
hipovolemia berat.
Abortus kompletus
Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit,
ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah
banyak mengecil.
Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil
konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan
bahwa semuanya sudah keluar dengan
lengkap.
Abortus servikalis
keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh
ostium uteri eksternum yang tidak membuka,
sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis
dan serviks uteri menjadi besar, kurang lebih bundar,
dengan dinding menipis.
Pada pemeriksaan ditemukan serviks membesar dan
di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan.
Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar
dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari
kanalis servikalis.
Missed abortion
Kematian janin berusia sebelum 20 minggu,
tetapi janin yang telah mati itu tidak
dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi
diduga pengaruh hormone progesterone.
Pemakaian Hormone progesterone pada
abortus imminens mungkin juga dapat
menyebabkan missed abortion.
Abortus habitualis
Abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih
berturut turut. Pada umumnya penderita tidak
sukar menjadi hamil, tetapi kehamilannya
berakhir sebelum 28 minggu
Abortus infeksius, Abortus septik
Infeksius : infeksi pada alat genitalia abortus
septik : penyebaran kuman / toksin ke sirkulasi
darah / peritonium abortus septik sepsis
syok
Tanda tanda infeksi genitalia
Demam takikardi
Uterus >, lunak, nyeri tekan
Perdarahan pervaginam, bau
Leukositosis
Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala umum dari abortus
Terlambat haid atau amenorea kurang dari 22
minggu
Perdarahan melalui ostium uteri eksternum
Uterus membesar
Test Kehamilan positif
Diagnosis Banding
Kehamilan ektopik
Perdarahan servik akibat epitel servik yang
mengalami eversi atau erosi
Polip endoservik
Mola hidatidosa
Karsinoma servik uteri
Pedunculated submucous myoma
Komplikasi
Perdarahan
Perforasi
Infeksi
Syok
Gagal ginjal akut
Penatalaksanaan Umum
Lakukan penilaian awal untuk segera menentukan
kondisi pasien (gawat darurat, komplikasi berat atau
masih cukup stabil).
Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisasi
pasien sebelum melakukan tindakan lanjutan (evaluasi
medik atau merujuk)
Penilaian medik untuk menentukan tindakan di fasilitas
kesehatan setempat atau dirujuk ke rumah sakit.
Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat
perdarahan hebat, segera atasi komplikasi tersebut.
Penatalaksanaan umum
Gunakan jarum infus besar (ukuran16 G atau lebih besar) dan
berikan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan
garam fisiologis atau Ringer Laktat.
Periksa kadar Hb, golongan darah dan uji padanan-silang
(crossmatch)
Ingat : kemungkinan kehamilan ektopik pada pasien hamil
mudah dengan syok berat.
Bila terdapat tanda-tanda sepsis, berikan antibiotika yang sesuai.
Temukan dan hentikan dengan segera sumber perdarahan
Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan
perkembangan lanjutan.
Penatalaksanaan Abortus imminens
Tirah baring merupakan unsur penting dalam
pengobatan karena cara ini menyebabkan bertambahnya
aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang
mekanis
Abstinensia sering kali dianjurkan dalam penanganan
abortus imminens, karena pada saat berhubungan
seksual, oksitoksin disekresi oleh stimulasi puting atau
akibat stimulasi klitoris, selain itu prostaglandin E dalam
semen dapat mempercepat pematangan serviks dan
meningkatkan kolonisasi mikroorganisme di vagina
Penatalaksanaan Abortus imminens
Pemberian Progestogen
Progestogen merupakan substansi yang memiliki aktivitas
progestasional atau memiliki efek progesteron, diresepkan pada 13-
40% wanita dengan abortus imminens. Progesteron merupakan
produk utama korpus luteum dan berperan penting pada persiapan
uterus untuk implantasi, mempertahankan serta memelihara
kehamilan. Sekresi progesteron yang tidak adekuat pada awal
kehamilan diduga sebagai salah satu penyebab keguguran sehingga
suplementasi progesteron sebagai terapi abortus imminens diduga
dapat mencegah keguguran, karena fungsinya yang diharapkan dapat
menyokong defisiensi korpus luteum gravidarum dan membuat
uterus relaksasi.
Prognosis baik bila perdarahan berhenti dan keluhan nyeri hilang.
Penatalaksanaan Abortus insipien dan
inkompletus
Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan
kehamilan kurang dari 16 minggu, evakuasi
dapat dilakukan secara digital atau dengan
cunam ovum untuk mengeluarkan hasil
konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika
perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg
I.M. atau misoprostol 400 mcg per oral.
Penatalaksanaan Abortus insipien dan
inkompletus
Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan
usia kehamilan kurang dari 16 minggu, evaluasi sisa
hasil konsepsi dengan :
Aspirasi Vakum Manual (AVM) merupakan metode
evakuasi yang terpilih. Evaluasi dengan kuretase tajam
sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual
tidak tersedia
Jika evaluasi belum dapat dilakukan segera, beri
ergometrin 0,2 mg I.M. (diulangi setelah 15 menit jika
perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang
setelah 4 jam jika perlu).
Penatalaksanaan Abortus insipien dan
inkompletus
Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:
Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan I.V. (garam
fisiologik atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes/ menit
sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi.
Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam
sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg).
Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus dengan
kuretase. Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi alat
kuretase (sendok kerokan). Sebelum melakukan kuretase, penolong
harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak
uterus, keadaan serviks dan besarnya uterus.
Prognosis baik bila hasil konsepsi dapat dikeluarkan secara lengkap
Penatalaksanaan abortus komplitus dan
septik
Abortus kompletus
Observasi perdarahan.
Tidak perlu terapi khusus

Abortus septik
kuretase harus dilakukan paling lama 24 jam setelah
pemberian antibiotika spektrum luas dan
kortiskosteroid.
Kalau tetanus : injeksi ATS, Irigasi H2O2, Histerektomi
Prognosis
Mayoritas pada penderita yang mengalami
abortus mempunyai prognosa yang
tergantung pada cepat atau tidaknya kita
mendiagnosa dan mencari etiologinya.
Terimakasih