Anda di halaman 1dari 46

Tonsilofaringitis

Akut

Frischa Wibowo

112015201
Status Pasien
Identitas Pasien

Nama lengkap : Tn. C


Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 31 tahun
Agama : Katolik
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Pendidikan : S1
Alamat : Karawang
Status : Menikah
Anamnesis

Diambil dari : Autoanamnesis


Tanggal : 26 Mei 2016
Pukul : 16.30 WIB
Keluhan Utama Keluhan Tambahan RPS
Riwayat Penyakit Riwayat Penyakit
Dahulu Keluarga

Riwayat
Riwayat Alergi
Pengobatan
Status Generalis

Keadaan umum : tampak sakit ringan


Kesadaran : kompos mentis
Tekanan darah : 110/70
Suhu : 37, 7oC
HR : 90x/menit
RR : 20x/menit
Pemeriksaan Telinga

Kanan Kiri
Aurikuler Normal Normal

Preaurikuler Normal Normal

Retroaurikuler Normal Normal

Canalis Acusticus Normal Normal


Eksternus
Membran Timpani Normal Normal
Pemeriksaan Tes Pendengaran

Tes Berbisik : tidak dilakukan

Tes Penala
Tes Rinne : tidak dilakukan
Tes Weber : tidak dilakukan
Tes Schwabach : tidak dilakukan
Pemeriksaan Hidung

Kanan Kiri
Hidung Luar Normal Normal
Rhinoskopi Anterior Normal Normal
Rhinoskopi Posterior Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Pemeriksaan Transluminasi
Tidak dilakukan.
Pemeriksaan Rongga Mulut

Oral Hygiene : baik, terawat

Mukosa bucogingiva : tidak hiperemis, ulkus (-)

Gigi
Karang gigi : (-)
Karies gigi : (-)
Fraktur : (-)

Palatum : tidak hiperemis, edema (-)


Pemeriksaan Tenggorokan

Tonsil Kanan Kiri


Ukuran T2 T3
Hiperemis + +
Kripta + +
Detritus + +
Lidah

Bentuk : normal
Warna : tidak hiperemis
Gerakan : normal
Parese : tidak ada
Massa : tidak ada

Orofaring

Dinding faring posterior : hiperemis


Granula : tidak ada
Post nasal drip : tidak ada

Uvula : tidak memanjang, deviasi ke kiri


Arcus Faring : simetris
Refleks Muntah : (+)
Laringoskop Indirek : tidak dilakukan
Pemeriksaan Maksilofasial
Tidak ada kelainan

Pemeriksaan Leher
KGB : -/-
Oedema : -/-
Hematom : -/-
Luka : -/-
Massa : -/-
Resume

Seorang laki-laki berusia 31 tahun datang ke poliklinik THT RS Bayukarta dengan


keluhan nyeri tenggorokan sejak 1 minggu sebelumnya. Keluhan disertai dengan
rasa mengganjal dan nyeri saat menelan, serta demam ringan. Pasien memiliki
kebiasaan makan goreng-gorengan dan makan makanan siap saji. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan suhu tubuh 37.7 derajat celcius, lalu pada
pemeriksaan tenggorokan didapatkan pembesaran tonsil kiri dan kanan dengan
ukuran T2-T3, disertai kripta yang melebar dan terdapat detritus. Didapatkan pula
faring yang hiperemis, dan uvula yang deviasi ke arah kiri. Pada hidung dan telinga
tidak ditemukan adanya kelainan.
Diagnosis

Working Diagnosis
Tonsilofaringitis Akut
Pemeriksaan Penunjang

Darah rutin
Swab tenggorok
Penatalaksanaan

Amoxicilin + Asam Klavulanat


Paracetamol
Metil Prednisolon
Betadine kumur (kumur-kumur selama 30 detik, ulangi tiap 2-4 jam.)
Prognosis

Quo ad vitam : ad Bonam


Quo ad functionam : ad Bonam
Quo ad sanationam : ad Bonam
Saran & Usulan

Hindari mengkonsumsi makanan goreng-gorengan


Obat dipakai secara teratur sesuai aturan
7 hari kontrol kembali
Apabila keluhan terus berulang, pasien disarankan untuk
melakukan tindakan tonsilektomi
Tonsilofaringitis Akut
Anatomi Faring
Anatomi Tonsil
Tonsilitis
Tonsilitis

Peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer.


Etiologi

Streptokokus beta hemolitikus group A, misalnya: Pneumococcus,


Staphylococcus, Haemalphilus influenza, Strerptoccoccus nonhemoliticus atau
Streptoccus viridans
Patofisiologi

Kuman menginfiltrasi lapisan epitel bila epitel terkikis maka jaringan limfoid
superficial mengadakan reaksi.
Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit poli morfonuklear.
Proses ini secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak kuning yang
disebut detritus.
Klasifikasi

Tonsilitis Viral
Tonsilitis Akut
Tonsilitis Bakterial

Tonsilitis Tonsilitis Difteri


Tonsilitis Membranosa
Tonsilitis Septik

Angina Plout Vincent


Tonsilitis Kronik
Tonsilitis Akut

Tonsilitis Viral
Common cold & nyeri tenggorok. Et/ (tersering) virus Epstein Barr.
Tonsilitis Bakterial
Et/ kuman grup A Streptococcus beta hemoliticus (strept throat) ,pneumococcus,
streptococcus viridian dan streptococcus piogenes.
Tonsilitis Membranosa

Tonsilitis Difteri Tonsilitis Septik


Et/ Streptococcus hemoliticus yang
terdapat dalam susu sapi sehingga
menimbulkan epidemi.

Angina Plout Vincent


Et/ bakteri spirochaeta atau triponema
dan defisiensi vitamin C.

Gejala:
Demam (39 C),
Nyeri kepala
Badan lemah
Gangguan pecernaan
Tonsilitis Kronik

Faktor predisposisi:
Rangsangan yang menahun dari rokok
Higiene mulut yang buruk
Pengaruh cuaca
Kelemahan fisik
Pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat
Gejala Klinis

Nyeri Tenggorokan Nyeri telinga


tenggorokan kering

Tidak nafsu Sakit kepala Pernapasan


makan bau

Demam Mudah lelah


Diagnosis

Anamnesis Pemeriksaan Fisik

Kaji adanya riwayat penyakit Inspeksi


sebelumnya (tonsilitis)? Tonsil membesar dan
Apakah pengobatan adekuat? berwarna kemerahan. Kripta
Kapan gejala itu muncul? melebar, detritus (+)
Bagaimana pola makannya?
Apakah rutin atau rajin Palpasi
membersihkan mulut? Terdapat nyeri tekan,
pembesaran kelenjar limfoid.
Tatalaksana

Tonsilitis Akut Tonsilitis Kronik

Antibiotik golongan penisilin/ Terapi lokal untuk hygiene mulut


sulfanamid selama 5 hari, bila alergi dengan obat kumur / hisap
dengan diberikan eritromisin. Terapi radikal dengan tonsilektomi
Kortikosteroid untuk mengurangi bila terapi medikamentosa atau
edema pada laring. terapi konservatif tidak berhasil.
Pasien diisolasi karena menular,
tirah baring.
Pemberian antipiretik.
Obat simptomatik
Tonsilektomi

Serangan tonsilitis lebih dari tiga kali pertahun.


Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan
orofasial.
Sumbatan jalan napas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan napas, sleep
apnea, gangguan menelan, gangguan berbicara dan corpulmonale.
Rinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak berhasil hilang
dengan pengobatan.
Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan.
Tonsilitis berulang yang disebabkan oleh bekteri grup A streptococcus beta hemoliticus.
Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan.
Otitis media efusa/ otitis media supuratif.
Komplikasi

Abses peritonsil
Otitis media akut
Mastoiditis akut
Laringitis
Sinusitis
Rhinitis
Faringitis
Faringitis

Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus
(40-60%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain.

Faktor Resiko

- Cuaca dingin & musim flu


- Kontak dengan pasien penderita
faringitis
- Merokok, atau terpajan oleh asap
rokok
- Infeksi sinus yang berulang
- Alergi
Etiologi
Epidemiologi

Anak-anak > Dewasa

Usia 4-7 tahun


Patofisiologi

Droplet bakteri akan bermultiplikasi dan mensekresikan toksin kerusakan


pada sel hidup dan inflamasi pada orofaring dan tonsil.
Kerusakan jaringan ini ditandai dengan adanya tampakan kemerahan pada
faring. (inkubasi 24 72 jam)
Beberapa strain dari S. Pyogenes menghasilkan eksotoksin eritrogenik yang
menyebabkan bercak kemerahan pada kulit pada leher, dada, dan lengan.
Bercak tersebut terjadi sebagai akibat dari kumpulan darah pada pembuluh
darah yang rusak akibat pengaruh toksin
Faringitis Akut

Faringitis Viral Faringitis Bakterial Faringitis Fungal


Demam disertai rinorea, Nyeri kepala hebat, Nyeri tenggorok & nyeri
mual, nyeri tenggorokan, muntah, demam (suhu menelan. Plak putih di
sulit menelan. tinggi). Tonsil & faring orofaring (+), mukosa
hiperemis, ptechiae (+). faring lainnya hiperemis
Faringitis Kronik

Faringitis Kronik Hiperplastik Faringitis Kronik Atrofi

Hiperplasi kelenjar limfa di bawah Sering timbul bersamaan dengan rhinitis


mukosa faring dan lateral band. atrofi.

Gejala: pasien sering mengeluh mula- Gejala: pasien sering mengeluh


mula tenggorok kering gatal dan tenggorok kering dan tebal serta mulut
akhirnya batuk yang bereak. berbau.

Mukosa dinding posterior tidak rata, Mukosa faring ditutupi oleh lendir yang
bergranular. kental dan bila diangkat tampak mukosa
kering
Faringitis Spesifik

Faringitis Luetika

Faringitis Tuberculosis
Komplikasi

Sinusitis
Otitis media
Epiglotitis
Mastoiditis
Pneumonia
Abses peritonsilar & abses retrofaringeal.
Kesimpulan