Anda di halaman 1dari 37

Defenisi Jaringan: suatu konsep

matematis yang dapat digunakan


untuk menerangkan secara kuan-
titatif suatu sistem yang mem-
JALAN punyai karakteristik ruang
REL
UDARA Transportasi Adalah: suatu kegiatan untuk memindah-
kan orang dan atau barang dari suatu tempat ke tempat
lain dan termasuk di dalamnya sarana dan prasarana
AIR yang digunakan untuk memindahkannya

Transportasi
Manusia sebagai pihak yang membutuhkan
1
Barang yang dibutuhkan
2
Kendaraan sebagai alat angkut (transportasi)
3
Lintasan sebagai prasarana angkutan yang dapat berupa Jalan raya,
4 rel, alur pelayaran di sungai dan laut serta bandar udara.

5 Organisasi atau pengelola angkutan.

Jaringan Transportasi
Jaringan transportasi terdiri dari simpul (node) dan ruas-ruas (link)

Simpul-simpul tersebut mewakili suatu titik tertentu pada ruang dan Ruas
adalah garis-garis yang menghubungkan titik-titik
Pada kondisi tertentu untuk tujuan analisa maka, terkadang ruas-ruas tersebut
arahnya perlu ditunjukkan dalam bentuk busur berarah

Terdapat cara lain dalam menunjukkan suatu jaringan transportasi yaitu cara
Matriks hubungan dan cara matriks simpul-ruas atau simpul busur
Contoh Jaringan dalam bentuk grafis: Simpul (node) dapat mencer-
minkan persimpangan, kota
dan fasilitas-fasilitas tetap
1
2
lainnya seperti terminal kereta
(stasion), pelabuhan dan
6 3 bandar udara
Ruas (link) mencerminkan ruas
Busur (satu jalan antar persimpangan atau
arah) Ruas (dua ruas jalan antar kota, jalan rel
arah) antar kota maupun antar stasiun,
alur penerbangan antara bandara
5 4
yang satu dengan bandara
lainnya serta pelabuhan laut yang
satu dengan pelabuhan laut
lainnya.
Untuk mengefesienkan pergerakan yang terjadi di dalam jaringan transportasi
maka, sistem jaringan perlu didesain secara terhirarki sesuai dengan besarnya
arus lalu-lintas yang melalui jaringan tersebut
JARINGAN
JARINGAN RADIAL
GRID

JARINGAN
MODIFIKASI
RADIAL
Konsep Fungsi Klasifikasi Jalan Hirarki Pergerakan dan Komponennya
Ada enam (6) pergerakan dalam hubungannya dengan konsep fungsi klasifikasi jalan
yaitu, pergerakan utama, transisi, distribusi, koleksi dan pergerakan akses ke
terminal:

Rumah/ terminal/ kantor Hubungan Fungsi Klasifikasi Jalan


Desa Desa
Jalan
lokal
Jalan
Akses
Jalan bebas
hambatan Kecamatan
Jalan
kolektor

Ibukota Ibukota
Propinsi Propinsi
Jalan
Arteri

Ibukota
Gambar Hirarki pergerakan kendaraan di jalan Kabupaten

Gambar Garis Perjalanan (Desire lines)


Jalan lokal

Desa Desa

Jalan
kolektor
Kecamatan
Ibukota Propinsi Ibukota Propinsi
Jalan
kolektor

Jalan arteri Jalan arteri

Ibukota Kabupaten

Gambar Jaringan Jalan Arteri, Kolektor dan Lokal

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam konsep dasar hirarki
sistem jaringan jalan antara lain adalah: jarak antar simpang, penentuan
jaringan yang baik dan efesien
Intermediate Roads traffic &
Clearly serve traffic Theoritical balance between traffic Clearly serve
movement and land service adjacent Land
100 % 100 %
Service only a
Network function Access only for
Land service

% traffic % Land
Function Land service Function
T L
Traffic Function Function

No network
function No Access
Arterials Kollektor Local Street

Road Type

Gambar Klasifikasi jalan sesuai fungsinya sebagai Media


arus lalu lintas dan pelayanan daerah.

Dengan demikian setidaknya terdapat dua pertimbangan dasar dalam


menentukan fungsi klasifikasi jalan dan jaringan jalan yaitu, aksesibilitas
dan mobilitas
Gambar Sistem Klasifikasi peran fungsional Jalan menurut pergerakan dan Akses
Karakteristik Pergerakan di Setiap Kelas Jalan
Klasifikasi jaringan jalan Ped. Trips Local traffic District Long distance and through
juga sangat ditentukan And access distribution Traffic
distribution
traffic
distribution
oleh karakteristik per-
1,0
gerakan (lalu lintas) yg
menggunakan jaringan
Proportion of
jalan tersebut. Perjala- Trips (Tij) PED. Streets
And
with journey
nan jarak jauh yang sifat Distance, (d) Access Roads

pergerakannya memer- Local


0,5 distribution
lukan kecepatan yang
tinggi perlu dipisahkan
dengan perjalanan lokal District
Distribution
jarak pendek yang tipi-
Primary
kal penggunannya akan Distribution
(A) (L) (D) (P)
memerlukan kemudahan
dan keselamatan dalam 0 dA dL dD
Journey distance,
d
aksesnya ke lingkungan
sekitar
Gambar Karakteristik Pergerakan Pada Masing-
masing Kelas Jalan
Sistem Jaringan Jalan yang Ada di Indonesia
Jalan dan Peranannya
Jalan adalah suatu prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun, meliputi
segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukkan bagi lalu-lintas (UU No.34/2006)

Ruang Pengawasan Jalan


Ruang Milik Jalan
Batas Batis
Ruang Manfaat Jalan pinggir
pinggir Bahu
Bahu
Jalan Jalan

Jalur Lalu-lintas Halaman


Jalur Jalur rumah
pejalan pejalan
Gambar Bagian-bagian (unsur) Jalan
Bagian-bagian jalan adalah:
Ruang manfaat jalan (RUMAJA). Meliputi badan jalan, saluran tepi jalan,dan ambang pengamannya serta
bangunan utilitas.
Ruang Milik Jalan (RUMIJA). Meliputi Daerah Manfaat Jalan dan sejalur tanah tertentu di luar Daerah
Manfaat Jalan
Ruang Pengawasan Jalan (RUWASJA). Merupakan sejalur tanah tertentu di luar Daerah Milik Jalan yang
ada dibawah pengawasan pembina jalan
Sistem Jaringan Jalan
Sistem Jaringan Jalan Primer meliputi:
Jalan Arteri Primer, yaitu ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu dengan
kota jenjang kesatu yang berdampingan atau ruas jalan yang menghubungkan kota
jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua yang berada di bawah pengaruhnya.
Jalan Kolektor Primer, yaitu ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang kedua dengan
kota jenjang kedua lainnya atau ruas yang menghubungkan kota jenjang kedua dengan
kota jenjang ketiga yang ada di bawah pengaruhnya.
Jalan Lokal Primer, yaitu ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang ketiga dengan
kota jenjang ketiga lainnya, kota jenjang kesatu dengan persil, kota jenjang kedua
dengan persil serta ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang ketiga dengan kota
jenjang yang ada di bawah pengaruhnya sampai persil.

Sistem Jaringan Jalan Sekunder meliputi:


Jalan Arteri Sekunder, yaitu ruas jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan
kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan
kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan
kawasan sekunder kedua.
Jalan Kolektor Sekunder, yaitu ruas jalan menghubungkan kawasan-kawasan sekunder
kedua, yang satu dengan lainnya, atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu
dengan kawasan sekunder ketiga.
Jalan Lokal Sekunder, yaitu ruas jalan yang menghubungkan kawasan-kawasan
sekunder kesatu dengan perumahan, kawasan sekunder kedua dengan perumahan, atau
menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga dan
seterusnya sampai ke perumahan
Jalan Arteri F1
Kota Primer Kawasa
Kota n
Jenjang
Jenjang Primer
I
I

Jalan Arteri Jalan Arteri Jalan Arteri/ Jalan Arteri


Primer Primer Sekunder

Jalan Kolektor Jalan Arteri


F12 Sekunder F21
Kota Primer Kota
Kawasa Kawasa
Jenjang Jenjang
n n
II II
Sekund Sekunde
er rI

Jalan Kolektor Primer Jalan Arteri Sekunder


Jalan Kolektor Jalan Sekunder
Primer

Jalan Lokal Primer Jalan Kolektor


Jalan Lokal Primer Kota Sekunder F22
Kota F22
Jenjang Jenjang Kawasan Kawasan
III III Sekunde Sekunde
r II r II
Jalan Lokal Primer Jalan Lokal
Sekunder
Jalan Lokal Primer Jalan Kolektor
Sekunder

Kota di F23
Jalan Jenjang II Jalan Kawasan
Lokal Lokal Sekunder
Primer Sekunder III

Jalan Lokal Primer Jalan Lokal


Sekunder

PERSIL
Perumah
an

Gambar Sistem Jaringan Jalan Primer Gambar Sistem Jaringan Jalan Sekunder
Klasifikasi Jalan Berdasarkan Status/Wewenang Pembinaan
Jalan dapat dikelompokkan berdasarkan status pembinaannya yaitu:
Jalan Nasional, Jalan Nasional dibawah pembinaan Pemerintah Pusat (Menteri
Pemukiman dan Prasarana Wilayah atau Pejabat yang ditunjuk)

Jalan Propinsi, Jalan Propinsi dibawah pembinaan Pemda Tingkat I atau Instansi
yang ditunjuk
JalanKabupaten/Kotamadya/Kota, Jalan Kabupaten/Kotamadya (Kota) dibawah
pembinaan Pemda Tingkat II/ Kota atau Instansi yang ditunjuk
Jalan Desa, Jalan Desa dibawah pembinaan Pemerintah Desa/Kelurahan
Jalan Khusus, Jalan Khusus dibawah pembinaan Pejabat atau orang yang ditunjuk
Jalan Arteri primer
Ruas Jalan yang termasuk Jalan kolektor primer yang menghubungkan
ke dalam klasifikasi jalan ibukota propinsi
nasional adalah: Jalan lainnya yang mempunyai nilai
strategis terhadap kepentingan nasional

Jalan kolektor primer yang menghubungkan


ibukota propinsi dengan ibukota
kabupaten/kotamadya (kota).
Yang termasuk dalam Jalan kolektor primer yang menghubungkan
klasifikasi Jalan Propinsi ibukota kabupaten/kota dengan ibukota
kabupaten/kota lainnya.
Jalan lainnya yang mempunyai nilai strategis
ditinjau dari segi kepentingan propinsi.
Jalan yang ada di dalam Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, kecuali yang ditetapkan sebagai jalan
nasional.

Jalan kolektor primer yang tidak termasuk ke


dalam baik jalan nasional maupun jalan
propinsi.
Jalan Kabupaten/
Jalan lokal primer
Kotamadya/Kota
Jalan sekunder yang tidak masuk ke dalam baik
jalan nasional maupun jalan propinsi.
Jalan lainnya yang mempunyai nilai strategis
ditinjau dari segi kepentingan kabupaten atau
kotamadya/kota.
II.4. Jaringan Jalan Rel

Angkutan jalan rel merupakan salah satu moda angkutan darat yang cukup
efesien, karena kapasitas angkut (per kereta) yang cukup besar dan
pergerakannya yang tidak terganggu oleh arus lalu-lintas kendaraan di
jalan raya

Ada dua tipe dasar angkutan jalan rel, yaitu:


Sistem angkutan jalan rel perkotaan dan
Sistem angkutan jalan rel antar kota.

II.4.1 Tipe pelayanan angkutan jalan rel

Pelayanan angkutan jalan rel ini diberikan kepada angkutan


orang dan angkutan barang.
Untuk angkutan penumpang jalan rel ini dalam menentukan rute suatu
pelayanan didasarkan kepada beberapa kriteria antara lain:

Ukuran pasar diukur dengan jumlah populasi dari kota-kota yang dilalui oleh
rute dan total lalu-lintas angkutan (apakah barang atau orang) antara dua kota
pada rute tersebut.
Karakeristik fisik, diukur dengan kilometer, kecepatan rata-rata yang
ditetapkan, waktu tempuh perjalanan, dan lalu-lintas barangnya.
Arus penumpang, diukur dengan penampang kilometer per tahun,
penumpang kilometer per kereta kilometer, dan jumlah kereta perminggu

Pelayanan angkutan kereta ini dapat dibagi menjadi angkutan kereta antar kota
dan angkutan kereta perkotaan

Angkutan kereta perkotaan dikenal berbagai macam sistem angkutan jalan


rel perkotaan, seperti Rapid Rail Transit (RRT), Light Rail Transit (LRT),
Personal Rail Transit (PRT), serta beberapa teknologi baru misalnya
monorail, dan aeromovel
Jalan rel ini dapat dibagi menjadi jalan umum dan jalan khusus

Yang dimaksud dengan jalan rel pribadi adalah jalan rel yang
digunakan dan dipunyai oleh badan tertentu seperti pabrik
gula, pertambangan dan jalan rel ini khusus melayani
keperluan angkutan di pabrik gula atau dipertambangan itu
sendiri. Sedang jalan rel umum adalah jalan rel yang
digunakan kereta untuk umum.

II.4.2 Tipe stasiun kereta


Stasiun kereta secara umum berfungsi untuk memberikan pelayanan dan
pertukaran gerbong

Stasiun kereta merupakan tempat bagi penumpang atau barang untuk bertukar
kereta atau moda.
II.4.3 Jaringan Jalan Rel

Jaringan jalan rel juga terdiri atas link (ruas) dan node atau simpul

Bila jaringan jalan rel merupakan jaringan rel dalam kota, maka stasiun
dilambangkan sebagai node dalam jaringan tersebut sedang ruas
melambangkan jaringan jalan relnya
Gambar II-15. Contoh Jaringan Jalan Rel dalam Kota (JCTA, 1998
II.4.4 Standar Jalan Rel
II.4.4.1 Kelas Jalan Rel

Dalam perencanaan jaringan jalan rel, penentuan klasifikasi jalan rel sangat
perlu diketahui karena berhubungan juga dengan komponen-komponennya
seperti balas, bantalan dan penambat rel serta berhubungan dengan besar
beban gandar, kecepatan maksimum dan daya angkut lintas

Kelas I Daya Angkut (ton/tahun) > 20 x 10^6

Kelas II, Daya angkut (ton/tahun)= 10. 10^6 20 . 10^6

Kelas III, Daya angkut (ton/tahun)= 5 . 10^6 10. 10^6

Kelas IV, Daya angkut (ton/tahun)= 2,5 . 10^6 5 . 10^6

Kelas V, Daya angkut (ton/tahun) < 2,5 . 10^6


II.4.4.2 Ruang Bebas dan Ruang Bangun pada Jalan Rel

Ruang bebas adalah: ruang di atas sepur yang senantiasa harus bebas dari segala
rintangan dan benda penghalang

Ruang bebas ini disediakan untuk lalu-lintas rangkaian kereta api/ lokomotif
dan gerbong.

Ruang bangun adalah ruang di sisi sepur yang senantiasa harus bebas dari segala
bangunan tetap seperti tiang semboyan, tiang listrik dan pagar

Batas ruang bangun diukur dari sumbu sepur pada tinggi 1 meter sampai
3,55 meter
Pada lintas bebas:
2,35 meter sampai 2,53 meter di kiri-
Jarak ruang bangun kanan sumbu sepur.
tersebut ditetapkan sebagai Pada emplasemen :
berikut: 1,95 meter sampai 2,35 meter di kiri-
kanan sumbu sepur.
Pada jembatan:
2,15 meter di kiri-kanan sumbu
sepur
Gambar II-18 Ruang bebas single track lurus Gambar II-19. Ruang bebas Double
track lurus

+620
0 B
a
1950 +504
Tinggi +590 t
Kawat 5 a
Tinggi 0+550 +620
Aliran s
Normal 2500 0 0
Kawat +500 B
0 +604
a 5
1300
+484 t
+470 5 aB
0 sa
B
1100 +432 I t
a
Tinggi 0 I a
+402 t +405
Kawat +405 I s
0 a 0
Aliran 0
s
I
+355
+355
0
0 4000

Peron
Tinggi Peron
Peron Tinggi Peron
195 Rendah Rendah
0 195 195 195
0 0 0

+100
130 160 0
+100
0 0
153 +750 130
130 0
0 0
130 +450 0
+200
1000 +200
+40 +0 100 100
0
0 0 +40
+0

+106
7
II.4.4.3 Penampang Melintang Jalan Rel
Penampang melintang jalan rel adalah potongan pada jalan rel dengan arah
tegak lurus sumbu jalan rel, dimana terlihat pembagian dan ukuran-ukuran
jalan rel dalam arah melintang

Gambar II-21. Penampang melintang jalan rel tunggal lurus

CL

a a

b b
Balas

Maks. 1 : 2
Sub-Balas d1

d2
1 : 1.5

c c

k1 k1

k2 k2
Gambar II-22. Penampang melintang Jalan Rel Tunggal di tikungan

b
b

1:2

c c

k1 k1

k2 k2
II.5 Jaringan Transportasi Udara
Transporasi udara umumnya dibagi ke dalam tiga golongan, yaitu angkutan
udara, penerbangan umum dan penerbangan militer

Penggolongan lain yang sering juga dilakukan adalah penerbangan swasta,


militer dan umum

Kategori penerbangan swasta dan umum selain penerbangan terjadwal yang


dilakukan perusahaan penerbangan (airlines) meliputi juga penerbangan
pribadi dan yang dilakukan oleh industri swasta dan komersial untuk
mengirimkan barang ataupun alat-alat produksi

Dalam Kategori penerbangan umum juga termasuk kegiatan


penerbangan yang sifatnya non-transport, misalnya untuk keperluan
inspeksi pertambangan, penelitian, pemadam kebakaran dan lain-lain
II.5.1 Pola Jaringan Lalu-lintas Udara
Jaringan transportasi udara secara umum merupakan kumpulan rute-rute
penerbangan umum yang merangkum beberapa rute pelayanan penerbangan
(berjadwal tetap)

Dalam transportasi udara dikenal tiga pola jaringan, yaitu :

Pola grid (kisi-kisi), yaitu pola jaringan yang berbentuk seperti sarang laba-
laba, yang mana dalam suatu wilayah (zona) terjadi interlink antara pusat
zona dengan subzona, dan antara subzona dengan zona atau subzona
lainnya.
Pola Hub and Spoke, yaitu pola jaringan yang berbentuk seperti cakar
ayam, yaitu dalam suatu zona terjadi interlink antara pusat zona dengan
sub-subzona yang menjadi wilayah pelayanan.
Pola line, yaitu pola jaringan yang terjadi interlink dari suatu pusat ke zona
yang lain (subzona) yang relatif menjauhinya.
Gambar II-23. Pola jaringan transportasi udara

Pola Hub and Spoke Pola Grid Pola Line

Dalam pemilihan pola jaringan transportasi udara perlu dipertimbangkan tiga


aspek, yaitu:
Aspek geografis suatu wilayah yang dilayani.
Aspek pembangunan nasional dan daerah.
Aspek keadaan jaringan transportasi udara yang telah ada saat ini.
Dalam jaringan transportasi udara node atau simpul biasa melambangkan suatu
kota dimana bandar udara tersebut berada

Link atau ruas melambangkan rute-rute penerbangan antar kota atau antar
Bandar udara

Jaringan lalu-lintas udara dapat berupa jaringan lalu-lintas dalam negeri


yang terdiri dari rute-rute penerbangan domestic yang dilayani oleh
perusahaan penerbangan dalam negeri serta jaringan lalu-lintas
penerbangan internasional yang terdiri dari rute-rute penerbangan antar
Negara yang dilayani oleh berbagai maskpai penerbangan
Contoh jaringan lalu-lintas penerbangan dapat dilihat pada Gambar II-24.
II.5.2 Tipe Bandar Udara
Bandar udara secara umum dapat digolongkan dalam beberapa tipe menurut
beberapa criteria yang disesuaikan dengan keperluan penggolongannya,
antara lain

Seaplane bases
Berdasarkan Stol ports ( take off/landing yang
karakteristik pendek)
fisiknya Bandara konvensional
Heliports
Bandar udara umum yang dikelola
pemerintah untuk penggunaan secara
Berdasarkan umum maupun militer.
pengelolaan dan
penggunaannya
Bandar udara swasta/pribadi yang
dikelola/digunakan untuk kepentingan
pribadi/perusahaan swasta tertentu.
Menurut jenis pesawat terbang
Berdasarkan yang beroperasi (enplanements)
aktivitas rutinnya Menurut karakteristik
operasinya (operations)

Berdasarkan fasilitas yang tersedia, Bandar udara dapat digolongkan menurut


jumlah runway, alat navigasi yang tersedia, kapasitas hangar dan lain
sebagainya.

Bandar udara internasional


(antar Negara)
Berdasarkan tipe Bandar udara domestic (
perjalanan yang dilayani dalam negeri)
Bandar udara gabungan
internasional/domestic
Di Indonesia klasifikasi Bandar udara sesuai Keputusan Menteri
Perhubungan No. 36 Tahun 1993 didasarkan pada beberapa criteria
berikut:

Komponen jasa angkutan udara


Komponen pelayanan keselamatan dan keamanan penerbangan.
Komponen daya tampung Bandar udara (landasan pacu dan tempat
parkir pesawat).
Komponen fasilitas keselamatan penerbangan (fasilitas elektronika
dan listrik yang menunjang operasi fasilitas keselamatan
penerbangan).
Komponen status dan fungsi Bandar udara dalam konteks
keterkaitannya dengan lingkungan sekitarnya.
II.5.3 Aktivitas Pada Bandar Udara

Gambar II-24 menyajikan beberapa kegiatan yang ada di dalam Bandar


udara baik untuk perjalanan penumpang maupun barang.
II.6 Jaringan Transportasi Air
Transportasi air merupakan termasuk bentuk transportasi yang tertua di dunia,
baik yang jalurnya di sungai, laut maupun di jalur buatan

II.6.1 Jaringan Lalu-lintas Angkutan Air


Representase jaringan transportasi air terdiri atas link (ruas) dan node
(simpul)
Ruas menandakan suatu rute /trayek pelayaran sedang node merupakan
pelabuhan dimana pelayaran dimulai dan kemana pelayaran akan dituju
atau sebaliknya
Dalam kegiatan lalu-lintas angkutan laut nasional, dikenal adanya beberapa
unsur pelayaran sebagai suatu subsistem pelayaran, yaitu:
Pelayaran Nusantara

Pelayaran Lokal
Pelayaran Rakyat
Pelayaran Perintis
Pelayaran Khusus
Pelayaran Samudra
II.6.2 Pelabuhan

Pelabuhan merupakan simpul (node) sistem perangkutan laut dengan


darat. Karena sifatnya sebagai tempat peralihan moda transportasi, maka
pelabuhan harus disambung dengan sistem perangkutan darat dan
dilengkapi dengan berbagai macam kemudahan, seperti jasa terminal dan
jasa kepelabuhanan lainnya

II.6.3 Klasifikasi Pelabuhan


Pelabuhan alam (Natural
harbour)
Klasifikasi Pelabuhan Pelabuhan buatan (Artificial
Menurut Teknis harbour)
Pelabuhan Semi Alam
(Seminatural harbour)
Pelabuhan niaga (Commercial harbour) dapat
dibagi atas:
Pelabuhan local
Pelabuhan Interinsuler
Pelabuhan Internasional
Pelabuhan industri ( Industrial harbour)
Pelabuhan ikan ( Fishery harbour)
Klasifikasi Pelabuhan
Pelabuhan militer (Military harbour)
Menurut Fungsi
Pelabuhan pariwisata (Tour harbour)
Operasionalnya
Pelabuhan Tenker (Tanker harbour/ tanker
terminal)
Pelabuhan minyak/tambang (Bunkering
harbour, Fuel harbour)
Pelabuhan karantina (Quarantine harbour)
Pelabuhan ferry ( Ferry harbour/terminal)
Pelabuhan berlindung (Refuge harbour)
Pelabuhan paket kiriman (package harbour)

Pelabuhan pantai (Coastal


harbour),Pelabuhan muara sungai (Estuary
Klasifikasi Pelabuhan harbour), Pelabuhan sungai/pedalaman
Menurut Geografisnya
(River harbour), Pelabuhan danau (Lake
harbour/ Lagoon harbour), Pelabuhan
terusan (Canal harbour), Pelabuhan luar
Pelabuhan yang diusahakan
Klasifikasi Pelabuhan Pelabuhan yang tidak
Menurut Pungutan Jasa diusahakan
Pelabuhan Otonom
Pelabuhan bebas

Gateway ports (Gw)


Klasifikasi Pelabuhan Menurut Collectors ports (Cp)
Hiararchy of Functionally ILS (Interisland Liner Service) ports
Feeder ports (Fp)

Gambar II-26. Klasifikasi Pelabuhan Berdasarkan Fungsi Hirarkinya


Gw

Cp Cp

ILS ILS ILS ILS

Fp Fp Fp Fp Fp Fp

Anda mungkin juga menyukai