Anda di halaman 1dari 15

KAPASITAS PENANGKAPAN

DI PERAIRAN SULAWESI
KELOMPOK 14
FADHILLAH ARDI 230110130203
KELANA PUTRA THAHIR 230110130213
EVA AMALIA DESTYANI 230110130221
MASALAH PERIKANAN

Masalah
Ketersedia
Indikator Kerusakan Perikanan
dalam
an (Stok)
Perikanan
ikan
Tangkap

Stok menurun

Disebabkan karena sulitnya


mengontrol input (armada
perikanan)
BAGAIMANA
SOLUSINYA?

Melalui Kajian Pengelolaan berbasis


Dengan Mengendalikan faktor- Kapasitas Penangkapan (Fishing
faktor input (unit penangkapan)
Capacity)
KAPASITAS PENANGKAPAN
Fishing capacity adalah kemampuan unit
(FISHING CAPACITY)kapal perikanan (dengan segala aspeknya) untuk

menangkap ikan . Hal ini bergantung pada stok

sumberdaya dan kemampuan alat tangkap


ikan itu sendiri (Wiyono 2005)
PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN SULAWESI
Dari data statistik tahun 2007 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produksi dan jumlah nelayan
untuk melakukan penangkapan jenis ikan ekonomis penting (Tangke 2010).
Namun perlu disadari bahwa peningkatan produksi tersebut selalu diikuti tekanan untuk melakukan
eksploitasi semakin intensif
Untuk mengetahui bagaimana tingkat eksploitasi/pemanfaatan sumber daya ikan di Perairan Sulawesi, kami
menganilisisnya dari dua jurnal sebagai kajian dari Kapasitas Penangkapan

Analisis Potensi
dan Tingkat Efisiensi
Pemanfaatan
Kapasitas Penangkapan
Sumberdaya Ikan Penangkapan Pukat Cincin di
Kuwe (Carangidae di Perairan Beberapa Daerah
sp) di Perairan Laut Penangkapan
Flores Provinsi sulawesi
Watampone
Sulawesi Selatan
ANALISIS POTENSI DAN PEMANFAATAN IKAN KUWE
(Carangidae sp.) DI PERAIRAN FLORES SULAWESI SELATAN

Data yang
dibutuhkan:
data primer dari tahun 1999
2007, meliputi data jumlah effort
per kabupaten, data produksi
tahunan (catch) menurut jenis alat
tangkap per kabupaten (ton), data
produksi menurut jenis ikan per alat
tangkap per tahun (untuk provinsi),
Produksi ikan kuwe di Perairan Laut Flores cenderung data produksi (catch) tahunan
mengalami kenaikan hingga tahun 2007 perjenis ikan per kabupaten.
Untuk mengetahui potensi dan pemanfaatannya di
data sekunder didapat melalui
perlukan nilai dari MSY (Maximum Suistainable Yield) dan
F-Opt (Effort/Upaya Optimum) internet dan imformasi terkait
mengenai sumberdaya perikanan
ANALISIS POTENSI DAN PEMANFAATAN IKAN KUWE
(Carangidae sp.) DI PERAIRAN FLORES SULAWESI SELATAN
(Lanjutan...)
Hasil:
Nilai MSY Data produksi dan Effort dari alat tangkap purse sein
berdasarkan
model
Diola Schaefer dan
Data h Fox
Nilai Effort
Optimum (F-
Opt)

Satua
No. Nilai Scheafer Fox
n

1 MSY 1261.980 1173.808 Ton


Diolah
302016.346 201140.37
2 FMSY/FOpt Trip menjadi
2 9
ANALISIS POTENSI DAN PEMANFAATAN IKAN KUWE
(Carangidae sp.) DI PERAIRAN FLORES SULAWESI SELATAN
(Lanjutan...)

Melebihi

Satua
No. Nilai Scheafer Fox
n

1 MSY 1261.980 1173.808 Ton


302016.346 201140.37
2 FMSY/FOpt Trip
2 9
Melebihi

Terjadi effort yang berlebih pada tahun 2003 sehingga mengakibatkan


pemanfaatan melebihi MSY. Effort yang berlebih juga menyebabkan
Analisis Hasil : produksi ikan menurun.
Dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2003, kapasitas penangkapan
ikan kuwe di Perairan Flores Sulawesi Selatan mengalami kelebihan
Perikanan tangkap
yang
berkelanjutan
Diperlukan
Efisiensi input
Perkembangan
penangkapan
dapat berupa
Terdapat penambahan
perkembangan tonase (GT),
jumlah upaya mesin kapal,
penangkapan daerah
pada armada dan penaangkapan,
perikanan pukat ataupun
cincin teknologinya

EFISIENSI PENANGKAPAN PUKAT CINCIN DI BEBERAPA DAERAH PENANGKAPAN WATAMPONE


EFISIENSI PENANGKAPAN PUKAT CINCIN DI
BEBERAPA DAERAH PENANGKAPAN WATAMPONE
(lanjutan...)

Data yang dibutuhkan Metode


Data catch dan effort serta aspek perikanan Menggunakan efisiensi DEA (Data Envelopment
lainnya. Analysis)
Nilai efisiensi dilakukan dengan pendekatan multi
Jenis data aspek armada penangkapan meliputi:
output (layang dan cakalang) dan single output (total
ukuran kapal, dimensi alat tangkap, kekuatan
tangkapan)
mesin kapal.
Nilai efisiensi penangkapan diperoleh berdasarkan
Jenis data terkait kegiatan operasi penangkapan
meliputi: trip kapal, taktik penangkapan dan tingkat pemanfaatan kapasitas (CU) penangkapan dan
hasil tangkapannya. tingkat pemanfaatan kapasitas variabel input (VIU).
Faktor inputan unit penangkapan ikan yang Analisis data:
dicari diantaranya: tonnage kapal (GT), dimensi Kapal yang dianggap efisien secara penuh (fully
kapal, dimensi alat tangkap, kekuatan mesin efficient) adalah kapal yang mempunyai skor efisiensi
(HP), jumlah ABK (orang), alat bantu, BBM sebesar 1 atau 100 persen, Pada kondisi tersebut,
(liter), jumlah trip per bulan, jumlah hari di laut. seluruh input dimanfaatkan penuh atau tidak terdapat
potensi peningkatan input yang digunakan.
Aspek output adalah produktivitas hasil Selanjutnya kapal-kapal yang mempunyai nilai
tangkapan. efisiensi di bawah 1 memerlukan perbaikan.
EFISIENSI PENANGKAPAN PUKAT CINCIN DI
BEBERAPA DAERAH PENANGKAPAN WATAMPONE
(lanjutan...)
Hasil dan Analisis Efisiensi dengan pendekatan
multi output
Solusi Solusi
Hasi dengan
efisiensi
dengan
efisiensi
mengurangi
effort (HOP)
Solusi
dengan
Meningkatka
kapasitas kapasitas meningkatk
l Rata-rata penangka
pan (CU) untuk
variabel
input (VIU)
sebesar 7%,
mengurangi
an output n produksi
nilai efisiensi BBM 13%, ikan layang
0.82 mencapai sebesar
pengurangan
produksi Es sebesar 25,4%
yang 18%,
Meningkatk
potensial, mengurangi an produksi
ukuran
dilakukan
panjang 16%
ikan
dengan dan lebar cakalang
mengurangi kapal 23% sebesar
kapasitas 28,5%
mengurangi
sebesar 18% ukuran
panjang dan
lebar jaring
sebesar 10%
dan 6%.
EFISIENSI PENANGKAPAN PUKAT CINCIN DI
BEBERAPA DAERAH PENANGKAPAN WATAMPONE
(lanjutan...)
Hasil dan Analisis Efisiensi dengan pendekatan single
output
Solusi dengan Solusi dengan
efisiensi efisiensi Solusi dengan
Hasil kapasitas
penangkapan
kapasitas variabel meningkatkan
input (VIU) output
nilai (CU) Di Laut Flores
mengurangi effort
efisiensi di mengurangi Di perairan
(HOP) sebesar 20%,
laut Flores kapasitas pada konsumsi BBM 10%, Flores dapat
rata-rata 0,85 daerah penangkapan ES 8% dan ABK 2% meningkatan
(Laut flores, Teluk output sebesar
Bone, perairan Di Teluk Bone 19,9%
efisiensi di Sulawesi pengurangan effort
perairan Teluk Tenggara) masing- (HOP) sebesar 9%,
Bone rata-rata BBM sebesar 7%, Es Di Teluk Bone
masing sebesar
24%, dan ABK 9% dapat
0,80 15%, 20% meningkatkan
dan19% output 27,6%
nilai Di Perairan
Sulawesi Tenggara
efisiensi di dapat mengurangi Di perairan
perairan effort (HOP) sebesar Sulawesi
Sulawesi 11%, BBM 8%, Es
13%, dan ABK 9% Teggara sebesar
Tenggara 0,81
EFISIENSI PENANGKAPAN PUKAT CINCIN DI
BEBERAPA DAERAH PENANGKAPAN WATAMPONE
(lanjutan...)
Pembahasan
Tingkat efisiensi pukat cincin di Watampone dengan pendekatan multi output
dan single output di daerah pengoperasian Laut Flores, Teluk Bone dan perairan Sulawesi
Tenggara sebagian besar telah memanfaatkan kapasitas penangkapan
secara optimal

Optimalisasi kapasitas penangkapan dapat dilakukan dengan perbaikan


terutama dengan cara mengurangi penggunaan input variabel yaitu BBM, ABK, es,
dan hari operasi.

Sementara itu, kombinasi peningkatan jumlah kapal, perbaikan dalam teknologi


penangkapan dan ekspansi upaya penangkapan menyebabkan terjadinya fenomena
kapasitas lebih, baik dalam jangka pendek (excess capacity) maupun jangka
panjang (over capacity).
KESIMPULA
Pada tahun 2003 terjadi overfishing khususnya pada N
penangkapan Ikan Kuwe di perairan laut Flores akibat effort
yang berlebih

Saat ini, kapasitas penangkapan di perairan

Sulawesi (Laut Flores, Teluk Bone, dan perairan Sulawesi


Tenggara) sebagian besar sudah optimal

Agar tidak terjadi lagi overcapacity atau overfihing


diperlukan perbaikan dalam optimalisasi kapasitas

penangkapan yaitu dengan cara mengurangi kapasitas


penangkapan dan juga mengurangi penggunaan
input variabel yaitu BBM, ABK, es, dan hari operasi
KASIH

TERIMA