Anda di halaman 1dari 11

IDI (Khitan)

Kelompok 3

1. DIAN EKAWATY HALIM


2. SRI WAHYUNI
3. SAJIDAH HARDIYANTI
4. ISRA
5. DAYAT SAMAD
Khitan
Pengertian Khitan

Khitan secara bahasa artinya memotong. Secara


terminologis artinya memotong kulit yang menutupi alat
kelamin lelaki (penis). Dalam bahasa Arab khitan juga
digunakan sebagai nama lain alat kelamin lelaki dan
perempuan seperti dalam hadist yang mengatakan "Apabila
terjadi pertemuan dua khitan, maka telah wajib mandi"
(H.R. Muslim, Tirmidzi dll.).
Pengertian Khitan dalam Agama

Dalam agama Islam, khitan merupakan salah satu


media pensucian diri dan bukti ketundukan kita
kepada ajaran agama. Dalam hadist Rasulullah
s.a.w. bersabda:"Kesucian (fitrah) itu ada lima:
khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu
ketiak, memendekkan kumis dan memotong
kuku" (H.R. Bukhari Muslim).
Faedah Khitan

Mencegah infeksi dan mengurangi resiko tertular dan menyebarkan


infeksi penyakit menular seperti HIV-AIDS.
Alat kelamin pria dilewati saluran urine/kencing dimana terdapat
kuman atau kotoran yang terbawa saat buang air kecil yang
terkumpul/menumpuk dibawah kulit pada kepala penis yang bisa
menyebabkan kuman tinggal dan berkembang disana.
Menurut penelitian pada orang yang tidak disunat lebih besar
resikonya timbuk infeksi yang berakibat pada terjangkitnya berbagai
penyakit diantaranya yang paling menghawatirkan adalah Kanker
Penis.
Selain mengurangi risiko tertular HIV melalui hubungan seks, pria
yang disunat juga jauh dari risiko terkena virus human pappiloma virus
(HPV), Virus ini juga merupakan penyebab penyakit Kanker Serviks
(leher rahim) pada wanita.
Hukum Khitan

Dalam fikih Islam, hukum khitan dibedakan antara untuk


lelaki dan perempuan. Para ulama berbeda pendapat
mengenai hukum khitan baik untuk lelaki maupun
perempuan.
Hukum khitan untuk lelaki:

Menurut jumhur (mayoritas ulama), hukum khitan bagi lelaki adalah


wajib. Para pendukung pendapat ini adalah imam Syafi'i, Ahmad, dan
sebagian pengikut imam Malik. Imam Hanafi mengatakan khitan wajib
tetapi tidak fardlu.
dalil-dalil yang dijadikan landasan para ulama yang mengatakan khitab
wajib adalah sbb.:
Dari Abu Hurairah Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa nabi Ibrahim
melaksanakan khitan ketika berumur 80 tahun, beliau khitan dengan
menggunakan kapak. (H.R. Bukhari). Nabi Ibrahim
melaksanakannya ketika diperintahkan untuk khitan padahal beliau
sudah berumur 80 tahun. Ini menunjukkan betapa kuatnya perintah
khitan.
Hadist riwayat Abu Dawud dan Ahmad, Rasulullah s.a.w. berkata
kepada Kulaib: "Buanglah rambut kekafiran dan berkhitanlah".
Perintah Rasulullah s.a.w. menunjukkan kewajiban.
Hukum Khitan untuk perempuan

Hukum khitan bagi perempuan telah menjadi perbincangan para


ulama. Sebagian mengatakan itu sunnah dan sebagian mengatakan itu
suatu keutamaan saja dan tidak ada yang mengatakan wajib.
Hadist paling populer tentang khitan perempuan adalah hadist Ummi
'Aisyah r.a., Rasulllah bersabda kepadanya:"Wahai Umi Aisyah,
berkhitanlah dan jangan berlebihan, sesungguhnya khitan lebih baik
bagi perempuan dan lebih menyenangkan bagi suaminya". Hadist ini
diriwayatkan oleh Baihaqi, Hakim dari Dhahhak bin Qais. Abu
Dawud juga meriwayatkan hadist serupa namun semua riwayatnya
dlaif dan tidak ada yang kuat. Abu Dawud sendiri konon
meriwayatkan hadist ini untuk menunjukkan kedlaifannya. Demikian
dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Talkhisul Khabir.
Cara Khitan untuk Laki-laki

METODE STANDAR SIRKUMSISI


KONVENSIONAL

Merupakan metode yang paling banyak digunakan hingga saat ini, cara ini
merupakan penyempurnaan dari metode dorsumsisi dan merupakan metode
standar yang digunakan oleh banyak tenaga dokter maupun mantra (perawat). Alat
yang digunakan semuanya sesuai dengan standar medis dan membutuhkan
keahlian khusus untuk melakukan metode ini.
Cara Khitan untuk perempuan

Imam Mawardi mengatakan bahwa khitan pada perempuan yang dipotong adalah
kulit yang berada di atas vagina perempuan yang berbentuk mirip cengger ayam. Yang
dianjurkan adalah memotong sebagian kulit tersebut bukan menghilangkannya secara
keseluruhan. Imam Nawawi juga menjelaskan hal yang sama bahwa khitan pada
perempuan adalah memotong bagian bawah kulit lebih yang ada di atas vagina
perempuan.
Namun pada penerapannya banyak kesalahan dilakukan oleh umat Islam dalam
melaksanakan khitan perempuan, yaitu dengan berlebih-lebihan dalam memotong
bagian alat vital perempuan. Seperti yang dikutib Dr. Muhammad bin Lutfi Al-Sabbag
dalam bukunya tentang khitan bahwa kesalahan fatal dalam melaksanakan khitan
perempuan banyak terjadi di masyarakat muslim Sudan dan Indonesia. Kesalahan
tersebut berupa pemotongan tidak hanya kulit bagian atas alat vital perempuan, tapi
juga memotong hingga semua daging yang menonjol pada alat vital perempuan,
termasuk clitoris sehingga yang tersisa hanya saluran air kencing dan saluran rahim.
Khitan model ini di masyarakat Arab dikenal dengan sebutan "Khitan Fir'aun".
Beberapa kajian medis membuktikan bahwa khitan seperti ini bisa menimbulkan
dampak negatif bagi perempuan baik secara kesehatan maupun psikologis, seperti
menyebabkan perempuan tidak stabil dan mengurangi gairah seksualnya. Bahkan
sebagian ahli medis menyatakan bahwa khitan model ini juga bisa menyebabkan
berbagai pernyakit kelamin pada perempuan.
Waktu khitan

Waktu wajib khitan adalah pada saat balig, karena pada saat itulah wajib
melaksanakan sholat. Tanpa khitan, sholat tidak sempurna sebab suci yang
yang merupakan syarat sah sholat tidak bisa terpenuhi.
Adapun waktu sunnah adalah sebelum balig. Sedangkan waktu ikhtiar (pilihan
yang baik untuk dilaksanakan) adalah hari ketujuh seytelah lahir, atau 40 hari
setelah kelahiran, atau juga dianjurkan pada umur 7 tahun. Qadli Husain
mengatakan sebaiknya melakuan khitan pada umur 10 tahun karena pada saat
itu anak mulai diperintahkan sholat. Ibnu Mundzir mengatakan bahwa khitan
pada umut 7 hari hukumnya makruh karena itu tradisi Yahudi, namun ada
riwayat bahwa Rasulullah s.a.w. menghitan Hasan dan Husain, cucu beliau
pada umur 7 hari, begitu juga konon nabi Ibrahim mengkhitan putera beliau
Ishaq pada umur 7 hari.