Anda di halaman 1dari 12

DEFINISI

Insan kamil berasal dari bahasa Arab, yaitu


dari dua kata: insan dan kamil.
Secara harfiah, Insan berarti manusia, dan
kamil berarti yang sempurna. Dengan
demikian, insan kamil berarti manusia yang
sempurna.
Insan kamil ialah manusia yang sempurna dari
segi wujud dan pengetahuannya.
Kesempurnaan dari segi wujudnya ialah karena
dia merupakan manifestasi sempurna dari citra
Tuhan, yang pada dirinya tercermin nama-nama
dan sifat Tuhan secara utuh.
kesempurnaan dari segi pengetahuannya ialah
karena dia telah mencapai tingkat kesadaran
tertinggi, yakni menyadari kesatuan esensinya
dengan Tuhan, yang disebut makrifat
CIRI - CIRI INSAN KAMIL
1. Berfungsi Akalnya Secara Optimal
Manusia yang berfungsi akalnya sudah merasa wajib
melakukan perbuatan yang baik. Dan manusia yang
demikianlah yang dapat mendekati tingkat insan kamil.
Dengan demikian insan kamil akalnya dapat mengenali
perbuatan yang baik dan perbuatan buruk karena hal itu
telah terkandung pada esensi perbuatan tersebut.

2. Berfungsi Intuisinya
Insan Kamil dapat juga dicirikan dengan berfungsinya
intuisi yang ada dalam dirinya. Intuisi ini dalam pandangan
Ibn Sina disebut jiwa manusia (rasional soul). Menurutnya
jika yang berpengaruh dalam diri manusia adalah jiwa
manusianya, maka orang itu hampir menyerupai malaikat
dan mendekati kesempurnaan.
3. Mampu Menciptakan Budaya
Manusia yang sempurna adalah manusia yang mampu mendayagunakan
seluruh potensi rohaniahnya secara optimal. Menurut Ibn Khaldun
manusia adalah makhluk berfikir. Lewat kemampuan berfikir itu, manusia
tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian
terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. Proses-proses
semacam ini melahirkan peradaban.

Tetapi menurut Ibn Khaldun, kelengkapan serta kesempurnaan manusia


tidaklah lahir dengan begitu saja, melainkan melalui suatu proses tertentu.
Proses tersebut sekarang ini dikenal dengan revolusi.

4. Menghiasi Diri Dengan Sifat-Sifat Ketuhanan


Manusia merupakan makhluk yang mempunyai naluri ketuhanan (fitrah).
Ia cenderung kepada hal-hal yang berasal dari Tuhan, dan mengimaninya.
Sifat-sifat tersebut membuat ia menjadi wakil Tuhan di muka bumi.
Manusia sebagai khalifah yang demikian itu merupakan gambaran ideal.
Yaitu manusia yang berusaha menentukan nasibnya sendiri, baik sebagai
kelompok masyarakat maupun sebagai individu. Yaitu manusia yang
memiliki tanggung jawab yang besar, karena memiliki daya kehendak yang
bebas.
5. Berakhlak Mulia
Insan kamil juga adalah manusia yang berakhlak mulia. Hal ini sejalan
dengan pendapat Ali Syariati yang mengatakan bahwa manusia yang
sempurna memiliki tiga aspek, yakni aspek kebenaran, kebajikan dan
keindahan. Semua ini dapat dicapai dengan kesadaran, kemerdekaan dan
kreativitas. Manusia yang ideal (sempurna) adalah manusia yang memiliki
otak yang briliyan sekaligus memiliki kelembutan hati. Insan Kamil dengan
kemampuan otaknya mampu menciptakan peradaban yang tinggi dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga memiliki kedalaman
perasaan terhadap segala sesuatu yang menyebabkan penderitaan,
kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan.

6. Berjiwa Seimbang
Hakikat manusia terletak pada aspek kedalamannya, yang bersifat
permanen, immortal yang kini tengah bereksistensi sebagai bagian dari
perjalanan hidupnya yang teramat panjang. Tetapi disayangkan,
kebanyakan dari mereka lupa akan immortalitas yang hakiki tadi. Manusia
modern mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar, yang bersifat
ruhiyah, sehingga mereka tidak akan mendapatkan ketentraman batin,
yang berarti tidak hanya keseimbangan diri, terlebih lagi bila tekanannya
pada kebutuhan materi kian meningkat, maka keseimbangan akan
semakin rusak.
PROSES MUNCULNYA INSAN KAMIL
Munculnya insan kamil dapat ditelusuri
melalui dua sisi.
1. Melalui tahap-tahap tajalli Tuhan pada alam
sampai munculnya insan kamil.
2. Melalui maqamat (peringkat-peringkat
kerohanian) yang dicapai oleh seseorang
sampai pada kesadaran tertinggi yang
terdapat pada insan kamil.
A. Tajalli Tuhan dalam pandangan Ibn Arabi mengambil dua
bentuk:
1. Tajalli gaib atau tajalli ti yang berbentuk penciptaan potensi
Tajalli ti, menurut Ibn Arabi, terdiri dari dua martabat: pertama
martabat ahadiyah dan kedua martabat wahdiyah. Pada martabat
ahadiyah, Tuhan merupakan wujud tunggal lagi mutlak, yang belum
dihubungkan dengan kualitas (sifat) apapun, sehingga ia belum
dikenal oleh siapapun. Sedangkan martabat wahidiyah Tuhan
memanifestasikan diri-Nya secara ilahiah yang unik di luar batas
ruang dan waktu dalam citra sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat tersebut
terjelma dalam asma Tuhan.

2. Tajalli syuhdi (penampakan diri secara nyata), yang mengambil


bentuk pertama, secara intrinsik hanya terjadi di dalam esensi
Tuhan tersendiri.
B. Maqmt
adalah tahap-tahap perjalanan spiritual yang
dengan gigih diusahakan oleh para sufi untuk
memperolehnya. Perjuangan ini pada
hakikatnya merupakan perjuangan spiritual
yang panjang dan melelahkan untuk melawan
hawa nafsu, termasuk ego manusia yang
dipandang berhala terbesar dan karena itu
kendala menuju Tuhan.
Contoh Insan Kamil
contoh insan kamil yang pernah ada hidup di permukaan bumi ini adalah sosok
Rasulullah Muhammad Saw. Tapi sayang sosok Nabi yang agung ini hanya dilihat
dan diikuti dari segi fisik dan ketubuhan beliau saja. Artinya Beliau hanya dilihat
secara partial saja, padahal kita mau membicarakan kesempurnaan beliau. Lalu
berduyun duyunlah "pakar" Islam dari masa ke masa menulis, menganjurkan,
bahkan menjadi perintah yang hampir mendekati taraf "wajib", kepada umat
Islam untuk mengikuti contoh "perilaku" Nabi sampai kepada yang sekecil-
kecilnya.
Akan tetapi dari sekian banyak perintah itu sayangnya "sebagian besar" hanya
tertuju kepada mengikuti contoh perilaku fisik Rasulullah, sehingga begitu
banyaknya kita lihat manusia dengan "atribut fisik" mirip Rasulullah. Tampilan fisik
kita bukan saja mirip dalam segi pakaian dan ciri ketubuhan lainnya, akan tetapi
juga mirip dalam ritual dan gerakan-gerakan bahkan bacaan-bacaan dalam ibadah
beliau.
Cara Mencapai Insan Kamil
Adapun beberapa ciri ciri atau kriteria Insan Kamil yang dapat kita
lihat pada diri Rasulullah SAW yakni 4 sifat yakni :
a. Sifat amanah (dapat dipercaya)
Amanah / dapat dipercaya maksudnya ialah dapat memegang apa yang
dipercayakan seseorang kepadanya. Baik itu sesuatu yang berharga
maupun sesuatu yang kita anggap kurang berharga.
b. Sifat fathanah (cerdas)
Seseorang yang memiliki kepintaran di dalam bidang fomal atau di
sekolah belum tentu dia dapat cerdas dalam menjalani kehidupannya.
Cerdas ialah sifat yang dapat membawa seseorang dalam bergaul,
bermasyarakat dan dalam menjalani kehidupannya untuk menuju yang
lebih baik.
Cara Mencapai Insan Kamil
c. Sifat siddiq (jujur)
Jujur adalah sebuah kata yang sangat sederhana sekali dan sering kita
jumpai, tapi sayangnya penerapannya sangat sulit sekali di dalam
bermasyarakat. Sifat jujur sering sekali kita temui di dalam kehidupan
sehari hari tapi tidak ada sifat jujur yang murni maksudnya ialah, sifat
jujur tersebut mempunyai tujuan lain seperti mangharapkan sesuatu
dari seseorang barulah kita bisa bersikap jujur.
d. Sifat Tabligh (menyampaikan)
Maksudnya tabligh disini ialah menyampaikan apa yang seharusnya di
dengar oleh orang lain dan berguna baginya. Tentunnya sesuatu yang
akan disampaikan itu pun haruslah sesuatu yang benar dan sesuai
dengan kenyataan.