Anda di halaman 1dari 32

Kelompok 1 DK2P1

Difasilitatori oleh: dr.Donna


Novina Kahanjak., M.Biomed
SIKLUS MENSTRUASIKU TAK LANCAR
Seorang perempuan berusia 20 tahun datang
ke praktik dokter dengan keluhan jarang haid.
Keluhan dikeluhkan pasien sejak 1 tahun yang
lalu beruba 2-3 bulan sekali baru mendapat haid.
Pasien seorang mahasiswa fakultas kedokteran
tingkat dua. Berdasarkan anamnesis diketahui
pola makan pasien berlebihan. Dari pemeriksaan
fisik ditemukan tekanan darah 130/90 mmHg,
denyut nadi 80x/menit , frekuensi nafas
16x/menit dan suhu 36C. Pada pengukuran
antropometri di peroleh IMT 30kg/m. pasien
juga mengeluh wajahnya jerawatan.
Hasil DK1P1
KATA KUNCI
1. Perempuan 2 tahun
2. Jarang haid sejak 1 tahun yang lalu, 2-3 bulan
baru haid.
3. Pola makan berlebihan
4. Pemeriksaan fisik :
TD = 130/90 mmHg
Denyut Nadi = 80x/menit
Frekuensi nafas = 80x/menit
Suhu = 36C.
IMT = 30kg/m
5. Wajah berjerawat
Identifikasi masalah

perempuan 20 tahun mahasiswa


kedokteran dengan keluhan jarang
haid sejak 1 tahun yang lalu berupa 2-
3 bulan sekali baru mendapat haid dan
diketahui pola makan pasien
berlebihan dan wajah berjerawat.
Analisis Masalah
Perempuan 20 tahun

Siklus haid

Haid 2-3 bulan sekali


Pf pp

Diagnosis banding
Amenore
PCOS
HIPOTESIS
Berdasarkan data yang didapat
menunjukkan bahwa pasien mengalami
PCOS
PERTANYAAN TERJARING

1. Interpretasi data tambahan


2. PCOS :
a. Definisi
b. Epidemiologi
c. Etiologi
d. Patogenesis
e. Patofisiologi
f. Klasifikasi
g. Tanda & Gejala
h. Faktor resiko
i. Komplikasi
j. Diagnosis
k. Tatalaksana & pencegahan
l. diagnosis
3. Diagnosis banding
Amenore dan PCOS!
4. Siklus menstruasi!
JAWABAN PERTANYAAN TERJARING
1. Interpretasi data
tambahan
Pemeriksaan Fisik
Tekanan darah 130/90 mmHg 120/90 mmHg
Denyut nadi 80x/mnt Normal
Frekuensi nafas 16x/mnt Normal
Suhu 36C Normal
Pemeriksaan Penunjang
Kadar trigliserida 250 mg/dL < 150 mg/dL
Kadar LDL 139 mg/dL < 100 mg/dL
Kadar HDL 30 mg/dL > 60 mg/dL
SOAL NO : 2
PCOS
Definisi
Polycystic ovary syndrome (PCOS) atau
Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK) adalah
kelainan endokrin yang sangat umum terjadi
pada wanita dalam masa reproduksi.
Walaupun ovarium polikistik dapat ditemukan
dalam 20% populasi wanita, hal ini tidak
harus menimbulkan gejala klinik seperti
PCOS, akan tetapi dalam perjalanannya akan
menimbulkan gejala klinik bila diprovokasi
oleh kenaikan berat badan atau resisten
terhadap insulin.
Epidemiologi
PCOS terjadi pada 5% sampai 10% wanita
usia reproduktif dan merupakan penyebab
paling sering terhadap ketidaksuburan
pada wanita diantara berbagai ras dan
etnik. Gejala dari PCOS mungkin mulai
pada masa remaja dengan siklus
menstruasi yang tidak teratur, atau pada
wanita yang tidak tahu telah terkena PCOS
sampai di kemudian hari ketika gejala
muncul dan/atau infertilitas telah terjadi.
Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian
utama pada penderita SOP, penderita dengan penyakit
ini mempunyai risiko 7 kali untuk terkena infark
myocardium. Pada penderita SOP dijumpai peningkatan
endotelin-1, yang merupakan produk yang dihasilkan
dari perlukaan endothelium. Diagnosis PCOS ditegakkan
atas dasar hiperandrogenisme dan disfungsi ovulasi
dengan menyingkirkan penyebab spesifik lain.
Pemeriksaan sonografi saja tidak mempunyai nilai
diagnostik. Selain ditandai dengan hiperandrogenisme
dan anovulasi kronis, PCOS juga disertai oleh perubahan
metabolik berupa gangguan toleransi glukosa,
hiperinsulinemia dan resistensi insulin.
Etiologi
Etiologi SOPK tidak diketahui secara pasti,
namun diperkirakan sangatdipengaruhi oleh
genetik. Bila dalam satu keluarga terdapat
penderita SOPK maka 50% wanita dalam
keluarga tersebut akan menderita SOPK pula.
Pada masa ini terdapat peningkatan
penemuan tentang hipotesa etiologi dari
SOPK yaitu tekanan darah tinggi selama
kehamilan yang dapat berdampak bagi ibu
dan anak, salah satu dampak bagi anak
tersebut adalah timbulnya ovarium polikistik.
Patofisiologi
Klasifikasi

Kelompok 1 : kegagalan pituitari


hipotalamik (amenore hipotalamik atau
hipogonadisme hipogonadotropik)
Kelompok 2 : disfungsing pituitari
hipotalamik
Kelompok 3 : kegagalan ovarium
Tanda dan Gejala

Gejala awal
Jarang atau tidak pernah mendapat
haid
Perdarahan haid tidak teratur atau
berlebihan
Rambut kepala rontok dan rambut
tubuh tumbuh secara berlebihan
Pertumbuhan jerawat
Depresi
Gejala lanjut
Obesitas
Penipisan rambut kepala (alopesia)
Abortus berulang
Sulit mendapatkan kehamilan (infertil) oleh karena
tidak terjadi ovulasi
Mendengkur
Nyeri panggul kronis
TD tinggi

Sumber: Referat bagian Obsgyn FK Yarsi


Galaktorea
Sakit kepala, atau dikurangi penglihatan tepi
(tanda dari tumor intrakranial)
Hirsutisme
Kekeringan vagina, hot flashes, tidur tidak teratur
BB turun
Kecemasan yang berlebihan

Sumber: Amenorea Emedicine Health, Nelcon (2014). At


www.emedicinehealth.com
Faktor Resiko

Umur
Infertilitas
Indeks Massa Tubuh
Rasio LH & FSH
Komplikasi
Infertilitas
Infertilitas pada sindrom ovarium polikistik
berkaitan dengan dua hal. Pertama karena
adanya oligoovulasi/anovulasi. Keadaan ini
berkaitan dengan hiperinsulinemia di mana
terdapat resistensi insulin karena sel-sel jaringan
perifer khususnya otot dan jaringan lemak tidak
dapat menggunakan insulin sehingga banyak
dijumpai pada sirkulasi darah. Makin tinggi kadar
insulin seorang wanita, makin jarang wanita
tersebut mengalami menstruasi.
Diabetes melitus
Sindrom ovarium polikistik berkaitan erat dengan masalah insulin.
Adanya resistensi sel-sel tubuh terhadap insulin menyebabkan organ
tubuh tidak dapat menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen
sehingga kadarnya meningkat di dalam darah.

Masalah kulit dan hirsutisme


Keadaan ini berkaitan dengan hiperandrogenisme. Kadar androgen
yang tinggi menyebabkan pengeluaran sebum yang berlebihan
sehingga menyebabkan masalah pada kulit dan rambut. Pasien
mengeluhkan seringnya terjadi peradangan pada kulit akibat
penyumbatan pori serta pertumbuhan rambut pada tubuh yang
berlebihan. Kelainan yang biasanya timbul adalah dermatitis
seboroik, hidradenitis supuratif, akantosis nigrikans dan kebotakan.
Akantosis nigrikans selain berhubungan dengan keadaan
hiperandrogen juga terkait dengan adanya hiperinsulinemia.
Obesitas
Obesitas pada sindrom ovarium polikistik dideskripsikan sebagai
obesitas sentripetal, di mana distribusi lemak ada di bagian sentral
tubuh terutama di punggung dan paha. Wanita dengan sindrom ini
sangat mudah bertambah berat tubuhnya. Obesitas tipe ini berkaitan
dengan peningkatan risiko menderita hipertensi dan diabetes.

Kanker endometrium
Risiko lain yang dihadapi wanita dengan sindrom ini adalah
meningkatnya insiden kejadian kanker endometrium. Hal ini
berhubungan dengan kadar estrogen yang selalu tinggi sehingga
endometrium selalu terpapar oleh estrogen ditambah adanya
defisiensi progesteron. Kanker ini biasanya berdiferensiasi baik, angka
kesembuhan lesi tingkat I mencapai angka >90%. Kadar estrogen
yang tinggi kemungkinan juga meningkatkan terjadinya kanker
payudara.
Diagnosis

Diagnosis PCOS Pemeriksaan fisik : menanyakan


Diagnosis SOP dibuat jika ditemukan beberapa informasi penting tentang
2 dari 3 kriteria dengan telah tubuh penderita seperti tinggi badan,
menyingkirkan penyakit lain yang berat badan, tekanan darah, keadaan
menyerupai gambaran pcos seperti kulit, menghitung indeks massa
penyakit tiroid, hiperprolaktin dan tubuh, memeriksa payudara, perut,
nonklasik hiperplasia adrenal dan kelenjar tiroid. Dan memeriksa
kongenital. Oligo-ovulasi atau organ reproduksi wanita.
anovulasi yang bermanifestasi Tes darah : tes darah untuk
sebagai oligomenorea dan mengukur kadar hormon, kadar gula
amenorrhea. darah dan tingkat kolesterol.
Hiperandrogenisme (secara klinis ada Tes ultrasound : Tes ini akan
peningkatan androgen) atau memperlihatkan jumlah kista dalam
hiperandrogenemia (secara ovarium dan ketebalan dinding
biokimiawi terdapat peningkatan uterus.
hormon androgen)
Polikistik ovarii ( seperti yang tampak
melalui pemeriksaan ultrasonografi.
Tatalaksana dan
Pencegahan
1. Perbaiki gaya hidup
Menurunkan berat badan
2. Terapi medisinalis
3. Kontrasepsi oral
Medroksiprogesteron
Agonis gonadotropin releasing Hormone (Gh-RH)
Ketokonazol
Flutamide
Cyproterone acetate
Spironolactone
Insulin sensitizers
Clomiphene citrate
4. Terapi gonadotropin untu pasien sindrom ovarium polikistik
5. Mode operatif
Prognosis
Diagnosis dan pengobatan dini dapat membantu
mengurangi risiko banyak komplikasi. Wanita yang
memiliki PCOS harus mendapat perawatan medis
reguler (termasuk skrining untuk diabetes, tekanan
darah tinggi, dan kolesterol tinggi) dan harus
mempertahankan gaya hidup sehat dengan makan
dengan benar dan berolahraga secara teratur.
Wanita yang memiliki sindrom ovarium polikistik
tidak boleh merokok.
3. Diagnosis Banding
Nama Definisi Etiologi Gejala Klinis Pemeriksaan
penunjang
penyakit
Amenore Amenoread 1.kelainan Gejala klinis USG,
alah kondisi di di otak, nya bervariasi histerosal
mana wanita kelenjar Pingografi,
yang hipofisa, Tidak histeroskopi,
seharusnya kelenjar ditemukan Magnetic
mendapat tiroid, tanda-tanda Resonance
menstruasi kelenjar pubertas Imaging (MRI)
tidak adrenal,ovari /menstruasi
mendapatkan um maupun
menstruasi. bagian dari Denyut
Siklus system jantung cepat
menstruasi reproduksi
normal terjadi lainnya.. Ditemukan
karena 2.Kelaianan pada morning
perubahan bawaan pada sicness
kadar system Dan
hormon. kelamin pembesaran
Hormon (misalnya perut
reproduksi tidka memiliki
wanita Rahim
diproduksi atau,adanya
oleh indung sekat pada
telur vagina,
Tatalaksan

Pengobatan
sesuai
dengan
penyebab
amenore ..
Siklus mentruasi

Siklus Siklus hipofisis


Siklus Ovulasi
Endometrium - hipotalamus

Fase Fase Fase sekresi/ Fase iskemi/


menstruas Proliferasi luteal premenstrual
i
Daftar Pustaka
1 Maharani, L. Wratsangka R. 2002. Sindrom Ovarium Polikistik: Permasalahan Dan
Penatalaksanaannya. (diunduh tanggal 07 februari 2012). Dari URL :
http://www.univmed.org/wp-content/ uploads/2011/02/Dr._Laksmi.pdf
2. Hadibroto, B.R. 2005. Sindroma Ovarium Polikistik. (diunduh tanggal 07 februari 2012).
Dari URL :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15588/1/mkn-des2005-%20%2811%29.pdf
3. Duarsa, M.A. 2004. Pendekatan Medisinalis Dan Bedah Pada Penanganan Sopk. (diunduh tanggal
07 februari 2012). Dari URL :
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/pendekatan-medisinalis-dan-bedah-
pada-penanganan-sopk/mrdetail/914/
4.Ramli R. 2010. Dampak Preeklampsia. (diunduh tanggal 10 februari 2012). Dari
URL : http://www.ibubayi.com/topik/dampak-preeklampsia.html
5. Melissa Conrad Stppler. William C. Shiel Jr. 2010. Polycystic Ovarian Syndrome. (diunduh
tanggal 07 februari 2012). Dari URL : http://www.medicinenet.com/polycystic_ovary/article.htm
6. Hestiantoro, A. 2009. Sindroma ovarium polikistik, penyebab gangguan haid. (diunduh tanggal
07 februari 2012). Dari URL :
http://botefilia.com/index.php/archives/2009/04/10/sindroma-ovarium-polikistik-
penyebab-gangguan-haid/
7. Anonym. 2010. Ovarium polikistik Sindrom - Penyebab, Gejala dan Metode Pengobatan. (Diunduh
tanggal 07 februari 2012). Dari URL :
http://id.hicow.com/polikistik-ovarium-sindrom/kehamilan/hormon-772734.html
8. Murfida, L. 2001. terapi metformin pada sindrom ovarium polikistik. (diunduh tanggal 07 februari
2012). Dari URL : http://digilib.unsri.ac.id/download/Terapi%20Metformin%20pada%20SOPK.pdf