Anda di halaman 1dari 11

HAKIKAT PENDIDIKAN DAN

HAKIKAT MANUSIA

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 4

NAMA:
1. AGUS ZULKARNAIN
2. AMI RIZKI ANDRIANI
3. ULFA PRATIWI
4. ULFA TUFFAHATI
MAIN MENU

BAB I BAB II
Pendahuluan Pembahasan

BAB III
Penutup
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia telah diberikan oleh Tuhan YME kemampuan
intelegesi dan daya nalar sehingga manusia mampu berifikir, berbuat,
dan bertindak untuk membuat perubahan dengan maksud
pengembangan sebagai manusia yang utuh. Dalam kaitannya dengan
perkembangan individu, manusia dapat tumbuh dan berkembang
melalui suatu proses alami menuju kedewasaan baik itu bersifat
jasmani maupun bersifat rohani. Oleh sebab itu manusia memerlukan
pendidikan demi mendapatkan perkembangan yang optimal sebagai
manusia.
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi
kehidupan manusia. Karena dengan pendidikan manusia dapat
mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya dan menggali sumber
daya manusia yang berkualitas. Sejak lahir, manusia sudah
mendapatkan haknya dalam pendidikan, dan yang paling berperan
penting sebagai pendidik yaitu orang tua. Orang tua sebagai seorang
pendidik sudah seharusnya mengetahui tujuan pendidikan itu sendiri
dan bagaimana langkah-langkah untuk mencapai tujuan tersebut.
Begitu juga dengan seorang guru. Guru harus mampu membimbing
peserta didik ke arah tujuan pendidikan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
DARI LATAR BELAKANG DI ATAS MAKA DITEMUKAN RUMUSAN MASALAH SEPERTI :
1. APA PENGERTIAN MANUSIA?
2. APA PENGERTIAN HAKEKAT MANUSIA?
3. APA SAJA KEBUTUHAN MANUSIA?
4. BAGAIMANA PENGEMBANGAN HAKEKAT DAN DIMENSI MANUSIA DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN?
5. APA TUJUAN HAKEKAT MANUSIA?
6. APA PENGERTIAN PENDIDIKAN?
7. BAGAIMANA ASAS PENDIDIKAN?
8. APA SAJA UNSUR SERTA TUJUAN PENDIDIKAN?
9. APA PENGERTIAN HAKEKAT PENDIDIKAN?
10. BAGAIMANA KONSEP PENDIDIKAN?
11. BAGAIMANA HUBUNGAN HAKIKAT MANUSIA DENGAN PENDIDIKAN?

1.3 TUJUAN PENULISAN


ADAPUN TUJUAN PENULISAN MAKALAH INI SEPERTI :
1. MENGETAHUI PENGERTIAN MANUSIA
2. MENGETAHUI PENGERTIAN HAKEKAT MANUSIA
3. MENGETAHUI KEBUTUHAN MANUSIA
4. MENGETAHUI PENGEMBANGAN HAKEKAT DAN DIMENSI MANUSIA DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN
5. MENGETAHUI TUJUAN HAKEKAT MANUSIA
6. MENGETAHUI PENGERTIAN PENDIDIKAN
7. MENGETAHUI ASAS PENDIDIKAN
8. MENGETAHUI UNSUR SERTA TUJUAN PENDIDIKAN
9. MENGETAHUI HAKEKAT PENDIDIKAN
10. MENGETAHUI KONSEP PENDIDIKAN
11. MENGETAHUI HUBUNGAN HAKEKAT MANUSIA DENGAN PENDIDIKAN back
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Hakekat Manusia
2.1.1. Pengertian Manusia
Secara bahasa manusia berasal dari kata manu (Sansekerta), mens
(Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai
makhluk lain. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah
fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang
individu. Secara biologi, manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari
golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Pengertian manusia menurut para ahli
NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan
rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
ABINENO J. I
Manusia adalah "tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa abadi yang berada atau
yang terbungkus dalam tubuh yang fana"
UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana
atau badan fisik
I WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa
dan karsa
2.1.2. PENGERTIAN HAKEKAT MANUSIA
MANUSIA MEMILIKI CIRI KHAS YANG PRINSIPIL DENGAN MAKHLUK CIPTAAN TUHAN
LAINNYA, SERTA TERBENTUK DARI KUMPULAN TERPADU YAITU SIFAT HAKIKAT MANUSIA.
DISEBUT SIFAT HAKIKAT MANUSIA KARENA SECARA HAKIKI SIFAT TERSEBUT HANYA DIMILIKI
OLEH MANUSIA DAN TIDAK TERDAPAT PADA HEWAN. HAKIKAT MANUSIA PADA DASARNYA
ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MEMILIKI KESADARAN SUSILA (ETIKA) DALAM ARTI IA DAPAT
MEMAHAMI NORMA-NORMA SOSIAL DAN MAMPU BERBUAT SESUAI DENGAN NORMA DAN KAIDAH
ETIKA YANG DIYAKININYA.
RAGAM PEMAHAMAN TENTANG HAKIKAT MANUSIA, SEBAGAI BERIKUT :
A. HOMO RELIGIUS: PANDANGAN TENTANG SOSOK MANUSIA DAN HAKIKAT MANUSIA
SEBAGAI MAKHLUK YANG BERAGAM.
B. HOMO SAPIENS: PEMAHAMAN HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BIJAKSANA
DAN DAPAT BERFIKIR ATAU SEBAGAI ANIMAL RATIONALE.
C. HOMO FABER: PEMAHAMAN HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERPIRANTI
(PERKAKAS).
D. HOMO HOMINI SOCIUS: KENDATI MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU, MAKHLUK
YANG MEMILIKI JATI DIRI, YANG MEMILIKI CIRI PEMBEDA ANTARA YANG SATU DENGAN YANG
LAINNYA, NAMUN PADA SAAT YANG BERSAMAAN MANUSIA JUGA SEBAGAI KAWAN SOSIAL BAGI
MANUSIA LAINNYA.
2.1.3 CIRI-CIRI HAKEKAT MANUSIA
1. MAKHLUK YANG DAPAT MENGGERAKKAN HIDUPNYA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN-
KEBUTUHANNYA.
2. INDIVIDU YANG MEMILIKI SIFAT RASIONAL YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS
TINGKAH LAKU INTELEKTUAL DAN SOSIAL.
3. MAKHLUK YANG SELALU DALAM PROSES SELAMA HIDUPNYA.
4. INDIVIDU YANG DALAM HIDUPNYA SELALU MELIBATKAN DIRINYA DALAM USAHA.
5. SUATU KEBERADAAN BERPOTENSI TAK TERBATAS
6. MAKHLUK TUHAN YANG BERARTI IA ADALAH MAKHLUK YANG MENGANDUNG
KEMUNGKINAN BAIK DAN JAHAT.
7. INDIVIDU YANG SANGAT DIPENGARUHI OLEH LINGKUNGAN SOSIAL.
2.1.4. KEBUTUHAN HAKEKAT MANUSIA
KEBUTUHAN HIDUP MANUSIA DAPAT BERSIFAT FISIK DAN PSIKIS:
1. KEBUTUHAN HIDUP BERSIFAT FISIK
A.KEBUTUHAN PRIMER
KEBUTUHAN PRIMER ADALAH KEBUTUHAN HIDUP YANG TIDAK BOLEH TIDAK, HARUS ADA DAN
TERSEDIA. BILAMANA KEBUTUHAN INI TIDAK TERPENUHI, MAKA KEBERLANGSUNGAN
KEHIDUPAN AKAN TERGANGGU.
B. KEBUTUHAN SEKUNDER
SEMAKIN SEHAT SESEORANG, MAKA SEMAKIN MENINGKAT VITALITASNYA. IMPLIKASINYA ADALAH
TURUT MENINGKATKAN KEBUTUHAN YANG LAIN YANG BERSIFAT SEKUNDER, SEPERTI
KEBUTUHAN SEKS MISALNYA. PEMENUHAN TERHADAP KEBUTUHAN INI MEMBAWA KONSEKUENSI
PENGEMBANGBIAKAN JUMLAH SPESIES MANUSIA, BILAMANA PEMENUHAN KEBUTUHAN SEKS INI
DAPAT DILAKUKAN SECARA WAJAR.

2. KEBUTUHAN HIDUP BERSIFAT PSIKIS


KEBUTUHAN PSIKIS DAPAT DISEBUTKAN SEBAGAI BERIKUT:
A. RASA AMAN
SESEORANG, BAIK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN, MEMERLUKAN, ATAU YANG MEMILIKI
PERBEDAAN SOSIAL, SAMA-SAMA MEMERLUKAN RASA AMAN DARI BERBAGAI ANCAMAN YANG
BERSIFAT MENEKAN.
B.PENGHARGAAN
SESEORANG DENGAN RAGAM PERBEDAAN SOSIAL MAUPUN JENIS KELAMIN SAMA-SAMA
MEMERLUKAN PENGHARGAAN DARI PIHAK LAIN, TERUTAMA TERHADAP PRESTASI-PRESTASI YANG
PERNAH DICAPAINYA.
C. AKTUALISASI DIRI
SESEORANG DENGAN RAGAM PERBEDAAN SOSIAL MAUPUN JENIS KELAMIN SAMA-SAMA
MEMPUNYAI KEMAUAN, KEINGINAN, DAN CITA-CITA. SEMUA ORANG BERHARAP AGAR KEMAUAN,
KEINGINAN DAN CITA-CITANYA DAPAT DICAPAI.
d. Kebutuhan Terhadap Agama
Ketika seseorang melihat penyimpangan dari pola-pola perencanaan yang ia programkan,
akan menyadarkan diri atas kekuasaan yang berada di luar dirinya. Kesadaran semacam
ini yang akan menuntun seseorang untuk mempercayai mukjidzat yang maha kuasa.

2.1.5 Dimensi-Dimensi Manusia

1.Dimensi Keindividualan
Manusia sebagai makhluk keindividualan dimaksudkan sebagai orang yang utuh, yang
terdiri dari kesatuan fisik dan psikis. Kandungan dimensi keindividualan adalah potensi
dan perbedaan. Di sini dimaksudkan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki
potensi, baik potensi fisik maupun mental-psikologis, seperti kemampuan intelegensi,
bakat dan kemampuan pribadi lainnya. Potensi ini dapat berbeda-beda antar individu.
Ada individu yang berpotensi sangat tinggi, tinggi, sedang, kurang dan kurang sekali.
2. Dimensi Kesosialan
Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial tampak dalam kenyataan bahwa tidak ada
yang mampu hidup sebagai manusia tanpa bantuan orang lain. Manusia hidup dalam
suasana interdependensi, dalam antar hubungan dan antaraksi.
Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk
bergaul.
3. Dimensi Kesusilaan
Manusia adalah mahluk susila. Dritarkara mengatakan manusia susila, yaitu manusia
yang memiliki nilai-nilai, menghayati, dan mewujudkan dalam perbuatan.
Kandungan dimensi kesusilaan adalah nilai dan moral. Dalam dimensi ini digarisbawahi
kemampuan dasar setiap individu untuk memberi penghargaan terhadap sesuatu, dalam
rentang penilaian tertentu.
D. DIMENSI KEBERAGAMAAN
MANUSIA ADALAH MAHLUK RELIGIUS. SEJAK ZAMAN DAHULU NENEK MOYANG MANUSIA
MEYAKINI AKAN ADANYA KEKUATAN SUPRANATURAL YANG MENGUASAI HIDUP ALAM SEMESTA
INI. UNTUK MENDEKATKAN DIRI DAN BERKOMUNIKASI DENGAN KEKUATAN TERSEBUT
DITEMPUH DENGAN RITUAL AGAMA.

2.1.5.1. PENGEMBANGAN DIMENSI-DIMENSI MANUSIA


HAKIKAT DAN EKSISTENSI MANUSIA, MASING-MASING DIMENSINYA DAPAT DIKEMBANGKAN
SEHINGGA DAPAT MEMBENTUK KEPRIBADIAN MANUSIA.

1. PENGEMBANGAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU


PENDIDIKAN HARUS MENGEMBANGKAN ANAK DIDIK MAMPU MENOLONG DIRINYA SENDIRI.
DENGAN KATA LAIN, ANAK DIDIK HARUS MENGALAMI PERKEMBANGAN DALAM KAWASAN
KOGNITIF, AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR.
2. PENGEMBANGAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL
MANUSIA ADALAH MAHLUK YANG SELALU BERINTERAKSI DENGAN SESAMANYA. MANUSIA
TIDAK DAPAT MENCAPAI APA YANG DIINGINKAN SECARA SEORANG DIRI SAJA. KEHADIRAN
MANUSIA LAIN DIHADAPANNYA, BUKAN SAJA PENTING UNTUK MENCAPAI TUJUAN HIDUPNYA,
TETAPI JUGA MERUPAKAN SARANA UNTUK PENGEMBANGAN KEPRIBADIANNYA
3. PENGEMBANGAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SUSILA
SETIAP MASYARAKAT DAN BANGSA MEMPUNYAI NORMA-NORMA, DAN NILAI-NILAINYA.
PENTINGNYA MENGETAHUI DAN MENERAPKAN SECARA NYATA NORMA, NILAI, DAN KAIDAH-
KAIDAH MASYARAKAT DALAM KEHIDUPANNYA MEMPUNYAI DUA ALASAN POKOK,YAITU:
A. UNTUK KEPENTINGAN DIRINYA SENDIRI SEBAGAI INDIVIDU.
B. UNTUK KEPENTINGAN STABILITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT ITU SENDIRI
3. PENGEMBANGAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK RELIGIUS
SEBAGAI ANGGOTA MASYARAKAT DAN BANGSA YANG MEMILIKI FILSAFAT PANCASILA KITA
DITUNTUT UNTUK MENGHAYATI DAN MENGAMALKAN AJARAN PANCASILA SEBAIK-BAIKNYA.
2.1.6. Peran Hakekat Manusia

Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36, maka peran yang dilakukan adalah


sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah.
Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah,
seseorang dituntut memulai dari diri dan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.

Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang telah ditetapkan
Allah, diantaranya adalah :

1.Belajar (surat An naml : 15-16 dan Al Mukmin :54): Belajar yang dinyatakan pada ayat
pertama surat al Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Quran.
2.Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39)
3.Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 ): Ilmu yang telah diketahui bukan hanya untuk
disampaikan kepada orang lain melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu
agar membudaya.Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW.