Anda di halaman 1dari 23

kolesti

DEFENISI
Kolelitiasis merupakan adanya atau pembentukan batu empedu; batu

yang terdapat dalam kandung empedu disebut kolesistolitiasis dan batu


yang

terdapat dalam saluran empedu (ductus choledochus) disebut


koledokolitiasis.

Kolelitiasis memiliki ukuran, bentuk dan komposisi yang bervariasi.

Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada individu berusia diatas 40 tahun

terutama pada wanita dikarenakan memiliki faktor resiko,yaitu:


obesitas, usia lanjut, diet tinggi lemak dan genetik.

Sinonim kolelitiasis adalah batu empedu, gallstones, biliary calculus.


Epidemiologi
Insiden kolelitiasis di negara barat adalah 20% dan banyak
menyerang, orang dewasa dan usia lanjut. Angka kejadian di
Indonesia di duga tidak berbeda jauh dengan angka di negara
lain di Asia Tenggara dan sejak tahu.

1980-an agaknya berkaitan erat dengan cara diagnosis dengan


ultrasonografi.
FAKTOR RESIKO
a. Jenis Kelamin
Wanita mempunyai resiko. Di karenakan oleh hormon esterogen
berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung
empedu.
b. Usia
Resiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya
usia. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena
kolelitiasis .
d. Makanan
Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepatmengakibatkan
gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan
penurunan kontraksi kandung empedu.
e. Riwayat keluarga

Orang dengan riwayat keluarga kolelitiasis mempunyai resiko lebih besar

dibandingn dengan tanpa riwayat keluarga.

f. Aktifitas fisik

Kurangnya aktifitas fisik berhungan dengan peningkatan resiko terjadinya

kolelitiasis. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit

berkontraksi.

g. Penyakit usus halus

Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan kolelitiasis adalah crohn

disease, diabetes, anemia sel sabit, trauma, dan ileus paralitik.


H. Nutrisi intravena jangka lama

Nutrisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak

terstimulasi untuk berkontraksi, karena tidak ada makanan/ nutrisi

yangmelewati intestinal. Sehingga resiko untuk terbentuknya batu

menjadi meningkat dalam kandung empedu.


Klasifikasi
Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, kolelitiasis di

golongkankan atas 3 golongan, yaitu:

a) Batu kolesterol

Berbentuk oval, multifokal atau mulberry dan mengandung lebih dari

70% kolesterol.

b) Batu kalsium bilirubinan (pigmen coklat)

Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan

mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama.

c) Batu pigmen hitam

Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk.


PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
Penderita batu kandung empedu baru memberi keluhan bila batu

tersebut bermigrasi menyumbat duktus sistikus atau duktus koledokus,

sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari yang tanpa gejala

(asimptomatik),

ringan sampai berat karena adanya komplikasi.

Dijumpai nyeri di daerah hipokondrium kanan, yang kadang-kadang

disertai kolik bilier yang timbul menetap/konstan. Rasa nyeri kadang-

kadang di jalarkan sampai di daerah subkapula disertai nausea, vomitus

dan dyspepsia, flatulen dan lain-lain.


Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan
hipokondrium kanan, dapat teraba pembesaran
kandung empedu dan tanda Murphy positif. Dapat
juga timbul ikterus. Ikterus dijumpai pada 20 % kasus,
umumnya derajat ringan (bilirubin < 4,0 mg/dl).
Apabila kadar bilirubin tinggi, perlu dipikirkan adanya
batu di saluran empedu ekstra hepatic.
DIAGNOSA
Anamnesis
Kolik dan nyeri tekan perut kanan atas atau epigastrium
Nyeri menjalar ke bahu kanan atas atau subskapula (khas)
Mual muntah
Demam
Pemeriksaan Fisik
Tanda peritonitis lokal
Murphy sign (+): saat hipokondrium kanan ditekan,
inspirasi dihentikan karena adanya nyeri
Ikterus (20%), bila ada batu di saluran empedu
Teraba massa kandung empedu
Laboratorium
Leukositosis
SGOT dan SGPT

Alkali fosfatase meningkat

Bilirubin total meningkat


Pemeriksaan penunjang
USG abdomen (90-95%)
penebalan dinding kandung empedu, sering disertai
sludge atau batu
CT scan abdomen
Kolesistografi
Foto USG abdomen
Pemeriksaan radiologi
Murphy sign
TERAPI
Tirah baring

Puasa sampai nyeri berkurang atau hilang


nutrisi parenteral
Antibiotik parenteral :
sefalosporin, ampisilin, metronidazol
Terapi suportif (antipiretik, analgetik, koreksi
kelainan elektrolit)
Tindakan Bedah
Tindakan Bedah
1. Kolesistektomi terbuka

Operasi ini merupakan standar terbaik untuk

penanganan pasien denga kolelitiasis simtomatik. Komplikasi

yang paling bermakna yang dapat terjadi adalah cedera duktus

biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien. Angka mortalitas yang

dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0,5%. Indikasi yang

paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris

rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut.


2. Kolesistektomi laparaskopi

Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik

tanpa adanya kolesistitis akut. Masalah yang belum terpecahkan

adalah kemanan dari prosedur ini, berhubungan dengan insiden

komplikasi seperti cedera duktus biliaris yang mungkin dapat

terjadi lebih sering selama kolesistektomi laparaskopi.


Pencegahan
Pada kasus kolelitiasis jumlah kolesterol dalam empedu
ditentukan oleh jumlah lemak yang dimakan karena sel-sel
hepatik mensintesis kolesterol dari metabolisme lemak, sehingga
pasien dianjurkan atau dibatasi dengan makanan cair rendah
lemak. Menghindari kolesterol yang tinggi terutama yang berasal
dari lemak hewani. Suplemen bubuk tinggi protein dan
karbohidrat dapat diaduk ke dalam susu skim dan adapun
makanan tambahan seperti: buah yang dimasak, nasi ketela,
daging tanpa lemak, sayuran yang tidak membentuk gas, roti,
kopi atau teh.