Anda di halaman 1dari 22

Infeksi tulang belakang dapat diklasifikasikan oleh lokasi anatomi yang

terlibat : kolom vertebral, ruang disk intervertebralis, kanal tulang


belakang, dan jaringan lunak yang berdekatan termasuk sistem saraf
spinalis, diantaranya myelitis dan spondilitis tuberculosis.
Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri atau organisme jamur, dan
dapat terjadi setelah operasi. Kebanyakan infeksi pasca operasi terjadi
antara tiga hari dan tiga bulan pasca operasi.
Menurut Plum dan Olsen (1981) serta Banister (1978) myelitis adalah
terminologi nonspesifik, yang artinya tidak lebih dari radang medulla
spinalis.
Menurut NINDS (National Institute of Neurological Disorders and
Stroke) tahun 2012, myelitis adalah kelainan neurologi pada medulla
spinalis (myelopati) yang disebabkan proses inflamasi.
Beberapa literatur sering menyebut beberapa inflamasi yang
menyerang medulla spinalis sebagai myelitis transverse atau myelitis
transverse akut. Sejak saat itu, sindrom paralisis progresif karena
inflamasi di medulla spinalis dikenal sebagai myelitis transversalis
Menurut Onset
Menurut Sema et al perjalanan klinis antara onset hingga munculnya
gejala klinis myelitis dibedakan atas:
Akut : Gejala berkembang dengan cepat dan mencapai
puncaknya dalam waktu beberapa hari saja.
Sub Akut : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam waktu 2
minggu.
Kronik : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam waktu lebih dari
2 minggu.
Menurut NINDS
Adapun beberapa jenis dari myelitis menurut NINDS 2012 :
Myelitis yang disebabkan oleh virus.
Myelitis yang merupakan akibat sekunder dari penyakit pada
meningens dan medula spinal.
Myelitis (mielopati) yang penyebabnya tidak diketahui.
Acute Transverse Myelitis (ATM)
Definisi Acute Transverse Myelitis (ATM) menurut NINDS ( National
Institute of Neurological Disorders and stroke) 2012 adalah kelainan
neurologi yang disebabkan oleh peradangan sepanjang medulla
spinalis baik melibatkan satu tingkat atau segmen dari medulla
spinalis.
Menurut Varina, Acute Transverse Myelitis (ATM) adalah sekumpulan
kelainan neurologi yang disebabkan oleh proses inflamasi pada saraf
tulang belakang dan berakibat hilangnya fungsi motorik dan sensorik
di bawah tingkat lesi.
ATM terjadi karena berbagai etiologi seperti infeksi langsung oleh
virus, bakteri, jamur, maupun parasit, human immunodeficiency virus
( HIV ), varicella zoster, cytomegalovirus, dan TBC. Namun juga dapat
disebabkan oleh proses non - infeksi atau melalui jalur inflamasi
Faktor etiologi lain yang dikaitkan dengan kejadian ATM adalah
penyakit autoimmune sistemik (SLE, multiple sklerosis, Sjogrens
syndrome), sindrom paraneoplastik, penyakit vaskuler, iskemik
sumsum tulang belakang meskipun tidak jarang tidak ditemukannya
faktor penyebab ATM sehingga disebut sebagai "idiopatik".
Hingga saat ini, para peneliti tidak dapat menentukan secara pasti
penyebab ATM. Satu teori utama yang menyebabkan ATM adalah
imun memediasi inflamasi sebagai hasil akibat terpapar dengan
antigen viral.
Pada penyakit autoimun, sistem imun yang secara normal melindungi
tubuh terhadap organisme, melakukan kesalahan dengan menyerang
jaringan tubuh sendiri yang menyebabkan inflamsi dan pada beberapa
kasus merusak mielin medulla spinalis.
Ketika TM timbul tanpa penyakit penyerta yang tampak, hal ini
diasumsikan untuk menjadi idiopatik. TM idiopatik diasumsikan untuk
sebagai hasil dari aktivasi abnormal sistem imun melawan medulla
spinalis.
Makroskopis pada medulla spinalis yang mengalami peradangan akan
tampak edema, hiperemi dan pada kasus berat terjadi perlunakan
(mielomalasia).
ATM terjadi secara akut (terjadi dalam beberapa jam sampai
beberapa hari) atau subakut (terjadi dalam satu atau dua minggu).
Gejala umum yang muncul melibatkan gejala motorik, sensorik dan
otonom. Beberapa penderita juga melaporkan mengalami spasme
otot, gelisah, sakit kepala, demam, dan hilangnya selera.
Dari beberapa gejala, muncul empat gejala klasik ATM yaitu
kelemahan otot atau paralisis kedua lengan atau kaki, nyeri,
kehilangan rasa pada kaki dan jari jari kaki, disfungsi kandung kemih
dan buang air besar.
Nyeri adalah gejala utama pada kira- kira sepertiga hingga setengah dari
semua penderita ATM. Nyeri terlokalisir di pinggang atau perasaan yang
menetap seperti tertusuk atau tertembak yang menyebar ke kaki, lengan
atau badan .
Gejala lainnya berupa parastesia yang mendadak (perasaan yang abnormal
seperti terbakar, gatal, tertusuk, atau perasaan geli) di kaki, hilangnya
sensorik. Penderita juga mengalami gangguan sensorik seperti kebas,
perasaan geli, kedinginan atau perasaan terbakar. Hampir 80 % penderita
ATM mengalami kepekaan yang tinggi terhadap sentuhan misalnya pada
saat perpakaian atau sentuhan ringan dengan jari menyebabkan
ketidaknyamanan atau nyeri ( disebut allodinia ).
Dari anamnesis didapatkan riwayat kelemahan motorik berupa
kelemahan pada tubuh seperti paresis pada kedua tungkai yang terdai
secara progesif dalam beberapa minggu.
Kelainan fungsi sensorik berupa rasa nyeri terutama di daerah
pinggang, lalu perasaan kebas atau seperti terbakar yang terjadi
secara mendadak pada tangan maupun kaki.
Lalu kelainan fungsi otonom seperti retensi urin, urinary urgency
maupun konstipasi.
Kelainan neurologis berupa defisit motorik, sensorik dan otonom
adalah suatu titik terang untuk diagnosis mielopati
Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis ATM berupa MRI dan pungsi
lumbal. MRI direkomendasikan untuk menyingkirkan adanya lesi
struktural, terutama yang setuju untuk intervensi bedah saraf
mendesak. Seluruh saraf tulang belakang harus dicitrakan sehingga
hasil negatif dapat dihindari.
Pungsi lumbal dengan pengambilan sampel cairan cerebrospinal (CSF)
untuk menentukan adanya peradangan. Analisis isi seluler CSF akan
menentukan jumlah sel darah putih yang dapat terakumulasi dalam
cairan, yang nantinya dapat berfungsi sebagai indikator dari besarnya
peradangan.
Selain neuroimaging dari spinal cord dan laboratorium CSF, darah/ tes
serologi sering membantu dalam mengesampingkan adanya
gangguan sistemik seperti penyakit rematologi (misalnya, penyakit
Sjogren atau lupus eritematosa sistemik ), gangguan metabolisme
Rujukan: The New England Journal of Medicine (NEJM) 2010
Imunoterapi awal
Plasma exchange

Penanganan gejala dan komplikasi ATM


Bantuan pernapasan dan orofaringeal
Kelemahan motorik dan Komplikasi Imobilisasi
Kelainan tonus otot
Nyeri
Disfungsi kandung kemih dan usus
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit kronik dan lambat
berkembang dengan gejala yang telah berlangsung lama. Riwayat
penyakit dan gejala klinis pasien adalah hal yang penting, namun tidak
selalu dapat diandalkan untuk diagnosis dini. Nyeri adalah gejala
utama yang paling sering.
Diagnosis biasanya tidak dicurigai pada pasien tanpa bukti
tuberkulosa ekstraspinal.
Berdasarkan laporan WHO, kasus baru TB di dunia lebih dari 8 juta per
tahun. Diperkirakan 20-33% dari penduduk dunia terinfeksi oleh
Mycobacterium tuberculosis. Indonesia adalah penyumbang terbesar
ketiga setelah India dan China yaitu dengan penemuan kasus baru
583.000 orang pertahun, kasus TB menular 262.000 orang dan angka
kematian 140.000 orang pertahun
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium tuberculosis yang merupakan anggota ordo
Actinomicetales dan famili Mycobacteriase
Infeksi sistem saraf spinalis dapat berupa myelitis dan spondilitis tuberculosis.
Myelitis merupakan proses inflamasi akut yang mengenai suatu area di medula spinalis.
Penyakit ini secara klinis mempunyai karakteristik tanda dan gejala disfungsi neurologis
pada sistem motorik, sensorik, otonom, dan traktus saraf di medula spinalis yang
berkembang secara akut atau subakut.
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit kronik dan lambat berkembang dengan gejala
yang telah berlangsung lama. Nyeri adalah gejala utama yang paling sering.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, gambaran klinis dan gambaran
radiologis. Penatalaksanaan spondilitis tuberkulosis terdiri dari pemberian obat
antituberkulosis dengan atau tanpa intervensi bedah. Sedangkan penatalaksanaan myelitis
terdiri dari pemberian kortikosteroid beserta plasma exchange.
Prognosis keduanya bervariasi tergantung dari manifestasi klinik yang terjadi dan onset
penatalaksanaannya.