Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN KASUS

Appendicitis akut

Pembimbing Presentan
dr. Amrul Marpaung, Sp.B, M. Biomed dr. Patrick Ramos Pakpahan
dr. Gilang
dr. Tiara Ridiaseprina
dr. Dahlia
Pendamping dr. Kholisa Mardiyah
dr. Hapsari Windhy Hastuti 1
dr. Rahmi Rahma Andini
2

PENDAHULUAN
Appendicitis: Penyakit emergensi bedah yang sering
terjadi dengan angka insidensi 100 kasus dari 100.000 orang
di setiap tahunnya. Penyakit ini adalah penyakit yang dapat
menyerang segala usia terutama usia dekade ke 2 dan 3.
Penyakit ini lebih sering diderita oleh laki laki dibandingkan
perempuan dengan perbandingan 8,6% dan 6,7%.

Nyeri perut kuadran kanan bawah merupakan simptom yang


sensitif dari appendicitis. Namun hal ini tergantung dari
lokasi anatomis dari appendiks. Akibat keluhan tersebut
sering terjadi misdiagnosis ataupun delayed diagnosis yang
dapat mengakibatkan timbulya berbagai komplikasi.

(Brunicardi, 2015, Elikashvilli, 2013)


3

Apendektomi merupakan standar terapi dari


appendisitis akut. Appendektomi emergensi
dilakukan segera setelah diagnosis appendisitis
ditegakkan. Semakin cepat penanganan maka
dapat mencegah komplikasi.

( Salminen, 2015 )

Oleh karena hal tersebut maka perlu diperlukan


pengenalan lebih lanjut agar diagnosa dapat
ditegakkan hingga dapat menentukan
keputusan penanganan selanjutnya.
4

IDENTITAS
NAMA : Nn. V
Masuk RS : 05/02/2017 pukul 14.00 WIB
Tanggal lahir: 19 September 2003
USIA : 13 tahun
Status sosial : Menengah ke bawah
5

DATA DEMOGRAFIS
Alamat : Jl. Ahmad Yani RT 30 Kelurahan
KP 1, Kuala Pembuang, Seruyan
Agama : ISLAM
Suku : BANJAR
Pekerjaan : Siswa
Bahasa Ibu : Banjar
Status : Belum menikah
Pendidikan : SMP
6

Anamnesis
Keluhan Utama : Nyeri perut kanan bawah
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut
sebelah kanan sejak 3 hari. Keluhan seperti
dicubit pada perut. Keluhan semakin bertambah
sangat nyeri sejak 1 hari SMRS hingga meluas
pada perut bagian tengah dan kiri bawah.
Keluhan bertambah berat bila pasien batuk atau
melakukan aktivitas (berjalan / duduk). Keluhan
awalnya berkurang dengan pasien beristirahat
namun 1 hari SMRS keluhan tidak ada
pengurangan walau sudah minum antibiotik
(Amoxicillin).
7

Lanjutan
Keluhan disertai dengan demam, demam
yang dialami berkurang dengan obat
penurun panas. Keluhan lain mual (+)
muntah 2 3 x/hari. Nafsu makan
menurun. BAB(-), BAK (+) dbn.
R/ menstruasi teratur HPHT 1 minggu
yang lalu. Keputihan (-), berhubungan
seksual (-)
8

Riwayat penyakit dahulu :


Riwayat keluhan yang sama sebelumnya(-)

Riwayat penyakit keluarga :


Riwayat keluhan yang sama di keluarga (-),
DM (-).

Riwayat personal dan sosial


Pasien jarang makan makanan berserat. R/
minum alkohol (-)
9

PEMERIKSAAN FISIK
Tanda vital :
KU = tampak sakit sedang
Kes = Compos mentis
TD = 110/60 mmHg RR = 20 x/menit
Nadi = 82 x/menit, kuat T = 37,5 0 C

Status generalis
Kepala : normocephal, KGB leher dbn
Mata : konjungtiva ananemis, pupil isokor 3
mm/3mm
10

THORAKS
Paru

- Inspeksi : Simetris, retraksi (-)


- Palpasi : dalam batas normal, taktil fremitus simetris
- Perkusi : dalam natas normal
- Auskultasi: Wheezing(-/-), Ronkhi (-/-), ves (+/+)

Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tampak (+)
- Palpasi : Ictus cordis teraba, thrill (-)
- Perkusi : dalam batas normal
- Auskultasi : BJ I/II Normal, gallop (-), murmur (-)
Abdomen 11
- Inspeksi : Datar
- Auskultasi : Bising usus (+) normal
- Palpasi : Supel, Nyeri tekan di titik Mc. Burney
+
suprapubik, dan inguinal dextra et
sinistra
- Hepar : dalam batas normal
- Perkusi : Timpani pada 4 kuadran abdomen (+), massa (-),
ascites (-), nyeri ketok CVA (-).
Pemeriksaan lainnya
Pemeriksaan Psoas sign (+)
Pemeriksaan Dunphy sign (+)
Pemeriksaan Obturator sign (-)
Pemeriksaan Rovsing Sign (+) tetapi nyeri >> di
hipogastrium
Pemeriksaan rebound tenderness (+) ringan
Inguinal : Pembesaran KGB (-)
Ekstremitas
- Atas : akral hangat, RCT < 2 detik, sianosis (-), edema(-)
12

Assesment
1. Appendisitis akut
2. Urolithiasis
3. Acute Abdominal
4. KET
13

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Lab darah rutin (05/02/2016)
- Hb = 14,7 g% - Ht = 44 %
- Eritrosit = 4,9 x 106/mm3 - Leukosit = 19.600/mm3

- Trombosit = 286.000/mm3 - CT / BT = 5 / 2
- Diff count = 2/0/3/76/12/7
Pemeriksaan Urine
Warna = kuning muda
Kejernihan = jernih
PH = 7
Darah = positif (+)
HCG test = negatif (-)
Sedimen
Leukosit = 20 25 /LPB
Eritrosit = 10 12/LPB
14

SKOR PENILAIAN

Alvorado score : Appendicitis inflammatory


- Migrasi nyeri pada fossa illiaca (-) response score :
0 Muntah = 1
- Anorexia 1 Nyeri fossa inferior kanan = 1
- Mual muntah 1
- Nyeri pada fossa illiaca dextra 2 Rebound tenderness = 1
- Rebound tenderness 0 Termperatur 38.500 C = 0
- Demam 36,5 C 0
1 Peningkaan PMN 81 % = 1
- Leukositosis (> 10.000/mm ) 3
Nilai leukosit 19.600/mm33 = 2
2
- Shift to the left of neutrofil CRP = tidak terdapat
1 pemeriksaan
Nilai total alvorado score = 8
Maka didapatkan skor nya
sekitar 6.
15

DIAGNOSA
Appendicitis Akut + ISK

DD/
Uretrolithasis
Colic abdomen
16

TATALAKSANA
IVFD RL fls 20 tpm
Ceftriaxon vial 1 gr / 12 jam
Paracetamol fls 1 gr / 8 jam
Ranitidine amp 50 mg/ 12 jam
Puasa
Operasi cito appendectomy
17

FOLLOW UP PASIEN
Tanggal S/A O P
05/02/201 S/ Nyeri di bagian perut TD =110/80 Th/ - R/ appendectomy
7 kanan bawah (+), mual (+), mmHg - IVFD RL 20 tpm
22.00 nafsu makan menurun, N = 88 x/menit - Ranitidin 50 mg/12 h
demam (+) RR = 37.50 C - Ceftriaxon 1 gr/ 12 h
- Paracetamol 1 gr/ 8 h
A/ appendicitis akut - Puasa
06/02/201 S/ Nyeri perut (+) bertambah TD = 100/80 Th/ - R/appendectomy
7 terutama di suprapubik, mual mmHg
08.00 (+), demam (-) N = 100
A/ appendicitis akut + ISK x/menit
RR = 22x/menit
T = 36,20 C
Laporan
Laporan durante
durante operasi
operasi ::
Dilakukan
Dilakukan appendectomy
appendectomy
-- Didapatkan
Didapatkan appendics
appendics di
di regio
regio
suprapubik
suprapubik di
di belakang
belakang vesica
vesica urinaria
urinaria
-- Appendic
Appendic ganggrenosa
ganggrenosa dengan
dengan ukuran
ukuran 77
x
x22 cm
cm
-- Terdapat
Terdapat bagian
bagian iskemik
iskemik
-- Di
Di dalam
dalam rongga
rongga perut
perut terdapat
terdapat cairan
cairan
18

06/02/201 S/ Post operasi TD = 110/80 Th/ -RL 20 tpm


7 appendectomy mmHg - Ceftriaxon1 gr/ 12 h
11.00 N = 88 x/menit - Metronidazole 500 mg/
A/ post appendectomy ec RR = 22x/menit 8h
peritonitis ec T = 36,20 C - Ranitidine 50 mg/ 12 h
appendicitis - Paracetamol 1 gr/ 8 h
ganggrenous h 0 + ISK - Bila flatus (+), diet cair
07/02/201 S/Nyeri di bagian luka TD = 110/70 Th/ - Lanjutkan terapi
7 operasi mmHg - Diet lunak (bubur saring)
09.00 Demam (+) N = 82 x/menit - Mobilisasi jalan
A/ post appendectomy ec RR = 22x/menit
peritonitis ec appendicitis T = 37,60 C
ganggrenous h 1 + ISK
08/02/201 S/Nyeri di bagian luka TD = 120/80 Th/ - Lanjutkan terapi
7 operasi mmHg - Diet lunak (bubur)
09.00 Demam (+) N = 104 - Mobilisasi jalan
Hasil EKG post terapi =>
A/ post appendectomy ec x/menit HR = 75x
- /menit,
Perawatanreguler
luka
peritonitis ec appendicitis RR = 20x/menit
ganggrenous h 2 + ISK T = 37,70 C
09/02/201 S/Nyeri di bagian luka TD = 110/80 Th/ - BLPL
7 operasi mmHg - Obat pulang
09.00 Demam (-), BAB (-), BAK (+) N = 74 x/menit - Cefixime 2 x 100 mg
RR = 20x/menit - Ibuprofen tab 3 x 400 mg
A/ post appendectomy ec T = 36,80 C - Glutrop 1 x 1 tab
peritonitis ec appendicitis
ganggrenous h 3 + ISK
19

SARAN
Untuk pasien
Kontrol rutin
Pasien disarankan memperbanyak
konsumsi serat.
Perawatan luka operasi
20

PEMBAHASAN
Appendisitis adalah peradangan pada appendix
vermiformix. Penyakit ini merupakan salah satu
dari penyebab yang tersering dari bedah
emergensi dengan insidensi 100 kasus per
100.000 orang.

Klasifikasi
Appendisitis non komplikata
Appendisitis komplikata
Appendicitis perforated
Appendisitis ganggrenous

( Brunicardi, 2015)
21

PATOFISIOLOGI

Gambar. Patofisiologi Appendisitis


22

DIAGNOSIS
Anamnesis Berdasarkan teori
Nyeri pada perut kanan (+) Simptom
hingga ke suprapubik, mual Nyeri terutama kuadran kanan bawah
muntah, demam dan tidak BAB (sensitivitas 81 %, spesifisitas 53 %).
selama 3 hari. Nafsu makan Terdapat gejala gastrointestinal : nausea
menurun ( sensitivitas 58 %, spef 36 %), muntah,
dan anorexia, dapat pula diare dan
Pemeriksaan fisik konstipasi. Keluhan disertai demam , nyeri
Febris, nyeri pada titik Mc Burney saat batuk 1
(fossa illiaca dextra), rebound Pemeriksaan fisik
tenderness kurang, nyeri pada Tanda klinis : demam, nyeri pada
suprapubik. Psaos sign (+), kuadran fossa illiaca (Rovsing Sign),
obturator sign (-), rectal toucher defans muskularis (+), rebound
tenderness 2
Pemeriksaan Tanda lain : Psoas sign, obturator sign,
penunjang Blumberg sign dan rectal toucher 2
Leukositosis : 19.600/mm3, Pemeriksaan penunjang
shift to the left dengan Leukositosis, shift to the left, CPR
neutrofil segmen sebanyak meningkat, USG.
76%. PMN 81%.
( Brunicardi, 2015, William, 2008 )
PEMERIKSAA 23

Psaos sign Obturator sign


24

Mengapa terdapat beberapa


gejala yang tidak terdapat pada
pasien ?
Berdasarkan data yang didapatkan pada
pasien, keluhan migration of pain tidak
didapatkan. Menurut Mundy DG dalam
Shwartz (2015), diketahui bahwa anak anak
tidak dapat memberikan informasi yang akurat
dalam menentukan frekuensi gangguan
gastrointestinal pada anak yang sering
mengakibatkan misdiagnosis dan
keterlambatan diagnosis.
25

ALVORADO SKOR
Alvorado skor pada pasien
sebesar 8, sehingga dapat
dipastikan penyakit yang
dialami pasien adalah
appendicitis akut. 1

Kariman, et. al, 2014


Skor Alvorado > 7
menunjukkan angka
probabilitas 93% dalam
mendiagnosa appendicitis.
Sementara dengan skor 7
menunjukkan angka
probabilitas sebanyak 26%
dalam mendiagnosa
appendicitis 7
26

Skor appendisitis infrlamatory


respons didapatkan nilai
sebesar :
Muntah = 1
Nyeri fossa inferior kanan
=1
Rebound tenderness = 1
Termperatur 38.50 C = 0
Peningkaan PMN 81 % = 1
Nilai leukosit 19.600/mm3
=2
CRP = tidak terdapat
pemeriksaan

Maka didapatkan skor nya


sekitar 6. Perlu dilakukan
observasi aktif atau
laparoskopi diagnostik.
27

Apakah diperlukan
pemeriksaan lanjutan ??
Berdasarkan Skor Respon Inflamasi Appendisitis
didapatkan skor 6 yang menunjukkan perlu
dilakukan pemeriksaan lanjutan serta
diperlukan pemeriksaan laparoskopi diagnostik.
Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Humes (2006) didapatkan bahwa
pemeriksaan penunjang seperti USG dan CT
SCAN hanya dilakukan pada pada dimana
diagnosis klinik dan laboratorium tidak dapat
menegakkan appendisitis akut.
28

Hubungan nyeri suprapubik


dengan appendicitis akut
Berdasarkan letak dari
appendix, terdapat beberapa
lokasi seperti disebutkan pada
gambar di samping.

Berdasarkan keluhan yang


dialami pasien, ia mengeluh
nyeri di daerah suprapubik
(daerah simpisis pubis) yang
dimana keluhan kekakuan
abdomen dan nyeri pada titik
Untuk diagnosa sebenarnya McBurney yang menyatakan
perlu dilakukan pemeriksaan letak appendix terdapat pada
RECTAL TOUCHER. Bila hasil posisi pelvik.
positif maka dapat didapatkan
nyeri tekan (+) ( William, 2008 )
Penilaian keluhan
29

pasien

Salpingiti Appendisitis akut


s

(Bates, 2009)
30

Berdasarkan keluhan yang dialami pasien maka


didapatkan nyeri pada perut bagian kanan dan
suprapubik
Organ yang terdapat pada :
Regio inguinal dextra : Caecum, appendix, ureter,
ovarium dan tuba fallopi
Regio suprapubik : vesika urinaria, colon sigmoid,
rectum
Nyeri yang dialami pasien terlokalisir dan lebih
mengarah ke arah parietal pain. Nyeri yang bersifat
parietal yang menunjukkan adanya peradangan 4 dan
mengarah pada appendicitis atau sistisis.
Pasien sudah mengalami menstruasi sehingga ia dapat
dikatakan pasien telah dapat bereproduksi. Sehingga
keluhan yang terkait dengan peradangan pada organ
reproduksi sehingga dapat pula dilihat apakah terdapat
kehamilan atau tidak.
31

Diagnosis Banding

Keluhan yang didapatkan pasien tidak bisa mengarah kepada


diagnosa banding yang ada karena riwayat berhubungan
seksual (-), r/ keputihan (-), riwayat menstruasi juga teratur
tanpa ada keluhan sebelumnya juga tidak ada dengan hasil
- hcG pada pasien (-)

Keluhan
yang mengarah kepada gastoenteritis dapat
dikesampingkan karena biasanya disertai dengan diare.
(William, 2008)
32

Hubungan antara appendicitis


dan ISK
Eliskashvili (2012) menunjukkan terdapat
hubungan antara piuria tanpa bakteriuria yang
terdapat pada appendicitis terkait dengan adanya
inflamasi pada jaringan sekitar dari appendisitis.
Sebuah laporan kasus yang dilaporkan oleh Aliz
(2016), menunjukkan bahwa salah satu
komplikasi dari appendicitis adalah terdapat
fistula appendikovesikalis yang ditandai dengan
terdapat persisten urinary infections, recurrent
abdominal pain dan pneumaturia (khusus pada
laki laki) hal ini berkaitan dengan lokasi usus
berdekatan dengan vesika urinaria.9
33

TATALAKSANA
Appendektomi
Merupakan standar terapi untuk pasien
dengan appendisitis.
Appendektomi dapat dilakukan walau baik
pada appendisitis komplikata maupun
non-komplikata. Hal ini karena dapat
menurunkan angka proporsi dari
appendisitis komplikata (25%)1
Appendektomi yang dilakukan dapat
berupa operasi emergensi (< 12 jam)
atau operasi urgensi (12-24 jam)
tergantung dari ahli bedah dan institusi
yang ada. Karena berdasarkan penelitian
restrospektif tidak terdapat perbedaan
yang signifikan.
(Brunicardi, 2015)
34

LAPAROSKOPI VS OPEN
APPENDEKTOMI
Didapatkan beberapa meta
analisis yang menampilkan hasil
bahwa
Appendektomi laparoskopi dapat
mengurangi infeksi pada daerah
pembedahan dibanding open
appendektomi, selain itu tidak
begitu nyeri, lama perawatan yang
singkat.
Namun laparoskopi dapat
berhubungan dengan peningkatan
kejadian abses intra- abdominal
serta secara harga maka tindakan
ini lebih mahal
35

TERAPI
Terapi yang diberikan pada pasien berupa
antibiotik profilaksis dapat digunakan untuk
mencegah infeksi post operatif pada daerah
pembedahan.
Dalam operatif didapatkan complicated
appendicitis dengan peritonitis sehingga perlu
diberikan terapi broad spectrum antibiotik
( metronidazole ) selama 4 7 hari. Selain hal
itu perlu pula pemberian cairan,
pengisitrahatan usus dan dapat pula diberikan
drainase
36

DAFTAR PUSTAKA

1. Brunicardi, F. Charles, et.al. 2015. Swhartzs Principle of Surgery Tenth


Edition. New York : Mc Graw Hill Education
2. Williams, Norman S, Christopher JK Bulstrode, & P Ronnan O Connel.
2008. Bailey & Loves Short Practice of Surgery 25 th edition. London :
Hodder Arnold
3. Kariman, Hamid M.D, et.al. Evaluation of the Alvorado score in acute
abdominal pain. Ulus Travma Acil Cerr Derg. March 2014. Vol. 20, No. 2
4. Elikashvili, Inna & Lou Spina. An Evidence Based Review of Acute
Appendicitis in Childhood. Pediatric Emergency Medicine Practice.
2012. Volume 9 no. 3
5. Aliz, Denis, et. al. A Very Rare Complication of Acute Appendicitis :
Appendicovesical Fistula . Case Report in Urology. Volume 2016
37

TERIMA KASIH