Anda di halaman 1dari 8

Ruptur perineum

Epidemiologi
Hasil penelitian Puslitbang Bandung tahun 2009 -
2010
satu dari lima ibu bersalin yang mengalami ruptur
perineum akan meninggal dunia.
Prevalensi ruptur perineum terjadi pada usia 25
sampai 30 tahun sebesar 24 %
usia 32 sampai 39 tahun sebanyak 62%
Perdarahan postpartum dan laserasi jalan lahir
menjadi penyebab kematian ibu.
Etiologi
Kepala janin terlalu cepat lahir
Persalinan tidak dipimpin sebagaimana
mestinya
Perineum kaku / banyak jaringan parut
Persalinan distosia bahu
Partus pervaginam dengan tindakan
Klasifikasi
robekan perineum akut pasca persalinan dibagi menjadi 4 derajat, yaitu :
Derajat I :
robekan hanya mengenai mukosa vagina dan kulit perineum
Derajat II :
robekan yang lebih dalam mencapai otot-otot perineum tetapi tidak
melibatkan otot-otot sfingter ani
Derajat III :
robekan sudah melibatkan otot sfingter ani, dibagi menjadi 3 sub grup,
yaitu
III a :robekan mengenai < 50% ketebalan otot sfingter ani
eksterna
III b :robekan mengenai > 50% ketebalan otot sfingter ani
eksterna
III c :robekan sampai mengenai otot sfingter ani interna
Derajat IV : robekan sampai ke mukosa anus
Manifestasi klinis
Tanda robekan jalan lahir biasanya didapatkan
perdarahan dan kulit perineum terlihat
melebar dan pucat dikarenakan keluarnya
darah yang terlalu banyak.
Gejala yang sering terjadi adalah :
Pucat
Lemah
Pasien dalam keadaan menggigil pada ruptur
perineum derajat 3 dan 4.
Penatalaksanaan
tingkat 1
tidak memerlukan penjahitan.
tingkat 2
perlu dijahit kembali lapis demi lapis secara cermat setelah
diberikan anestesi lokal. Otot harus dijahit untuk
mencegah terjadinya ruang mati dan abses, dan supaya
kekuatan dasar panggul utuh kembali seperti semula
tingkat 3 dan 4
memerlukan teknik khusus yang penting ialah menemukan
kembali kedua ujung musculus sphincter ani externus
sehingga kontinuitas sfingter terbentuk kembali. Kemudian
dasar panggul dipulihkan kembali.
Komplikasi
Perdarahan
Fistula
Hematoma
Infeksi