Anda di halaman 1dari 70

Kelompok 10

Khairunnisa 1510311001
Luvia Rahmi Adriyanti 1510311004
Miftahul Nukti 1510311015
Dara Afifah Azmi 1510312008
Melita Husna 1510312059
Nurul Gina Fadhlillah 1510312062
Virna Zufti Pratiwi 1510312063
Angga Kesumah 1510312075
Skenario :Kecemasan Tn.Kardi
Terminologi
1. Ektrasistole
Denyut jantung prematur sebelum denyut jantung kembali normal
2. VES (Ventrikel Ekstra sistole)
Gelombang ventrikel yang tiba-tiba muncul pada gelombang sinus
3. Autopsi
Pemeriksaan tubuh mayat dengan jalan pembedahan untuk
mengetahui penyebab kematian, penyakit, dan sebagainya; bedah
mayat; (KBBI)
Rumusan Masalah
1. Apa yang menyebabkan keluhan keluhan pada Tn.kardi?
2. Adakah hubungan dengan usia dan JK Tn. Kardi?
3. Bagaimana interpretasi pemeriksaan yang dilakukan dokter terhadap Tn. Kardi?
4. apasaja jenis dan penyebab gangguan irama jantung?
5. apakah yang menyebabkan terdapatnya VES pd EKG sedangkan hasil lab dan Echo
normal?
6. Apasaja pemeriksaan yang bisa dilakukan pada Tn. Kardi?
7. Apasaja jenis-jenis VES?
9. Pola hidup bagaimana yang bisa disarankan pada Tn. Kardi?
10. Apa yang menyebabkn tetangga Tn. Kardi meninggal mendadak?
11. Apa saja tujuan autopsi dan jenisnya?
Hipotesis
1. Apa yang menyebabkan keluhan
keluhan pada Tn.kardi?
Rasa tidak nyaman didada:
Gangguan pada GI
Gangguan pada Pernapasan
Gangguan otot dan tulang
ganguan pada jantung
Rasa Jantung berhenti mendadak:
tanda adanya aritmia, dimana terjadi kekacauan kelistrikan jantung
2. Adakah hubungan dengan usia dan
JK Tn. Kardi?
Usia meningkatkan faktor risiko Penyakit jantung 10-14%
Jenis kelamin: risiko laki-laki dan perempuan sama, namun pada
perempuan usia produktif risiko lebih rendah (pria lebih beisiko 2-4
kali di usia produktif)
riwayat keluarga juga berpengaruh terhadap kerentanan seseorang
terkena penyakit jantung
3. Bagaimana interpretasi pemeriksaan
yang dilakukan dokter terhadap Tn. Kardi?
Gizi baik:
tidak terdapat masalah obesistas
juga tidak terjadi penurunan bb mendadak
TD 130/80 mmHg Prehipertensi perlu modifikasi lifestyle
pemeriksaan fisik jantung normal: tidak ada kelainan morfologis
ekstrasistole 5x permenit: termasuk tidak berbahaya, karena perlu
diawasi jika terdapat >6kali permenit
4. apasaja jenis dan penyebab
gangguan irama jantung?
Jenis: Penyebab:
Hipoksia : miokardium yang kekurangan oksigen menjadi
Bradikardia : iritabel
Iskemia : infark miokard dan angina menjadi pencetus
HR <60 denyut permenit
Stimulasi simpatis : menguatnya otot tonus karena penyebab
Takikardia : apapun (hypertiroid, gagal jantung kongesti, latihan fisik dll)
dapat menimbulkan aritmia.
HR> 100 denyut permenit Obatobatan : efek dari pemberian obatobatan digitalis atau
berasal dari ventrikuler bahkan obat-obatan anti arimia itu sendiri
Gangguan elektrolit : ketidak seimbangan kalium, kalsium dan
VES magnesium
VF Bradikardi : frekuensi jantung yang sangat lambat dapat
menjadi predisposisi aritmia
VT
Regangan (stretch) : hipertrofi ventrikel
berasal dari supraventrikuler Dua jenis komplikasi infark miokardium yang harus
ditanggulangi adalah :
SVT Ketidakstabilan elektris atau aritmia
AF/AFl Disfungsi mekanik atau kegagalan pompa jantung
5. apakah yang menyebabkan terdapatnya
VES pd EKG sedangkan hasil Echo normal?
EKG menggambarkan aktivitas fisik pada jantung, VES adalah kelainan
irama ventrikel yang terjadiakibat depolarisasi spontan dan
meyebabkan kontraksi ventrikel.
Echo merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat kelainan
secara morfologi
jika hasil Echo normal, maka berarti aritmia yang terjadi bukan akibat kelainan
yang bersifat stuktural
6. Apasaja pemeriksaan yang bisa
dilakukan pada Tn. Kardi?
EKG
Stress test: jika hasil EKG normal
Echo: untuk melihat kelainan struktural
Monitor holter: cara kerjanya seperti EKG, namun dapat digunakan
24jam atau bahkan 7 hari. Biasanya digunakan jika kelainan dicurigai
akibat gangguan aktifitas kelistrikan jantung namun EKG normal.
kateterisasi jantung
7. Apasaja jenis-jenis VES?
Unifokal: bentuk sama pada lead yang sama. meunjukkan asal impuls yang sama
Multifokal: bentuk beragam dalam lead yang sama. menunjukkan asal impuls yang berbeda
Interpolasi VES: muncul VES diantara 2 Bip.
VES yang berulang:
Bigemini: 1 sinus diikuti 1 VES selang seling
Trigemini: 2 Sinus diikiuti 1 VES
Quartgemini: 3 sinus diikuti 1 ves
Yang diwaspadai:
pada EKG 12 lead ditemukan >6 VES
VES Multifokal walaupun jumlahnya <6
VES coupet : VES bergandengan
R on T : VES yang mucul sebeum gelombng T selesai. walaun hanya 1 tapi ini merupakan tanda bahaya
9. Pola hidup bagaimana yang bisa
disarankan pada Tn. Kardi?
Disarankan untuk Olahraga minimal 3 kali seminggu, masing
masingnya 30 menit
Mengurangi intake garam
Diet yang seimbang
tidak merokok dan menghindari asap rokok
membatasi minuman keras dan berkafein
menghindari mengonsumsi obat diluar resep dokter, untuk
menghindari efek aritmia
10. Apa yang menyebabkn tetangga
Tn. Kardi meninggal mendadak?
beberapa penyebab meninggal mendadak
Cardiac Arrest yang tidak tertolong
Aneurisma Otak
Emboli paru
Diseksi Aorta
11. Apa saja tujuan autopsi dan jenisnya?
Tujuan dilakukannya Otopsi klinik adalah Jenis Autopsi (berdasarkan
untuk:
tujuan):
menentukan sebab kematian yang pasti.
menentukan apakah diagnosis klinik yang Autopsi Klinik
dibuat selama perawatan sesuai dengan Autopsi Forensik/Medikolegal
diagnosis postmortem,
Autopsi anatomi
mengetahui korelasi proses penyakit yang
ditemukan dengan diagnosis klinis dan
gejala-gejala klinik.
menentukan efektifitas pengobatan.
mempelaiari perjalanan lazim suatu proses
penyakit.
pendidikan para mahasiswa kedokteran dan
para dokter.
Skema
Learning Objectives
1. Gangguan irama jantung
2. Aspek medikolegal mati mendadak
SVT
DEFINISI
Supraventrikular takikardi ( SVT ) ditandai oleh frekuensi jantung yang
cepat ( 150 280/menit) dan teratur, yang berasal dari suatu rangkaian
3 atau lebih kontraksi prematur fokus supraventrikular. SVT mungkin
ditemukan pada jantung yang secara anatomi normal atau dapat
disertai dengan saluran pintas pada salah satu sindrom preeksitasi
( Wolf Parkinson White ).
Terdapat 2 mekanisme dasar terjadinya SVT yaitu automatisasi dan
reentri. Automatisasi terjadi karena terdapat fokus ektopik di dalam
atrium, AV junction atau sistem his purkinje yang menimbulkan ritme
automatik
EPIDEMIOLOGI
Kirakira pada 1/3 kasus SVT tidak dijumpai kelainan kardiovaskular.
Pada bayi dan anak kelainan ini paling sering disebabkan oleh reentri
pada sindrom WPW ( 3569%), kemudian reentry nodus AV (23%), SVT
ektopik automatik (20%) dan reentry nodus SA (15%).
SVT dapat terjadi pada penyakit jantung kongenital, yang lebih sering
dengan anomali ebstein katup trikuspidalis dan transposisi benar
( corrected ) pembuluhpembuluh darah besar.
Pada anakanak SVT dapat dipercepat dengan pemajanan pada amin
simpatomimetik yang biasanya terdapat pada dekongestan yang dijual
bebas.
SVT melibatkan komponen sistem konduksi dengan atau tanpa berkas
His dan dapat dibagi menjadi 3 kategori besar, yaitu :
1. reentrant tachycardias using an accessory pathway
2. reentrant tachycardias without an accessory pathway
3. Ectopic or automatic tachycardias
PATOFISIOLOGI
Pada jantung normal , takikardi supraventrikular paroksismal (TSVP)
biasa muncul melalui mekanisma reentran. Hal yang sama terjadi
pada WPW. Sebenarnya, adanya berkas tambahan jalur konduksi
alternatif merupakan substrat sempurna untuk reentri.
Pada WPW, denyut normal membentuk kompleks QRS yang
merupakan fusi dari dua gelombang, yang satu dikonduksi melalui
berkas Kent ( gelombang delta) dan yang satu melalui rute konduksi
normal. Walaupun berkas Kent biasanya mengkonduksi aliran listrik
lebih cepat daripada nadus AV, berkas ini juga cenderung mempunyai
periode refrakter yang lebih lama bila telah didepolarisasi.
Apa yang kemudian terjadi jika impuls sinus normal diikuti secara mendadak
oleh denyut atrium prematur? Denyut prematur ini akan dihantarkan secara
normal melalui nodus AV, karena berkas Kent mungkin masih refrakter,
sehingga memblokade konduksi melalui rute alternatif. Gelombang
depolarisasi tersebut kemudiaan akan bergerak melalui nodus AV dan
kedalam cabangcabang berkas dan miokardium ventrikel. Pada saat
gelombang depolarisasi bertemu berkas Kent pada sisi venrikel, berkas ini
mungkin sudah tidak lagi refrakter dan aliran listriknya dapat masuk kembali
ke dalam atrium. Arus listrik ini kemudian bebas berbalik turun melalui
nodus AV, dan terjadi mekanisme reentran yang bertahan dan berulang.
Hasilnya adalah TSVP. Kompleks QRS sempit karena terjadi depolarisasi
ventrikel melalui cabang berkas normal.
MANIFESTASI KLINIS
Pada bayi muda diagnosis penyakit ini bisa tidak jelas karena ketidakmampuannya
untuk berkomunikasi mengenai gejalagajalanya. Lagipula frekuensi jantung pada umur
ini normalnya cepat dan frekuensi jantung bisa sangat bertambah saat bayi menangis.
Bayi dengan SVT sering datang dengan gagal jantung kongestif karena takikardi tidak
dikenali selama waktu yang lama.
Jika serangan berlangsung 624 jam atau lebih dengan frekuensi jantung sangat cepat,
bayi dapat menderita sakit berat, dengan warna abuabu dan gelisah serta iritabel.
Pada anak satusatunya keluhan mungkin hanya berupa frekuensi jantung yang cepat.
Takipnea dan hepatomegali merupakan tanda mencolok gagal jantung, bahkan
demam dan lekositosis dapat terjadi. Jika takikardi terjadi pada janin dapat
menimbulkan gagal jantung berat dan merupakan salah satu dari penyebab terjadinya
hidrops fetalis.
SVT biasanya terjadi dengan mendadak dan berhenti juga secara
mendadak. Keadaan ini bisa dipercepat dengan adanya infeksi akut
dan biasanya terjadi saat penderita sedang beristirahat. Serangan bisa
terjadi mungkin hanya beberapa detik saja, bahkan dapat menetap
sampai berjamjam.
Frekuensi jantung biasanya melebihi 180/menit, dan kadang bisa
sampai 300/menit.
Keluhan yang dirasakan berupa frekuensi jantung yang cepat. Banyak
anak dapat mentoleransi keadaan ini, tapi serangan singkat dapat
sangat membahayakan hidupnya.
EKG
SVT pada neonatus biasanya datang dengan kompleks QRS sempit
( kurang dari 0,08 detik ). Gelombang P dapat dilihat pada EKG standar
pada hanya 5060% neonatus dengan SVT tetapi dapat dilihat dengan
hantaran transesofagus pada kebanyakan penderita.
Perbedaan dengan sinus takikardi mungkin sukar, jika frekuensi lebih dari
230 denyut/menit dan ada kelainan sumbu gelombang P ( gelombang P
normal positif pada hantaran I dan aVF ), SVT lebih mungkin.
Frekuensi jantung pada SVT juga cenderung tidak bervariasi, sedang pada
takikardi sinus bervariasi pada perubahan tonus vagus dan simpatis.
TATALAKSANA
Penanggulangannya tergantung keadaan.
Apabila tidak membahayakan atau hemodinamik penderita masih
stabil, maka dapat dicoba dengan perangsangan vagus misalnya
dengan masase karotis, valsava manuver, gagging atau merendam
muka di air dingin.
Obatobat seperti valium dan fenobarbital juga sangat efektif. Pada
kasus yang lebih berat dapat diberi injeksi adenosin atau verapamil.
MASASE KAROSTIS
PENGOBATAN DARURAT
PENGOBATAN BUKAN DARURAT
PENGOBATAN DARURAT
Pasien dengan renjatan kardiogenik, angina pektoris hebat atau gagal
jantung penting untuk menghentikan SVT dengan segera. Dengan cara :
1. rangsangan Vagus : letakkkan kantong es pada wajah pasien masase
sinus karotikus, muntah, manuver valsava, penekanan bola mata ( tidak
dianjurkan pada bayi dan anak )
2. Rangsangan mekanik dengan pemukulan dada
3. Farmakologik : Digoksin intravena, Propanolol intravena.
4. Jika gejalagejala gagal jantung kongestif berat telah terjadi, kardioversi
DC sinkron 0,52 wattdet/kg dapat dianjurkan sebagai manajemen awal.
PENGOBATAN BUKAN DARURAT
Digoksin oral 1020 mikrogram/kg/hari dibagi dalam 2 dosis Pada bayi obat ini
merupakan terapi utama karena obat ini dapat memperlambat hantaran dalam nodus
AV dan dengan demikian akan mengganggu sirkuit reentry.
Pada anak yang lebih tua dengan bukti adanya sindrom preeksitasi, digoksin dapat
menaikkan frekuensi hantaran impuls anterograd melalui saluran pintas.
Penderita ini biasanya di tatalaksana jangka lama dengan obatobat propanolol,
prokainamid atau kuinidin.
Propanolol oral 0,514 mg/kg/hari dibagi dalam 4 dosis
Verapamil oral 1020 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis
Pada bayi yang berumur dibawah 1 tahun obat ini tidak boleh diberikan karena dapat
mengurangi curah jantung dan menyebabkan hipotensi serta dapat juga terjadi henti
jantung.
Obat lain : Prokainamid 1550 mg/kg/hari dibagi dalam 4 dosis
Amiodaron10mg/kg/hari 1x selama seminggu, kemudian 5 mg/kg/hari.
PROGNOSIS
Pada bayi 90% memberi respon terhadap terapi. Akan tetapi pada
30% kasus penyakit ini akan muncul lagi saat anak berusia 8 tahun.
Bayi yang datang dengan SVT pada umur 34 bulan pertama
mempunyai insidens untuk kumat lebih rendah daripada mereka yang
datang pada umur yang lebih tua.
Penderita ini biasanya diobati selama minimum 1 tahun sesudah di
diagnosis, sesudahnya obatobat antiaritmia dapat dikurangi sedikit
demi sedikit dan penderita diawasi tandatanda kumatnya.
Ventricular
Ekstrasystoles

9/10/17
Premature Ventricular Complexes
(PVC)/Ventricular Extrasystoles
Adanya denyut prematur yang berasal dari ventrikel , muncul
lebih awal dari sinus normal dan lebar.
Tidak pernah diawali oleh gelombang P
QRS lebar (>0,12 s)
Segmen ST dan gelombang T berlawanan arah dari
kompleks QRS
Klasifikasi berdasarkan banyaknya lokasi
PVC Unifokal atau multifokal

Unifokal:
Berasal dari satu lokasi, uniform, konfigurasi sama.

Multifokal:
Berasal dari 2 atau lebih lokasi, konfigurasi berbeda.
Interpolated PVC:
PVC berada diantara 2 sinus yang jaraknya normal
Tidak diikuti oleh pause.
Berdasarkan Clinical Significance
1. Simple PVC
Single dan frequent PVC, termasuk
multiformed complexes bisa terjadi pada
orang normal.
PVC <6 tidak terlalu berbahaya
2. Complex PVC
Multifokal PVC
Couplet PVC (PVC berpasangan)
Semakin banyak PVC berpasangan, akan
meningkatkan risiko terjadi VT
R on T PVC
Gelombang T belum selesai tapi PVC sudah
muncul diatas gelombang T
Sangat berbahaya
Risiko VF besar
PVC berulang:
Bigeminy (1 sinus, 1 PVC),
Trigeminy (2 sinus, 1 PVC)
Penentuan lokasi awal PVC
9/10/17
PVC dari Ventrikel Kanan
- PVC yang berasal dari ventrikel kanan akan ditemukan gambaran
LBBB
- Bisa berasal dari apeks ventrikel kanan

- Gambaran yang bisa ditemukan: (William)


Pada V1 akan ditemukan W shape
Pada V6 akan ditemukan M shape
PVC dari Ventrikel Kiri

PVC yang berasal dari ventrikel kanan akan ditemukan gambaran


RBBB
Bisa berasal dari anterosuperior atau inferoposterior area
Gambaran yang bisa ditemukan: (Morrow)
Pada V1 akan ditemukan M shape
Pada V6 akan ditemukan W shape
Ventricular tachycardia
Ventricular Fibrilation
Kompleks QRS lebar
Frekuensi 140-250
Gejala klinis : Berdebar, Kehilangan denyut (skip pedbeat), Denyut
yang tiba-tiba terasa keras, Sesak nafas, Dizziness, Nyeri dada Hampir
sinkop sampai sinkop
Ventricular Fibrilation
Ventricular fibrillationis the most serious cardiac
rhythm disturbance. The lower chambers quiver and the
heart can't pump any blood, causing cardiac arrest
Komplek QRS yang tidak dapat ditentukan. Tidak ada gelombang P, QRS, atau
T yang dapat dikenali. Gelombang pada garis dasar terjadi antara 150-500
kali/menit
Irama : tidak dapat ditentukan
Amplitudo : diukur dari puncak ke palung. Amplitudo biasanya digunakan
secara subjektif untuk menggambarkan VF sebagai halus (puncak ke palung
2-5 mm), medium atau sedang (5 sampai < 10 mm), kasar (10 sampai < 15
mm), atau sangat kasar (> 15 mm).
Penanganan utama pada VF adalah dngan defibrilasi. Defibrilasi
nonsynchronized menggunakan energi 360 Joule gelombang monofasik atau
120-200 Joule gelombang bifasik.
Otopsi
Otopsi

Definisi - Otopsi berasal dari kata auto yang berarti sendiri dan opsis
yang berarti melihat. Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh
mayat, meliputi pemeriksaan bagian luar maupun bagian dalam,
dengan tujuan menemukan proses penyakit atau adanya cedera
Macam-macam otopsi

Otopsi Anatomi
Otopsi ini dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas
kedokteran. Bahan yang dipakai adalah mayat yang dikirim ke rumah sakit
yang setelah disimpan 2 x 24 jam di laboratorium ilmu kedokteran kehakiman
tidak ada ahli waris yang mengakuinya
Otopsi Klinik
Otopsi ini dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat suatu
penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang pasti,
menganalisa kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis postmortem,
mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan diagnosis klinik dan
gejala-gejala klinik
Otopsi Forensik / Medikolegal
Otopsi ini dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat
suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan,
maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan
dengan adanya penyidikan suatu perkara
Pemeriksaan Penunjang

Pada otopsi juga dilakukan prosedur laboratorium yaitu


Sediaan histopatologi dari masing-masing organ
Pemeriksaan toksikologi
Pemeriksaan bakteriologi
Dalam hal ada dugaan sepsis diambil darah dari jantung dan sediaan limpa untuk
pembiakan kuman
Sediaan apus bagian korteks otak, limpa dan hati. Mungkin perlu
dilakukan untuk melihat parasit malaria
Darah dan cairan cerebrospinalis diambil untuk pemeriksaan analisa
biokimia
Pemeriksaan urine dan feces
Usapan vagina dan anus, utamanya pada kasus kejahatan seksual
Cairan uretra
Aspek medikolegal otopsi

Aspek hukum dari pelaksanaan otopsi :


Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
Pasal 133 KUHAP
Pasal 134 KUHAP
Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009
Pasal 118
Pasal 122
Pasal 124
Kepentingan otopsi bagi
aparat penegak hukum
Terbentuknya keyakinan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana
didasarkan pada hasil pemeriksaan alat-alat bukti yang dikemukakan
pada proses persidangan
Cara yang dapat dilakukan untuk pembuktian perkara pidana antara lain
adalah meminta bantuan dokter sebagai saksi yang dapat membuat
keterangan visum pada korban dan otopsi pada korban yang telah mati
Pasal 183 KUHAP
Pasal 184 KUHAP
Pasal 186 KUHAP
Pasal 1 KUHAP
pasal 10 Surat Keputusan Menteri Kehakiman No.M04.UM.01.06 Tahun
1983
Kesimpulan
Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, meliputi pemeriksaan
bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan menemukan proses
penyakit atau adanya cedera
Otopsi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh seorang
dokter untuk membuktian perkara pidana. Aspek medikolegal dari
pelaksanaan otopsi adalah KUHAP pasal 133, 134, Undang-undang
Kesehatan No.36 Tahun 2009 pasal 118, 122, dan 124
Dokter sering sekali mendapat hambatan-hambatan dalam
pemeriksaannya diantaranya adalah :
keberatan dari pihak keluarga yang dapat dilatarbelakangi oleh pandangan
keluarga mengenai prosedur otopsi yang akan memperlama waktu penguburan,
penolakan didasarkan agama, dll.