Anda di halaman 1dari 27

KO-INFEKSI TB-

HIV
Miranda Alaska
Desi Mareta Alfina
Felicia Linardi
Dyah Rahayu Utami
EPIDEMIOLOGI
3% penduduk indonesia merupakan pasien TB dengan
status HIV positif
TB merupakan infeksi oportunistik terbanyak (49%) pada
orang dengan HIV/AIDS
Di Indonesia menurut data Kementerian Kesehatan RI
hingga akhir Desember 2010 secara kumulatif jumlah
kasus AIDS yang dilaporkan berjumlah 24.131 kasus
dengan infeksi penyerta terbanyak adalah TB yaitu
sebesar 11.835 kasus (49%).
TUBERKULOSIS
Penyakit infeksius dapat mengenai organ paru maupun
ekstra paru
Penularan TB melalui droplet (batuk 3000 droplet; bersin
1000000 droplet)
Pasien TB yang tidak diobati dalam 5 tahun akan:
50% meinggal
30% semubuh dengan daya tahan tubuh tinggi
20% kasus kronik yang menular
H I V/ A I D S
Human immunodeficiency virus meruapakn virus RNA
family retroviridae
penularan HIV melalui kontak dengan cairan tubuh
penderita HIV/AIDS
AIDS adalah gejala berkurangnya kemampuan pertahanan
diri yang disebabkan penurunan kekebalan tubuh karena
virus HIV
Infeksi HIV Akut
Infeksi HIV akut atau infeksi HIV primer atau sindrom
serokonversi akut
Sekitar 40% - 90% infeksi HIV baru, memiliki gejala.
Jangka waktu sejak terpajan sampai timbulnya gejala
sekitar 2-4 minggu, gejalanya seperti mononukleosis
infeksiosa (glandular-fever): demam, ruam, pegal-pegal
dan limpadenopati. Terkadang pasien mengalami sindrom
saraf akut yang sering kali sembuh sendiri
Tes serologi (+) setelah 4-12 minggu terinfeksi
Pada orang dewasa terdapat periode laten yang berlangsung lama dan
bervariasi dari terinfeksi HIV hingga onset gejala HIV dan AIDS.
Seseorang yang terinfeksi bisa tidak memiliki gejala sampai 10 tahun
atau lebih.
Ketika infeksi HIV terus berkembang dan sistem kekebalan tubuh
menurun maka pasien akan lebih rentan terkena infeksi : TB, pneumonia,
infeksi jamur pada kulit, orofaring dan herpes zoster, meningitis
kriptokokus, Sarkoma Kaposi. Beberapa pasien dapat mengalami gejala
konstitusional (demam dan penurunan berat badan dengan penyebab
yang tidak jelas) dulu dikenal dengan nama AIDS-related complex (ARC).
Beberapa pasien mengalami diare kronik dengan diikuti penurunan berat
badan sering dikenal sebagai slim disease.
Pada stadium lanjut jika pasien tidak mendapat ART maka mereka
biasanya meninggal dalam waktu < 2 tahun. Stadium lanjut ini kadang
dikenal sebagai fullblown AIDS.
KO-INFEKSI TB-HIV
TB merupakan penyebab utama kematian pada ODHA
(sekitar 40-50%). Kematian yang tinggi ini terutama pada
TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru yang kemungkinan
besar disebabkan keterlambatan diagnosis dan terapi TB
60% ODHA yang terinfeksi kuman TB akan menjadi sakit
TB aktif.
jumlah pasien ko-infeksi TB-HIV di dunia sebanyak 14 juta
orang (80% di Sub-Sahara Afrika; 3 juta di Asia Tenggara)
Keterangan:
a. Tanda-tanda kegawatan yaitu bila dijumpai salah satu dari tanda-
tanda berikut: frekuensi pernapasan > 30 kali/menit, demam > 390C,
denyut nadi > 120 kali/menit, tidak dapat berjalan tanpa bantuan.
b. BTA Positif = sekurang-kurangnya 1 sediaan hasilnya positif; BTA
Negatif = bila 2 sediaan hasilnya negatif.
c. Pengobatan Pencegahan Kotrimoksasol = PPK.
d. Termasuk penentuan stadium klinis (clinical staging), pemeriksaan
jumlah CD4 (bila tersedia fasilitas) dan rujukan untuk layanan HIV.
e. Pemeriksaan-pemeriksaan dalam kotak tersebut harus dikerjakan
secara bersamaan (bila memungkinkan) supaya jumlah kunjungan
dapat dikurangi sehingga mempercepat penegakan diagnosis.
f. Pemberian antibiotik (jangan golongan fluorokuinolon) untuk
mengatasi bakteri tipikal dan atipikal.
g. Pneumonia Pneumocystis jirovecii = PCP.
h. Anjurkan untuk kembali diperiksa bila gejala-gejala timbul lagi.
PENGOBATAN KO-INFEKSI TB-
HIV
Kategori pengobatan TB tidak dipengaruhi oleh status HIV
pada pasien TB tetapi mengikuti Buku Pedoman Nasional
Program Pengendalian TB (BPN PPTB). Pada prinsipnya
pengobatan TB pada pasien ko-infeksi TB HIV harus
diberikan segera sedangkan pengobatan ARV dimulai
setelah pengobatan TB dapat ditoleransi dengan baik,
dianjurkan diberikan paling cepat 2 minggu dan paling
lambat 8 minggu.
1. Pengobatan TB pada ODHA yang belum dalam pengobatan ARV
Bila pasien belum dalam pengobatan ARV, pengobatan TB dapat segera
dimulai. Jika pasien dalam pengobatan TB maka teruskan pengobatan
TB-nya sampai dapat ditoleransi dan setelah itu diberi pengobatan ARV.
Keputusan untuk memulai pengobatan ARV pada pasien dengan
pengobatan TB sebaiknya dilakukan oleh dokter yang telah mendapat
pelatihan tatalaksana pasien TB-HIV.
2. Pengobatan TB pada ODHA sedang dalam pengobatan ARV
Bila pasien sedang dalam pengobatan ARV, sebaiknya pengobatan TB
dimulai minimal di RS yang petugasnya telah dilatih TB-HIV, untuk
diatur rencana pengobatan TB bersama dengan pengobatan ARV
(pengobatan ko-infeksi TB-HIV). Hal ini penting karena ada banyak
kemungkinan masalah yang harus dipertimbangkan, antara lain:
interaksi obat (Rifampisin dengan beberapa jenis obat ARV), gagal
pengobatan ARV, IRIS atau perlu substitusi obat ARV.
Keterangan:
*) EFV tidak dapat digunakan pada trimester I kehamilan (risiko
kelainan janin) sehingga penggunaan pada Wanita Usia Subur
(WUS) harus mendapat perhatian khusus. Jika seorang ibu hamil
trimester ke 2 atau ke 3 sakit TB, paduan ART yang mengandung
EFV dapat dipikirkan untuk diberikan.
**) Paduan yang mengandung NVP dapat digunakan bersama
dengan paduan OAT yang mengandung Rifampisin, bila tidak ada
alternatif lain.
Pemberian NVP pada ODHA perempuan dengan jumlah CD4 >
250/mm3 harus hati-hati karena dapat menimbulkan gangguan
fungsi hati yang lebih berat atau meningkatnya hipersensitifitas.
Setelah pengobatan dengan Rifampisin selesai, NVP dapat
diberikan kembali. Waktu mengganti kembali (substitusi) dari
EFV ke NVP tidak diperlukan lead-in dose (langsung dosis
penuh).
DIAGNOSIS TB PADA ANAK TERINFEKSI HIV

Tanpa konfirmasi bakteriologi, diagnosis TB anak terutama


berdasarkan 4 hal yaitu: 1) kontak dengan pasien TB dewasa
terutama yang BTA positif; 2) uji tuberkulin positif ( 5 mm pada
anak terinfeksi HIV); 3) gambaran sugestif TB secara klinis (misalnya
gibbus) dan 4) gambaran sugestif TB pada foto toraks.
Diagnosis TB pada anak terinfeksi HIV lebih sulit dibandingkan yang
tidak terinfeksi HIV karena: uji tuberkulin sering negatif. gagal
tumbuh merupakan gejala utama anak terinfeksi HIV dan anak sakit
TB. kelainan foto toraks pada anak terinfeksi HIV sering
disebabkan gejala respiratori selain karena sakit TB.
PENGOBATAN TB PADA ANAK
TERINFEKSI HIV
Tuberkulosis pada anak terinfeksi HIV (selain TB milier, meningitis TB dan TB
tulang) harus diberikan 4 macam obat (RHZE) selama 2 bulan pertama
dilanjutkan RH sampai minimal 9 bulan.
Pada meningitis TB dan TB milier diberikan RHZES selama 2 bulan pertama
dilanjutkan RH sampai 12 bulan
Pada TB tulang diberikan RHZE selama 2 bulan pertama, dilanjutkan RH
sampai 12 bulan
Dosis OAT yaitu INH 10 mg/KgBB/hari (maksimal 300 mg), Rifampisin 15
mg/KgBB/hari (maksimal 600 mg), PZA 35 mg/KgBB/hari (maksimal 2000 mg),
Etambutol 20 mg/KgBB/hari (maksimal 1250 mg) dan Streptomisin 20
mg/KgBB/hari (maksimal 1000 mg).
TERIMA KASIH