Anda di halaman 1dari 17

Penilaian Fungsi Respirasi

Tri Kurniawan, S.Ked


Nurul Salmah Alia Dita, S.Ked
Mia Esta Poetri Afdal Faisal, S.Ked
Retrisia Rachmadina, S.Ked
Sistem Respirasi
Fungsi utama sistem respirasi adalah untuk menghirup oksigen dari
lingkungan eksternal dan menyediakannya bagi sel- sel tubuh serta
membuang karbon dioksida yang diproduksi oleh metabolisme sel
keluar dari tubuh (Levitzky, 2013)
Pernafasan

Pernafasan dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu ventilasi, difusi, dan
perfusi.
Proses pernafasan dimulai dari masuknya oksigen melalui mulut
atau hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus sampai
dengan alveoli. Dari alveoli oksigen berdifusi masuk ke dalam darah
dan dibawa oleh eritrosit (sel darah merah). Dalam darah, oksigen
dibawa ke jantung kemudian dipompakan oleh jantung untuk
diedarkan ke seluruh tubuh dan digunakan sampai tingkat sel.
Oksigen masuk ke dalam sel dan di dalam mitokondria digunakan
untuk proses-proses metabolisme yang penting untuk kelangsungan
hidup. Sedangkan karbon dioksida berjalan arah sebaliknya dengan
oksigen (Guyton dan Hall, 2008).
Anatomi
Ventilasi
Ventilasi paru adalah proses masuk dan keluarnya udara melalui sistem
respirasi.
Ventilasi melibatkan dua proses, yaitu inspirasi (pemasukan udara) dan
ekspirasi (pengeluaran udara). Kedua proses ini dapat dicapai apabila
terjadi perbedaan tekanan udara.
Prinsip pada ventilasi ini ialah udara mengalir dari tekanan yang lebih
tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Perbedaan tekanan ini dibantu oleh
kinerja otot-otot pernafasan dan dipengaruhi oleh volume dan kapasitas
paru, resistensi aliran udara, dan daya kembang atau compliance paru
(Guyton dan Hall, 2007).
Volume Paru/Kapasitas Definisi Nilai Rata-Rata (ml)

Volume/Kapasitas Volume Alun Nafas (Tidal Volume, volume udara yang diinspirasi dan
VT) diekspirasi setiap kali bernafas
normal
500

Paru Volume Cadangan Inspirasi volume udara ekstra yang dapat


(Inspiratory Reserve Volume, IRV) diinspirasi setelah volume tidal
Volume Cadangan Ekspirasi volume udara yang masih bisa
3000

1100
(Expiratory Reserve Volume, ERV) dikeluarkan dengan melakukan
ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi
normal
Volume Residu (Residual Volume, volume udara yang masih tetap 1200
RV) berada dalam paru setelah
ekspirasi kuat
Kapasitas Inspirasi (Inspiratory jumlah udara yang dapat dihirup 3500
Capacity, IC = IRV + VT) mulai pada tingkat ekspirasi normal
dan mengembangkan parunya
sampai jumlah maksimal
Kapasitas Vital (Vital Capacity, VC jumlah udara maksimal yang dapat 4600
= IRV+VT+ERV) dikeluarkan dari paru setelah
terlebih dahulu mengisi paru
secara maksimal dan kemudian
mengeluarkannya sebanyak-
banyaknya

Kapasitas Vital Paksa (Forced Vital volume total dari udara yang 4800
Capacity, FVC) dihembuskan dari paru-paru
setelah inspirasi maksimum yang
diikuti oleh ekspirasi paksa
minimum
Kapasitas Paru Total (Total Lung volume maksimal saat paru dapat 5800
Capacity, TLC = IC+FRC) dikembangkan sebesar mungkin
dengan inspirasi paksa
Difusi
Setelah alveoli ditukar dengan udara segar, tahapan yang
selanjutnya terjadi dalam proses respirasi adalah difusi
oksigen dari alveoli ke pembuluh darah paru dan difusi
karbondioksida kearah sebaliknya. Dinding alveolus
sangat tipis dan di dalamnya terdapat jaringan kapiler
yang padat dan saling berhubungan, sehingga jelas
bahwa gas alveolus berada sangat dekat dengan darah
kapiler. Pertukaran gas antara udara alveolus dan
pembuluh darah paru terjadi melalui membran di
seluruh bagian terminal paru, yaitu membran alveolus
berkapiler tipis. Yang mendorong untuk terjadinya
pertukaran ini adalah selisih tekanan parsial antara
daerah dan fase gas (Guyton dan Hall, 2007).
Pefusi
Proses perfusi adalah penyebaran darah yang sudah teroksigenasi ke
seluruh paru dan jaringan tubuh. Bila oksigen telah berdifusi dari alveoli
ke dalam darah paru, oksigen terutama ditranspor dalam bentuk
gabungan dengan hemoglobin ke kapiler jaringan dimana oksigen
dilepaskan untuk dipergunakan oleh sel. Dalam sel jaringan oksigen
bereaksi dengan berbagai bahan makanan membentuk sejumlah besar
karbondioksida. Karbondioksida ini masuk ke dalam kapiler jaringan
dan ditranspor kembali ke paru.
Pengukuran Fungsi Paru
Uji faal paru bertujuan untuk mengetahui apakah fungsi paru seseorang individu
dalam keadaan normal atau abnormal.
Secara lengkap uji faal paru dilakukan dengan menilai fungsi ventilasi, difusi gas,
perfusi darah paru dan transport gas O2 dan CO2 dalam peredaran darah.
Untuk keperluan praktis dan uji skrining, biasanya penilaian faal paru seseorang
cukup dengan melakukan uji fungsi ventilasi paru. Apabila fungsi ventilasi nilainya
baik, dapat mewakili keseluruhan fungsi paru dan biasanya fungsi-fungsi paru
lainnya juga baik. Penilaian fungsi ventilasi berkaitan erat dengan penilaian mekanika
pernapasan.
Spirometri
Spirometri merupakan suatu metode sederhana yang dapat mengukur
sebagian terbesar volume dan kapasitas paru-paru.
Spirometri merupakan suatu pemeriksaan yang menilai fungsi
terintegrasi mekanik paru, dinding dada dan otot-otot pernapasan
dengan mengukur jumlah volume udara yang dihembuskan dari
kapasitas paru total (TLC) ke volume residu.
Spirometri merekam secara grafis atau digital volume ekspirasi paksa
dan kapasitas vital paksa.
Jenis gangguan fungsi paru dapat digolongkan menjadi dua yaitu
gangguan fungsi paru obstruktif (hambatan aliran udara) dan restriktif
(hambatan pengembangan paru).
Indikasi Spirometri
1. Diagnostik : evaluasi individu yang mempunyai gejala, tanda, atau hasil
laboratorium yang abnormal; skrining individu yang mempunyai risiko penyakit
paru; mengukur efek fungsi paru pada individu yang mempunyai penyakit paru;
menilai risiko preoperasi; menentukan prognosis penyakit yang berkaitan
dengan respirasi dan menilai status kesehatan sebelum memulai program
latihan.
2. Monitoring : menilai intervensi terapeutik, memantau perkembangan penyakit
yang mempengaruhi fungsi paru, monitoring individu yang terpajan agen
berisiko terhadap fungsi paru dan efek samping obat yang mempunyai
toksisitas pada paru.
3. Evaluasi kecacatan/kelumpuhan : menentukan pasien yang membutuhkan
program rehabilitasi, kepentingan asuransi dan hukum.
4. Kesehatan masyarakat : survei epidemiologis (skrining penyakit obstruktif dan
restriktif) menetapkan standar nilai normal dan penelitian klinis.
Kontraindikasi Spirometri
Kontraindikasi absolut meliputi: Peningkatan tekanan intrakranial,
space occupying lesion (SOL) pada otak, ablasio retina, dan lain-lain.
Sedangkan yang termasuk dalam kontraindikasi relatif antara lain:
hemoptisis yang tidak diketahui penyebabnya, pneumotoraks, angina
pektoris tidak stabil, hernia skrotalis, hernia inguinalis, hernia
umbilikalis, Hernia Nucleous Pulposus (HNP) tergantung derajat
keparahan, dan lain-lain.
Interpretasi Hasil Pemeriksaan
Fungsi Paru Normal

Hasil spirometri normal


menunjukkan FEV1 >80% dan FVC
>80%.
Obstructive Ventilatory Defects (OVD)
Gangguan obstruktif pada paru, Ketika sudah ditetapkan diagnosis OVD,
dimana terjadi penyempitan saluran maka selanjutnya menilai: beratnya
napas dan gangguan aliran udara di obstruksi, kemungkinan reversibelitas
dalamnya, akan mempengaruhi kerja dari obstruksi, menentukan adanya
pernapasan dalam mengatasi hiperinflasi, dan air trapping.
resistensi nonelastik dan akan
bermanifestasi pada penurunan
volume dinamik. Kelainan ini berupa
penurunan rasio FEV1 :FVC <70%.
FEV1 akan selalu berkurang pada
OVD dan dapat dalam jumlah yang
besar, sedangkan FVC dapat tidak
berkurang.
Restrictive Ventilatory Defects (RVD)
Gangguan restriktif yang menjadi
masalah adalah hambatan dalam
pengembangan paru dan akan
mempengaruhi kerja pernapasan
dalam mengatasi resistensi elastik.
Manifestasi spirometrik yang biasanya
timbul akibat gangguan ini adalah
penurunan pada volume statik. RVD
menunjukkan reduksi patologik pada
TLC (<80%).
Penilaian Hasil Pemeriksaan Spirometri
TERIMA KASIH