Anda di halaman 1dari 19

Oleh :

Mirza Ferdyaniza
Fatih Rabbani
Fikri Irwan Maulana
Warisatul Anbiya
Akidah adalah ikatan dan perjanjian yang kokoh. Pengertian
akidah secara istilah menurut beberapa tokoh :

1. Hassan al-Banna : merupakan beberapa perkara yang wajib diyakini


kebenarannya dalam hati, Mendatangkan ketentraman jiwa, dan
mejadi keyakinan tanpa keraguan
2. Abu bakar al-Jazairi : Merupakan sejumlah kebenaran yang dapat
diterima dengan mudah oleh manusia dengan akal, wahyu, dan fitrah.
3. Yusuf al-Qardhawi : akidah islam bersifat syumuliyah atau
sempurna, karena tidak pernah membagi manusia diantara dua tuhan (
baik dan jahat ) dan berdasar kepada akal dan hati.

Dari pendapat tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa akidah


yang benar dapat dipahami oleh akal sehat dan diterima dengan hati
karena sesuai dengan fitrah manusia.
Alquran mengemukakan kata iman
menggunakan kata yang bervariasi, diantaranya
indifinite imanan sebanyak 7 kali. Kata imanan
banyaknya sebanding dengan kata kufr dalam
Alquran. Dengan ini, membuktikan keseimbangan
kata ini merupakan keajaiban Alquran.
Selanjutnya, kata difinite al Iman disebutkan
sebanyak 17 kali beserta kata al kufr yang
sebanding dengannya.
Banyak ayat dalam Alquran yang mengatakan
perbedaan iman al Kamil (sempurna) dengan iman
naqis (cacat), salah satunya terdapat dalam surat Al-
Hujurat (49 : 14) yang berbunyi :

Orang-orang Arab Badui berkata, Kami telah


beriman. Katakanlah (kepada mereka), Kamu belum
beriman, tetapi katakanlah Kami telah tunduk (Islam),
karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika
kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak
akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu.
Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang
Dalam surat tersebut menceritakan bahwa orang orang Arab Badui seringkali
mengucapkan kata-kata Aku beriman berulang kali. Mereka menganggap telah beriman
secara al-Kamil (sempurna). Padahal, walaupun sering diucapkan secara berulang kali itu
bukanlah termasuk iman al-Kamil, malahan cenderung munafik apabila tidak dikerjakan
secara nyata, sebagaimana yang telah dikisahkan oleh Allah SWT dalam surat Ali Imran (3 :
167) :

dan untuk menguji orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan, Marilah berperang
di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu). Mereka berkata, Sekiranya kami mengetahui
(bagaimana cara) berperang, tentulah kami mengikuti kamu. Mereka pada hari itu lebih dekat
kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak
sesuai dengan isi hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
Seorang mukmin sejati adalah orang yang beriman
kepada Allah dan menyaksikan kebenaran rasulnya dalam
segala apa yang disampaikannya, kemudian mereka
langsung tersentuh tanpa ragu untuk mengikutinya. Ciri-
ciri orang mukmin ini juga telah disampaikan oleh Allah
dalam surat Al-Hujurat (49:15) :






Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya
adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad
dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah
orang-orang yang benar.
Orang-orang mukmin yang mantap imannya
hanyalah mereka yang membuktikan pengakuan
iman mereka dengan perkataan dan perbuatan.
Iman yang kamil (sempurna) itu terhujam mantap
di dalam hati (qalb). Iman yang ada dalam qalb
dapat berubah-ubah bertambah ataupun
berkurang tergantung amal perbuatannya.
Sekarang bagaiman proses iman itu sendiri
dalam hati tersebut firman Allah dalam QS Al-
Anfal (8:2) :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah


mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar
hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan
hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,
Keimanan seseorang bertambah ketika merasa
dekat AllaH SWT. Dalam kasus Perang Uhud,setelah
ada berita bahwa pasukan musuh akan menyerang
orang beriman menjawab cukuplah Allah menjadi
penolong kami dan Allah SWT adalah sebaik-baik
pelindung.
Tahapan pertama dari proses masuknya iman
yaitu adanya gejolak hati. Ini terjadi baik karena takut
akibat membayangkan siksa Allah atau mengingat
rahmat dan kasih sayang-Nya. Tahapan kedua yaitu
berdzikir. Dzikir pada mulanya berarti mengucapkan
dengan lidah. Walaupun makna ini kemudian
berkembang menjadi mengingat. Dari sini pula
menjadi teringat dengan janji pahala dan siksa.
Tahapan ketiga terjadi pemantapan iman dalam diri
seorang.
Hal tersebut dapat di pahami dari pernyataan nabi Ibrahim
AS dalam QS Al-Baqarah (2:260) :






Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, Tuhanku,
perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau
menghidupkan orang mati. Allah berfirman, Belum
percayakah engkau? Dia (Ibrahim) menjawab, Aku
percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap). Dia
(Allah) berfirman, Kalau begitu, ambillah empat ekor
burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di
atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian
panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu
dengan segera. Ketahuilah bahwa Allah Maha
Perkasa, Maha Bijaksana."
Islam menempatkan syahadat tain sebagai pintu gerbang
bahwa seseorang telah memiliki akidah islam. Syahadat tain
merupakan kunci pembuka pintu masuk ke dalam wilayah
Islam. Konsekuensi dari kalimat syahadat tain adalah menerima
hukum-hukum Allah dan rasul-Nya. Makna kata syahadat tain
diantaranya :
1. Konsepsi ketuhanan yang benar. Akal manusia tidak sanggup
mengetahui alam yang luas baik yang awal maupun yang akhir
kecuali Allah taala telah mengajarkannya.
2. Sifat-sifat ketuhanan semuanya tidak mungkin terhimpun
dalam 2 atau lebih zat yang sama karena akan saling menguasai.
3. Jika seseorang melihat konsepsi ketuhanan terhadap dirinya
dan alam semesta, niscaya semuanya akan berhajat kepada
Allah.
4. Jika seseorang mendalami salah satu ilmu pengetahuan, maka
bertambah kuatlah imannya kepada Allah SWT.
Dampak dari pemahaman kalimat syahadat dalam
kehidupan manusia :
1. tidak mungkin orang yang imannya benar akan
menjadi seseorang yang berpandangan sempit
2. dapat melahirkan harga diri yang terhormat,
Karena dia tahu, bahwa semuanya milik Allah
3. tidak ada jalan keselamatan dan keberuntungan
selain dari Allah.
4. Tidak akan mudah dihinggapi rasa takut dan
putus asa karena ia dekat dengan Allah.
5. Menjadikan seseorang terikat dengan hukum-
hukum Allah.
Masalah qada dan qadar dapat disatukan
menjadi masalah takdir. Masalah takdir adalah
salah satu masalah filosofis yang amat pelik dan
rumit sejak abad pertama hijriah yang telah
menjadi perbincangan di antara para pakar
muslim. Berbagai pemikiran masuk dan memiliki
kesimpulan yang berbeda-beda yang berdampak
pada pola pikir umat Islam.
Allah menciptakan manusia beserta akal,
kemauan, dan kemampuan. Karenanya, dengan
akal itu manusia dapat memilih dalam berpikir
yang benar, sebagaimana dalam surat Al-Insan
(76:30) :



Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu),


kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah
Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."
Qada artinya ketetapan, sedangkan qadar
artinya batasan,ukuran.Kata ukuran tersebut
seringkali disalah artikan oleh orang islam yang
membuat mereka menjadi pesimis seperti
kelompok jabariyah.Sebenarnya kata ukuran tidak
menunjukkan pengertian deterministik(ukuran
mati), tetapi yang dimaksud adalah terbatas. Yang
dapat lebih dipahami adalah bahwa ciptaan Allah
SWT memiliki batasan, sedangkan Allah SWT
tidak terbatas. Maksudnya adalah bahwa manusia
masih bisa menjadi lebih dari apa yang telah
ditetapkan padanya selama ia berusaha
bersungguh-sungguh, baik dalam berdoa maupun
bertawakkal, yang mana perubahan itu masih
dalam batasan manusia.
Hal tersebut terdapat dalam Alquran surat Al-
Qamar (54:49) :

Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu


menurut ukuran.
Perpaduan antara qadha dan qadar adalah
takdir. Takdir bukanlah sesuatu yang tidak akan
diketahui sebelum terjadi, akan tetapi takdir adalah
hal yang dapat diketahui dari awal. Takdir merupakan
sebuah hukum. Sebagai contoh, saat orang berbuat
jahat maka ia akan berdosa, dan saat ia berbuat baik
maka akan dapat pahala. Orang yang taat kepada
Allah dan rasul-Nya akan dibalas surga, dan yang
kafir akan dibalas neraka. Itu adalah takdir. Manusia
tidak dapat mengubah hukum ketetapan (takdir)
tersebut, yang dapat diubah adalah posisi
manusianya. Sebagai contoh, orang yang bodoh bias
menjadi pintar, orang yang miskin bisa menjadi kaya,
orang yang kafir bisa menjadi muslim. Semua itu
dapat dilakukan dengan ikhtiar makhluk itu sendiri.
Hal inilah yang disebut dengan nasib. Makhluk tidak
dapat mengubah takdir, akan tetapi dapat mengubah
nasib. Semua makhluk dana lam semesta berjalan di
atas takdir Allah SWT.
Dalam kehidupannya, manusia dihadapkan
dengan nikmat dan bencana, bahagia dan sengsara,
sukses dan gagal. Untuk itu, sangat diperlukan
keimanan yang kokoh dalam kehidupan supaya
manusia tidak terombang-ambing dalam keadaan.
Sebagai contoh saat seseorang sedang mendapat
kebahagiaan, maka ia tidak akan terlena dengannya,
yang dapat menyebabkan ia berbuat hal hal yang
dilarang syariat. Sebaliknya, saat ia dirundung
kesusahan, maka ia tidak akan pesimis karena ia
mengetahui bahwa itu hanyalah cobaan yang dapat
menghapuskan dosa dan dapat membuatnya menjadi
orang yang lebih kuat.
Hal ini terdapat dalam cuplikan surat Al-Baqarah
(2:286) :
Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya.