Anda di halaman 1dari 38

MAKSUD DAN TUJUAN IRIGASI

Cut Suciatina Silvia, S.T.,M.T.


MAKSUD IRIGASI
Kegiatan untuk mencukupi kebutuhan air bagi
keperluan untuk sawah, ladang dan usaha pertanian.

TUJUAN IRIGASI
Untuk membasahi tanah, agar kondisi tanah dapat
dicapai dengan baik untuk pertumbuhan tanaman.

Ada 3 tanaman yang diberi air irigasi: padi, tebu dan


tanaman palawija
Beberapa pengertian dari irigasi:
Pembagian air irigasi adalah kegiatan membagi air di
bangunan bagi dalam jaringan perimer dan/atau jaringan
sekunder
Pemberian air irigasi adalah kegiatan menyalurkan air
dengan jumlah tertentu dari jaringan primer atau jaringan
sekunder ke petak tersier.
Penggunaan air irigasi adalah kegiatan memanfaatkan
air dari petak tersier untuk mengairi lahan pertanian pada
saat diperlukan.
Pembuangan air irigasi, selanjutnya disebut drainase
adalah pengaliran kelebihan air yang sudah tidak
dipergunakan lagi pada suatu daerah irigasi tertentu.
SISTEM PENANAMAN DI INDONESIA
Musim hujan: menanam Padi
Musim kemarau: menanam palawija (di sawah atau di
tegalan)
Musim antara hujan dan kemarau: menanam tebu
(biasa dibulan april)

SISTEM IRIGASI
meliputi : prasarana irigasi, air irigasi, manajemen
irigasi , kelembagaan pengelolaan irigasi, dan
sumber daya manusia.
JENIS-JENIS IRIGASI
1. Irigasi Permukaan
Memanfaatkan air permukaan seperti air sungai sebagai sumber air
irigasi dan dialirkan melalui saluran-saluran ke petak sawah.
JENIS-JENIS IRIGASI
2. Irigasi Pompa (Irigasi Air Tanah)
Memanfaatkan air tanah sebagai sumber air irigasi. Air tanah dipompa
kemudian dialirkan melalui saluran-saluran ke petak sawah.
JENIS-JENIS IRIGASI
3. Irigasi Tetes (Drip Irrigation)
Irigasi yang airnya diberikan ke
tanaman dengan cara meneteskan
dari atas melalui pipa-pipa.
Biasanya untuk tanaman
hortikultura.
JENIS-JENIS IRIGASI
4. Irigasi Pancaran (Sprinkle Irrigation)
Irigasi yang airnya diberikan ke
tanaman dengan cara dipancarkan
menggunakan pompa dan pipa yang
ujungnya diberi nozle. Biasanya untuk
tanaman hortikultura.
JENIS-JENIS IRIGASI
5. Irigasi Pasang Surut
Memanfaatkan air pasang sungai, yang kemudian di alirkan ke dalam
saluran. Irigasi ini biasanya di daerah dekat muara.
ANALISIS KEBUTUHAN AIR
TANAMAN
Kebutuhan air tanaman adalah : sejumlah air yang dibutuhkan untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan.

Bila kedua proses penguapan tersebut terjadi bersama-sama terjadilah EVAPOTRANSPIRASI.

Dengan demikian besar kebutuhan air tanaman adalah sebesar jumlah air yang hilang akibat proses EVAPOTRANSPIRASI.
Besar evaporasi sangat dipengaruhi oleh: keadaan iklim, meliputi temperatur udara, kecepatan angin, kelembaban udara dan
kecerahan penyinaran matahari.

Besar transpirasi dipengaruhi oleh : keadaan iklim, jenis tanaman, varietas tanaman dan umur tanaman, biasa disebut faktor
tanaman.
Bagan hubungan faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap kebutuhan air tanaman adalah :
Kebutuhan Air Untuk Penggunaan Konsumtif Tanaman

Kebutuhan air untuk penggunaan konsumtif tanaman dapat dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini:

..................... 1)

dimana:
ETc = Kebutuhan air untuk penggunaan konsumtif tanaman, mm/hari;
kc = koefisien tanaman;
ET0 = Evapotranspirasi potensial tanaman acuan (dihitung dengan rumus Penman Modifikasi, rumus Blaney-Criddle atau rumus radiasi), mm/hari

ETc k c ET0
Besarnya koefisien tanaman (k) erat berhubungan dengan :
Jenis tanaman (padi, jagung, tebu).
Varietas tanaman.
Umur tanaman.

Catatan:
Apabila ET0 dihitung dengan rumus Penman Modifikasi
yang diperkenalkan oleh Nedeco/Prosida dan FAO, maka
harga koefisien tanaman yang digunakan untuk menghitung ETc adalah harga koefisien tanaman yang ada pada Tabel 1. (contoh untuk tanaman padi)
Tabel 1. Koefisien Tanaman Padi
Evapotranspirasi Potensial Tanaman Acuan (ET0)
dengan rumus Penman Modifikasi:

Ada 2 metoda yang dapat digunakan pada rumus ini, yaitu:


1.Metoda Nedeco/Prosida; dan
2.Metoda FAO.

Dari kedua metoda tersebut, rumus Penman Modifikasi Metoda


FAO lebih umum dipakai, yaitu seperti dijelaskan pada rumus di
bawah ini:

ET 0 c W Rn 1 W f ( u) ea ed ........ 2)
dimana:

ET0 = Evapotranspirasi tanaman acuan, mm/hari;


c = faktor yang menunjukkan pengaruh perbedaan kecepatan
angin pada siang dengan malam hari;
W = faktor pembobot;
Rn = energi radiasi bersih yang menghasilkan evaporasi,
mm/hari;
f(u) = fungsi kecepatan angin rata-rata yang diukur pada
ketinggian 2 m dengan satuan kecepatan angin dalam km/hari;
(Tabel 3 untuk nilai f(u))
(ea-ed) = perbedaan tekanan uap jenuh dengan tekanan uap
aktual, mbar. (tabel 2 untuk nilai ea)
CONTOH SOAL untuk menghitung ET0:

Dari sebuah stasiun meteorologi yang terletak pada posisi 300 LU


dan berada pada ketinggian 95 m, diperoleh data meteorologi pada
bulan Juli sebagai berikut:
temperature udara rata-rata (Tmean) adalah 28,5 0C;
kelembaban relatif (Rh) adalah 55%;
kecepatan angin (u) diukur pada ketinggian 3 m adalah 250
km/hari;
penyinaran matahari (n/N) adalah 83%.

Hitung Evapotranspirasi potensial tanaman acuan yang terjadi


pada bulan Juli dengan menggunakan rumus Penman Modifikasi
metoda FAO.
PENYELESAIAN:

Langkah 1 : hitung nilai faktor c


Karena tidak ada data yang membedakan kecepatan angin pada siang hari dan
malam hari siang hari, maka nilai c dianggap 1.

Langkah 2: hitung nilai perbedaan tekanan uap (ea-ed)


Berdasarkan nilai temperatur udara rata-rata (Tmean), dari tabel 2 di bawah ini
dapat diperoleh nilai tekanan uap jenuh.
Tabel 2. Tekanan uap jenuh (ea) menurut temperatur udara rata-rata
Jika Tmean 28,5 0C, maka nilai tersebut berada diantara T1 = 28 0C
dengan T2 = 29 0C yang masing-masing ea1 = 37,8 mbar dan ea2 =
40,1 mbar, maka dengan interpolasi linear , didapat ea = 39 mbar

Untuk mencari nilai tekanan uap aktual (ed) digunakan rumus yang
menyatakan besar kelembaban relatif (Rh), yaitu:
ed
Rh 100% , dengan Rh 55%
ea
ed Rh ae 0,55 39 21,5 mbar

Dengan diketahui nilai ea dan ea, maka diperoleh:

ea ed 39 21,5 17,5 mbar


Langkah 3: hitung nilai fungsi kecepatan angin f(u):
Pengaruh angin terhadap ET0 yang dihitung dengan rumus Penman
Modifikasi ditunjukkan dengan rumus:
u
f ( u) 0,27 1 3)
100
dimana u adalah kecepatan angin harian rata-rata dalam satuan
km/hari yang diukur pada ketinggian 2 m.
Nilai f(u) tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan Tabel 3.

Apabila kecepatan angin diukur tidak pada ketinggian 2 m, maka


kecepatan angin tersebut dikoreksi terlebih dahulu dengan faktor
yang terdapat pada Tabel 4 dan baru kemudian nilai f(u) dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3. Fungsi kecepatan angin f(u)

Tabel 4. Faktor koreksi untuk u yang diukur pada ketinggian tertentu


Dari data pada contoh di atas:
u = 250 km/hari diukur pada ketinggian 3 m, maka harga u perlu
dikoreksi dengan angka koreksi pada Tabel 4, yaitu untuk
ketinggian 3 m angka koreksinya 0,93 ;
maka harga u yang telah dikoreksi menjadi:

u 0,93 250 233 km / hari

Kemudian dengan menggunakan Tabel 4 nilai f(u) dicari.


Oleh karena nilai u = 233 km/hari berada diantara nilai u 1 = 230
km/hari dengan u2 = 240 km/hari yang masing-masing f(u)1 = 0,89
dan f(u)2 = 0,92, maka f(u) dicari dengan cara interpolasi linear:
Di dapat f (u) = 0,90
Langkah 4: hitung nilai faktor pembobot (W) dan (1-W)

Faktor pembobot W menjelaskan bobot pengaruh perubahan


tekanan, dan energi radiasi terhadap ET0, secara matematis dapat
dihitung:

W
.. 4)

dimana:
= gradien perubahan tekanan uap terhadap perubahan
temperatur;
= konstanta psychrometric.

Nilai W ini dapat juga diperoleh dari Tabel 5 di bawah ini, yaitu
berdasar posisi ketinggian daerah yang diamati dan temperatur
udara rata-rata.
Tabel 5. Nilai factor pembobot W
Dari contoh di atas, daerah pengamatan berada pada ketinggian z=
95 m, dan temperatur rata-rata T=28,5 0C, dengan menggunakan
Tabel 5 di atas nilai W dicari. Oleh kerena ketinggian z=95 m berada
diantara nilai z1 = 0 m dengan z2 = 500 m, dan T=28,5 0C berada
diantara nilai T1=28 0C dengan T2=30 0C, maka nilai W akan dicari
dengan cara interpolasi linear 3 tahap.

Tahap 1:
Pada ketinggian z = 0 m, dicari nilai W untuk T=28,5 0C. Dari Tabel 5,
T1 = 28 0C dan T2 = 30 0C, masing-masing W1 = 0,77 dan W2 = 0,78, di
dapat w = 0,7725

Tahap 2:
Pada Ketinggian z = 500 m, dicari nilai W untuk T=28,5 0C. Dari Tabel
5, T1 = 28 0C dan T2 = 30 0C, masing-masing W1 = 0,78 dan W2 = 0,79,
di dapat w = 0,7825
Tahap 3:
Pada Ketinggian z = 95 dicari nilai W untuk T = 28,5 0C. Dari
perhitungan di atas pada T=28,5 0C dan z1 = 0 m memberikan W1 =
0,7725, sedangkan pada T=28,5 0C dan z2 = 500 m memberikan W2 =
0,7825, maka di dapat nilai dari interpolasi w =0,77

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai W = 0,77, maka


nilai (1-W) = 0,23

Langkah 5: Hitung nilai Radiasi bersih (Rn)

Radiasi bersih (Rn) adalah selisih antara semua radiasi yang datang
dengan semua radiasi yang pergi meninggalkan permukaan bumi.
Radiasi bersih dapat dihitung dengan menggunakan rumus-rumus
di bawah ini.
Rs 0,25 0,50 n / N Ra . 5)

Rns (1 ) Rs .. 6)

Rn1 f (t ) f (ed ) f (n / N ) . 7)

Rn Rns Rn1 . 8)

dimana:
Ra = radiasi yang sampai pada lapisan atas atmosfir, mm/hari;
Rs = radiasi matahari yang sampai ke bumi, mm/hari;
Rns = radiasi bersih matahari gelombang pendek, mm/hari;
Rn1 = radiasi bersih gelombang panjang, mm/hari;
Rn = radiasi bersih, mm/hari;
n/N= perbandingan jam cerah aktual dengan jam cerah teoritis, yang
besarnya sama dengan persentase penyinaran matahari;
= albedo atau persentase radiasi yang dipantulkan, untuk tanaman
acuan pada rumus Penman Miodifikasi diambil = 0,25;
Nilai Ra yang dalam satuan ekivalen evaporasi mm/hari dapat
diperoleh dari Tabel 6, yang menjelaskan nilai Ra tiap bulan untuk
suatu posisi lintang (latitude) dearah pengamatan.

Nilai f(T), f(ed), dan f (n/N) masing-masing dapat diperoleh dari


Tabel 7, 8, dan 9 di bawah ini.
Tabel 6. Nilai Ra ekivalen dengan evaporasi dalam mm/hari
Tabel 6. Nilai Ra ekivalen dengan evaporasi dalam mm/hari
Tabel 7. Pengaruh temperatur f(T) terhadap Rn1

Tabel 8. Pengaruh tekanan uap f(ed) terhadap Rn1


Tabel 9. Pengaruh Persentase penyinaran matahari f(n/N) terhadap Rn1

Dari contoh di atas, daerah pengamatan terletak pada posisi 300LU,


memiliki persentase penyinaran matahari (n/N) = 83%,
temperatur udara rata-rata (T) = 28,5 0C dan tekanan uap aktual
ed = 21,5 mbar, maka:

a). berdasarkan Tabel 6, untuk daerah dengan posisi 300LU


diperoleh:
Ra = 16,8 mm/hari;
b) dengan menggunakan Rumus 5 dan nilai n/N = 83% diperoleh:

Rs 0,25 0,50 n / N Ra
Rs (0,25 0,50 0,83) 16,8
Rs 11,2 mm / hari
c) dengan menggunakan Rumus 6 dan = 0,25 diperoleh:

Rns (1 ) Rs
Rns (1 0,25) 11,2
Rns 8,4 mm / hari

d) untuk T = 28,5 0C dari Tabel 7 dengan interpolasi linear


diperoleh f (T) = 16,4
untuk ed = 21,5 mbar dari Tabel 8 dengan interpolasi linear
diperoleh f (ed) = 0,13

untuk n/N = 83% dari Tabel 9 dengan interpolasi linear diperoleh


f(n/N) = 0,85

setelah diperoleh nilai f(T) = 16,4 ; f(ed) = 0,13 ; dan f(n/N) = 0,85 ;
maka dengan menggunakan Rumus 7 diperoleh:
Rn1 f (t ) f (ed ) f (n / N )
Rn1 16,4 0,13 0,85
Rn1 1,8 mm / hari
e) dengan menggunakan Rumus 8 dan nilai Rns = 8,4 mm/hari dan
Rn1 = 1,8 mm/hari, diperoleh: Rn Rns Rn1
Rn 8,4 1,8
Rn 6,6 mm / hari
Langkah 6: Hitung nilai evapotranspirasi potensial tanaman acuan
(ET0)
Evapotranspirasi potensial tanaman acuan (ET0) dihitung setelah
variabel-varibel yang ada pada rumus Penman Modifikasi diperoleh,

c = 1; (ea-ed) = 17,5 mbar; f(u) = 0,90; W = 0,77; (1-W) = 0,23; dan


Rn = 6,6 mm/hari; kemudian varibel-variabel tersebut dimasukkan
ke Rumus 2, yaitu:
ET 0 c W Rn 1 W f ( u) ea ed
ET0 1 0,77 6,6 0,23 0,90 17,5
ET0 1 5,1 3,6
ET0 8,7 mm / hari

Dari hasil perhitungan berarti evapotranspirasi potensial tanaman


acuan (ET0) untuk daerah pada contoh di atas yang terjadi pada
bulan Juli adalah 8,7 mm/hari.
Thank You

Kingsoft Office
ake Presentation much more fun
@Kingsoft_Office

kingsoftstore