Anda di halaman 1dari 19

BATUAN INDUK

Secara umum, source rock di defenisikan sebagai


batuan karbonat yang berasal dari zat-zat organic
yang terendapkan oleh batuan sedimen. Sehingga
tidak terjadi siklus carbon seperti selayaknya. Justru
karbonat terendapkan dan menjadi batu. Contoh
dari batuan source rock adalah batu gamping, dan
kini telah di temukan hidrokarbon yang terbentuk
dari batu bara.
PENGERTIAN SOURCE ROCK
Batuan induk (Source rocks) adalah batuan sedimen
berbutir halus yang memiliki kapabilitas sebagai sumber
hidrokarbon (Waples, 1985)
Pengertian batuan induk adalah batuan sedimen yang
sedang, akan, atau telah menghasilkan hidrokarbon
(Tissot and Welte, 1984 vide Peter and Cassa, 1994).
Source rock adalah batuan karbonat yang berasal dari
zat-zat organic yang terendapkan oleh batuan sedimen.
Sehingga tidak terjadi siklus carbon seperti selayaknya.
Justru karbonat terendapkan dan menjadi batu
Berdasarkan Kualitasnya Batuan Induk Dibagi
Menjadi 3, Yaitu :
Batuan Induk efektif (effective source rocks) adalah batuan
sedimen yang sudah menghasilkan dan mengeluarkan
(expelled) hidrokarbon
Batuan induk yang mungkin (possible source rocks) adalah
batuan sedimen yang potensi sumbernya belum dievaluasi,
tetapi mungkin telah menghasilkan dan mengeluarkan
hidrokarbon
Batuan Induk potensial (potential source rocks) adalah batuan
sedimen yang belum matang (immature) yang kapabilitasnya
dalam menghasilkan dan mengeluarkan hidrokarbon
diketahui jika tingkat kematangan termal menjadi lebih tinggi.
Kategori Batuan Induk & Kapasitas Sumbernya
(waples, 1985)
Teori Organik
Proses Pengendapan Ganggang dan Pemasakan
Batuan Induk
Source rock kaya akan kandungan unsur atom karbon (C) yang didapat dari
cangkang cangkang fosil yang terendapkan di batuan itu.
Hidrokarbon adalah batuan sedimen yang kaya akan kandungan material
organik yang mungkin telah tersimpan dalam berbagai lingkungan
termasuk laut air dalam, lakustrin, dan delta bahan organik tersebut
misalnya ganggang.
Batuan yang mengandung banyak karbonnya ini yang disebut Source Rock
(batuan induk) yang kaya mengandung unsur karbon (high TOC-Total
Organic Karbon).
Setelah ganggang mati dan berkumpul menjadi batuan induk, maka batuan induk
ini akan terkubur di bawah batuan-batua lainnya yang beralngsung dalam kurun
waktu yang lama dan juga tertutp oleh bataun reservoir. Kemudian source rock itu
akan dimasak oleh panas bumi yang disebut dengan istilah geothermal.
Proses pemasakan ini tergantung suhunya dan karena suhu ini tergantung dari
besarnya gradien geothermalnya maka setiap daerah tidak sama tingkat
kematangannya. Daerah yang dingin adalah daerah yang gradien geothermalnya
rendah, sedangkan daerah yang panas memiliki gradien geothermal tinggi.
Teori anorganik
pembentukan minyak bumi didasarkan pada proses
kimia, yaitu :
Teori alkalisasi panas dengan CO2 (Berthelot)
Reaksi yang terjadi:
alkali metal + CO2 ----> karbida
karbida + H2O ---> ocetylena
C2H2 ---> C6H6 ---> komponen-komponen lain

Dengan kata lain bahwa didalam minyak bumi terdapat logam alkali dalam
keadaan bebas dan bersuhu tinggi. Bila CO2 dari udara bersentuhan
dengan alkali panas tadi maka akan terbentuk ocetylena. Ocetylena akan
berubah menjadi benzena karena suhu tinggi. Kelemahan logam ini adalah
logam alkali tidak terdapat bebas di kerak bumi.
Penentuan batuan induk efektif ditentukan oleh
3 (tiga) persyaratan geokimia, yaitu kuantitas
atau jumlah zat organik, kualitas atau jenis zat
organik, dan kematangan termal.
1. TOC (Total Organic Carbon)

merupakan kuantitas dari karbon organik yang terendapkan


dalam batuan tersebut. Semakin tinggi nilai TOC maka akan
semakin baik source rock tersebut dan kemungkinan
terbentuknya hidrokarbon akan semakin tinggi. TOC yang dapat
menghasilkan adalah di atas 1 % .
2. Kerogen

merupakan kualitas dari carbon organic yang terendapkan dalam batuan


tersebut. Kerogen akan menentukan hidrokarbon yang akan di bentuk
berdasarkan komposisi unsur-unsur kimia yaitu karbon (C), hidrogen (H)
dan oksigen (O), pada awalnya kerogen dibedakan menjadi 3 tipe utama
yaitu kerogen tipe I, tipe II, dan tipe III (Tissot dan Welte, 1984 dalam
Killops dan Killops, 2005), yang kemudian dalam penyelidikan selanjutnya
ditemukan kerogen tipe IV (Waples, 1985).
Kerogen Tipe I (highly oil prone - oil prone)
Kerogen Tipe I memiliki perbandingan atom H/C tinggi(
l,5), dan O/C rendah (< 0,1). Tipe kerogen ini sebagian berasal
dari bahan organik yang kaya akan lipid (misal akumulasi
material alga) khususnya senyawa alifatik rantai panjang.
Kerogen tipe ini menunjukkan kecenderungan besar
untuk menghasilkan hidrokarbon cair atau minyak. Kerogen tipe I
berwarna gelap, suram dan baik berstruktur laminasi maupun
tidak berstruktur. Kerogen ini biasanya terbentuk oleh butiran
yang relatif halus, kaya material organik, lumpur anoksik yang
terendapkan dengan perlahan-lahan (tenang), sedikit oksigen,
dan terbentuk pada lingkungan air yang dangkal seperti lagoon
dan danau.
Kerogen Tipe II (oil and gas prone)
Kerogen Tipe II memiliki perbandingan atom H/C relatif tinggi
(1,2 1,5), sedangkan perbandingan atom O/C relatif rendah
(0,1 0,2). kerogen tipe ini dapat menghasilkan minyak dan gas,
tergantung pada tingkat kematangan termalnya.
Kandungan hidrogen yang dimiliki kerogen tipe II ini sangat
tinggi, sedangkan kandungan oksigennya jauh lebih rendah
karena kerogen tipe ini terbentuk dari material lemak yang
miskin oksigen.
Kerogen tipe II yang banyak mengandung belerang secara lebih
lanjut dapat dikelompokkan lagi menjadi kerogen tipe IIS
dengan persen berat 2 belerang (S) organik 8 14% dan rasio S/C
> 0,04 (Orr, 1986 dalam Killops dan Killops, 2005).
Kerogen Tipe III (gas prone)
Kerogen Tipe III memiliki perbandingan atom H/C yang relatif
rendah (< 1,0) dan perbandingan O/C yang tinggi (> 0,3). Kerogen
Tipe III terutama berasal dari tumbuhan darat yang hanya sedikit
mengandung lemak dan zat lilin. Kerogen tipe ini menunjukkan
kecenderungan besar untuk membentuk gas (gas prone).
Kerogen Tipe IV (inert)
Kerogen tipe IV terutama tersusun atas material rombakan
berwarna hitam dan opak. Sebagian besar kerogen tipe IV
tersusun atas kelompok maseral inertinit dengan sedikit vitrinit.
Kerogen tipe ini tidak memiliki kecenderungan menghasilkan
hidrokarbon sehingga terkadang kerogen tipe ini dianggap bukan
kerogen yang sebenarnya. Kerogen ini kemungkinan terbentuk
dari material tumbuhan yang telah teroksidasi seluruhnya di
permukaan dan kemudian terbawa ke lingkungan
pengendapannya.
Pematangan (Maturity)
merupakan proses perubahan zat-zat organik menjadi
hidrokarbon. Proses pematangan di akibatkan kenaikan suhu di
dalam permukaan bumi. Proses pematangan di bagi menjadi
tiga, yaitu :
1. Immature adalah source rock yang belum mengalami
perubahan menjadi hidrokarbon .
2. Mature adalah source rock yang sedang mengalami
perubahan menjadi hidrokarbon .
3. Overmature adalah source rock yang telah mengalami
pematangan menjadi hidrokarbon.
Diagram Van Krevelen
Biomarker

Biomarker merupakan senyawa komplek fosil molekular biologis, yang berasal


dari suatu organisme makhluk hidup (Seifert & Moldowan 1981; Tissot &
Welte 1984; Peters & Moldowan 1993; Hunt 1996), yang telah mengalami
proses perubahan gugus fungsi, pemutusan ikatan dan perubahan
stereokimia, namun masih menyimpan secara utuh kerangka atom karbon
sehingga dapat ditelusuri asal usulnya. Oleh karena itu, biomarker merupakan
indikator yang penting untuk mengenal material organik minyak bumi, kondisi
perubahan geologi, kimia dan fisika terhadap organisme akibat perubahan
yang signifikan oleh panas selama proses diagnesis, katagenesis serta derajat
biodegradasinya.
Tabel Biomarker