Anda di halaman 1dari 43

1.

Apa yang dimaksud dengan


ventilasi (pada respirasi eksternal)?
Ventilasi pada respirasi eksternal adalah tahap pertukaran gas antara
medium (lingkungan) eksternal dan organ-organ pernafasan (Soewolo,
2000).
Ventilasi adalah pergerakan udara dari dalam ke luar paru-paru , terdiri
atas dua proses, yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi adalah pergerakan
udara dari atmosfer ke dalam paru-paru, sedangkan ekspirasi adalah
pergerakan udara dari dalam paru-paru ke atmosfer (Alsagaff, Hood & A
Mukty, 2005).
2. Alat penapasan/respirasi hewan
adalah permukaan tubuh (integumen),
insang, trakhea dan paru-paru. Coba
buat tahapan respirasi eksternal pada
hewan yang menggunakan
permukaan tubuh (integumen),(2)
insang, (3) trakhea dan (4) paru-paru.
a) Tahapan respirasi eksternal pada hewan yang bernafas dengan
permukaan tubuh (integument)
Di permukaan kulit cacing tanah terdapat banyak sekali pembuluh
darah, dan menghasilkan lendir. Kondisi kulit yang selalu lembab inilah
yang membuat proses penyerapan oksigen berlangsung dengan lebih
baik.
Oksigen yang diserap melalui kulit akan langsung diikat
oleh hemoglobin yang terkandung dalam darah cacing untuk diedarkan
ke seluruh tubuhnya. Gas hasilrespirasi yaitu karbondioksida dikeluarkan
kembali juga melalui permukaan kulit (George, 2005).
b) Tahapan respirasi eksternal pada hewan yang bernafas dengan insang
Fase inspirasi (memasukkan udara ke dalam alat pernafasan) dengan
cara, tekanan dalam rongga mulut harus lebih kecil daripada tekanan
di luar. Ini dapat terjadi dengan operculum bergerak ke lateral sehingga
volume rongga mulut bertambah, akibatnya tekanan berkurang.
Gerakan operculum ke lateral menyebabkan membrane
brankhiostegalik bergerak ke medial untuk menutup celah insang.
Peristiwa ini segera diikuti membukanya rima oris, sehingga air masuk
ke dalam rongga mulut (Tenzer et al, 2003).
Fase ekspirasi (pelepasan udara dari alat pernafasan
kea lam sekitarnya). Fase ini terjadi bila tekanan
dalam rongga mulut lebih besar daripada tekanan
lingkungannya. Dimulai dengan menutupnya rima
oris yang diikuti kembalinya operculum ke medial,
yang berakibat volume rongga mulut lebih kecil
sehingga tekanan naik. Pada saat operculum
bergerak ke medial, membrane brankhiostegalik
bergerak ke lateral sehingga celah insang terbuka.
Karena tekanan air di dalam rongga mulut lebih
tinggi maka air keluar melalui celah insang yang
terbuka melalui insang. Pada saat air melewati
insang terjadi pengikatan O2 oleh eritrosit dan
pelepasan CO2 (Tenzer et al, 2003).
C) Tahapan respirasi eksternal pada hewan yang bernafas dengan trachea
Jika otot perut belalang berkontraksi maka trakea mexrupih sehingga
udara kaya COZ keluar. Sebaliknya, jika otot perut belalang berelaksasi
maka trakea kembali pada volume semula sehingga tekanan udara
menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di luar sebagai akibatnya
udara di luar yang kaya 02 masuk ke trakea.
Sistem trakea berfungsi mengangkut OZ dan mengedarkannya ke
seluruh tubuh, dan sebaliknya mengangkut C02 basil respirasi untuk
dikeluarkan dari tubuh. Dengan demikian, darah pada serangga hanya
berfungsi mengangkut sari makanan dan bukan untuk mengangkut gas
pernapasan.
Di bagian ujung trakeolus terdapat cairan sehingga udara mudah
berdifusi kejaringan. Pada serangga air seperti jentik nyamuk udara
diperoleh dengan menjulurkan tabung pernapasan ke perxnukaan air
untuk mengambil udara.
Serangga air tertentu mempunyai gelembung udara sehingga dapat
menyelam di air dalam waktu lama. Misalnya, kepik Notonecta
sp.mempunyai gelembung udara di organ yang menyerupai rambut pada
permukaan ventral. Selama menyelam, O2 dalam gelembung
dipindahkan melalui sistem trakea ke sel-sel pernapasan.
Selain itu, ada pula serangga yang mempunyai insang trakea yang
berfungsi menyerap udara dari air, atau pengambilan udara melalui
cabang-cabang halus serupa insang. Selanjutnya dari cabang halus ini
oksigen diedarkan melalui pembuluh trakea (George, 2005).
d) Tahapan respirasi eksternal pada hewan yang bernafas dengan paru paru
Darah terdeoksigenasi dipompa dari ventrikel kanan melalui arteri
pulmonalis menuju kapiler pulmonalis yang menyelubungi alveoli.
Sebagai akibat dsampai keseimbangan tercapai. Ketika oksigen difusi
dari alveoli ke dalam darah terdeoksigenasi, karbondioksida difusi
dengan arah berlawanan. Sesampai di paru-paru, tekanan CO2 darah
terdeoksigenasi paru-paru lebih tinggi daripada di alveoli. Karena
perbedaan tekanan ini, karbondioksida difusi dari darah terdeoksigenasi
paru-paru ke alveoli sampai tekanan CO2 darah turun menjadi sama 40
mmHg. Dengan demikian tekanan O2 dan CO2 darah teroksigenasi yang
meninggalkan paru-paru sama dengan udara dalam alveolar.
Karbondioksida yang difusi ke dalam alveoli dihembuskan keluar dari
paru-paru selama ekspirasi (Soewolo, 2005).
3. Apa yang mendasari terjadinya
pertukaran gas?
Proses pertukaran gas berlangsung dalam respirasi seluler. Difusi oksigen
keluar dari darah dan masuk ke dalam cairan jaringan dapat terjadi, karena
tekanan oksigen di dalam cairan jaringan lebih rendah dibandingkan di
dalam darah. Hal ini disebabkan karena sl-sel secara terus-menerus
menggunakannya dalam respirasi sel.
Difusi adalah pergerakan molekul dari area dengan konsentrasi tinggi ke
area konsentrasi rendah. Oksigen terus menerus berdifusi dari udara dalam
alveoli ke dalam aliran darah dan karbondioksida (CO2) terus berdifusi dari
darah ke dalam alveoli. Difusi udara respirasi terjadi antara alveolus dengan
membran kapiler. Perbedaan tekanan pada area membran respirasi akan
mempengaruhi proses difusi (soewolo,2005). Misalnya pada tekanan parsial
(P) O2 di alveoli sekitar 100 mmHg sedangkan tekanan parsial pada kapiler
pulmonal 60 mmHg sehingga oksigen akan berdifusi masuk dalam darah.
Berbeda halnya dengan CO2 dengan PCO2 dalam kapiler 45 mmHg
sedangkan alveoli 40 mmHg maka CO2 akan berdifusi keluar alveoli.
4. Jelaskan tahapan respirasi internal!
Setelah oksihemoglobin (HbO2) dalam paru-paru terbentuk, oksigen
akan lepas, dan selanjutnya menuju cairan jaringan tubuh. Oksigen
tersebut akan digunakan dalam proses metabolisme sel. Reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut:

Hb + O2 HbO2 ( oksihemoglobin)
Proses masuknya oksigen ke dalam cairan jaringan tubuh juga melalui
proses difusi. Proses difusi ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan
parsial oksigen dan karbondioksida antara darah dan cairan jaringan.
Tekanan parsial oksigen dalam cairan jaringan, lebih rendah
dibandingkan oksigen yang berada dalam darah. Artinya konsentrasi
oksigen dalam cairan jaringan lebih rendah. Oleh karena itu, oksigen
dalam darah mengalir menuju cairan jaringan.
Sementara itu, tekanan karbondioksida pada darah lebih rendah
daripada cairan jaringan. Akibatnya, karbondioksida yang
terkandung dalam sel-sel tubuh berdifusi ke dalam darah.
Karbondioksida yang diangkut oleh darah, sebagian kecilnya akan
berikatan bersama hemoglobin membentuk karboksi hemoglobin
(HbCO2).
Namun, sebagian besar karbondioksida tersebut masuk ke dalam
plasma darah dan bergabung dengan air menjadi asam karbonat
(H2CO3). Oleh enzim anhidrase, asam karbonat akan segera
terurai menjadi dua ion, yakni ion hidrogen (H+) dan ion
bikarbonat (HCO3-), persamaan reaksinya sebagai berikut:

CO2 + H2O H2CO3- H+ + HCO3-


CO2 yang diangkut darah ini tidak semuanya dibebaskan ke luar
tubuh oleh paru-paru, akan tetapi hanya 10%-nya saja. Sisanya
yang berupa ion-ion bikarbonat tetap berada dalam darah (Dieter
dan Brown, 1988).
5. Kurva mana yang menunjukkan afinitas O2 dan
kapasitas O2 lebih tinggi? Kurva a atau kurva b? jelaskan!
Afinitas O2 yang tinggi ditunjukkan oleh kurva A.
Kapasitas O2 yang tinggi ditunjukkan oleh kurva B.
Apabila PCO mununjukkan kenaikan maka jumlah oksigen yang
dilepas dari darah ke jaringan akan meningkat. Sehingga
afinitas O2 dalam darah turun.
Apabila PCO naik maka pH juga akan naik. menyebabkan
afinitas O2 turun, sehingga banyak oksigen yang dilepaskan dari
darah ke jaringan.
Kenaikan afinitas O2 menyebabkan kapasitas O2 dalam darah
turun. Sehingga kurva dengan kapsitas tinggi ditunjukkan oleh
kurva B karena rendahnya afinitas O2 pada kurva B
menyebabkan hemoglobin dalam darah tidak cepat jenuh
dalam mengikat oksigen, sehingga banyak oksigen yang dapat
diikat (soewolo,2005).
6. Apa yang terjadi bila HbO2 berhadapan dengan darah yang banyak
mengandung CO2? Dan sebaliknya apa yang terjadi bila HbCO 2 berhadapan
dengan darah yang mengandung lebih sedikit CO 2?
Jika HbO2 berhadapan dengan darah yang banyak
mengandung CO2, maka akan menggeser kurva disosiasi oksigen
ke kanan; fenomena ini disebut efek bohr. Dimana hal ini terjadi
karena adanya kepekaan oksihemoglobin (HbO2) terhadap CO2
sehingga ketika CO2 masuk ke dalam jaringan yang mengalami
respirasi, maka CO2 akan menggalakkan pelepasan lebih banyak
O2 dari Hb.
Sebaliknya ketika HbO2 berhadapan dengan darah yang
sedikit mengandung CO2 karena adanya difusi CO2 dari darah
venosus ke dalam rongga alveolar, kurva disosiasi oksigen
bergeser ke kiri, maka akan memungkinkan lebih banyak
oksigen yang dapat diikat oleh Hb.

Sumber : Soewolo, 2000 ; Campbell 2000


7. Apakah efek Bohr tersebut
menunjang pertukaran
oksigen dengan CO2 atau
malah menghambaat?
Jelaskan!
Saat pH darah menurun, kurva disosiasi hemoglobin-oksigen akan bergeser ke
kanan, menunjukkan bahawa hemoglobin kurang tersaturasi walaupun berada
di tekanan parsial oksigen tinggi. Perubahan ini dinamakan sebagai Borh effect,
dimana hemoglobin bertindak sebagai buffer. Borh effect berkerja dengan
kedua-dua cara yaitu; peningkatan ion H+ dalam darah akan menyebabkan
oksigen terlepas dari hemoglobin, dan oksigen yang berikatan dengan
hemoglobin akan menyebabkan ion H+ terlepas dari hemoglobin. Apabila
produksi asam metabolit (asam laktat dan asam karbonat) dan CO 2jaringan
meningkat, keasaman darah akan meningkat lalu terjadinya asidosis yang
menyebakan kurva disosiasi bergeser ke kanan. Maka, afinitas hemoglobin
terhadap oksigen melemah, menyebabkan oksigen senang terlepas daripada
hemoglobin dan masuk ke jaringan (Tortora dan Derickson, 2006).

Karbon dioksida memiliki sifat asam. Maka, apabila ia berikatan hemoglobin,


akan terjadi dampak yang sama pada kurva disiosiasi (kurva begeser ke kanan).
Pada kondisi tekanan parsial karbon dioksida meningkat, hemoglobin akan
lebih mudah untuk melepaskan oksigen.

CO2 darah naik menyebabkan pH plasma turun, kurva disosiasi
bergeser kekanan - Konsentrasi CO2 tinggi menyebabkan oksigen
dilepaskan naik pada PO2 tertentu, disebut Bohr effect.
Jika CO2 masuk kedalam darah, Hb melepaskan O2 dalam jumlah
yang lebih besar dari CO2 pada ikatan HbO. Jadi Bohr effect
memfasilitasi peningkatan pelepasan O2 pada jaringan.
8.Dalam tubuh dimana terjadi
kurva a, dan dimana terjadi
kurva b? jelaskan!
Kurva yang bergeser ke kiri terjadi di paru. Dalam paru terjadi pergeseran
ke arah yang berlawanan, dengan demikian, memungkinkan pengambilan
oksigen dalam jumlah ekstra dari alveoli, sehingga bergeser ke kiri.
(Nielufar, 2000).
Kurva bergeser ke kanan terjadi di Otot. Otot yang sedang bekerja akan
melepaskan sejumlah besar karbondioksida, bila ditambah asam yang
dilepaskan oleh otot yang sedang bekerja,akan meningkatkan konsentrasi
ion hidrogen dalam darah kapiler otot tersebut. Di samping itu, suhu otot
sering kali meningkat sebesar 2 sampai 3C,yang dapat meningkatkan PO2
untuk melepaskan oksigen ke dalam ototsebanyak 15 mmHg. Menggeser
kurva disosiasi oksigen-hemoglobin dari darah kapiler otot tersebut cukup
jauh ke kanan.Pergeseran kurva ke arah kanan kadang-kadang
menyebabkan oksigendilepaskan ke otot pada P2OS sebesar 40 mmHg
(sama dengan nilai normaldalam keadaan istirahat) walaupun sebesar 75
sampai 85 persen oksigen dikeluarkan dari hemoglobin. (Nielufar, 2000).
Ketika darah melalui paru, karbon dioksida berdifusi dari darah ke dalam
alveoli. Ini menurunkan PCO2 darah dan konsentrasi ion hidrogen sebagai
akibat penurunan asam karbonat darah. Efek dari dua keadaan ini
menggeser kurvadisosiasi oksigen-hemoglobin ke kiri dan ke atas. Oleh
karena itu, jumlah oksigen yang berikatan dengan hemoglobin
menyebabkan PO2 alveolus meningkat, dengan demikian transpor
oksigen ke jaringan lebih besar. Biladarah mencapai jaringan kapiler,
terjadi efek yang tepat berlawanan. Karbon dioksida yang memasuki darah
dari jaringan menggeser kurva kekanan, memindahkan oksigen dari
hemoglobin ke jaringan dengan PO2 yang lebih tinggi dari pada
seandainya tidak terjadi demikian. (Brandis,2006)
9. Jelaskan mekanisme pengendalian pernapasan!
mekanisme pengendalian pernapasan di pengaruhi oleh 2 faktor utamam yaitu
kimiawi dan pengendalian saraf. Faktor tertentu merangsang pusat pernapasan
yang terletak di dalam medula oblangata dan kalau diramgsang maka pusat itu
mengeluarkan impuls yang di salurkan oleh saraf spinalis ke otot diafragma dan
otot interkostalis .
a. pengendalian oleh saraf
pusat otomatik dalam medula oblangata,,mengeluarkan impuls eferen ke
otak pernapasan, melalui radik saraf servikalis di antarkan ke diafragma oleh
saraf prenikus. Impuls ini menimbulkan kontraksi ritmik pada otot diafragma
dan interkostalis yang kecepatannya kira-kira 15 kali setiap menit.
b. Pengendalian secara kimia
Pengendalian dan pengaturan secara kimia meliputi: frekuensi kecepatan
dan dalamnya gerakan pernapasan, pusat pernapasan dalam sumsum
sangat peka, sehingga kadar alkali harus tetap dipertahankan.
Karbondioksida adalah asam dari ,metabolisme dan bahan kimia yang asam
ini meramgsamg sistem pusat pernapasan untuk mengirim keluar impuks
saraf yang bekerja atas otot pernapasan.
Widyakusuma dr. H.M. djauhari. Buku ajar fisiologi kedoteran
10. Jelaskan mekanisme ventilasi pada ikan!
Paru-paru dapat membesar dan berkontraksi dengan 2 jalan :
1). dengan gerakan turun naik diafragma akan memanjang
dan memperpendek rongga dada, dan
2). dengan pengangkatan dan penekanan tulang rusuk akan
mengangkat/memperbesar dan menurunkan/memperkecil
diameter anteroposterior rongga dada.
ventilasi Pulmoner
Adalah perpindahan udara secara fisik keluar masuk paru-paru. Fungsi
utamanya adalah untuk menjaga keseimbangan ventilasi alveolar.
Tekanan atmosfer memiliki peranan penting dalam ventilasi pulmoner.
Menurut hukum Boyle, tekanan berbanding terbalik dengan volume.
Udara akan mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke tekanan rendah.
Kedua hukum ini merupakan dasar dari ventilasi pulmoner. Satu siklus
respirasi tunggal terdiri dari inhalasi/inspirsi dan ekshalasi/ekspirasi.
Keduanya melibatkan perubahan volume paru-paru. Perubahan ini
menciptakan gradien tekanan yang memindahkan udara keluar atau
masuk paru-paru.
Kedua paru-paru memiliki rongga pleural. Parietal dan viseral pleura
dipisahkan hanya oleh selaput tipis cairan pleural. Perbandingan ikatan
cairan terjadi antara parietal pleural dan viseral pleura Hasilnya,
permukaan masing-masing menempel pada bagian dalam dada dan
permukaan superior diafragma. Pergerakan dada dan diafragma ini akan
menyebabkan perubahan volume paru-paru. Volume rongga toraks
berubah ketika diafragma berubah posisinya atau tulang rusuk bergerak.
11. Jelaskan mekanisme ventilasi pada Katak!
Ventilasi paru-paru pada katak dilakukan dengan cara menggunakan
mekanisme pompa tekan atau mekanisme tekanan positif. Seekor katak
mengisi paru-paru dengan pertama-tama memasukkan udara ke dalam
rongga mulutnya, kemudian menutup mulut dan lubang hidungnya, dan
dengan jalan menaikkan dasar mulutnya udara ditekan masuk ke paru-
paru. Dengan mekanisme ini, seekor katak dapat terus-menerus
memasukkan suatu volume udara berkali-kali ke paru-paru dengan tanpa
mengijinkan udara keluar, sehingga seekor katak mampu
menggelembungkan tubuhnya sampai ukuran tertentu (Soewolo, 2000).
12. Jelaskan mekanisme ventilasi pada aves !
Ventilasi paru-paru pada burung adalah dengan menghirup udara
(inhalasi) secara aktif, sedangkan pengeluaran udara (ekshalasi)
berlangsung secara pasif. Inhalasi dapat berlangsung dengan
bantuan kontraksi otot pernapasan secara aktif. Suatu pompa
penghisap memerlukan suatu rongga yang tertutup yang dengan
suatu mekanisme tertentu volume rongga tadi dapat diperbesar
atau diperkecil, sehingga tekanan udara dalam rongga juga naik
dan turun. Pada burung, inspirasi maupun ekspirasi berlangsung
dengan kontraksi otot aktif. (Soewolo, 2000).
Pada saat inspirasi, burung mengisap udara dengan cara
memperbesar rongga dadanya sehingga tekanan udara di dalam
rongga dada menjadi kecil yang mengakibatkan masuknya udara
luar. Udara luar yang masuk sebagian kecil tinggal di paru-paru dan
sebagian besar akan diteruskan ke kantung udara posterior sebagai
cadangan udara.
Pada saat ekspirasi terjadi relaksasi otot interkostal relaksasi yang
menyebabkan tulang rusuk dan tulang dada kembali ke posisi
semula, sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi
lebih besar dari tekanan di udara luar akibatnya udara dari paru-
paru yang kaya karbon dioksida keluar melalui kantung udara
anterior kemudian melalui trakea.
13. Jelaskan mekanisme ventilasi pada
manusia!
Mekanisme ventilasi pada manusia yaitu pada proses inspirasi, diafragma
berkontraksi sehingga lebih datar dan turun. Bersamaan dengan itu berkat
kontraksi otot-otot antar tulang rusuk luar, beberapa otot leher dan otot
dada, tulang-tulang rusuk terangkat ke atas. Ini menyebabkan rongga dada
bertambah besar dan tekanan dalam rongga dada bertambah kecil.
Akibatnya paru-paru membesar dan udara dari atmosfer masuk ke dalam
paru-paru.
Ekspirasi merupakan proses pasif. Jika otot-otot pernafasan relaksasi,
diafragma dan tulang rusuk kembali ke kedudukan semula, rongga dada
mengecil sehingga udara dalam paru-paru tertekan ke luar (Soewolo, 2000).
TERIMA
KASIH ^^

Anda mungkin juga menyukai