Anda di halaman 1dari 52

Onkologi

Tumor Otak
OLEH : KELOMPOK 6
- SUCI RAMADHANTY
- AUDINA SAFITRI
- DEVILIANI
- ENI SARTIKA
- BAGUS FEBRY HARIADY
Definisi
Tumor otak atau tumor itrakranial adalah neoplasma atau proses
desak ruang (space occupyinglesion atau space taking lesion) yang
timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen
supratentorial maupun infratentorial. (Satyanegara, 2014).
Kanker otak adalah sekumpulan massa sel-sel otak yang tumbuh
abnormal, di luar kendali. Sebagian besar kanker otak dapat menyebar
melalui jaringan otak, tetapi jarang menyebar ke area lain dari tubuh
(Nurwati, 2014)
Etiologi
Menurut Rieza (2014)
1. Umur
2. Jenis Kelamin
3. Industri dan Pekerjaan
4. Radiasi ionisasi
5. Makanan dan diet
6. Pemakaian telepon seluler
7. Supresi Imun
8. Obat - obatan
9. Sindrom genetik
Klasifikasi
a. Glioma g. Tumor Kromofob
b. Oligodendroglioma h. Adenoma Eosinofilik
c. Ependimoma i. Adenoma Basofil
d. Astrositoma j. Neurilemoma
e. Tumor Meningeal k. Pinealoma
f. Tumor Hipofisis
Manifestasi Klinis
Tumor otak biasanya muncul dengan salah satu dari tiga sindrom:
(1) progresi subakut dari suatu defisit neurologis fokal
(2) kejang, atau
(3) kelainan neurologis nonfokal
Adanya gejala sistemik seperti malaise, penurunan berat badan,
anoreksia, atau demam cenderung menunjukkan suatu metastasis
dibandingkan suatu tumor otak yang primer.
Pemeriksaan Penunjang

1. Magnetic Resonance Imaging 5. Elektroensefalografi (EEG)


(MRI)
6. Angiografi
2. Computed tomography scan
(CT scan) 7. Analisis cairan serebrospinalis

3. Positron-emission tomography
(PET)
4. Single-photon emission
computed tomography
(SPECT)
Penatalaksanaan

1. Pembedahan untuk kanker otak


2. Radiosurgery Stereotactic
3. Radioterapi
4. Kemoterapi
5. Psikoterapi
Reaksi Psikologis
1. Reaksi Psikologis yang Umum pada Pasien Kanker
2. Reaksi Psikologis yang Muncul saat Diagnosis
- Penolakan
- Ansietas dan ketakutan
- Marah
- Depresi
- Menyendiri
3. Reaksi Psikologi selama terapi
4. Reaksi psikologis pasien kanker stadium lanjut
- Fase penolakan
- Fase ketakutan
- Fase adaptasi
Komplikasi
1. Edema Serebral
2. Hidrosefalus
3. Herniasi Otak
4. Epilepsi
5. Metastase ke tempat lain
Kasus
Seorang pria berusia 52 tahun didiagnosis mengalami kanker otak pada lobus
okspital dengan ukuran tumor 2,5 cm. Diagnosis ditegakkan sejak 2 bulan
lalu. Setelah diagnosis ia diwajibkan menjalani regimen radioterapi (Isotope
Cuprum). Klien mengeluh sering nyeri kepala dan mengatakan tidak berdaya
lagi menghadapi penyakitnya, dan mengalami penurunan nafsu makan.Sejak
didiagnosis klien mulai mengalami tanda-tanda ansietas yang semakin lama
semakin buruk, klien tidak bisa tidur, mencemaskan banyak hal, dan sering
merasakan nyeri kepala hebat.Jika nyeri kepala hebat berlangsung klien bisa
mengalami agitasi dan peningkatan systole pada tekanan darah.Saat dikaji
klien mengatakan nyeri datang tiba-tiba ketika beraktivitas maupun tidak,
nyeri tumpul hanya daerah kepala
belakang, dengan skala nyeri 6, nyeri hilang datang. Setelah menjalani 3x
radioterapi, klien telah kehilangan seluruh rambutnya (hair loss) klien juga
semakin menunjukkan respon negative, ia banyak berdiam diri, menunjukkan
perilaku tidak asertif, sulit menyatakan perasaannya, menarik diri, afek sedih,
cenderung ingin sendirian, sulit diajak bicara, dan tidak mau beribadah
dengan alasan merasa tidak bersih, merasa tidak berdaya dan merasa bahwa
ibadah itu tidak berguna juga tidak akan mengubah kondisinya.Saat diajak
bicara klien tidak menunjukkan kontak mata yang baik, klien sering melihat
ke langit-langit atau membelakangi perawat. Perawat mengalami kesulitan
masuk dalam situasi klien dan direncanakan skrinning depresi.Diduga faktor
biaya, perjalanan penyakit, keluarga, kehilangan peran dan ancaman kematian
menjadi penyebab perubahan afek emosi/psikologis klien.
1. Pengkajian
a. Data Demografi
- Nama :-
- Jenis Kelamin : Laki laki
- Usia : 52 Tahun
b. Riwayat Kesehatan
- Riwayat Kesehatan Dahulu :-
- Riwayat Kesehatan Sekarang : Klien didiagnosis
mengalami kanker otak
lobus oksipital sejak 2
bulan lalu dengan
ukuran tumor 2,5 cm
- Riwayat Kesehatan Keluarga :-
C. Keluhan Utama
Klien mengeluh sering nyeri kepala dan mengatakan tidak berdaya lagi
menghadapi penyakitnya, dan mengalami penurunan nafsu makan.
Pengkajian nyeri PQRST:
P : Nyeri datang tiba-tiba saat beraktivitas maupun istirahat
Q : Nyeri tumpul
R : Daerah kepala belakang
S : Skala 6
T : Hilang datang
D. Pemeriksaan Fisik
(Per Sistem)
1. Pernafasan B1 (breath)
Inspeksi : Bentuk dada simetris kiri kanan, tidak tampak
lesi, edema dan kemerahan daerah dada. Saat inspirasi-
ekspirasi dada kiri dan kanan seimbang, tidak ada
retraksi dinding dada maupun depresi sternum.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, edema, maupun massa teraba.
Fokal fremitus terdengar seimbang.
Perkusi : Suara paru saat perkusi sonor
Auskultasi : Suara nafas terdengar vesikuler
2. Kardiovaskuler

- Inspeksi : Bentuk dada simetris, tidak tampak lesi, edema


maupun kemerahan

- Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, edema, maupun massa teraba.


Ictus kordis teraba di IC 4 dan 5

- Perkusi : Saat perkusi menentukan batas atas, bawah, kiri, kanan


jantung tidak terdapat pembesaran ruang jantung

- Auskultasi : Suara s1 dan s2 seimbang


3. Persyarafan

- Penglihatan (mata) :Tidak terdapat penurunan penglihatan


dan gangguan mata lainnya

- Pendengaran (telinga) :Klien tidak mengalami gangguan pada


telinga dan pendengaran. Terganggu bila
mengenai lobus temporal

- Penciuman (hidung) :Klien tidak mengalami gangguan pada


penciuman. Mengeluh bau yang tidak
biasanya, pada lobus frontal

- Pengecapan (lidah) :Klien tidak mengalami gangguan pada


fungsi pengecapan
4. Perkemihan B4 (bladder)

- Inspeksi : Tidak terdapat lesi, kemerahan, edema pada daerah


genital. Tidak ada hipospadia atau kelainan lain. Urine
berwarna bening, tidak ada disuria, hematuria.
5. Pencernaan B5 (bowel)

- Inspeksi : Mukosa bibir terlihat sedikit kering, lidah


bersih, abdomen tampak datar, tidak terdapat
lesi, kemerahan, edema, ataupun massa yang
tampak

- Palpasi : Palpasi 4 kuadran tidak terdapat nyeri. Palpasi


hepar dan limfa tidak terdapat pembesaran

- Perkusi : Perkusi 4 kuadran terdengar timpani

- Auskultasi : Bising usus 15x/menit


6. Muskuloskeletal B6 (bone)

Inspeksi : Ekstremitas atas dan bawah terlihat normal klien


mampu turun tempat tidur jika tidak sedang nyeri kepala
hebat. Berjalan dengan bantuan karna lemah
(Pola Fungsional Gordon)

Pola Persepsi Kesehatan; Pola Manajemen Kesehatan

Klien tidak mengalami gangguan pada persepsi kesehatan.Klien mengatasi


masalah kesehatan dengan pergi ke rumah sakit dan menjalani terapi yang
dianjurkan.

Pola Nutrisi; Pola Metabolik

Klien mengalami penurunan nafsu makan. Berat badan tidak tercantum


mengalami penurunan

Pola eliminasi

Klien tidak mengalami masalah pada BAK maupun BAB


Pola Aktivitas; Pola Latihan
Aktivitas tidak mengalami gangguan.
Pola Tidur; Pola Istirahat
Klien tidak bisa tidur dan mengalami tanda-tanda ansietas lainnya
Pola Kognitif; Pola Persepsi
Klien tidak mengalami gangguan pada kognitifnya
Pola Persepsi Diri; Pola Konsep Diri
Klien merasa dirinya tidak bersih untuk beribadah, banyak berdiam diri
Pola Peran; Pola Hubungan
Klien sulit diajak bicara, menarik diri
Pola Sexual; Pola Reproduksi
Klien tidak mengalami gangguan pada pola reproduksi
Pola Koping; Pola Toleransi Stress
Klien banyak berdiam diri, menarik diri, afek datar, sulit diajak bicara,
dan tidak mau beribadah. Klien juga mengalami tanda-tanda ansietas
yang semakin lama semakin memburuk
Pola Nilai; Pola Kepercayaan
Klien tidak mau beribadah karena merasa dirinya tidak bersih dan
merasa bahwa ibadah tidak akan mengubah kondisinya
Analisa Data
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan cedera biologis


2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
3. Isolasi sosial b.d kondisi kesehatan
4. Gangguan citra tubuh b/d penyakit, terapi penyakit
Intervensi Keperawatan
ANALISA JURNAL
1. Nyeri
Menurut Sakiyan (2015) salah satu terapi yang dapat diterapkan
untuk mengatasi nyeri pada pasien kanker yaitu hypnotherapy.
Pelaksanaan hypnotherapy penting sekali menggunakan komunikasi
terapeutik dengan pendekatan interpersonal agar segala sesuatu yang
berkaitan dengan nyeri dan kecemasan partisipan dapat terungkap
dan kemudian pesan-pesan hynotherapy dapat diterima sehingga
akan membawa manfaat/ efektif pada nyeri dan kecemasan yang
dialami.
Tahap pemberian hypnotherapy yaitu melalui empat
proses diantaranya :
a. Tahap Pra-Induksi
Tahap pra induksi bertujuan untuk mendapatkan data terkait
dengan hal-hal yang dirasakan oleh partisipan. Pada tahap ini
terapis akan membuat klien mengungkapkan perasaannya
terutama terkait nyeri yang dialami dengan menggunakan
pendekatan komunikasi terapeutik yaitu dengan berhadapan
dengan partisipan, menampilkan sikap tubuh yang rileks,
mempertahankan kontak mata, mempertahankan sikap terbuka.
Sakiyan (2015)
b. Induksi dan Deepening
Kondisi ini merupakan proses ini terjadi perpindahan pikiran pasien dari
pikiran sadar (conscious mind) ke alam pikiran bawah sadar (sub- conscious
mind). Deepening bertujuan untuk membawa partisipan untuk menerima
sugesti Metode induksi dan deepening dapat menggunakan metode nafas
dalam/deepth breathing, metode membuka dan menutup mata/mata
berkedip dan metode imagery oleh terapis, hal ini dilakukan
denganbeberapa pertimbangan yaitu untuk keseragaman perlakuan, kondisi
latar belakang pendidikan partisipan yang sebagian besar berpendidikan
sekolah dasar, mudah karena tidak banyak perintah yang rumit sehingga
tidak memerlukan banyak waktu bagi partisipan untuk mencerna, serta karena
tidak adanya masukan dan saran dari partisipan pada masing-masing
metode karena dirasakan sesuai dengan kondisi partisipan. (Sakiyan, 2015)
C. Sugesti Therapy

Sugesti terapi yang di berikan kepada partisipan dapat


menggunakan metode relaksasi, perintah paradoks dan
pemisahan/disosiasi, Setelah menjalani semua siklus hypnotherapy di
dapatkan data terjadi penurunan nyeri dan kecemasan pada masing-
masing siklus, penurunan nyeri dalam kisaran 4 sampai 6,3 dan
penurunan kecemasan pada kisaran 7 sampai 15,8. partisipan
menyatakan nyerinya berkurang langsung setelah selesai sesi hipnosis,
partisipan juga merasa lebih lega dan lebih segar saat terbangun dari
hipnosis, partisipan tampak lebih bersemangat dan lebih bugar.
(Sakiyan, 2015)
D. Alerting
Alerting sering disebut juga dengan awakening merupakan tahap
akhir dari seluruh proses terapi. Pada tahap ini pasien
perlahan-lahan dibangunkan dari tidur hypnosis dan
mengembalikan sepenuhnya kepada kesadaran untuk
mengakhiri proses hypnotherapi, seorang therapis boleh
mengucapkan kata-kata yang semakin membuat pasien
bersemangat dan yakin bahwa masalahnya sudah terselesaikan.
Hal yang paling banyak ditemukan adalah ekspresi senyum
partisipan, yang menunjukan bahwa nyeri dan kecemasannya
berkurang atau hilang. (Sakiyan, 2015)
2. Ansietas
Menurut Reliani (2015) salah satu terapi untuk mengatasi
masalah psikis penderita kanker termasuk ansietas adalah
teknik guided imagery. Teknik guided imagery merupakan salah
satu teknik relaksasi untuk menurunkan kecemasan seseorang
dengan menggunakan kekuatan pikiran. Pada teknik guided
imagery, corteks visual otak yang memproses imajinasi
mempunyai hubungan yang kuat dengan sistem syaraf otonom,
yang mengontrol gerakan involunter
diantaranya: nadi, pernapasan dan respon fisik terhadap stres
dan membantu mengeluarkan hormon endorpin (substansi ini
dapat menimbulkan efek analgesik yang sebanding dengan yang
ditimbulkan morphin dalam dosis 10-50 mg/kg BB)
sehingga terjadi proses relaksasi dan kecemasan menurun.
(Reliani, 2015)
ALHAMDULILLAH