Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN KASUS

KEPANITRAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS `

GIZI BURUK

Oleh
Kelompok Puskesmas Bakunase
Pendahuluan
Angka kejadian gizi buruk di Indonesia pd tahun
2015 3,8% diantaranya terdapat 404 kabupaten/kota
yang mempunyai permasalahan gizi.
Tahun 2015, jumlah anak gizi buruk di NTT yaitu
1.918 dan yang mengalami kekurangan gizi sekitar
21.134.
Pendahuluan
Status Gizi : suatu keadaan kesehatan sebagai
akibat keseimbangan antara konsumsi, penyerapan
zat gizi dan penggunaannya di dalam tubuh.
Penilaian status gizi : Ada beberapa cara mengukur
status gizi anak yaitu dengan pengukuran klinis,
biokimia, biofisik, dan antropometrik. Pengukuran
status gizi anak yang paling banyak digunakan
adalah pengukuran antropometrik
Pendahuluan
Pengukuran Antropometri : pengukuran berat
badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, sesuai
dengan usia paling sering digunakan dalam
survei gizi. Indikator BB/TB, BB/U dan TB/U
yang dinyatakan dalam Z-Score
Dari indikator tersebut diketahui gizi buruk, gizi
kurang, gizi baik.
Pendahuluan
PENGERTIAN GIZI BURUK
Klinis dan atau Antropometris

DIAGNOSIS GIZI BURUK :


DIAGNOSIS
1. Terlihat GIZIdan
sangat kurus BURUK :
atau edema,
dan atau
1. Terlihat sangat kurus dan atau edema,
2. BB/TB ataudanBB/PB : <-3
atau SD : <-3 SD
BB/PB
LAPORAN KASUS
Identitas :

Nama : An. Olivia liunokas


Umur : 1 tahun, 9 bulan (18 oktober 2015)
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Protestan
Alamat : Desa Pusu, Oekamusu
Suku/Bangsa : Timor/Indonesia
Status Pernikahan : menikah sah
Jumlah Saudara : 2 orang (1 meninggal)
Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta
Pendidikan :-
Penanggung jawab : Orang tua kandung
Tanggal masuk : 31 Juli 2017
Anamnesis (anamnesis alloanamnesis)
Tanggal 6 Agustus 2017 PUKUL 11.30 Ruang rawat RSIA
Umemanekan

Keluhan Utama
Pasien anak datang diantar orang tua dengan keluhan
mencret 2x sehari sejak 4 hari dan demam sejak 1
bulan sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
ANAMNESIS
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien anak datang dengan keluhan mencret sejak 4 hari SMRS. Frekuensi
mencret 2 kali sehari dengan tinja tampak encer berbusa, tidak ada darah,
terdapat ampas dangan warna putih. Keluhan mencret disertai mata cekung
yang terjadi 1 hari setelah mencret, keluhan mencret tidak disertai mual
muntah. Ibu mengaku tidak ingat kapan anak kencing terkahir SMRS. Menurut
ibunya, tangan dan kaki anak sudah teraba dingin sejak 1 bulan yang lalu.
Anak awalnya tidak nafsu makan sejak umur 1 tahun. Dalam sehari pasien
hanya makan 4-5 sendok perhari, yang biasanya dimakan adalah bubur dan
sayur namun anak cenderung membiarkan makanan lama di dalam mulut
kemudian membuangnya. Pasien juga mengalami demam sejak kurang lebih 1
bulan SMRS. Pasien berhenti ASI sejak usia 1,5 tahun karena ibunya
menganggap ASI membuat anaknya malas untuk makan.
Anamnesis lanjutan...
Pasien tidak menderita campak dalam 3 bulan terakhir, namun pernah
menderita campak saat berusia 8 bulan dan tetangga sekitar rumahnya
menderita campak. Pasien juga memiliki kontak dengan penderita TB
(ayah pasien).
Kakak pasien yang kedua meninggal dunia saat berusia 2 tahun akibat
diare selama 3 hari dan tidak ada penanganan.
BB lahir pasien : 3 kg. Sejak usia 6 bulan pasien sudah mulai telengkup,
7-8 bulan mulai duduk dan merangkak dan 9 bulan mulai berdiri dengan
bantuan. Menurut ibunya, pasien mendapatkan imunisasi lengkap namun
hal ini tidak dapat dipastikan karena buku KIA tidak dibawa. Menurut ibu,
pasien baru mengikuti posyandu saat kembali ke TTS pada bulan maret.
Anamnesis Lanjutan....

Riwayat makan : ASI eksklusif hingga usia berusia 4 bulan, mulai


mengkonsumsi bubur sun mulai umur 4 bulan dengan frek. Makan 3 kali
sehari dengan setiap porsi makan dihabiskan, mengkonsumsi bubur saring
dengan sayur, wortel dan kadang hati usia 6 bulan dengan setiap porsi
dihabiskan.
Penghasilan keluarga yg diperoleh saat ayah bekerja sebagai sopir sebesar
Rp. 2.500.000, namun saat ayahnya menderita TB ayah tidak bekerja dan
penghasilannya tidak tetap. Ibunya tidak bekerja.
Kondisi rumah : memiliki rumah semi permanen berupa rumah setengah
tembok dan setengah dinding bebak berlantai kasar, biasanya memasak di
dalam rumah menggunakan kompor, saat memasak air menggunakan
tungku api. Rumah memiliki pintu dan jendela tetapi tidak mempunyai
lubang angin. Memiliki 1 kamar mandi yang menggunakan jamban yang
dibuat sendiri (pit latrine).
Jarak rumah ke Faskes kira-kira 30 menit dengan kendaraan.
ANAMNESIS
RIWAYAT PENGOBATAN
Ibu pasien memberikan paracetamol sirup untuk demam anak,
sedangkan untuk mencretnya ibu pasien tidak memberikan apa-apa.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Dalam keluarga pasien, ayah pasien pernah menderita penyakit TB
pada bulan maret 2017, kemudian ayah pasien mulai pengobatan
dan hanya bertahan selama 3 bulan lalu putus obat selama 1 bulan.

RIWAYAT KEBIASAAN/LINGKUNGAN
Pasien dan kedua orang tuanya serta kakaknya tinggal di rumah
kontrakan. Rumah pasien berdekatan dengan tetangga sebelahnya.
Untuk sumber air nya keluarga pasien mengambil dari PDAM.
Saat di Soe, sumber air bersihnya dari sumur umum yang berada di
tengah kebun, jauh dari rumah dan jamban sendiri maupun jamban
tetangga. Air minumnya dimasak terlebih dahulu. Dibelakang rumah
pasien ada terdapat kandang babi.
Review Sistem
Kepala : normocephal, rambut hitam Gastrointestinal : bising usus (+),
kusam dan tipis, tidak mudah rontok
normal, abdominal splash (-)
Mata : konjungtiva anemis Ginjal-Saluran kemih : sde
(+), ikterik (-), mata cekung, air mata
(-) Reproduksi-Genital :
Telinga : otorhea (-) perempuan, luka (-), vaginal
discharge (-)
Hidung : rinorea (-)
Neurologis : sde
Mulut : oral thrush (-), gigi
geligi intak Psikologis : sde

Tenggorok: sde
Kulit : kering, turgor kembali >
3 detik, kulit keriput
Leher : pembesaran kgb (-)
Endokrin: tde
Jantung:S1S2 tunggal, murmur (-)
Muskuloskeletal :atrofi otot (+)
Paru : rhonki (-), whezing
(-), bunyi napas vesikuler

Dada : retraksi (-), tulang


iga tampak jelas.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Pasien tampak sakit sedang
Kesadaran : alert
TD :-
Suhu : 36,8 0 Celcius (aksiler)
HR :126x/menit
Pernapasan : 36 kali/menit
BB :6,5kg
PB :77,2 cm
Status Gizi : BB/U: <-3 SD ( Gizi Buruk)
PB/U : >-3 sampai -2 SD ( Pendek)
BB/PB : <-3 SD (Sangat Kurus)
Pemeriksaan fisik, kepala dan leher
Kepala : normosefalus, benjolan (-), lesi (-)

Kulit : pucat (-), kuning (-), kebiruan (-)

Rambut : berwarna hitam kusam dan tidak mudah dicabut

Mata :

Konjungtiva : anemis +/+

Sklera : ikterik -/-


Hidung : Rinore (-), deformitas (-), deviasi septum (sde), perdarahan (-)

Mulut : mukosa bibir kering,

Leher :

Pembesaran KGB (-/-)


Struma (-)
Trakea letak di tengah
Penggunaan otot bantu napas (-/-)
Pemeriksaan fisik
Pulmo
Anterior
Inspeksi : Pengembangan dada simetris
D=S, retraksi dinding thorax (-)
Palpasi : Taktil fremitus D=S, nyeri tekan (-),
pembesaran KGB (-), massa (-)
Perkusi : sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : suara napas vesikuler (+),
ronki (-), wheezing (-)
Pemeriksaan fisik
Posterior
Inspeksi : Pengembangan simetris, deformitas
vertebra (-), costa mengambang, vertebra
menonjol.
Palpasi : NT sde
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara napas vesikuler (+), ronki (-),
wheezing (-)

Gibus (-), opistotonus (-), spinabifida(-), nyeri tekan


(sde)
Pemeriksaan fisik
Cor
Inspeksi : Ictus Cordis nampak
Palpasi : Ictus Cordis teraba di ICS 5 Linea
midclavicula sinistra
Auskultasi : S1 - S2 reguler/irreguler,
Murmur(-), gallop(-)
Pemeriksaan fisik
Abdomen
Inspeksi : cembung , pelebaran vena (-)
Auskultasi :bising usus (+) 5x/menit,
kesan normal
Palpasi :Nyeri tekan (-), hepar, lien tak
teraba ginjal balottemen (-), Abdomen kesan
sedikit distensi
Perkusi : Timpani
Pemeriksaan fisik
Extremitas :
Akral hangat
Sianosis (-) pada
CRT < 2
Edema (-)
Telapak tangan pucat
Pemeriksaan fisik
Tambahan

Muka seperti orang tua


Baggy pants
Iga melayang
Vertebra nampak jelas
Atrofi otot
Turgor kulit kembali lambat
Air mata tidak ada
Kulit kering dan keriput
Diagnosis

Gizi buruk tipe marasmus tanpa edema


Tanda bahaya dan tanda penting

Tanda bahaya & KONDISI


tanda penting
I II III IV V

1. Renjatan/syok + - - - -
2. Letargis/tidak + + - + -
sadar
3. + + + - -
Muntah/diare/dehidra
si
RENCANA II (letargis, dehidrasi)

FASE STABILISASI :
Bolus D10%, iv, 5 ml/kgBB
Lanjutkan D10% / gula pasir 10% per NGT : 50 ml
ReSoMal : 5 ml/kgBB tiap 30, oral/NGT selama 2 jam I

Membaik Memburuk / syok


10 jam berikutnya : RENCANA I
ReSoMal & F-75 selang seling tiap 1 jam
Bila sudah terehidrasi/diare berhenti ReSoMal distop
F-75 lanjut setiap 2 jam
RENCANA II (letargis, dehidrasi)

FASE STABILISASI : 3-7 HARI


Bila stabil dan sebagian besar F-75 dihabiskan, berikan setiap 3 jam
Kemudian setiap 4 jam
Bila masih menetek berikan ASI diantara F-75

FASE TRANSISI : 8-14 HARI


F-100 : 150 220 ml/kgBB/hr diberikan tiap 4 jam
Target BB/PB-TB > - 3SD s/d 2SD
BPL ~ kriteria

FASE REHABILITASI : 2-6 MINGGU


F-135 : 150-220 ml/kgBB/hr diberikan tiap 6 jam
Target BB/PB-TB > - 2SD
Tatalaksana
F-75 8 x 110 (H1), 115 cc (H2), 120
cc (H3)
sariKotrimoksasole 240 mg 2 x 1 cth
Diet bubur ng 3x sehari
Zinc 1 x 20 mg
L. Bio 2x sachet
29
Diskusi (1)
Kasus Teori

Balita tinggal TTS Prevalensi Gibur di TTS 13,32%


Diskusi (2)
30

Kasus Teori

Pasien mengalami diare Mekanisme yg menyebabkan timbulnya diare adalah


selama 3 hari SMRS gangguan osmotic, sekresi dan motilitas usus. Diare
merupakan penyebab utama dari malnutrisi. Setiap
episode diare dapat menyebabkan kehilangan berat
badan. Semakin buruk keadaan gizi anak, semakin sering
dan semakin berat diare yang dideritanya. Ada 2
masalah yang berbahaya dari diare, yaitu kematian dan
malnutrisi. Diare dapat menyebabkan malnutrisi dan
membuat lebih buruk lagi karena pada diare tubuh akan
kehilangan nutrien, anak-anak dengan diare mungkin
merasa tidak lapar serta ibu tidak memberi makan pada
anak ketika mengalami diare. Penderita gizi buruk akan
mengalami penurunan produksi antibodi serta terjadinya
atropi pada dinding usus yang menyebabkan
berkurangnya sekresi berbagai enzim sehingga
memudahkan masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh
terutama penyakit diare.
Diskusi (3)

Kasus Teori
Anak demam hilang timbul Gizi buruk sangat rentan terhdp pnyakit
infeksi krna daya tahan tubuh yang
sejak 1 bulan lalu. sangat menurun sehg mudah terserang
infeksi kuman. Salah satu tanda dari
infeksi adalah demam. Umumnya
demam tjd krn produksi zat pirogen yg
scra langsung akan mengubah titik
ambang suhu hypothalamus shg
mghasilkan pembentukkan panas.
32
Diskusi (4)
Kasus Teori

Anak datang dengan diare, Dehidrasi Berat , tanda2nya letargis,


mata cekung, turgor kulit turgor kulit menurun, malas minum, mata
kembali sangat lambat,
cekung, sianotik, nadi cepat dan dangkal,
lemas, saat menangis
tidak keluar air mata, akral dingin, kulit keriput, air mata kering.
Diskusi (5)
33

Kasus Teori
Riwayat Persalinan: BBLR sitem imun kurang sempurna
dilahirkan secara mudah terkena infeksi infeksi
normal cukup bulan penurunan napsu makan GIZI BURUK
dengan BBL 3000
gram Pada kasus tidak sesuai karena BBL
3000 Normal
34
Diskusi (6)
Kasus Teori
Pasien
Kasustidak KMS merupkan kartu yg memuat kurva
Teori
diketahui pertumbuhan anak berdasarkan indeks
Riwayatsecara Sistem kekebalan menurun
pasti riwayat antropometri BB/U yg dibedakan
Imunisasi: pada anak gizi
berdasarkan jenis buruk
kelamin.yang
Menurut
posyandu
imunisasidan
dasar imunisasinya tidak lengkap.alat untuk
Permenkes, KMS merupakan
imunisasi
sampai karena
campak memantau pertumbuhan anak
tidak
usiamembawa
9 bulan. dibawah 5 tahun. Manfaat buku KMS
buku KMStidak
Tetapi utk mngtahui kesehatan ibu hamil, ibu
mendapat bersalin, ibu nifas, KB : mengetahui
imunisasi Polio pertumbuhan & perkembangan bayi
dan balita : mengetahui status
3. imunisasi ibu hamil dan bayi :
mengetahui riwayat penyakit bayi dan
balita.
Diskusi (7)
35
Kasus Teori
Riwayat makan : ASI eksklusif ASI ekslusif memgandung zat gizi yang cukup untuk
hingga usia berusia 4 bulan, perumbuhan dan mengandung zat kekebalan tubuh
mulai mengkonsumsi bubur sehingga melindungi dari adanya infeksi
sun mulai umur 4 bulan MP-ASI yang diberikan kurang dari 6 bulan dapat
dengan frek. Makan 3 kali meningkatkan risiko alergi dan mengganggu
sehari dengan setiap porsi penyerapan zat gizi karena villi usus belum
makan dihabiskan, berkembang dengan baik.
mengkonsumsi bubur saring Pemberian MP-ASI secara dini mnrt penelitian
dengan sayur, wortel dan memberikan dampak scra lgsng pd bayi diantaranya
kadang hati usia 6 bulan adalah ggn pencernaan spti diare, muntah serta bayi
dengan setiap porsi akan mengalami ggn mnyusu. Diare disebabkan krn
dihabiskan. dlam makanan tambhan bayi biasanya terkandung
konsentrasi tggi KH dan gula yg masih sukar utk
dicerna oleh organ pencernaan bayi apablia diberikan
terlalu dini krn produksi enzim khususnya amilase pd
bayi masih rendah shg akan terjadi malabsorpsi yg
mngakibatkan ggn pencernaan.
Diskusi (8)
Kasus Teori
Riwayat kontak dengan pasien TB ditularkan melalui udara
TB (ayah pasien) dimana pada pasien mengalami
kontak dengan pasien TB
(ayahnya). Ayahnya tidak
memakai masker dan
membuang dahak secra
sembrngan, shg ada
kemngkinan infeksi TB pada
pasien yang mendukung
terjadinya penurunan BB,
hilangnya nafsu makan.
37
Diskusi (9)
Kasus Teori
Pekerjaan Ibu: IRT Pendidikan ortu rendah mempengaruhi
Pekerjaan ayah : tidak ketersediaan pangan dalam keluarga
tetap
Pendidikan tinggi pendapatan
Pendidikan ibu : SMP
Pendidikan ayah : SMA meningkat daya beli makanan
Penghasilan keluarga meningkat
saat ini tidak Pendidikan penting untuk memperoleh
dan mengelola informasi termasuk
informasi tentang gizi
Diskusi (10)
38

Kasus Teori
Kondisi rumah : memiliki rumah Ventilasi rumah yang buruk menyebabkan
semi permanen berupa rumah sirkulasi tidak maksimal, shg rumah menjadi
setengah tembok dan setengah
lembab dan menjadi tempat berkembang biak
dinding bebak berlantai kasar,
biasanya memasak di dalam kuman penyakit.
rumah menggunakan kompor,
saat memasak air menggunakan
tungku api. Rumah memiliki pintu
dan jendela tetapi tidak
mempunyai lubang angin.
Memiliki 1 kamar mandi yang
menggunakan jamban yang
dibuat sendiri (pit latrine).
Diskusi (11)
39
Kasus Teori

Kepala : rambut hitamh Tipe Marasmus


kering dan kusam, tidak mudah Tampak sangat kurus, hingga seperti
tercabut, wajah seperti orang tua
tulang terbungkus kulit
Ekstremitas : Akral
hangat, CRT < 3, edema Wajah orang tua
ekstremitas atas (-/-), Cengeng, rewel
bawah (-/-). Penampakan Kulit keriput, jaringan lemak subkutis
iga dan tulang vertebra sangat sedikit sampai tidak ada
yang jelas, baggy panst, Perut umumnya cekung
kulit keriput, Iga ngambang
atrofi otot. Sering disertai: penyakit infeksi
(umumnya kronis berulang) dan diare
Diskusi (13)
40
Kasus Teori
Kotrimoksazol 2x1 tab
Ada komplikasi, kemungkinan TB tapi belum
ada gejala-gejala yang muncul.
Kotrimoksasol (SMX 25 mg/kgbb + TMP 5
mg/kgbb) per oral setiap 12 jam selama 5 hari.
Dengan komplikasi
Gentamisin 7,5 mg/kgbb IV/IM sekali sehari
selama 7 hari dengan:
Ampisilin 50mg/kgbb IV/IM setiap 6 jam,
selama 2 hari
Amoksisilin 15 mg/kgbb per oral setiap 8 jam;
jika tidak ada berikan Ampisilin 50 mg/kgbb per
oral setiap 6 jam. Selama 5 hari.
41
KRITERIA SEMBUH
Bila BB/TB atau BB/PB >-2 SD dan tidak ada gejala klinis dan memenuhi
kroteria pulang sebagai berikut:
a) Edema sudah berkrang atau hilang, anak sadar dan aktif.
b) BB/PB atau BB/TB >-3 SD.
c) Komplikasi suda teratasi.
d) Ibu telah mendapatkan konseling gizi.
e) Ada kenaikan BB sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu
berturut-turut.
f) Selera makan sudah baik, makanan yang diberikan dapat dihabiskan.
42
KIE Keluarga Anak Gizi
Buruk
Jika anak telah tumbuh dengan baik
1. Memberikan makanan yang sesuai umur anak (12-24 bulan):
Teruskan pemberian ASI.
Berikan makanan keluarga secara bertahap sesuai kemampuan anak.
Berikan 3x sehari, sebanyak 1/3 porsi makan orang dewasa terdiri dari nasi, lauk
pauk, sayur, dan buah.
Beri makanan selingan 2 kali diantara waktu makan (biskuit, kue)
2. Membawa anak ke Puskesmas/ Puskesmas Pembantu/ Posyandu terdekat
dengan rumah pasien untuk dilakukan pemantauan pertumbuhan dan
perkembangan serta penyakit penyerta secara rutin.
3. Berikan nasehat untuk melengkapi imunisasi (polio 3 dan booster campak).
43

TERIMA KASIH