Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA PPOK

DEFINISI
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah
penyakit paru ditandai oleh hambatan aliran
udara yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat
progresif dan berhubungan dengan respons
inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang
beracun/berbahaya.
FAKTOR RISIKO
1. Asap rokok
2. Polusi udara
3. Stres oksidatif
4. Gen
5. Tumbuh kembang paru
6. Sosial ekonomi
PATOGENESIS

Patogenesis PPOK
(dikutip dari PDPI, 2003)
DIAGNOSIS
Gejala Keterangan

Sesak Progresif (sesak bertambah berat seiring bertambahnya waktu)

Bertambah berat dengan aktivitas

Persisten (menetap sepanjang hari)

Pasien mengeluh berupa perlu usaha untuk bernafas

Berat, sukar bernafas, terengah-engah

Batuk Kronik Hilang timbul dan mungkin tidak berdahak

Batuk kronik berdahak Setiap batuk kronik berdahak dapat mengindikasikan PPOK

Riwayat terpajan faktor risiko Asap rokok, debu, bahan kimia di tempat kerja, asap dapur

Pertimbangkan PPOK dan lakukan uji spirometri, jika


salah satu indikator ini ada pada individu di atas usia 40
tahun.
GAMBARAN KLINIS

Anamnesis
Riwayat merokok atau bekas perokok

Riwayat terpajan zat iritan di tempat kerja

Riwayat penyakit emfisema pada keluarga

Terdapat faktor predisposisi pada masa


bayi/anak, misal BBLR, infeksi saluran napas
berulang, lingkungan asap rokok dan polusi
udara
Batuk berulang dengan atau tanpa dahak

Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi


Pemeriksaan Fisis
PPOK dini umumnya tidak ada kelainan
Inspeksi
Pursed-lips breathing (mulut setengah
terkatup/mencucu)
Barrel Chest (diameter antero-posterior dan
transversal sebanding)
Penggunaan otot bantu napas
Hipertrofi otot bantu napas
Pelebaran sela iga
Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat
denyut vena jugularis di leher dan edema tungkai
Penampilan pink puffer atau blue bloater
Palpasi
Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar
Perkusi
Pada emfisema hipersonor dan batas jantung
mengecil, letak diafragma rendah, hepar terdorong
ke bawah
Auskultasi
Suara napas vesikuler normal atau melemah
Terdapat ronki atau mengi pada waktu bernapas
biasa atau pada ekspirasi paksa
Ekspirasi memanjang
Bunyi jantung terdengar jauh
Pink Puffer
Khas pada emfisema, pasien kurus, kulit kemerahan
dan pernapasan pursed-lips breathing
Blue Bloater
Khas pada bronkitis kronik, pasien gemuk sianosis,
edema tungkai dan ronki basah di basal paru,
sianosis sentral dan perifer.
Pursed-lips breathing
Sikap bernapas dengan mulut mencucu dan ekspirasi
yang memanjang. Sikap ini sebagai mekanisme
tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi
pada gagal napas kronik.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Spirometri
Uji Bronkodilator

Laboratorium Darah

Radiologi
KLASIFIKASI
Derajat Klinis Faal Paru

Gejala Klinis Normal

(batuk, produksi sputum)

Derajat I : Gejala batuk kronik dan produksi sputum ada tetapi tidak VEP1/KVP < 70%

PPOK ringan sering. Pada derajta ini pasien sering tidak menyadari faal VEP1 80% prediksi

paru mulai menurun

Derajat II : Gejala sesak mulai dirasakan saat aktivitas dan kadang VEP1/KVP < 70%

PPOK sedang ditemukan gejala batuk dan produksi sputum. Pada derajat ini 50% < VEP1 < 80 % prediksi

biasanya pasien mulai memeriksakan kesehatannya.

Derajat III : Gejala sesak lebih berat. Penurunan aktivitas, rasa lelah dan VEP1/KVP < 70%

PPOK berat serangan eksaserbasi semakin sering dan berdampak pada 30% < VEP < 50% prediksi

kualitas hidup pasien

Derajat IV : Gejala di atas ditambah tanda-tanda gagal napas atau gagal VEP1/KVP < 70%

PPOK sangat berat jantung kanan dan ketrgantungan oksigen. Pada derajat ini VEP1 < 30% prediksi atau VEP1 < 50%

kualitas hidup pasien memburuk dan jika eksaserbasi dapat prediksi disertai gagal napas kronik

mengancam jiwa
PENATALAKSANAAN SECARA UMUM
DERAJAT I DERAJAT II DERAJAT III DERAJAT IV

VEP1/KVP < 70% VEP1/KVP < 70% VEP1/KVP 70% VEP1/KVP < 70 %

VEP1 80% 50% < VEP1 < 8% 30% VEP1 50% VEP1 < 30%

prediksi prediksi prediksi prediksi

Hindari faktor risiko : Berhenti merokok, pajanan kerja


Dipertimbangkan pemberian vaksinansi influenza
Tambahkan bronkodilator kerja pendek (bila diperlukan)
Berikan pengobatan rutin dengan satu atau lebih bronkodilator kerja lama
Tambahkan rehabilitasi fisis
Tambahkan inhalasi glukokortikosteroid jika terjadi eksaserbasi
berulang-ulang
Tambahkan pemberian oksigen jangka
panjang jika terjadi gagal napas kronik
Lakukan operasi bila diperlukan
PROGNOSIS

Bila sudah terdapat hipoksemia, prognosis


biasanya kurang memuaskan dan mortalitas
pada 2 tahun kurang lebih 50%.

KOMPLIKASI

Gagal napas
Gagal napas kronik
Gagal napas akut pada gagal napas kronik

Infeksi berulang
Kor pulmonale
TERIMAKASIH