Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS RISIKO PENCEMARAN CHLOROANILIN

PADA BADAN AIR SUNGAI CITARUM, JAWA


BARAT
KELOMPOK :
APRILIA PRIHARTIWI
IDA NADIA SAUMI
LATRI HIDAYAH
WIDHY REZA PUTRA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PEMINATAN EPIDEMIOLOGI
2015
Perumusan Masalah
Pencemaran bahan kimia yang sulit terurai di badan air
merupakan suatu masalah besar, Karena bahan tersebut
akan larut di dalam air dan terakumulasi di biota perairan
atau bahkan bias membunuhnya juga, terlebih lagi jika air
yang mengandung polutan berbahaya tersebut digunakan
sebagai air baku untuk PDAM, sungai citarum adalah
sungai yang diketahui tercemar oleh limbah industry
salah satunya adalah limbah pewarna tekstil Chloroanilin
yang berasal dari transformasi zat kimia pewarna tekstil
Azo Dyes, selain itu air dari sungai citarum juga digunakan
sebagai air baku sehingga sangat berisiko menimbulkan
masalah kesehatan.
Langkah 1. Identifikasi Agent
Langkah 2. Identifikasi Dose-
Response
Langkah 3. Analisis Pajanan
Intake Karsinogen (Max Hulu) Dewasa

Ik = =

Intake Karsinogen (Max Hilir) Dewasa

Ik = =

=
Intake Karsinogen (Max Hulu) Anak

Ik = =

Intake Karsinogen (Max Hilir) Anak

Ik = =

=
Intake Karsinogen (Min Hulu) Dewasa

Ik = =

Intake Karsinogen (Min Hilir) Dewasa

Ik = =

=
Intake Karsinogen (Min Hulu) Anak

Ik = =

Intake Karsinogen (Min Hilir) Anak

Ik = =

=
Langkah 4. Karakteristik risiko
1. Pada Dewasa
ECR maksimum
Hulu
Hilir
ECR Minimum
Hulu
Hilir
2. Pada Anak
ECR maksimum
Hulu
Hilir
ECR Minimum
Hulu
Hilir
Interpretasi Tingkat Risiko
Karsinogenik
Tingkat risiko pajanan Chloroanilin secara
ingesti baik pada dewasa maupun anak
anak berdasarkan hasil perhitungan tingkat
karsinogenik pada area hulu dan hilir
dikatakan tidak aman untuk frekuensi
pajanan selama 365 hari/tahun hingga 30
tahun mendatang.
Strategi Pengelolaan Risiko

Konsentrasi Aman Karsinogenik Ingesti

Ck Aman (Dewasa) =

=
Lanjutan..

Ck Aman (Anak)=

=
Cara Pengelolaan dan Pengendalian
Risiko
1. Pendekatan teknologi
Pengelolaan risiko menggunakan teknologi yang tersedia
meliputi penggunaan alat bahan dan metoda serta teknik
tertentu..
Contoh :
Aplikasi penggunaan IPAL di setiap industry agar
limbah yang dibuang aman di badan air.
Penggantian bahan pewarna yang aman dan
biodegradable, atau dengan bahan alami sehingga
limbah yang dihasilkan aman jika dibuang ke badan air.
2. Pendekatan Institusional
Perlunya pelibatan Pemerintah sebagai pemangku kebijakan
untuk menetapkan peraturan. Pemerintah Daerah Provinsi
Jawa Barat harus dapat merangkul dan menyadarkan seluruh
masyarakat dan pelaku usaha industri untuk bersama sama
berperan aktif dalam menjaga kelestarian dan kebersihan
Sungai Citarum. Masyarakat sekitar Sungai Citarum adalah
tanggung jawab pemerintah juga. Ketika masyarakat dan
pelaku industri tidak mengindahkan peraturan yang telah
diterapkan, maka tanggung jawab pemerintah sendiri sebagai
inisiator untuk memberikan informasi kepada masyarakat
mengenai peraturan dan penjagaan kualitas Sungai Citarum
Selain itu keterlibatan masyarakat secara social
dan kelembagaan. Lembaga-lembaga RT/RW,
LSM, paguyuban, pecinta alam dll. perlu
dilibatkan dalam upaya menjaga kelestarian
sungai Citarum. Pemerintah daerah atau LSM
bisa juga mempelopori sarasehan atau lomba
mengenai lingkungan di sepanjang aliran sungai
agar masyarakat, pemerintah, dan pelaku
industry sama sama marasa memiliki dan
bertanggung jawab atas lingkungan di
sekitarnya.
3. Manajemen perencanaan wilayah
Manajemen wilayah ini berupa desain tata wilayah
yang teratur. Di wilayah mana yang boleh didirikan
industry, pemukiman, pusat ekonomi, tata ruang
hijau dll. Sehingga pendirian pabrik dan bangunan
tidak sembarangan.

4. Ekonomi
Dilakukannya pemberdayaan masyarakat yang
berisiko, pemerian kompensasi kepada masyarakat
yang terkena dampak, dan permohonan bantuan
pemerintah akibat keterbatasan pemrakarsa (pihak
yang bertanggung jawab mengelola risiko), dll.
5.Pendekatan Lingkungan / Ekologi
Perlunya digalakkan penghijauan di sepanjang hulu,
aliran sampai hilir dari sungai Citarum agar tidak
terjadi erosi dan membantu penyerapan air hujan
ke dalam tanah. Bisa juga sepanjang aliran ini
ditanami tanaman yang produktif dan
perawatannya diserahkan kepada kelompok tani/
paguyuban di sekitar sungai Citarum. Sehingga
tumbuh kepedulian masyarakat sekitar terhadap
kelestarian sungai. Selain itu sungai yang ada di
bantaran sungai juga dapat membantu mereduksi
polutan yang ada disungai.
6. Penegakan hukum
Penegakan hukum ini diberlakukan kepada pihak
industry/ pabrik baik yang skala besar maupun
skala kecil. Setiap pelanggaran yaitu
pembuangan limbah industry yang tidak sesuai
dengan ketentuan harus ditindak agar
menimbulkan efek jera di kalangan industry.
Tanpa adanya tindakan tegas, maka
permasalahan limbah ini akan berlarut-larut
tanpa ada akhirnya. Tindakan ini memerlukan
serangkaian peraturan sekaligus pengawasan
dan penindakan.
Pemerintah juga mulai perlu mengeluarkan
peraturan mengenai pemanfaatan teknologi
bersih bagi kegiatan industri, sehingga
minimalisasi limbah dapat dilakukan sejak
tahap awal produksi. Jangan sampai kegiatan
ekonomi industri menjadi alasan diizinkannya
kegiatan tersebut tanpa memikirkan kaidah
kaidah kelestarian lingkungan yang juga
memiliki dampak besar bagi kehidupan
masyarakat.
Selain itu juga hal yang penting, dibutuhkan
komitmen yang kuat bagi pemerintah dalam
mengembalikan fungsi lahan sekitar sungai
Citarum ke dalam fungsi yang seharusnya.
Penegakan peraturan guna lahan harus
dilaksanakan untuk mendukung perbaikan
kondisi Sungai Citarum, terutama untuk
menangani masalah sedimentasi tanah.
Pengembalian fungsi lahan terutama pada
daerah hulu Sungai Citarum dan juga
sepanjang Daerah Aliran Sungai Citarum.