Anda di halaman 1dari 254

Hand Out

Pekerjaan Pondasi Jalan

Pembekalan / Pengujian
Ahli Pengawas
Jalan dan Jembatan
1
Bab I : Gambaran Umum
Perkerasan Jalan

2
Ruang lingkup

Umum

Lapis pondasi merupakan bagian perkerasan jalan raya yang


terletak antara lapis permukaan jalan dan tanah dasar.
Salah satu fungsi utamanya pada perkerasan lentur adalah
untuk menyebarkan beban kendaraan agar tegangan yang
sampai ke tanah dasar tidak melampaui tegangan yang dapat
menimbulkan deformasi berlebih.
Pada perkerasan kaku, fungsi utama lapis pondasi adalah untuk
mencegah pemompaan .

3
Karena letaknya yang langsung di bawah lapis
permukaan sehingga menerima tegangan yang
besar akibat beban roda kendaraan,
Lapis pondasi atas dan lapis pondasi bawah pada
perkerasan lentur harus mempunyai ketahanan
yang tinggi terhadap deformasi.

Karena posisinya yang terletak di bawah lapis


pondasi atas, lapis pondasi bawah dapat mempunyai
mutu yang lebih rendah daripada mutu untuk
lapis pondasi .

4
Untuk memenuhi fungsi tersebut
lapis pondasi atas dan lapis pondasi bawah
dapat dibuat dari berbagai jenis bahan,
tergantung pada ketersediaan bahan, efisiensi
pengerjaan serta fungsi lainnya.

5
PERKERASAN LENTUR PERKERASAN KAKU
CL

21
3 19 18 19

20
13
5 17
14 16 10 11

15
2 8 9 4
7 12
6

1. Lereng timbunan 12) Lapis pondasi bahu


2. Permukaan tanah asli 13) Kemiringan melintang perkerasan
(original ground) 14) Tanah dasar (subgrade)
3. Tanggul 15) Tanah asli (roadbed soil)
4. Bahan pilihan 16) Struktur perkerasan
5. Lapis permukaan bahu 17) Kemiringan bahu
6. Lapis pondasi bawah 18) Lajur lalu-lintas
7. Lapis pondasi atas 19) Bahu
8. Lapis permukaan 20) Lajur jalan
9. Pelat beton 21) Badan jalan
10. Lereng saluran samping
11. Lereng galian
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku


Pengenalan Struktur Perkerasan
Apakah Perbedaan Perkerasan Kaku dan Lentur Itu ?
Perbedaannya adalah sbb :
Perkerasan Kaku: Modulus Elastisitas (E) >>, Deformasi <<,
Untuk Tebal Perkerasan Yang Sama, Area Distribusi Beban >>,
Kebutuhan Tebal Perkerasan <<
Perkerasan Lentur: Modulus Elastisitas (E) <<, Deformasi >>,
Untuk Tebal Perkerasan Yang Sama, Area Distribusi Beban <<,
Kebutuhan Tebal Perkerasan >>

BEBAN
BEBAN

PERKERASAN KAKU PERKERASAN LENTUR

L 7
L
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Apa saja komponen-komponen


lapisan perkerasan?
- PERKERASAN KAKU :

K350 (yang dibutuhkan sebenarnya Flexural Strength,


BETON SEMEN
45 kg/cm2 ), tebal beton semen sangat bergantung pada
flexural strength
SUBBASE Tidak harus ada, biasanya digunakan Cement Treated
Sub- (CTSB) atau Lean Concrete
base
SUBGRADE
CBR tidak terlalu berpengaruh terhadap tebal beton semen

- PERKERASAN LENTUR :

LAPIS PERMUKAAN terdiri dari lapisan beraspal


(Surface Course)

LAPIS PONDASI ATAS dapat terbuat dari lapisan beraspal, bahan berbu-
(Base Course) tir, bahan yang distabilisasi dengann semen/kapur.

LAPIS PONDASI BAWAH


dapat terbuat dari lapisan beraspal, bahan berbu-
(Subbase Course) tir, bahan yang distabilisasi dengan semen/kapur
LAPIS TANAH DASAR tebal tak terhingga
(Subgrade)
8
Fungsi lapis pondasi

Salah satu fungsi lapis pondasi adalah


untuk menyebarkan tegangan atau untuk
meningkatkan kapasitas struktural
perkerasan, terutama pada perkerasan
lentur.
Disamping fungsi tersebut, terdapat
fungsi-fungsi lain lapis pondasi,
tergantung pada jenis perkerasan.

9
Fungsi lapis pondasi

Pada perkerasan kaku, fungsi lain lapis


pondasi adalah:
Mencegah terjadinya pemompaan
(pumping).
Mengalirkan air yang masuk dalam
perkerasan.
Mencegah atau memperkecil terjadinya
pemuaian pada tanah dasar.
Sebagai lantai kerja.
10
Lapis pondasi dan lapis pondasi bawah pada
perkerasan lentur ditujukan untuk meningkatkan
daya dukung perkerasan, baik melalui
penambahan kekakuan dan ketahanan lelah
maupun melalui pembentukan lapisan yang
relatif tebal sehingga dapat menyebarkan beban
secara lebih luas.
Hal tsb merupakan fungsi utama lapis pondasi
pada perkerasan lentur, meskipun tetap dituntut
adanya fungsi drainase dan fungsi perlindungan
terhadap pemuaian tanah dasar.

11
CBR yang harus dipenuhi bahan lapis pondasi biasanya
ditetapkan 100 persen.
Lapis pondasi pada perkerasan yang melayani lalu-
lintas rendah mungkin tidak menuntut bahan bermutu
tinggi, tetapi cukup bahan bermutu lebih rendah.
Penggunaan bahan bermutu rendah untuk lapis pondasi
dapat dikompensasi dengan mempertebal lapis
permukaan.
Lapis pondasi yang terdiri atas bahan yang distabilisasi
aspal atau semen dapat menghemat biaya, karena lapis
pondasi dengan bahan tersebut akan menjadi lebih tipis.

12
Lapis pondasi atas dan pondasi bawah pada
perkerasan lentur.

Lapis pondasi pada perkerasan lentur


biasanya terdiri atas lapisan hasil
pemadatan batu pecah, kerikil atau slag
yang bergradasi tertentu, atau bahan hasil
stabilisasi;
Lapis pondasi bawah dapat terdiri atas
bahan yang sama seperti untuk lapis
pondasi, tetapi dengan mutu yang lebih
rendah

13
Lapis pondasi atas

Untuk mencegah terjadinya keruntuhan


akibat tegangan yang terjadi langsung di
bawah permukaan, lapis pondasi atas
harus terdiri atas bahan bermutu tinggi.
Apabila lapis pondasi atas terdiri atas
agregat, maka agregat tersebut harus
gradasi yang sesuai dengan gradasi yang
dicantumkan dalam spesifikasi.
14
Fungsi utama lapis pondasi atas dan lapis
pondasi bawah pada perkerasan lentur
adalah sebagai media untuk menyebarkan
tegangan yang ditimbulkan oleh beban
kendaraan yang bekerja pada permukaan
perkerasan.
Maka tegangan yang sampai pada
permukaan tanah dasar tidak
mengakibatkan deformasi yang berlebih.

15
Lapis pondasi pada perkerasan lentur
biasanya terdiri atas lapisan hasil pemadatan
batu pecah, kerikil atau slag yang bergradasi
tertentu, atau bahan hasil stabilisasi

Lapis pondasi bawah dapat terdiri


atas bahan yang sama seperti untuk lapis
pondasi, tetapi dengan mutu yang lebih rendah.

Untuk memastikan bahwa tanah dasar tidak


menerima tegangan berlebih, maka lapis pondasi
atas dan lapis pondasi bawah harus mempunyai
tebal memadai. 16
Lapis pondasi bawah

Untuk lapis pondasi bawah dapat digunakan


bahan pilihan, misal kerikil alam. Bahan pilhan
biasanya mempunyai stabilitas cukup tinggi,
tetapi mempunyai karakteristik lain yang
menjadikan bahan tersebut tidak sepenuhnya
memenuhi syarat sebagai lapis pondasi atas.
Agar dapat dijadikan lapis pondasi bawah,
bahan pilihan mungkin perlu distabilisasi atau
mungkin langsung digunakan dalam kondisi
aslinya.

17
Tujuan pemasangan lapis pondasi bawah adalah
untuk mendapatkan perkerasan yang relatif tebal
tetapi dengan biaya yang lebih murah.
Bahan untuk lapis pondasi bawah dapat
mempunyai mutu yang rentang batas-batasnya
lebar, sejauh persyaratan tebal dipenuhi.
Persyaratan berat isi dan kadar air seyogyanya
ditetapkan berdasarkan pengujian laboratorium
atau lapangan.

18
Lapis pondasi pada perkerasan kaku

Pada perkerasan kaku, lapisan yang


langsung terletak di bawah pelat beton
sering disebut lapis pondasi bawah dan
kadang-kadang disebut lapis pondasi
atas.
Pada perkerasan kaku, penggunaan
istilah lapis pondasi atas dan lapis pondasi
bawah dapat dipertukarkan.

19
Tujuan utama pemasangan lapis pondasi pada
perkerasan kaku adalah untuk mencegah pemompaan.
Lapis pondasi harus mudah mengalirkan air (free
draining) atau tahan erosi akibat air.
Agar mudah mengalirkan air, bahan lapis pondasi
harus memenuhi kriteria kandungan bahan halus, yang
pada dasarnya harus mengandung sedikit atau tidak
mengandung bahan halus.
Pada kondisi ekstrim, bahan yang mempunyai gradasi
padat dapat digunakan sebagai lapis pondasi asalkan
dipastikan bahwa bahan tersebut tidak akan tererosi
oleh air yang terkumpul di bawah pelat, atau akan
digunakan sebagai lapis pondasi pada perkerasan yang
melayani lalu-lintas rendah.
Persyaratan drainase sebaiknya tetap dipenuhi.

20
Agar dapat mencegah pemompaan, maka
agregat untuk lapis pondasi di bawah
perkerasan kaku harus memenuhi dua
persyaratan, yaitu:
Harus dapat mencegah terpompanya
butir-butir tanah dasar melalui lapis
pondasi.
Tidak mengalami pemompaan butir.
21
Lapis pondasi pada perkerasan kaku yang
untuk mencegah pemompaan harus
mempunyai tebal sekurang-kurangnya 7,5
sampai 15 cm.
Lapis pondasi yang terlalu tipis akan
mempunyai kinerja yang jelek, karena
lapis pondasi yang tipis sangat sulit
dikerjakan.

22
Lapis pondasi pada perkerasan kaku bila
digunakan agregat bergradasi terbuka, sebelum
pelat beton, sebaiknya permukaan lapis pondasi
ditutup dengan lapis perata (levelling course).
Agar diperoleh lantai kerja yang rata sehingga
diperoleh tebal lapisan beton yang seragam.
Lapis pondasi bergradasi terbuka dihampar
pada permukaan lapis penyaring (misal pasir),
untuk mencegah masuknya butir-butir tanah
dasar ke lapis pondasi.

23
Pemompaan bahan lapis pondasi

Tahap awal proses pemompaan lapis pondasi yang terdiri atas


bahan granular adalah sama dengan proses yang berlangsung
pada tanah berbutir halus.
Akibat beban berulang, di bawah pelat akan terjadi rongga
awal (ditinjau dari mutu bahan, terjadinya rongga mungkin
sebagai akibat pemadatan yang kurang, baik pada lapis
pondasi maupun tanah dasar, atau sebagai akibat akumulasi
bahan halus pada lapis pondasi sehingga lapis pondasi mudah
mengalami deformasi permanen).
Selanjutnya, air masuk ke dalam rongga dan apabila lapis
pondasi terdiri atas bahan bergradasi padat, maka air akan
tertahan di bawah pelat sampai terjadi lendutan pada pelat dan
menekan air.
Apabila lapis pondasi terdiri atas agregat bergradasi terbuka,
maka air yang masuk ke dalam rongga akan terus meresap
sehingga pemompaan tidak akan terjadi.

24
Lapis pondasi yang mengalami pemompaan
parah sehingga menimbulkan kerusakan pada
pelat biasanya terdiri atas bahan bergradasi
jelek yang mudah tererosi.
Lapis pondasi yang terpompa paling parah
biasanya terdiri atas kerikil bergradasi jelek yang
mengandung banyak bahan halus.
Pada batu pecah yang bergradasi relatif
menerus, pemompaan yang terjadi adalah
ringan; sedangkan pada batu pecah bergradasi
menerus tidak terjadi pemompaan.
25
Lokasi 4: Sadang
Km. 74+500
Km. 74+500 arah ke Jakarta: pumping pada perkerasan

26
Pengaruh gradasi terhadap pemompaan

BUTIR YANG LOLOS SARINGAN No. 200 (%)

KELUARNYA
JENIS AGREGAT TIDAK ADA PEMOMPAAN BUTIRAN PADA
PEMOMPAAN AIR BERSIH TEPI
PERKERASAN

Kerikil 07 12 12
Batu pecah 10 14 16
Pasir 17 19 19

27
Letak muka air tanah tidak mempunyai
pengaruh terhadap terjadinya
pemompaan.

Lapis pondasi yang terdiri atas bahan


distabilisasi semen dan aspal mempunyai
kinerja yang baik dalam hal pemompaan.

28
Drainase lapis pondasi atas dan lapis
pondasi bawah

Lapis pondasi yang mudah mengalirkan air dianjurkan


untuk digunakan sebagai drainase bawah permukaan
(subdrainage).
Pada beberapa kasus, biaya mungkin menjadi kendala
penggunaan bahan yang mudah mengalirkan air.
Apabila sebagai lapisan drainase tidak dipenuhi, maka
lapis pondasi harus terdiri atas bahan yang mempunyai
kepadatan tinggi, dan lapis pondasi mungkin perlu
dibangun dalam parit.
Lapis pondasi bergradasi padat yang tidak dipadatkan
sebagaimana mestinya dan dibangun pada parit ternyata
dapat menjebak air (antara permukaan lapis pondasi dan
dasar lapis permukaan).
29
Kasus tersebut dapat terjadi pada lapis pondasi
di bawah perkerasan kaku, dimana akibat beban
berulang, lapis pondasi akan menurun sehingga
terbentuk rongga antara permukaan lapis
pondasi dan dasar pelat beton dan selanjutnya
pada rongga tersebut dapat terakumulasi air.
Sebagian besar air yang terkumpul dalam
rongga berasal dari permukaan perkerasan,
dengan cara infiltrasi melalui retak, sambungan
dan celah sepanjang tepi perkerasan.
Bahu yang terdiri atas bahan distabilisasi akan
menghilangkan, atau setidak-tidaknya
mengurangi, masuknya air melalui celah di
sepanjang tepi perkerasan.
30
Ditinjau dari kepentingan drainase, kerikil
yang dijumpai di beberapa daerah
mungkin porus, sedangkan di daerah lain
mungkin perlu dijadikan agregat dipecah.
Pada kaitannya dengan kasus yang ke
dua, setiap upaya perlu dilakukan untuk
mengalirkan air dari lapis pondasi agar
tanah dasar tidak jenuh dan kekuatannya
tidak menurun.

31
CL BAHAN
BAHAN LAPIS KEDAP
DISTABILISASI DISTABILISASI

BAHAN LAPIS PONDASI DITERUSKAN


PENYARING SAMPAI KE BAHU

ALTERNATIF

Pemasangan drainase tipikal lapis pondasi

32
Lokasi 3: Bukit Indah
Km. 70+600
Km. 70+600 arah ke Jakarta: gerusan saluran drainase

33
Pengaruh tebal dan mutu lapis pondasi
terhadap kinerja perkerasan
Lapis pondasi yang sesuai dengan disain dan
spesifikasi, ditunjukkan ilustrasi kinerja
perkerasan yang menurun sebagai akibat
tebal dan mutu lapis pondasi agregat yang
tidak sesuai dengan disain dan spesifikasi.
Hubungan antara kinerja perkerasan (biasa
dinyatakan dengan jumlah ESA) dengan mutu
dan tebal bahan, yang dikembangkan oleh
AASHTO, berdasarkan pendekatan empiris.
Untuk perkerasan lentur, hubungan tersebut
ditunjukkan pada persamaan:
34
Pengaruh tebal dan mutu lapis pondasi
terhadap kinerja perkersaan

dimana,
W18 =
jumlah lalu-lintas, dalam satuan sumbu standar ekivalen (ESA)
SN =
nilai struktural perkerasan
MR =
modulus resilien tanah dasar
Dp =
selisih antara indeks kondisi permukaan pada awal umur rencana
dengan indeks kondisi permukaan pada ahir umur rencana
Dn = tebal lapis perkerasan
an = koefisien kekuatan lapis perkerasan
m2, m3 = koefiesien drainase lapis pondasi atas dan lapis pondasi bawah
ZR, So = parameter statistik yang terkait dengan tingkat kepercayaan
35
Pada ilustrasi di atas, perkerasan terdiri atas lapis
permukaan dan lapis pondasi atas dengan data yang
digunakan pada kedua persamaan tersebut sebagai
berikut:
CBR tanah dasar: 5%
Lapis permukaan: 10 cm beton aspal
Lapis pondasi atas: agregat (tebal dan CBR
divariasikan)
Penurunan kondisi perkerasan (Dp) = 2
Koefisien drainase lapis pondasi atas dan lapis
pondasi bawah, masing-masing dianggap sama
dengan 1.
Zo adalah 1,645 (untuk tingkat kepercayaan 95%)
dan So adalah 0,35.
36
20 100
juta ESA
JUMLA H ESA (juta)

JUMLA H ESA (% )
% ESA
15 75

10 50
p = 2
CBR tanah dasar : 5%
5 Lapis permukan: 10 cm b. aspal
CBR lapis pondasi: 100%
25

0 0
50 52 54 56 58 60 Pengaruh CBR
TEBAL LAPISAN (cm)
20 100

Pengaruh tebal lapisan


15 75
JUMLAH ESA (juta)

JUMLAH ESA (%)


10 50
p = 2
CBR tanah dasar : 5%
Lapis permukan: 10 cm beton aspal
Tebal lapis pondasi: 60 cm
5 25

0 0
80 85 90 95 100
CBR (%) 37
Acuan normatif
SNI 03-1743-1989, Metode Pengujian Kepadatan Berat Untuk Tanah.
SNI 03-1744-1989, Metode Pengujian CBR Laboratorium.
SNI 03-1966-1990, Metode Pengujian Batas Plastis.
SNI 03-1967-1990, Metode Pengujian Batas Cair dengan Alat Cassagrande.
SNI 03-2417-1991, Metode Pengujian Keausan Agregat dengan Mesin Abrasi Los Angeles.
SNI 03-4141-1996, Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan Butir-butir Mudah Pecah dalam Agregat.
SNI 03-1742-1989, Metode Pengujian Kepadatan Ringan Untuk Tanah.
SNI 03-2828-1992, Metode Pengujian Kepadatan Lapangan dengan Alat Konus Pasir.
SNI 03-3423-1994, Metode Pengujian Analisis Ukuran Butir Tanah Dengan Alat Hidrometer.
SNI 03-6412-2000, Metode Pengujian Kadar Semen Dalam Campuran Segar Semen-Tanah.
SNI 13-6427-2000, Metode Pengujian Uji Basah dan Kering Campuran Tanah-Semen Dipadatkan.
SNI 19-6426-2000, Metode Pengujian Pengukuran pH Pasta Tanah-Semen untuk Stabilisasi
SNI 03-6798-2002, Tata Cara Pembuatan dam Perawatan Benda Uji Kuat Tekan dan Lentur Tanah-Semen di Laboratorium.
SNI 03-6817-2002, Metode Pengujian Mutu Air untuk Digunakan Dalam Beton.
SNI 03-6886-2002, Metode Pengujian Hubungan Antara Kadar Air dan Kepadatan pada Campuran Tanah-Semen.
SNI 03-6887-2002, Metode Pengujian Kuat Tekan Bebas Campuran Tanah-Semen.
SNI 03-1966-1990, Metode Pengujian Batas Plastis.
SNI 03-1967-1990, Metode Pengujian Batas Cair Dengan Alat Cassagrande.
SNI 03-1968-1990, Metode Pengujian Tentang Analisis Saringan Agregat Halus dan Kasar.
SNI 03-1976-1990, Metode Koreksi untuk Pengujian Pemadatan Tanah yang Mengandung Butir Kasar.
SNI 03-2417-1991, Metode Pengujian Keausan Aggregat dengan Mesin Abrasi Los Angeles.
SNI 03-2828-1992, Metode Pengujian Kepadatan Lapangan dengan Alat Konus Pasir.
SNI 15-2049-1994, Semen Portland
SNI 03-3407-1994, Metode Pengujian Sifat Kekekalan Bentuk Agregat Terhadap Larutan Natrium Sulfat dan Magnesium Sulfat.
SNI 03-4141-1996, Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan Butir-Butir Mudah Pecah dalam Agregat.
SNI 03-6388-2000, Spesifikasi Agregat Lapis Pondasi Bawah, Lapis Pondasi Atas dan Lapis Permukaan.
SNI 03-6412-2000, Metode Pengujian Kadar Semen dalam Campuran Segar Semen-Tanah.
SNI 19-6413-2000, Metode Pengujian Kepadatan Berat Isi Tanah di Lapangan dengan Balon Karet.
SNI 03-6429-2000, Metode Pengujian Kuat Tekan Beton Silinder dengan Cetakan Silinder di dalam Tempat Cetakan.
SNI 03-6817-2002, Metode Pengujian Mutu Air untuk Digunakan dalam Beton.
SNI 03-6886-2002, Metode Pengujian Hubungan Antara Kadar Air dan Kepadatan pada Campuran Tanah-Semen.
SNI 03-4431-1997, Metoda Pengujian Kuat Lentur Beton Normal dengan Dua Titik Pembebanan
38
5. Agregat
Umum

Agregat, kadang-kadang disebut juga


batuan, bahan granular atau mineral
agregat, adalah bahan keras yang tidak
terpengaruh secara kimia oleh bahan lain
dan digunakan sebagai bahan perkerasan
menurut ukuran butir atau fragmen yang
berurutan.
Agregat mencakup pasir, kerikil, batu
pecah, slag dan abu batu.
39
JALAN LINGKAR LUAR BALIKPAPAN
Lapis Pondasi : Aggregate Base Class A
40
Klasifikasi agregat (Asphalt Institut MS22,1983)

41
Klasifikasi agregat
KELAS JENIS KELUARGA
Batu gamping (limestone)
Kalkari (calcareous)
Dolomit (dolomite)
Serpih (shale)
Batuan
Batu pasir (sandstone)
sedimen
(sedimentary) Rijang (chert)
Silika (siliceous)
Konglomerat
(conglomerete)1
Breksi (breccia)1
Geneis (gneiss)
Sekis (schist)
Berlapis (foliated)
Ampibolit (amphibolite)
Batuan
metamorf Batu tulis (slate)
(metamorphic)
Kwarsa (quartzite)
Tidak berlapis
Pualam (marble)
(nonfoliated)
Serpentinit (serpentinite)

42
Lanjutan ,klasifikasi agregat

KELAS JENIS KELUARGA


Granit (granite)2
Sienit (syenite)2
Diorit (diorite)2
Intsrusif (instrusive) Gabro (gabbro)
(berbutir kasar)
Peridotit (periodotite)
Piroksenit (pyroxenite

Hornblendit (hornblendite)
Batuan beku
Obsidian (obsidian)
(igneous)
Pumis (pumice)
Tufa (tuffa)

Ekstrusif Riolit (ryolite)2,3


(extrusive) Trakit (trachyte)2,3
(berbutir halus)
Andesit (andesite)2,3
Basal (basalt)2

Diabas (diabase) 43
Sumber agregat

Agregat untuk bahan perkerasan biasanya


dikelompokkan menurut sumber atau
asalnya.
Kelompok tersebut adalah agregat alam
(natural aggregates), agregat prosesan
(processed aggregates) dan agregat
buatan (artificial aggregates).

44
Agregat alam

Agregat alam adalah agregat yang digunakan


dalam bentuk aslinya di alam, dengan sedikit
atau tanpa prosesan.
Dua jenis utama agregat alam yang biasa
digunakan untuk perkerasan adalah kerikil dan
pasir, dimana kerikil biasanya didefinisikan
sebagai butiran berukuran 6,35 mm ( in) atau
lebih besar, sedangkan pasir merupakan butiran
yang mempunyai ukuran kurang dari 6,35 mm
( in) tetapi lebih besar dari 0,075 mm
45
Kerikil dan pasir selanjutnya
diklasifikasikan menurut sumbernya;
bahan yang diambil dari penambangan
terbuka (open pit) disebut agregat darat
(pit-run materials),
sedangkan bahan yang diambil dari tepi
sungai agregat sungai (bank-run
materials).

46
Agregat prosesan(processed agregates)

Agregat prosesan merupakan agregat alam


yang sebelum digunakan terlebih dulu dipecah
dan disaring .
Terdapat tiga alasan perlunya batu dipecah,
yaitu:
Merubah tekstur permukaan butir dari halus menjadi
kasar.
Merubah bentuk butir dari bulat menjadi bersudut.
Memperkecil serta memperbaiki distribusi dan
rentang ukuran butir

47
Agregate buatan(arthicial aggregate)

Agregat buatan atau agregat sintetis tidak


terdapat di alam, karena agregat tersebut
dibuat melalui proses kimia atau fisik.
Beberapa jenis agregat buatan merupakan
produk tambahan pada proses industri,
misal pada pengolahan bijih; sedangkan
beberapa jenis lain agregat buatan adalah
sengaja dibuat dari bahan mentah.

48
Sifat-sifat agregat yang menjadi parameter mutu

Kriteria atau spesifikasi agregat biasanya


menyangkut sifat-sifat sebagai berikut:
Ukuran maksimum dan gradasi (maximum
particle size and gradation).
Kebersihan (cleanliness).
Keuletan (toughness).
Bentuk butir (particle shape).
Teksture permukaan (surface texture).

49
Apabila agregat akan digunakan sebagai
bahan campuran beraspal, maka daya
penyerapan (absorptive capacity) dan
berat jenis serta pelekatan dengan aspal
(affinity for asphalt) juga merupakan kriteria
yang harus dipenuhi.
Sifat-sifat lain yang harus dipenuhi agregat
adalah plastisitas bahan yang lolos
saringan 0,425 mm (No. 40), berat isi,
stabilitas (kekuatan) dan permeabilitas.

50
Ukuran maksimum butir dan gradasi

Semua bahan perkerasan mensyaratkan


agregat mempunyai ukuran butir yang
mencakup rentang tertentu dengan distribusi
yang tertentu.
Distribusi butir tersebut biasa disebut gradasi.
Untuk menentukan memenuhi-tidaknya gradasi
agregat terhadap spesifikasi, maka diperlukan
pemahaman tentang cara mengukur ukuran
butir dan gradasi.

51
Ukuran maksimum butir

Terdapat dua istilah yang menyangkut


ukuran maksimum :
Ukuran maksimum menyatakan ukuran
terkecil saringan dimana semua agregat
masih dapat lolos.
Ukuran maksimum nominal menyatakan
ukuran saringan terbesar dimana
sejumlah tertentu agregat dapat tertahan,
biasanya tidak lebih dari 10 persen .

52
Untuk mendapatkan gambaran perbedaan kedua
hal di atas:
Terhadap contoh agregat yang akan digunakan
sebagai bahan perkerasan dilakukan
penyaringan.
Hasil penyaringan menunjukkan bahwa seluruh
(100 persen) butiran lolos saringan 25 mm.
Butir agregat terbesar tertahan pada saringan 19
mm, yaitu saringan langsung di bawah saringan
25 mm.
Dengan demikian, maka ukuran maksimum
agregat adalah 25 mm dan ukuran maksimum
nominal adalah 19 mm.
53
Gradasi
Gradasi suatu agregat yang akan digunakan
untuk perkerasan ditentukan melalui analisis
saringan atau analisis gradasi terhadap contoh
agregat.
Analisis saringan dilakukan dengan
mencurahkan agregat melalui suatu rangkaian
saringan yang mempunyai rentang ukuran
tertentu, tergantung pada persyaratan gradasi
agregat.
Butiran kasar akan tertahan pada saringan di
bagian atas, butiran sedang akan lolos saringan
antara dan butiran paling halus akan lolos
saringan paling halus.

54
Gradasi agregat dinyatakan sebagai persentase
berat butir yang lolos saringan tertentu terhadap
berat total contoh.
Persentase berat butir yang lolos suatu saringan
diperoleh dengan menimbang butiran yang
tertahan pada setiap saringan ,kemudian
menjumlahkan berat butir yang tertahan di atas
saringan yang ditetapkan dan saringan di
atasnya;
Selanjutnya mengurangkan jumlah berat
tersebut dari berat total contoh dan kemudian
dinyatakan dalam persen terhadap berat total
contoh.

55
Fraksi agregat biasanya dinyatakan dengan:

Agregat kasar (coarse aggregate) butiran yang


tertahan saringan 2,36 mm (No. 8).
Agregat halus (fine aggregate) butiran yang
lolos saringan 2,36 mm (No.8).
Bahan pengisi (mineral filler) fraksi agregat
halus yang lolos saringan 0,60 mm (No. 30).
Abu mineral (mineral dust) fraksi agregat halus
yang lolos saringan 0,075 mm (No. 200 )

56
Sesuai dengan kelengkapan butir-butir yang
terdapat dalam agregat, gradasi dapat
dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
gradasi seragam;
gradasi senjang atau timpang,
gradasi menerus.

57
Agregat dikatakan bergradasi seragam apabila
butir-butirnya berukuran hampir sama;
Agregat yang bergradasi senjang adalah
agregat yang tidak mengandung butir-butir
berukuran menengah, atau agregat yang hanya
terdiri atas butir halus dan butir kasar saja;
Agregat bergradasi menerus adalah agregat
yang memiliki butir-butir yang berukuran
lengkap, mulai dari yang halus sampai dengan
yang kasar.

58
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

CONTOH GRADASI AGREGATE PONDASI KELAS B

LEMPUNG KEPASIRAN PASIR (SAND) KERIKIL (G)

LEMPUNG KEPASIRAN HALUS KASAR HALUS SEDANG KASAR

N4 /8
3
N 200 N 80 N 40 N10 3
/4 1 11/2 2 3
100

90 KOEF KESERAGAMAN
BAIK
ASI
JUMLAH % LEWAT SARINGAN

Cu = D 60
80 A D
D10 GR
70
KOEFISIEN GRADASI
60 Cc = D230
D60 x D10 ANG
50
A SI SENJ
40
GRAD
GRADASI BAIK :
Cu KERIKIL > 4
30 Cu PASIR > 6
K
20 URU
Cc ANTARA 1 - 3
ASI B
10 RAD
D10 G D30 D60
0
0,001 0,006 0, 01 0,02 0,075 0,2 0,6 2 4,75 20 60 100

LEMPUNG - LANAU PASIR 59


KERIKIL
USCS
Ukuran saringan menurut metrik dan ASTM

60
Contoh spesifikasi ,rancangan kerja dan toleransi
gradasi.

61
Kebersihan (cleanliness)

Spesifikasi biasanya menetapkan


pembatasan terhadap jenis dan kandungan
bahan pengganggu yang terdapat pada
agregat (misal, tumbuhan, serpih, partikel
lemah, gumpalan lempung).
Kandungan bahan tersebut yang
berlebihan akan mengakibatkan kinerja
perkerasan menjadi jelek.
62
Keuletan (toughness)

Dalam spesifikasi, keuletan agregat biasanya dinyatakan


oleh abrasi hasil pengujian menurut SNI 03-2417-1991
atau AASHTO T 96, yaitu pengujian dengan Mesin Los
Angeles.
Agregat lunak (mudah pecah) seyogyanya tidak
digunakan sebagai lapis pondasi.
Sebagai pedoman umum dalam hal tersebut, agregat
yang apabila diuji dengan mesin Los Angeles mempunyai
abrasi 40 persen atau kurang dipandang baik.
Spesifikasi tersebut akan mencegah digunakannya
batuan lunak dan sebagian besar jenis serpih (shale).

63
Mulai Ilustrasi pembuatan Formula
Campuran Rancangan (FCR)
Persiapan bahan/agregat

Pengujian kualitas dan


penggabungan agregat

Persyaratan kualitas dan Tidak


gradasi agregat campuran

Ya

Buat benda uji pemadatan dengan kadar air


4%, 6%, 8%, 10% dan 12%

Gambarkan kurva kepadatan dan


Tentukan:
-Berat kering maksimum (MDD)
- Kadar air optimum (OMC)

Buat benda uji untuk pengujian CBR


dengan pada kondisi MDD dan OMC

Persyaratan CBR
Lapis Pondasi atau Tidak
Lapis Pondasi Bawah

Ya

Stop
64
Bentuk butir (particle shape)

Butir-butir agregat mempunyai bentuk yang


bermacam-macam, mulai dari bulat sampai
lonjong.
Bentuk butir mempunyai pengaruh terhadap
kemudahan pengerjaan (workability), terutama
pada saat agregat atau campuran beraspal
dipadatkan.
Pada masa pelayanan perkerasan, bentuk butir
juga mempengaruhi kekuatan struktur
perkerasan.

65
Persyaratan bentuk butir dapat dinyatakan
dengan jumlah (persen) butir yang pipih (flaky)
dan jumlah butir (persen) yang lonjong
(elongated).
Suatu butir dikatakan pipih apabila
perbandingan antara dimensi terkecil dengan
dimensi rata-ratanya adalah kurang dari 0,6;
Sedangkan butir yang lonjong adalah butir yang
perbandingan dimensi terbesar/terpanjang
dengan dimensi rata-ratanya lebih dari 1,8.
Agegat dikatakan pipih atau lonjong apabila
jumlah butir yang pipih atau lonjong melebihi
nilai yang ditetapkan.

66
Tektur permukaan butir (surface texture)
Tekstur permukaan butir-butir agregat
merupakan faktor lain yang berpengaruh
terhadap kekesatan permukaan
perkerasan, disamping terhadap
kemudahan pengerjaan dan kekuatan
akhir lapis perkerasan.
Tekstur permukaan butir kadang-kadang
dipandang lebih penting dari bentuk butir.

67
Penyerapan (absorptive capacity)

Agregat yang sangat porus dan


mempunyai penyerapan yang tinggi
biasanya tidak digunakan sebagai bahan
campuran beraspal, kecuali apabila bahan
tersebut mempunyai sifat lain yang benar-
benar diperlukan
Penyerapan agregat dapat ditentukan
berdasarkan berat jenisnya.

68
Lekatan agregat dengan aspal
(affinity for asphalt)

Lekatan agregat terhadap aspal


merupakan kemampuan agregat untuk
menerima dan menahan aspal sehingga
melekat.
Batu kapur dan dolomit merupakan bahan
yang mempunyai lekatan kuat dengan
aspal dan sering disebut sebagai bahan
anti air (hydrophobic),

69
Agregat yang senang air (hydrophilic)
mempunyai lekatan yang rendah dengan
aspal, sehingga apabila agregat terkena
air, maka aspal pada agregat tersebut
akan terkelupas.
Agregat yang bersifat silika merupakan
contoh agregat yang cenderung
mengelupaskan aspal sehingga apabila
akan digunakan, perlu dipertimbangkan.

70
Berat isi dan stabilitas
Umum

Stabilitas agregat tergantung pada beberapa


faktor; yaitu, gradasi, bentuk, berat isi, gesekan
internal dan kohesi butiran campuran tesebut.
Bahan berbutir yang dituntut mempunyai
stabilitas maksimum harus mempunyai gesekan
internal yang tinggi, yaitu agar dapat menahan
deformasi akibat beban.
Gesekan internal, dan selanjutnya tahan geser,
sangat tergantung pada berat isi serta bentuk
dan gradasi butir

71
Berat isi dan stabilitas

a . Tanpa fraksi halus b. Fraksi halus cukup c. Fraksi halus berlebih


Gambar 5.9. Tiga tingkat porsi fraksi halus dalam agregat

72
Pengaruh butir-butir pecah

Secara umum, butir-butir pecah lebih


stabil daripada butir-butir bulat.
Hal tersebut sebagai akibat saling
penguncian antara butir.
Untuk gradasi yang sama, butir-butir
pecah mempunyai koefisien permeabilitas
yang lebih tinggi, sehingga lebih mudah
mengalirkan air.
73
Pengaruh plastisitas

Pengaruh plastisitas tergantung pada


kandungan bahan halus dalam campuran
agregat.
Untuk kandungan bahan halus yang
rendah, plastisitas mempunyai pengaruh
yang sangat kecil dan hanya apabila
mendekati nilai optimum untuk berat isi
maksimum, kandungan tersebut (+15%)
nampak penting.
74
Pengaruh gradasi senjang

Agregat alam sering kali mempunyai


gradasi yang senjang sehingga dapat
menimbulkan keraguan dalam
penggunaannya.
Hal tersebut dipandang benar apabila
bahan yang dijumpai adalah laterit.
Agregat produksi mesin batu juga dapat
mempunyai gradasi senjang
75
Apabila agregat tidak bergradasi menerus,
maka persyaratan plastisitas, juga persyaratan
yang berkaitan dengan bahan halus, tidak perlu
diberlakukan, karena persyaratan tersebut
berlaku untuk agregat bergradasi menerus.
Karena agregat bergradasi senjang tidak
mengandung butir berukuran menengah,
maka akibatnya agergat tersebut akan
mempunyai rongga yang besar .

76
Produksi agregat

Efisiensi dan efektivitas produksi agregat pecah untuk


lapis pondasi ditentukan oleh pengaturan dan
pengawasan yang dilakukan pada unit pemecah batu
atau unit produksi agregat (stone crusher).
Penggunaan agregat yang kandungan lempungnya
tinggi akan memberi pengaruh negatif terhadap kinerja
pondasi; misal, rendahnya daya dukung lapis pondasi.
Untuk membersihkan batuan tersebut dapat digunakan
beberapa cara, antara lain dengan pemisahan
(scalping), pengerikan (scrubbing) atau dengan
pencucian (dewatering).

77
Dalam unit produksi agregat terdapat beberapa
pemecah batu (dibedakan dari unit pemecah
batu) yang dapat diklasifikasikan berdasarkan
urutan proses pemecahannya, yaitu pemecah
primer, sekunder, tersier dan seterusnya.
Pemecah primer langsung menerima bahan
baku dari kuari dan kemudian memperkecil
ukuran bahan baku tersebut.
Produk pemecah primer masuk ke pemecah
sekunder dan produk pemecah sekunder masuk
ke pemecah tersier dan seterusnya sampai
diperoleh ukuran butir yang disyaratkan.

78
79
Penimbunan (stockpilling)

Cara penanganan agregat di tempat


penimbunan mempunyai pengaruh besar
terhadap mutu agregat, terutama yang berkaitan
dengan gradasi.
Pemisahan butir atau segregasi serta
terkontaminasinya agregat oleh tanah atau
bahan lain dapat terjadi di tempat penimbunan,
baik pada proses penumpukan, pemindahan,
maupun operasi lainnya

80
Skema tipikal proses produksiagregat

81
Mencegah segregasi dan kontaminasi oleh
debu atau bahan lain :

Agregat ditempatkan pada permukaan yang keras dan bersih;


agregat ditutup agar terhindar dari kontaminasi oleh debu.

Permukan lahan penimbunan dibuat miring dari tengah ke


samping, yaitu untuk memudahkan pengaliran air.

Agregat ditempatkan pada lokasi yang memudahkan inspeksi.

Agregat kasar ditimbun dan diambil secara berlapis dengan


tebal lapisan tidak lebih dari 1 meter, Tinggi timbunan tidak lebih dari
5 m.
Apabila memungkinkan, tempat penimbunan masing-masing
fraksi diberi dinding pemisah (misal, terbuat dari papan), yaitu untuk
mencegah bercampurnya antara satu fraksi dengan fraksi yang lain.

82
Cara penimbunan agregat

83
Pengambilan contoh agregat pada timbunan

84
Pengujian agregat

Hasil pengujian akan menentukan


penerimaan atau penolakan, baik bahan
maupun hasil pekerjaan
Sifat-sifat agregat biasanya disyaratkan
dalam spesifikasi

85
Pengujian agregat yang biasanya perlu dilakukan.

86
Pengujian CBR dilaboratorium
CBR (California Bearing Ratio) merupakan parameter
kekuatan relatif yang paling sering digunakan dalam
disain perkerasan
Pengujian CBR pada dasarnya dilakukan dengan
mengukur beban yang diperlukan oleh batang penekan
berukuran standar untuk menembus tanah pada
kecepatan tertentu.
CBR adalah perbandingan antara beban yang diperlukan
untuk mendorong batang masuk ke dalam tanah dengan
beban yang diperlukan untuk mendorong batang masuk
ke dalam ke dalam batu pecah sampai kedalaman
tertentu, yang dinyatakan dalam persen.
Beban dinyatakan dalam satuan mega pascal (MPa)
dimana untuk batu pecah telah dibuat standarnya.
Kedalaman yang biasa dijadikan acuan adalah 2,5 atau 5
mm (0,1 atau 0,2 in).
87
Sebelum pengujian CBR biasanya dilakukan pengujian-pengujian
sebagai berikut:
Analisis saringan butir halus dan butir kasar : SNI 03-1968-1994
(AASHTO T 27)
Pengujian berat jenis: SNI 03-1964-1990 (AASHTO T 100)
Pengujian batas cair : SNI-03-1967-1990 (AASHTO T 89)
Pengujian batas plastis dan indeks plastis : SNI 03-1966-1990
(AASHTO T 90)
Analisis butir untuk klasifikasi: SNI 03-3423-1994 (AASHTO T 90)
Pengujian pemadatan ringan : SNI 03-1742-1989 (AASHTO T 99)
Pengujian pemadatan berat : SNI 03-1742-1989 (AASHTO T 180)
Metoda yang diuraikan pada butir ini didasarkan pada metoda pengujian
CBR menurut SNI 03-1744-1989 (AASHTO T 193).

88
Lingkup
Metoda pengujian CBR dimaksudkan untuk
mendapatkan daya dukung relatif (CBR) tanah dan
tanah dan tanah-agregat untuk keperluan disain
perkerasan.
Bahan yang akan diuji terlebih dulu dipadatkan pada
kadar optimum di dalam cetakan diameter 152 mm (6 in)
dengan menggunakan penumbuk yang beratnya 2,49 kg
(5,5 lb) dan mempunyai tinggi jatuh 305 mm (18 in)
Pengujian CBR berguna untuk mengevaluasi tanah
dasar serta bahan untuk lapis pondasi bawah dan lapis
pondasi atas yang mengandung sedikit butir tertahan
saringan 19 mm (3/4 in).

89
Mesin pembebanan

90
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Apakah California Bearing Ratio (CBR) Itu?

Perbandingan beban untuk penetrasi piston seluas 3


inch sedalam 0,1 inch terhadap beban 3000 lbs, atau 0,2
inch terhadap beban 4500 lbs
Catatan :
Biasanya diambil yang penetrasi 0,1 inch
Bilamana yang 0,2 inch >, pengujian harus diulang
Bilamana hasil ulang masih sama, diambil yang 0,2

BEBAN

PISTON PENEKAN

PENETRASI 91
LUAS ALAS 3 INCH2
6 Stabilisasi
Cara menangani tanah atau bahan yang jelek
agar dapat digunakan sebagai bahan
perkerasan.
Tanah yang dalam keadaan aslinya jelek dapat
dirubah melalui pemadatan, penambahan
agregat atau bahan lain sehingga dapat
dijadikan tanah dasar.
Stabilisasi mengandung arti perbaikan bahan
perkerasan tersedia agar dapat dijadikan lapis
pondasi bawah, lapis pondasi atas

92
Alasan perlunya stabilisasi
Alasan konvensional yang melatarbelakangi
perlunya stabilisasi :
Kondisi tanah dasar yang jelek.
Bahan lapis pondasi yang marjinal
(borderline).
Pengendalian debu.
Pengendalian kadar air.
Penyelamatan (salvaging) perkerasan lama.
Mendapatkan bahan lapis pondasi yang
lebih unggul.

93
Alasan lain :
Makin meningkatnya beban kendaraan.
Makin sempurnanya metoda disain
perkerasan.
Makin meningkatnya jumlah dan efektifitas
bahan pengikat (binders).
Makin tepatnya penentuan karakteristik
bahan.
Makin canggihnya peralatan untuk stabilisasi.
Makin meningkatnya kesadaran terhadap
lingkungan

94
Prinsip stabilisasi

Sering kali dalam keadaan aslinya, tanah tidak dapat


digunakan sebagai bahan bangunan yang mempunyai
persyaratan tertentu. Dalam memecahkan persoalan
tersebut dapat diambil beberapa keputusan:
Menggunakan tanah sebagaimana adanya,
kemudian menyesuaikan persyaratan mutu bangunan
dengan tanah tersebut.
Membuang tanah dan menggantinya dengan tanah
yang lebih baik.
Merubah sifat-sifat tanah yang ada sehingga
diperoleh tanah yang mempunyai sifat-sifat yang
memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

95
Jenis stabilisasi dan penggunaannya

Karakteristik bahan untuk masing-masing kelompok menurut kinerja


sebagai berikut:
Bahan asli (unbound materials) bahan seperti kerikil alam,
batu pecah dan tanah berbutir halus yang tidak menunjukkan
kekuatan tarik yang besar; kekuatan untuk menahan beban lalu-
lintas disumbangkan oleh gesekan internal antar butir dan
kohesi (apabila ada).
Bahan modifikasi (modified materials) bahan asli yang sudah
ditambah sedikit bahan stabilisasi dengan salah satu atau
beberapa tujuan sebagai berikut:
Memperbaiki kelemahan sifat-sifat bahan (misal, plastisitas),
tanpa mengakibatkan peningkatan berarti kekakuan struktural.
Meningkatkan kekuatan.
Mengurangi kerentanan terhadap air bagi bahan berbutir halus
sehingga dapat dijadikan lantai kerja atau lapis pondasi.

96
Lanjutan
Bahan terikat (bound materials) diperoleh melalui
penambahan bahan stabilisasi (biasanya bersifat
sementasi) terhadap bahan granular dalam takaran
yang cukup untuk menghasilkan bahan terikat yang
mempunyai kekuatan tarik yang cukup besar.
Bahan terikat bertindak sebagai balok (beam) pada
perkerasan dalam menahan beban lalu-lintas.
Dibandingkan dengan bahan asli, bahan terikat
mempunyai kapasitas struktural yang jauh lebih tinggi,
tetapi retak susut (shrinkage craking) pada lapis
pondasi atas perlu dikendalikan.

97
Katagori dan karakteristik bahan (Austroads 1998)

98
Penggunaan beberapa jenis bahan stabilisasi
(sumber :Austroads 1998)

99
Lanjutan,

100
Lanjutan.

101
Pemilihan bahan stabilisasi yang tepat

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan


adalam memilih bahan stabilisasi adalah:
Cuaca dan drainase
Penyelidikan perkerasan
Pengambilan contoh dan pengujian bahan
Penilaian awal terhadap jenis stabilisasi yang
diperlukan
Pemilihan akhir jenis stabilisasi

102
Pedoman umum untuk pemilihan bahan stabilisasi

LEBIH DARI 25% LOLOS #0,075 mm KURANG DARI 25% LOLOS #0,075 mm
JENIS BAHAN
STABILISASI PI<6
PI<10 10<PI<20 PI>20 PI<10 PI>10
PI*#0,075<60

SEMEN & BAHAN


SEMENTASI LAIN

KAPUR

ASPAL

CAMPURAN ASPAL/
SEMEN

GRANULAR

BERBAGAI BAHAN
KIMIA*

BIASANYA MERAGUKAN BIASANYA *HARUS DIPANDANG


COCOK TIDAK COCOK SEBAGAI PEDOMAN KASAR
103
Stabilisasi semen
Semen Portland Multi Fungsi (GP) dan Semen
Campuran (GB) merupakan bahan yang efektif
untuk stabilisasi berbagai jenis tanah dan situasi.
Dua pengaruh penting terhadap perilaku tanah
adalah:
Sangat mereduksi kerentanan terhadap
perubahan kadar air dalam tanah, sehingga
meningkatkan stabilitas volume dan kekuatan di
bawah pengaruh berbagai kondisi kadar air.
Menumbuhkan ikatan antara butir pada tanah
granular, sehingga bahan yang distabilisasi
menjadi memiliki kekuatan tarik serta moudulus
elastis yang tinggi.

104
Jenis bahan hasil stabilisasi semen
Berdasarkan sifat-sifat yang diperoleh, maka dapat
diidentifikasi dua kelompok bahan distabilisasi secara
sementasi
Bahan modifikasi (modified materials) apabila semen
yang ditambahkan hanya sedikit dan untuk keperluan
disain perkerasan, bahan hasil stabilisasi digolongkan
sebagai bahan asli (unbound granular material).
Bahan terikat (bound materials) apabila kekakuan dan
kuat tarik bahan hasil stabilisasi cukup meningkat
dengan penambahan semen yang dipandang praktis
untuk memperkaku perkerasan. bound) dan bahan
terikat kuat (heavily bound).

105
Sifat sifat bahan yang distabilisasi semen
Sifat-sifat bahan hasil stabilisasi semen
yang dipandang penting terkait dengan
hal-hal sebagai berikut:

Stabilitas volume dan kadar air


Retak
Retak susut dan erosi
Retak lelah

106
Kondisi yang cocok untuk stabilisasi semen
Keberhasilan stabilisasi semen sangat
dipengaruhi oleh dua faktor yang perlu
diperhatikan:
Faktor bahan, menyangkut komposisi
bahan asli dan responnya terhadap
semen.
Faktor produksi, menyangkut mutu dan
sifat bahan stabilisasi dan air yang akan
digunakan pada stabilisasi serta metoda
yang akan diterapkan pada pengerjaan
stabilisasi.
107
Faktor produksi

Mutu hasil pemadatan bahan yang


distabilisasi semen tergantung pada
beberapa faktor poses produksi:
Pemantapan dan pencampuran
Mutu air
Pemadatan
Kondisi perawatan

108
Penerapan stabilisasi semen
1.Tanah dasar

Meningkatkan kekuatan.
Menyediakan lantai kerja bagi peralatan pelaksanaan.
Merubah sifat bahan yang tadinya hanya cocok untuk
tanah dasar menjadi bahan yang cocok untuk lapis
pondasi bawah.
Mengurangi persoalan pelaksanaan yang berkaitan
dengan kekuatan tanah dasar.
Menyediakan lapis pondasi bawah yang tahan air
pada perkerasan permeabel atau mempunyai
sambungan.

109
2.Lapis pondasi bawah

Stabilisasi bahan lapis pondasi bawah


ditujukan untuk:
Meningkatkan mutu bahan yang ada sehingga
dapat digunakan sebagai lapis pondasi bawah
modifikasi.
Meningkatkan mutu lantai kerja.
Menurunkan tebal perkerasan dan
mengoptimumkan metoda disain perkerasan.
Menyediakan bahan yang tidak peka terhadap
perubahan kadar air.
110
3.Lapis pondasi atas

Tujuan stabilisasi lapis pondasi atas :


Memperbaiki bahan yang mempunyai sedikit
kelemahan.
Memperbaiki bahan lapis pondasi atas
berkohesi rendah yang sering mengalami
deformasi akibat lalu-lintas.
Mengurangi kepekaan terhadap perubahan
kadar air.

111
Stabilisasi lapis pondasi atas dipandang
menguntungkan pada beberapa situasi :
Jalan yang melayani lalu-lintas moderat atau
sedang sampai berat.
Daya dukung tanah dasar yang rendah.
Diperlukan peningkatan daya dukung
perkerasan, terutama apabila letak
permukaan harus dipertahankan, misal pada
jalan di perkotaan.
Daerah yang sering terkena banjir.
112
Pelaksanaan stabilisasi

Pengerjaan stabilisasi dapat dilakukan


dengan salah satu cara sebagai berikut:
Stabilisasi di tempat (mix-in-place or
insitu stabilisation)
Stabilisasi terpusat (stationary or
pugmill type stabilisation)
Peralatan yang digunakan pada kedua
cara di atas sangat berbeda.
113
Stabilisasi ditempat(insitu stabilisation)

Untuk pelaksanaan stabilisasi di tempat


terdapat dua peralatan khusus :
Penyebar bahan stabilisasi atau tangki
(additive spreader or tanker), dan
Pencampur atau pengeruk (stabilising
mixer or reclaimer/stabiliser

114
6.6 Stabilisasi kapur (lime stabilisation)

Kapur merupakan bahan yang efektif untuk


stabilisasi tanah plastis sehingga tanah tersebut
mempunyai kemudahan pengerjaan (workability)
yang lebih baik serta kekuatan yang meningkat.
Kapur tidak efektif digunakan untuk stabilisasi
tanah tidak berkohesi atau tanah berkohesi
rendah, apabila tidak disertai dengan
penambahan bahan pozolanik.

115
Jenis kapur,
Kapur dapat dikelompokkan menjadi:
Kapur padam/mati (kalsium hidroksida)
Kapur hidup (kalsium oksida)
Kapur dolomit (kalsium/magnesium oksida)
Kapur pertanian (kalsium karbonat)
Apabila digunakan sebagai bahan stabilisasi,
kapur padam dan kapur hidup sering digunakan,
kapur pertanian tidak cocok, sedangkan kapur
dolomit biasanya tidak seefektif kapur padam
atau kapur hidup.

116
Pemadatan

Reaksi awal antara tanah dengan kapur


memungkinkan tersedianya waktu cukup untuk
pemadatan yang memadai serta medapatkan
permukaan yang rata .
Apabila diperlukan kekuatan yang tinggi, maka
perlu dilakukan pemadatan awal untuk
mendapatkan lapisan yang mempunyai
kepadatan setinggi mungkin.
Keterlambatan pemadatan akan menurunkan
kepadatan,

117
Pelaksanaan keselamatan
Semua jenis kapur merupakan bahan
yang menimbulkan rasa gatal pada kulit
atau rasa pedih pada mata
Setiap orang yang bekerja dengan kapur,
perlu memakai baju dan kaca mata
pelindung.
Masker mungkin diperlukan juga pada
saat bekerja dengan kapur padam pada
cuaca berangin..

118
Instruksi dasar mengenai prosedur
pertolongan pertama serta fasilitas yang
memadai harus selalu tersedia demi
keselamatan :
Misal, pasta pelindung kulit, pasta untuk
pengobatan luka bakar, air bersih dan
cairan pencuci kaca mata, terutama di
daearah bercuaca panas.

119
6.7Stabilisasi aspal
Penggunaan aspal untuk stabilisasi bahan
perkerasan ditujukan untuk menciptakan kohesi
pada bahan non-plastis
Untuk merubah bahan kohesif yang mudah
kehilangan stabilitas akibat peningkatan kadar
air menjadi bahan yang tidak sensitif.
Stabilisasi aspal lebih berhasil dengan bahan
berbutir daripada dengan bahan kohesif.
Stabilisasi dengan aspal dilakukan terhadap
bahan untuk lapis pondasi atas,

120
Jenis aspal yang dapat digunakan:
Aspal panas
Aspal cair
Aspal emulsi, baik kationik maupun anionik
Aspal yang disebutkan di atas yang dicampur
dengan semen.

121
Proses pemilihan aspal utk stabilisasi (Ausroad 1972)

122
6.8 Stabilisasi mekanis

Pembangunan jalan raya, agar dapat


melayani lalu-lintas, maka permukaan
jalan harus mempunyai stabilitas mekanis
yang memadai.
Untuk mengatasi kelemahan pada tanah
dasar, para penyelenggara jalan
mempercayakan pada perkerasan dan
stabilisasi.

123
Apabila suatu struktur yang terdiri atas
bahan granular, misal lapis pondasi atau
lapis permukaan perkerasan, mempunyai
ketahanan terhadap pergerakan lateral
akibat beban, maka struktur tersebut
dikatakan stabil secara mekanis

124
Lapis pondasi atau lapis permukaan yang
mempunyai stabilitas mekanis yang tinggi
biasanya terdiri atas campuran agregat kasar
(misal, kerikil, batu pecah, slag), agregat halus
(misal, pasir), lanau dan lempung dengan
proporsi yang tepat dan dipadatkan.
Pemadatan gabungan bahan hasil
pencampuran beberapa fraksi dengan proporsi
yang tepat merupakan aspek penting dalam
pembangunan perkerasan, termasuk lapis
pondasi, karena akan menghasilkan bahan yang
stabil secara mekanis.

125
Stabilisasi mekanis mencakup dua kegiatan
utama :
Penggabungan dua atau lebih fraksi
agregat sehingga diperoleh agregat
gabungan yang mempunyai gradasi yang
telah ditentukan.
Pemadatan agregat gabungan
sehingga mempunyai kepadatan yang
ditentukan.

126
Bahan
Stabilisasi mekanis dilakukan terhadap bahan/agregat yang
mempunyai satu atau beberapa kekurangan/kelemahan
apabila digunakan langsung sebagai lapis pondasi
bawah ataupun lapis pondasi atas.
Bahan yang mempunyai kelemahan tersebut biasanya
terdiri atas:
Agregat bergaradasi jelek
Pasir sungai
Pasir kelanauan, lempung kepasiran, lempung
kelanauan
Kerikil pecah
Produk tambahan industri
Bahan perkerasan plastisitas tinggi

127
Pemadatan
Pemadatan untuk meningkatkan stabilitas tanah, karena
dengan pemadatan, stabilitas tanah dapat ditingkatkan.
Tanah pada dasarnya merupakan campuran antara butir-
butir mineral (bahan padat), air dan udara.
Ditinjau dari kepentingan teknis, udara di dalam tanah
tidak memberikan manfaat, karena akan menghalangi
kontak antara butir-butir tanah yang akan memperkecil
stabilitas.
Maka udara dalam tanah perlu dikeluarkan.
Proses pengeluaran udara dari tanah dikenal sebagai
pemadatan.

128
Diagram komponen tanah

VOLUME BERAT

Va UDARA 0

Vv
VW WW
AIR

V
W

BAHAN PADAT
Vs Ws

129
Parameter parameter dapat didefinisikan
sbb:

130
Biasanya pengaruh pemadatan dinyatakan oleh
berat isi kering dan kadar air.
Perubahan pada kadar air akan merubah
respon tanah terhadap daya pemadatan dan,
apabila setelah pemadatan, berat isi kering dan
kadar air diperiksa, maka dapat digambar
hubungan antara berat isi kering dengan kadar
air sebagaimana ditunjukkan pada Gambar.
Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar
hubungan berat isi dengan kadar air dipengaruhi
oleh daya pemadatan.

131
2,10

(RO
BERAT ISI KERING (t/m3)

G A R A UDA
NGG
IS J
2,00
1,95

ENU A=0)
R
H
1,90

1,82 PEMADATAN
1,80 BERAT

PEMADATAN
RINGAN
1,70

10 20 30

KADAR AIR (%)

Hubungan berat isi kering dengan kadar air


132
Lapis pondasi dan pondasi bawah agregat
Lapis pondasi adalah lapis pondasi yang bahan
utamanya terdiri atas agregat atau batu atau granular
material. Agregat adalah material berbutir yang keras
dan kompak dan yang dimaksud agregat mencakup
antara lain batu bulat, batu pecah, abu batu, dan pasir.
Pemilihan agregat yang tepat dan memenuhi
persyaratan akan sangat menentukan dalam
keberhasilan pembangunan atau pemeliharaan jalan.
Lapis Pondasi Agregat terdiri dari 3 (tiga) kelas yang
berbeda yaitu Kelas A, Kelas B dan Kelas C. Lapis
Pondasi terdiri atas Agregat Kelas A atau Kelas B,
sedangkan Lapis Pondasi Bawah terdiri atas Agregat
Kelas C.

133
Jenis pengujian agregat dan campuran

134
Persyaratan bahan dan campuran
Fraksi agregat kasar
Agregat kasar (tertahan pada ayakan 4,75
mm) harus terdiri atas partikel yang keras
dan awet.
Agregat kasar Kelas A yang berasal dari batu
kali harus 100 % mempunyai paling sedikit
dua bidang pecah.
Agregat kasar Kelas B yang berasal dari
batu kali harus 65 % mempunyai paling
sedikit satu bidang pecah.
Agregat kasar Kelas C berasal dari kerikil.

135
Fraksi agregat halus
Agregat halus (lolos ayakan 4,75 mm) harus
terdiri atas dari partikel pasir atau batu pecah
halus
Gradasi dan sifat bahan campuran
Agregat untuk lapis pondasi harus bebas dari
bahan organik dan gumpalan lempung atau
bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki, harus
memenuhi persyaratan gradasi agregat
campuran dan persyaratan sifat bahan yang
disajikan pada Tabel berikut.

136
Persyaratan gradasi lapis pondasi agregat

137
Persyaratan lapis pondasi agregat

138
Pencampuran bhn utk lapis pondasi agregat.
Toleransi demensi.

139
Toleransi ketebalan

140
Toleransi kerataan permukaan

141
Ilustrasi pembuatan formula campuran rancangan
Mulai

Persiapan bahan/agregat

Pengujian kualitas dan


penggabungan agregat

Persyaratan kualitas dan


Tidak
gradasi agregat campuran

Ya

Buat benda uji pemadatan dengan kadar air


4%, 6%, 8%, 10% dan 12%

Gambarkan kurva kepadatan dan


Tentukan:
-Berat kering maksimum (MDD)
- Kadar air optimum (OMC)

Buat benda uji untuk pengujian CBR


dengan pada kondisi MDD dan OMC

Persyaratan CBR
Lapis Pondasi atau Tidak
Lapis Pondasi Bawah

Ya
142
Stop
Lapis pondasi dan lapis pondasi bawah
agregat semen (LPAS dan LPBAS)
Lapis pondasi agregat semen (LPAS)
adalah agregat kelas A atau agregat kelas
B yang diberi campuran semen,
Lapis pondasi bawah agregat semen
(LPBAS) adalah agregat kelas C yang
diberi campuran semen.
Lapis pondasi agregat semen ini umumnya
digunakan untuk ruas-ruas jalan yang
melayani lalu lintas cukup berat dan padat.
143
Jenis pengujian agregat dan campuran
lapis pondasi agregat.

144
Kuat tekan lapis pondasi agregat semen

145
Lapis pondasi beton padat giling
(BPG/RCC)
Lapis pondasi beton pada giling (BPG) atau
Roller Compacted Concrete (RCC) adalah salah
satu jenis lapis pondasi agregat yang
distabilisasi dengan semen disamping lapis
pondasi agregat semen (LPAS) dan lapis
pondasi bawah agregat semen (LPBAS).
Lapis pondasi beton padat giling (BPG) adalah
campuran agregat, semen dan air yang kental
atau slump nol, disamping itu memiliki gradasi
agregat campuran yang khusus atau tidak sama
dengan gradasi campuran untuk LPAS ataupun
LPBAS.
146
Jenis pengujian agregat dan campuran lapis
pondasi BPG

147
Persyaratan

148
Persyaratan lanjutan

149
Ilustrasi pembuatan campuran rancangan BPG
Mulai

Persiapan bahan
(Agregat Air & Sem en)

Pengujian Kualitas Pengujian kualitas dan


Pengujian Kualitas Air
Semen penggabungan agregat

Persyaratan kualitas bahan dan


Tidak
gradasi agregat campuran

Ya

Buat benda uji pemadatan dengan kadar air


4%, 6%, 8%, 10% dan 12%

Gambarkan kurva kepadatan dan Tentukan:


-Berat kering maksimum (MDD)
- Kadar air optimum (OMC)

Buat benda uji untuk pengujian kuat lentur beton (flexural strength)
dengan variasi penamban sem en yang menghasilkan air-semen
ratio antara 0,30 s/d 0,45 pada kondisi MDD dan OMC
Setelah benda uji berumur 28 hari lakukan pengujian kuat lentur
beton (flexural strength)

Persyaratan Kuat Lentur Beton


Tidak
Lapis Pondasi BPG (2,7 MPa)

Ya

Stop

150
Lapis pondasi tanah semen

Lapis pondasi tanah semen adalah lapis pondasi


yang terbuat dari tanah yang distabilisasi dengan
semen.
Stabilisasi tanah dengan semen adalah
campuran tanah dengan semen dan air dengan
komposisi tertentu sehingga tanah tersebut
memiliki sifat atau daya dukung yang lebih baik
dari semula.
Tanah yang digunakan untuk pondasi tanah
semen adalah lempung, lanau dan termasuk
tanah berbutir (granular) seperti pasir dan kerikil
151
Jenis pengujian bahan dan campuran lap pon tanah semen

152
153
Ya

DAPATKAN MDD & DAPATKAN MDD & OMC


OMC PADA UNTUK % KAPUR YANG
BERMACAM-
DIPILIH
MACAM % KAPUR

Z % KAPUR
T % KAPUR 0 % KAPUR

Y % KAPUR

Gambar MDD
& OMC dengan
% KAPUR
X % KAPUR

W % KAPUR

KAPUR %

IK G
G R KA
AF AN
KE PU NG

II
R Y
IH KA N A
IP AR A
D AD UK
K AS
M

IL
Kapur

MACAM-MACAM
KADAR KAPUR

KADAR KAPUR % LAPANGAN OMC

Ilustrasi pembuatan campuran


Stop
rancangan LPAS dan LPBAS
154
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Base dan Sub Base


Lapisan Base adalah suatu material yang dipasang tepat
di bawah lapis permukaan, sedang lapisan Sub Base
adalah material yang dipasang dibawah Base di atas
Subgrade

Lapisan perkerasan dapat terdiri dari perkerasan lentur


atau perkerasan kaku.
Sesuai namanya, perkerasan lentur relatif lentur jika
dibandingkan dengan beratnya beban lalu lintas yang
diterimanya, beban ditahan oleh sebagian luas tepi bawah
perkerasan sesuai dengan distribusi beban ke perkerasan, untuk
kemudian diteruskan ke Subgrade.
Sedang perkerasan kaku memang bersifat kaku sehingga beban
lalu lintas yang diterima dapat ditahan kurang lebih oleh seluruh
luas tepi bawah lapis perkerasan kaku ini, untuk kemudian
diteruskan ke subgrade.

155
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Pada perkerasan Lentur, tujuan base dan


subbase adalah untuk:
Dengan kekakuannya (kekuatannya) sendiri mendukung beban
(lalu lintas) yang ditermanya; Seperti asumsi di atas, bahwa
perkerasan lentur dibayangkan seperti lembaran karet,
sebenarnya dia juga punya kekakuan yang mampu mendukung
beban meskipun tidak sekuat lembaran baja.
Dengan ketebalan perkerasannya untuk menyebarkan beban lalu
lintas dipermukaan perkerasan menjadi tekanan yang mampu
diterima oleh Sub Grade

Lapis permukaan
Lapis Base
Lapis Sub Base
Subgrade
Gambar 1: Mekanisme penyebaran tekanan akibat beban pada lapisan perkersana lentur
156
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Fungsi pondasi adalah sebagai berikut:


Sebagai lapisan untuk mencegah terjadinya pumping;
Sebagai meredam pengaruh perubahan volume Sub
Grade terhadap perkerasan;
Menambah kekuatan struktur perkerasan

Lapis Permukaan kaku


Sub Base
Sub Grade
Gambar 2 : Mekanisme penyebaran
tekanan akibat beban
pada lapisan perkersana
kaku
157
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Jenis Lapis Pondasi Jalan


1. Lapis Pondasi Atas
Tanpa Pengikat
Lapis Pondasi 2. Lapis Pondasi
Agregat Kelas A
Dry Bound Macadam Bawah
Dengan Pengikat
Pengikat Air Tanpa Pengikat
Water Bound Lapis Pondasi
Macadam Agregat Kelas B
Pengikat Semen Dengan Pengikat
PCC (Portland Pengikat Aspal
Cement Concrete)
CTB
ATSB
Soil Cement Base
Konvensional
Pengikat Aspal
CTSB
ATB Konvensional
AC-Base

158
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Jenis apa saja base course itu?

Bahan Berbutir (Granular Material) :


Lapis Pondasi Agregat (Aggregate Base), Terbuat
Dari Cam-puran Batu Pecah Dan Sirtu
Bahan Distabilisasi Dengan Pengikat :
Bahan Pengikat Semen :
PCC (Potland Cement Concrete) , > K275
CTB (Cement Treated Base), Ucs 7 Hari > 45 Kg/Cm2
Soil Cement, Ucs 7 Hari > 20 Kg/Cm2
Bahan Pengikat Aspal :
Laston Atas ("Asphalt Treated Base"), Black Base
Kadar Aspal Rendah, Ukuran Butir Maks. 2 Inch

159
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Jenis campuran aspal apa saja untuk


subbase course?
Jenis sama dengan base course mutu
bahan boleh lebih rendah dari Base
course
CBR base 80 %
CBR subbase 30 %
Laston bawah ("asphalt treated Subbase")

160
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Berapakah CBR Yang Ekonomis Untuk


Perkerasan Lentur?
Bagaimana cara mengekonomiskan tanah ber-
CBR kecil?CBR yang ekonomis> 6, bilamana < 6
dapat digunakan capping layer yang terbuat dari
selected (CBR >10)
CBR = 3 - 6, digunakan capping layer 20 cm, gabungan
Capping layer dan tanah asli diperkirakan dapat mencapai
cbr = 6
CBR < 3, digunakan capping layer 35 cm, gabungan capping
layer dan tanah asli diperkirakan dapat mencapai CBR= 6

Capping Layer
Cbr Gabungan = 6 100 Cm

Tanah Asli
161
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Apakah boleh men-substitusi


tebal komponen perkerasan dengan cara
meng-ekivalenkan?
Mengekivalenkan menjadi komponen yang lebih tinggi
mutunya diperkenankan, tidak sebaliknya !
Bilamana diekivalenkan dengan bahan yang rendah
maka akan terjadi fatique cracking terlebih dahulu pada
Lapisan beraspal sebelum terjadinya rutting.

Hal ini paling sering dilakukan tanpa menyadarinya !


Analog dengan under reinforced !

162
Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Apa yang terjadi bilamana mutu bahan dan


pekerjaan tidak memenuhi persyaratan?
Mutu bahan
Campuran aspal:
Stabilitas marshall <, corrugation (keriting) atau shoving (sungkur) akan terjadi
Marshall quotient >>, campuran mudah retak kare na getas
Rongga udara >>, mudah teroksidasi sehingga cepat menjadi getas
Rongga udara <<, bleeding (kegemukan)
Kelekatan batuan terhadap aspal <, kekuatan <<
Lapis pondasi agregat:
CBR <, lapisan beraspal diatasnya cepat retak, umur rencana berkurang
Abrasi agregat >> atau bentuk pipih, agregat mudah pecah, interlocking
hilang, kekuatan menurun
Mutu pelaksanaan pekerjaan
Campuran aspal:
Suhu pencampuran > 165 c, perubahan sifat-sifat kimia aspal sehingga
cepat menjadi getas
Pemadatan <, kepadatan <, stabilitas <, rongga udara >
Lapis pondasi agregat:
Pemadatan <, kepadatan <, CBR<, dayadukung <, lapisan beraspal
diatasnya mudah retak
163
Bab II : Aspek Teknis
Untuk
Pengawasan Lapangan

164
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pekerjaan Lapis Pondasi Jalan


Lapis Pondasi Agregat (satuan m3)
Mencakup pemasokan, pemrosesan, pengangkutan,
penghamparan, pembasahan, dan pemadatan agregat di atas
permukaan yang telah disiapkan dan diterima oleh Direksi
Pekerjaan ---> Lapis pondasi agregat kelas A dan kelas B
Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal (satuan m3)
Mencakup pemasokan, pengangkutan, penghamparan, dan
pemadatan bahan utk pelaksanaan lapis pondasi jalan tanpa
penutup aspal, merupakan suatu lapis permukaan sementara
pada permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah yang
telah disiapkan ---> Lapis pondasi agregat kelas C
Lapis Pondasi Semen Tanah (satuan : m3 utk lapis pondasi dan
ton utk semen)
Terdiri dari tanah yang distabilisasi dengan semen yang dihampar
dan dipadatkan di atas tanah dasar yang telah disiapkan
165
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Gradasi Lapis Pondasi Agregat

Ukuran Ayakan Persen berat yang lolos


ASTM (mm) Kelas A Kelas B
2" 50 - 100
1 1/2" 37,5 100 88 - 95
1" 25,0 79 - 85 70 - 85
3/8" 9,5 44 -58 30 - 65
No. 4 4,75 29 - 44 25 - 55
No. 10 2,0 17 - 30 15 - 40
No. 40 0,425 7 - 17 8 - 20
No. 200 0,075 2-8 2-8
166
167
168
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

STANDAR RUJUKAN LAPIS PONDASI AGREGAT

SNI 03-1967-1990 (AASHTO T 89 - 90):Metode Pengujian Batas


cair dengan Alat Cassagrande.
SNI 03-1966-1990 (AASHTO T 90 - 87):Metode Pengujian Batas
Plastis.
SNI 03-2417-1991 (AASHTO T 96 - 87):Metode Pengujian
Keausan Agregat dengan Mesin Los Angeles.
SK SNI M-01-1994-03(AASHTO T112 - 87):Metode Pengujian
Gumpalan Lempung dan Butir-butir Mudah Pecah dalam
Agregat.
SNI 03-1743-1989(AASHTO T180 - 90):Metode Pengujian
Kepadatan Berat Untuk Tanah.
SNI 03-2827-1992(AASHTO T191 - 86):Metode Pengujian
Kepadatan Lapangan dengan Alat Konus Pasir
SNI 03-1744-1989(AASHTO T193 - 81):Metode Pengujian CBR
Laboratorium. 169
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

STANDAR MUTU PEKERJAAN LAPIS PONDASI AGREGAT

PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN LAPIS PONDASI AGREGAT

Penyiapan Formasi untuk Lapis Pondasi Agregat

Lapis Pondasi Agregat akan dihampar pada perkerasan atau bahu jalan
lama yang telah diperbaiki terlebih dahulu atau di atas tanah dasar baru
yang telah diselesaikan sepenuhnya
Lokasi yang telah disediakan untuk pekerjaan Lapisan Pondasi Agregat,
harus disiapkan dan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari
Direksi Pekerjaan paling sedikit 100 meter ke depan dari rencana akhir
lokasi penghamparan Lapis Pondasi pada setiap saat.
Untuk perbaikan tempat-tempat yang kurang dari 100 meter panjangnya,
seluruh formasi itu harus disiapkan dan disetujui sebelum lapis pondasi
agregat dihampar.
Bilamana Lapis Pondasi Agregat akan dihampar langsung di atas
permukaan perkerasan aspal lama, yang menurut pendapat Direksi
Pekerjaan dalam kondisi tidak rusak, maka harus diperlukan penggaruan
atau pengaluran pada permukaan perkerasan aspal lama agar diperoleh
tahanan geser yang lebih baik.
170
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Penghamparan Lapis Pondasi Agregat

Lapis Pondasi Agregat harus dibawa ke badan jalan sebagai


campuran yang merata dan harus dihampar pada kadar air yang
tersebar merata dan dalam rentang yang disyaratkan.
Setiap lapis harus dihampar pada suatu operasi dengan takaran
yang merata agar menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam
toleransi yang disyaratkan.
Bilamana akan dihampar lebih dari satu lapis, maka lapisan-lapisan
tersebut harus diusahakan sama tebalnya.
Lapis Pondasi Agregat harus dihampar dan dibentuk dengan salah
satu metode yang disetujui yang tidak meyebabkan segregasi pada
partikel agregat kasar dan halus.
Bahan yang bersegregasi harus diperbaiki atau dibuang dan diganti
dengan bahan yang bergradasi baik.
Tebal padat minimum untuk pelaksanaan setiap lapisan harus dua
kali ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal padat maksimum
tidak boleh melebihi 20 cm, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi
Pekerjaan.
171
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pemadatan Lapis Pondasi Agregat

Setiap lapis harus dipadatkan menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok
dan memadai dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan, hingga kepadatan paling
sedikit 100 % dari kepadatan kering maksimum modifikasi (modified) seperti
yang ditentukan oleh SNI 03-1743-1989, metode D.
Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan agar digunakan mesin gilas beroda
karet digunakan untuk pemadatan akhir, bila mesin gilas statis beroda baja
dianggap mengakibatkan kerusakan atau degradasi berlebihan dari Lapis
Pondasi Agregat.
Pemadatan harus dilakukan hanya bila kadar air dari bahan berada dalam
rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air
optimum, dimana kadar air optimum adalah seperti yang ditetapkan oleh
kepadatan kering maksimum modifikasi (modified) yang ditentukan oleh SNI
03-1743-1989, metode D.
Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit
demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalam arah memanjang. Pada bagian yang
bersuperelevasi, penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah dan
bergerak sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan
harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis
tersebut terpadatkan secara merata.
Bahan sepanjang kerb, tembok, dan tempat-tempat yang tak terjangkau
mesin gilas harus dipadatkan dengan timbris mekanis atau alat pemadat
lainnya yang disetujui.
172
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pengujian Lapis Pondasi Agregat

Jumlah data pendukung pengujian bahan yang diperlukan untuk


persetujuan awal harus seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan,
Harus mencakup seluruh jenis pengujian yang disyaratkan minimum
pada tiga contoh yang mewakili sumber bahan yang diusulkan
Seluruh jenis pengujian bahan akan diulangi lagi, bila menurut pendapat
Direksi Pekerjaan, terdapat perubahan mutu bahan atau metode
produksinya.
Suatu program pengujian rutin pengendalian mutu bahan harus
dilaksanakan untuk mengendalikan ketidakseragaman bahan yang
dibawa ke lokasi pekerjaan.
Setiap 1000 meter kubik bahan yang diproduksi paling sedikit harus
meliputi tidak kurang dari lima (5) pengujian indeks plastisitas, lima (5)
pengujian gradasi partikel, dan satu (1) penentuan kepadatan kering
maksimum menggunakan SNI 03-1743-1989, metode D. Pengujian
CBR harus dilakukan dari waktu ke waktu sebagaimana diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan.
Kepadatan dan kadar air bahan yang dipadatkan harus secara rutin
diperiksa, mengunakan SNI 03-2827-1992. Pengujian harus dilakukan
sampai seluruh kedalaman lapis tersebut pada lokasi yang ditetapkan
oleh Direksi Pekerjaan, tetapi tidak boleh berselang lebih dari 200 m.
173
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Grafik Kombinasi Gradasi Yang diperlukan


untuk membuat Lapis Pondasi Agregat Kelas B

JMF = 52% Agregat I +


48% Agregat II

Agregat II

Agregat I

174
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

CONTOH GRADASI AGREGATE PONDASI KELAS B

LEMPUNG KEPASIRAN PASIR (SAND) KERIKIL (G)

LEMPUNG KEPASIRAN HALUS KASAR HALUS SEDANG KASAR

N4 /8
3
N 200 N 80 N 40 N10 3
/4 1 11/2 2 3
100
ASTM PROSENTASE
90 STAND SIEVES BERAT YG LEWAT
JUMLAH % LEWAT SARINGAN

2 100%
80 1 1/2 67% - 100%
1 -
70 3/4 40% -100%
3/8 25%-80%
60 NO 4 16% - 66%
NO 10 10% - 55%
50 NO 40 3% - 33%
NO 200 0% - 20%
40
INDEKS PLASTIS 4 - 10
30 ABRASI TEST 50% MAX
NILAI CBR MIN 35%
20

10

0
0,001 0,006 0, 01 0,02 0,075 0,2 0,6 2 4,75 20 60 100

175
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Gradasi Lapis Pondasi Jalan


Tanpa Penutup Aspal

Lapis Pondasi kelas C


Ukuran Ayakan
Persen berat yang lolos
ASTM (mm)
3/4" 19 100
No. 4 4,75 51 - 74
No. 40 0,425 18 - 36
No. 200 0,075 10 - 22

176
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

STANDAR RUJUKAN LAPIS PONDASI JALAN


TANPA PENUTUP ASPAL

British Standards :
British Standard BS812:Method of Sampling and Testing of
Mineral Aggregates, Sands and Fillers.

Standar Nasional Indonesia (SNI) :


SNI 03-1967-1990 (AASHTO T 89 - 90):Metode Pengujian
Batas Cair dengan Alat Cassagrande.
SNI 03-1966-1990 (AASHTO T 90 - 87):Metode Pengujian
Batas Plastis.
SNI 03-2417-1991 (AASHTO T 96 - 87):Metode Pengujian
Keausan Agregat dengan Mesin Los Angeles.
177
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN LAPIS PONDASI


JALAN TANPA PENUTUP ASPAL

Penyiapan Formasi
Penyiapan drainase, tanah dasar dan lapis pondasi bawah harus selesai
dan diterima paling sedikit 100 m ke depan dari rencana lokasi akhir
penghamparan lapis pondasi jalan tanpa penutup aspal pada setiap saat.

Pengiriman Bahan
Agregat kasar dan halus untuk Waterbound Macadam harus dikirim ke
badan jalan sebagai campuran yang merata, Kadar air hanya sebatas
cukup untuk mengikat bahan halus dan terdistribusi secara merata, dan
air bebas tidak diperbolehkan.
Jika Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal kelas C dipasok sebagai
bahan yang dicampur lebih dahulu, bahan itu harus dikirim ke badan
jalan sesuai dengan ketentuan Spesifikasi. Bilamana agregat dikirim
dalam bentuk dua atau tiga komponen, setiap komponen harus dikirim
sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi yang mengatur hal ini.
Tebal padat minimum tidak boleh kurang dari dua kali ukuran agregat
maksimum. Tebal padat maksimum tidak boleh lebih dari 20 cm kecuali
ditentukan lain atau disetujui Direksi Pekerjaan .

178
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Agregat Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal Yang Dicampur Di


Tempat
Pencampuran di tempat hanya diijinkan bila kondisi panas dan cuaca
panas diharapkan berlangsung sampai pekerjaan selesai.
Pelaksanaan Waterbound Macadam disyaratkan dalam Spesifikasi.

Pemadatan Lapis Pondasi Kelas C


Setiap lapis bahan harus dipadatkan seluruhnya dengan alat pemadat
yang cocok dan memadai, yang telah disetujui Direksi Pekerjaan .
Pembentukan akhir permukaan lapis pondasi bawah harus dilaksanakan
paling sedikit setelah dua lintasan pemadatan melintasi seluruh lokasi
tersebut.
Selama pemasangan, pembentukan dan pemadatan Lapis Pondasi
Jalan Tanpa Penutup Aspal, Agregat harus dipertahankan dalam keadaan
lembab dengan penyemprotan air yang diatur dengan ketat sehingga
bahan halus yang berada di permukaan tidak terganggu.
Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi perkerasan dan
berangsur-angsur menuju ke tengah-tengah, dalam arah memanjang.
Pada tempat bersuperelevasi penggilasan harus dimulai dari bagian
yang rendah menuju ke bagian yang tinggi.
Bahan sepanjang kerb, tembok dan tempat-tempat lain yang tak
terjangkau oleh mesin gilas harus dipadatkan dengan menggunakan
timbris atau pemadat mekanis. 179
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Gradasi Waterbound Macadam


Tebal Lapisan padat
Ukuran Ayakan
Jenis Agregat (7 - 10 Cm) (5 - 8 Cm)
ASTM (mm) Persen berat yang lolos
3" 75 100 -
2 1/2" 63 95 - 100 100
2" 50 35 - 70 100
Agregat Pokok
1 1/2" 37,5 0 - 15 95 - 100
1" 25,0 0-5 35 - 70
3/4" 19,0 - 0-5
3/8" 9,5 100
No. 4 4,75 70 - 95
No. 10 2,0 45 - 65
Agregat Halus
No. 20 1,0 33 - 60
No. 40 0,425 22 - 45
No. 200 0,075 10 - 28
180
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pelaksanaan Waterbound Macadam

Kedalaman Lapisan
Harus dilaksanakan lapis demi lapis dan memenuhi ketentuan kedalaman
lapisan seperti yang tercantum dalam Spesifikasi.
Penebaran Agregat Kasar
Penebaran dapat dilaksanakan dengan peralatan mekanis atau cara
manual dengan menggunakan keranjang untuk menebar agregat.
Penebaran harus dilakukan dengan ketebalan merata.
Pemadatan dan Pembentukan Agregat Kasar
Pemadatan awal harus dilakukan dengan mesin gilas roda besi berat 6 - 8
ton. Pemadatan harus dilanjutkan sampai diperoleh suatu lapis agregat
yang stabil dan rata. Penggilasan harus dilaksanakan minimum 6 lintasan
di seluruh lokasi jalan tersebut.
Selama pelaksanaan pemadatan kerataan permukaan harus diperiksa
dengan mistar lurus sepanjang 3 m. Lokasi dimana permukaan agregat
kasar menyim-pang dari garis mistar lurus lebih dari 1 cm harus segera
diperbaiki dan dipadatkan sampai standar yang disyaratkan.
Penebaran dan Pemadatan Agregat Halus
Agregat halus harus ditebar sedemikian hingga seluruh rongga
permukaan agregat kasar terisi. Agregat halus harus dibasahi dan digilas
agar dapat masuk ke dalam rongga dalam lapis pondasi.
Pembasahan dan penggilasan dengan penambahan agregat halus jika
diperlukan, harus berlanjut sedemikian hingga seluruh kedalaman lapis
pondasi terisi dengan agregat halus sampai padat dan permukaan yang
halus dan rapat dapat diperoleh. 181
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pengujian Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal

Jumlah data pendukung pengujian harus mencakup semua


pengujian yang disyaratkan, paling sedikit tiga contoh yang
mewakili sumber bahan yang diusulkan.
Setelah persetujuan atas mutu bahan untuk Lapis Pondasi Jalan
Tanpa Penutup Aspal yang diusulkan, seluruh pengujian mutu
bahan harus diulangi lagi bilamana menurut pendapat Direksi
Pekerjaan terdapat perubahan pada mutu bahan atau pada
sumber bahan atau pada metode produksinya.
Pengujian harus sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan dan untuk
setiap 1000 meter kubik bahan yang dihasilkan, pengujian harus
meliputi paling sedikit lima (5) pengujian Indeks Plastisitas dan
lima (5) pengujian gradasi.

182
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Lapis Pondasi Semen Tanah


Mencakup :
Penyediaan lapis pondasi dari tanah yang
diambil dari daerah sekitar proyek
distabilisasi dengan semen
diatas tanah dasar yang telah disiapkan
termasuk :
penghamparan, pembentukan, pemadatan, perawatan,
dan penyelesaian akhir.
Bahan : Semen Portland, Air dan Tanah
Bahan harus memenuhi persyaratan teknis (Spec)
Untuk tanah, ukuran partikel (batu) < 75 mm dan yang
melewati saringan # 200 < 50% (ayakan basah)

183
Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

STANDAR RUJUKAN LAPIS PONDASI SEMEN TANAH

Standar Industri Indonesia (SII) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) :


SII-13-1977:Semen Portland
SNI 03-3422-1994 (AASHTO T 88 - 90):Metode Pengujian Analisis Ukuran Butir Tanah
Dengan Alat Hidrometer.
SNI 03-1967-1990 (AASHTO T 89 - 90):Metode Pengujian Batas Cair Dengan Alat
Casagrande.
SNI 03-1966-1990 (AASHTO T 90 - 87):Metode Pengujian Batas Plastis.
SNI 03-1742-1989 (AASHTO T 99 - 90):Metode Pengujian Kepadatan Ringan Untuk Tanah.
SNI 03-2827-1992 (AASHTO T191 - 86):Metode Pengujian Kepadatan Lapangan dengan
Alat Konus Pasir.
SNI 03-1744-1989 (AASHTO T193 - 81):Metode Pengujian CBR Laboratorium.
AASHTO :
AASHTO T26 - 79:Quality of Water Used in Concrete
AASHTO T134 - 76:Moisture-Density Relations of Soil-Cement Mixtures
AASHTO T135 - 76:Wetting and Drying Test of Compacted Soil-Cement Mixtures
AASHTO T144 - 86:Cement Content of Soil-Cement Mixtures
ASTM :
ASTM D1632 - 63:Making and Curing Soil-Cement Compression & Flexure Test
Specimens in The Laboratory
ASTM D1633 - 63:Compressive Strength of Moulded Soil-Cement Cylinders
British Standards 1924 : 1975
BS 1924 Test 18:Detection of the presence in soils of organic matter able to interfere with
the hydration of Portland Cement (measurement of the pH of a Soil-Cement paste)
184
SOIL CEMENT BASE

Merupakan lapisan base yg terdiri dari


campuran tanah setempat dgn semen
portland.

Bahan :
Portland cemen biasa type I
Air
Tanah (dalam arti luas)

Tanah yg cocok untuk soil cemen base :


# Ukuran maksimum butiran batuan 75 mm
# Maksimum lolos saringan No.200 = 50 %
# Tanah dgn plastisitas rendah sangat cocok.
# Tanah harus bebas dari bahan organis
185
PERKIRAAN KADAR SEMEN

KLASIFIKASI TANAH (%) BERAT SEMEN

GW,GP,SW,SP,GM atau SM 3-5

SP,GM,SM atau GP 5-8

SM,SC, beberapa GM atau GC 59


SP 7 11
CL atau ML 7 12
ML, MH, atau OH 8 13
CL atau CH 9 15
OH , MH, atau beberapa CH 10 - 16

186
Campuran biasanya mengandung kadar semen
3 12 %.

Mix disain dilakukan dengan dua cara yaitu :


# UCS (Unconfined Compression Test)
# CBR (California Bearing Ratio)

Persyaratan dan spesifikasi :


> Tebal rata-rata +/- 10 % dari tebal rencana
> Kekuatan campuran di lapangan dgn DCP
> Toleransi kerataan 2 cm dgn mistar penyipat
187
PELAPORAN MELIPUTI HAL-HAL SBB:

Contoh material yg akan digunakan disimpan


sebagai rujukan.
Catatan jumlah semen yg dikirim ke lapangan.
Catatan harian jumlah semen yg dipakai.
Data semua elevasi tinggi permukaan yg akan
digelar.
Catatan pengujian DCP lapangan.
Penyimpanan benda uji dan pelabelannya.
PEMBATASAN CUACA: Tanah untuk soil
cemen tidak boleh dihampar, dihaluskan selama
turun hujan, penghalusan tidak diizinkan setelah
hujan atau kadar air masih tinggi.
188
PERBAIKAN PEK YG TIDAK MEMUASKAN

Yang tidak memenuhi toleransi kualitas harus


diperbaiki :

perubahan perbandingan campuran.


penghalusan ulang lapisan yg telah di hampar/diaduk
ulang bila memungkinkan.
pembuangan dan penggantian bagian yg tidak
memuaskan.
penambalan lapisan soil cemen yg tidak memenuhi
syarat.

Jika terjadi retak yg lebar karena penyusutan


selama curing time maka dapat dilakukan
penggilasan tambahan untuk mempersempit
retak.
189
JADWAL KERJA & PENGATURAN LALU
LINTAS

Maksimum 14 hari setelah soil semen lapisan


atas selesai, maka harus dilapis hot mix.

Soil semen yg baru dibuat tidak boleh dilalui oleh


kendaraan.

Perlu pengendalian lalu lintas yg baik.

190
MIX DISAIN SOIL SEMEN
1. buat proctor disain, untuk hubungan kadar semen
tertentu dengan OMC dan MDD yang diperoleh.
2. variasikan kadar semen dan plot pada grafik I.
3. Plot MDD dan OMC pada grafik II sebagai fungsi dari
kadar semen.
4. Uji masing masing kadar semen untuk mendapatkan
nilai UCS atau CBR, dan plot pada grafik III sebagai fungsi
dari kadar semen.
5. masukan target kekuatan yg diminta pada gafik III, untuk
mendapatkan kadar semen.
6. Masukan nilai kadar semen dari grafik III pada grafik II,
untuk mendapatkan OMC dan MDD.
7. buat grafik IV yang menyatakan hubungan kadar air dgn
kepadatan kering.
8. Masukkan nilai OMC dan MDD yg didapat dari grafik II,
pada grafik IV, maka akan didapat nilai untuk pengendalian
lapangan dimana OMC sebagai batas bawah dan OMC +2
% sebagai batas atasnya.
191
192
SIFAT CAMPURAN YG DISYARATKAN
PENGUJIAN BATAS-BATAS SIFAT METODA
(SETELAH PERAWATAN 7 HARI) PENGUJIAN
MINIMUM TARGET MAKSUMU
M

UCS KG/CM2 20 24 35 ASTM


D1633-63
CBR % 100* 120 * 200* SNI
03-1744-1989
SKALA PENETROMETER 1,0* 1,3* 2,5* LAMPIRAN
(PULUKAN/CM) (1,0) (0,8) (0,4) SPEK

SPR BATAS MINIMUM 0,8* - - LAMPIRAN


(1,3) SPEK

PENGUJIAN WET & DRYING - -


(I) % KEHILANGAN 7 AASHTO
BERAT T135-76
(II) % PERUBAHAN 2
VOLUME

193
PERCOBAAN LAPANGAN
Percobaan sepanjang 200 m, dgn tebal,
peralatan dan prosedur yg ditentukan.
Hal-hal yang dievaluasi adalah :
kecocokan, efisiensi efektifitas alat yg dipakai.
Derajat kahalusan tanah dan jumlah lintasan
penghalusan
Kadar air optimum pada saat penghalusan
Keseragaman campuran secara visual
Pemeriksaan kepadatan dgn variasi
penggilasan
Bulking ratio, antara tanah gembur dan tanah
setelah dipadatkan
Pengujian campuran dgn CBR atau UCS
194
PERCOBAAN LAPANGAN
Penentuan syarat kepadatan dan kadar air
optimum lapangan
Pengujian CBR atau UCS dari job mix untuk
waktu curing 1, 7 dan 28 hari
Pengujian DCP lapangan umur 7 dan 28 hari
Pengendalian retak dgn pengilasan yg sesuai
Penggunaan curing membrane yg paling tepat
dan cara curing dgn visual dan pengujian kadar
air
Perhitungan tebal efektif dgn uji DCP
Jumlah tebal lapisan yg diperlukan sesuai hasil
percobaan lapangan dan rencana tebal

195
PENGADUKAN DAN PENGHAMPARAN

Persiapan tanah dasar meliputi :

Persiapan tanah dasar seperti ketentuan 3.3


penyiapan badan jalan
Permukaan tanah dasar dibersihkan dan dilakukan
proof rolling
Tanah 20 cm dibawah subgrade kepadatan harus
minimum 95 %
Minimum CBR subgrade 6 % pada kepadatan 100%
Toleransi permukaan subgrade sesuai pasal 3.31.

196
PEMILIHAN ALAT PENCAMPUR

PETUNJUK INDEK PLASTISITAS TEBAL PERKIRAAN


JENIS PERALATAN TANAH X PERSEN MAKSIMUM YG MAMPU
LOLOS DILAKUKAN DLM SATU
# NO.40 LAPIS (CM)
MESIN PENCAMPUR < 500 TAK TERBATAS
TERPUSAT
PENGGARU PIRINGAN, < 1000 12 S/D 15
LUKU & MOTOR GREDER
ROTAVATOR RINGAN < <2000 15
100 PK
ROTAVATOR BERAT > 100 <3500 20 S/D 30
PK TERGANTUNG PK
MESIN STABILISASI 2000 S/D 3000 20
TANAH

197
PENGHAMPARAN & PENGADUKAN
MIX IN PLACE
Tanah dari borrow pit disebar pada subgrade dan
dihaluskan dgn pulvimixer
Kadar air pada kondisi optimum
Setelah dihaluskan tanah diperiksa
kehalusannya, lolos saringan 25 mm = 100 % dan
lolos saringan # 4 = 75 %
Penyebaran tanah yg telah dihaluskan sesuai
ketebalan hasil trial
Penyebaran semen secara merata diatas tanah
sesuai kadar yg disyaratkan
Campurkan tanah dan semen secara merata,
kadar air 2 % diatas kadar air optimum
198
PENCAMPURAN & PENGHAMPARAN
SECARA CENTRAL PLANT

Mesin pengaduk dgn cara batching atau


continous
Alat pencampur dapat berupa paddle mixer atau
pan mixer
Campuran dihampar dengan alat Paving Machine
atau Spreader Box

199
PEMADATAN

Pemadatan dilaksanakan secepat mungkin


setelah pengadukan dan seluruh operasi
termasuk pembentukan finishing harus selesai
dalam waktu 60 menit, sejak semen kontak dgn
tanah.
Panjang maksimum penghamparan sesuai hasil
trial, dan tidak lebih dari 200 m
Pemadatan awal dgn sheepfoot, pneumatic tyred
atau smooth-wheeled roller
Pembentukan dan perataan permukaan dgn
grader sebelum pemadatan akhir dilaksanakan,
kepadatan min 97%.
200
Sambungan memanjang dan melintang lapisan
soil semen ini dikerjakan seperti pada
penghamparan hot mix (harus ada keyed).

Setelah pemadatan awal dan


pembentukan lapis terakhir soil semen,
disebar batuan chip ukuran 13 mm (single
size) dengan takaran 1,2 kg/m2

201
PEMELIHARAAN (CURING)

Setelah selesai pemadatan, dan penyebaran


batuan chip, lapisan soil semen harus ditutup
dgn curing membrane selama 24 jam.
Curing membrane dapat berupa, lembaran
plastik untuk menjaga kehilangan air, karung
goni basah atau material lain yg dapat berfungsi
baik
Curing membrane dipasang 7 hari, dan
dipindahkan bila akan dipasang lapisan aspal
Bila diinginkan maka setelah 24 jam lapisan soil
semen dapat di prime coat.
Kendaraan tidak diizinkan lewat diatas soil
semen sebelum umur 7 hari
202
PENGENDALIAN MUTU
Pengujian kepadatan subgrade dilaksanakan setiap jarak
200 m dgn sand cone, pengujian kepadatan lab maksimum
setiap 10 pengujian kepadatan lapangan.
Paling tidak satu pengujian CBR untuk setiap jenis tanah
subgrade yang dipakai.
Pengambilan contoh tanah yg telah dihaluskan, paling
sedikit lima contoh pada daerah dari 200 m, kalau ada satu
contoh yg tidak memenuhi, penghaluan harus diteruskan
utk seluruh bagian pekerjaan.
Pengendalian contoh untuk pengujian kadar air sewaktu
penghamparan dan pengadukan pada panjang maksimum
100 m.
Contoh diambil pada saat disebarkan, setelah
pencampuran dgn semen utk penentuan jumlah air yg
ditambahkan dan setelah pengadukan penambahan air tsb.

203
PENGENDALIAN PEMADATAN

Segera setelah tanah, air dan semen diaduk


masih dalam keadaan gembur, diambil contoh
dgn rentang jarak maksimum 200 m.
Contoh diambil dalam kantong plastik dua
sampel utk pengujian kepadatan dan empat
sampel utk pengujian kekuatan (CBR atau UCS).
Satu pengujian kepadatan dilapangan dgn sand
cone, dilakukan pada lokasi dimana dua samel
kepadaan lab diambil utk membandingkan hasil
pemadatan lapangan.

204
PENGENDALIAN KEKUATAN &
HOMOGENITAS (1)

Empat sampel tanah yg diambil dipadatkan di


lab, dan di cure didalam kantong plastik. Dua
sampel diambil setelah umur 3 hari lalu direndam
didalam air selama 4 hari.
Semua benda uji di test pada umur 7 hari, angka
rata-rata hasil benda uji yg direndam dinyatakan
sebagai kekuatan soil semen di lab, dan
dibandingkan dgn tabel spesifikasi.
Dari kekuatan lab ini, kekuatan soil semen
dilapangan dapat dipekirakan dari kepadatan yg
dicapai.
205
PENGENDALIAN KEKUATAN &
HOMOGENITAS (2)
Angka rata-rata kekuatan sampel yg tidak
direndam, dipakai untuk kalibrasi dgn hasil DCP
yg dilakukan pada lokasi pengambilan sampel
tsb (bila diperlukan).
Apabila terjadi perselisihan mengenai kekuatan
yg sebenarnya dilapangan, maka dapat diambil
sampel dgn core dilapangan dan dilakukan
pengujian UCS hasil core tsb.
Monitoring Ketebalan, diambil selang jarak tiap
50 m, dgn cara pengukuran level dan pengujian
DCP.

206
PENGENDALIAN KEKUATAN &
HOMOGENITAS (3)
Monitoring Kadar Semen, bila diperkirakan
terdapat kekurangan kadar semen, maka dapat
dilakukan pengujian kadar semen campuran dgn
AASHTO T 144 dari lokasi yg tidak memuaskan
tsb.
Pengukuran dan Pembayaran, pembayaran
diukur dalam meter kubik terpasang, yaitu
perkalian panjang x lebar x tebal rata-rata yg
diterima.
Semen dibayar dalam berat (ton), yaitu : berat
total semen yg dipakai X kualitas yg diterima
kualitas yg dipasang
207
MIX IN PLACE

208
CENTRAL PLANT

209
210
PENGHALUSAN TANAH

211
TANAH HASIL PENGHALUSAN

212
PEMBENTUKAN

213
PENYEBARAN SEMEN

214
PENAMBAHAN AIR

215
PEMADATAN

216
PENGUJIAN KEPADATAN & KADAR AIR

217
CURING

218
TACKOAT

219
PENGASPALAN

220
Bab III : Klasifikasi Tanah
dan
Bahan Pondasi Jalan

221
Bab III : Klasifikasi Tanah dan Bahan Pondasi Jalan

Identifikasi Tanah

Apakah tanah itu?


Dalam mekanika tanah dicakup identifikasi
semua bahan seperti :
Lempung
Lanau
Pasir
Kerikil
Batu-batu besar

222
Bab III : Klasifikasi Tanah dan Bahan Pondasi Jalan

Bagaimana klasifikasi teknis dari tanah?

Primer
Berdasarkan Ukuran Butirnya
JENIS RENTANG UKURAN
BERANGKAL (BOULDER) > 8 inch atau > 20 cm
KERAKAL (COBBLE) 3 8 inch (7,5 20 cm)
KERIKIL (GRAVEL) No.8 3 inch (2,36 mm 7,5 cm)
PASIR (SAND) No.200 No.8 (0,075 mm 2 mm)
LANAU (SILT) 0,005 0,075 mm
LEMPUNG (CLAY) < 0,005 mm

Sekunder
Butiran > Pasir Pemeriksaan Gradasi
Butiran < Pasir Pemeriksaan Sifat-sifat (Properties
223
Bab III : Klasifikasi Tanah dan Bahan Pondasi Jalan

Standar rujukan yang dipakai dalam


Klasifikasi Tanah
USCS (Unified Soil Classification System)
Butiran > pasir:
Memakai simbol menurut ukuran butiran & gradasi
Contoh: GW (Gravel Well graded)
SP (Sand Poor graded)
Butiran < pasir:
Memakai simbol menurut ukuran butiran & tinggi rendahnya
batas cair (liquid limit disingkat LL)
LL > 50 disebut High (H) dan LL < 50 disebut Low (L)
Contoh: ML (silt Low Liquid Limit)
OL (Organic Low Liquid Limit)
CH (Clay High Liquid Limit)
224
Bab III : Klasifikasi Tanah dan Bahan Pondasi Jalan

Lanjutan . . .
AASHTO (American Association of State Highway and
Transportation Officials)
Kelompok menurut Ukuran Butir
Material berbutir (Granular Material)
A1, A2 & A3: butiran lolos no.40 (600m < 35%)
Material Lempung Lanau (Silt Clay Material)
A4, A5 & A6: butiran lolos no.40 (600m > 35%)
Kelompok menurut Atterberg dari Material:
Plasticity Index = Liquid Limit Plastic Limit
Contoh:
A1 (Fraksi Batu: Kerikil & Pasir): A1-a & A1-b
A2 (Kerikil Pasir) Kelanauan/kelempungan: A2-4, A2-5, A2-6, A2-7
A3 (Pasir Halus)
A4 & A5 (Tanah-tanah Lanau)
A6 (Tanah Lempung)
A7 (Tanah Lempung): A7-5 jika PI < (LL-30); A7-6 jika PI > (LL-30)
Klasifikasi Sistem Lainnya
225
Bab III : Klasifikasi Tanah dan Bahan Pondasi Jalan

KLASIFIKASI TANAH MENURUT AASHTO


KLASIFIKASI MATERIAL BERBUTIR, < 35% , LANAU - LEMPUNG
UMUM LOLOS NO 200 > 35 % LOLOS NO 200

A- 2 A-7
A- 1
KLASIFIKASI
A- 3 A-4 A-5 A-6
KELOMPOK A-7-5
A-1-a A-1-b A-2-4 A-2-5 A-2-6 A-2-7
A-7-6

ANALISA SAR,
% LOLOS
50 MAKS
NO. 10
NO 40 30 MAKS
50 MAKS 51 MAKS
NO 200 15 MAKS 25 MAKS 10 MAKS 35 MAX
35 MAX 35 MAX 35 MAX 35 MIN 36 MIN 36 MIN 36 MIN

KARAKTERIST
BERLANAU BERLEMPUNG
FRAKSI YG
LOLOS
NO.40
BATAS CAIR 40 MAX 41 MIN 40 MAX 41 MIN 40 MAX 41 MIN 40 MAX 41 MIN
INDEKS PLASTIS 6 MAX NP 10 MAX 10 MAX 11 MIN 11 MIN 10 MAX 10 MAX 11 MIN 11 MIN

BAIK SEKALI SAMPAI BAIK BIASA - JELEK 226


Bab III : Klasifikasi Tanah dan Bahan Pondasi Jalan

BATAS - BATAS KONSISTENSI


BATAS-BATAS ATTERBERG N KA (KADAR AIR)
ENAIKA
PERCOBAAN K

KERAS-KAKU

W=0 SL PL PLASTIK INDEX LL

TIDAK WORKABLE LENGKET BUBUR SUSPENSI


TERJADI
PERUBAHAN
TERJADI PERUBAHAN VOLUME JIKA K.A BERUBAH
VOLUME
LIQUID LIMIT : BATAS KADAR AIR MINIMUM - DIMANA TANAH BISA MENGALIR
AKIBAT BERAT SENDIRI
PLASTIC LIMIT : BATAS KADAR AIR - DIMANA TANAH AKAN BERHENTI DARI
KEMAMPUAN BERUBAH BENTUK TANPA RETAK - RAPUH
SHRINKAGE LIMIT : BATAS KADAR AIR - DIMANA AIR HANYA MENGISI
PARTIKEL YG TERSUSUN RAPAT .--- PERUBAHAN KADAR AIR TIDAK
MENGURANGI VOLUME MASA TANAH
INDEX PLASTIS : MENGGAMBARKAN CAKUPAN KADAR AIR DALAM KEADAAN
PLASTIS - KEADAAN TANAH DAPAT BERUBAH BENTUK TANPA RETAK 227
Bab III : Klasifikasi Tanah dan Bahan Pondasi Jalan

Bagaimana cara membedakan tanah


dengan cepat?
Berangkal, kerakal, kerikil & pasir mudah dibedakan:
Menurut ukuran butir dengan visual
Pasir halus dan lanau sulit dibedakan dengan visual:
Lama pengendapan dalam gelas berisi air yang Sudah dikocok,
pasir akan mengendap < 1.5 menit & Lanau > 10 menit (sampai
air jernih)
Lanau dan lempung dapat dibedakan dengan:
Indera peraba, diremas dengan ibu jari dan telunjuk
Lama Pengendapan, Lanau 10 menit dan kurang dari 1 jam
Menggerakkan bola tanah di telapak tangan
Lanau akan mengkilap permukaannya & Lempung tidak
Memecah Gumpalan Lempung kering sulit, lanau lebih mudah
Lempung mudah di linting, lanau sulit

228
Bab III : Klasifikasi Tanah dan Bahan Pondasi Jalan

Bagaimana memperkirakan CBR tanah?


Cara Visual atau Pengalaman CASAGRANDE CBR (%)
Klasifikasi Tanah GW > 50
GC > 40
GP 25 - 60
GF 20
SW & SC 20 - 60
AASHTO CBR (%) SP 10 - 30
A1 > 20 SF 8 - 30
A2 >8 ML 6 - 25
A3 > 10 CL 4 - 15
A4 3 - 25 OL 3-8
A5 <7 MH <7
A6 & A7 <15 CH <6
OH <4
CATATAN :
GC & SC : Gradasi Menerus Dengan Sedikit Lempung
GF & SF : Gradasi Jelek Dengan Kadar Lanau /
Lempung Tinggi
229
Bab III : Klasifikasi Tanah dan Bahan Pondasi Jalan

Apakah cara visual boleh dijadikan acuan


untuk menyetujui suatu material ?

Cara visual sangat membantu proses


pengawasan, untuk memastikan mutu
bahan perlu diuji di laboratorium

Sebagaimana disyaratkan dalam


spesifikasi teknik

230
Bab IV : Prinsip-prinsip
Pengujian Laboratorium
Untuk
Pekerjaan Pondasi Jalan

231
Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium
Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Garis Besar Pengujian

Cakupan standar-standar pengujian


Maksud (Scope)
Peralatan (Apparatus)
Benda Uji (Test Specimens)
Cara Melakukan (Procedure)
Perhitungan (Calculation) jika ada
Pelaporan (Report)

232
Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium
Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Kesalahan Pada Saat Pengujian Lab:

Kesalahan Peralatan Laboratorium karena


tidak dikalibrasi.
Kesalahan Faktor Manusia, misalnya
salah baca, dsb.
Kesalahan Prosedur Pengujian karena
Cara Melakukan yang benar belum
dipahami.
233
Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium
Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Penyimpangan Prosedur Pengujian :


Pemadatan Campuran Aspal dengan temperatur
yang tidak sesuai
Penyiapan benda uji dengan gradasi yang
bervariasi
Penggunaan Piknometer yang salah
Kering Permukaan Jenuh yang salah
Abrasi semu
Indeks Plastisitas yang salah
234
Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium
Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Jika Hasil Pengujian Gagal atau


Meragukan?

Seluruh proses pengujian harus diulangi


Secara teoritis pekerjaan harus ditolak
Diperlukan evaluasi terhadap hasil pengujian
lainnya yang dilakukan pada waktu yang tidak
berbeda jauh
Lakukan pengujian ulang di laboratorium lain
terhadap hasil pengujian yang meragukan atau
gagal
235
Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium
Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Jumlah
No. Uraian / jenis pengujian Persyaratan Keterangan
contoh /
test
1. Keausan dengan Los Angeles 40 % 3 test Per sumber.

2. Atterberg limit test 5 test Setiap 1.000 m3


3. Indeks plastisitas 10 5 test Setiap 1.000 m3
4. Batas cair 35 5 test Setiap 1.000 m3
5. Bagian yang lunak 5% 3 test Per sumber.
6. CBR 60 (min) 1 test Setiap 1.000 m3
7. Rongga dlm agregat mineral 10 (min)
pd kepadatan max
8. Gradasi Lihat syarat 5 test Setiap 1.000 m3
9. Kepadatan proctor modified. 1 test Setiap 1.000 m3
10. Kepadatan sand cone 100 % Setiap pjg < 200 m.

11. Kadar air pemadatan 3 % - Wopt 1 % atau setiap 150 m3


236
Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium
Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Jumlah
No. Uraian / jenis pengujian Persyaratan Keterangan
contoh /
test
1. Keausan dengan Los 40 % 3 test Per sumber.
Angeles
2. Atterberg limit test 5 test Setiap 1.000 m3
3. Indeks plastisitas 6 5 test Setiap 1.000 m3
4. Batas cair 25 5 test Setiap 1.000 m3
5. Bagian yang lunak 5% 3 test Per sumber.
6. CBR 80 (min) 1 test Setiap 1.000 m3
7. Rongga dlm agregat mineral 14 (min)
pd kepadatan max
8. Gradasi Lihat syarat 5 test Setiap 1.000 m3
9. Kepadatan proctor modified. 1 test Setiap 1.000 m3
10. Kepadatan sand cone 100 % Setiap pjg < 200 m.

11. Kadar air pemadatan 3 % - Wopt 1 % atau setiap 150 m3


237
13 .Permasalahan lapangan
Pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi jalan, baik lapis pondasi
agregat maupun lapis pondasi distabilisasi masih dijumpai
kekurang-tepatan pada proses pelaksanaan dilapangan.
Kekurang-tepatan dalam pelaksanaan ini dapat memberikan
dampak terhadap menurunnya kualitas pekerjaan.
Dampak kekurang-tepatan dalam pelaksanaan pekerjaan,
umumnya terlihat setelah lapis pondasi tersebut diberi lapis
permukaan, baik untuk lapis permukaan perkerasan lentur maupun
kaku.
Kekurang-tepatan pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi jalan
memberikan konvensasi biaya konstruksi yang cukup tinggi karena
untuk menanganinya diperlukan rehabilitasi atau pembongkaran
perkerasan yang ada atau alternatif lainnya adalah dengan
mempertebal lapis permukaan.
Tahapan tersebut diantaranya adalah pengadaan dan penimbunan
material; pengangkutan; penghamparan dan pemadatan; dan
perawatan (khusus untuk lapis pondasi yang distabilisasi).

238
Pengadaan bahan
Ketersediaaan bahan atau material untuk jalan
dari tahun ke tahun makin sukar didapatkan
terutama agregat
Untuk pekerjaan yang reatif besar pengadaan
bahan sering tidak dapat dipenuhi dari satu
sumber bahan.
Apabila dalam suatu pekerjaan menggunakan
bahan atau material dari beberapa sumber,
maka disyaratkan untuk setiap perubahan
penggunaan material dari sumber berbeda
harus dilakukan lagi pengujian sifat bahan dan
pembuatan formula campuran rancangan serta
formula campuran kerja
239
Pengangkutan

Pengangkutan bahan yang akan digunakan dari sumber


bahan ke tempat penimbunan (stockpile) sering juga
kurang mendapat perhatian , sering dijumpai truk
pengangkut bahan atau material tidak menggunakan
penutup terpal sebagai pelindung.
Selain tidak memperhatikan aspek lingkungan juga
kualitas bahan, terutama untuk agregat.
Pengaruh dengan tidak menggunakan penutup terpal
dapat terjadi pendebuan akibat hembusan angin
disepanjang perjalanan.
Mengganggu pengguna jalan lain dan lingkungan
masyarakat sekitarnya, juga mempengaruhi kualitas
bahan karena berkurangnya material halus sehingga
pada satu timbunan/tumpukan bahan kemungkinan tidak
homogen
240
Penimbunan
Kehomogenan campuran sangat
menentukan terhadap kualitas campuran
lapis pondasi.
Kehomogenan agregat campuran ini,
dapat juga dipengaruhi akibat
penimbunan yang tidak tepat, seperti
terlalu tingginya penimbunan dan dapat
juga terjadi akibat terjadinya tumpang
tindih antara fraksi agregat.
241
Produksi campuran

Kehomogenan campuran yaitu bercampur


antara antara beberapa fraksi agregat yang
digabung dan antara beberapa fraksi agregat
dengan bahan stabilisasi, khusus untuk lapis
pondasi yang distabilisasi.
Untuk memperoleh campuran yang homogen
disarankan tidak dilakukan secara manual, tetapi
mesin pencampur khusus, yaitu menggunakan
mesin pencampur khusus di lapangan dan
mesin pencampur terpusat.
242
Produksi campuran untk lapon yg kurang
tepat

243
Penghamparan
Penempatan atau penumpukan campuran lapis
pondasi dilokasi peghamparan yang kurang
baik, yaitu penempatan campuran agregat yang
diperkirakan kemungkinan akan melebihi tebal
satu lapis hamparan.
Tebal satu lapis hamparan melebihi tebal
hamparan yang disayaratkan sehingga
kepadatan hamparan tidak akan dicapai sesuai
persyaratan, terutama pada bagian bawah
hamparan lapisan pondasi
244
Penyiapan lokasi dan penyiapan penghamparan
yg kurang baik.

245
Pemadatan
Menggunakan alat pemadat tampingfoot dan penggilas
roda karet atau penggilas beroda halus.
Pemadatan ini tidak boleh membebani secara langsung
pada bahan tanah distabilisasi yang sudah dihampar,
baik dalam kondisi sudah mengeras maupun sebagian
sudah mengeras.
Setelah pemadatan awal, kemudian pembentukan
dengan menggunakan motor grader mungkin diperlukan
sebelum penggilasan akhir.
Pemadatan harus diselesaikan dengan penggilas roda
karet atau penggilas beroda halus bersamaan dengan
motor grader untuk membentuk lapis pondasi tanah
semen sesuai dengan yang direncanakan

246
Permasalahan yang dijumpai adalah
masih ditemukannya pemadatan lapis
pondasi agregat dengan atau tanpa bahan
stabilisasi hanya menggunakan salah satu
jenis pemadatan .

247
Disamping permasalahan penggunaaan alat
pemadat, ditemukan juga kurang perhatiannya
dalam penyiraman,
Pelaksanaan penyiraman hanya penyiraman
manual (tangan) seperti disajikan pada Gambar.
Hasil kualitas lapis pondasi, baik lapis pondasi
agregat maupun lapis pondasi yang distabilisasi
adalah tidak hanya jumlah litasan pemadatan
dan penggunaan alat pemadat yang tepat tetapi
kadar air yang sesuai dengan rencana
beradasarkan hasil pengujian laboratorium.

248
Penyiraman lapis pondasi dgn cara manual

249
Perawatan
Apabila tidak memperhatikan perawatan maka
pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi yang distabilisasi
ini menjadi tidak efektif karena lapis pondasi tersebut
akan lebih cepat runtuh
Ditunjukkan dengan terjadinya retakan sebagai akibat
kurangnya air karena penguapan atau akibat beban lalu
lintas kalau langsung dibuka untuk lalu lintas, dimana
secara struktural lapis pondasi tersebut belum memiliki
kekuatan yang cukup.
Untuk itu, pelaksanaan perawatan sangatlah penting
dilakukan agar kualitas lapis pondasi sesuai yang
direncanakan.

250
Keseragaman mutu agregat

Di lapangan dijumpai agregat yang mengandung


butir-butir yang warnanya berbeda (misal merah)
dengan warna sebagian besar butir-butir lainnya
(misal abu-abu).
Butir-butir yang berbeda warna tersebut secara
visual nampak keropos sehingga dicurigai tidak
memenuhi persyaratan abrasi, meskipun
agregat (benda uji) secara keseluruhan
memenuhi persyaratan.

251
Untuk memastikan bahwa agregat mengandung
atau tidak mengandung butir-butir lunak, maka
terhadap agregat tersebut dapat dilakukan
pengujian keseragaman abrasi dengan mesin
Los Angeles.
Pengujian keseragaman dilakukan dengan
menguji agregat pada 100 putaran, disamping
menguji pada 500 putaran (pengujian normal).

252
Lokasi 1: Batu Datar
Km. 91+000 Km. 92+800
Km. 91+600: amblasan jalan

253
254