Anda di halaman 1dari 103

DERMATOVENEREOLOGY

Tim UKMPPD

dr. Yanuar Rifki A

Soriuosly its no hard


Remember !!!
INFEKSI BAKTERI
Impetigo 4A
Folikulitis Infeksi Pioderma / 4A 4A
Infeksi Non-Pioderma /
Furunkel,Karbunkel 4A
4A
Ektima 4A
Erisipelas 4A
Flegmon 3B
Hidranitis Subratik 4A
Traumakeringat
Abses multiple kelenjar persalinan 4A
Stapylococcus scaled skin syndrom 3B
Leprae 4A
Reaksi Lepra 3A
PIODERMA
Infesi kulit yang di sebabkan oleh bakteri golongan
Staphilococcus & Streptococcus namanya
PIODERMA .
Klasifikasi berdasarkan etiologi:
Streptococcus hemoliticus Staphilococcus aureus
Impetigo krustosa Impetigo bulosa
Ektima Folikulitis
Erisipelas Furunkel & furunkulosis
Selulitis Karbunkel
Flegmon S4
Abses Kelenjar keringat
Hidranesis Supuratif
IMPETIGO KRUSTOSA VS BULOSA
Impetigo Krustosa Impetigo Bulosa
Etiologi: streptococcus B Etiologi: Staphylococcus
hemolyticus aureus
Predileksi: di muka, Predileksi: di ketiak, dada,
sekitar hidung dan mulut. punggung.
Efloresensi: eritema dan `Efloresensi: Eritema,bula
vesikel yang cepat hipopion Bula pecah
memecah, krusta tebal korelet warna coklat.
kekuningan seperti madu
(Honey bee)
Impetigo Krustosa

Impetigo Bulosa
EKTIMA
Infeksi di epidermis & dermis
Etiologi: Streptococus B
hemolitic
Predileksi : Tempat yg sering
terjadi trauma (tungkai bawah)
Usia : Anak -anak, dewasa
Efloresensi : Eritema
vesikel Pecah Krusta tebal
kekuningan sulit di angkat dan di
bawahnya ada Ulkus dangkal.
FOLIKULITIS, FURUNKEL, KARBUNKEL
ETIOLOGI: Staphilococcus Aureus
FOLIKULITIS FURUNKEL KARBUNKEL
Radang pada folikel rambut Radang folikel rambut & Kumpulan Furunke l
jaringan sekitarnya. Jika > 1 membentuk nodus
Furunkulosis. besar isinya jaringan
nekrotik

PREDILEKSI: Daerah yg PREDILEKSI: Aksila , Bokong


byk rambutnya (Kulit
kepala ,tungkai bawah)

EFLORESENSI: Makula EFLORESENSI: Makula


eritem dgn papul, pustul di eritema Nodus kerucut ada
tengahnya ada rambutnya. pustul di tengah Abses jika
pecah Fistel
Karbunkel
Folikulitis
Furunkel
ERISIPELAS
Infeksi pada epidermis dan dermis
Etiologi: Streptococus B
Hemolitik
Predileksi : Tungkai bawah
Presdiposisi : riwayat trauma (+)
Gejala kontuisi (+) demam,
nyeri, malaise, dll.
Efloresensi :Eritema merah
cerah, batas tegas, tepi meninggi,
tanda-tanda radang akut
SELULITIS & FLEGMON
Mirip erisipelas tapi kenanya sampai
subcutis & batas tdk tegas
Etiologi: Streptococus B Hemolik
Predileksi : Kaki, tangan wajah,
tungkai bawah
Gejala kontuisi (+)demam, nyeri,
dll
Presdiposisi : Riwayat Trauma
Efloresensi : Makula eritema
Eritema merah cerah, batas tdk tegas,
tanda-tanda radang akut
Jika selulitis mengalami supurasi
FLEGMON
HIDRANETIS SUPURATIF
Infeksi kelenjar apokrin
Etiologi : S. aureus
Usia : Pubertas, dewasa muda
Predileksi : daerah yg byk keringat
(Ketiak, perineum)
Predisposisi
Trauma/mikrotrauma nyabutin
bulu ketiak
Hiperhidrosis ( byk keringat),
Deodoran
Efloresensi : Nodus meradang
Abses fistula sinus multipel
ABSES MULTIPLE KELENJAR
KERINGAT
Etiologi : S. aureus
Usia : Anak-anak
Presdiposisi : Keringat banyak,
imunitas (malnutrisi)
Predileksi : tempat yg byk
keringat (aksila,pantat,umbilicus)
Efloresensi : Nodus eritema,
multiple, bentuk kubah tdk nyeri
lama kelamaan memecah.
STAPHILOCOCCUS SCALDED SKIN
SYNDROM (SSSS)
Etiologi: Staphilococcus Aureus
Usia : Mengenai anak < 5 tahun
Patogenesis
Infeksi (ispa) Eksotoxin
(epidermolitis) Bula kendur mudah
pecah Erosi / pengelupasan kulit.
Gejala klinis: Demam tinggi, Riwayat
ISPA
Efloresensi
Eritema mendadak ,dlm 24 jam eritema
menyeluruh 24-48 jam timbul bula
berdinding kendur
Nikloski Sign (+) kalau kulit
digeser terkelupas
PENATALAKSANAAN PIODERMA
1. Antibiotik Sistemik
Lini I : Gol Penicilin (amoxilin,ampicili,amoxilin clavuat)
Lini II : Makrolide (Eritromicin,klaritromicin)
Sefalosporin
2. Antibiotik Topikal
Kloramphenicol 2 % ,Tetracyclin 1 %
Krim / salap antibiotik (salap/krim asam fusidat 2%, salap
mupirosin 2%, salap basitrasin dan neomisin).
3. Pada luka terbuka (Ektima,Erisipelas,selulitis,flegmon)
Kompres terbuka (larutan permanganas kalikus 1/5000, larutan
rivanol 1 atau yodium povidon 7,5% dilarutkan 10x)
INFEKSI NON -PIODERMA
KUSTA/LEPRA/MORBUS HANSEN
Etiologi : Mycobacterium Leprae
Cara Penularan: Kontak langsung yang lama
Masa Inkubasi: 40 hari 40 tahun
Cardinal Sign
Kelainan Kulit : Lesi Hipopigmentasi /eritema di sertai dgn
hilangnya sensasi (Hyposthesia/Anasthesia )
Penebalan saraf tepi di sertai hilangnya sensasi (paling
sering n. Auricula magnus, N.ulnaris)
Kerokan Kulit : BTA (+)
Klasifikasi
1. WHO (1980)
a. Pausibaciler(PB):
Sedikit basil
b. Multibasiler(MB):
Banyak basil
2. Ridley Joplin (1962)
a. TT BT
b. BB BL LL
Klasifikasi WHO (1980)

KARAKTERISTIK PAUSIBASILER (PB) MULTIIBASILER (MB)

Jumlah lesi 1-5 >5


Makula, Makula,
Efloresensi Kulit Hipopigmentasi ,papul, nodul hipopigmentasi, papul,
, eritema nodul ,eritema
Distribusi lesi Asimetris Unilateral / Simetris Bilateral
Bilateral
Kerusakan syaraf Hanya 1 cabang Syaraf Banyak Cabang
Anastesi Jelas Tidak jelas
BTA (-) (+)
Kriteria Ridley & joplin
PAUSI BASILER (PB)
TIPE LESI BATAS PERMUKAAN BTA LEPROMIN

I Makula Jelas Halus agak - +


hipopigmentasi berkilat, anestesi
TT Makula eritematosa Jelas Kering bersisik, - + kuat
bulat/lonjong, bagian anestesi
tengah sembuh
BT Makula eritematosa Jelas Kering bersisik, +/- + lemah
tidak teratur, mula- anestesi
mula ada tanda
kontraktur

MULTIBASILER (MB)
TIPE LESI BATAS PERMUKAAN BTA LEPROMIN

BB Plakat, dome-shaped, Agak jelas Agak kasar, agak + -


punched-out berkilat

BL Makula infiltrat merah Agak jelas Halus berkilat + -


LL Makula infiltrat difus Tidak jelas Halus berkilat + kuat -
berupa nodus simetri, saraf
terasa sakit
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan gangguan syaraf tepi
Tes Sensitibilitas (Tes Suhu, Tes Raba, Tes Nyeri)
Pemeriksaan Lab
1. Pemeriksaan BTA
Diambil dari 3 tempat (kedua kuping telinga & lesi
paling aktif)
Kerokan kulit Pewarnaan Zeil Nelson
2. Serologi
Uji MLPA (Micobacterium Lepra micro aglutinasi)
ML dipstik
3. Tes Lepromin
4. Tes Histopatologi : Sel datia Langhans, atau sel Virchow
Penatalaksanan
1. Tipe MB
Rifampicin 600mg / bulan + Dapson(DDS) 100
mg/hr + Klofazimin ( Lapren) 300mg/bulan 50
mg / hari selama 12 bulan
2. Tipe PB 1 Lesi ROM
Rifampicin 600 mg + Ofloksasin 400 mg +
Minosiklin 100 mg satu kali pakai
3. Tipe PB banyak lesi
Rifampisin 600 mg/bulan + Dapson (DDS) 100
mg/hari selama 6 bulan
Efek samping obat

Efek samping obat : Rifampicin : Air seni berwarna , Ikterus (kuning),


Clofazimin : Perubahan warna kulit menjadi coklat , Dapson : Anemia
Reaksi Kusta
Ingat muncul saat pengobatan Karena Infeksi sudah
menurun tapi imunitasnya terlalu berlebih.
Reaksi Kusta
1) Reaksi Reversal (Upgrading)/ Reaksi Type 1
Akibat peningkatan sistem imun melawan basil lepra
Hipersensitivitas type IV
2) Reaksi Eritema Nodosum Leprae (ENL)/Reaksi tipe II
Akibat jumlah basil yang banyak terbunuh
melepaskan antigen reaksi alergi
Hipersensitifitas tipe III
Muncul pada tibe MB
3) Fenomena Lucio
RR vs ENL
1. Reaksi Reversal 2. Eritema Nodosum Leprosom
Kondisi cukup baik Muncul pada tipe lepromatosa
Sebagian/semua lesi ( LL & BL)
bertambah aktif atau Muncul nodus eritem nyeri,
muncul lesi baru keras
Ada gelaja sistemik : Artritis,
Bisa terjadi neuritis
neuritis, limfadenitis.
akut (nyeri syaraf)
3. Fenomena Lucio
Reaksi sangat berat pada
tipe lepromatosa non
nodular difus (hanya pada
tipe MB)
Nekrosis epidermal iskemik
dengan nekrosis pembuluh
darah superfisial, edema,
dan proliferasi endotel
pembuluh darah dalam
Fenomena Lucio
Tatalaksana Reaksi Kusta
Prednison
2 Minggu pertama 40 mg/hari (1x8 tab) pagi hari sesudah
makan
2 Minggu kedua 30 mg/hari (1x6 tab) pagi hari sesudah makan
2 Minggu ketiga 20 mg/hari (1x4 tab) pagi hari sesudah makan
2 Minggu keempat 15 mg/hari (1x3 tab) pagi hari sesudah
makan
2 Minggu kelima 10 mg/hari (1x2 tab) pagi hari sesudah
makan
2 Minggu Keenam 5 mg/hari (1x1 tab) pagi hari sesudah
makan Bila terdapat ketergantungan terhadap Prednison, dapat
diberikan Lampren lepas.
Kecacatan Pada Kusta
Cacat pada tangan dan kaki
tingkat 0 : gang.sensibilitas (-),deformitas (-)
tingkat 1 : gang.sensibilitas (+), deformitas (-)
tingkat 2 : gang.sensibilitas (+), deformitas (+)
Cacat pada mata
tingkat 0 : gang.pada mata (-), gang.penglihatan (-)
tingkat 1 : gang.pada mata (+), gang.penglihatan (+) visus 6/60
atau lebih baik (dpt menghitung jari pada jarak 6 meter)
tingkat 2 : gang.penglihatan berat (visus <6/60)
Deformitas termasuk ulserasi, kontraktur, absorbsi, mutilasi
Gangguan pada mata termasuk anestesi kornea, iridosiklitis,
lagoftalmus
INFEKSI VIRUS
Varicella Zooster 4A
Herpes Zosster Varisella Zoster Virus 4A
Moloskum Kontaginosum 4A
Morbili Chiken POX 4A
Veruka Vulgaris 4A
Condiloma Akuminata 3A

Trauma persalinan
VARICELLA ZOSTER VIRUS
VARICELLA
Etiologi : Virus Varicella Zozter Pemeriksaan penunjang
(VVZ) Tzank test
Masa inkubasi : 17-21 hari Bahan dr kerokan di
Manifestasi Klinis dasar vesikel
Gambaran : Multi
Stasdium Prodromal : Demam,
malaise,nyeri kepala dlm brp jam nukleid giant cell (Sel
timbul erupsi besar berinti banyak)
Stadium Erupsi : Papul
Eritromatous vesikel dgn dasar
eritromatous bentuk seperti
tetesan air (Tear Drop)
menyebar dari badan ke
extremitas.

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai


Penatalaksanaan
Simtomatis
Oral : Antipiretik + Analgetik
Lokal : Bedak salicil mentol (biar
vesikel tdk pecah)
Anti Histamin
Antiviral efektif jika di berikan
48 jam
Dewasa: Acyclofir 5x800 mg selama
7 hari
Anak: Acyclovir 4 x 20 mg selama 7
hari
Valasiklovir: Dewasa 3 x 1000
mg/hari
HERPES ZOOZTER
Etiologi: Reaktifasi Virus Pemeriksaan Penunjang
Varicella Zoster yg dormant di Tzank Test
ganglion posterior & ganglion Bahan dr kerokan di dasar
cranial
vesikel
Predileksi: Lokasi unilateral & Gambaran : Multi nukleid
mengikuti dermatom syaraf
giant cell (Sel besar berinti
Manifestasi klinis
banyak)
Gejala prodromal sistemik
(demam, pusing, malaise) &
lokal (myalgia, gatal, pegal)
Timbul vesikel berkelompok
dengan dasar eritematosa
dermatom pecah mjd krusta.
Klasifikasi
Herpes Zoster Syndroma Ramsay Hunt Herpes Zoster
Optalmicus Genelarisata
Mengenai N V/I Paralisis N facialis & otikus Vesicel tersebar
Tinitus disket & merata
Vertigo pada pasien
Nistagmus Imunokompromais
Tatalaksana-Komplikasi
Simtomatis Komplikasi
Oral : Antipiretik + A. Neuralgia Pasca Herpetik
Analgetik Rasa nyeri yg timbul
Lokal : Bedak salicil mentol pada bekas lesi
(biar vesikel tdk pecah) Bisa berlangsung
Anti Histamin beberapa bulan tahun
Antiviral Usia > 40 th
Dewasa: Acyclofir 5x800 mg Thx : Gabapentin
selama 7 hari B. Parasilis motorik
Anak: Acyclovir 4 x 20 mg C. Neuritis optik
selama 7 hari
Valasiklovir: Dewasa 3 x
1000 mg/hari
SMALL POX VIRUS
MOLOSKUM KONTAGINOSUM
Etiologi: Pox virus
Transmisi : Kontak laksung
Masa inkubasi : 1 minggu
Predileksi: muka badan, ekstremitas,
pubis (hanya pada dewasa)
Effloresensi : Papul milier kadang
lentikuler dan berwarna putih spt lilin,
bentuk kubah di bagian tengahnya
terdapat lekukan, jika di pijat keluar
masa spt nasi
Pemeriksaan-Tatalaksana
Pemeriksaan penunjang
Mikrobiologi dgn pewarnaan
Giemsa
Gambaran Moloskum Body
(Henderson-paterson bodies)
Diagnosa pasti : Biopsi dgn
pewarnaan HE
Penatalaksanaan
Prinsip mengeluarkan masa
(enokulasi) dgn Bedah Beku
(CO2,N2) Elektrocauter
PARAMYXOVIRUS
MORBILI/ Campak/ Rubeola
Stadium
1. Stadium Prodromal : 3 C (Cough, Coriza,
Conjungtivitis), Koplik spot di mukosa pipi
2. Stadium Erupsi :Ruam makopapuler, muncul dari
belakang telinga, menyebar ke leher, badan &
ekstremitas.
3. Stadium Konvalensi: setelah 3 hari ruam
perlahan menghilang
Patognomonik: Kopliks spot & Erupsi eritema
makulo papular muncul dari belakang telinga
kemudian ke badan
Tatalaksana & Komplikasi
Tatalaksana
Simtomatis
Vitamin A
< 6 bln : 50.000 UI (2 hari)
6-12 bln: 100.000 UI (2 hari)
> 12 bln: 200.000 UI (2 hari)
Pada gizi buruk diberikan 3 kali: hari 1, hari 2, dan 2-4 minggu setelah
pemberian kedua
Pencegahan : Imunisasi Campak pada umur 9 bulan.
Komplikasi
Otitis Media
Bronchopneumonia
Encephalitis
Pericarditis
HUMAN PAPILOMA VIRUS (HPV)
VERUCA (Kutil)
Hiperplasi epidermis akibat Penatalaksanaan
pertumbuhan epithel yang Bahan kaustik: larutan
disebabkan oleh Human AgNO3 25% asam
Papilloma Virus triklorasetat 50%
Klasifikasi Bedah : Bedah beku (CO2,
1. Verruca Vulgaris: predileksi N2, N2O), Bedah skalpel ,
khususnya di ekstremitas Bedah listrik, Bedah laser.
bagian ekstensor (warna abu-
abu)
2. Verruca Plantaris: Predileksi
pada telapak kaki
3. Verruca Plana : Predileksi
pada muka dan leher
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
CONDILOMA AKUMINATA
Etiologi : HPV tipe 6&11,HPV
tipe 16 & 18 (penyebab ca cervix)
Termasuk dalam PMS
Predileksi
Laki-laki: perineum, sulkus
koronarius,gland penis, anus
perempuan : vulva, introitus
vagina
Efloresensi : Vegetasi bertangkai,
warna kemerahan atau kehitaman ,
permukaan papilomatosa
(berjonjot).
Penatalaksanaan
Kemoterapi
Tingtur pedofilin 25%
Asam trioasetat 50%
5-fluourasil 1-5%
Bedah
Bedah listik (elektrocauter)
Bedah beku
Bedah skapel
INFEKSI JAMUR
Tinea Kapitis 4A
Golongan
Tinea Korporis Dermatofitosis 4A
Tinea Manus Golongan Non- 4A
Tinea Unguinu dermatofitosis 4A
Tinea Pedis 4A
Tinea Kruris 4A
Ptiriasis Vesikolor 4A
Kandidiosis Mukokutan 4A
DERMATOFITOSIS
Dermatofitosis: Infeksi oleh jamur Morfologi Khas
dermatofita pada jaringan yg Apapun tineanya punya bentuk
mengandung keratin (kulit, rambut, khas, kecuali T.Kapitis
kuku) Kelainan berbatas tegas
Dermatofita: Golongan jamur Polimorfik (papul, vesikel,
yang dpt mencerna keratin dgn skuama, dll)
enzim keratinase Tepi lebih aktif ,Tengah tenang
3 genus: Microsporum, (central healing)
Tricophyton, Epidermophyton Disertai rasa gatal , jika
berkeringat
Klasifikasi Berdasarkan Letak
TINEA KAPITIS (Kulit
kepala)
Terutama pada anak
Stadium klinis bisa: kronik, subakut,
akut
Tiga bentuk klinis
A. Gray patch: Warna abu-
abu Lampu Wood: M.canis
fluoresensi hijau
B. Black dot: Rambut patah
di muara folikel
C. Kerion: inflamasi
bengkak, mirip sarang
lebah
TINEA KRURIS : Daerah
genitokrural, sekitar anus, bokong, &
perut bagian bawah.
TINEA PEDIS ET MANUM :
pada kaki dan tangan
TINEA UNGUINUM : pada kuku
jari tangan dan kaki
TINEA KORPORIS: pada kulit
tidak berambut (glabrous skin)
Pemeriksaan Penunjang
Kerokan kulit KOH
KOH 10% untuk rambut, KOH 20% utk kuku & kulit
Gambaran : Hifa panjang bersekat (hifa sejati) Arthospora,
microspora, makrospora.
Lampu wood : Kuning kehijauan
Biakan: Media agar sabaround
Penatalaksanaan
Edukasi : Faktor presdiposisi & higine
Farmakologi
Obat Topikal
Bila lesi terbatas ,Vehikulum sesuai stadium lesi
Obat: Kombinasi asam salisilat (3-6%) dan asam benzoat
(6-12%) dlm bentuk salep Whitfield, ketokonazol 1%
Obat sistemik
Lesi luas , tdk resposnif terhadap obat topikal, Kronik
berulang
Obat: Gliseofulfin 500 mg/hr selama 14 hr, Ketokonazol
200mg/hr selama 5-14 hari
NON-DERMATOFITOSIS
CANDIDIASIS
Etiologi : Genus Candida
Faktor Presdiposisi
Endogen: perubahan fisiologik (kehamilan, obesitas, iatrogenik,
DM, penyakit kronik), usia (orang tua & bayi), imunologik
Eksogen: iklim panas, kelembaban tinggi, kebiasaan berendam
kaki, kontak dengan penderita
Klasifikasi
1. Kandidosis mukosa: kandidosis oral, perleche, vulvovaginitis,
balanitis, mukokutan kronik, bronkopulmonar
2. Kandidosis kutis: lokalisata, generalisata, paronikia &
onikomikosis, granulomatosa
3. Kandidosis sistemik: endokarditis,meningitis, pyelonefritis,
Bentuk Klinis
Kandidosis intertriginosa
Predileksi: lipatan kulit ketiak, lipat paha,
intergluteal, lipat payudara, sela jari, glans
penis, dan umbilikus berupa bercak berbatas
tegas, bersisik, basah, eritematosa.
Khas : Lesi satelit
Kandidosis perianal:Lesi berupa
maserasi seperti dermatofit tipe basah
Kandidosis kutis generalisata: Lesi
terdapat pada glabrous skin.
Diagnosa- Tatalaksana
Pemeriksaan Penunjang
KOH : Selragi , blastospora, hifa semu.
Kultur di agar Sabouraud : Bulat dengan
permukaan sedikit cembung, halus, licin,
Warna koloni putih kekuningan dan berbau
asam seperti aroma tape.
Pengobatan
Hindari faktor predisposisi
Antifungal :Gentian violet 0,5-1%,Nistatin,
amfoterisin B, grup azole
PTIRIASIS VERSICOLOR (Panu)
Etiologi : Infeksi superficial kulit oleh
Malassezia furfur
Predileksi : bagian atas dada, lengan, leher,
perut, kaki, ketiak, lipat paha, muka dan kepala
Faktor resiko : cuaca yg lembab dan panas,
banyak keringat, memakai pakaian yg ketat
Patognomonis : makula hipo-
hiperpigmentasi ,berskuama halus, dengan
batas tegas atau tidak tegas. Skuama biasanya
tipis seperti sisik & hanya dapat tampak
dengan menggores kulit (finger nail sign).
Gejala :Bisanya Asimtomatik, gatal ringan
dmn gatal jika berkeringat.
Diagnosis-Tatalaksana
Pemeriksaan Penunjang
KOH : Hifa pendek, sprora bulat
berkelompok (Spagetti and Meat Ball)
Lampu wood : Kuning keemasan
Tatalaksana
Edukasi pasien utk tdk menggunakan
pakaian yg lembab & pemakaian bersama
Farmakologi: Topikal (Shampo selenium
sulfida 1,8%, Derivat azol topikal)
Sistemik: Jika lesi luas / penggunaan obat
topikal tidak berhasil (Ketokonazol 1 x
200 mg selama 10 hari)
INFEKSI ZOONIS & PARASIT
Scabies 4A
Pediculosis Skabies 4A
Cutaneus larva migran 4A
Pediculosis
Filariasis 4A
Cutaneus Larva
Migran
SCABIES
Etiologi : infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var
hominis
Transmisi: kontak langsung (skin to skin), tidak langsung (pakaian)
Predileksi : Sela jari tangan, pergelangan tangan bag volar, siku luar,
lipat ketiak depan, areola mammae, umbilikus, bokong, genitalia
eksterna, perut bawah .
Cardinal Sign
1. Pruritus nokturnal
2. Menyerang manusia secara kelompok
3. Adanya terowongan (kunikulus) yang berwarna
putih/keabuan, lurus/berkelok, panjang 1 cm, pada ujung
didapatkan papul/vesikel.
4. Pada kerokan kulit: ditemukan tungau
Diagnosa- Tatalaksana
Pemeriksaan Penatalaksanaan
Sulfur presipitatum 10%
Penunjang Aman untuk ibu hamil &
Burrow Ink Test untuk anak kurang dari 2 tahun.
Tidak efektif untuk stadium
melihat terowongan telur sehingga harus
Kerokan Kulit : digunakan >3 hari
Menemukan telor, Emulsi benzil benzoas 20%
Gameksan 5% hindari
tungau.
untuk anak < 6 tahun &
wanita hamil,efek
neurotoksik & teratogenik
Permetrin 5%
kontraindikasi anak usia < 2
bulan
PEDICULOSIS
Etiologi: Pedikulus humanus var
Cara penularan : kontak langsung, kontak tak langsung, Kontak
seksual
Klasifikasi
1. Pedikulosis kapitis : Kulit kepala.
2. Pedikulosis korporis: pinggang,ketiak
3. Pedikulosis pubis :pada rambut didaerah pubis dan sekitarnya.
Gejala klinis
Gatal timbul akibat liur dan ekskreta kutu yg dimasukkan ke kulit saat
menghisap darah
Pada Pedikulosis Pubis , terdapat bercak berwarna abu-abu kebiruan yg
disebut makula serulae
Black dot, bercak hitam yg tampak pada celana dalam berwarna putih
(krusta dari darah)
Talaksanaan
Pengobatan
Gameksan 1% atau emulsi benzil
benzoat 25% dioleskan seluruh tubuh
kecuali muka dan didiamkan 24 jam,
diulangi 4 hari kemudian
Malthion 2 %
Pencegahan
Penderita dipisahkan
Alat selah dipakai dibersihkan, di cuci, di
desinfeksi.
Pada pthiriasis pubis , rambut pubis di
cukur, pakaian dalam di rebus.
DERMATITIS - IMUNOLOGI
Dermatitis Kontak Iritan 4A
Dermatitis KontakDermatitis
alergika Kontak 4A
Dermatitis Atopik 4A
Dermatitis Numularis
Dermatitis Atopik 4A
Neuro dermatitis 3A
Urtikaria akut Neurodermatitis 4A
Urtikaria kronik Dermatitis 3B
Angioderma Numularis 3B
Fixed drug erruption 4A
SJS 3B
NET 3B
Pemvigus 3B
DERMATITIS KONTAK
GAMBARAN UMUM DKA DKI
ETIOLOGI Bahan sehari- hari Bahan iritan
PATOFISIOLOGI Hipersensitifitas tipe IV Iritasi langsung
ONSET Setelah terpajan dua kali Setelah terpajan kronik /
bisa akut
SIAPA YANG KENA Orang yg alergi Semua orang
TAMPILAN KLINIS Nyeri gatal,papul,vesikel Likenifikasi,fisusra
BATAS Tegas Tdk tegas
PEMERIKSAAN Uji tempel ( Patch test) Uji tempel ( Patch test)
PENUNJANG Reaksi Cresendo Reaksi descresendo
Patch Test
Dilakukan untuk membuktikan suatu
zat adalah alergen penyebab.
Cara
Antigen dibiarkan menempel
selama 48 jam
Pembacaan dilakukan 2 kali:
pertama dilakukan 15-30 menit
setelah dilepas; kedua dilakukan
72-96 jam setelah dilepas
Bila reaksi bertambah
(crescendo) di antara kedua
pembacaan, cenderung ke
respons alergi.
Tatalaksana
Hindari pencetus,
Topikal: (Akut & eksudatif: kompres NaCl
0.9% , kronik : krim hidrokortison1%
Sistemik:
Kortikosteroid Prednison 5-10 mg/ dosis,
2-3x/hr Deksametason 0.5-1 mg, 2-3x/hr,
Anti-Histamin.
DERMATITIS ATOPIK
Definisi: Peradangan pada kulit kronis, residif, yg berkaitan dgn
kadar IgE serta riwayat atopi keluarga atau penderita.
Gambaran umum
Onset: Umumnya anak-anak
Riwayat atopi (rhinitis alergi,asma,konjungtivitis vernalis)
Gatal hilang timbul sepanjang hari
Predileksi : Flexor & muka
Efloresensi: Eritema, papul ,skuama sampai likenifikasi, kulit
menjadi kering.
Klasifikasi
1. Tipe infantil (2 bln-2 th)
Predileksi : Dahi, pipi , leher, kulit kepala,
pergelangan tangan & tungkai.
Efloresensi : eritema, papulo-vesikel yang halus,
eksudatif, krusta (lesi basah)
2. Tipe anak
Predileksi : Lipat siku, lipat lutut, pergelangan
tangan bagian dalam, leher
Efloresensi : Papul , squama, likenifikasi
3. Tipe juvenil
Predileksi : Lipat siku, lutut, leher, dahi, tangan ,
& pergelangan tangan.
Efloresensi: Plak papular-eritematosa &
berskuama, plak, likenifikasi yang gatal, terjadi
hiperpigmentasi
Kriteria Diagnosa (Wiliams 1994)
KRITERIA MAYOR KRITERIA MINOR
Pruritus Xerosis, infeksi kulit, dermatitis non
Dermatitis di muka/ekstensor pd bayi & spesifik, iktiosis, pitiriasis alba, dermatitis
anak di papila mamae, white demographism,
Dermatitis di fleksura pada dewasa kelitis, lipatan infra orbital, konjungtivitis
Dermatitis kronis atau residif berulang, keratokonus, katarak
Riwayat atopi pada penderita/ keluarga subskapular anterior, orbita gelap,muka
pucat/eritem, gatal bila berkeringat,
intolerans terhadap wol, aksentuasi
perifolikular, hipersensitif terhadap
makanan, dipengaruhi lingkungan, tes
kulit alergi (+), igE serum meningkat,
awitan usia dini.
Diagnosa : 3 Kriteria Mayor + 3 Kriteria Minor

More Info:
Kriteria dignosa pada bayi di modifikasi menjadi
3 Kriteria mayor: Riwayat atopi keluarga,dermatitis di muka & extensor,Pruritus
3 Kriteria minor: Xerosis, Fisura di belakang telinga,Squama di Scap yg kronis
Tatalaksana
Non-farmakologi
Menemukan faktor resiko, hindari faktor pencetus, hidari stress
psikis,pada bayi kebersihan popok harus di jaga.
Farmakologi
Topikal : Kortikosteroid topikal desodid kream 0,05%
betametason valeat 0,1 % selama 2 minggu)
Oral : Anti-Histamin
DERMATITIS NUMULARIS
Faktor resiko: Pria, Riwayat Penatalaksanaan
trauma, riwayat infeksi kulit Nonfarmakologi:
sebelumnya, stres emosi. Menghindari faktor yang
Predileksi: Tungkai bawah, mungkin memprovokasi
badan, lengan, punggung seperti stres
tangan. Farmakologi : Topikal, Lesi
Efloresensi : Lesi akut: vesikel basah Kompres larutan PK
dan papulo vesikel, berbentuk 1/10000 sampi lesi
uang logam, eritematosa, mengering, Kortokosteroid
sedikit edema, & berbatas topikal. Oral : Antihistamin
tegas. sedatif pilihan utama
NEURODERMATITIS
(Liken Simplex Kronik)
Faktor resiko : Wanita > laki- Tatalaksana
laki ,di hubungkan dgn stress Edukasi pasien jgn di garuk
Psikis ,hindari stress psikis
Keluhan: sangat gatal, sehingga Farmakologi
pendertita akan terus menggaruk
Topikal : Kortikosteroid
sampai luka
topical
Predileksi : Daerah tengkuk,
tangan,tungkai Oral : Anti histamin sedatif
Efloresensi: Lesi awal papul-
eritema, squama , hiperpigmentasi
di pinggir , bentuk lesi umumnya
lentikuler & plakat, khas kulit
menebal spt batang kayu akibat
garukan berulang.
URTIKARIA/ Biduran
Reaksi vaskular pada kulit
Ditandai : edema setempat yang
timbul mendadak dan menghilang
perlahan-lahan,berwarna pucat dan
kemerahan, meninggi di permukaan
kulit, sekitarnya dapat dikelilingi
halo.
Etiologi: obat, makanan, gigitan
serangga, bahan fotosensitizer,
inhalan, kontaktan, trauma fisik,
infeksi, psikis, genetik, atau
penyakit sistemik
Klasifikasi Urtikaria

BERDASARKAN WAKTU
Pemeriksaan-tatalaksana
Pemeriksaan Penunjang
Urtikaria alergi :Skin prick test / IgE RAST
Urtikaria Kontak : Uji gores (Scratch Test) utk melihat
dermografisme
Tes eliminasi makanan
Urikaria dingin : Ice Tube test
Urikaria Kronik : LED,CRP, Test fungsi hati mencari
penyebab urtikaria
Tatalaksana : Anti-Histamin sedatif lini I
Angioderma
Bentuk lebih berat dari urtikaria adalah
angioedema (patofisiologinya sama)
Pada angioedema, terjadi edema di
dalam jaringan subkutis akibat
kebocoran vaskular
Tampilan klinis: Edema berbatas tegas
yang tidak eritema dan tidak gatal.
Biasanya menyerang wajah dan bibir,
tapi bisa juga menyerang saluran GI dan
laring (kegawatdaruratan).
Tatalaksana
Ringan: antihistamin generasi 2
Sedang: difenhidramin IV + kortikosteroid
Berat: epinefrin

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


FIX DRUG ERUPTION
Kelainan erupsi kulit,terjadi berkali-kali
di tempat yg sama.
Patogenesis: Hipersensitifitas tipe II
(sitotoksik)
Klinis: Kemerahan, luka pada kulit
setelah mengkonsumsi obat
(Sulfonamid,analgenik, tmp)
Predileksi : mulut, bibir, vulva, penis.
Efloresensi khas: Vesikel, eritema, lesi
terget bentuk lonjong, bulat / numular,
bercak hiperpigmentasi dgn kemerahan
di tepinya .
Terapi : Antihistamin + Steroidf
SJS vS NET
STEVEN JOHNSON NECROTYCAN
SYNDROM EPIDERMOLYSIS TOXIC
PATOGENESIS Reaksi Reaksi hipersensitivitas
hipersensitivitas tipe tipe III & IV
III & IV
KLINIS TRIAS KELAINAN Bentuk berat dari SJS
Kelainan kulit: SJS + Epidermolisis
eritema, vesikel, generalisata
bula Nikolskys Sign (+)
Kelainan mukosa Keadaan umum buruk
Kelainan Mata:
Konjungtivitis
Tanpa Epidermolisis
Keadaan umum lebih
baik di banding NET

TERAPI Steroid, antibiotik, Steroid, antibiotik,


suppurotif suppurotif
SJS
PEMFIGUS
PEMFIGUS VULGARIS PEMFIGOID BULOSA
ETIOLOGI Auto imun Autoimun

KLINIS Bula kronik berdinding kendur, Bula berdinding tegang,


jika pecah menjadi krusta. Keadaan umum baik
Keadaan umum buruk
Nikolskys Sign Positif (+) Negatif (-)

PREDILEKSI Generalisata + Mukosa > 60% Perut, lengan,flexor,lipat paha

HISTOLOGIS Bula intradermal,akantolisis Celah antara dermal-epidermal ,


Bula subdermal
IMUNOFLORESENS IgG & komplemen di IgG linier di membran basal
epidermis
TERAPI Steroid ( Prednison) ,Sitostatik Steroid
Pemphigus Vulgaris

Pemphigus Vulgaris

Bullous Pemphigoid
DERMATO ERITRO SQUAMOSA
Psoriasis Vulgaris 3A
Ptiriasis Rosea Psoriasis 4A
Dermatitis Seboroik 4A
Ptiriasis Rosea
PSORIASIS VULGARIS
Patofisiologi
Genetik: berkaitan dengan HLA\
Imunologik: diekspresikan oleh limfosit T,sel penyaji antigen dermal,
dan proliferasi keratinosit peningkatan turn over epidermis
Pencetus: stress, infeksi fokal, trauma, endokrin, gangguan
metabolisme, obat, alkohol, dan merokok
Tanda khas
A. Fenomena tetesan lilin skuama yang digores seperti lilin yang digores
B. Fenomena Kobner: trauma pada kulit normal menimbulkan lesi
psoriasis
C. Tanda Auspitz: pengerokan lesi bertahap menyebabkan tampak bintik-
bintik pembuluh darah (papilomatosis)
Tatalaksana
Topikal: Preparat ter,
kortikosteroid, ditranol, tazaroen,
emolien.
Sistemik
Kortikosteroid
Sitostatik (metotreksat), levodopa.
PUVA (UVA + psoralen)
PTIRIASIS ROSEA
Dermatitis eritroskuamosa yang
disebabkan oleh infeksi virus (self-
limiting disease)
Bentuk klinis
Dimulai dengan lesi inisial
berbentuk eritema berskuama halus
dengan kolaret (herald patch)
Disusul dengan lesi yang lebih
kecil di badan, paha dan lengan
atas, tersusun sejajar costae, spt
pohon cemara (inverted christmas
tree appearance)
Tatalaksana : Simtomatis (self-
limiting disease)
DERMATITIS SEBOROIK
Definisi : Kelainan kulit yg di dasari oleh faktor konstitusi
predileksi pada tempat yg byk kel sebumnya.
Faktor presdiposisi : Genetik, stres emosional, defisiensi
imun, Jenis kelamin pria lebih sering dari pada wanita,kurang
tidur.
Predileksi : Kulit kepala, dahi, glabela, alis mata,k elopak
mata
Klinis : Awalnya berupa ketombe ringan pada kulit , sampai
keluhan lanjut berupa keropeng yang berbau tidak sedap &
terasa gatal.
Efloresensi : Papul sampai plak eritema, Skuama berminyak
agak kekuningan, batas tidak tegas .
Tatalaksana
Non-farmakologi: Hidari faktor
presdiposisi
Farmakologi
Topikal
o Bayi : asam salisilat 3%, Krim
Hidrokortison 1%
o Dewasa pada kulit kepala:
Shampo Selenium sulfida 1.8
jika terjadi inflamasi
betametason valeat 0, 1%)
Oral : Antihistamin
AKNE ROSASEA- MILIARIA
Akne Vulgaris ringan 4A
Akne Vulgaris
Akne Vulgaris sedang-berat 3A
Rosasea Rosasea 4A
Miliaria 4A
AKNE VULGARIS
Inflamasi kronik folikel pilosebasea yg di tandai dgn komedo,
papul, pustul, nodus & kista.
Faktor
Perubahan pola keratinisasi dalam folikel
produksi sebum
peningkatan jumlah flora folikel (Propionibacterium acnes
pembentukan circulating antibodies, kadar hormon androgen,
stress psikis, faktor lain (usia, ras, familial, makanan, cuaca)
Predileksi: Muka, bahu, dada atas, punggung atas
Gejala klinis
Tanpa peradangan komedo, papula tidak beradang
Meradang : pustula, nodus, kista beradang
Derajat-Tatalaksana Acne
DERAJAT RINGAN DERAJAT SEDANG DERAJAT BERAT

Komedo <20 Komedo 20-100 Kista <5 atau komedo >100

Lesi inflamasi <15 Lesi inflamasi 15-50 Lesi inflamasi >50


Total lesi <30 Total lesi 30-125 Total lesi >125
Terapi
DERAJAT RINGAN
Komedo : Retinoid topikal
Papular/pustular:Retinoid topikal +AB topikal (klindamisin
atau eritromisin)
DERAJAT SEDANG
Papular/pustular:Ab oral (tetrasiklin, doksisiklin, klindamisin)
+ Retinoid topikal
Nodular: Ab oral (tetrasiklin, doksisiklin, klindamisin) +
Retinoid topikal
DERAJAT BERAT
Dular/konglobata: isotretinoin oral (1stchoice), alternatif
Ab oral dosis tinggi + retinoid topikal
ROSASEA
Radang kronis di sentral wajah Jenis Rosacea
ditandai eritem persisten & Erythemato telangiectatic
teleangiektaksis disertai peradangan rosacea
erosi, papul, pustula, edem. Phymatous rosacea
Gejala : Mata kering, tekstur dan Papulo pustular rosacea
nyeri kulit, wajah memerah setelah
Ocular rosacea
kepanasan, makanan pedas dan
alkohol. Terapi
Hindari sinar matahari
Antibiotik topikal dan
tetrasiklin oral untuk
meringankan peradangan
Minocycline, doxycycline dan
tetrasiklin.
MILIARIA
MILIARIA KRISTALINA
PENYAKIT MENULAR SEKSUAL
Uretritits GO 4A
Uretritits Non-GO 4A
Sifilis stadium 1 dan 2 4A
Siffilis
Ulkus 4
Herpes Simpleks Chancroid 4A
Trichomoniasis 4A
Bakterial vaginitisHerpes Simplex
Trauma persalinan 4A
Kandidiasis Vulvovaginal
Bakterial 4A
Condiloma AkuminataVaginosis 3A
Trichomoniasis
Kandidiasis
Vulvovagina
Condiloma lata & Condiloma
Acuminata
BILA KENCING NANAH
URETRITIS GO URETRITIS NON GO
ETIOLOGI: Neisseria gonorrhoeae ETIOLOGI: Chlamydia
diplococcus gram (-) inta&ekstrasel trachomatis
Masa tunas 2-5 hari Masa Inkubasi : 1- 3 minggu
KLINIS: Gatal & panas di uretra
KLINIS: Duh mukoid
distal dysuria, Polakisuria,
OUE:ektropion (Mount Fish), Sekret mukopurulen, kadang
Mukopurulen. purulen ,dysuria, pilakisuria
PX PENUNJANG : Pewarnaan gram PX PENUNJANG:
di temukan diplokokus gram negatif Pemeriksaan Gram
spt biji kopi. leukosit > 5 Lpd ,
Kultur: Agar Thayer-Martin Pemeriksaan Gram GO (-)
TH/: FIRST LINE: Ceftriaxone 250 TH/: Azitromicin 1 g PO,
mg IM single dose / Cefixime 400 mg
single dose atau Doxycicline
PO single dose + Azitromicin 1 g PO,
single dose atau Doxycicline 100 mg
100 mg PO 2x 1 selama 7 hri
PO 2x 1 selama 7 hri.
BILA MUNCUL LUKA ?
SIFILIS
Etiologi:Treponema pallidum
Stadium Penyakit
1. STADIUM I ( Primer)
Ulkus Durum: Dasar bersih, ulkus dinding
tidak bergaung, (tdk nyeri) indolen, teraba
indurasi (keras) , tidak ada radang akut
2. STADIUM II (sifilis sekunder)
The great imitator
Condiloma lata : papul lentikuler
permukaan datar
3. STADIUM III (sifilis tersier)
Guma, Sifilis kardiovaskular, Otak
( Neurosifilis)
Diagnosa - Tatalaksana
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Mikroskop lapang gelap (Dark field) bakteri
bentuk spiral
2. Pemeriksaan Serologi
A. Non treponemal
VDRL(Venereal Disease Research Laboratory) \
Sensitif tapi tdk spesifik
Digunakan utk screaning & menilai hasil pengobatan
B. Treponemal
TPHA (Treponemal pallidum Haemoglutination Assay
Spesifik & Sensitif
TERAPI: Peniciline G prokain 600.000 UI / Peniciline G benzatin
2,4 Jt UI selam 10-14 hari
Versi gampangnya DD lecet di kemaluan
ULKUS DURUM ULKUS MOLE (Chancroid) HERPES SIMPLEX

ETIOLOGI Treponema Pallidum Haemophilus ducreyi HVS tipe I


( Sifilis Stadium II) Coccus gram(-) HVS Tipe II daerah
umbilicus ke bawah
KLINIS ULKUS ULKUS Vesikel berkelompok dgn
DASAR BERSIH DASAR KOTOR dasar eritem
TDK BERGAUNG MUDAH BERDARAH Vesikel pecah ulkus
TDK NYERI (indolen) SANGAT NYERI Sangat nyeri
INDURASI (keras) LUNAK MULTIPLE
TANDA RADANG (-) TEPI ULKUS
MENGAUNG
Pembesaran KGB
inguinal + sakit ( Bubo
Formation)

PX Mikroskop lapang gelap , Gram, wright, Giemsa Tzank test Multinukleid


VDRL, TPHA giant cell
TH/ Penicilin G prokain 1 g azithromycin, single dose Asiklovir 5 x 200 mg/hari
oral / selama 7-10 hari.
ceftriaxone 250 mg IM, single
dose
BILA MUNCUL DUH ?
Bakterial Etiologi: Gardnela Vaginalis
Vagigosis Manifestasi: Duh warna Jernih, Berbau amis (fishy odor),tanda radang (-)
Kriteria Diagnosa (Amsel)
1. Sekret Homogen Tipis
2. PH > 4,5
3. KOHwift Test: (+)
4. Nacl : Clue Cell (+) 20%
Tatalaksana : Metrionidazol 2x 500 mg selama 7 hari

Trikomoniasis Etiologi: Trickomonas Vaginalis


Klinis: Duh kuning-kehijauan, Berbusa (Froty), Dyspareuni, Strawberry
Cervix
Pemeriksaan NaCL: Sel berflagel & mortil.
Tatalaksana: Metrionidazol 2x 500 mg selama 7 hari
Candidiasis Etiologi :Candida Albican
Vulvovagina Klinis: Duh putih seperti susu (Cottage Chese),tdk berbau, gatal, eritema.
KOH test: Pseudohifa,Sel ragi,Blastospora
Tatalaksana: Flukonazol 150mg / nistatin 100.000 IU intravagina selama
14 hr
BILA MUNCUL SEPERTI TUMOR
CONDILOMA LATA CONDILOMA AKUMINATA
ETIOLOGI: Triponema Pallidum ETIOLOGI: HPV Tipe 6 & 11 ,
(sifilis stadium II Tipe 16&18 penyebab ca cervix.
KLINIS: Papul lentikuler KLINIS: Vegetasi bertangkai,
permukaan datar berjonjot berwarna coklat kemerahan
PREDILEKSI: Genital, perineum, tampak seperti kembang kol.
anus, aksila. PREDILEKSI: Pria: glans, sulcus
TH: Penicilin G coronarius, frenulum, batang penis
Wanita: introitus posterior, labia)
TH: Kemoterapi:Tingtur pedofilin
25%, Asam trioasetat 50% 5-
fluourasil 1-5%,
Bedah: elektrocauter, bedah beku,
bedah skapel
KEGANASAN KULIT
Basal cell karsinoma 2
Karsinoma Sel
Melanoma Maligna 1
Basal
Squamos sell Karsinoma 2
Karsinoma Sel
Squamosa
BASAL CELL KARSINOMA
Asal : sel epidermal pluripoten.
Faktor predisposisi: lingkungan
(radiasi, arsen, paparan sinar
matahari, trauma, ulkus sikatriks),
genetik , Usia > 40 th
Biasanya di daerah berambut, invasif,
jarang metastasis .
Bentuk: nodulus menyerupai kutil,
tidak berambut, berwarna
coklat/hitam, berkilat (pearly), bila
melebar pinggirannya meninggi di
tengah menjadiulkus (ulcus rodent)
kadang di sertai talangiektasis,
terabak eras
KARSINOMA SEL SQUAMOSA
Berasal dari sel epidermis.
Etiologi: sinar matahari, genetik,
arsen, Radiasi.
Usia tersering 40-50 tahun
Dapat bentuk invasif: mula mula
berbentuk nodus keras, licin,
kemudian berkembang menjadi
verukosa/papiloma. Fase lanjut
tumor menjadi keras, bertambah
besar, invasif, dapat terjadi
ulserasi.
Metastasis biasanya melalui
KGB.
MELANOMA MALIGNA
Etiologi belum pasti. Mungkin faktor
herediter atau iritasi berulang pada tahi
lalat
Usia 30-60 tahun
Bentuk
Superfisial: Bercak dengan warna
bervariasi, tidak teratur, berbatas
tegas, sedikit penonjolan
Nodular: nodus berwarna biru
kehitaman dengan batas tegas
Lentigo melanoma maligna: plakat
berbatas tegas, coklat, kehitaman,
meliputi muka
Prognosis buruk
SELAMAT BELAJAR

JIKA KAMU TIDAK TAHAN PEDIHNYA BELAJAR, MAKA KAMU


HARUS TAHAN PEDIHNYA KEBODOHAN