Anda di halaman 1dari 38

SELULITIS

Topik yang dibahas:

Definisi selulitis
Epidemiologi selulitis
Klasifikasi selulitis
Etiologi selulitis
Patofisiologi selulitis
Faktor resiko selulitis
Manifestasi klinis selulitis
Komplikasi selulitis
Pemeriksaan diagnostik selulitis
Penatalaksanaan selulitis
Asuhan keperawatan selulitis
Definisi

Selulitis adalah infeksi bakteri yang menyebar


kedalam bidang jaringan (Brunner dan suddart,
2000:496).
Selulitis adalah inflamasi supuratif yang
melibatkan sebagian jaringan subkutan
(Mansjoer,2000:82).
Selulitis adalah infeksi pada lapisan kulit yang
lebih dalam. Dengan karakteristik sebagai
berikut :
Peradangan, supuratif sampai dijaringan subkutis.
Mengenai pembuluh limfe permukaan.
Plak eritematus, batas tidak jelas dan cepat meluas.
Epidemiologi
Sebuah studi pada tahun 2006 menemukan tingkat kejadian
24,6 kasus per 1000 orang/tahun. Kematian jarang terjadi (5%)
tetapi mungkin terjadi dalam kasus yang tidak ditangani atau
ketika selulitis yang disebabkan oleh organisme yang sangat
mematikan (misalnya P Aeruginosa).
Faktor yang terkait dengan peningkatan resiko kematian
adalah adanya penyakit bersamaan (misalnya gagal jantung,
obesitas) atau komplikasi. Tidak ada perbedaan frekuensi
infeksi pada jenis kelamin tertentu, walaupun insiden
terjadinya infeksi pada pria dilaporkan lebih tinggi dalam
beberapa penelitihan. Selulitis pada wajah lebih umum terjadi
pada anak anak berumur 3 tahun kebawah. Selulitis pada
parineal lebih umum terjadi pada rentang usia anak anak.
Sebagian besar anak dengan selulitis periorbital atau fasial
berusia dibawah 2 tahun, selulitis ekstremitas terjadi pada
pertengahan usia 5 tahun (Cecilly Lyn Betz and Linda A. Buku
Saku Keperawatan Pediatri. Ed 5. Hal 65).
Klasifikasi

Menurut Berini, et al (1999) selulitis dapat digolongkan menjadi :


Selulitis Sirkumskripta Serous Akut
Selulitis Sirkumskripta Supuratif Akut
Selulitis Difus Akut
Dibagi lagi menjadi beberapa kelas, yaitu:
Ludwigs Angina
Selulitis yang berasal dari inframylohyoid
Selulitis Senators Difus Peripharingeal
Selulitis Fasialis Difus
Fascitis Necrotizing dan gambaran atypical lainnya
Selulitis Kronis
Selulitis Difus yang Sering Dijumpai
Etiologi

Penyebab yang paling sering adalah streptokok


grup A dan Staphylococcus aureus. Bakteri lain
yang dapat menyebabkan selulitis adalah
pneumococcus. (Harapan, 2000). Etiologinya
berasal dari bakteri Streptococcus sp.
Mikroorganisme lainnya negatif anaerob seperti
Prevotella, Porphyromona dan Fusobacterium
(Berini, et al, 1999). Infeksi odontogenik pada
umumnya merupakan infeksi campuran dari
berbagai macam bakteri, baik bakteri aerob
maupun anaerob mempunyai fungsi yang
sinergis ( Peterson,2003 ).
Patofisiologi
Faktor resiko

Usia
Melemahnya Sistem Immun (Immunodeficiency)
Diabetes Mellitus
Cacar dan Ruam Saraf
Pembengkakan Kronis Pada Lengan dan Tungkai
(Lymphedema)
Infeksi Jamur Kronis Pada Telapak atau Jari Kaki
Penggunaan Steroid Kronik
Gigitan dan sengat serangga, hewan, atau gigitan manusia.
Penyalahgunaan Obat dan Alkohol
Malnutrisi
Manifestasi klinis
Menurut Betz dan Sowden (2009) dalam buku Saku
Keperawatan Pediatri, manifestasi klinis selulitis antara
lain:
Reaksi Lokal
Lesi dengan batas tidak jelas.
Area selulit biasanya nyeri, merah, dan hangat.
Jaringan mengeras.
Reaksi Sistemik
Demam
Malaise
Menggigil
Garis merah sepanjang jalur drainase limfatik
Kelenjar getah bening membesar dan nyeri.
Menurut Mansjoer (2000:82) manifestasi
selulitis adalah :
Kerusakan kronik pada kulit sistem vena dan
limfatik pada kedua ekstremitas
Kelainan kulit berupa infiltrat difus subkutan
Eritema lokal
Nyeri yang cepat menyebar dan infitratif ke
jaringan bawahnya
Bengkak
Merah dan hangat nyeri tekan
Supurasi
Lekositosis
Komplikasi
Menurut Betz dan Sowden (2009) komplikasi selulitis antara lain:
Gangguan sistemik, septicemia
Osteomielitis
Artritis Septik
Meningitis
Hilangnya ketajaman penglihatan (selulitis orbital)
Potensial abses otok (selulitis orbital, periorbital).

Selain itu, komplikasi selulitis yaitu:


a. Bakteremia
b. Nanah atau local Abscess
c. Superinfeksi oleh bakteri gram negative
d. Lymphangitis
e. Trombophlebitis
f. Sellulitis pada muka atau Facial cellulites pada anak menyebabkan
meningitis sebesar 8%.
g. Dimana dapat menyebabkan kematian jaringan (Gangrene)
Pemeriksaan diagnostik

1. Pemeriksaan Laboratorium
CBC (Complete Blood Count)
BUN level
Creatinin level
Kultur darah, dilaksanakan bila infeksi
tergeneralisasi telah diduga.
Mengkultur dan membuat apusan gram
2. Pemeriksaan Imaging
a. Plain film radiography
b. CT (computered Tomography)
Penatalaksanaan
1. Tindakan Keperawatan
a.Mandiri
Jika Terjadi Luka:
- Bersihkan luka setiap hari dengan sabun dan air
- Oleskan antibiotic
- Tutupi luka dengan perban
- Sering-sering mengganti perban tersebut
- Perhatikan jika ada tanda-tanda infeksi
Jika Kulit Masih Normal
- Lembabkan kulit secara teratur
- Potong kuku jari tangan dan kaki secara hati-hati
- Lindungi tangan dan kaki
- Rawat secara tepat infeksi kulit pada bagian superficial
b. Kolaborasi
Berikan penicillin atau obat sejenis penicillin (misalnya cloxacilin)
Jika infeksinya ringan, diberikan sediaan per-oral (ditelan).
Biasanya sebelum diberikan sediaan per-oral, terlebih dahulu diberikan suntikan
antibiotic.
Selain itu, penatalaksanaan selulitis yaitu:
Pada pengobatan umum kasus seluliis, faktor hygiene perorangan dan
lingkungan harus diperhatikan.
Sistemik
Berbagai obat dapat digunakan sebagai pengobatan selulitis.
a. Penisilin G prokain dan semisintetiknya
Penisilin G Prokain
Ampisilin
Amoksilin
Golongan Obat Penicilin Resisten-Penisilinase
b. Linkomisin dan Klindamisin
c. Eritromisin
d. Sefalosporin
Topikal
Pada kasus yang berat, dengan kematian jaringan 30% (necrotizing
fasciitis) serta memiliki gangguan medis lainnya, hal yang harus dilakukan
adalah operasi pengangkatan jaringan mati ditambah terapi antibiotic
secara infuse, pengangkatan kulit, jaringan dan otot dalam jumlah yang
banyak , dan dalam beberapa kasus tangan atau kaki yang terkena harus
diamputasi.
Asuhan keperawatan
PENGKAJIAN
A. Identitas Klien
Nama : Tn. B
Usia : 70 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Status pernikahan : Menikah
Agama : Muslim
Suku : Jawa
B. Status Kesehatan Saat Ini
Keluhan utama : Kaki merah, hangat, nyeri kedua kaki, bemgkak
Lama keluhan : Sakit jika dibuat berjalan 1 minggu yang lalu
Kualitas keluhan : nyeri skala 4 dari skala 1-10
Faktor pencetus :-
Faktor pemberat : Diabetes
Diagnosa medis : Selulitis
C. Riwayat Kesehatan Saat Ini
Klien mengeluh gangguan di kaki. Klien dibawa
ke UGD. Kaki kanan dan kaki kiri tampak
kemerahan, hangat jika disentuh, dan nyeri.
Kakinya bengkak sejak 1 minggu dan nyeri jika
berjalan. Hasil pemeriksaan fisik +2 pitting
edema, palpasi terasa hangat. Ketika perawat
melakukan palpasi wajah pasien tampak
grimace. Denyut nadi kaki tidak teraba. Hasil
pemeriksaan Doppler kaki terdengar samar-
samar.
D. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Penyakit yang pernah dialami:
Kronis : Diabetes, gagal jantung kongestif,
hipertensi, pembuluh darah perifer.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : sakit, nyeri, palpasi terasa hangat, saat
palpasi wajah klien tampak grimace.
Tanda-tanda vital:
Tekanan darah : 140/92 mmHg
Nadi : 75x/menit
Suhu : 38oC
RR : 15x/menit
Tinggi badan : 160 cm
Berat badan : 85 kg
Ekstremitas
Bawah : kaki kanan dan kiri tampak kemerahan,
hangat jika disentuh. Dalam pemeriksaan Doppler, kaki
terdengar samar-samar, denyut nadi tidak teraba.
Pemeriksaan Laboratorium
USG dilakukan pada ekstremitas bawah
untuk menyingkirkan deep vein thrombosis
di kaki kanan dan kiri.
Saturasi oksigen 96%.
CRT > 2 detik.
Leukosit 15.300
Gula darah 257.
Kesimpulan
Klien mengeluh nyeri, sakit, kaki kanan
dan kiri kemerahan dan hangat
Analisa data
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan No. 1 : Kerusakan Integritas Jaringan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 x 24 jam,
kerusakan integritas jaringan menurun dari skala 1 ke 3 skala NOC.
Kriteria Hasil : :
Kerusakan integritas jaringan menurun
Eritema berkurang.
Tidak terbentuk edema
Intervensi NIC 1 : Skin surveillance
Inspeksi kulit dan membrane mukosa untuk
kemerahan, suhu ekstrime, edema dan drainase.
Observasi ektremitas dari warna, suhu,
pembengkakan , nadi, tekstur, edema dan ulcer.
Monitor warna kulit dn temperatur.
Monitor infeksi khususnya pada daerah edema.
Dokumentasi perubahan kulit atau membran
mukosa.
Intervensi NIC 2 : Skin care : topical treatment
Gunakan antibiotik topikal pada area yang diserang.
Gunakan topikal anti radang pada area yang
diserang.
Dokumentasikan derajat kerusakan kulit.
Diagnosa Keperawatan No. 2: Nyeri Akut
Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan asuhan keperawatan
dalam waktu 2 x 24 jam dari skala 3 ke 4.
Kriteria Hasil :
Klien melaporkan nyeri berkurang dan terlihat nyaman.
NOC :
Intervensi NIC : Pain Management
Kaji nyeri secara komperhensif pada tempatnya, karakteristik,
durasi, frekuensi, kuyalitas, keparahan, dan faktor penyebab.
Amati sikap non verbal klien jika tidak adanya kenyamanan.
Gunakan komunikasi terapiutik untuk mengetahui pengalaman
nyeri dan respon pasien.
Berikan pasien analgesik yang adekuat.
Ajak pasien untuk mengeksplore faktor-faktor yang meningkatkan
rasa nyeri.
Ajak pasien untuk mengevaluasi keefektifan teknik rasa nyei yang
sudah digunakan.
Tentukan intervensi kebutuhan pembuatan kajian kenyamanan
pasien.
Jelaskan pada paien tentang prosedur tindakan yang dapat
menimbulkan nyeri dan ketidaknyamanan.
Ajarkan prinsip manajemen rasa nyeri.
Ajarkan teknik non farmakologi.
Monitor kepuasan pasien pada manjemen nyeri.
Diagnosa Keperawatan No. 3 : Hipertermi
Tujuan : Suhu tubuh klien menjadi normal setelah dilakukan askep
selama 2 x 24 jam.
Kriteria hasil : Suhu tubuh kembali normal (skala 4 ke 5)
NOC : Thermoregulation.
Intervensi NIC : Fever Treatment
Pantau suhu secara sering.
Pantau warna kulit dan suhu.
Pantau tekanan darah, nadi dan pernafasan.
Lakukan pengobatan antipiretik.
Lakukan pengobatan untuk mengobati
penyebab demam.
Diagnosa Keperawatan No. 4 : Resiko Infeksi
Tujuan : Klien menunjukkan tidak terjadi infeksi setelah dilakukan
askep 7 x 24 jam.
Kriteria hasil : Tidak terdapat tanda tanda infeksi (kalor, rubor,
tumor, dolor).
TTV dalam batas normal.
Leukosit dalam batas normal.
NOC : Risk control : infection process
Intervensi NIC : Infection control
Bersihkan lingkungan setelah digunakan pasien.
Ajarkan peningkatan cuci tangan untuk perawatan
kesehatan personal.
Anjurkan pasien teknik mencuci tangan.
Gunakan sabun anti mikroba untuk cuci tangan.
Scrub kulit pasien dengan agen anti bakteri.
Pastikan teknik keperawatan luka yang sesuai.
Lakukan terapi antibiotik.
Anjurkan pasien untuk memperoleh antibiotik.
Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda dan
gejala infeksi dan melaporkan tanda dan gejala
tersebut ke pemberi perawatan kesehatan.
TERIMA KASIH