Anda di halaman 1dari 23

ETIKA

PENGGUGURAN
KELOMPOK ETIKA

ALEXANDER WILLIAM PRIJADI


NADINE KUSUMA
KEVIN HAZEL
JAQUELYN
IVANA HASJEM
FRANSISCA JEREMIA
DIANA TANUJAYA
LARASATI KURNIAWAN
ALIYA NUR RAHMAH
TABITA KRISTINA
PENGGUGURAN

Definisi

Istilah penguguran atau


aborsi berasal dari bahasa
latin yaitu abortus yang
berarti gugur kandungan.
Aborsi adalah pengeluaran
atau
pengguguran janin dari
dalam rahim secara paksa
pada usia kehamilan kurang
dari 22 minggu yang
menyebabkan kematian pada
janin tersebut.
JENIS-JENIS ABORSI
Dalam dunia kedokteran terdapat dua jenis aborsi yang diketahui pada
saat ini, yaitu:

Abortus Spontanea/ Spontaneous Abortion


Spontaneous abortion adalah aborsi yang berlangsung tanpa tindakan atau pengeluaran
janin secara spontan sebelum janin dinilai dapat bertahan hidup di luar lingkungan
tumbuh kembang janin tersebut. Aborsi ini digolongkan kedalam beberapa jenis, yaitu:
Abortus Imminiens
Abortus imminiens merupakan peristiwa keguguran janin yang terjadi karena terdapat
pendarahan pada rahim atau uterus saat janin masih berada di dalam rahim. Peristiwa
keguguran ini terjadi tanpa adanya pelebaran serviks.
Abortus Insipiens
Abortus Insipiens merupakan peristiwa keguguran janin pada saat janin memasuki usia
20 minggu yang disertai dengan adanya pelebaran serviks dan pendarahan hebat.
Keguguran janin jenis ini terjadi karena plasenta yang terlepas dari dinding rahim
sehinggga keguguran janin tidak terhindarkan.
Abortus Inkompletus
Abortus Inkomplentus merupakan keguguran janin yang disebabkan adanya
pengeluaran sebagian organ pada janin sehingga terdapat organ janin yang tersisa pada
rahim.
Abortus Kompletus
Abortus Kompletus merupakan pengguran janin dimana semua organ yang dimiliki oleh janin
sudah dikeluarkan dari rahim.

Induced Abortion/ Procured Abortion


Induced Abortion adalah kegiatan aborsi yang dilakukan secara sengaja atau pelaku aborsi
dalam kondisi sadar serta mempunyai keinginan untuk melakukan pengguguran kandungan.
Jenis ini dibagi menjadi dua kategori yaitu kategori medis dan non-medis.

ABORSI ILEGAL
Aborsi yang termasuk kedalam kategori non-medis
adalah Abortus Provokalus Kriminalis, yaitu aborsi
yang dapat dilakukan oleh bidan maupun ibu dari ja
nin tersebut serta pihak yang menentang
terbentuknya janin tersebut. Kegiatan aborsi ini
termasuk kegiatan aborsi yang illegal.

Kegiatan ini juga dapat dilakukan dengan mengonsumsi obat-obat tertentu


maupun melakukan tindakan tertentu pada rahim yang menyebabkan adanya
pendarahan dan keguguran janin.
ABORSI DALAM KATEGORI MEDIS
Therapeutic Abortion
Therapeutic Abortion adalah aborsi yang dilakukan secara sengaja dengan adanya factor
keselamatan rohani sang ibu dari janin tersebut. Therapeutic abortion dilakukan pada saat kesehatan
kejiwaan sang ibu sedang terganggu setelah terjadi hal-hal yang mengguncang kejiwaan sang ibu,
misalnya kehamilan tersebut terjadi karena peristiwa pemerkosaan atau kondisi lainnya yang serupa
.
Eugenic Abortion
Eugenic Abortion adalah kegiatan aborsi yang dilakukan karena ada factor kecacatan fisik yang
dialami oleh janin tersebut. Kegiatan aborsi ini dilakukan pada saat janin sudah diketahui
mengalami cacat fisik yang membuatnya sulit berkembang di kemudian hari, dilakukan dengan
pertimbangan yang matang dari orangtua janin serta anjuran dari dokter.

Elective Abortion
Elective Abortion adalah kegiatan aborsi yang dila
kukan dengan alasan medik tertentu yang berbeda
dengan dua jenis aborsi sebelumnya.

Selain itu terdapat kegiatan aborsi dimana sang ibu


tidak mengetahui bahwa janin sudah mengalami
kematian dalam rahim selama beberapa waktu
yang disebut sebagai missed abortion.
PENYEBAB TINDAK PENGGUGURAN
Penguguran dapat terjadi karena beberapa hal, diantaranya yaitu :

A. Kesehatan
Tindakan aborsi dapat dilakukan karena kondisi kesehatan sang ibu yang tidak
memungkinkan untuk dapat mengandung janin maupun karena kondisi kesehatan sang janin y
ang kurang baik, dapat disebabkan karena janin terinfeksi suatu virus sehingga janin mengala
mi
kecacatan.
B. Psikologis
Tindakan aborsi dapat dilakukan saat kondisi kejiwaan ibu sedang terguncang sehingga tidak
memungkinkan untuk dapat mengandung serta keinginan dari ibu yang tidak ingin untuk
mengandung lagi.
C. Usia
Usia sang ibu saat mengandung pun dapat menjadi latar belakang tindakan aborsi, dimana
usia ibu yang terlalu muda sehingga kondisi tubuh sang ibu yang terlalu muda tidak
memingkinkan untuk dapat melahirkan serta factor usia dimana ibu sudah terlalu dewasa
untuk dapat melahirkan sehingga dalam proses melahirkan dapat membahayakan
keselamatan dari ibu maupun janin yang dikandungnya.
D. Kehamilan karena Tindakan Incest
Kehamilan yang disebabkan karena tindakan incest dapat mempengaruhi psikologi sang ibu,
dimana kehamilan ini terjadi karena hubungan antara keluarga yang tidak sepatutnya
dilakukan.
Keluarga pun dapat mendorong sang ibu untuk melakukan tindakan aborsi demi kehormatan
nama keluarga di lingkup sosial. Selain itu tindakan incest pun dapat mempengaruhi kondisi
kesehatan janin, dimana janin akan beresiko lebih besar untuk mengalami cacat mental maupun cacat
fisik.
E. Masalah Ekonomi
Kondisi keuangan keluarga dapat menjadi salah satu factor untuk melakukan tindakan aborsi,
diman kondisi keuangan keluarga yang buruk tidak memungkinkan keluarga tersebut untuk
dapat mempunyai anak.
F. Kehamilan di Luar Nikah
Tidak adanya hubungan pernikahan juga dapat menjadi factor untuk melakukan tindakan
aborsi. Biasanya penyebab ini merupakan latar belakang untuk melakukan aborsi bagi para
remaja yang sedang menjalani hubungan pacaran dan belum siap untuk menikah dan
mempunyai anak.
Tekanan sosial yang diterima ibu yang sedang mengandung akibat kehamilan di luar nikah pun dapat
mendorong sang ibu untuk melakukan tindakan aborsi dengan berbagai macam cara.
G. Dampak Aborsi yang Belum Diketahui Secara Jelas
Dampak berbahaya yang ditimbulkan dari kegiatan aborsi yang belum cukup jelas diperbincangkan atau
diketahui dalam masyarakat dapat menyebabkan kegiatan aborsi dapat berlangsung, dimana sang ibu
tidak mengetahui dampak yang terjadi pada dirinya dan pada janinnya.
RESIKO ABORSI
1. Kematian mendadak karena adanya pendarahan yang hebat.
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.
3. Kematian secara lambat karena adanya infeksi di sekitar kandungan.
4. Rahim sobek.
5. Kerusakan leher rahim yang akan mengakibatkan probabilitas cacat pada
anak selanjutnya menjadi lebih besar.
6. Kanker Payudara (karena adanya ketidakseimbangan hormone
estrogen pada wanita).
7. Kanker indung telur.
8. Kanker leher rahim.
9. Kanker hati.
10, Kelainan pada placenta yang akan mengakibatkan pendarahan
hebat serta probabilitas kecacatan pada kehamilan selanjutnya.
11. Menjadi infertile atau mandul.
12. Infeksi pada rongga panggul.
13. Infeksi pada Lapisan Rahim.
DAMPAK PSIKOLOGIS
Kehilangan harga diri (82%).
Berteriak-teriak (51%)
Bermimpi buruk mengenai bayi (63%).
Ingin melakukan bunuh diri (28%).
Mencoba untuk mengonsumsi obat-obatan terlarang (41%).
Tidak bisa menikmati hubungan seksual (59%).
HUKUM PENGGUGURAN
Menurut hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi termasuk kejahatan, yang dikenal dengan
istilah Abortus Provocatus Criminalis, di mana pihak-pihak yang dapat menerima hukuman
adalah ibu yang melakukan aborsi, dokter, bidan, atau dukun yang melakukan aborsi, dan orang
-orang yang mendukung terlaksananya aborsi

Di Indonesia, peraturan tentang aborsi telah diatur di dalam Undang-Undang. Beberapa pasal
yang terkait aborsi di antaranya adalah:
Pasal 60 ayat (1) RUU tersebut menyatakan, Pemerintah berkewajiban melindungi kaum
perempuan dari praktik pengguguran kandungan yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggungjawab, melalui peraturan perundang-undangan. Ayat berikut menguraikan seperti
apakah praktik pengguguran kandungan yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggungjawab :
yang dilakukan dengan paksa dan tanpa persetujuan perempuan yang bersangkuta
n
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak profesional
yang dilakukan tanpa mengikuti standar profesi yang berlaku
yang dilakukan secara diskriminatif dan lebih mengutamakan pembayaran daripa
da keselamatan perempuan yang bersangkutan.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992

Pasal 15 ayat (1) :


Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil atau
janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
Ayat (2) menyebutkan tindakan medis tertentu dapat dilakukan:
Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan
tersebut
Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kemampuan untuk itu
dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta pertimbangan tim
ahli
Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan serta suami dan keluarga
Undang-Undang No.36 tahun 2009

Pasal 75
Setiap orang dilarang melakukan aborsi
Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dikecualikan berdasarkan :
Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat/ca
cat bawaan maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi terse
but hidup
di luar kandungan; atau
Kehamilan akibat perkosaan dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan
Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 hanya dapat dilakukan setelah melalui konseli
ng
dan/atau penasehatan pratindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakuka
n oleh konselor yang kompeten dan berwenang
Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagai mana
dimaksud pada ayat 2 dan ayat 3 diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP)
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 hanya dapat dilakukan :
Sebelum kehamilan berumur enam minggu dihitung dari
hari pertama haid terakhir kecuali dalam hal kedaruratan
medis
Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan
kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh
menteri
Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan
Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan
Prinsip Prinsip Etika Dan Moral Tentang Aborsi

Dalam Deklarasi Oslo 1970 tentang abortus atas indikasi medis, disebutkan
bahwa dasar moral yang dijiwai oleh seorang dokter adalah lafal sumpah
dokter yang berbunyi saya akan menghormati hidup insan sejak saat
pembuahan. Atas dasar ini abortus buatan dengan indikasi medis hanya di
lakukan berdasarkan atas syarat syarat sebagai berikut:
Pengguguran hanya dilakukan sebagai suatu tindakan terapeutik.
Suatu keputusan untuk menghentikan kehamilan sedapat mungkin disetujui
secara tertulis oleh dua orang dokter yang dipilih sesuai dengan
kompetensi professional.
Prosedur pengguguran hendaknya dilakukan oleh seorang dokter yang
kompeten di instalasi yang diakui oleh suatu otorita yang sah.
Jika dokter merasa bahwa hati nuraninya tidak membenarkan untuk
melakukan pengguguran tersebut ,maka ia berhak untuk mengundurkan
diri dan menyerahkan pelaksanaan tindakan medis tertentu itu kepada
sejawatnya yang lain yang kompeten.
Di Indonesia, tindakan aborsi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
dikategorikan sebagai tindakan kriminal. Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan yang
kita sebut di awal sesungguhnya berbicara tentang abortus. Pasal 60 ayat (1) RUU tersebut
menyatakan, Pemerintah berkewajiban melindungi kaum perempuan dari praktik
pengguguran kandungan yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggungjawab,
melalui peraturan perundang-undangan. Ayat berikut menguraikan seperti apakah praktik
pengguguran kandungan yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggungjawab:
yang dilakukan dengan paksa dan tanpa persetujuan perempuan yang bersangkut
an
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak profesional
yang dilakukan tanpa mengikuti standar profesi yang berlaku
yang dilakukan secara diskriminatif dan lebih mengutamakan pembayaran darip
ada keselamatan perempuan yang bersangkutan.
Bagian penjelasan menegaskan ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan
kesehatan perempuan dari komplikasi buruk akibat pengguguran kandungan yang ilegal dan
tidak aman.
Kita lihat saja, di negara Indonesia, dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tindakan
pengguguran kandungan yang disengaja
digolongkan ke dalam kejahatan terhadap nyawa
(Bab XIX pasal 346 s/d 249). Namun dalam undang-
undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang kesehatan
pada pasal 15 ayat (1) dinyatakan bahwa dalam
keadaan darurat sebagai upaya untuk
menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, dapat
dilakukan tindakan medis tertentu. Kemudian pada
ayat (2) menyebutkan tindakan medis tertentu dapat
dilakukan :
Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan
diambilnya tindakan tersebut
Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian
dan kemampuan untuk itu dan dilakukan sesuai
dengan tanggung jawab profesi serta pertimbangan
tim ahli
Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan
serta suami dan keluarga.
Dalam hal-hal tersebut, maka aborsi atau penguguran pun dibolehkan karena alasan-alasan tersebut dan itu
merupakan etika aborsi karena meskipun melanggar secara hukum tetapi tetap dilakukan dan dibolehkan
karena ada hal-hal tertentu yang lebih penting dibandingkan aturan dan hukum.
Terkadang kita pun sering menyalahkan sang ibu yang melakukan aborsi, padahal aborsi diputuskan oleh 2
pihak (suami dan istri) dan terkadang pun bahkan sang suami lah yang mengingkan istrinya melakukan
aborsi karena hal-hal tertentu. Jadi jangan terlalu menyalahkan sang ibu dalam hal aborsi
Kasus 1
Ada seorang calon ibu yang sedang hamil muda tetapi mempunyai penyakit jantung kronis
yang dapat membahayakan bagi janin yang dikandungnya dan juga bagi ibu yang mengandu
ngnya. Ketika dia datang untuk memeriksakan dirinya kepada
seorang dokter, dokter pun sepakat kalau janin tersebut lebih baik digugurkan
karena akan sulit untuk dipertahankan dan saat persalinan pun janin kemungkinan
tidak akan selamat dan membahayakan sang ibu juga. Setelah melalui berbagai
perbincangan, akhirnya si ibu sepakat untuk menggugurkan kandungannya. Secara medis,
penghentian kehamilan tersebut bertujuan untuk menyelamatkan nyawa ibunya, tetapi
secara hukum hal ini sangat bertentangan, karena mengugurkan kandungan sama dengan
membunuh jiwa, maka termasuk tindakan kejahatan. Tetapi ketika kita melihatnya dari sisi
etika, maka hal tersebut sudah benar dan tidak akan melanggar hukum, karena sebagai
orang yang beretika, kita pasti akan melihat risiko yang akan dihadapi oleh si ibu, karena
kalau bayi tersebut tidak digugurkan, maka saat persalinan kemungkinan sang ibu dan bayi
tersebut selamat sangat kecil, tetapi ketika bayi tersebut digugurkan, maka sang ibu masih
dapat hidup
Kasus 2
Ketika ada seorang wanita yang diperkosa lalu hamil diluar nikah dan ingin mengugurkan
kandungannya. Hal ini diperbolehkan karena wanita tersebut diperkosa, bukan melakukan
hubungan seksual dengan keinginannya. Karena wanita tersebut telah diperkosa, maka wanita
tersebut boleh mengugurkan kandungannya dan tidak akan dikenakan sanksi secara hukum
KESIMPULAN
Aborsi adalah pengeluaran atau pengguguran janin dari dalam rahim secara paksa
pada usia kehamilan kurang dari 22 minggu yang menyebabkan kematian pada jani
n tersebut. Dalam dunia kedokteran terdapat dua jenis aborsi yang diketahui pada sa
at ini, yaitu Abortus Spontanea/ Spontaneous Abortion dan Induced Abortion/
Procured Abortion.
Dalam melakukan tindakan aborsi terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan
tindakan aborsi tersebut terjadi. Hal-hal tersebut yaitu faktor kesehatan, psikologis,
usia, kehamilan karena tindakan incest, masalah ekonomi, dan kehamilan diluar
nikah.
Aborsi merupakan hal yang melanggar hukum, akan tetapi ada beberapa hal yang
dapat membuatnya tidak melawan hukum seperti penguguran karena janin
membahayakan sang ibu, seorang wanita yang diperkosa, dan sang anak yang tidak
memungkinkan untuk hidup ketika sudah dilahirkan. Hal-hal tersebut termasuk
dalam etika aborsi, di mana seharusnya hal tersebut secara hukum bukan
merupakan hal yang benar, tetapi dalam etika hal tersebut dapat dibenarkan.
Kehidupan manusia dimulai saat
setelah pembuahan terjadi. Jika
dengan sadar dan dengan segala
cara kita mengakhiri hidup manusia
tak berdosa, berarti kita
melakukan suatu perbuatan tak
bermoral dan asosial. Tidak
semestinya kita membiarkan
penghentian nyawa siapapun .........atau
hidup kita sebagai manusia
menjadi
TIDAK BERHARGA LAGI