Anda di halaman 1dari 33

GANGGUAN

TIDUR
Oleh :
Soraya Olyfia 03010258

Pembimbing :
dr. Galianti Prihandayani, Sp. Kj
PENDAHULUAN

Tidur suatu aktifitas aktif khusus dari otak, dikelola oleh


mekanisme yang rumit dan tepat.
Ganguan tidur keluhan yang paling sering ditemukan
Gangguan tidur yang berkepanjangan : perubahan-perubahan pada
siklus tidur biologiknya, daya tahan tubuh serta prestasi
kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan
jumlah penderita akibat gangguan tidur setiap tahun semakin lama
semakin sehingga menimbulkan masalah kesehatan
Gangguan tidur yang berkepanjangan didapatkan 2,5 kali lebih
sering mengalami kecelakaan.
POLA TIDUR

Tidur tidak sekedar mengistirahatkan tubuh, tapi juga


mengistirahatkan otak, khususnya serebral korteks
Salah satu kriteria yang digunakan adalah Siklus Kleitman, yang
terdiri dari aktivitas bangun / aktivitas harian dan siklus tidur yang
juga dikenal sebagai activity / rest cycle. Siklus ini terdiri dari Rapid
Eye Movement (REM) dan Non-Rapid Eye Movement (NREM).
NREM : gelombang EEG bervoltase tinggi berfrekuensi rendah
REM : gambaran EEG berfrekuensi tinggi bervoltase rendah.
Siklus dari Kleitman akan berulang pemendekan fase 3-4 dari
NREM disebut SWS (Slow Wave Sleep) lama REM lebih
panjang.
Kenyenyakan tidur sebenarnya tergantung pada lamanya fase-fase
yang dilalui dari fase pertama sampai fase empat dari NREM.
Berjalan cepat belum tidur nyenyak.
Pada usia lanjut, jumlah tidur yang dibutuhkan setiap hari akan
makin berkurang dan disertai fragmen-fragmen tidur yang banyak
sehingga jumlah SWS makin berkurang dan ini menunjukkan bahwa
mereka mengalami masa tidur yang tidak terlalu nyenyak.
POLA TIDUR

Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu:


1. Tipe Rapid Eye Movement (REM)
2. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)
fase NREM yang terdiri dari 4 stadium,
lalu diikuti oleh fase REM.
Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu
Terdiri atas 4 stadium:
1: terjaga dan fase awal tidur
2: bola mata berhenti bergerak, tonus
otot masih berkurang, tidur lebih dalam
Tipe Non Rapid dari pada fase pertama
Eye Movement 3: tidur lebih dalam dari fase
(NREM) sebelumnya
4: tidur yang dalam serta sukar
dibangunkan
Fase ini berlangsung 70-100 jam
REM

REM ditandai adanya gerakan bola


Tipe Rapid Eye mata yang cepat, tonus otot sangat
rendah, denyut nadi meningkat dan
Movement (REM) pada laki-laki terjadi ereksi penis, tonus
otot menunjukkan relaksasi yang dalam.
Tahap tidur normal orang
dewasa

Stadium 0 adalah periode dalam keadaan masih bangun tetapi


mata menutup. Tonus otot meningkat. Meningkatnya rasa kantuk.
Stadium 1 disebut onset tidur. Tidur dimulai dengan stadium
NREM. Stadium 1 NREM adalah perpindahan dari bangun ke tidur.
Ia menduduki sekitar 5% dari total waktu tidur. Aktivitas bola mata
melambat, tonus otot menurun, berlangsung sekitar 3-5 menit. Pada
stadium ini seseorang mudah dibangunkan dan bila terbangun
merasa seperti setengah tidur.
Stadium 2 ditandai dengan gelombang EEG spesifik . Tonus otot
rendah, nadi dan tekanan darah cenderung menurun. Stadium 1
dan 2 dikenal sebagai tidur dangkal. Stadium ini menduduki sekitar
50% total tidur.
Stadium 3 ditandai dengan 20%-50% aktivitas delta disebut juga
tidur delta. Tonus otot meningkat tetapi tidak ada gerakan bola
mata.
Stadium 4 terjadi jika gelombang delta lebih dari 50%. Stadium 3
dan 4 sulit dibedakan. Stadium 4 lebih lambat dari stadium 3.
Rekaman EEG berupa delta. Stadium 3 dan 4 disebut juga tidur
gelombang lambat atau tidur dalam. Stadium ini menghabiskan
sekitar 10%-20% waktu tidur total. Tidur ini terjadi antara sepertiga
awal malam dengan setengah malam.
Pada orang dewasa muda normal periode tidur NREM berakhir kira-
kira 90 menit sebelum periode pertama REM, periode ini dikenal
sebagai periode REM laten.
Rangkaian dari tahap tidur selama tahap awal siklus adalah sebagai
berikut : NREM tahap 1,2,3,4,3, dan 2; kemudian terjadi periode
REM. Jumlah siklus REM bervariasi dari 4 sampai 6 tiap malamnya,
tergantung pada lamanya tidur.
Aktifitas ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti
sistem serotoninergik, noradrenergik, kholinergik, histaminergik.
Sistem serotonergik
dipengaruhi oleh hasil metabolisme asam amino trypthopan. Dengan bertambahnya
jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga meningkat akan
menyebabkan keadaan mengantuk / tidur. Lokasi yang terbanyak sistem serotogenik
ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di batang otak
Sistem Adrenergik
Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan sel
nukleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat
mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang
mempengaruhi peningkatan aktifitas neuron noradrenergik akan menyebabkan
penurunan yang jelas pada tidur REM dan peningkatan keadaan jaga.
Sistem Kholinergik
Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas gambaran EEG seperti dalam
keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang berhubungan dengan
perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga terjadi pemendekan latensi
tidur REM. Pada obat antikolinergik (scopolamine) yang menghambat pengeluaran
kholinergik dari lokus sereleus maka tamapk gangguan pada fase awal dan
penurunan REM.
Sistem histaminergik
Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur.
Sistem hormon
Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon seperti
ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara teratur
oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus patway. Sistem ini secara teratur
mempengaruhi pengeluaran neurotransmiter norepinefrin, dopamin, serotonin yang
bertugas mengatur mekanisme tidur dan bangun.
KLASIFIKASI
(Internasional Classification of Sleep
Disorders)
1. Dissomnia
2. Parasomnia
3. Gangguan tidur berhubungan
dengan gangguan kesehatan / psikiatri.
4. Gangguan tidur yang tidak
terklassifikasi (terkelompokkan)
Gangguan tidur menurut DSM-
IV-TR.
I. GANGGUAN TIDUR PRIMER III. GANGGUAN TIDUR LAIN
I.1 Dissomnia III.1 Gangguan tidur karena kondisi medis umum
I.1.a Insomnia primer III.1.a Kejang epilepsi; asma berhubungan dengan tidur
I.1.b Hipersomnia primer III.1.b Nyeri kepala kluster & hemikrania paroksismal kronik
I.1.c Narkolepsi berhubungan
I.1.d Gangguan tidur berhubungan dengan pernafasan dengan tidur
I.1.e Gangguan tidur irama sirkadian (gangguan jadwal tidur- III.1 c Sindrom menelan abnormal berhubungan dengan
bangun) tidur
I.1.f Dissomnia yang tidak ditentukan III.1.d Asma berhubungan dengan tidur
I.2 Parasomnia III.1.e Gejala kardiovaskuler berhubungan dengan tidur
II.2.a Gangguan mimpi buruk III.1.f Refluks gastrointestinal berhubungan dengan tidur
II.2.b Gangguan teror tidur III.1.g Hemolisis berhubungan dengan tidur (Hemoglobinuria
II.2.c Gangguan tidur berjalan Nokturnal
II.2.d Parasomnia yang tidak ditentukan Paroksismal)
III.2 Gangguan tidur akibat zat
II. GANGGUAN TIDUR YANG BERHUBUNGAN DENGAN III.2.a Pemakaian obat hipnotik jangka panjang
GANGGUAN III.2.b Obat antimetabolit
MENTAL LAIN III.2.c Obat kemoterapi kanker
II.1 Insomnia berhubungan dengan gangguan aksis I atau III.2.d Preparat tiroid
aksis II III.2.e Anti konvulsan
II.2 Hipersomnia berhubungan dengan gangguan aksis I atau III.2.f Anti depresan
aksis II III.2.g Obat mirip hormon Adenokortikotropik (ACTH); kontrasepsi
oral; alfa
metil dopa; obat penghambat beta.
1. Dissomnia
keadaan dimana seseorang mengalami kesukaran menjadi jatuh
tidur dan mengalami gangguan selama tidur, bangun terlalu dini
atau kombinasi di antaranya
A. Gangguan tidur tidak spesifik
B. Gangguan tidur irama sirkardian
C. Lesi susunan saraf pusat
D. Gangguan kesehatan atau toksik
E. Obat-obatan
Gangguan tidur tidak spesifik

A. Narokolepsi C. Sindroma kaki gelisah


mendadak tidur yang tidak dapat dihindari rasa sensasi pada kaki/kaku, yang terjadi
pada siang hari, berlangsung 10-20 menit sebelum onset tidur
atau selalu kurang dari 1 jam, setelah itu D. Gangguan bernafas saat tidur
akan segar kembali dan terulang kembali
2- 3 jam berikutnya gangguan pernafasan yang terjadi saat
tidur, yang berlangsung selama lebih dari
B. Gangguan gerakan anggota 10 detik.
gerak badan secara periodik E. Paska trauma kepala
adanya gerakan anggota gerak badan pasien dengan paska trauma kepala
secara streotipik, berulang selama tidur. sering mengeluh gangguan tidur
Gangguan tidur irama sirkadian

(gangguan jadwal tidur) yaitu gangguan dimana


penderita tidak dapat tidur dan bangun pada
waktu yang dikehendaki walaupun jumlah
tidurnya tetap.
macam gangguan tidur irama sirkadian : Tipe
fase tidur terlambat, tipe jet lag, tipe pergeseran
kerja, tipe fase terlalu cepat tidur
NARKOLEPSI
Narkolepsi adalah gangguan tidur yang
diakibatkan oleh gangguan psikologis dan
hanya bisa disembuhkan melalui bantuan
pengobatan dokter ahli jiwa.
NARKOLEPSI
Penatalaksanaan narkolepsi
Stimulan adalah obat yang sering digunakan untuk mengatasi serangan
tidur karena mula kerjanya yang singkat dan sedikitnya efek samping yang
ditimbulkan. Sebagai contoh, methylphenidate
Modafinil, merupakan obat baru yang disetujui oleh U.S. Food and Drug
Administration sebagai alternatif lain dalam pengobatan narkolepsi. Obat
tersebut toleransinya baik dan efek kardiovaskular-nya sedikit; dosis
hariannya 200 sampai 400 mg.
Antidepresan trisiklik sering digunakan untuk menangani cataplexy atau
sleep paralysis tetapi mempunyai sedikit efek pada serangan tidur
Kerjasama dan pertolongan dari lingkungan sosial diperlukan untuk
mengurangi kesulitan kerja dan membantu menurunkan tingkat kebutuhan
pasien terhadap obat-obatan stimulan.
GANGGUAN TIDUR BERHUBUNGAN
DENGAN PERNAPASAN

Central apnea timbul sebagai akibat kerusakan pada pusat


pernafasan
tanda nocturnal lainnya seperti mendengkur, nafas yang terengah-
engah, gastro-esophageal reflux, ngompol, pergerakan tubuh yang
hebat, berkeringat pada malam hari dan pagi hari, sakit kepala.
Gejala pada siang hari meliputi keinginan untuk tidur yang sangat
hebat atau serangan tidur.
Gangguan tersebut mempunyai efek psikologis yang serius, meliputi
proses berfikir yang lambat, kerusakan ingatan, dan perhatian.
Pasien sering merasa cemas, dysphoric mood, keluhan fisik yang
bervariasi.
Apnea terjadi karena fluktuasi atau irama yang tidak teratur dari
denyut jantung dan tekanan darah. Ketika serangan datang,
penderita seketika merasa mengantuk dan jatuh tertidur.
GANGGUAN TIDUR IRAMA SIRKADIAN
(GANGGUAN JADWAL BANGUN TIDUR)

1. Sementara (acut work shift, Jet lag)


2. Menetap (shift worker)

a) Tipe fase tidur terlambat (delayed sleep phase type)


b) Tipe Jet lag
c) Tipe pergeseran kerja (shift work type).
d) Tipe fase terlalu cepat tidur (advanced sleep phase
syndrome).
e) Tipe bangun-tidur beraturan
f) Tipe tidak tidur-bangun dalam 24 jam.
PARASOMNIA
kelompok heterogen yang terdiri dari kejadian-kejadian
episode yang berlangsung pada malam hari pada saat
tidur atau pada waktu antara bangun dan tidur
Ada 3 faktor utama presipitasi terjadinya parasomnia
yaitu:
a. Peminum alkohol
b. Kurang tidur (sleep deprivation)
c. Stress psikososial
Parasomnia
terdiri dari mimpi buruk, ancaman tidur
dan tidur berjalan (atau somnambulism).
Ketiga gangguan tersebut relatif sering
terjadi pada anak-anak, biasanya akan
berkurang pada akhir masa remaja tapi
dapat juga berlanjut ke masa dewasa.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Mimpi
Buruk menurut DSM-IV-TR

Terbangun berulang kali dari periode tidur utama atau tidur sejenak dengan
ingatan yang terinci tentang mimpi yang panjang dan sangat
menakutkan, biasanya berupa ancaman akan kelangsungan hidup,
keamanan, atau harga diri. Terjaga biasanya terjadi pada separuh bagian
kedua periode tidur.
Saat terjaga dari mimpi menakutkan, orang dengan segera berorientasi dan
sadar (berbeda dengan konfusi dan disorientasi yang terlihat pada
gangguan teror tidur dan beberapa bentuk epilepsi.
Pengalaman mimpi, atau gangguan tidur yang menyebabkan terjaga,
menyebabkan penderitaan yang bermakna secara khas atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
Mimpi buruk tidak terjadi semata-mata selam perjalanan gangguan mental
lain (misalnya, delirium, gangguan stres pascatraumatik) dan bukan karena
efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan,
medikasi) atau kondisi medis umum.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan
Teror Tidur menurut DSM-IV-TR

Episode rekuren terjaga tiba-tiba dari tidur, biasanya terjadi selama


sepertiga bagian pertama episode tidur utama dan dimulai dengan
teriakan panik.
Rasa takut yang kuat dan tanda rangsangan otonomik, seperti
takikardia, nafas cepat, dan berkeringat, selama tiap episode.
Relatif tidak responsif terhadap usaha orang lain untuk
menenangkan penderita tersebut selama episode.
Tidak ada mimpi yang diingat dan terdapat amnesia untuk episode.
Episode menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis
atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting
lain.
Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat
(misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis
umum.
TIDUR BERJALAN (SOMNAMBULISM)

Episode berulang bangkit dari tempat tidur saat tidur dan berjalan
berkeliling terjadi selama sepertiga bagian pertama episode tidur utama.
Saat berjalan sambil tidur, orang memiliki wajah yang kosong dan menatap,
relatif tidak responsif terhadap usaha orang lain untuk berkomunikasi
dengannya, dan dapat dibangunkan hanya dengan susah payah.
Saat terbangun (baik dari episode tidur berjalan atau pagi harinya), pasien
mengalami amnesia untuk episode tersebut.
Dalam beberapa menit setelah terjaga dari episode tidur berjalan, tidak
terdapat gangguan aktivitas mental atau perilaku (walaupun awalnya
mungkin terdapat periode konfusi atau disorientasi yang singkat).
Tidur berjalan menyebabkan terjaga, menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau
fungsi penting lain.
Gangguan adalah bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat
(misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum.
Gangguan teror tidur
Ditandai dengan pasien mendadak berteriak, suara tangisan
dan berdiri ditempat tidur yang tampak seperti ketakutan dan
bergerak-gerak
Serangan ini terjadi sepertiga malam yang berlangsung
selama tidur NREM pada stadium 3 dan
Teror tidur mungkin mencerminkan suatu kelainan neurologis
minor pada lobus temporalis. Pada kasus ini sering kali terjadi
perubahan sistem otonomnya seperti takhicardi, keringat
dingin, pupil dilatasi, dan sesak nafas.
Gangguan tidur berhubungan dengan
fase REM
meliputi gangguan tingkah laku, mimpi buruk dan gangguan
sinus arrest
Gangguan tingkah laku ini ditandai dengan atonia selama
tidur (EMG) dan selanjutnya terjadi aktifitas motorik yang
keras, episode ini sering terjadi pada larut malam (1/2 dari
larut malam) yang disertai dengan ingat mimpi yang jelas
Kemungkinan lesinya terletak pada daerah pons atau juga
didapatkan pada kasus seperti perdarahan subarakhnoid.
Gambaran menunjukkan adanya REM burst dan mioklonik
potensial pada rekaman EMG
Gangguan tidur berhubungan dengan
gangguan kesehatan/psikiatri
Sleep and neurological disorders
Alzheimers disease
Parkinsons disease
Epilepsy
Stroke
Sleep and medical disorders
Gangguan tidur yang tak terklasifikasi

Anda mungkin juga menyukai