Anda di halaman 1dari 39

Case Report Session

Perdarahan Subarachnoid
Oleh :
Hadli Oktavioreta Fransiscan 1110312074

Preseptor :
Prof. Dr. dr. H. Darwin Amir, Sp. S (K)
dr. Lydia Susanti Sp.S M.Biomed

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2017
Latar Belakang
Pendahuluan

Perdarahan subaraknoid menggambarkan adanya darah


didalam ruang subarachnoid akibat beberapa proses
patologis.
Biasanya berasal dari ruptur aneurisma atau
arteriovenous malformation (AVM)/malformasi
arteriovenosa (MAV).

Pecahnya pembuluh darah bisa terjadi pada usia berapa


saja, tetapi paling sering menyerang usia 25-50 tahun.

Perdarahan subaraknoid setidaknya menyebakan


kemtian atau kecatatan dari 18.000 orang di Amerika
utara.
Angka mortalitas dan morbiditas meningkat
seiring usia dan perburukan keseluruhan
kesehatan pasien.
Sekitar 10-15% pasien dengan perdarahn subrachnoid
meninggal sebelum akhirnya sampai di rumah sakit. Angka
mortalitas meningkat sebesar 40% dalam minggu pertama.
Sekitar setengahnya meninggal dalam 6 bulan pertama.

Diagnosis dan tatalaksana secra dini akan


menurunkan angka mortalitas dan morbiditas
Tinjauan Pustaka

Perdarahan Subaraknoid

Gambaran ekstravasasi darah ke dalam ruang subaraknoid.

Penyebab tersering dari perdarahn subaraknoid adalah trauma ,


penyeab lain nontraumatic yaitu pecahnya aneurisma
intrakranial dan adanya malformasi arteri dan vena.
Epidemiologi Insiden kejadian perdarahan subarknoid antara 9-20
per 100.000 orang per tahun.

Perdarahan subarknoid lebih sering terjadi pada


perempuan dengan rata-rata umur 55 tahun.

Di AS kejadian dari perdarahn subarchnoid sebersar


30.000 per tahun. Di Australia, insiden peerdarahn
subarknoid skitar 26,4 kasus per 100.000 populasi
tapinanya pada pasien di atas 35 tahun. Di Belanda
dilaporkann 7,8 kasus per 100.000 populasi.
Etiologi Faktor resiko

Ruptur Aneurisma Merokok

Arteri vena Malformation Perempuan

Hipertensi

Alkohol

cocain

Faktor keturunan
Patofisiologi
Faktor
Aneurisma resiko :tek
Kongenital darah
tinggi

Pecahnya
Malformasi
Melemahnya arteri vena
dinding arteri

Darah
Ruptur masuk ke
aneurisma ruang
subaraknoid
Gejala Tanda
Sakit kepala Defisit neurologi

pusing kejang

Nyeri orbital Ptosis

diplopia disphasia

Visual loss Tanda meningeal

Perdarahan intraokuler

Peruabhan kardivaskuler
Diagnosis
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang : Brain CT scan, MRI, CT
angiografi, Pemeriksaan CSF
Tatalaksana
Stabilisasi respirasi dan kardiovaskuler
Analgetik dan antipiretik : paracetamol
Nimodipine
Magnesium sulfat
Antifibrinolotik
Antikonvulsan
Pembedahan
Komplikasi
Hidrosefalus
Perdarahan ulang
vasospame
Delayed ischemic
kejang
Gangguan fungsi jantung
Perdarahan intraserebral
prognosis

Diperkirakan 10-15 % Kira-kira 25 % pasien


dari pasien meninggal meniggal dalam 24 jam
sebelum sampai di dengan atau tanpa
rumah sakit. pengobatan.

Sekitar setengah dari


Pada pasien yang
mereka yang terkena
dirawat di rumah sakit
perdarahan
angka kematian40%
subarachnoid
dalam 1 bulan
meninggal dalam 6
pengobatan
bulan pertama
Laporan Kasus
IDENTITAS PASIEN :
Nama : Ny. A
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 60 tahun
MR : 56 23 51
Agama : Islam
Status : Menikah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Suku : Minang
BB : 70 kg
TB : 155 cm
Keadan Gizi : Overweight
Alamat : Ampang Karang Gantiang, Padang
Tgl masuk : 18 Agustus 2017
Keluhan Utama : penurunan kesadaran
Riwayat Penyakit Sekarang :
Penurunan kesadaran sejak 2 jam SMRS terasa tiba-
tiba saat pasien sedang beraktivitas dimana pasien
tidak menyahut dan membuka mata ketika di panggil
oleh keluarga pasien. Tampak oleh keluarga bahwa
anggota gerak kiri tidak aktif bergerak akibat keluhan
tersebut, seluruh aktivitas pasien bergantung pada
keluarga.
Nyeri kepala saat onset (+),riwayat sakit kepala hebat
(+)
Mual dan muntah menyemprot (-)
Kejang (-)
Wajah mencong (+),
Demam (-), trauma kepala (-)
Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 10
tahun yang lalu, dengan tekanan darah
sistolik tertinggi 180 mmHg, pasien tidak
RPD kontrol teratur.
Riwayat diabetes militus disangkal.
Pasien tidak pernah mengalami penyakit
jantung, stroke, sebelumnya

Tidak ada anggota keluarga yang menderita


hipertensi
RPK Pasien tidak memiliki riwayat DM pada
keluarga
Riwayat Pasien seorang ibu rumah tangga dengan
pribadi aktifitas harian ringan sampai sedang.
dan
sosial :
Pasien tidak merokok dan minum alkohol.
Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Sedang


Keadaan gizi : Overweight

Kesadaran : Sopor (GCS:


BB : 65 kg
E2,, M5, V2)

Nadi/ irama : Nadi kuat


TB : 156 cm
angkat, regular, 108 x/menit

Pernafasan : Pola Rambut : Tidak mudah dicabut


thorakoabdominal, regular, 28x/menit dan tidak rontok

Tekanan darah : 240/ 140


Kulit dan kuku : Sianosi (-)
mmHg

Suhu : 36,7oC Turgor kulit : Baik


Status Internus
Kelenjar getah bening Torak
Leher : tidak teraba pembesaran KGB Paru
Aksila : tidak teraba pembesaran KGB Inspeksi : normochest, simetris kiri dan
kanan keadaan statis dan dinamis
Inguinal : tidak teraba pembesaran KGB
Palpasi : sulit dinilai
Mata : konjungtiva t idak anemis, Perkusi : sonor
sklera tidak ikterik, pupil isokor, 2 Auskultasi : suara nafas bronkovesikuler,
mm/ 2 mm, reflek cahaya ronkhi -/-, wheezing -/-
+/+, reflek kornea +/+, doll Jantung
eyes movement (+) Inspeksi : iktus kordis tak terlihat
Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial
LMCS RIC V
Perkusi : batas jantung dalam batas
normal
Auskultasi : irama reguler, teratur, bising
jantung (-), mur
Abdomen
Inspeksi : distensi tidak ada
Palpasi : perabaan supel, hepar dan lien tak teraba
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus dalam batas normal
Korpus vertebrae
Inspeksi : sulit dinilai
Palpasi : sulit dinilai
Alat kelamin : tidak diperiksa
Anus : tidak diperiksa
Status Neurologis
Tanda rangsangan selaput otak
Kaku kuduk : (-)
Brudzinsky I : (-)
Brudzinsky II : (-)
Tanda Kernig : (-)
Tanda peningkatan tekanan intracranial (-)
Pupil isokor, 3 mm/ 3 mm, reflek cahaya +/+,
reflek kornea +/+
N. VII (Fasialis)
Kanan Kiri
Raut wajah Plika nasolabialis mencong ke kanan
Sekresi air mata (+) (+)
Fissura palpebral Kelopak mata dapat Kelopak mata dapat
menutup menutup
Menggerakkan dahi Sulit dinilai Sulit dinilai
Menutup mata Sulit dinilai Sulit dinilai
Mencibir/ bersiul Sulit dinilai Sulit dinilai
Memperlihatkan gigi Sulit dinilai Sulit dinilai
Sensasi lidah 2/3 depan Sulit dinilai Sulit dinilai
Hiperakusis Sulit dinilai Sulit dinilai
Pemeriksaan Fungsi Motorik
a. Badan Respirasi Spontan
Duduk (-)

a. Berdiri dan berjalan Gerakan spontan Sulit dinilai


Tremor Sulit dinilai
Atetosis Sulit dinilai
Mioklonik Sulit dinilai
Khorea Sulit dinilai

a. Ekstremitas Superior Inferior

Kanan Kiri Kanan Kiri

Gerakan Aktif Kurang Aktif Aktif Kurang


Aktif

Kekuatan Tes jatuh ekstremitas superior kiri lebih duluan Tes jatuh ekstremitas Inferior kiri lebih
jatuh dari pada kiri duluan jatuh dari pada kiri

Trofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi

Tonus Eutonus Eutonus Eutonus Eutonus


Pemeriksaan Sensibilitas
Sensibiltas taktil Sulit dinilai

Sensibilitas nyeri Sulit dinilai

Sensiblitas termis Sulit dinilai

Sensiblitas sendi dan posisi Sulit Dinilai

Sensibilitas getar Sulit dinilai

Sensibilitas kortikal Sulit dinilai

Stereognosis Sulit dinilai

Pengenalan 2 titik Sulit dinilai

Pengenalan rabaan Sulit dinilai


Sistem Reflek
a. Fisiologis Kanan Kiri Kanan Kiri
Kornea (+) (+) Biseps ++ ++
Berbangkis Triseps ++ ++
Laring KPR ++ ++
Masetter APR ++ ++
Dinding perut Bulbokvernosus
Atas Cremaster
Tengah Sfingter
Bawah
b.Patologis Kanan Kiri Kanan Kiri
Lengan Tungkai
Hoffmann-Tromner (-) (-) Babinski (+) (-)
Chaddocks (-) (-)
Oppenheim (-) (-)
Gordon (-) (-)
Schaeffer (-) (-)
Klonus paha (-) (-)
Klonus kaki (-) (-)
Fungsi Otonom
Miksi : normal
Defekasi : normal
Sekresi keringat : normal
Fungsi Luhur
Kesadaran Tanda Dementia

Reaksi bicara Sulit dinilai Reflek glabela (-)

Fungsi Intelek Sulit dinilai Reflek snout (-)

Reaksi emosi Sulit dinilai Reflek menghisap (-)

Reflek memengang (-)

Reflek palmomental (-)


Pemeriksaan Laboratorium
Hemoglobin : 15,1 g/dl

Leukosit : 25.430/mm3

Trombosit : 289.000/mm3

Hematokrit : 44 %

GDP : 351 mg%

Ureum : 43 mg%

Kreatinin : 1,1 mg%

Natrium : 140

Kalium :3

Clorida : 100
Brain CT Scan
Diagnosis Diagnosis Klinis : Penurunan Kesadarn (Sopor)+ Tanda
peningkatan TIK
Diagnosis Topik : Ruang Sub Archnoid

Diagnosis Etiologi : Ruptur Aneurisma Benign

Diagnosis Sekunder :Hipertensi emergency + DM tipe II baru dikenal


Prognosis Quo ad vitam : dubia ad malam

Quo ad sanam : dubia ad malam

Quo ad fungsionam : dubia ad malam


Terapi :
Umum: Elevasi kepala 300
IVFD Asering 12 jam/kolf
O2 NRM 10 liter/menit
NGT ML 1700 kkal
Kateter : Balance cairan
Khusus :
Manitol 20% tap off
Nicardipine 10 mg + 40 cc Nacl0,9% sesuai target TD
darah
Ceftriaxon 2 x 1 gr
As. Traneksamat 4 x 1 gr
Paracetamol 3 x 750 mg
Inj Ranitidin 2 x 50 mg
Sliding scale / 4 jam
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik beberapa
gejala dan tanda dari perdarahan sub araknoid ditemukan
pada pasien ini, dimana gejala padapendarahan
subaracnoid dapat berupa sakit kepala, gejala yang
biasanya dialami oleh pasien, biasanyadi daerah oksipital
dengan intensitas yang berat dan tiba-tiba selama
beberapa detik.
Penurunan kesadaran pada pasien ini terjadi karena
adanya defisit neurologi yang dapat terjadi karena
pendarahan dapat meluas ke intraparenkimal dan
menekan saraf kranial atau menyebakan iscemik karena
vasospasme yang cepat. Penekanan saraf kranial pada
pasien ini adalah ditemukannya parese N VII (s) tipe
sentral.
Faktor
Resiko

Tekanan
Darah Tinggi

Perempuan
pemeriksaan yang utam dalam menginvestigasi perdarahan
subaraknoid dengan ditemukannya gambaran hiperdens.
Pada pasien ini pemeriksaan cairan serebrospinal belum dilakukan
CT Scan karena keadaan umum pasien yang buruk dan berdasarakan
kepustakaan pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan apabila
pada gambaran klinis ditemukan adanya suspek perdarahan
subaracnoid dan pada periksaan Ct scan tidak ditemukan kelaianan.
Pada tatalaksana pasien ini diberikan :
Manitol 20% tap off,
nicardipine 10 mg + 40 cc Nacl0,9% sesuai target TD darah,
ceftriaxon 2 x 1 gr,
As. Traneksamat 4 x 1 gr,
Paracetamol 3 x 750 mg,
Inj Ranitidin 2 x 50 mg,
Sliding scale / 4 jam.
Pasien ini meninggal pada rawatan
hari ke 2.

Dimana seperti yang diketahui bahwa


prognosis pasien dengan perdrahn sub
araknoid adalah buruk.
Pada pasien yang dirawat di rumah
sakit angka kematian 40% dalam 1
bulan pengobatan