Anda di halaman 1dari 28

Dosen Pembimbing :

Ahmad Fadli, ST.MT.PhD

KERAMIK BERPORI

ADI PUTRA MANULLANG


FREDY SITOHANG
IDA ROYANI SILABAN
YOSSI AFRILLA
Mempelajari pengaruh variasi lama
waktu pengadukan terhadap sifat fisika
keramik berpori.

Menentukan persentase penyusutan


volum (shrinkage) keramik berpori.

Menentukan densitas dan porositas


keramik beerpori
Keramik adalah mencakup semua bahan
bukan logam dan anorganik yang berbentuk
padat.

Bahan baku keramik seperti kaolin, kuarsa,


feldsfar dan lempung (clay) serta campuran
lain dapat dicampur dengan perbandingan
tertentu, kemudian diproses dan dicetak lalu
dibakar akan dapat menghasilkan keramik
industri (Marcel.B,2004)
Dewasa ini, beberapa keramik teknik telah
diaplikasikan dalam bidang medis (biomedical)
sebagai implantasi tulang.
Nah, apa saja bahan-bahan keramik ?
1.Tricalcium Phosphate (TCP)
Tricalcium Phosphate (TCP) adalah biomaterials sintetik yang
memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan jaringan
tubuh manusia
TCP berpori telah digunakan sebagai drug-releasting agent
seperti antibiotik,anti tumor dan anti inflamasi serta dipakai
dalam implantasi jaringan. Morfologi pori keramik dapat
dibentuk melalui beberapa metode, salah satunya adalah
penggunaan wheat particles pada starch consolidation.
Penggunaan wheat particles memiliki beberapa keunggulan,
yaitu sifatnya yang mudah terlepas (easy to burn out),
harganya murah, ramah lingkungan dan mampu menghasilkan
keramik dengan distribusi pori yang tersebar merata. (Kalita,
2007). Sifat yang dimiliki adalah warna putih atau putih
kehijauan, hijau , biru, biru keputihan. Berat jenis nya 3,066
gr/cm3 (Sihite, 2008).
TCP memiliki kemiripan komposisi kimia dengan
jaringan tulang namun memiliki kekuatan
mekanik yang lemah. Sehingga dilakukan
peningkatan kekuatan mekanik dengan membuat
pori pada TCP dikarenakan pori-pori tersebut
akan dilalui oleh jaringan tulang sehingga
kekuatan mekanik implan akan meningkat [Swain,
2009]. Pembuatan pori dilakukan dengan
berbagai metode, seperti : replication method,
starch consolidation method, direct foaming
method dan protein foaming-starch consolidation
method
2. Tepung Singkong

Kualitas tapioka sangat ditentukan oleh beberapa


faktor, yaitu:
1. Warna tepung; tepung tapioka yang baik
berwarna putih.
2. Kandungan air; tepung harus dijemur sampai
kering benar sehingga kandungan airnya rendah.
3. Banyak serat dan kotoran; usahakan agar
banyaknya serat dan kotoran dalam tepung dapat
dikurangi. Untuk itu ubi kayu yang digunakan
harus yang umurnya.
Fabrikasi Keramik Berpori

Pori keramik dapat dibentuk dengan beberapa metode.


Perbedaan metode dalam fabrikasi keramik berpori
akan mempengaruhi derajat porositas, kuat tekan dan
ukuran pori yang dihasilkan. Ukuran pori keramik dapat
diklasifikasikan menjadi mikro, meso dan makro pori.
IUPAC merekomendasikan mikro pori mempunyai
ukuran pori <2 nm, meso pori 2-50 nm dan makro pori
berukuran >50 nm [Sing et al., 1985]. Keramik berpori
dapat difabrikasi melalui ceramic foaming technique,
solvent casting, microwave vacuum sintering,
polymeric sponge method dan starch consolidation.
Ceramic Foaming Technique

Teknik foaming ini dilakukan dengan


penambahan zat foamer. Foaming agent yang
umumnya digunakan adalah hidrogen
peroksida, garam karbonat dan baking
powder. Zat-zat tersebut dicampurkan ke
dalam TCP kemudian dikalsinasi (Woyansky et
al., 1992).
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

Bahan yang digunakan


Bahan-bahan yang digunakan meliputi TCP
(Triclacium Phospat), akuades, tepung sagu dan
minyak
Alat yang digunakan
Peralatan utama yang digunakan yaitu furnace,
sedangkan peralatan penunjang yang digunakan
antara lain oven, stirrer, gelas kimia, gelas ukur,
pipet tetes, stainless steel mould, dan jangka
sorong.
Prosedur Percobaan
Keramik bubuk (Tricalcium phosphate) ditimbang sebanyak 6 gram
kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia. Sebanyak 10 ml
akuades dan 3 gram tepung singkong ditambahkan kedalam gelas
kimia dan diaduk hingga merata. Bahan di aduk dengan
menggunakan alat stirrer.
Larutan di aduk dengan menggunakan variasi waktu yang berbeda
yaitu sebesar 60 menit, 120 menit, dan 180 menit dengan
kecepatan pengadukan sebesar 150 rpm. Mould dilapisi dengan
minyak dan campuran yang telah diaduk dituangkan secara
perlahan-lahan kedalam mould.
Mould dimasukkan ke dalam oven dan dipanaskan pada suhu 100oC
selama 60 menit. Padatan kemudian dilepaskan dari mould.
Diameter dan tinggi padatan diukur dengan menggunakan jangka
sorong sebelum dimasukkan ke dalam furnace. Setelah keramik di
furnace, diameter dan tinggi padatan diukur kembali.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil percobaan keramik berpori


menggunakan metode starch consolidation
dengan menggunakan tepung singkong dan
memvariasikan waktu pengadukan yaitu
sebanyak 60, 120, dan 180 menit yang
disajikan pada Tabel 3.1 dan Tabel 3.2 berikut :
DATA HASIL PERCOBAAN
No Waktu Sebelum sintering Setelah sintering
pengeringan
Tinggi (cm) Diameter Tinggi (cm) Diameter
(cm) (cm)

1 60 menit
Sampel 1 1,20 0.99 1,10 0,97
Sampel 2 1,34 1.12 1,22 1,01

2 120 menit
Sampel 1 1,35 1,10 1,14 0,96
Sampel 2 1,35 1,19 1,20 0,97

3 180 menit
Sampel 1 1,39 1,02 1,15 0,92
Sampel 2 1,37 1,20 1,14 0,90
Hasil persentase penyusutan
% shrinkage
Sampel ke- Waktu 60 Waktu 120 Waktu 180
menit menit Menit
12,22% 35,93% 32,74%
1
20 % 42,66% 53,22%
2
Rata-rata 16,11% 39,29% 42,99%
Hasil Densitas sampel
Densitas Sampel
Sampel ke-
Waktu 60 Waktu 120 Waktu 180
menit menit Menit
1,240 1,109 1,118
1
gram/cm3 gram/cm3 gram/cm3
0,938 1,127 1,146
2
gram/cm3 gram/cm3 gram/cm3
Rata-rata 1,089 1,108 1,132
gram/cm3 gram/cm3 gram/cm3
Hasil Porositas sampel
Porositas Sampel

Sampel ke-
TCP 6 gram TCP 7 gram TCP 8 gram

63,74% 63,71% 62,81%


1
62,51% 62,51% 62,93%
2
Rata-rata 65,12% 63,11% 62,87%
Pembahasan
Pada percobaan ini keramik dibuat dengan menggunakan
keramik bubuk/Tricalcium phosphate (Ca3PO4) , aquades
sebagai pelarut dan zat pati yang digunakan adalah tepung
singkong sebagai agen pembentuk pori. Tepung singkong
digunakan sebanyak 3 gram sedangkan TCP sebanyak 6
gram. Dalam proses pembuatan keramik berpori dilakukan
variasi waktu pengadukan dengan kecepatan 150 rpm
selama 60 menit, 120 menit, dan 180 menit.. Pada
percobaan penyusutan terjadi pada perbedaan waktu
pengadukan yaitu pada waktu 60 menit, 120 menitdan 180
sebesar 16,11%, 39,29%, dan 42,99% semakin lama
pengadukan maka persentase penyusutan akan semakin
meningkat. Pada pengadukan campuran tersebut
berbentuk pasta yang memiliki viskositas yang sangat
tinggi. Hal ini terjadi karena pengadukan mempercepat
proses penyerapan air yang dilakukan oleh wheat particles
Setelah pengadukan selesai, campuran tersebut di tuangkan
kedalam mould. Mould merupakan wadah yang digunakan
untuk mencetak bahan yang telah diaduk. Kemudian
diovenkan pada suhu 100oC selama 60 menit
Keramik berpori yang didapat setelah proses pengovenan di
lepaskan dari mould dan kemudian diukur tinggi dan
diameter dari keramik menggunakan jangka sorong
Sebelum proses sintering bahan kramik berpori di simpan agar
keramik tidak teroksidasi, jika teroksidasi akan mengalami
bahan menjadi berjamur, Setelah itu proses sintering
dilakukan, diameter dan tinggi dari keramik berpori
mengalami penyusutan
Penyusutan disini adalah perbedaan volum pada saat
campuran dimasukkan ke dalam mould dengan volum keramik
demoulding
Keramik sebelum dan sesudah sintering

Gambar 1. keramik sebelum sintering

Gambar 2. keramik sesudah sintering


Berdasarkan Gambar keramik yang telah melalui
proses sintering warnanya biru keputihan,
sebelum sintering bewarna putih, ukuran keramik
setelah sintering pun lebih kecil dan tekstur
keramik jauh lebih keras dari pada keramik
sebelum sintering. Hal ini disebabkan karena
pemberian suhu yang tinggi sehingga struktur
ikatan yang ada didalam keramik menjadi rapat
dan padat. Berdasarkan Tabel 3.3 dapat dibuat
kurva yang merupakan hubungan antara
shrinkage terhadap variasi Waktu, seperti yang
disajikan pada Grafik 3.1
50
45
40
35
Shrinkage %

30
25
20
15
10
5
0
0 50 100 150 200
Waktu (menit)

Grafik 3.1 Hubungan antara waktu terhadap shrinkage keramik


1.135
1.13
1.125
Densitas (gr/cm3)

1.12
1.115
1.11
1.105
1.1
1.095
1.09
1.085
0 50 100 150 200
Waktu (menit)

Grafik 3.2 Hubungan antara waktu pengadukan terhadap Densitas keramik


Berdasarkan Grafik 3.2 dapat dilihat densitas
dari keramik berpori setelah proses sintering.
Tujuan dilakukan proses sintering adalah
untuk memperoleh densitas yang tinggi
65.5

65

64.5
Porositas %

64

63.5

63

62.5
0 50 100 150 200
waktu (menit)

Grafik 3.3 Hubungan antara berat TCP terhadap porositas keramik


Berdasarkan Grafik 3.3 diketahui terdapat
penurunan porositas terhadap waktu
pengadukan pada keramik, sesuai dengan
teori yang menyatakan semakin tinggi suhu
sintering maka jarak antar partikel semakin
mengecil dan ruang kosong antar partikel
semakin kecil. Sesuai dengan nilai densitas
semakin besar pula.
BAB IV
Kesimpulan
4.1. Kesimpulan
Penyusutan volum untuk variasi waktu pengadukan 180 menit lebih besar
dibandingkan dengan penyusutan volum untuk variasi waktu pengadukan
120 menit dan 60 menit. Hal ini disebabkan karena waktu pengadukan
yang lebih lama mengalami penyusutan lebih besar dan bahan menjadi
semakin padat dengan dilakukannya proses sintering.
Persentase penyusutan dari variasi waktu pengadukan 60, 120, dan 180
menit berturur-turut adalah sebesar 16,11%, 39,29% dan 42,99%
Penyusutan yang terjadi pada keramik berpori disebabkan karena
pemberian suhu yang tinggi sehingga struktur ikatan yang ada didalam
keramik menjadi rapat padat dan membentuk satu kesatuan massa.
Densitas keramik yang di peroleh dengan variasi waktu pengadukan 60,
120, dan 180 menit masing-masing adalah 1,089 gram/cm3, 1,108
gram/cm3 dan 1,132 gram/cm3.
Porositas keramik yang diperoleh dengan variasi waktu pengadukan
masing-masing 60, 120, dan 180 menit adalah sebesar 65,12%, 63,11%
dan 62,87 %.