Anda di halaman 1dari 42

Dr.

Haris Budi Widodo


Perkembangan manusia dimulai dengan
pembuahan, suatu proses dimana
spermatozoa dari pria dan oosit dari
wanita bergabung membentuk organisme
baru yaitu zigot.
Dalam persiapan untuk pembuahan, baik
sel benih pria maupun wanita mengalami
sejumlah perubahan yang melibatkan
kromosom maupun sitoplasma.
Perubahan ini mempunyai dua tujuan:
Mengurangi jumlah kromosom dari
jumlah diploid 46, yang ditemukan pada
sel somatik, menjadi jumlah haploid 23,
yang pada gamet. (Ploidi merujuk pada
jumlah copies setiap kromosom.)
Hal ini terlaksana melalui pembelahan
meiosis atau pembelahan pematangan
dan pengurangan jumlah kromosom ini
perlu, karena jika tidak demikian
penyatuan sel benih pria dan wanita akan
menghasilkan individu yang mempunyai
jumlah kromosom sebanyak dua kali dari
sel induknya.
Mengubah bentuk sel-sel benih sebagai
persiapan untuk pembuahan.
Sel benih pria, yang mula-mula besar
dan bulat, akan kehilangan semua
sitoplasmanya dan membentuk kepala,
leher dan ekor.
Sel benih wanita, sebaliknya, berangsur-
angsur menjadi lebih besar sebagai
akibat dari penambahan jumlah
sitoplasma.
Pada saat mencapai kematangan, oosit
memiliki garis tengah kira-kira 120 m.
Embriogenesis: Proses perkembangan
sigot sehingga terbentuk individu
primitif (belum memiliki bentuk dan
rupa yang spesifik)

Fase-fase
CLEAVAGE
BLASTULA
GASTRULA
NEURULASI
CLEAVAGE
Proses pembelahan yang berlangsung
setelah terjadi fertilisasi Cepat
LATE CLEAVAGE SEKELOMPOK SEL
ANAK (MORULA) BLASTOMER (Sel yg
menjadi semakin kecil pada setiap
pembelahan)
BESAR MORULA = SIGOT (Zona Pelusida
UTUH)
Tigmotaksis Sel Blastomer Saling
Terikat
Pembelahan Tuba Fallopii
3 hari setelah pembuahan sel-sel embrio
membelah lagi membentuk morula dgn
16 sel.
Sel bagian dalam morula membentuk
jaringan embrio sebenarnya, sedangkan
massa sel luar kmd membentuk trofoblas
kmd membentuk plasenta
From single cell to 4 cell
Pembelahan 4 sel - Morula
Video-1
PROSES PEMBELAHAN DAPAT DIHITUNG
BERDASARKAN JUMLAH WAKTU (JAM / HARI)
CLEAVAGE SIGOT TUBA FALLOPII
BLASTOSIS TANDUK / BADAN RAHIM
KOMPOSISI CAIRAN TUBA FALOPII RAHIM
EMBRIO 2 SEL RAHIM
BLASTOSIS TUBA FALLOPII
KOMPOSISI CAIR HARUS SESUAI PERLU
MEDIUM KHUSUS UNTUK TUMBUH
DELAYED IMPLANTATION HISTOTROF
BERDASARKAN TIPE SEL TELUR :

1. HOLOBLASTIK
- H. EQUAL / SEMPURNA
MEMBELAH MENJADI 2 SAMA
BESAR AKHIR SEL BLASTOMER SERAGAM
- H. UNEQUAL / TIDAK SEMPURNA
TERJADI DI SALAH SATU KUTUB
ANIMAL POLE CEPAT
VEGETAL POLE LAMBAT
MIKROMER & MAKROMER
Pembelahan holoblastik equal dan unequal
UNEQUAL DIVISION
In this animation we see how an unequal division of the centrosome can result in an
unequal cell division. Notice how the smaller mitotic apparatus gets "pushed" to the
edge of the dividing cell. The RED area at the bottom of the unequal cell appears to
really exist, "sticking" to the mitotic apparatus when it comes into contact.
2. MEROBLASTIK

TIDAK DISERTAI PEMBAGIAN YOLK


INTI DAN SITOPLASMA
a. MEROBLASTIK DISCOIDAL
POLITELOLECITAL: AVES,
REPTIL, MAMALIA BERTELUR
b. MEROBLASTIK SUPERFICIAL
CENTROLECITAL: ARTHROPODA
CLEAVAGE MAMALIA

Pola pembelahan sangat spesifik


rotasional proses pembelahan tidak
berjalan serempak melainkan di kutub
animal, kemudian di kutub vegetal
sehingga pada proses perkembangan
jumlah blastomer ganjil (3 sel)
Proses pembelahan lambat 24 jam
setelah pembuahan
2 sel 4 sel 8 sel morula
compaction terbentuk hubungan
antar seluler, sehingga batas antara
blastomer tidak jelas
BLASTULASI
PROSES PEMBENTUKAN BLASTULA
BLASTOSUL (RONGGA)

BERDASARKAN BLASTOSOL:
B. BERONGGA / SULO BLASTULA
- KATAK, AMPHIOXUS
B. TIDAK
BERONGGA/STERCOBLASTULA
- IKAN
BERDASARKAN ADA TIDAKNYA SEL TROPOBLAS
B. BERTROPOBLAS
- REPTIL, AVES, MAMALIA
B. TIDAK BERTROPOBLAS
- KATAK
B. BERTROPOBLAS
1. FORMATIVE CELL / SEL UTAMA
MEMBENTUK TUBUH EMBRIO
2. AUXILIARY / TROPOBLAS / SEL PELENGKAP
SELAPUT PELINDUNG, PLASENTA
SEL TROPOBLAS BERKEMBANG LEBIH AWAL
TOTI POTEN MORULA
UNI POTEN GASTRULA
TRANSPLANTASI
TRANSPLANTASI AUTOPLASTIK
(PEMINDAHAN JARINGAN DALAM
SATU TUBUH EMBRIO)
TRANSPLANTASI HOMOPLASTIK
(PEMINDAHAN JARINGAN ANTAR
EMBRIO YANG SEJENIS)
TRANSPLANTASI SENOPLASTIK
(PEMINDAHAN JARINGAN ANTAR
SEJENIS, TAPI MASIH SE-GENUS)
Masa Embriogenik
(Minggu Ketiga Sampai Kedelapan)
Selama perkembangan minggu ketiga
hingga minggu kedelapan, suatu masa
yang dikenal sebagai masa embriogenik
atau masa organogenesis, masing-
masing lapis, ketiga lapisan mudigah
membentuk banyak jaringan dan organ
yang spesifik.
Menjelang akhir masa embrionik ini,
sistem-sistem organ utama telah
terbentuk.
Karena pembentukan organ ini, bentuk
mudigah banyak berubah dan ciri-ciri
utama bentuk tubuh bagian luar sudah
dapat dikenali menjelang bulan kedua.
Derivat Lapisan Mudigah Ektoderm
Pada permulaan perkembangan minggu
ketiga, lapisan mudigah ektoderm
berbentuk cakram datar, yang lebih luas
di daerah kepala daripada daerah kaudal
Dengan terbentuknya notokord dan
karena pengaruh induktifnya, ektoderm
terletak di atas notokord menebal
membentuk lempeng saraf.
Lempeng saraf membentuk
neuroektoderm, dan induksi
pembentukan neuroektoderm ini
merupakan peristiwa awal dalam proses
neurulasi.
Proses induksi ini bersifat kompleks,
yang memerlukan perangsangan suatu
jaringan atau sekelompok sel yang
responsif oleh suatu jaringan
penginduksi, dalam hal ini epiblas oleh
notokord.
Proses ini terjadi berulang-ulang
sepanjang masa organogenesis, seperti,
misalnya, induksi jaringan metanefros
oleh bakal ureter untuk membentuk
ginjal.
Birth defects mainly from embryonic period, weeks
3-8
Netters Atlas of Embryology,
ICON Learning Systems, 2002

Before We Are Born, 5th Ed.,


W.B. Saunders, 1998

Weeks 1-2 9-36 (fetus)


Totipotent > Pluripotent 3-8 (embryo) Multipotent
Foregut, Midgut, and Hindgut
Pharynx
Heart
Aorta
Stomodeum
Esophageal region

Gastric and
Septum
duodenal regions
transversum
Celiac artery to
Yolk stalk and abdominal foregut
vitelline artery
Primordium of liver
Allantois

Proctodeum Superior mesenteric


artery to midgut

Inferior mesenteric artery


Cloacal to hindgut
membrane
Cloaca Hindgut