Anda di halaman 1dari 34

Kode Etik Akuntan Publik dalam

Perspektif Existing, Kritik dan Alternatif

Kelompok II
Aminatus Sholihah
Samsul Hadi
Rengga Bayu W.
Alur Pembahasan

IFAC Deregulasi
Kode Etik AICPA Pelanggaran
Akuntan Kritik
Kode Etik
Existing IAI
Alternatif
IAPI
APA ITU KODE ETIK PROFESI?
Panduan dan aturan bagi seluruh anggota
dalam menjalankan tugasnya sehingga dapat
memenuhi tanggung jawabnya dengan
standar profesionalisme tertinggi, mencapai
tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi
pada kepentingan publik
Mengapa Kode Etik Diperlukan?
Brown (1971) menyatakan bahwa:
Etika profesional melambangkan suatu bagian
penting dari sistem disiplin yang komprehensif
dalam masyarakat yang beradab. Sistem disiplin
ini perlu sekali agar kesejahteraan kelompok
dapat dilindungi dari tindakan-tindakan individu
yang tidak bertanggung jawab. Tanggung jawab
adalah harga kelangsungan hidup suatu
kelompok
SUMBER KODE ETIK
CODE OF CONDUCT
American Institute of Certified Public Accountant
(AICPA)
International Federation for Accountant (IFAC)
IAPI
DLL
LAW & JURISPRUDENCE
IFAC CODE OF ETHICS VALUES
Duty to Society, Serve the
Public Interest

Objectives:
Meet Expectations for Professionalism,
Performance, Public Interest
Basic Needs:
Credibility, Professionalism, Highest Quality
Services, Confidence

Fundamental Principles:
Integrity, Objectivity, Professional Competence and Due Care,
Confidentiality, Professional Behavior, Technical Standards
KODE ETIK PROFESI AKUNTAN INDONESIA

Diterjemahkan (dengan modifikasi) dari Code of Ethics


for Professional Accountants yang ditetapkan oleh
International Ethics Standards Board for Accountants
(IESBA) seperti yang tercantum dalam Handbook of
International Auditing, Assurance, and Ethic
Pronouncements 2008 Edition yang dikeluarkan oleh
International Federation of Accountants (IFAC)
KODE ETIK PROFESI AKUNTAN INDONESIA

Terdiri dari dua bagian:


Bagian A dari Kode Etik ini menetapkan prinsip
dasar etika profesi untuk setiap Praktisi dan
memberikan kerangka konseptual untuk
penerapan prinsip tersebut
Bagian B dari Kode Etik ini memberikan ilustrasi
mengenai penerapan kerangka konseptual
tersebut pada situasi tertentu dan contoh-contoh
pencegahan
PRINSIP DASAR ETIKA PROFESI

INTEGRITAS

KERAHASIAAN
PRINSIP OBJEKTIVITAS
DASAR

PROFESSIONAL
COMPETENCE
AND DUE CARE
KASUS PELANGGARAN KODE ETIK
AKUNTAN INDONESIA
Tabel Kasus Pelanggaran Kode Etik Akuntan
Indonesia menurut Agoes (2012):
Aspek yang Dilanggar Jumlah Kasus Pelanggaran Total

2004 2005 2006 2007 2008 2009

Karakteristik Personal Akuntan - - - 2 1 2 5

Pengalaman Audit 1 - - 2 2 1 6

Independensi AkuntanPublik 1 1 1 1 1 2

Penerapan etika akuntan 2 1 - 1 5 3 12


Publik

Kualitas audit 2 1 2 5 8 4 22

Jumlah 6 3 3 11 17 12 52
KASUS PELANGGARAN KODE ETIK
AKUNTAN INDONESIA
Kasus Sembilan KAP yang diduga melakukan
kolusi dengan kliennya. Koordinator ICW Teten
Masduki kepada wartawan di Jakarta, Kamis,
mengungkapkan, berdasarkan temuan BPKP,
sembilan dari sepuluh KAP yang melakukan audit
terhadap sekitar 36 bank bermasalah ternyata
tidak melakukan pemeriksaan sesuai dengan
standar audit.
Sumber: http://www.kompas.com, 20 April 2001
Hambatan dalam Penegakan Kode Etik
Beberapa hambatan dalam penegakan kode etik, sebagaimana
dikemukakan oleh Agoes (1996:175), yaitu:

1. Sikap anggota profesi yang mendua; pada satu sisi menolak setiap
pelanggaran terhadap kode etik tetapi pada sisi lain memberikan
pembenaran atas pelanggaran tersebut.
2. Adanya sifat sungkan dari sesama anggota profesi untuk
mengadukan pelanggaran kode etik.
3. Belum jelasnya aturan terhadap mekanisme pemberian sanksi dan
proses peradilan atas kasus-kasus pelanggaran baik dalam
Anggaran Dasar (AD) maupun dalam Anggaran Rumah Tangga
(ART).
4. Belum dapat berfungsinya secara efektif Badan Pengawas Profesi
dan DPP sebagai akibat belum jelasnya pengaturan dalam AD/ART.
Kritik terhadap Kelemahan Kode Etik
Akuntan Publik
Banyak pertanyaan akhir-akhir ini yang
mempertanyakan kesadaran moral dari para
akuntan publik.
Kode etik akuntan banyak yang diabaikan saja
oleh para akuntan.
Kode etik akuntan hanyalah sekedar
simbolisme etis profesi akuntan.
Faktor-Faktor Pelanggaran kode etik

Faktor yang mempengaruhi pelanggaran kode


etik:
kebutuhan individu

Tidak ada pedoman


Perilaku dan kebiasaan individu yang terakumulasi dan tidak
dikoreksi
Perilaku dari komunitas
Lingkungan yang tidak etis
Lingkungan : Kritik atas Kode Etik

Lingkungan Lingkungan
Internal Ekstrnal

Kritik terhadap
Kelemahan
Kode Etik
Akuntan
Lingkungan Internal Akuntan dan
Kode Etiknya (1)
Kode Etik Akuntan Publik murni diambil dari
kode etik Certified Public Accountant (CPA)
yang dikembangkan oleh American Institute of
Certified Public Accountant (AICPA)
Perumusan kode etik perlu
mempertimbangkan kepentingan-kepentingan
mendasar yang berkaitan dengan waktu,
keadaan, budaya dan keyakinan agama
Lingkungan Internal Akuntan dan
Kode Etiknya (2)
Pemahaman kode etik tergantung sekali dari
pemahaman dan tindakan sukarela anggota
Keberadaan individu dalam organisasi dan
peran organisasi dalam mempengaruhi
individu yang terlibat di dalamnya, menuntut
adanya suatu proses dalam penyediaan
pengalaman dan pembelajaran bagi individu-
individu tersebut.
Lingkungan Internal Akuntan dan
Kode Etiknya (3)
Akuntan menghadapi situasi yang kompleks
sehingga memaksa akuntan untuk mengkreasi
bentuk lain dari etika akuntan publik
Lingkungan Eksternal Akuntan dan
Kode Etiknya (1)
Pendidikan tinggi khususnya akuntansi
kebanyakan hanya memberikan kurikulum
yang berorientasi pada ilmu pengetahuan
rasional semata (Intelectual Quotient)
Tidak dilakukan pengawasan terus menerus
atas pelaksanaan kode etik tersebut, terutama
oleh rekan seprofesi dan masyarakat umum.
Lingkungan Eksternal Akuntan dan
Kode Etiknya (2)
Menggantungkan harapan kepada pemerintah
untuk dapat melakukan pengawasan atas
pelaksanaan kode etik profesi akuntan
tersebut tidak tepat = > kode etik dibuat oleh
profesi dan untuk profesi
upaya lebih lanjut perlu dilakukan dengan
memasukkan kode etik sebagai salah satu
komponen dalam pengembangan (sistem)
etika.
Sarbanes oxley act: jawaban atas berbagai
skandal keuangan di amerika serikat
Undang-undang tersebut diprakarsai oleh Senator Paul Sarbanes
(Maryland) danRepresentative Michael Oxley (Ohio). Undang-undang
ini diterbitkan sebagai jawaban dari Kongres Amerika Serikat terhadap
berbagai skandal pada beberapa korporasi besar seperti:
Enron dan kemudian diikuti oleh WorIdCom, Qwest, Tyco,
HeaIthSouth dan lain-lain, yang juga melibatkan beberapa Kantor
Akuntan Publik (KAP) yang termasuk dalam kelompok lima besar
"the big five" seperti: Arthur Andersen.
Semua skandal ini merupakan contoh yang tragis dan menyedihkan
bagaimana skema kecurangan (fraud schemes) berdampak sangat
buruk terhadap pemegang saham, pasar, pegawai dan masyarakat
dalam arti luas
Legalisasi Sarbanes oxley act 2002
Presiden Walker Bush mengesahkan suatu undang-undang yang
tersebut dengan maksud untuk meningkatkan kepercayaan publik
terhadap pasar modal dan menetapkan kewajiban dan hukuman yang
berat bagi perusahaan publik dan para eksekutif, direksi, auditor,
pengacara, dan analis saham yang melanggar aturan yang telah
ditetapkan
Undang-undang ini merupakan reformasi terbesar di USA bagi penilaian
corporate governance sejak diterbitkannya Securities Acts of 1933 and
1934.
Merupakan suatu keharusan bagi para akuntan, auditor dan fraud
examiners untuk mempelajari undang-undang ini, dan termasuk juga
Statement on Auditing Standards (SAS) No. 99, agar mengetahui
pengaruhnya bagi organisasi publik, swasta maupun jenis organisasi yang
lain serta tanggung jawab apa saja yang menjadi kewajibannya.
Isi Pokok dari Sarbanes-Oxley Act (1)
Membentuk independent public company board untuk mengawasi audit
terhadap perusahaan public yakni PCAOB (Public Company Accounting
Oversight Board)
Mensyaratkan salah seorang anggota komite audit adalah orang yang ahli
dalam bidang keuangan
Mensyaratkan untuk melakukan full disclosure kepada para pemegang
saham berkaitan dengan transaksi keuangan yang bersifat kompleks.
Mensyaratkan Chief Executive Officer (CEO) dan Chief Financial Officer
(CFO) perusahaan untuk melakukan sertifikasi tentang validitas
pembuatan laporan keuangan perusahaannya, Jika diketahui mereka
melakukan laporan palsu, mereka akan dipenjara selama 20 tahun dan
denda sebesar US$5 juta
Melarang kantor akuntan publik dari tawaran jasa lainnya, seperti
melakukan konsultasi, ketika rnereka sedang melaksanakan audit pada
perusahaan yang sama. Hal ini untuk menghindari adanya benturan
kepentingan (conflict of interest)
Isi Pokok dari Sarbanes-Oxley Act (2)

Mensyaratkan adanya kode etik, terdaftar pada Securities and Exchange


Commission (OJK), untuk para pejabat keuangan (financial officer)
Ancaman hukuman 10 tahun penjara untuk pelaku kecurangan wire and
mail fraud.
Mensyaratkan mutual fund professional untuk menyampaikan suaranya
pada wakil pemegang saham, sehingga memungkinkan para investor
untuk mengetahui bagaimana saham mereka berpengaruh terhadap
keputusan.
Memberikan perlindungan kepada individu yang melaporkan adanya
tindakan menyimpang kepada pihak yang berwewenang.
Mensyaratkan penasehat hukum perusahaan untuk mengungkap adanya
penyimpangan kepada pejabat senior dan kepada dewan komisaris, jika
perlu; penasehat hukum tersebut berhenti untuk bekerja sama dengan
perusahaan jika manajer senior tersebut mengabaikan laporan tersebut
Isi Pokok SAS 99 (PSA 70 -SA Seksi 316)
Auditor Responsibility for Fraud Detection
Penjelasan mengenai fraud dan karakteristiknya
Auditor dan yang diaudit (auditee) harus melakukan
brainstorming untuk mendiskusikan apa saja
kemungkinan fraud dalam laporan keuangan auditee
Auditor harus mengumpulkan informasi terkait dengan
risiko fraud dalam laporan keuangan.
Auditor harus mengevaluasi program dan kontrol
perusahaan dalam mengurangi risiko fraud dalam laporan
keuangan
Auditor harus melakukan evaluasi resiko fraud dalam
laporan keuangan pada keseluruhan proses audit yang
dilakukan. Harus dipertimbangkan juga apakah ada
prosedur atau observasi audit yang berpengaruh pada
hasil evaluasi tersebut
Mengharuskan auditor untuk mengkomunikasikan
temuan fraud kepada manajemen, komite audit, dan
pihak lain, tidak tergantung besar-kecil nilai fraud
Rekonstruksi Kode Etik Akuntan
Suatu kode etik akan mejadi hilang maknanya apabila
diterjemahkan sebagai aturan ketat dan memaksa. Lebih
lanjut jika Etika ditempatkan hanya sebagai simbol
formal profesional dan tidak dapat menjadi ruh bagi
pengembangan profesionalisme (Ludigdo, 2007:239)
dalam Temalagi (2011).
Idealnya, seorang akuntan profesional adalah homo
spiritus. dimana dalam Homo spiritus memiliki empat
elemen metafisik, yaitu, keinginan (nafsu), kecerdasan
(akal), hati (rasa), dan hati nurani atau ruh (Triyuwono,
2014).
Alternatif Kode Etik Akuntan
Kecerdasan
Emosional Etika profesi akuntan berbasis ESQ
Spiritual
Jurnal : Penerapan Etika Profesi Berbasis ESQ
Dalam Meningkatkan Profesionalisme Akuntan
Indonesia. Selva Temalagi, 2011.

Kesadaran
Etika profesi akuntan berbasis
Ilahi
Kesadaran Homo Spiritus
Jurnal : Awakening the conscience inside: the
spirituality of code of ethics for professional
accountants. Iwan Tiyuwono, 2014.
Etika profesi akuntan berbasis ESQ (1)
Kesadaran untuk mematuhi kode etik dan adanya penguatan
personalitas yang dapat dilakukan dengan memperhatikan dan
mengembangkan potensi emosionalitas (EQ) dan spiritualitas
(SQ), dengan kecerdasan ini maka auditor/akuntan mampu:
Menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan
interpersonal
Menjembatani kesenjangan antara diri pribadi dan orang lain
Mempunyai pemahaman tentang siapa dirinya sebenarnya
dan apa makna segala sesuatu bagi dirinya, dan bagaimana
semua itu memberikan suatu tempat di dalam dunianya
kepada orang lain dan makna-makna mereka.
Meningkatkan profesionalisme akuntan Indonesia dimasa
mendatang yang penuh dengan tantangan.
Etika profesi akuntan berbasis ESQ (2)
Cooper & Sawaf, Agustian (2001; 289) dalam Ludigdo (2005)
menyebutkan bahwa EQ adalah kemampuan merasakan,
memahami, dan secara efektif menerapkan daya serta kepekaan
emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh
manusiawi

SKILLs

kemampuan mendengarkan kepercayaan diri


berkomunikasi lisan motivasi
adaptasi kerjasama tim
kreatifitas, ketahanan mental keinginan untuk memberi
terhadap kegagalan kontribusi pada yang lainnya
Etika profesi akuntan berbasis ESQ (3)
SQ merupakan kecerdasan yang berkaitan dengan hal-hal
transenden, serta hal yang mengatasi waktu. Kecerdasan spiritual
adalah kecerdasan jiwa, di mana dia dapat membantu manusia
untuk menyembuhkan dan membangun dirinya secara utuh

SKILLs

Motivasi terkuat dalam hidup bagi orang


beragama adalah Tuhan
SQ diperlukan bagi akuntan atau auditor
dan professional lainnya agar tidak
terperosok pada situasi yang jauh dari
perilaku etis
Etika profesi akuntan
berbasis Kesadaran Homo Spiritus (1)
Seorang manusia yang sempurna (homo spiritus atau
insan kamil) adalah orang yang memiliki kesadaran
ilahi. Ini adalah kesadaran holistik yang ditandai
dengan kehendak-benar mematuhi Allah berdasarkan
hati nurani (God-Spot) bukan berdasarkan ego manusia
yang melibatkan keinginan, kecerdasan akal, dan hati).
Ini adalah pencapaian tertinggi manusia untuk menjadi
manusia yang sempurna. Dalam kesadaran, seseorang
telah melampaui ego manusia, sehingga dapat
dijadikan model yang dapat dimanfaatkan untuk
merekonstruksi prinsip-prinsip dasar kode etik untuk
akuntan profesional yang paling tinggi adalah kehendak
ilahi.
Etika profesi akuntan
berbasis Kesadaran Homo Spiritus (2)
Internalisasi
Etika profesi akuntan
berbasis Kesadaran Homo Spiritus (3)
Eksternalisasi