Anda di halaman 1dari 81

Kelompok 6

Aditha Dwiputra Imam Jervis - Shobrun

ALKILASI
&
POLIMERASI
KONVERSI HIDROKARBON

Diartikan sebagai proses penyusunan kembali struktur hidrokarbon dengan tujuan untuk memperoleh jenis fraksi
yang diinginkan dan sesuai dengan permintaan pasar.
Alkilasi diartikan sebagai penambahan gugus alkil pada suatu struktur kimia.
Polimerisasi adalah reaksi kombinasi material tak jenuh menghasilkan produk dengan berat molekul lebih tinggi
daripada sebelumnya.
ALKILASI
Definisi: Penambahan gugus alkil pada isoparafin dengan BM
ringan menjadi isoparafin dengan BM lebih berat

Tujuan: mencapai bilangan oktan yang lebih tinggi pada


gasoline

Olefin + Isobutana Alkilat (parafin bercabang)

Reaksi Alkilasi merupakan kebalikan dari proses Cracking


JENIS ALKILASI
Termis
T 950 oF
P: 3000-5000 psia
Reaksi Alkilasi
Katalitik
T: 30-105 oF
P: 14.7-150 psig
ALKILASI TERMIS
PENGOLAHAN ETILENA YANG DIIKUTI PROPILENA, BUTENA DAN
ISOBUTILENA DENGAN BANTUAN PANAS MEMBENTUK
NEOHEKSANA.
MULAI DITINGGALKAN KARENA KEKURANGAN BERIKUT:
ETILENA ADALAH OLEFIN YANG PALING SEDIKIT TERSEDIA
PROSESNYA MEMERLUKAN TEKANAN YANG TINGGI
PROSES
ALKILASI
TERMIS
KATALIS ALKILASI

2 4 (Asam T = 5-21C (40-70oF)


Sulfat) > 88% weight

HF (Asam T = 21-38C (70-100oF)


Hidrofluorida) > 88% weight
KATALIS HF BEKAS DAPAT DIREGENERASI SECARA EKONOMIS DAN SUHU
REAKSI DAPAT LEBIH TINGGI DARI KATALIS H2SO4.
KATALIS H2SO4 LEBIH SENSITIF TERHADAP SUHU DIBANDINGKAN KATALIS
HF.
VOLUME CAIRAN ASAM YANG DIGUNAKAN SETARA DENGAN JUMLAH
CAIRAN HIDROKARBON.
RASIO ISOPARAFIN/OLEFIN TINGGI (4:1 HINGGA 15:1) MEMINIMALISIR
POLIMERISASI.
MEKANISME REAKSI
ALKILASI
REAKSI OLEFIN DENGAN ISOPARAFIN DALAM ALKILASI
(1) & (2) Initiation to form tert-butyl cation

(3) sec-butyl ion may isomerize instead of forming cation as in reaction (2)
(4) Reaction of tert-butyl cations with 2-butene

(5) Reaction of trimethylpentyl cations


(6) Formation of dimethylhexanes

(7) The Formation of new tert-butyl cation continues the chain


VARIABEL PROSES
Suhu Keasaman

Konsentrasi Olefin Space


Isobutana Velocity
SUHU
SEMAKIN TINGGI SUHU, MAKA SEMAKIN
RENDAH ANGKA OKTAN YANG DIHASILKAN.
SUHU RENDAH MEMILIKI KUALITAS OKTAN
LEBIH BAIK.
KATALIS H2SO4: PERUBAHAN SUHU 25 HINGGA
55OF MENGURANGI 1-3 ANGKA OKTAN.
KATALIS HF: PERUBAHAN SUHU 60 HINGGA
125OF MENGURANGI SEKITAR 3 ANGKA OKTAN.
Keasaman
TIAP JENIS REAKTAN MEMILIKI KARAKTERISTIK
YANG BERBEDA TERHADAP KUALITAS ALKILAT DI
KEASAMAN YANG SAMA.
KUALITAS ALKILAT TERBAIK TERCAPAI SAAT
KONSENTRASI KEASAMAN SEKITAR 92-93%.
SEMAKIN TINGGI KONSENTRASI AIR DALAM ASAM,
MAKA SEMAKIN MENURUNKAN AKTIVITAS KATALIS.
JIKA MENGGUNAKAN HF, OKTAN TERTINGGI
BIASANYA DICAPAI PADA RANGE KEASAMAN: 85-
90% BERAT.
KONSENTRASI ISOBUTANA

RASIO ISOBUTANA/OLEFIN (I/O) YANG TINGGI AKAN


MENINGKATKAN BIALNGAN OKTAN SERTA
MENGURANGI TERJADINYA POLIMERISASI.
DI INDUSTRI, RASIO I/O PADA REAKTOR
BERVARIASI DARI 5:1 HINGGA 15:1
OLEFIN SPACE VELOCITY

=

WAKTU KONTAK DENGAN KATALIS HF: 5-25 MENIT
WAKTU KONTAK DENGAN KATALIS H2SO4: 5-40 MENIT
MENURUNKAN OLEFIN SPACE VELOCITY BERARTI MENGURANGI
JUMLAH HIDROKARBON BERTITIK DIDIH TINGGI YANG DIPRODUKSI DAN MENINGKATKAN
ANGKA OKTAN PRODUK.
OLEFIN SPACE VELOCITY
MRSTIK, SMITH, DAN PINKERTON MENGEMBANGKAN FAKTOR KORELASI, F, YANG BERGUNA DALAM MEMPREDIKSI
KECENDERUNGAN PADA KUALITAS ALKILAT DIMANA VARIABEL-VARIABEL OPERASI BERUBAH.
/
=
100
DIMANA:
IE = ISOBUTANA DALAM REACTOR EFFLUENT, (LIQUID VOLUME %)
(I/O)F = RASIO VOLUMETRIK ISOBUTANA DENGAN OLEFIN DALAM FEED
(SV)O = SPACE VELOCITY DARI OLEFIN (V/HR/V)
SEMAKIN TINGGI NILAI F, SEMAKIN BAIK KUALITAS ALKILAT. NILAI NORMAL DARI F BERKISAR ANTARA 10 HINGGA 40.
FEED ALKILASI
Propilena
(C3)
Butilena
Olefin
(C4)
Amilena
Feed
(C5)
Isobutana
Isoparafin
(i-C4)
HF H2SO4
Isobutane concentrations
Vol % in reaction zone 30-80 40-80
External ratio to olefins 3-12 3-12
RANGE OF
Internal ratio to olefins -- 50-1,000
OPERATING
Olefin concentration
VARIABLES
Total HC contact time, min 8-20 20-30
IN
Olefin space velocity, v/hr/v -- 0,1-0,6
ALKYLATION
Reactor temperature 60-115 35-60
0F 60-115 35-60
0C 16-46 2-16
Reactor acid conc, wt % 80-95 88-95
PRODUK ALKILASI
Produk Alkilasi
Cairan propana kualitas LPG

Cairan n-butana

Alkilat

Tar (Sedikit, hasil polimerisasi)


Yield dan Angka Oktan Berdasarkan
Jenis Umpan Olefin

DENGAN
KATALIS
H2SO4

DENGAN
KATALIS HF
Katalis Alkilasi
High Octane
Olefin Isoparrafin
Isoparrafin

Katalis

H2SO4 HF

Kekuatan asam harus dijaga diatas 88%wt


Asam yang konsentrasinya kurang, diredestilasi
Konsumsi asam umumnya berkisar 13-30lb per
barrel alkilat yang dihasilkan
Alkilasi Asam Florida (HF)

Dalam proses ini, olefin berperan sebagai


pereaksi pembatas dan isoparrafin
sebagai senyawa sisa.
Umpan terlebih dahulu melalui proses
dehidrasi.
Kemudian Olefin, Isobutana, dan Asam
Florida direaksikan.
Asam florida di generasi pada unit acid
settler, acid return column, dan acid
stripper.
Hasil akhir dari proses adalah n-butane
dan alkylate.
Skema Reaktor
Hasil Proses

Laju sirkulasi asam = 8 sampai 10 kali laju feed


hidrokarbon
Sirkulasi asam didasarkan pada diferensial
gravitasi

Pada peralatan yang dialiri asam, materialnya


adalah logam Monel atau baja yang dilapisi
Monel.
Bagian lainnya berbahan dasar carbon steel.
Alkilasi Asam Sulfat (H2SO4)

Dalam proses ini, olefin berperan


sebagai pereaksi pembatas dan
isoparrafin sebagai senyawa sisa.
Reaktor terdiri dari CSTR series, dimana Kondisi operasi:
feed asam pada CSTR pertama, dan P = 10 psig
(olefin + i-butane) pada CSTR yang T = 40oF (5oC)
berbeda.
Terdapat dua keluaran alkilasi reaktor,
(top) isoparrafin rich organic phase dan
(bottom) alkylate rich phase.
Selanjutnya kedua stream mengalami
proses purifikasi lanjut.
Faktor Pemilihan Alkilasi
Lokasi unit pengolahan dengan supplier asam

Initial capital cost

Fleksibilitas kondisi operasi

Biaya operasi

Kualitas alkylate

Reaktan yang tersedia


Asam Fluorida Asam Sulfur
Desain reaktor lebih kecil dan Produk yang dihasilkan kualitasnya lebih
sederhana baik
Seluruh hidrokarbon yang mengalir
Menggunakan air pendingin (tidak
dinetralisasi (penambahan beberapa
harus refrigeration)
peralatan)
Tidak membutuhkan proses tambahan
Settler yang digunakan lebih kecil dibandingkan alkilasi HF (drier dan
deflourinator)
Regenerasi asam fluoride yang Biaya pemeliharaan dan jumlah
lengkap peralatan pengaman lebih sedikit
Kondisi operasi fleksibel (suhu dan
Initial capital cost lebih rendah
external ratio dari isobutana ke olefin)
Berkurangnya pengadukan saat asam Seluruh isobutana digunakan untuk
dan hidrokarbon digabung memproduksi alkylate
Syarat untuk mendapatkan alkylate
Uap HF beracun, membutuhkan
dengan bilangan oktan yang tinggi
parameter keselamatan lebih
lebih sedikit
Pada dasarnya, semua teknologi yang berkaitan dengan
proses alkilasi memiliki inti proses yang sama. Yang berbeda
dari teknologi satu dengan lainnya adalah efisiensi proses,
penambahan sebuah zat, fasa katalis, dan kondisi operasi
untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Umpan olefin digabungkan dengan
isobutana hasil recycle dimasukkan ke

AlkyClean
reaktor
AlkyClean menggunakan katalis asam

(Lummus Technology)
padat dengan tujuan lebih ramah
lingkungan
Regenerasi katalis dengan injeksi steam
AlkyClean tidak menghasilkan Acid
Soluble Oils (ASO) dan tidak
membutuhkan treatment tambahan
untuk final product

Produk: alkylate dengan RON 93 sampai


98, tergantung pada kondisi operasi dan
komposisi umpan

Digunakan pada Unit Neste Oils Porvoo,


Finland Refinery
RHT-Alkylation
(Refining Hydrocarbon Technologies LLC)

Mereaksikan olefin C3-C5 dengan


isobutana menggunakan katalis
asam sulfur.
Menggunakan mixer yang unik
(educator) dengan suhu rendah
(25-30oF) pada kondisi isothermal.
efektif dari segi ekonomi
Suhu yang rendah membuat
konsumsi asam menjadi lebih
sedikit
UOP Indirect Alkylation (InAlk)
Isobutene bereaksi dengan dirinya
sendiri atau dengan olefin C3-C5
melalui poliisomerisasi.
Hasilnya akan di hidrogenasi agar
membentuk paraffinic gasoline
blendstock dengan bilangan
oktan yang tinggi
Katalis: resin atau solid phosphoric
acid (SPA) untuk poliisomerisasi
olefin.
Resin: mengubah isobutene Feed: olefin ringan dari FCC, olefin dari
SPA: mengubah n-butane steam-cracker, dan olefin iC4
dehidrogenasi.
Bagian yang jenuh menggunakan
InAlk merupakan kelanjutan dari
katalis berbahan dasar logam catalytic condensation UOP dan
atau logam mulia. teknologi saturasi olefin.
UOP ReVap
Menggunakan teknologi alkilasi
dengan asam fluoride
Mengurangi pembentukan aerosol
saat pelepasan HF
Merupakan proses mitigasi apabila
terbentuk aerosol dari kebocoran
manapun saat HF dimasukkan ke
dalam sistem.
UOP Alky Plus

Menggabungkan olefin C3-C5


dengan isobutana untuk
menghasilkan bensin.
Menggunakan katalis HF termodifikasi
dan proses UOP ReVap.
Gravity flow design agar tidak
memerlukan catalyst circulation
pump.
Tidak memerlukan peralatan
refrigerasi untuk menjaga suhu reaktor
tetap rendah.
CDAlky (Lummus Technology)
Kelebihan:
Konsumsi asam yang lebih rendah
Sistem yang tidak kompleks
Biaya operasi lebih murah
Lebih ramah lingkungan
Produk memiliki bilangan oktan yang
lebih tinggi
Kondisi operasi yang sangat fleksibel
Ancaman korosi lebih rendah karena
sistem yang kering
Tidak ada limbah kaustik.
POLIMERISASI
Polimerisasi

Reaksi kombinasi senyawa tak jenuh untuk menghasilkan produk


dengan berat molekul lebih tinggi

Menghasilkan produk oligomer olefin berangka oktan 93-100

Umpan olefin : propilena dan butilena

Katalis : Solid phosphoric acid


REAKSI POLIMERISASI
Reaksi Polimerisasi

Polimerisasi Kondensasi

Polimerisasi Adisi
Polimerisasi Kondensasi

Polimerisasi yang terjadi pada zat bermassa


molekul rendah, dimana terjadi pada molekul
bergugus fungsi dan membentuk molekul besar
bergugus fungsi banyak dan molekul kecil (air)
Polimerisasi Adisi

Polimerisasi yang melibatkan reaksi


rantai dan disebabkan oleh radikal
bebas atau ion
Tahapan Polimerisasi Adisi

Inisiasi

Propagasi

Terminasi
JENIS POLIMERISASI
Jenis Polimerisasi

Polimerisasi Termal

Polimerisasi Katalitik
Polimerisasi Termal

Tidak se-efektif polimerisasi katalitik

Dapat mempolimerisasi material jenuh


yang tidak bereaksi dengan katalis

Berlangsung pada suhu tinggi, 510-


590oC
Polimerisasi Katalitik

Feed
Pre- Poly
from Reactor Stabilization
treatment Gasoline
olefin
cracker
Skema Polimerisasi Katalitik
Katalis: Solid
phosphoric acid
on kieselguhr
pellets (SPA) Untuk mengontrol suhu
karena reaksi bersifat
eksotermis

Kondisi Operasi
Suhu: 300-450oF (150-230oC)
Menuju gasoline blending
Tekanan: 200-1200 psig (1480-8375 kPa)
TEKNOLOGI POLIMERISASI
UOP Solid Phosporic Acid Polymerization

FEED

Dikontakkan
dengan larutan Di scrubbed
Mengandung Dikeringkan
amina untuk dengan air
propana dan melalui silika Ditambah air
menghilangkan untuk
butana serta gel atau untuk promosi
H2S dan caustic menghilangka
proepana dan molecular ionisasi asam
washed untuk n kaustik dan
butena. sieve bed
menghilangkan amina
mercaptans.
UOP Solid Phosporic Acid Polymerization

Kondisi Operasi:

Suhu Tekanan Space


400-1500 psi
300-425oF 0.3 gal/lb (2.5
(2760-10340
(175-235oC) 1/kg-hr)
kPa)
UOP Solid Phosporic Acid Polymerization

Suhu dikendalikan dengan


menginjeksikan propana
Reaksi quench dingin
generasi steam
atau

Eksotermis Propana dan butana


berperan sebagai diluents
dan penyerap panas
UOP Solid Phosporic
Acid Polymerization
Unit
DIMERSOL Polymerization

Homogeneous
aluminium alkyl
catalyst DIMATE
PROPENE
(isohexane)

Feed Impurities
FEED Component ppm Keuntungan
H2O 3 Capital cost rendah
Acetylene 15 karena beroperasi
Sulfur 5 pada tekanan rendah
Propadiene 1
Butadiene 10
DIMERSOL
Polymerization Unit
Teknologi Polimerisasi
NExOCTANETM TECHNOLOGY

Teknologi NExOCTANETM dikembangkan untuk memproduksi


isooctene
Program pengembangan teknologi dimulai pada 1997 di pusat
riset Fortum di Porvoo, Finlandia untuk memproduksi isooctene
kualitas tinggi.
Kemunculan kasus polusi MTBE pengembangan dialihkan untuk
mengganti unit MTBE yang telah ada untuk memproduksi
isooctene dan isooctane untuk gasoline blending.
PROCESS CHEMISTRY

Dimerisasi isobutilen dengan


katalis resin pertukaran ion
asam.
Reaksi dimerisasi
membentuk dua isomer
trimetilpentana (TMP), atau
isooctene
NExOCTANETM PROCESS
UTILITAS DALAM PROSES NEXOCTANE
ALKILASI DAN POLIMERISASI
PERTAMINA RU III PLAJU
Unit Alkilasi dan Polimerisasi Di Indonesia
PERTAMINA RU II DUMAI

UNIT
High Vacuum Unit (HVU)
Delay Coking Unit (DCU)
Distillate Hydro Treating Unit
(DHTU)
Hydro Cracking Unit (HCU)
Naphtha Hydro Treating Unit
(NHDT)

Crude Distillation Unit (CDU)

Tidak ditemukan Unit Alkilasi dan Polimerisasi


Unit Alkilasi dan Polimerisasi Di Indonesia
PERTAMINA RU III PLAJU

UNIT
Fluid Catalytic Cracking Unit
High Vacuum Unit (HVU)
Crude Distillation Unit (CDU)

Polymerization Unit

Alkylation Unit

Stabilizer

Gas compressor and BB


Distiller

Terdapat Unit Alkilasi dan Polimerisasi


Unit Alkilasi dan Polimerisasi Di Indonesia
PERTAMINA RU IV CILACAP

UNIT
Crude Distillation Unit (CDU)
High Vacuum Unit (HVU)

Naphtha Hydro Treating (NHT)

Hydro Desulfurization (HDS)


Hydro Treating Unit (HTU)
AH. Unibon

Thermal Hydro Treating (THDT)

Visbreaker

Tidak ditemukan Unit Alkilasi dan Polimerisasi


Unit Alkilasi dan Polimerisasi Di Indonesia
PERTAMINA RU V BALIKPAPAN

UNIT
Crude Distillation Unit (CDU)
High Vacuum Unit (HVU)

Naphtha Hydro Treating (NHT)

Hydro Cracking Unit (HCU)


Wax Plant
Platformer

Tidak ditemukan Unit Alkilasi dan Polimerisasi


Unit Alkilasi dan Polimerisasi Di Indonesia
PERTAMINA RU VI BALONGAN

UNIT
Crude Distillation Unit (CDU)
Hydro Treating Unit (HTU)

Hydro Demetallization (ARHDM)

Gas Oil Hydro Treating Unit


(GO HTU)
Light Crude Oil Naphtha
Treating Unit (LCO NTU)
LPG Treatment Unit
Gasoline Treatment Unit

Tidak ditemukan Unit Alkilasi dan Polimerisasi


Unit Alkilasi dan Polimerisasi Di Indonesia
PERTAMINA RU VII KASIM

UNIT

Crude Distillation Unit (CDU)

Naphtha Hydro Treating Unit (NHTU)

Catalytic Reforming Unit (CRU)

Tidak ditemukan Unit Alkilasi dan Polimerisasi


UNIT ALKILASI DAN POLIMERISASI
PERTAMINA RU III PLAJU

UNIT Bahan penunjang pabrik


PRODUKSI I Produk BBM

UNIT Produk non BBM


PRODUKSI II
UNIT ALKILASI DAN POLIMERISASI
PERTAMINA RU III PLAJU
Unit Produksi I
Unit Utilitas (UTL)
Kilang Crude Distilling and Gas Plant (CD&GP)
Kilang Crude Distiller and Light Ends (CD&L)

Unit Produksi II
Kilang terephthalic acid/ purified terephthalic
acid (TA/PTA)
Kilang polypropylene (PP)
KILANG CRUDE DISTILLING AND GAS PLANT
(CD&GP)
Proses Unit Operasi
Crude Distiller II, III, IV, dan V
Stabilizer C/A/B
Straight Run Motor Gas Compressor
Primer
Butane Butylene Motor Gas Compressor
Butane Butylene Distiller
Sekunder Polimerisasi
Alkilasi
BB Treater
Treating Caustic Treater
Sulfuric Acid Unit
Straight Run Motor Gas
Compressor

Butane Butylene Motor


Gas Compressor
Butane Butylene Distiller
KILANG CRUDE DISTILLING AND GAS
PLANT (CD&GP)
POLIMERISASI

UMPAN
KONDISI OPERASI
BB Treater
FCCU Kilang CD&L PRODUK
Katalis : P2O5 (solid
Komposisi : phosphoric acid, SPA
Residual butane
Butilen, propilen, Kapasitas Produksi : butylene (Res-BB)
propana, butana dan 30 ton/hari/converter
high octane mogas
isobutana P : 30.97 atm component, HOMC
T : 160 C Komposisi :
campuran isobutena,
n-butana
Feed :Umpan
BB
KILANG CRUDE DISTILLING AND GAS PLANT
(CD&GP)
ALKILASI
UMPAN OPERASI PRODUK

Unit polimerisasi Katalis : Asam Alkilat


(RBB) Sulfat (2,3,4-trimetil
FCCU Kilang CD&L Kapasitas Produksi pentane)
BB Treater : 2 MBSD Refinery Gas dan
Komposisi : LPG
Isobutana, kerosene
isobutena, 2- Komposisi:
butilen, propilien, Propana,
butena, propana. isobutana, butana
TK 1207

Final Reactor Feed Caustic Feed Reactor Acid


separator Blend Tank Settler Separator

NaOH

Acid
iC4
Recycle

Deisobutan
1-1 Depropan Stabilizer Rerun
1-2 1-3 1-4
PERBEDAAN ALKILASI DAN POLIMERISASI
Proses Polimerisasi Alkilasi
Tujuan Untuk polymerisasi propena Reaksi olefin ringan
dan butena membentuk (propilen dan butilen)
gasoline beroktan tinggi dengan isoparafin
(isobutana) untuk gasoline
beroktan tinggi
Katalis Solid phosphoric acid Sulfuric acid
Fluoride acid
Kondisi operasi P : 200 1200 psi Temperatur rendah
T : 300 450 F