Anda di halaman 1dari 34

CASE REPORT

JUDUL

Oleh:
AFFAN

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH FAKULTAS


KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
Pendahuluan

Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul yang


Trauma cukup keras, pada kecelakaan lalu lintas
wajah

Menimbulkan masalah pada medis


dan kehidupan sosial Mobilitas dan maloklusi merupakan
hallmark adanya fraktur maksila. Namun,
kurang dari 10 % fraktor Le Fort dapat
terjadi tanpa mobilitas maksila.
Pendahuluan
Pendahuluan
membantu ahli bedah dalam menegakkan
diagnosis
Anamnesis : riwayat cedera, Pemeriksaan Fisik
seperti inspeksi, palpasi

Manipulasi Digital

Cerebrospinal rhinorrhea atau otorrhea

Maloklusi Gigi

Pemeriksaan Radiologi
Penatalaksanaan

Fiksasi Akses Fiksasi Reduksi Fraktur


Maksilomandibular

Stabilisasi Plat dan Cangkok Tulang Primer Pelepasan Fiksasi


Sekrup Maksilomandibular

Perawatan Post
Resuspensi Soft tissue operative Fraktur
Maksila
KELUHAN UTAMA

Nyeri pada rahang atas kiri


RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
4 hari SMRS pasien Tiba-tiba ada motor yang
An. F, 16 tahun, datang ke kecelakaan ketika sedang menyalip dari kiri
IGD RSDM pada mengendarai motor tanpa sehingga pasien terjatuh,
24/4/2016 menggunakan helm posisi terjatuh tidak
standard diketahui

Namun, karena Setelah kejadian apsien


keterbatasan sarana dibawa oleh penolong ke Pasien sempat pingsan
pasien disarankan ke Rsi Kustati lalu dirawat, dan kejang. Riwayat
RSUD Dr. Moewardi. diberi obat, di foto muntah disangkal
rontgen dan CT Scan.
PRIMARY SURVEY
Airway : bebas
Breathing : frekuensi nafas 20 kali per menit,
pengembangan dada kanan dan kiri sama
Circulation : tekanan darah 110/70 mmHg,
frekuensi nadi 78 kali per menit
Disability : kesadaran composmentis GCS
E4V5M6, pupil isokor (3mm/3mm)
Exposure : tampak jejas (+)
Secondary Survey Kepala
Inspeksi : tidak tampak
swelling maupun hematom
Palpasi : maxilla goyang (-),
nyeri tekan tragus (-), gigi
patah (-), nyeri tekan maxilla
(+), krepitasi (-)
Mata tidak ada kelainan

Leher : tidak ada kelainan


Telinga : tidak ada kelainan
Hidung : tidak ada kelainan
Mulut : tidak ada kelainan
Thoraks
Inspeksi : pengembangan
dada kanan dan kiri sama
Palpasi: krepitasi (-)
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar
vesikuler (+/+)

Genital : tidak ada kelainan

Abdomen
Inspeksi : jejas (-), distensi (-
)
Extremitas Auskultasi : bising usus (+)
Inspeksi : regio genu dekstra Perkusi : tympani
tampak vulnus ekskoriasi Palpalsi : nyeri tekan (-)
diameter 2cm
Palpasi : krepitasi (-), ROM
aktif full
Kondisi pasien saat datang ke IGD (preoperatif)
Rontgen Kepala dari RSI Kustati
Hasil CT Scan RSI Kustati
Pasien didiagnosis dengan fraktur
arch zygomaticus sinistra,
maloklusi trismus

Plan diagnosis : pemeriksaan


laboratorium darah

Terapi awal : infus NaCl 0,9% 20


tpm, injeksi metamizol 1gram/8
jam, injeksi ranitidin 50mg/12 jam
Hasil lab 24/4/2016
Laboratorium Hasil
No.
1 Hb (g/dl) 12,9
2 Hct (mg%) 39
3 AE (106/ul) 5,13
4 AL (103/ul) 11,1
5 AT (103/ul) 267
6 GDS (mg/dl) 119
7 Natrium (mmol/L) 137
8 Kalium (mmol/L) 4,7
9 Chlorida (mmol/L) 104
10 PT/APTT 12,2/29,0
11 INR 0.960
12 HbsAg Nonreaktif
Pasien direncanakan tindakan operasi elektif
rearchduction of facial bone dengan anestesi
umum. Perawatan lanjutan:

Mondok bangsal

Oral hygiene

Diet cair

Pro ORIF elektif


Pasien kemudian dilakukan operasi rearchduction
of facial bone pada tanggal 26 April 2016 di
OK IGD.

Laporan operasi 26 April 2016


Operator : dr. Amru Sungkar, Sp.B, Sp.BP
Asisten :

Diagnosis: Fraktur arch zygomaticus (S) dengan


maloklusi trismus

Tindakan: Rearchduction of facial bone


Pasien dalam posisi 1.Dilakukan zigzag
supine, dalam general 1.Toilet medan insisi 3cm dari garis
anestesi, kepala miring operasi, tutup doek rambut. Buat flap
ke kanan steril berlubang sampai aponeurosis
galeal.

1.Cek trismus, 1.Tampak fraktur arch 1.Buka fasia m.


didapatkan sudah zygoma, dipasang temporalis, spilaqe
berkurang, kemudian mandible plate 5 hole otot temporalis,
dipasang drain. 4 screw dan 3 hole 2 perdalam sampai fr
screw. site.

1.Aproksimasi otot
temporalis, jahit fascia, Operasi selesai.
subcutis dan cutis.
Pembahasan

Trauma Abdomen

trauma trauma
tajam tumpul

Sclafani AP (2015) Kelainan Kongenital Telinga


Dinding abdomen, organ Berat ringannya trauma
padat (liver, pancreas, ginjal, abdomen tergantung pada
spleen), system vaskuler atau bagaimana mekanisme
organ terjadinya
genitourinaria/gastrointestinal

Dikategorikan : struktur yang Dapat menentukan mortalitas


mengalami kerusakan dan menentukan : operasi atau
tidak

(Offener et al, 2014)

Sclafani AP (2015) Kelainan Kongenital Telinga


PRIORITAS : tindakan Advanced
Trauma Life Support (ATLS)

Perhatikan: Airway> dengan


imobilisaasi cervical, Breathing dan
Circulation > dengan Kedua hal ini perlu di eklusikan
memperhatikan perdarahan, terlebih dahulu.
disability, dan exposure (Oestern et
al, 2011).

Pada pasien: tidak ada hambatan


jalan nafas, RR: 18x/ menit,
pengembangan dada simetris Perlu juga diperhatikan apakah
kanan=kiri, sirkulasi dbn, TD: terdapat masalah penyerta
129/77 mmHg dan HR: 88x/ lainnya, seperti pneumothoraks,
menit, kesadaran compos mentis, atau infark miokard akut.
dan exposure tampak jejas pada
bagian epigastrium
Pemeriksaan abdomen dengan
trauma abdomen yang sadar
>> keluhan nyeri dan rebound
tenderness
apakah terdapat
kemungkinan perdarahan
abdomen ataupun peritonitis
Bila didapatkan kemungkinan
peritonitis >> harus segera
dilakukan tindakan emergensi
tanpa memperhatikan tanda
vitalnya
Pada pasien di dapatkan:

keluhan nyeri,
palpasi : nyeri tekan
regio epigastrium,
tetapi tak ada
keluhan referred pain
dan dari inspeksi
ridak tampaka
danya distensi.
Jika hemodinamiknya stabil dapat Inspeksi : dapat menunjukkan lokasi
dilanjutkan dengan pemeriksaan trauma.Dapat dilihat apakah ini
fisik abdomen. merupakan luka masuk atau luka
keluar.

Trauma bagian anterior abdomen


lebih mudah untuk dilakukan
Dari auskultasi bising usus positif eksplorasi daripada trauma pada
dan perkusi timpani. Asukultasi dan bagian posterior dan area flank.
perkusi dalam batas normal. Pada pasien ini trauma terdapat
pada bagian anterior region
epigastrium sehingga lebih mudah
untuk dieksplorasi.
Setelah dilakukan primary dan secondary survey

px penunjang: foto X-ray,


eksplorasi luka lokal, FAST, DPL,
CECT, angiografi konvensional dgn
embolisasi & laparoskopi diagnostik

(Biffl and Leppaniemi, 2014)


Eksplorasi luka lokal tidak CECT scan paling dipilih
direkomendasikan -> tidak pada trauma yang masih
dapat mengeklusi kebocoran belum jelas. Misal pada
peritoneal/trauma oleh pasien dgn trauma panggul
karena senjata api/luka dan trauma kuadran atas
tembak abdomen

X ray tulang panjang, C-


spine, dan kolom vertebra,
FAST: tidak terlalu membantu bagian perut, pelvis, dan
seperti pada trauma tumpul thoraks dapat membantu
abdomen dalam penegakan diagnostik

(Offener et al, 2014)


Perlu dilakukan pemeriksaan
laboratorium :

pemeriksaan darah lengkap,


elektrolit, urea, tes fungsi
liver, profil pembekuan
darah, cross matching darah,
analisa gas darah, dan
pemeriksaan urin dipstick
Pada pasien: leukosit meningkat, 12.000/
L.

infeksi yang terjadi pada pasien.

dipengaruhi : waktu yang diperlukan untuk


membawa pasien ke RS sejak kejadian
trauma, daya tahan tubuh pasien, dan
benda tajam yang menembus perut pasien
Dalam beberapa literatur tidak ada Beberapa sumber penggunaan
kontroversi tentang penggunaan dan antiobiotik spektrum luas sebagai
durasi dari pemberian antibiotik pd preoperative dan lanjut 24 jam post
pasien trauma abdomen operasi

Pada pasien: ceftriaxone 1 gram


pada persiapan preoperative

(Offener et al, 2014)


Perdebatan mengenai lapratomi Tindakan laparotomi
dianggap memberikan solusi menjanjikan kestabilan
terbaik hemodinamik pasien, mencegah
peritonitis, eviserasi

Indikasi : pasien dengan


hipotensi, ketidak mampuan
mengeluarkan benda yang
masuk pada fasia anterior
melalui eksplorasi luka, eviserasi,
perdarahan dari abdomen,
rectum, atau traktus urinarius

(Oestern et al, 2011)


Indikasi dilakukan laparotomi pada
trauma
Tindakan
operasi
evakuasi corpal dan
eksplorasi dinding
abdomen.

Durante operasi
setelah dilakukan
insisi dan diperdalam
lapis demi lapis
hingga mencapai
corpus alienum

Evakuasi corpal
sepanjang 10 cm
diameter 0,5cm,
terbuat dari logam
Kesimpulan

Dasar bagi seorang dokter dalam


menangani pasien dengan trauma ->
perhatikan A-B-C
Penentuan diagnosis pada kasus trauma
abdomen -> foto rontgen (tulang
panjang, c-spine, kol. vertebra,
abdomen, pelvis dan thorax). Pada
pasien hanya di lakukan foto rontgen
thorax AP/Lat
Kesimpulan

Tidak ada konroversi mengenai


pemberian Ab pd pasien
Tindakan yang dilakukan : evaluasi
corpus alienum dan eksplorasi dinding
abdomen.
TERIMAKASIH