Anda di halaman 1dari 11

Ketentuan Hukum Penerbangan Internasional dan

Sejarah Perjuangan Indonesia dan Negara Khatulistiwa Dalam


Pemanfaatan Geo Stationary Orbit (GSO)

By :
Normiati
Siti Shabina Tandean
Yati Nurkhalifah
Konvensi mengenai Penerbangan Sipil Internasional atau Konvensi
Chicago Tahun 1944 (Convention Aviation Signed at Chicago on 7
Desember 1944)
mulai berlaku tanggal 7 April 1947
merupakan sumber hukum untuk Penerbangan Sipil Internasional
maupun Nasional.
Konvensi internasional yang mengatur penerbangan sipil internasional
dan telah mengikat 190 negara
bertujuan meningkatkan keamanan dan keselamatan penerbangan
Negara
peserta konvensi Chicago 1944 harus berupaya mengelola
penerbangan sipil (personil, pesawat, jalur penerbangan,dll) dengan
peraturan, standar, prosedur dan organisasi yang sesuai dengan
standart yang dibuat International Civil Aviation Organization (ICAO)
atau Organisasi Penerbangan Sipil Internasional.
Konferensi sidang menerima 3 (tiga) instrumen yaitu;
Konvensi mengenai penerbangan sipil internasional
Persetujuan mengenai transit jasa-jasa udara internasional
Persetujuan mengenai alat angkutan udara internasional.

Pasal 1 Konvensi Chicago :


The contracting Parties recognize that every sovereign state has complete
and exclusive sovereignty over the airspace above its teritory

Pasal 37 :
Each contracting State Undertakes to collaborate in securing the hiedghest
practicable degree of uniformity in regulation, standards, procedures, and
Organization inrelation to aircraft, personnel, airways and auxiliary
services in all matters in which such uniformity will facilitate and improve
navigation
Persetujuan Transit Udara Internasional (IASTA/International Air Transit
Agreement)
1) Hak untuk terbang melintasi wilayah Negara lain tanpa melakukan
pendaratan.
2) Hak melakukan pendaratan di Negara lain untuk keperluan
Operasioanl (Technical Landing) dan tidak berhak untuk mengambil
dan menurunkan penumpang dan/ ataupun kargo secara komersial.

Persetujuan Transportasi Udara Internasional (IATA/International Air


Transport Agreement)
1) Hak untuk mengangkut penumpang, kargo, dan pos secara komersial
dari Negara pendaftar pesawat udara ke Negara pihak yang lainnya.
2) Hak untuk mengangkut penumpang, kargo dan pos secara komersial
dari Negara yang berjanji lainnya ke Negara pesawat udara yang
didaftarkan.
3) Hak untuk mengangkut penumpang, kargo, dan pos secara komersial
dari atau negara ketiga diluar negara yang berjanji.
Perjanjian Warsawa Tahun 1929
Ditandatangani pd 12 oktober 1929 di Warsawa Convention for
the Unification of Certain Rules Relating to International
Carriage by Air,

Mengatur dua hal pokok :


1) Mengenai Dokumen Angkatan Udara
2) Mengenai masalah tanggung jawab pengangkut udara
Internasional.
Konvensi Yang Mengatur Mengenai Kejahatan Dalam
Penerbangan (Hijacking)

1. Konvensi Tokyo tentang pelanggaran dan Tindakan tertentu


lainnya dalam Penerbangan (Convention and Certain Other
Acts Committe on Board Aicraft) Tahun 1963
2. Konvensi The Haaque tentang perlindungan pesawat udara
dari tindakan melawan hukum (Convention for the Supression
of Unlawfull Seizure of Aircraft) Tahun 1970
Perjuangan Indonesia atas Geo Stationary Orbit (GSO)
Pemanfatan GSO masih berprinsip pada ketentuan yang terkandung
dalam Outer Space Treaty 1967 pasal II
Sikap Indonesia terhadap GSO

Konvensi ITU Tahun 1973 (Malaga, Torremolinos) :


1) GSO merupakan sumber alam terbatas, karena itu harus digunakan
secara ekonomis dan efisien
2) Penggunaan secara equitable disesuaikan dengan kebutuhan dan
fasilitas teknis yang dimilikinnya

Deklarasi Bogota 1976


Prinsip first come first served
Sidang Subkomite UNCOPUOS ke-28 di New York ; 5 prinsip
mengenai GSO :

1) GSO is a limited natural resources;


2) The development of space science and technology applied in the
utilization of GSO;
3) GSO should be used exclusively for peaceful purposes;
4) GSO is an orbit which lies in the plane of Earths equator;
5) All states should be guaranteed in practice equitable access to GSO.
Sidang International Telecommunication Union (ITU)
Tahun 1977, Jenewa
Rumusan Pasal 33 ayat (2) Konvensi ITU :
all countries have equal access for space radio communication services
and position in the GSO.
Semua negara mendapatkan kesempatan akses secara adil untuk
menggunakan GSO.

World Administrative Radio Conference (WARC) 1985 : prinsip


apriori planning untuk menggantikan prinsip first come first
WARC 1998 : Prinsip Allotment Plan, semua negara mendapatkan
minimal satu slot orbit GSO, baik untuk kepentingan telekomunikasi,
maupun penyiaran.
Konferensi UNISPACE 1982, Wina
Mengusulkan pembuatan suatu rezim hukum sui generis terhadap GSO.
Melahirkan deklarasi GSO :
a. Increasing members of satellite are being use of various porpuses by
different contries.
b. Desirable that member states, within the ITU:
1) Continue to evolve some criteria for the mostequitable and efficient
usesage of GSO and the RF spectrum;
2) To develop planning methods/arrangements that are based on the
genuine needs both present and future;
3) Such a planning method should take into account the specific needs of
the developing countries as well as the special geographical situation
of particular countries.
THANK YOU