Anda di halaman 1dari 88

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Edisi V tahun 2006

Kuliah Dasar Mahasiswa Fakultas Kedokteran


Universitas Airlangga

MUH. DIKMAN ANGSAR

Bagian/SMF Obstetri - Ginekologi


Fakultas Kedokteran UNAIR / RSU Dr. Soetomo Surabaya
Tahun 2005

1
KEMATIAN IBU BERSALIN

1. INFEKSI

2. PERDARAHAN

3. HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

2
TERMINOLOGI

1. HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

2. PREECLAMPSIA ECLAMPSIA

3. PREGNANCY INDUCED HYPERTENSION

4. HYPERTENSIVE DISORDERS IN PREGNANCY

5. EPH - GESTOSIS

3
KLASIFIKASI

1. HIPERTENSI KRONIK

2. PREECLAMPSIA ECLAMPSIA

3. HIPERTENSI KRONIK dengan SUPERIMPOSED


PREECLAMPSIA

4. HIPERTENSI GESTATIONAL

4
Hal. 1
1. HIPERTENSI KRONIK :
Hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu
atau
hipertensi yang pertama kali didiagnose setelah 20 minggu
dan tidak hilang setelah 12 minggu pasca persalinan

2. PREECLAMPSIA adalah
Hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai
dengan proteinuria

ECLAMPSIA adalah
Preeclampsia yang disertai dengan kejang2 dan atau koma

5
Hal. 1
3. Hipertensi kronik dengan superimposed preeclampsia adalah

Hipertensi kronik disertai tanda2 preeclampsia


atau
hipertensi kronik disertai proteinuria

4. Hipertensi gestational
Hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai
proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca
persalinan.
atau
Kehamilan dengan tanda2 preeclampsia tetapi tanpa
proteinuria
Hipertensi gestational disebut juga transient hypertension

6
Hal. 1
Penjelasan tambahan

Hipertensi : tekanan darah sistolik dan diastolic 140/90 mmHg.


Pengukuran desakan daarah sekurang2nya
dilakukan 2 kali selang 4 jam-6 jam

Kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg


dan kenaikan darah diastolic 15 mmHg
sebagai parameter hipertensi sudah tidak
dipakai lagi.

Proteinuria : adanya 300 mg protein dalam urine selama 24 jam


atau
sama dengan 1+ dipstick

Edema : dahulu edema tungkai dipakai sebagai tanda2


preeclampsia, tetapi sekarang edema tungkai
tidak dipakai lagi, kecuali edema generalisata
(anasarka).
7
Hal. 2
IV. STANDARISASI PEGUKURAN TEKANAN DARAH

1. Pengukuran Desakan Darah


a. Alat yang dipakai :
1) Mercury sphygromanometer
2) Aneroid sphygromanometer
3) Electronic sphygromanometer

b. Cara Pengukuran :
1) Postur : duduk, lengan atas di atas meja setinggi jantung
2) 30 menit < pengukuran pasien bebas dari konsumsi stimulan
3) Alat yang dipakai
4) Teknik pengukuran

8
Hal. 2
2. Pengukuran kadar Proteinuria

a. Proteinuria : 300 mg/24 jam : metode Esbach


: 30 mg/dl dari urine acak tengah

b. Pengukuran proteinuria dengan dipstick


1 + = 0,3 0,45 g/L
2 + = 0,45 1 g/L
3 + = 1 3 g/L
4 + = > 3 g/L

9
Hal. 3
V. FAKTOR RISIKO

1. Primigravida, primipaternity.
2. Hyperplacentosis
Mola hydatidosa
Kehamilan multiple
Diabetes mellitus
Hydrops fetalis
Bayi besar

3. Umur yang ekstrim


4. Riwayat keluarga pernah preeclampsia/eclampsia
5. Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum
hamil
6. Obesitas

10
Hal. 3
VI. PATOFISIOLOGI

1. Teori kelainan vaskularisasi plasenta

2. Teori Iskemia plasenta, Radikal bebas dan Disfungsi


endothel

3. Teori Intoleransi Imunologik antara ibu dan janin

4. Teori adaptasi kardiovaskuler

5. Teori defisiensi genetic

6. Teori defisiensi gizi

7. Teori inflamasi

11
Hal. 4
1. Teori Kelainan Vaskularisasi Plasenta

Kegagalan remodelling a.spirales


12
Hal. 5
2. Teori Iskemia Plasenta, Radikal bebas dan
Disfungsi Endothel

13
Hal. 6
Lapisan kapiler

14
ISKEMIA PLASENTA

O2
OH radikal

O2 radikal
SEL ENDOTHEL

H2O2

Peroksida
lemak MEMBRAN NUKLEUS PROTEIN

Disfungsi Endothel

15
-Tocopherols bentuk terbanyak dalam membran
disusul -Tocopherols

Vitamin E

Solomon & Berg : The World of Biology 5Th Ed - 1995


16
3. Teori Intoleransi Imunologik antara ibu dan
janin

1. Primigravida, primipaternity
2. Ibu menikah dengan suami baru
3. Periode hubungan seks sampai hamil

4. Teori adaptasi kardiovaskuler

...........
........... .. .. .. .. .. ..
...........
........... .. .. .. .. .. ..
...........
........... .. .. .. .. .. ..
........... . . . . . .
Prostacycline Prostacycline

17
Hal. 7
Kegagalan invasi thropoblast ke dalam arteria spiralis

Vasokonstriksi arteria spiralis

Iskemia plasenta

Produksi radikal bebas (Oksidant) : radikal hidroksil OH

Oksidasi asam lemak tak jenuh pada membrane sel endothel


Menghasilkan peroksida lemak (radikal bebas: oksidant)

Disfungsi sel endothel dengan segala akibatnya

Hal. 10 18
Disfungsi sel endothel dgn segala akibatnya

Prostacycline Agregasai thrombocyt Permeabilitas


Throboxane Ekstrtavasasi

Peka thd bahan vasoaktip

Vasokonstriksi p.darah

Hipovolemia

Aliran darah ke
organ2
Hal. 10 19
PERUBAHAN SISTIM DAN ORGAN PADA PREECLAMPSIA

1. Volume plasma

Hamil normal : HIPERVOLEMIA

Preeclampsia : HIPOVOLEMIA

-- -- -- -- -- --
-- -- -- -- -- --

HIPERVOLEMIA HIPOVOLEMIA HIPOVOLEMIA


dan
VASOKONSTRIKSI

2. Hipertensi
Vasospasme menyeluruh
Desakan darah 140/90 mmHg selang 6 jam
Korotkoff fase V
20
Hal. 11
3. Fungsi Ginjal
a. Perubahan Fungsi Ginjal
b. Proteinuria
c. Asam urat serum (uric acid serum)
d. Kreatinin
e. Oliguria dan an uria

4. Edema

5. Hematologis

21
Hal. 11 - 12
Hypovolemia
Hemokonsentrasi
Plasma
Volume
Viskositas
Vasokonstriksi

Aliran Darah Perfusi Konsumsi


Regional Jaringan O2

Creatinine
Ginjal Filtrasi Glomerolus
Uric acid
Oliguria
BUN

Rawan thd
Mudah syok
perdarahan
Rahim
Placenta Fetus : - IUGR
- IUFD

Endothel Vasokonstriksi
Rusak Thromboxane

22
Hal. 13
6. Hepar
a. Vasospasme dan iskemia
b. Necrosis akibat perdarahan periportal pada lobus
perifer
c. Subscapular hematom
d. Nyeri epigastrium

7. Neurologik
a. Nyeri kepala
b. Gangguan visus
c. Hiperrefleksi
d. Kejang
e. Perdarahan intracranial

23
Hal. 13
8. Kardiovaskuler
a. Cardiac after load
b. Cardiac preload

9. Paru-paru
EDEMA PARU

10. Janin
a. fetal distress -- IUGR---IUFD
b. solutio plasenta
c. oligo hydramnion
d. prematuritas

24
Hal. 14
VII. PENCEGAHAN PREECLAMPSIA

A. Pencegahan dengan non medikal

B. Pencegahan dengan medikal

25
Hal. 16
A. Pencegahan dengan non medikal
1. Tirah baring
2. Tidak perlu restriksi garam
3. Diet yang mengandung : a. PUFA
b. Antioksidan
c. Zinc, Mg, Ca

B. Pencegahan dengan medikal


1. Diuretikum
2. Obat2an
3. Aspirin : anti prostaglandin dan anti trombotik
dipiridamol anti trombotik
4. Antioksidan

26
Hal. 16
VIII. ASPEK KLINIK

A. PREECLAMPSIA
a. Preeclampsia Ringan
Preeclampsia Berat

b. Penyakit yang tidak terpisahkan, sangat


bervariasi

c. Edema, hipertensi, proteinuria

27
Hal. 17
PREECLAMPSIA RINGAN

1. Diagnosis.

Timbulnya hipertensi disertai


proteinuria dan atau
(edema)
setelah kehamilan 20 minggu.

Hipertensi : sistolik / diastolik 140/90 mmHg.


Kenaikan sistolik 30 mmHg dan kenaikan
diastolik 15 mmHg tidak dipakai lagi
sebagai kriteria preeclampsia

Proteinuria : 300 mg/24 jam atau 1 + dipstick

Edema : edema local tidak dimasukkan dalam kriteria


preeclampsia, kecuali edema pada lengan,
muka dan perut,edema generalisata

28
Hal. 17
Manajemen umum preeclampsia ringan

a. Kehamilan disertai penyulit suatu penyakit, maka selalu


dipertanyakan, bagaimana :

1) sikap terhadap penykitnya, berarti pemberian


obat2an, atau terapi medicinal

2) sikap terhadap kehamilannya; berarti


mau diapakan kehamilan ini

a) apakah kehamilan akan diteruskan sampai aterm?


Disebut perawatan kehamilan
konservativ atau ekspektativ

b) apakah kehamilan diakhiri(diterminasi) ?


Disebut perawatan kehamilan aktiv atau
aggressive

29
Hal. 17
1. Tujuan utama perawatan preeclampsia

a. Mencegah kejang

b. Mencegah pendarahan intra cranial

c. Mencegah gangguan fungsi organ vital

d. Melahirkan bayi sehat

30
Hal. 18
PERAWATAN PREECLAMPSIA RINGAN

AMBULATOAR HOSPITALISASI

a. Istirahat / tidur miring Kriteria :


b. Diet a. > 2 mgu :
c. Roboranse - tidak ada perbaikan
d. Tidak diberikan : diuretik, - hipertensi tetap
antihipertensi, sedative
- proteinuria tetap
e. Pemeriksaan laboratorium
b. BB : 1 kg / mgu
c. Timbul gejala PEB
d. IUGR

31
Hal. 18
Skema 3 : Manfaat tirah baring posisi miring.

Tirah baring posisi miring

Hilangnya tekananuterus pada v.cava dan aorta

Aliran darah balik ---> Cardiac output

Norepinephrine
Aliran darah utero Aliran darah
placenta Ginjal
GFR
Diuresis
Reaktivitas vaskuler

Vasospasme Pengeluaran
garam

PERBAIKAN JANIN

32
Hal. 19
b. Evaluasi selama di rumah sakit:

Ibu

1. Pemeriksaan fisik
a) Pengukuran desakan darah setiap 4 jam, kecuali ibu tidur

b) Observasi adanya edema pada perut dan muka

c) Observasi adanya gejala2 impending eclampsia :

- nyeri kepala daerah osipital dan frontal

- gangguan visus

- nyeri epigastrium atau abdomen quadrant kanan atas

2. Pemeriksaan laboratorik

3. Pemeriksaan kesejahteraan janin

4. Konsultasi dengan bagian : mata, jantung, dll


33
Hal. 18
PERAWATAN OBSTETRIK PREECLAMPSIA RINGAN
(SIKAP TERHADAP KEHMILANNYA)

Preterm < 37 minggu Aterrm 37 minggu

Bila membaik : tunggu a. Persalinan ditunggu


sampai aterm sampai onset partus
b. Induksi pada TTP

Cara persalinan :
a. Pervaginam : spontan
b. Memperpendek Kala II

34
Hal. 19
Tabel 2 : PEMERIKSAAN LABORATORIUM
No Test diagnostik Penjelasan
1 Hemoglobin dan hematokrit Peningkatan hemoglobin dan hematokrit berarti :
a. adanya hemokonsentrasi, yang mendukung diagnosis
preeclampsia
b. menggambarkan beratnya hipovolemia
c. nilai ini akan menurun bila terjadi hemolisis
2 Morfologi sel darah merah pada
apusan darah tepi Untuk menentukan:
a. adanya mikroangiopatik hemolitik anemia
b. morfologi abnormal eritrocyte : schizocytosis dan spherocytosis
3 Thrombocyte
Trombocytopenia menggambarkan preeclampsia berat
4 Kreatinin serum
Asam urat serum Peningkatannya menggambarkan :
Nitrogen urea darah (BUN) a. beratnya hipovolemia
b. tanda menurunnya aliran darah ke ginjal
c. oliguria
d. tanda preeclampsia berat
5 Transaminase serum
Peningkatan transaminase serum menggambarkan
preeclampsia berat dengan gangguan fungsi hepar
6 Lactic acid dehydrogenase
Menggambarkan adanya hemolisis
7 Albumin serum, dan faktor
koagulasi Menggambarkan kebocoran endothel, dan kemungkinan
koagulopati
35
Hal. 20
C. PREECLAMPSIA BERAT

1. Diagnosis preeclampsia berat :

Berdasar kriteria Preeclampsia berat dibawah ini :

Preeclampsia digolongkan preeclampsia berat bila


ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut :

1) Desakan darah sistolik 160 mmHg dan desakan darah


diastolik 110 mmHg.
Desakan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah dirawat di
rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring.

2) Proteinuria lebih 5 gr/ 24 jam atau 4 + dalam


pemeriksaan kualitatif.

3) Oliguria, yaitu produksi urine < 500 cc/ 24 jam.

4) Kenaikan kadar kreatinin plasma.

36
Hal. 20
5. Gangguan visus dan cerebral.: penurunan kesadaran, nyeri
kepala, scotoma dan pandangan kabur.

6. Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadrant kanan atas


abdomen (akibat teregangnya kapsula Glisson)

7. Edema paru-paru dan cyanosis.

8. Thrombocytopenia berat.

9. Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoseluler)

10. Pertumbuhan janin : intra uterine yang terhambat.

11. Sindroma Hellp

37
Hal. 20
38
2. Pembagian preeclampsia berat :

tanpa impending eclampsia dengan impending eclampsia

Impending Eclampsia

Gejala2 subjektiv:

a. Nyeri kepala hebat


b. Gangguan visus
c. Muntah-muntah
d. Nyeri epigastrium
e. Kenaikan progresif dari
desakan darah

39
Hal. 21
3. Perawatan dan Pengobatan Preeclampsia Berat

Pengelolaan preeclampsia dan eclampsia mencakup :

a. pencegahan kejang

b. pengobatan hipertensi

c. pengelolaan cairan

d. pelayanan suportiv terhadap penyulit organ yang


yang terlibat.

e. saat yang tepat untuk persalinan

40
Hal. 21
PERAWATAN PREECLAMPSIA BERAT / ECLAMPSIA

PENANGANAN

TERAPI MEDICINAL PENYAKITNYA

SIKAP / TINDAKAN OBSTETRIK

Konservatif Aktif

Sewaktu2

41
Ad.a. Sikap terhadap penyakitnya : pengobatan Medicinal

1. Segera masuk rumah sakit

2. Tirah baring miring ke satu sisi (kiri)

3. Pengelolaan cairan
a. sangat penting, mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya
edema paru dan oliguria.

b. faktor yang sangat menentukan terjadinya edema paru


dan oliguria adalah :

- hipovolemia
- vasospasme
- kerusakan sel endothel
- penurunan gradient tekanan onkotik koloid /
pulmonary capillary wedge pressure.

42
Hal. 21
c. Pemberian cairan :

Cairan intravena :

1) Cairan yang diberikan adalah 5 % Ringer-


dectrose atau cairan garam faali
jumlah tetesan : < 125 cc/jam

2) Atau Infuse Dextrose 5%. Yang tiap 1

liternya diselingi dengan infuse Ringer


lactate (60-125 cc/jam) 500 cc.

3) Dipasang Foley Catheter : untuk mengukur

output urine

d. Oliguria terjadi bila produksi urine < 30 cc/jam

dalam 2-3 jam atau < 500 cc/24 jam.


43
Hal. 22
4. Antasida
5. Diet
6. Obat anti kejang (MgSO4)
7. Diuretikum :
A. TIDAK DIBERIKAN, kecuali
a. Edema paru
b. Payah jantung
c. Anasarka
B. Kerugian
a. Memperberat : - hipovolemia, hemokonsentrasi
- perfusi utero plasenta
- dehidrasi janin
- penurunan berat janin

44
Hal. 22
Cara pemberian MgSO4 : Magnesium sulfat.
(Pritchard 1955, Sibai 1984)

a. Loading dose (initial dose) :


a. 4 gram MgSO4 : intravena, (20% dalam 20 cc)
selama 1 gram/menit (ke-emasan 20% dalam 25 cc
larutan MgSO4).

b. 4 atau 5 gram di bokong kiri dan 4-5 gram di bokong


kanan. (40 % dalam 10 cc atau 40 % dalam 12,5 cc).

b. Maintenance dose :
a. Diberikan 4 atau 5 gram i.m., 40% setelah 6 jam
pemberian loading dose.

b. Selanjutnya maintenance dose diberikan 4 gram


i.m. tiap 6 jam.

45
Hal. 23
c. Syarat-syarat pemberian MgSO4:

1. Harus tersedia antidotum MgSO4, yaitu Calcium gluconas


10% = 1 gr. (10% dalam 10 cc) diberikan I,V, 3 menit.

2. Refleks patella (+) kuat.

3. Frekuensi pernafasan > 16 + / menit, dan tidak ada


tanda2 distress nafas.

4. Produksi urine > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya.


(0,5 cc/kg.bb./jam)

d. Sulfas magnesikus dihentikan bila:

1. Ada tanda-tanda intoxikasi

2. Setelah 24 jam pasca persalinan

46
Hal. 23
e. Dosis terapeutik dan toksis MgSO4

1. Dosis tearpeutik 4 -7 mEq/liter


4,8 8,4 mg/dl

2. Hilangnya refleks tendon 10 mEq/liter

12 mg/dl

3. Terhentinya pernafasan 15 mEq /liter

18 mg/dl

4. Terhentinya jantung > 30 mEq/liter

> 36 mg/dl

47
Hal. 23
8. Anti hipertensi diberikan bila :

a. Desakan sistolik 180 mmHg

b. Desakan diastolic 110 mmHg

Jenis obat antihipertensi yang diberikan di Indonesia


adalah :

NIFEDIPINE

Dosis awal : 10 -20 mg, ulangi 30 menit bila perlu.


Dosis maksimum 120 mg per 24 jam

Nifedipine tidak boleh diberikan sub lingual, karena efek


vasodilatasi sangat cepat, sehingga hanya boleh diberikan
per oral.

DESAKAN DARAH DITURUNKAN UNTUK PERTAMA KALI :


20-25 %

48
Hal. 24
9. Edema paru :
a. kardiogenik
b. non kardiogenik

10. Lain-lain
a. anti pyretika
b. anti biotika
c. anti nyeri

49
Hal. 24
PERAWATAN PREECLAMPSIA BERAT / ECLAMPSIA

PENANGANAN

TERAPI MEDICINAL PENYAKITNYA

SIKAP / TINDAKAN OBSTETRIK

Konservatif Aktif

Sewaktu2

50
Skema 4 : Management preeclampsia berat

Preeclampsia Berat

Terapi Medicinalis

Sikap Obstetrik

Konservatif Aktif
Kehamilan dipertahankan Kehamilan diakhiri

Umur kehamilan < 37 minggu 1. Umur kehamilan 37 minggu dengan


tanpa impending eclampsia impending eclampsia
Janin baik 2. Umur < 37 minggu dengan impending
eclampsia
3. Janin : fetal distress, IUGR
Sewaktu2 dapat 4. Sindroma HELLP
berubah ke sikap
aktif

Belum Impartu Sudah Impartu


1.Induksi 1.Grafik Friedman
2.SC 2.kala II partus buatan
51
Hal. 27
3. PENYULIT PREECLAMPSIA

a. SSP

b. Gastero intestinal hepatik

c. Ginjal

d. Hematologik

e. Kardiopulmoner

f. lain2

52
Hal. 26
D. ECLAMPSIA

1. Gejala akut pada preeclampsia

2. Timbul kejang dan atau koma

3. Dapat timbul :

Ante, Intra, Postpartum

4. Eclampsia postpartum : hanya dalam 24 jam postpartum

5. Preeclampsia eclampsia :
Ada Aura

- Impending / imminent eclampsia

53
Hal. 28
FASE KEJANG ECLAMPSIA

1. Keluhan Subyektif

2. Fase Aura

3. Fase Kejang Tonik

4. Fase Kejang Klonik

5. Fase Koma

54
Hal. 29-30
GEJALA KEJANG ECLAMPSIA

I. Keluhan Subyektif

II. Fase Aura : 30


1. Mata terbuka
2. Kelopak mata bergetar
3. Tangan & Kepala diputar-putar

III. Fase Kejang Tonik


1. Muka & mulut bergetar
2. Tubuh : kaku spastik
3. Muka : distorsi
4. Bola mata menonjol
5. Tangan Mengepal
6. Kaki inversi
55
Hal. 29-30
IV. Fase Kejang Tonik

1. Mulut terbuka tertutup


2. Tubuh : kejang klonik
3. Bisa terlempar
4. Buih dari mulut
5. Berangsur kejang lemah

V. Fase Koma

VI. Fase sadar

56
Hal. 29-30
2. Perawatan Eclampsia

Perawatan eclampsia sebagai suatu penyakit.

Sangat penting dalam perawatan eclampsi ialah


pengobatan medical dan perawatan suportif.

Tujuan utama dari pengobatan medical eclampsia :

a. mencegah dan menghentikan kejang.


b. mencegah dan mengatasi penyulit, khususnya ;
hipertensi krisis
c. mencapai stabilisasi ibu seoptimal mungkin
d. sehingga dapat melahirkan janin pada saat dan
dengan cara yang tepat.

57
Hal. 30
PENGOBATAN MEDICINAL

a. Obat anti kejang : MgSO4

b. Pengobatan suportive : mengatasi gangguan fungsi organ penting :

- memperbaiki acidosis
- mempertahankan ventilasi paru
- mengatur desakan darah
- mencegah payah jantung,
- dll

c. Nursing care

58
Hal. 30
c. Perawatan pada waktu kejang .

Tujuan utama pertolongan pada kejang, ialah :

mencegah penderita mengalami trauma akibat kejang-


kejang tersebut.

1) Dirawat di kamar isolasi cukup terang : agar bila


terjadi cyanosis segera dapat diketahui.

2) Letakkan penderita ditempat tidur yang lebar

3) Masukkan sudap lidah ke dalam mulut penderita.


Jangan mencoba melepas sudap lidah yang sedang
tergigit, karena dapat mematahkan gigi.

59
Hal. 31
4) Kepala direndahkan : daerah oropharynx dihisap

5) Dijaga agar kepala dan ekstrimitas penderita yang


kejang tidak terlalu kuat menghentak-hentak benda
keras disekitarnya.

6) Fixasi badan pada tempat tidur ,agar tidak jaatuh


harus cukup kendor,
guna menghindari fracktur

7) Bila penderita selesai kejang-kejang, segera beri


oksigen.

60
Hal. 31
61
d. Perawatan koma

1. Penderita koma tidak dapat bereaksi atau


mempertahankan diri terhadap :

- suhu yang ekstrem

- posisi tubuh yang menimbulkan nyeri

- aspirasi : hilangnya refleks muntah

2. Bahaya terbesar, penderita koma : terbuntunya jalan


nafas atas.

3. Setiap penderita eclampsia yang jatuh dalam koma,


harus dianggap bahwa jalan nafas atas terbuntu,
kecuali dibuktikan lain.

62
Hal. 31
4. Menjaga dan mengusahakan agar jalan nafas atas tetap
terbuka.

5. Cara yang sederhana dan cukup efektif dalam menjaga


terbukanya jalan nafas atas, ialah dengan :
- maneuver head tilt-neck lift atau

- head tilt-chain lift yang dilanjutkan

- dengan pemasangan oropharyngeal airway.

63
Hal. 31
Head tilt chin lift Head tilt nect lift Head tilt jaw thrust

64
6. Penderita koma, akan kehilangan refleks muntah sehingga
kemungkinan terjadinya aspirasi bahan lambung.

7. Lambung ibu hamil harus selalu dianggap sebagai lambung


penuh.

8. Semua benda-benda yang ada dalam rongga mulut dan


tenggorokan:
- lendir,
- sisa makanan
- harus segera dihisap secara intermitten.
Penderita ditidurkan dalam posisi stabil untuk drainage
lendir.

9. Monitoring kesadaran dan dalamnya koma memakai :


Glasgow Coma Scale. (lihat lampiran)
65
Hal. 31
10. Pada perawatan koma; pencegahan decubitus dan
makanan penderita.

11. Pada koma yang lama, bila nutrisi tidak mungkin; cukup
diberikan dalam bentuk NGT (Naso Gastric Tube)

66
Hal. 31
Tabel IV : Glasgow Coma Scoring System
Glasgow coma scale : hanya A + B + C

Encircle one each response category (A) ------------(C)

(A) EYE OPENING


Spontaneous =4
To speech =3
To pain =2
None =1

(B) BEST MOTOR RESPONSE


(extremities of best side)
Obeys =6
Localizes =5
Withdraws =4
Abnormal flexion =3
Extends =2
None =1

(C) BEST VERBAL RESPONSE


Oriented =5
Confused conversation = 4
Inappropriate words =3
Incomprehensible
sounds =2
None =1

67
Hal. 33
3. Pengobatan Obstetrik :

Sikap terhadap kehamilan.


Sikap dasar : semua kehamilan dengan eclampsia harus
diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan
keadaan janin.

Bilamana diakhiri :
Sikap dasar : kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi
(pemulihan) hemodynamika dan metabolisme ibu.

Cara terminasi kehamilan


(lihat cara terminasi kehamilan pada preeclampsia berat)

Perawatan pasca persalinan.


Bila persalinan terjadi pervaginam monitoring tanda-tanda vital
dilakukan sebagaimana lazimnya.
Pemeriksaan laboratorium dikerjakan setelah 1 x 24 jam
persalinan.

68
Hal. 32
4. Prognose :

Tabel III : Kriteria Eden untuk menentukan prognose


Eclampsia (tahun 1922)

1. Koma yang lama


2. Nadi di atas 120 per menit
3. Suhu di atas 1030 F
4. Desakan darah sistolik di atas 200 mmHg
5. Kejang lebih dari 10 X
6. Proteinuria lebih 10 gr/liter
7. Tidak ada edema

Bila didapatkan satu atau lebih dari gejala tersebut,


prognose ibu buruk.

69
Hal. 32
IX. SYNDROMA HELLP

A. Definisi klinik :

Sindroma HELLP, ialah preeclampsia-eclampsia yang


mengalami :

H : hemolisis,

EL : elevated liver enzyme : tanda adanya disfungsi


hepar

LP : low patelet count : thrombositopenia

Insidensi Sindroma HELLP : 2-12 % dari kasus preeclampsia-


eclampsia.

70
Hal. 34
B. Diagnosis

1. Tanda dan gejala tidak khas

2. Tanda dan gejala preeclampsia

3. Tanda hemolisis intravaskuler

4. Tanda kerusakan sel hepar

5. Thrombositopenia

71
Hal. 34
C. Klasifikasi sindroma HELLP menurut klasifikasi Missisippi:

Berdasar kadar thrombosit darah, maka sindroma HELLP


diklasifikasi, menjadi :

Klas 1 : thrombositopenia : 50.000/cc


LDH 600 IU/L
AST dan/atau ALT 40 IU/L

Klas 2 : thromobositopenia > 50.000 100.000/cc


LDH 600 IU/L
AST dan/atau ALT 40 IU/L

Klas 3 : thromobocyte > 100.000 150.000/cc


LDH 600 IU/L
AST dan/atau ALT 40 IU/L

72
Hal. 34
D. Diagnosis banding

1. Thrombotik angiopatik

2. Kelainan konsumtif fibrinogen


3. Kelainan jaringan ikat : SLE

4. Penyakit ginjal primer

E. Terapi Medikamentosa

1. Ikuti terapi preeclampsia berat

2. Pemberian dexamentason
3. Dipertimbangkan pemberian thrombosit

73
Hal. 35
F. Sikap terhadap kehamilan

a. Tanpa memandang umur kehamilan segera diakhiri.

b. Persalinan dapat dilakukan perabdominam atau


pervaginam.

c. Hati-hati gangguan pembekuan darah bila hendak


melakukan anestesi regional (spinal).

74
Hal. 35
G. Kematian ibu dan janin

a. Kematian ibu bersalin pada Sindroma Hellp yaitu 24 %.

b. Penyebab kematian dapat berupa :

- kegagalan kardiopulmuner
- gangguan pembekuan darah
- perdarahan otak
- rupture hepar
- kegagalan organ multiple

c. Kematian perinatal pada Sindoma Hellp cukup tinggi,


terutama disebabkan oleh persalinan preterm

75
Hal. 35
X. HIPERTENSI KRONIK dalam KEHAMILAN

1. Definisi ;

hipertensi yang didapatkan sebelum timbulnya


kehamilan.
atau
Apabila tidak diketahui adanya hipertensi sebelum
kehamilan, maka hipertensi kronik didefinisikan :
bila
didapatkan desakan darah sistolik 140 mmHg, atau
desakan darah diastolik 90 mmHg sebelum umur
kehamilan 20 minggu.
dan
Hipertensi menetap sampai pasca persalinan 12 minggu

76
Hal. 36
Tabel 8 : Klasifikasi desakan darah orang dewasa lebih 18 thn (JNC7)

Kategori Desakan sistolik Diastolik

Normal < 120 < 80

Prehypertension 120 139 80 89

Stage 1 hypertension 140 159 90 99

Stage 2 hypertension 160 110

77
Hal. 37
2. Diagnosis hipertensi kronik pada kehamilan:

1. Bila : a. hipertensi telah timbul sebelum


kehamilan.

b. atau timbul hipertensi < 20 minggu


kehamilan.

2. Ciri-ciri hipertensi kronik

a. umur ibu relative tua diatas 35 tahun


b. desakan darah sangat tinggi
c. umumnya multipara
d. umumnya ditemukan kelainan jantung, ginjal
dan diabetes mellitus
e. obesitas

78
Hal. 37
3. Dampak hipertensi kronik pada kehamilan

a. Efek pada ibu

1. Bila mendapat monoterapi untuk hipertensinya, dan


hipertensi dapat terkendali, maka hipertensi
kronik tidak berpengaruh buruk

2. Hipertensi kronik yang diperberat oleh kehamilan,


akan memberi tanda2 sbb: :
a. kenaikan mendadak desakan darah, disusul
proteinuria.
b. desakan darah sistolik > 200mmHG diastolic > 130,
dengan akibat : segera terjadi: oliguria dan
gangguuan ginjal.

3. Penyulit hipertensi kronik pada kehamilan:


a. solutio placenta
b. superimposed preeclampsia
79
Hal. 37
b. Dampak pada janin

a. Fetal growth restriction (Intra uterine growtrestrictionIUGR)

1. Insidens fetal growth restriction, berbanding langsung


dengan derajat hipertensi .

2. Fetal growth restriction disebabkan menurunnya


perfusi uteroplacenta,
insufisiensi placenta, janin tidak dapat
berkembang dengan baik.

b. Risiko peningkatan preterm birth.

c. Peningkatan kematian janin dalam rahim (IUFD)

80
Hal. 37
4. Pengelolaan pada kehamilan :

a. Tujuan pengelolaan hipertensi kronik dalam


kehamilan adalah :
a. meminimalkan atau mencegah dampak buruk
pada ibu ataupun janin.
b. mencegah terjadi hipertensi yang ringan
menjadi lebih berat.
(pregnancy aggravated hypertension)

b. Dicapai dengan cara :


a. farmakologik
b. perubahan pola hidup; diet, merokok, alcohol,
dan lain substanse abuse.

81
Hal. 38
c. Terapi hipertensi kronik berat, hanya
mempertimbangkan keselematan ibu, tanpa
memandang status kehamilan. Hal ini untuk
menghindari terjadinya ; CVA, infark miokard,
disfungsi jantung dan ginjal.

d. Anti hipertensi diberikan, bila :


1. desakan sistolik 160mHg, desakan diastolic .
90 mmHg
2. terjadi end organ dysfunction,

82
Hal. 38
5. Obat anti hipertensi

Jenis anti hiperptensi yang dipakai


a. -Methyldopa:
Suatu 2 reseptor agonist .
Dosis awal 500mg 3X perhari, maksimal 3 gram
perhari

b. Calcium channel -blockers

Nifedipin : dosis bervariasi anatara 30 mg 90 mg hari.

c. Diuretik thiazide

Tidak diberikan, karena akan menggangu volume plasma .


sehingga menganggu aliran darah utero-plasenta.

83
Hal. 38
6. Evaluasi janin :

Untuk mengetahui : apakah terjadi insufiseinsi plasenta


akut atau kronik.

a. Nonstress Test : dimulai sejak umur kehamilan


32 minggu

b. Ultrasonografi : dikerjakan bila curiga terjadinya fetal

growth restriction atau terjadi

superimposed preeclampsia.

84
Hal. 38
7. Hipertensi kronik dengan superimposed preeclampsia

a. Diagnosis superimposed sulit, apalagi


hipertensi kronik disertai kelainan ginjal dengan
proteinuria.

b. Tanda2 superimposed preeclampsia pada


hipertensi kronik, adalah: sama dengan gejala PEB

85
Hal. 38
8. Persalinan pada kehamilan dengan hipertensi kronik

a. Sikap terhadap kehamilan ditentukan oleh : derajat desakan


darah, dan perjalanan klinis.

Konservative Aktive

a. Desakan darah a. Ibu memburuk


terkontrol
b. Janin memburuk
b. Hamil normal
c. Janin normal

Usahakan pervaginam Usahakan pervaginam

86
Hal. 38
9. Perawatan Postpartum

a. Sama seperti PEB

b. Observasi penyulit postpartum

c. Hati-hati akumulasi cairan balik dari rahim yang

berkontraksi

d. Hati-hati perdarahan postpartum

87
Hal. 39
88