Anda di halaman 1dari 76

Laporan kasus

Sectio caesaria atas indikasi


Ketuban Pecah Dini
&
Kista Ovarium

Pitri Erlina Lay


Nim : 406148138

Pembimbing : dr Nunki Febriastuti Sp.OG


Identitas
Pasien Suami Pasien
Nama : Ny. Y. Nama : Tn. K.
Umur : 31 tahun Umur : 37 tahun
Pendidikan : SMA Pendidikan : STM
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pekerjaan : Karyawan Swasta
Agama : Islam Agama : Islam
Suku bangsa : Sunda Suku bangsa : Jawa
Alamat : Jl. Swasembada Barat XXV Alamat : Jl. Swasembada Barat XXV
RT 07/11 No.22 Jakarta Utara RT 07/11 No.22 Jakarta Utara.

Tanggal masuk RS : 9 Juni 2016 pk.10.00


Anamnesa

autoanamnesa (10 Juni 2016) pk 11.00 WIB di ruang rawat


inap bangsal Mawar 2, RS Pelabuhan Jakarta
Keluhan Utama
Keluar air-air sejak pukul 06.00 WIB
Keluhan Tambahan
Mules sesekali
RPS
G2P1A0 (minggu ke 39), datang ke IGD setelah dirujuk bidan,
keluhan utama keluar air-air dari alat kelamin dan mulas
sesekali sejak 4 jam SMRS. Air berwarna bening, konsistensi
cair, bau (-), lendir (+), darah (-), cairan + hampir 2 gelas
aqua. gerakan janin (+) dan nyeri ketika janin bergerak (-).
Saat di bidan, pasien diberitahu pembukaan 1 cm di rujuk ke
RS. Mual (-), muntah(-), pusing (-), dan sakit kepala(-). Pasien
menyangkal pernah mengalami jatuh, benturan, infeksi atau
riwayat diri / keluarga dengan keluhan serupa. Nafsu makan
baik. BAK & BAB (N).
Riwayat haid
Menarche : 13 tahun
Sirkulasi haid :
Lama : 12 tahun
Lama : 7 hari
Banyaknya : 4 kali ganti pembalut/hari (normal)
Siklus : 28 hari
Sakit saat haid : -
HPHT : 11-9-2015
TP : 18-6-2016
Riwayat Perkawinan menikah 1x , 27/01/2008

Riwayat Obstetri G2P1A0

Riwayat ANC :
Hamil Trimester ke 1 (0-12 minggu)
ke bidan Oktober 2015 I: terlambat haid, saat usia 4 minggu.
Pemeriksaan rutin setiap bulan 3 x.
Pasien mengeluh sering mual & pusing namun bisa diatasi.
tablet Fe & vit B12 1x1 tablet per hari, (90 tablet selama
kehamilan).
Hamil Trimester ke 2 (12-28 minggu)

Rutin 3 kali ke bidan.


kehamilan 20 minggu ibu diimunisasi TT1
hamil 24 minggu diimunisasi TT2.
tablet Fe yang diminum 1x1 tablet / hari.
Ibu merasakan gerakan janin saat usia 16 minggu dalam 24
jam, pasien merasakan pergerakan janin + 20 x.
Hamil trimester ke 3 (28-40 minggu)

usia 28-39 minggu keluhan (-)


rajin memeriksakan kehamilannya 7 x ke bidan secara rutin
tablet Fe 1x1 tablet per hari diminum reutin dan teratur.
USG 1x di klinik swasta Mei (hamil 8 bulan) oleh Sp OG,
karena ingin tahu jenis kelamin bayinya. Saat di USG,dokter
kandungan mengatakan semua janin serta kondisi rahim pasien
dalam keadaan normal, tidak ditemukan kelainan apapun.
Riwayat KB
KB suntik tiap 3 bulan selama 1 tahun (2009 2010).
Setelahnya 2011 - 2015 sanggama terputus.

Riwayat Ginekologi
tidak mengetahui riwayat kista / mioma, keguguran (-).
Saat haid tidak sakit, pendarahan yang sangat banyak (-)
siklus selalu teratur.
Payudara pasien juga tidak pernah bermasalah.

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien IRT, suami karyawan swasta. (BPJS)
Sebenarnya pasien berencana ingin melahirkan di klinik bidan seperti
kelahiran anak pertamanya.
Kesan sosial ekonomi rendah.
Laporan Kasus

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Hipertensi : ibu
Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat DM : disangkal Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal Riwayat Penyakit Paru : disangkal
Riwayat Penyakit Paru : disangkal Riwayat Alergi : disangkal
Riwayat Alergi : disangkal Riwayat Operasi : disangkal
Riwayat Operasi : disangkal
Riwayat Kebiasaan
Pasien menyangkal riwayat merokok dan minum minuman
berakohol.
Makan pagi : Nasi 1 porsi sedang, sayur 1 mangkuk
sedang, tahu tempe 3 potong
Makan siang : Nasi 1 porsi sedang, sayur 1 mangkuk sedang,
ikan 1 potong, buah-buahan 3 potong.
Makan malam : terakhir makan pk 18.00 WIB, nasi 1 porsi
sedang, sayur 1 mangkuk sedang, lauk pauk 1 potong. Sehari
hari minum 10 gelas air putih, 1 gelas susu, 2 gelas teh manis.
Perubahan pola makan selama hamil :
trimester I mengidam rujak buah, selanjutnya merasakan
ngidam makanan tertentu tp tidak merubah pola makan.
BAB 1 x / hari konsistensi lembek, coklat, pasien terakhir BAB pk.
17.00 WIB,
BAK 8 x / hari, warna kuning jernih, terakhir BAK pk. 04.00 WIB.
Aktivitas sehari-hari :
Memasak, mencuci piring & pakaian, menyapu & mengepel.
Tidur malam 7 jam dan tidur siang 1 jam
Sex : 1 x dalam seminggu
Kepercayaan ttg kehamilan, persalinan & nifas : melakukan
selametan 7 bulanan.
Pemeriksaan fisik
TTV
KU: TSS
Kesadaran : CM
TD : 110/60 mmHg
N : 65 x/menit
T : 360C
RR : 20 x/menit
TB : 155 cm
BB : 73 kg
Penambahan berat badan selama kehamilan : 18 kg
Pemeriksaan Fisik
Status Internus
Kepala :Normocephali, tidak teraba benjolan
Mata :Konjungtiva anemis -/- , Sklera ikterik -/-
Telinga :Discharge (-), bentuk normal
Hidung :Discharge (-), septum deviasi (-), nafas cuping hidung (-)
Mulut dan Tenggorok :
Bibir : tidak sianosis dan tidak pucat
Lidah : tidak kotor, tidak tremor dan fasikulasi
Uvula : di tengah
Tonsil : ukuran T1/T1, tidak hiperemis
Faring : tidak hiperemis
Leher :
Trakea di tengah , kelenjar tiroid tidak membesar
KGB : Retroaurikuler, submandibula, cervical , supraclavicula , aksila ,
dan inguinal tidak teraba membesar
Payudara:
Tanner V, mamae membesar, simetris kanan & kiri, areola
mammae hiperpigmentasi, Papila mamae menonjol keluar,
nipple retraksi (-), mammae benjolan/ massa (-), tanda radang
(-), nyeri tekan (-).
Pemeriksaan Fisik
Thoraks :
Paru :
I : Retraksi (-), bentuk simetris pada saat inspirasi dan ekspirasi
P : Stem fremitus kanan kiri sama kuat.
P : Sonor pada kedua lapang paru.
A : Suara dasar vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung :
I : Tidak tampak pulsasi ictus cordis.
P : Ictus cordis teraba, ICS V MCLS
P :
Batas kiri : di ICS V MCLS
Batas kanan : di ICS IV PSLD
Batas atas : di ICS II 2 jari medial dari MCLS
A : Bunyi Jantung I/II regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
I : abdomen membuncit, luka bekas operasi (+), dilatasi vena (-), linea nigra (-),
striae gravidarum (+), tidak ada kelainan kulit.
A : tidak dilakukan
P : tidak dilakukan
P : tidak dilakukan
Anus dan genitalia : Tidak diperiksa
Ekstremitas :
Atas : Akral hangat, oedem -/- , simetris kanan dan kiri
Bawah : Akral hangat, oedem -/-, sianosis -/-, varises -/-,
simetris kanan dan kiri
Neurologis : Tidak diperiksa
Pemeriksaan obsgyn
Pemeriksaan luar
Muka : jerawat
Payudara :
Tanner V
mammae tidak teraba benjolan / massa, tanda radang (-), nyeri tekan (-)
Tampak membesar kanan dan kiri simetris
Hiperpigmentasi pada areola mamae kanan dan kiri
Papilla mamae tampak menonjol keluar kanan dan kiri, tidak retraksi
Genitalia externa
Rambut pubis : dicukur
Fluksus : (+), lendir (-), bau (-), gumpalan (-)
Fluor : (-)
Vulva : tidak ada kelainan. Benjolan (-), ekskoriasi (-), hiperemis (-)
Abdomen :
Inspeksi :
- Perut membuncit
Dilatasi vena (-)
Linea nigra (-)
Striae gravidarum (+)
Luka bekas operasi (+)
Palpasi :
Leopold I : TFU = 32 cm, teraba bagian atas janin : lunak, bulat, tidak
melenting bokong.
Leopold II : puki.
Leopold III : bagian terbawah janin teraba : keras, bulat, & melenting
presentasi kepala.
Leopold IV : bagian bawah janin belum masuk PAP tangan
konvergen.
Perabaan kepala (perlimaan) : 5/5
His tidak dihitung
Auskultasi : DJJ = 148 x/menit, dengan irama teratur
TBJ = (32-13) x 155 = 2.945 gram.
Pemeriksaan Dalam tidak dilakukan
Inspekulo tidak dilakukan
Vaginal toucher dilakukan di IGD
Vulva / vagina : tidak dinilai
Portio :
Axis : depan (antefleksi)
Konsistensi : tebal lunak
Penipisan : tidak dinilai
Pembukaan : 1 cm
Ketuban : tidak utuh (sudah kering)
Bagian terendah janin : kepala, turunnya terendah : Hodge I
Pemeriksaan tambahan / khusus :
Pemeriksaan panggul : tidak dilakukan
Pemeriksaan panggul dengan kepala bayi : tidak dilakukan
Pemeriksaan pelvic score : tidak dilakukan
Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang
Darah rutin (25-1-2016) Masa perdarahan : 3
Leukosit : 9,00 x 103/uL Masa pembekuan : 19
Eritrosit : 4,38 x 106/uL
Hemoglobin : 13,0 g/dL GDS : 97 mg/dL
Hematokrit : 37,7 %
MCV : 86 fL
MCH : 30 pg
MCHC : 35 g/dL
trombosit : 263.000 L
RDW-SD : 44,3 fL
Assesment
Diagnosa kerja :
G2P1A0 gravid aterm (39 minggu) atas indikasi Ketuban Pecah Dini / KPD & kista
ovarium sinistra

Diagnosa banding : -
Prognosis :
Ibu :
Ad vitam : Dubia ad Bonam
Ad functionam : Dubia ad Bonam
Ad sanationam : Dubia ad Bonam
Janin :
Ad vitam : Bonam
Ad functionam : Bonam
Ad sanationam : Bonam
Daftar Masalah : Kista ovarium
Planning
Rencana diagnosa : Tes Lakmus
Rencana penatalaksanaan :
Pro sc cito jika terbukti ketuban pecah dini
Injeksi ceftriaxone 1 gram
IVFD Asering 20 tpm
Pemasangan Dower Catheter
Observasi : keadaan umum, tanda-tanda vital, tanda perdarahan
Rencana operasi : Sectio Caesaria Transperitoneal Profunda + Salfingooovari
kistektomi sinistra.
Post SC cito :
Imobilisasi 12 jam
Pemasangan Folley Catheter 1 x 12 jam
Infus RL : D5% = 1 : 2 20 tpm
Cefixime 100 mg tab 2x1
Pronalges 3 x 1 supp
Injeksi ranitidin 2 x 1 amp
Injeksi ceftriaxon 1 g 3 x 1 vial
Tramadol 3 x 1 drip
Edukasi
Menjelaskan kepada keluarga dan pasien mengenai penyakit yang diderita
(definisi, etiologi, faktor risiko, komplikasi, dan tatalaksana).
Menjelaskan kepada pasien pentingnya menjaga kebersihan dan
kekeringan luka bekas operasi agar terhindar dari infeksi.
Menjelaskan kepada keluarga dan pasien untuk rutin kontrol luka bekas
operasi dan bayi 1 minggu setelah pulang dari rumah sakit.
Menjelaskan kepada pasien tentang keharusan memberikan ASI eksklusif
selama 6 bulan non stop.
Menganjurkan kepada pasien untuk diet tinggi kalori dan tinggi protein,
seperti : tahu, tempe, ayam, daging, susu kacang, dll, serta makan
makanan yang mengandung banyak stimulan ASI, misalnya : sayur daun
katu.
Menyarankan pada pasien untuk kontrol bekas jahitan SC 1 minggu yang
akan datang ke poli kandungan dan kebidanan.
SEKSIO CAESARIA
Pengertian Sectio Caesrea

Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat


sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina, atau
Sectio Caesaria adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam
janin.
Klasifikasi

1.Sectio Caesarea primer ( Efektif )


Dari semula telah dilaksanakan bahwa janin akan dilahirkan secara sectio
caesaria, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya pada panggul sempit.
2.Sectio caesarea sekunder
Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus
percobaan),bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal,baru
dilakukan secsio caesarea
Klasifikasi II
3.Secsio sesarea ulang (repeat caesarea section)
Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami secsio caesarea (previous caesarean section)dan
pada kehamilan selanjutnya dilakukan secio secara ulang.
4.Secsoi sesarea histerektomi (caesarean section hysterectomy)
Adalah suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan seksio caesaria langsung
dilakukan histerektomi oleh karena suatu indikasi.
5.Operasi Porro ( Porro Operation )
Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya janin sudah
mati), dan langsung dilakukan histerektomi, misalnya pada keadaan infeksi rahim yang berat.
Seksio Caesarea
Indikasi ibu Indikasi janin
Panggul sempit absolut 1. Janin besar
Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi 2. Gawat janin
Stenosis serviks / vagina
Plasenta previa
3. Janin dalam posisi sungsang
atau melintang /Kelainan letak
Disproporsi sefaloservik / CPD
Ruptur uteri 4. Fetal distress
Syok, anemia berat 5. Kelainan kongenital berat
6. Mati

7. Hydrocephalus
JENIS SECTIO CAESARIA
Sectio caesaria transperitonealis profunda
Sectio caesaria transperitonealis profunda dengan insisi di
segmen bawah uterus. insisi pada bawah rahim, bisa dengan
teknik melintang atau memanjang
Keunggulan pembedahan ini adalah:
a. Pendarahan luka insisi tidak seberapa banyak.
b. Bahaya peritonitis tidak besar.
c. uterus umumnya kuat sehingga bahaya ruptur uteri dikemudian
hari tidak besar karena pada nifas segmen bawah uterus tidak
seberapa banyak mengalami kontraksi sehingga luka dapat
sembuh lebih sempurna.
Seksio Sesarea transperitoneal profunda
Seksio Sesarea transperitoneal profunda
Seksio Sesarea transperitoneal profunda
Sectio caecaria klasik atau section caecaria korporal
Pada sectio caecaria klasik ini di buat pada korpus uteri,
pembedahan ini yang agak mudah dilakukan,hanya di lakukan
apabila ada halangan untuk melakukan section caecaria
transperitonealis profunda. Insisi memanjang pada segmen
atas uterus
Indikasi Seksio Sesarea Klasik
1.Sukar dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen
bawah rahim, misal: ada perlekatan akibat seksio caesarea yg lalu, atau
ada tumor di daerah segmen bawah rahim.
2.Janin besar dalam letak lintang.
3.Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah
rahim.
Teknik Seksio Caesarea Klasik
1.Desinfeksi pada dinding perut
2.Dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang 12 cm sampai di bawah
umbilikus lapis demi lapis sampai kavum peritoneal terbuka.
3.Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari kasa laparotomi.
4.Insisi tajam dengan pisau pada SAR, kemudian diperlebar secara sagital dengan
gunting.
5.Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan. Janin dilahirkan dengan
meluksir kepala dan mendorong fundus uteri. Setelah janin lahir seluruhnya ,tali
pusat dipotong di antara kedua penjepit.
Teknik Seksio Caesarea Klasik
6. Plasenta dilahirkan manual. Disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim
secara intra mural.
7.Luka insisi SAR dijahit kembali.
lapisan I :endometrium bersama miometrium di jahit jelujur dengan
benang catgut khromik.
lapisan II :miometrium saja dijahit simpul dengan benang catgut khromik.
lapisan III :perimetrum saja dijahit simpul dengan benang catgut biasa.
8.Setelah dinding rahim selesai dijahit,kedua adneksa dieksplorasi.
9.Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan dinding perut dijahit.
Seksio Caesarea Klasik
Sectio caesaria ekstra peritoneal
tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak
membuka cavum abdominal.
pembedahan ini sekarang tidak banyak lagi di lakukan.
dilakukan pada pasien infeksi uterin berat.
Section caesaria Hysteroctomi
Setelah sectio caesaria, dilakukan hysterektomi dengan
indikasi:
Atonia uteri
Plasenta accrete
Myoma uteri
Infeksi intra uteri berat
Teknik Sectio-histerektomi
1.Setelah janin dan plasenta dilahirkan dari rongga rahim, dilakukan
hemostasis pada insisi dinding rahim, cukup dengan jahit jelujur
atau simpul.
2.Untuk mempermudah,rahim boleh dikeluarkan dari rongga pelvis.
3.Mula-mula lig.rotundum dijepit dengan cunam Kocher dan cunam
Oschner kemudian dipotong sedekat mungkin dengan rahim, dan
diligasi dengan benang catgut khromik no.0. Bladder-flap yang elah
dibuat pada waktu seksio sesarea transperitoneal profunda
dibebaskan lebih jauh ke bawah dan lateral. Pada lig.latum
belakang dibuat lubang dengan jari telunjuk tangan kiri di bawah
adneksa dari arah belakang( agar ureter tidak terpotong).
Teknik Sectio-histerektomi
4.Melalui lubang lig.latum, tuba Falopii, lig. Utero-ovarika, dan
pembuluh darah dalam jaringan tersebut dijepit dengan 2
cunam Oschner lengkung dan di sisi rahim dengan cunam
Kocher. Jaringan yg terpotong dijahit transfiks dengan catgut
no. 0.
5.Jaringan lig.latum dipotong secara tajam ke arah serviks.
Setelah pemotongan sampai di daerah serviks, kandung
kencing disisihkan jauh ke bawah dan samping.
Teknik Sectio-histerektomi
6.Pada lig.kardinale dan jaringan paraservikal dijepit dengan
cunam Oschner lengkung secara ganda, dan pada tempat sama
di sisi rahim dijepit dengan cunam Kocher lurus. Kemudian
jaringan diantaranya digunting dengan gunting Mayo. Puntung
lig.kardinale dijahit transfiks secara ganda dengan catgut
khromik no. 0.
7.Demikian juga lig.sakro-uterina kiri kanan dipotong dengan
cara sama, dan diligasi transfiks dengan catgut khromik no. 0.
Teknik Sectio-histerektomi
8.Setelah mencapai di atas dinding vagina-serviks,pada sisi depan
serviks dibuat irisan sagital kemudian dijepit dengan cunam
Oschner melingkari serviks dan dinding vagina dipotong tahap demi
tahap dengan pisau atau gunting. Rahim dapat diangkat.
9.Puntung vagina dijepit beberapa Kocher. Mula-mula puntung kedua
lig.kardinale dijahitkan pada ujung kiri kanan puntung vagina.
Puntung vagina dijahit jelujur dengan catgut khromik. Puntung
adneksa dapat dijahitkan digantungkan pada puntung vagina, tidak
terlalu kencang. Akhirnya puntung vagina ditutup retro-
peritonealisasi dengan menutupkan Bladder flap pada sisi belakang
pntung vagina.
10.Setelah rongga perut dibersihkan,luka perut ditutup kembali lapis
demi lapis.
Komplikasi Operasi Sectio Caesarea

Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara


lain :
1. Infeksi puerperal ( Nifas )
- Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari
- Sedang,suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan
perut sedikit kembung
- Berat, peritonealis, sepsis dan paralisis usus
2. Perdarahan
- Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
- Perdarahan pada plasenta bed
3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung
kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi
4. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan
berikutnya
KETUBAN PECAH DINI
Definisi dan prevalensi
= pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan atau
dimulainya tanda inpartu.
< 37 minggu ketuban pecah dini pada kehamilan prematur.
Disebabkan oleh faktor2 eksternal : infeksi yang menjalar dari
vagina, polihidramnion, inkompeten serviks, dan solusio
plasenta.
Pecahnya ketuban pada kehamilan aterm merupakan hal yang
fisiologis.
Prevalensi aterm = 8-10 %, prematur = 1 % kehamilan.
Mekanisme
Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks metaloproteinase
(MMP)
Mendekati waktu persalinan, keseimbangan antara MMP dan
TIMP-1 mengarah pada degradasi proteolitik dari matriks
ekstraselular dan membran janin.
Periodontitis peningkatan MMP, ketuban pecah dini >>
Selaput ketuban melemah seiring bertambahnya usia
kehamilan berkaitan dengan pembesaran uterus, kontraksi
rahim dan gerakan janin.2
Tanda dan gejala : terasa keluar air dari jalan lahir dan biasanya
tanpa disertai dengan kontraksi atau tanda inpartu
Adanya riwayat dapat disertai tanda2 lain dari persalinan
Faktor risiko :
Hidramnion,
Kelainan letak : sungsang atau melintang, kehamilan ganda, Cephato
Pelvic Disproportion, infeksi, perdarahan antepartum
Anamnesis : menentukan usia kehamilan, adanya cairan yang
keluar dari vagina, dan adanya demam
Pemeriksaan fisik :
Menentukan pecahnya selaput ketuban dengan terdapat cairan
ketuban dan baunya yang khas
Bila cairan amnion tidak ada, gerakkan sedikit bagian terbawah janin
atau meminta pasien batuk atau mengejan
Tidak terdapat tanda inpartu
Periksa apakah ada tanda-tanda infeksi pada ibu dengan mengukur
suhu tubuh (> 380C)
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan pH vagina dengan Nitrazin Test (kertas lakmus)
Pemeriksaan mikroskopis tampak gambaran pakis yang mengering
pada sekret serviko vaginal
Pemeriksaan darah rutin, leukosit > 15.000/mm3.
Pemeriksaan USG : terdapat oligohdramnion
Pemeriksaan dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif
(terminasi kehamilan).
Penegakan diagnosis :
Diagnosis klinis : berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
penunjang
Diagnosis banding : -
Komplikasi bergantung pada usia kehamilan :
Infeksi maternal korioamnionitis dan neonatal
Persalinan prematur
Hipoksia karena kompresi tali pusat
Deformitas janin
Meningkatnya insiden seksio caesaria, atau gagal persalinan normal.1
Memanjangnya periode laten
Penatalaksanaan komprehensif :
Pembatasan aktivitas pasien
Belum inpartu : Eritromisin 4x250 mg selama 10 hari
Rujuk pasien ke fasilitas pelayanan sekunder
Di rumah sakit rujukan :
34 minggu : induksi dengan oksitosin bila tidak ada kontraindikasi1
24-33 minggu :
Bila terdapat amnionitis, abruptio plasenta, dan kematian janin, lakukan
persalinan segera mungkin
Deksametason 6 mg IM tiap 12 jam selama 48 jam atau betametason 12 mg
IM tiap 24 jam selama 48 jam
Pemeriksaan serial
Bayi dilahirkan di usia 34 minggu
< 24 minggu :
Keputusan diambil setelah mempertimbangkan kondisi ibu dan janin
Lakukan konseling dan terminasi kehamilan dapat mungkin terjadi
Bila terdapat infeksi (korioamnionitis), lakukan tata laksana yang sesuai
Konseling dan edukasi :
Memberikan informasi kepada ibu, adanya air ketuban yang keluar
sebelum tanda inpartu
Menenangkan ibu dan membertitahu kepada suami dan keluarga
agar ibu dapat diberi kesempatan untuk tirah baring
Prognosis :
Prognosis ibu
Ad vitam : Bonam
Ad functionam : Bonam
Ad sanationam : Bonam
Prognosis janin
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad functionam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam1
Kista Ovarium
Pengertian Kista Ovarium

Kista berarti kantung yang berisi cairan.


Kista ovarium berarti kantung berisi cairan,
normalnya berukuran kecil, yang terletak
di ovarium.
Kista ovarium dapat terbentuk kapan saja,
pada masa pubertas sampai menopause,
juga selama masa kehamilan.
Etiologi

Sampai sekarang ini penyebab dari Kista


Ovarium belum sepenuhnya dimengerti,
tetapi beberapa teori menyebutkan
adanya gangguan dalam pembentukan
estrogen dan dalam mekanisme umpan
balik ovarium-hipotalamus.
Kista ovarium disebabkan oleh gangguan
(pembentukan) hormon pada
hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.
gagalnya sel telur (folikel) untuk
berovulasi.
Tipe Kista Normal

Kista Fungsional
Ini merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Kista ini berasal
dari sel telur dan korpus luteum, terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi yang
normal.
Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa subur, untuk
melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma. Setelah pecah,
kista fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat menstruasi.
Kista fungsional terdiri dari: kista folikel dan kista korpus luteum. Keduanya tidak
mengganggu, tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam waktu
6-8 minggu.
Tipe Kista Abnormal

1. Cystadenoma
Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel ovarium. Biasanya bersifat
jinak, namun dapat membesar dan dapat menimbulkan nyeri.

2. Kista coklat (endometrioma)


Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut kista coklat
karena berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman.
Tipe Kista Abnormal
3. Kista dermoid
Merupakan kista yang yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku, rambut, gigi dan
lemak. Kista ini dapat ditemukan di kedua bagian indung telur. Biasanya berukuran kecil dan tidak
menimbulkan gejala.
4. Kista endometriosis
Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada di luar rahim. Kista ini
berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan endometrium setiap bulan sehingga
menimbulkan nyeri hebat, terutama saat menstruasi dan infertilitas.
5. Kista hemorrhage
Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga menimbulkan nyeri di salah satu sisi
perut bagian bawah.
Tipe Kista Abnormal

6. Kista lutein
Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan.

Beberapa tipe kista lutein antara lain:


a. Kista granulosa lutein
b. Kista theca lutein
Tipe Kista Abnormal

7. Kista polikistik ovarium


Merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah dan
melepaskan sel telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap
bulan. Ovarium akan membesar karena bertumpuknya kista ini.
Untuk kista polikistik ovarium yang menetap (persisten), operasi
harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak
menimbulkan gangguan dan rasa sakit.
Kista ovarium ada yang bersifat jinak dan ganas (kanker).
Biasanya kista yang berukuran kecil bersifat jinak. Kista ovarium
sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin.
Manifestasi klinis kista ovarium

1. Sering tanpa gejala


2. Nyeri saat menstruasi
3. Nyeri di perut bagian bawah.
4. Nyeri pada saat berhubungan badan.
5. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki.
6. Terkadang disertai nyeri saat buang air kecil dan buang air besar.
7. Siklus menstruasi tidak teratur; bisa juga jumlah darah yang
keluar banyak.
Manifestasi klinis kanker ovarium
1. Perubahan menstruasi.
2. Rasa sakit atau sensasi nyeri saat bersenggama
3. Gangguan pencernaan yang menetap.
4. Perubahan kebiasaan buang air besar, contoh: sukar buang air besar (= sembelit,
konstipasi, obstipasi)
5. Perubahan berkemih, misalnya: sering kencing.
6. Perut membesar, salah satu cirinya celana terasa sesak.
7. Kehilangan selera makan atau rasa cepat kenyang.
8. Rasa mudah capek atau rasa selalu kurang tenaga
9. Rasa nyeri pada (tulang) punggung bawah (Low back pain).
Penegakan Diagnosis

Diagnosis kista ovarium ditegakkan melalui pemeriksaan dengan


USG (abdomen atau transvaginal), kolposkopi screening, dan
pemeriksaan darah (tumor marker atau petanda tumor).
USG kista ovarium

Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang oval)


dan terlihat sangat echolucent dengan dinding dinding yang
tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista nampak bayangan echo
yang lebih putih dari dinding depannya.
Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau multilokuler
(bersepta-septa).
Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus (internal
echoes) di dalam kista yang berasal dari elemen-elemen darah di
dalam kista.
Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan sekret (yang meliputi: Trichomonas, Candida/jamur, bakteri


batang, bakteri kokus, epitel, leukosit, eritrosit, epitel, dan pH) dan
hematologi, misalnya: Hb (Hemoglobin).
Penatalaksanaan
1. Observasi
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau)
selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan
sendirinya setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak
curiga ganas (kanker).

2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni
dilakukan pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi.
Pemeriksaan Diagnostik

Pemantauan janin terhadap kesehatan janin


Pemantauan EKG
Elektrolit
Hemoglobin/Hematokrit
Golongan darah
Urinalisis
Amniosentesis terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi
Pemeriksaan sinar x sesuai indikasi.
Ultrasound sesuai pesanan
Daftar pustaka
1. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD. Kehamilan
multijanin. Dalam: Hartono A, Suyono YJ, Pendit BU (alih bahasa). Obstetri Williams.
Volume 1 edisi 21. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 2006. h. 852-897 33
2. Liewellyn, Jones D. Kelainan presentasi janin. Dalam: Hadyanto, editor edisi bahasa
Indonesia. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Edisi 6. Hipokrates, Jakarta. 2002: 160-162
3. Zach T. Multiple births. Dalam: emedicine from WebMD, 2006. Available at URL
http://www.emedicine.com/med/topic2599.htm
4. Morales AJ et al. Multifetal pregnancy reduction. Dalam: Ethics in Obstetric and
Gynecology, 1999. Available at URL
http://www.acog.com/from_home/publications/ethics/ethics041.pdf
5. Suririnah. Proses terjadinya kehamilan kembar atau kehamilan lebih dari satu. 2005.
Available at URL http://www.infoibu.com/mod.php
6. Guttmacher AF, Schuyler GK. The Fetus of Multiple Gestations. Obstet Gynecol, 1958; 528-
41.
7. Kalaichandran S. Twin Pregnancy Double Trouble or Twice The Jay. Lecturere Unversity of
Ottawa Obstetric and Gynaecology, 1999 in http://www.teinspregnancy/obstetric.html
8. Kliegman RM. Kehamilan multipel. Dalam: Wahab AS, editor bahasa Indonesia. Ilmu
kesehatan anak Nelson. Volume 1 edisi 15. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 2000.
h. 559-561Thilo EH, Rosenberg AA. Multiple births. Dalam: Hay WW (ed). Current
pediatric diagnosis & treatment. 16thedition. Europe: McGraw Hill Education, 2002. h. 56-
57.
9. Pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia. Panduan praktik klinis bagi dokter di fasilitas
pelayanan kesehatan primer : Ketuban Pecah Dini. Edisi revisi tahun 2014. Jakarta : IDI ;
2014. 598-600.
10. Soewarto S. Ketuban Pecah Dini. Dalam : Saifuddin AB, Rachmhadhi T dan Wiknjosastro
GH, editor. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi ke-4 cetakan ke-3. Jakarta:
Tridasa Printer ; 2013. 677-681.
11. Cunningham, F Gary. Et all. Obstetri williams. Edisi ke-23. Jakarta : EGC ; 2010. 46 : 1051.
12. George Adriaansz.. Tumor jinak genetalia. Dalam : Saifuddin AB, Rachmhadhi T dan
Wiknjosastro GH, editor. Ilmu Kandungan Sarwono Prawirohardjo. Edisi ke-3 cetakan ke-2.
Jakarta: Tridasa Printer ; 2014. 251-293.
TERIMA KASIH