Anda di halaman 1dari 38

PENGGUNAAN EJAAN BAHASA INDONESIA

DALAM KARYA TULIS ILMIAH


OLEH KELOMPOK 9 :
WAHYU SAPUTRO
FINA TM
SEPTIANA WIDI LESTARI
DEBY MIPA SALAM
(Kemdikbud, 2016)
BAHASA Ide
Gagasan diatur
Pikiran dalam
Keinginan UUD 1945 pasal 36
Perasaan
UU RI No 24 tahun 2009
berkembang pesat
Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan RI No. 50
tahun 2015 PUEBI
Dampak dari ilmu pengetahuan
Teknologi
Seni
FUNGSI BAHASA INDONESIA
Alat untuk menjalankan administrasi negara
Alat pemersatu berbagai suku bangsa di Indonesia
Media untuk menampung kebudayaan nasional
SEJARAH BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia : Bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa resmi
Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia.
Diresmikan setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia
Merupakan varian Bahasa Melayu Bahasa Austronesia cabang
Bahasa Sunda-Sulawesi yang digunakan sebagai lingua-franca di
nusantara.

Sumber : Abdul Chaer, 2011


KESALAHAN UMUM DALAM
PENGGUNAAN EYD
Salah Eja

Ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa (kata, kalimat)


dengan kaidah tulisan (huruf) yang distandardisasikan dan
mempunyai makna.
aspek fonologis
aspek morfologis
aspek sintaksis

Sumber:Jurnal Ilmiah Bina Edukasi Vol.5 No.2, Desember 2012: 53 - 62 ( Kesalahan PENGGUNAAN EJAAN YANG
DISEMPURNAKAN DALAM KARYA ILMIAH DOSEN UNIVERSITAS BINA DARMA) Sunda Ariana Dosen Universitas Bina darma.
Kata mana
Kata tanya mana
Menanyakan tempat keberadaan digunakan di
depan kata benda
Contoh : Mana buku telepon itu ?
Untuk menanyakan keberadaan dengan lebih pasti di
depan kata mana perlu ditempatkan kata depan di,
ke, atau dari.
Contoh : Di mana mereka belajar ?
SUMBER : ABDUL CHAER, 2011
Penggunaan Double atau Single k
Penulis, sering melakukan kesalahan dalam menuliskan jumlah
huruf k dalam gabungan antara kata dasar dengan huruf akhir k
dengan akhiran -kan. Sering pula terjadi kekeliruan bila
yang digunakan bukan akhiran -kan tetapi akhiran -an.

Sumber: Abdul Kadir Salam, 2005


Lanjutan
Penulisan yang Salah Penulisan yang Benar
menunjukan menunjukkan
tembakkan tembakan
Tembakan! Tembakkan !
tindakkan tindakan
masukkan masukan
Masukan! Masukkan !

Sumber: Abdul Kadir Salam, 2005


Contoh :

Sumber : respository.widyatama.ac.id
Penggunaan Huruf Kapital
Huruf kapital dipakai sebagai Huruf kapital tidak dipakai sebagai
huruf pertama awal kalimat. huruf pertama nama orang yang
merupakan nama jenis atau satuan
Misalnya: ukuran.
Kita harus bekerja keras. Misalnya:
ikan mujair
Huruf kapital dipakai sebagai 2 ampere
huruf pertama unsur nama orang,
termasuk julukan. Huruf kapital tidak dipakai untuk
Misalnya: menuliskan huruf pertama kata yang
Wage Rudolf Supratman bermakna anak dari, seperti bin,
binti, boru, dan van, atau huruf
Dewa Pedang pertama kata tugas.
Misalnya: Abdul Rahman bin Zaini

Sumber : PUEBI, 2016


Lanjutan
Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Mereka berhasil lulus ujian, katanya.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama


agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti
untuk Tuhan.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar


kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti
nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.

Sumber : PUEBI, 2016


Lanjutan
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan
pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti
nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku
bangsa, dan bahasa.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari,
dan hari besar atau hari raya.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa
sejarah.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Sumber : PUEBI, 2016


Lanjutan
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur
bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau
dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.
Misalnya:
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan
Bahasa Indonesia
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang
sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah
dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang
tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Ia menyajikan makalah Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata.

Sumber : PUEBI, 2016


Contoh :

Sumber : digilib.unud.ac.id
Contoh :

Sumber : digilib.unud.ac.id
Penggunaan Tebal dan Miring
Huruf tebal (bold) digunakan untuk :
judul dan sub-judul (sub-bab, sub sub-bab)
memberi penekanan, pembedaan, dan sejenisnya.

Huruf miring (italic) digunakan untuk


istilah dalam bahasa asing atau bahasa daerah
memberi penekanan
pembedaan (termasuk pembedaan sub-judul yang hirarkinya tidak
setingkat), dan sejenisnya.
Judul sub-bab dibuat dengan mengkombinasikan huruf miring dan
huruf tebal (italic-bold atau bold-italic).
Judul sub-bab dan seterusnya dibuat dengan huruf miring biasa (italic).

Sumber: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, Program S-1 Pemerintahan Integratif, 2008.
Peleburan kata dengan huruf awal k, p, t, s
Ketika awalan me-bertemu dengan kata dasar dengan huruf
pertama /s/, /k/, /p/, atau /t/ , maka huruf pertama kata
tersebut akan melebur dengan awalan me- masing-masing
menjadi meng- atau mem- atau men- atau meny-.
Misalnya :
me + sambar menyambar
me + kikis mengikis
me + peduli + kan memedulikan
me + tarik menarik

Sumber : Abdul Kadir Salam, 2005


Contoh :

Sumber : digilib.ui.ac.id
Lanjutan

Untuk kata-kata yang dimulai dengan gugus konsonan dan


pengindonesiaannya belum dianggap penuh, digunakan bentuk
awalan me- seperti aturan di atas, tetapi konsonan tak bersuara (s,k,p,
dan t) yang menjadi konsonan awal kata-kata tidak disenyawakan.
Contoh :
Mengklasifikasikan
Memproklamasikan
Menswadayakan

SUMBER : ABDUL CHAER, 2011


Penulisan di sebagai sebuah kata depan dan
di sebagai sebuah awalan
Sebagai kata depan, di ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya,
misalnya :
di Tanggamus
di perpustakaan
Sebaliknya, bila digunakan sebagai awalan, maka di ditulis menyatu
dengan kata yang mengikutinya, misalnya:
dipukul
dilihat

SUMBER : PUTRAYASA, 2009


Contoh :

Sumber : digilib.unud.ac.id
Singkatan dan Akronim
Singkatan :
hasil menyingkat (memendekkan) yang berupa huruf atau
gabungan huruf.
Misal : DPR, KKN, yth., dsb., hlm.

Akronim :
kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata, atau
bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
Misal : mayjen atau mayor jenderal

Sumber : (KBBI 1994 : 18)


Akronim dan Singkatan
1. Singkatan nama orang, gelar, sapaan,
Contoh :
jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda
H. Hamid Haji Hamid
titik pada setiap unsur singkatan itu.
M.Si. magister sains

2. Singkatan yang terdiri atas huruf awal


setiap kata nama lembaga pemerintah dan Contoh :
ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badanNKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia
atau organisasi, serta nama dokumen resmi PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa
ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda
titik.

Sumber : (PUEBI, 2016)


Lanjutan
Contoh :
3. Singkatan yang terdiri atas tiga
hlm. halaman
huruf atau lebih diikuti dengan
dll. dan lain-lain
tanda titik.
dkk. dan kawan-kawan
4. Singkatan yang terdiri atas dua
Contoh :
huruf yang lazim dipakai dalam
a.n. atas nama
surat-menyurat masing-masing
d.a. dengan alamat
diikuti oleh tanda titik.
s.d. sampai dengan
5. Lambang kimia, singkatan
satuan ukuran, takaran, Contoh :
timbangan, dan mata uang tidak Cu kuprum
diikuti tanda titik. cm sentimeter
Rp rupiah
Sumber : (PUEBI, 2016)
Lanjutan
6. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital
tanpa tanda titik.
Contoh :
BIN Badan Intelijen Negara
LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

7. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata
dari deret
Contoh : kata ditulis dengan huruf awal kapital.
Bulog Badan Urusan Logistik
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

8. Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau
gabungan suku kata ditulis dengan
Contoh :huruf kecil.
iptek ilmu pengetahuan dan teknologi
rudal peluru kendali
tilang bukti pelanggaran Sumber : (PUEBI, 2016)
Angka dan Bilangan
Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor
Angka Arab : 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L(50), C (100), D (500), M (1.000)

Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf,
kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian. Misal :
Mereka menonton drama itu sampai tiga kali
Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus dan 100 minibus

Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf


Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah

Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, sisinan
kalimatnya diubah.
Panitia mengundang 250 orang peserta
Sumber : (PUEBI, 2016)
Tanda titik
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan
Tanda titik dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang
tidak berakhiran dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit
Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilistrasi, atau
tabel
Tanda Koma
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan
Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, sedangkan,
dalam kalimat majemuk (setara)
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya
Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti
oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, meskipun demikian
Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam
daftar pustaka
Sumber : (PUEBI, 2016)
Contoh :

Sumber : digilib.ui.ac.id
Contoh :

Sumber : digilib.ui.ac.id
Kata Serapan
Berdasarkan integrasinya kata serapan dalam Bahasa
Indonesia dibagi dua :
(1)Unsur asing yang belum sepenuhnya terserap
Contoh : force majeur, de facto, de jure

(2)Unsur asing yang penulisan dan pengucapannya


disesuaikan dengan kaidah Bahasa Indonesia.
Contoh : serapan dari Bahasa Arab : ajaib, mukjizat,
nikmat

Sumber : (PUEBI, 2016)


Kata pinjaman
1. Kata asing yang dipinjam tidak berubah ejaannya dan
dicetak dengan huruf miring atau digarisbawahi.
Contoh : honoris causa, contempt of court

2. Kata asing yang diimpor termasuk kosakata Bahasa


Indonesia, tetapi ejaannya tidak berubah. Kata imporan
tidak dicetak dengan huruf miring atau digarisbawahi
Contoh : Bank, stroke, sanksi, biomassa

sumber : A. Sakri (1992) dalam AK. Salam (2005)


PENULISAN KATA SERAPAN YANG SERING SALAH

1. Analisa Analisis
2. Aktifitas Aktivitas
3. Kwantitas Kuantitas
4. Kwitansi Kuitansi
5. Jastifikasi Justifikasi
6. Jadual Jadwal
7. Teoritis Teoretis
8. Nafas Napas
repository.ui.ac.id
Contoh :

Sumber : digilib.uns.ac.id
Kata Berimbuhan dan Bubuhan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan
akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misal: berjalan

2. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.


Misal: pascasarjana

3. menge- digunakan pada kata-kata yang hanya bersuku kata satu.


Misal: me + tik mengetik bukan mentik

Sumber : (PUEBI, 2016)


KESIMPULAN dan SARAN
1. Penulisan karya tulis ilmiah harus menggunakan Bahasa
Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang sudah ditetapkan
dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

2. Penulisan Bahasa dalan karya tulis ilmiah juga harus mengacu


pada tata aturan dan pedoman penulisan sebagaimana yang
sudah ditetapkan oleh instansi pendidikan terkait.
DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2010. Telaah Bibliografi Kebahasaan Bahasa Indonesia/Melayu. Jakarta : Rineka
Cipta.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Panitia Pengembangan Pedoman Bahasa Indonesia. 2016.
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta : Badan Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa. ISBN : 978-979-069-262-6.

Putrayasa, Ida Bagus. 2009. Kalimat Efektif (Diksi, Struktur, dan Logika). Bandung : PT. Refika
Aditama.

Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Nomor 24 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang
Negara, serta Lagu Kebangsaan. Sekretariat Negara. Jakarta.

Salam, Abdul Kadir. 2005. Course Materials Scientific Methods (TNH 308) Departement of Soil
Science University of Lampung. UNILA : Lampung
Susanti, Ratna. 2015. Kesalahan Penggunaan EYD dalam Karya Ilmiah Mahasiswa Politeknik
Indonusa Surakarta. Politeknik Indinusa : Surakarta.
TERIMA KASIH