Anda di halaman 1dari 10

ASPEK HUKUM TENTANG

PENYAKIT MENULAR
KELOMPOK 3 :
KHORY KHOIRUNNISAH
M. WAHYU PRADANA
MERIYANTI SIMANUNGKALIT
MELINDA SIRINGO RINGO
NINDI PUTRI P
NENG TRISKA
NIKEN LEVIA ROSA
NISRINA NUR NAUFAL
NIZARA ZULMA
OKTA FITRIANI
1. Yang termasuk Undang-undang Wabah
penyakit menular.
2. Yang termasuk dalam penyakit hubungan
seksuil (PHS) / Sexually Transminated
Diseases (STD).
Yang pertama lebih banyak berkaitan dengan masalah
epidemiologi dan sudah ada beberapa ketentuan
undang - undang yang mengaturnya.
Sementara yang kedua, hanya dibatasi mengenai
penyakit hubungan seksual karena penyakit ini yang
banyak mengandung permasalahan hukum bila para
dokter dan kalangan kesehatan tidak berhati-hati
menghadapinya.
Permasalahan yang timbul seputar PHS ini
(termasuk penyakit AIDS) misalnya bagaimana
sikap dokter menghadapi salah seorang pasangan
suami isteri (pasutri) atau pasangan tetapnya yang
menderita penyakit kelamin, pembantu rumah
tangga/pengasuh anak (baby-sitter) yang
menderita PHS atau menerima dan mengobati
pasien penderita HIV positif atau AIDS (ODHA
orang dengan HIV positif dan AIDS) yang berobat
ke praktek/ klinik/ rumah sakit dan lain-lain.
Undang - undang Nomor 6 tahun 1962 dan Undang -
undang Nomor 7 tahun 1968 Pasal 3 tentang Wabah.
Kedua Undang - undang di atas perlu untuk
menangkal mewabahnya beberapa penyakit tertentu
yang pada permulaan dan pertengahan abad ke 20
sering terjadi, yaitu wabah penyakit yang bersifat
Epidemi dan bahkan Pandemi.
Undang Undang Kurang Berpengaruh
Karena perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan dan
lalu lintas internasional, serta perubahan lingkungan
hidup dan lain-lain, undang undang di atas ternyata
kurang mampu memenuhi kebutuhan upaya
penanggulangan wabah dewasa ini dan
perkembangannya di masa mendatang. Masalah dasar
adalah, dalam undang-undang yang lama pengertian
wabah didasarkan pada perjalanan penyakit dengan
cepat, sehingga dalam waktu singkat jumlah penderita
menjadi meningkat. Sementara keadaan pada waktu ini
menghendaki agar suatu wabah dapat segera ditetapkan
apabila ditemukan suatu penyakit yang menimbulkan
wabah, walaupun penyakit tersebut belum menjalar dan
belum menimbulkan malapetaka dalam masyarakat.
Pemerintah mengeluarkan Undang - undang RI Nomor 4
Tahun 1984 tentang Wabah penyakit Menular. Dalam undang
- undang ini dinyatakan yang dimaksud dengan Wabah
Penyakit Menular adalah kejadian berjangkitnya
suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata
melebihi dari pada keadaan lazim pada waktu dan
daerah tertentu serta dapat menimbulkan
malapetaka. Aspek hukum dalam penanggulangan penyakit
ini yang perlu diketahui kalangan kedokteran adalah tentang
kewajiban orang - orang yang mempunyai tanggung jawab
dalam lingkungannya melaporkan kepada Kepala Desa atau
Lurah dan/atau Kepala Unit Kesehatan terdekat dalam waktu
secepatnya.
Hal ini disebut dengan tegas pada lanjutan
ketentuan ini yaitu Peraturan Menteri Kesehatan
RI Nomor 560/Menkes/Per/VIII/1989 tentang
Jenis Penyakit Tertentu Yang Dapat Menimbulkan
Wabah, Tata cara Penyampaian Laporannya dan
Tata Cara Penanggulangan seperlunya, bahwa
yang diharuskan menyampaikan laporan
kewaspadaan termasuk: dokter, petugas kesehatan
yang memeriksa penderita, dan dokter hewan yang
memeriksa hewan tersangka penderita.
Jenis Jenis Penyakit Menular

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini disebutkan


penyakit yang dapat menimbulkan penyakit wabah
adalah: Kolera, Pes, Demam kuning, Deman bolak
balik, Tifus Bercak Wabah, Deman Berdarah
Dengue, Campak, Polio, Difteri, Pertusis, Rabies,
Malaria, Influenza, Hepatitis, Tifus perut,
Meningitis, Ensefalitis dan Antrax.
Laporan Kewaspadaan Penderita
a. Nama/nama-nama penderita atau yang meninggal.
b. Gologan umur.
c. Tempat kejadian
d. Waktu kejadian
e. Jumlah yang sakit atau meninggal
Melalui jenjang administratif negara akhirnya dalam
waktu singkat akan sampai ke Dinas Kesehatan Dati serta
Kepala Wilayah/Daerah. Laporan dapat disampaikan
dengan lisan atau tulisan, melalui tatap muka, telepon,
radio, surat, telek, faksimile, dan alat komunikasi lainnya.
Menteri Kesehatan akan menerima perkembangan wabah
penyakit menular melalui Direktur Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan
Lingkungan Pemukiman (PPM & PLP).
THANKS FOR YOUR ATTENTION
ANY QUESTION?