Anda di halaman 1dari 40

Case Report Session

Kepaniteraan Klinik Senior/G1A215040/September 2017


Pembimbing dr. Vonna Riasari, Sp.M

KATARAK SENILIS MATUR OD


OLEH:
Legina Aromatika
G1A215040

Kepaniteraan Klinik Senior


Bagian Mata
PENDAHULUAN

Katarak Kekeruhan pada lensa yang


diakibatkan oleh metabolisme lensa yang
terganggu

Katarak penyebab utama gangguan


penglihatan dan kebutaan di Indonesia dan
didunia

Di Indonesia prevalensi kebutaan pada


usia >50 tahun adalah 3,2% dengan
penyebab utama adalah katarak (71%)
Laporan kasus
IDENTITAS PASIEN

Ny. SH/64
th/IRT/Mayang Mangurai

Mata kiri kabur


sejak 1 tahun
yang lalu
Anamnesis
1 tahun mata kiri kabur dan berkabut, seperti ada
asap yang menutupi penglihatan
keluhan ini dirasakan perlahan-lahan, semakin lama
dirasakan semakin memberat
Silau (-), mata merah (-), nyeri (-), nyeri kepala (-),
mata berair (-), gatal (-), keluar kotoran air mata (-),
melihat ganda (-), melihat pelangi disekitar sumber
cahaya (-).
memberat sejak 1 bulan ini
Riw. Op katarak 2 bulan yang lalu
Riw penggunaan kacamata sejak 20 tahun yang
lalu
RIWAYAT
RPD
Terpapar
Pemakaia Penyakit
matahari,
Trauma (- Operasi n mata HT & DM
angin Alergi (-)
) mata (+) kacamat sebelumn (-)
dan debu
a (+) ya (-)
(-)

RPK
Ktarak tidak
Keluhan sama (-) Hipertensi (-) DM(-)
diketahui

Gizi
IMT : 20.02
BB : 52 Kg TB : 160 cm
(Normal)
STATUS GENERALIS

KU : Tampak sakit Pemeriksaan Visik


sedang
Kesadaran : Compos mentis
Dalam Batas Normal
TB / BB : 160 cm / 52 kg
Tekanan darah: 120/80 mmHg
Nadi : 78 x/menit
RR : 18 x/menit
Suhu : Afebris
I. Pemeriksaan Visus dan Refraksi

OD OS

Visus: SC 6/24 1/60


CC
Koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Oftalmometer Tidak dilakukan Tidak dilakukan

II. Muscle Balance

Kedudukan bola mata


Ortoforia Ortoforia

+ + + +
Pergerakan bola + +
+ +
mata + +
+ +
Duksi : baik
Duksi : baik
Versi : baik
Versi : baik
III. Pemeriksaan Eksternal

Z`
IOL di Posterior Chamber Lensa Keruh merata
Silia Arah normal Arah normal

Palpebra Superior edema (-), hiperemis (-), massa (-) edema (-) hiperemis (-), massa
Palpebra Inferior (-)
Konjungtiva tarsus Papil (-), folikel (-), lytiasis (-). Papil (-), folikel (-), lythiasis (-)

Konjungtiva bulbi Injeksi (-), hiperemis (-), jar. Injeksi (-), hiperemis (-), jar.
Fibrovaskuler (-) Fibrovaskuler (-)
Kornea Jernih Jernih
Bilik Mata Depan Sedang Sedang
Iris Kripta iris normal, warna coklat Kripta iris normal, warna coklat

Pupil Bulat, Isokor, Reflek cahaya (+) Bulat, Isokor, Reflek cahaya (+)
4 mm 4 mm
Diameter
IV. Pemeriksaan Slit Lamp dan Biomikroskopi
OD OS

Supersilia : lengkap, tidak rontok Supersilia : lengkap, tidak rontok


Cilia : arah normal Cilia : arah normal
Palpebra : jaringan sikatrik Pelpebra : jaringan sikatrik
(-), benjolan (-), hiperemis (-) (-), benjolan (-), hiperemis (-)
Konjungtiva Konjungtiva
Tarsalis: folikel (-), papil (-), litiasis (-) Tarsalis: folikel (-), papil (-), litiasis (-)
Bulbi: injeksi (-), nevus (-), jaringan Bulbi: injeksi (-), nevus (-), jaringan
fibrovaskular (-) fibrovaskular (-)

Kornea : jernih, sikatriks (-), infiltrat (-) Kornea : jernih, sikatriks (-), infiltrat (-)
COA: sedang, darah (-), pus (-) COA: dangkal, darah (-), pus (-)
Pupil : bulat , reflek cahaya (+) Pupil : bulat , reflek cahaya (+)
Iris : coklat, atrofi (-) Iris : coklat, atrofi (-)
Lensa : keruh merata, iris shadow test (-) Lensa : keruh sebagian, iris shadow test (-)

Sklera : nodul (-) Sklera : nodul (-)


Vitreus: sulit dinilai Vitreus: sulit dinilai
V. Tonometri
Digital: N
Schiotz: Tidak dilakukan
VI. Visual Field
Sama dengan pemeriksa
VII. Funduskopi
Tidak dilakukan
Pemeriksaan pada Keadaan Midriasis
Tidak dilakukan
DIAGNOSIS BANDING
Katarak senilis imatur ODS
Katarak senilis matur ODS
Katarak senilis hipermatur ODS

DIAGNOSIS KERJA
Pre Operasi
Katarak senilis matur OS
Pseudofakia OD + IOL

ANJURAN PEMERIKSAAN
Persiapan pre op
Darah rutin, CT-BT, dan GDS
Laporan Operasi
Bhleparostat + tegel dipasang pada m.rectus superior OS
Peritomi dan grooving dilakukan jam 10-2, COA ditembus
dengan keratom
Tripan blue + viscoat injeksi intracameral, ccc dilakukan
360
Bibir luka diperlebar, nukleus dikeluarkan, jahit jam 11 dan 1
dengan nylon 10.0
Irigasi aspirasi dengan simcoe, viscoat injeksi kembali
IOL implantasi in the sulcus, jahit jam 12, irigasi aspirasi
kembali sampai bersih
Injeksi gentamisin 0.5 cc + dexametason 0.5 cc sub
konjungtiva
Mata diberi salep mata dan ditutup dengan kassa steril
setelah blefarostat dan tegel dilepaskan
Operasi selesai.
Diagnosis Kerja Post Operasi

Pseudofakia OS post ECCE + IOL


PENATALAKSANAAN

Non
Medikamentosa Edukasi
Paracetamol tab 3x500
mg
Dexametason 0.1 %
Operasi dengan polimiksin B dan
Neomisin sulfat 8x1 tetes
OS
Gentamisin 8x1 tetes OS
PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad bonam


Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
Follow Up

S : Rasa mengganjal pada mata kiri


dan terasa sedikit nyeri

O : TD : 120/80 N : 74x/menit
T : 36.C RR: 19x/menit
I. Pemeriksaan Visus dan Refraksi

OD OS

Visus: SC 6/24 1/60


CC
Koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Oftalmometer Tidak dilakukan Tidak dilakukan

II. Muscle Balance

Kedudukan bola mata


Ortoforia Ortoforia

+ + + +
Pergerakan bola + +
+ +
mata + +
+ +
Duksi : baik
Duksi : baik
Versi : baik
Versi : baik
III. Pemeriksaan Eksternal

Z`
IOL di Posterior Chamber Lensa Keruh merata
Silia Arah normal Arah normal

Palpebra Superior edema (-), hiperemis (-), massa (-) edema (-) hiperemis (-), massa
Palpebra Inferior (-)
Konjungtiva tarsus Papil (-), folikel (-), lytiasis (-). Papil (-), folikel (-), lythiasis (-)

Konjungtiva bulbi Injeksi (-), hiperemis (-), jar. Injeksi (-), hiperemis (-), jar.
Fibrovaskuler (-) Fibrovaskuler (-)
Kornea Jernih Jernih
Bilik Mata Depan Sedang Sedang
Iris Kripta iris normal, warna coklat Kripta iris normal, warna coklat

Pupil Bulat, Isokor, Reflek cahaya (+) Bulat, Isokor, Reflek cahaya (+)
4 mm 4 mm
Diameter
Lensa IOL di Posterior chamber Keruh merata
IV. Pemeriksaan Slit Lamp dan Biomikroskopi
OD OS

Supersilia : lengkap, tidak rontok Supersilia : lengkap, tidak rontok


Cilia : arah normal Cilia : arah normal
Palpebra : jaringan sikatrik Pelpebra : jaringan sikatrik
(-), benjolan (-), hiperemis (-) (-), benjolan (-), hiperemis (-)
Konjungtiva Konjungtiva
Tarsalis: folikel (-), papil (-), litiasis (-) Tarsalis: folikel (-), papil (-), litiasis (-)
Bulbi: injeksi (-), nevus (-), jaringan Bulbi: injeksi (-), nevus (-), jaringan
fibrovaskular (-) fibrovaskular (-)

Kornea : jernih, sikatriks (-), infiltrat (-) Kornea : jernih, sikatriks (-), infiltrat (-)
COA: sedang, darah (-), pus (-) COA: dangkal, darah (-), pus (-)
Pupil : bulat , reflek cahaya (+) Pupil : bulat , reflek cahaya (+)
Iris : coklat, atrofi (-) Iris : coklat, atrofi (-)
Lensa : keruh merata, iris shadow test (-) Lensa : keruh sebagian, iris shadow test (-)

Sklera : nodul (-) Sklera : nodul (-)


Vitreus: sulit dinilai Vitreus: sulit dinilai
A : Pseudofakia OS Post ECCE + IOL
P : Pasien boleh pulang
Non medikamentosa : Edukasi
Medikamentosa :
Paracetamol tab 3x500 mg
Dexametason 0.1 % dengan
polimiksin B dan Neomisin sulfat
8x1 tetes OS
Gentamisin 8x1 tetes OS
Tinjauan pustaka
KATARAK

Katarak adalah kekeruhan pada lensa


KATARAK

20 juta orang mengalami kebutaan


akibat katarak
Epidemiologi >90% : katarak senilis
20-40% orang usia 60 tahun ke atas

Umur
Pekerjaan
Merokok
Faktor Risiko Penyakit diabetes mellitus
Trauma mata
Obat-obatan
KLASIFIKASI KATARAK

Usia Morfologi Maturitas

Kongenital Nuklear Insipien


Juvenile Kortikal Imatur
Pre-senile Kupuliform Matur
Senile Hipermatur
KATARAK SENILIS
Katarak senilis adalah katarak primer
yang terjadi pada usia lebih dari 50
tahun. Kedua mata dapat terlihat
derajat kekeruhan yang sama atau
berbeda.
ETIOLOGI
Diduga terjadi karena:
1. Proses pada nukleus
2. Proses pada korteks
PATOFISIOLOGI
DIAGNOSA (STADIUM)
TATALAKSANA

Non-
Bedah Bedah
(ICCE)
Pengobatan
penyebab
katarak
(ECCE):
(SICS)
Meningkatan Pemasanagan lensa
kemampuan tanam (IOL)
penglihatan Anterior chamber
pada penderita IOL
katarak imatur Iris-Supported lenses
dan katarak Posterior chamber
insipien IOL
Prognosis

Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%.

Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan


dengan ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan
prognosis dalam penglihatan dapat meningkat
hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan
menggunakan snellen chart.
Pembahasan
PEMBAHASAN

FAKTA TEORI
Identitas : Perempuan, 64 Katarak senilis adalah
th
katarak primer yang
KU: Mata kiri kabur 1 terjadi pada usia lebih
tahun
dari 50 tahun.
RPS:
mata kabur (+), berkabut
(+), perlahan lahan Gejala katarak :
memberat.
silau (-), melihat pelangi (- Penurunan tajam
), merah (-), nyeri kepala (- penglihatan
), berair (-), gatal (-),
kotoran (-), melihat ganda Glare
(-)
Myopic shift
keluhan memberat dalam
1 bulan ini dan Monocular diplopia
mengganggu aktivitas
PEMBAHASAN

FAKTA TEORI

Status oftalmologi: Status oftalmologi:


Visus: OD 6/24 dan OS Pemeriksaan tajam
1/60 penglihatan.
Lensa: OD Pseudoafakia post Pemeriksaan dengan slit
ECCE + IOL 2 bulan yg lalu lamp
OS lensa keruh merata Shadow test (-)
Slit lamp: menandakan stadium
matur
Iris shadow test OD (-)
Iris shadow test OS (-)
PEMBAHASAN

FAKTA TEORI
Penatalaksanaan: EDUKASI
Non medikamentosa BEDAH
edukasi 1. ICCE
Operasi : 2. ECCE
Rencana Operasi 3. phacoemulsifikasi
Katarak ECCE OS + IOL
OS 4. SICS
5. Pemasangan IOL
DAFTAR PUSTAKA
Tsai James C. Oxford American Handbook of Ophthalmology. New York: Oxford University Press;
2011. p 228 230, 625
K. Gerhard Lang, E. Gabriele Lang. Ophthalmology A Text Book Atlas. New York: Thieme Stuttgart;
2006. p 169-174
Crick RP, Khaw PT. A Textbook Of Clinical Ophthalmology. 3rd Edision. Singapore. World Scientific;
2003. p 35,94
Khurana A K.Comprehensive Ophthalmology. New Delhi: New Age International; 2007. p 167-170
Riordan Paul, Eva. Anatomi danEmbriologi Mata. Dalam: Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum.
Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2010. hal 11-12
Ilyas S, dkk. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran. Edisi ke-2. Jakarta:
Sagung Seto; 2010. hal. 6-7, 143-150
American Academy of Ophthalmology. Anatomy in Lens and Cataract. Section 11. Basic and
Clinical Science Course; 2007. p 5-6, 33, 50-54, 60-61
Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-3. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009. hal.
8-9, 200-208
Wva Riodan Paul, Eitcher P. Jhon. Ofthalmologi Umum. Edisi 17. Penerbit EGC. 2012
Sidarta I, Mailangkay H HB Hilman. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa
Kedokteran. Jakarta: CV Sagung Seto. 2002. Hal. 491-6
Akura, J Kaneda, dkk. Manual Sutureles Cataract Surgery Using a Claw Vectis. J. Cataract Refract
Surgery, Vol 26. April 2002
Vaughan. Katarak dalam Ofthalmologi Umum. Jakarta. 2007. Hal. 169-171
TERIMAKASIH