Anda di halaman 1dari 61

TRAUMA PADA SALURAN KEMIH

Ronny Sutanto,dr,SpOT
TRAUMA UROGENITAL
Berdasarkan Jenis Trauma
:
1) Trauma Tajam
2) Trauma Tumpul
TRAUMA UROGENITAL
Berdasarkan Mekanisme :
1) Langsung ( direct
compression)
Menyebabkan kompresi
terhadap ginjal :
Fraktur Iga
Fraktur korpus vertebra
Hidronefrosis
Tumor Ginjal
2) Tidak Langsung
Uretero Pelvic
Junction
Bisa terjadi pada saat
mengendarai kendaraan
bermotor atau terjatuh
dari tempat tinggi
menyebabkan :
Renal Arteri Trombosis
Robekan/Ruptur Uretero
Pelvic Junction
Anatomi Traktus Urinarius
Ginjal
Ureter
Vesica Urinaria
Urethra
ANATOMI GINJAL
TRAUMA GINJAL
Klasifikasi Trauma Ginjal :
1) Minor / Mild
Merupakan kontusio atau laserasi minor pada
korteks TANPA kerusakan collecting system
2) Sedang / Intermediate
Merupakan laserasi mayor, kerusakan parenkim
yang luas. Mulai dari korteks, medula sampai
collecting system
3) Major / Severe
Kerusakan parenkim yang luas dengan
disruptions yang komplit, termasuk golongan
trauma pedikel.
Diagnosis
Gambaran klinis trauma ginjal :
1) Riwayat Trauma
2) Mekanisme Trauma
3) Perubahan Urin (Haematuria +/-)
* Pada trauma tumpul sangat perlu diketahui
Mekanisme trauma yang dialami misal jatuh dari
ketinggian atau tertabrak kendaraan bermotor
* Cidera pada ginjal lebih besar kemungkinannya
apabila ada abnormalitas yang dimiliki
sebelumnya
4) Tanda Vital (Tekanan darah, Suhu, Nadi, Nafas)
5) Sirkulasi
6 )Tanda-tanda lokal
Kontusio/ekimosis di daerah CVA, flank area
antara sias dan subcostal/retroperitoneal
Krepitasi sebab fraktur iga/vertebra lumbalis
7) Laboratorium
Darah : Hb, Ht. Urin : Sedimen.
Fungsi Ginjal : Ureum, Kreatinin
8) Radiologi BNO-IVP
Untuk menilai fungsi ginjal. Jika belum yakin
lakukan (Selektif arteriografi misal a. Renalis,
CT-Scan, Renal scan, USG)
Terapi
Tujuan :
1) Mengatasi keadaan
darurat seperti syok,
pendarahan
2) Menyelamatkan fungsi
ginjal
3) Mencegah komplikasi
Terapi
Operatif Konservatif
Trauma tembakan atau tajam Trauma tumpul
Trauma tumpul grade III derajat I
Trauma tumpul derajat II Trauma tumpul
disertai : pendarahan yang derajat II dengan :
tidak teratasi secara Sirkulasi stabil,
konservatif, terdapat Pendarahan berhenti.
ekstravasasi urin, urinoma
yang cukup luas
Nefroraphy : penjahitan ginjal
Nefrektomi : Pengangkatan
ginjal
Prinsip Terapi Konservatif
Bed Rest systemic inflammatory
Observasi berkala response (SIR) syndrom :
- Tanda vital - Leukosit <5000/>10000
- Keadaan lokal (masa,nyeri) - Nadi < 60/>100
- Hb, Ht - RR <16/>20
- Urinalisa : Hematuri - Suhu <36/>37,5
. Pemberian cairan dan Jika sudah muncul hasil kultur
elektrolit yang adekuat disebut sepsis (urosepsis :
. Anti biotik cegah urosepsis masuknya endotoksin)
Trauma ginjal -> syok
haemoragik pasang infus 2
Line cairan 3L/20 Menit
Komplikasi
Early Late
Pendarahan retroperitoneal Hipertensi
persisten (hematoma) Hidronefrosis
Hematuria persisten Arterio venous fistula renal
Urinoma (tumor berisi urin) shunt
Abses retro peritoneal Pembentukan batu ginjal
Urosepsis
ANATOMI URETER
ETIOLOGI

1. Eksternal trauma :
- Penetrasi (Luka tusuk, tembak)
Op. Rongga pelvis (terligasi/ terpotong)
2. Internal trauma :
Ureteral catheterization
Intra ureteral manipulation
Endourologi : RPG
Ureteroskopi
Stenting ureter
Sering ok iatrogenik :
Pada operasi endourologi trans-ureter :
Ureteroskopi atau ureterorenoskopi
Ekstraksi batu dengan Dormia
Litotripsi batu ureter.
Operasi di daerah pelvis :
Operasi ginekologis
Bedah digestive
Bedah vasculer
Cedera akibat rudapaksa / trauma dari luar jarang.
Sering : trauma tajam.
Cedera yang terjadi dapat berupa :
Terikat , crushing ( terjepit klem ), putus / robek,
devascularisasi
Diagnosis
Kecurigaan trauma ureter iatrogenik:
1. Saat operasi :
Lapangan operasi banyak cairan
Hematuria
Anuria / oliguria
2. Pasca operasi :
Demam
Ileus
Nyeri pinggang akibat obstruksi
Luka operasi selalu basah
Hematuria persisten
Hematoma / urinoma di abdomen
Fistula ureterocutaneus / ureterovagina
TERAPI
Anastomosis end to end ( ureteroureterostomy )
Implantasi ureter ke vesika urinaria (neoimplantasi, flap) -
neoureterocystostomy
Uretero-cutaneostomi
Transureteroureterostomy
Nefrostomi sebagai diversi
Nefrectomi
Komplikasi
Fistula urin
Obstruksi ureter * hydronefrosis
Stenosis ureter*
Infeksi ginjal
Peritonitis
Uremia ( bilateral )
Prognosis
Pada kasus iatrogenik prognosis baik, bila diketahui pada
saat operasi.
Bila repairnya terlambat periureteal fibrosis yang hebat
prognosis kurang baik
ANATOMI BULI-BULI
Patogenesis
Patogenesis
Klasifikasi Trauma
GRADE JENIS DESKRIPSI KERUSAKAN
KERUSAK
AN
I Hematoma Kontusio dan hematom intramural
Laserasi Laserasi sebagian dari dinding buli-buli

II Laserasi Laserasi dari dinding ekstraperitoneal buli <2 cm

III Laserasi Ekstraperitoneal (> 2cm) atau intraperitoneal (< 2cm)


laserasi

IV Laserasi Laserasi Intraperitoneal dinding buli > 2cm

V Laserasi Laserasi Intraperitoneal atau ekstraperitoneal dari


dinding buli sampai ke leher buli atau trigonum vesica
dan orificium urethra
Grade I
Kontusio dan hematom
intramural
Laserasi sebagian dari
dinding buli-buli
Grade II
Laserasi dari dinding
ekstraperitoneal buli <2
cm
Grade III
Laserasi Ekstraperitoneal (>
2cm) Laserasi intraperitoneal (< 2cm)
Grade IV
Laserasi Intraperitoneal
dinding buli > 2cm
Grade V
Laserasi Intraperitoneal
atau ekstraperitoneal
dari dinding buli sampai
ke leher buli atau
trigonum vesica dan
orificium urethra
Diagnosis
Tanda dan gejala :
Gross hematuria atau tidak bisa miksi
Perut nyeri (bag.bawah & pelvis)
Memar di atas daerah suprapubik
Akut abdomen
Syok (perdarahan e.c fraktur pelvis)

Bengkak pada: (ekstravasasi urin)


Perineum
Scrotum
Anterior dinding abdomen (potensial space
diantara fascia transversalis dan peritoneum
parietal
Diagnosis
BNO : Melihat keadaan buli (tanda fraktur dan
benda asing (+/-)
Sistografi, atasi keadaan darurat terlebih
dahulu, deteksi tanda ruptur berupa
ekstravasasi kontras
Tes buli-buli, mengukur volume kontras
(tetap = -)
Terapi
Atasi keadaan darurat : Syok e.c. Perdarahan
Terapi operatif, Tujuan :
- Drainase urin ekstra vesikel
- Repair ruptur
Terapi konservatif : pada keadaan kontusio buli dan
ruptur buli ekstraperitoneal dengan ekstravasasi
urin minimal pada sistogram
Tindakan konservatif berupa : Dower kateter,
Evaluasi urin sedimen, Kultur urin (urin harus
steril)
Jika syok sudah teratasi dan penderita sudah
stabil maka sistostomi bisa dilakukan.
Sistostomi bisa dilakukan perkutan dengan
troker atau sistostomi set khusus.
Sistostomi terbuka yaitu dengan melakukan
sayatan kecil di daerah suprapubis, buli dibuka
dan dipasang kateter balon No.16-18 F.
Tujuan diversi urin mencegah ekstravasasi urin
tidak berlanjut.
Rujuk penderita.
Komplikasi
Abses pelvis
Peritonitis
Fistula
Hematoma supra pubis
Anatomi Urethra

POSTERIOR
URETHRA
PROSTAT
MEMBRANOSA

ANTERIOR URETHRA
PENILE BULBOSA
Trauma Urethra Anterior
Mekanisme : Urethra anterior meliputi urethra
bagian distal dari diafragma urogenital.
Umumnya trauma urethra anterior
merupakan trauma langsung antara lain :
Straddle injury
Iatrogenik
Gigitan hewan
Etiologi Trauma Urethra Anterior
Blunt Trauma Sexual intercourse
Vehicular accidents Penile fractures
Fall astride Urethral intraluminal
Kicks in the perineum stimulation
Blows in the perineum Constriction bands
from bicycle
handlebars, tops of
fences, etc.
Penetrating trauma Constriction bands
Gunshot wounds Paraplegia
Stab wounds Iatrogenic injuries
Dog bites Endoscopic
External impalement instrumentations
Penile amputations Urethral catheters,
dilators
Fig a. Typical aspect of genitalia after rupture of corpora cavernosa during sexual
intercourse. Fig b. In 20% of the cases, the urethra is involved, suffering partial or complete
rupture

Fig c, d.Gunshot wound to the genitalia. Penile urethrawas involvedwithonly a


fewpellets andwasmanagedconservatively
Fig a. Gunshot wound to the penis. The bullet went through the corpora cavernosa, superficially damaged the
urethral spongy tissue, and ended in the subcutaneous tissue of the right thigh., b ct scan

Fig d. Dog bite with urethral laceration at the


Fig c. Ischemic necrosis of penis due to plastic penoscrotal angle that required immediate
constriction device (neck of a plastic bottle) used to open repair.
improve erections
Trauma Urethra Posterior
Terjadi dengan patah tulang panggul, disebabkan oleh
kecelakaan lalu lintas jalan atau jatuh dari ketinggian.
Sekitar dua pertiga (70%) patah tulang panggul terjadi
akibat kecelakaan kendaraan bermotor.
trauma tumpul menyumbang lebih dari 90% dari
cedera uretra Secara keseluruhan, uretra posterior
laki-laki mengalami luka dalam sekitar 3,5% -19% dan
uretra perempuan di 0% -6% dari semua fraktur
panggul dkk. 1983).
Uretra wanita jarang terluka memar, luka gores kecuali
akibat fraktur tulang.
Stable pelvic fracture
Pada fraktur panggul stabil,
gangguan uretra dapat terjadi ketika
gaya eksternal yang besar, yang
membuat retak dua
atau keempat rami panggul
(fraktur straddle), mendorong fragme
n kupu-
kupu dihasilkan mundur bersama-
sama dengan prostat, yang tetap
kebelakang. Gaya geser yang
dihasilkan mengganggu membran ure
thra, saat melewati perineum dan
pasti menghancurkan mekanisme sfin
gter uretra distal.
Unstable pelvic fracture
melibatkan bagian anterior dari
cincin kemaluan dan sendi sacroiliac, ileum,
atau sakrum juga dapat menyebabkan luka
pada uretra posterior, baik sebagai akibat
dari gangguan dari uretra yang disebabkan oleh
distorsi dari panggul tulang selama trauma
besar
Penyimpangan
ini diperkirakan menghasilkan kekuatan geser l
ateral, yang bekerja pada membran uretra,
seperti ligamen puboprostatic dan
daerahuretra bermembran ditarik ke
arah berlawanan.

Tidak stabil fraktur pelvis dan diametral atau
bilateral ischiopubic ramipatah tulang memiliki
kemungkinan tertinggi melukai uretra posterior
type diagnose appearance

I Contusion Blood at the urethral


meatus; normal
urethrogram

Cedera uretra Prostatomembranous dap


II Stretch Elongation of the urethra at bervariasi
injury without dari peregangansederhana (25%) pecah
extravasation on parsial (25%) atau
urethrography gangguan lengkap (50%)
Luka-luka lebih
parah mengakibatkan perpindahan prost
III Stretch Extravasation of contrast
atourethral, dengan pembentukan
injury at injury site
parut progresif meliputi cacat pecah.
with contrast visualized
in the bladder Insiden cedera ganda yang
melibatkan uretra dan kandung
kemih berkisarantara 10% dan 20% laki-
laki, dan mungkin intraperitoneal (17% -
IV Complete Extravasation of contrast
39%) atau ekstraperitoneal (56% -78%),
disruptio at injury site
atau keduanya
with contrast visualized
in the bladder Cedera uretra, dengan sendirinya, tidak
pernah mengancam jiwa,
V Complete Complete transection Asosiasi Amerika
disruption with >2 cmurethral untuk Bedah Trauma (AAST) kemudian m
separation, or extension engusulkanklasifikasi diberikan tabel di
into the sebelah kanan.
prostate or vagina
Cedera Uretra pada Anak
Cedera uretra posterior dapat melibatkan uretra, prostat dan leher
kandung kemih, serta uretra. Kurang umum dibandingkan orang
dewasa uretra Telahditunjukkan bahwa themoreproksimal cedera, semaki
n besar risiko impotensi, dan pembentukan striktur dalam jangka panjang.
Cedera uretra pada Wanita
jarang terjadi karena uretra perempuan yang
pendek tanpa lampiran yang signifikan pada tulang kemaluan. Mereka
biasanya terjadi pada anak dan disertai dengan patah tulang panggul
parah.
Cedera Perineum
Ini dapat terjadi melibatkan urethra, serta
menjadi cedera iatrogenikakibat instrumentasi endoskopi .
Diagnosis
Indikator trauma uretra akut menjamin urethra evaluasi lengkap:
Darah pada meatus
Darah pada introitus vagina
hematuria
Nyeri saat buang air kecil atau ketidakmampuan untuk membatalkan
Hematoma atau pembengkakan
Pemeriksaan prostat
Pemeriksaan radiografi
Urethrography retrograde dianggap standar emas, untuk
mengevaluasi cedera uretra
Pemeriksaan Endoskopi
Pemeriksaan Urethroscopy tidak memiliki peran dalam
diagnosis awal Rauma uretrapada pria.
Pada wanita urethroscopy merupakan tambahan penting untukpemeriksaan
fisik untuk identifikasi dan pementasan cedera uretra
Penatalaksanaan
Bedakan antara striktur uretra posterior dan fraktur
tulang panggul gangguan subprostatic uretra, sebagaipenentuan
prinsip-prinsip pengelolaan bedah.
Fig a. Urethral distraction defect Fig b. Urethral stricture
THANK YOU
Daftar Pustaka
Purnomo. 2007. Dasar-Dasar Urologi, Edisi
Kedua. Jakarta: CV.Sagung Seto.
Reksoprodjo, Soelarto. 1995. Kumpulan Kuliah
Ilmu Bedah FKUI. Jakarta: Binarupa Aksara
Sjamjuhidayat & De Jong. 2005. Buku Ajar
Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. 2005. 782-6