Anda di halaman 1dari 57

PERBUATAN MELAWAN

HUKUM
(PMH)

OLEH:
SULISTYANDARI
KONTRAK PERKULIAHAN

1. Materi Perkuliahan untuk UTS:


a. Ketentuan ttg PMH (KUHPdt)
b. Bab I-IV Buku Ajar:
Bab I. Perikatan, Istilah dan Pengertian PMH
Bab II. Syarat-syarat Mengajukan Tuntutan Ganti rugi
Berdasarkan Ps.1365 KUHPerdata
Bab III. Schutnorm Theori
Bab IV. Tuntutan Yang Dapat Didasarkan Pada Pasal
1365 KUHPerdata
2. Kepustakaan:
a. Sulistyandari, 2012, Buku Ajar Perbuatan Melawan
Hukum, Fakultas Hukum Unsoed, Purwokerto.
b. Wirjono Prodjodikoro, 1992, Perbuatan Melanggar
Hukum, Sumur, Bandung.
c. Moegni Djojodirdjo, 1982, Perbuatan Melawan
Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta.
d. R. Setiawan, 1991, Tinjauan Elementer Perbuatan
Melanggar Hukum, Binacipta, Bandung.
e. Munir Fuadi, 2002, Perbuatan Melawan Hukum
(Pendekatan Kontemporer), Citra Aditya Bakti,
Bandung.
f. Rosa Agustina, 2003, Perbuatan Melawan Hukum,
Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta.
g. J Satrio, 2005, Gugat Perdata Atas Dasar Penghinaan
Sebagai Tindakan Perbuatan Melawan Hukum, Citra Aditya
Bakti, Bandung

3. Tatap muka direncanakan 7 pertemuan (4 pertemuan penyampaian


materi dan 3 kali presentasi tugas, masing2 mhs diberi waktu 8-10
menit)

4. Evaluasi : UTS (40% ), UAS (40%) dan tugas terstruktur (20%)

5. Tugas: Mencari dan menganalisis putusan Pengadilan ttg PMH


Petunjuk tugas:
1. Sebutkan siapa para pihak yg bersengketa
2. Sebutkan duduk perkara scr ringkas
3. Sebutkan tuntutannya
4. Sebutkan pertimbangan hukum hakim
5. Sebutkan putusan hakim
6. Analisis saudara thd putusan tsb di dasarkan norma hk
dan teori hk.
6. Ketentuan yang perlu ditaati:
a. Kuliah on time, terlambat lebih dari 15 menit tidak
diperkenankan masuk kuliah.
b. HP harus di silent.
c. Selama kuliah tidak diperkenankan keluar masuk
ruangan kuliah
BAB I. PERIKATAN, ISTILAH DAN
PENGERTIAN PMH
Perikatan dapat timbul sebagai akibat PMH
Pengaturan PMH di dlm Bk III KUHPdt Ps.1365-1380
- Kedudukan KUHPerdata ?
Pengertian Perikatan
- Subyek, obyek perikatan
Sumber Perikatan
- Perjanjian
- UU
Hubungan Perikatan dengan PMH
Istilah PMH
Onrechtmatige daad (bhs Belanda)
Perbuatan Melanggar Hukum (Wirjono Projodikoro)
Perbuatan Melawan Hukum (Moegni Djojodirjo)
Pengertian PMH
Di dlm KUHPdt tdk dijumpai
Menurut ajaran sempit (PMH dlm. arti sempit)
- Perbuatan yg bertentangan /melanggar dg hak orang lain yg timbul krn UU
(Perbuatan yg bertentangan dg wettelijkrecht)
- Perbuatan yg bertentangan dg kewajiban hukumnya sendiri yg timbul krn UU
(Perbuatan yg bertentangan dg wettelijkkeplicht)
Contoh Keputusan Pengadilan :
- HR, 6-1-1905 perkara Singernaaimechin (perkara mesin jahit singer);
- HR, 10-6-1910 perkara Zutphense Juffrouw (perkara kran ledeng)
Penganut ajaran sempit :
- Land : Ps 1365 KUHPdt= Ps 1401 BW Bld dioper dr Ps.1382 Code Civil
Perancis bahwa wederrechtelijk diubah onrechtmatige = bertentangan dg
UU = onwetmatige
- Simons : kepastian hk akan terganggu jk onrechtmatige diartikan sbg
bertentangan moral atau pergaulan hdp masy krn menjadi tgt pendpt hakim.
Menurut ajaran luas (PMH dlm. arti luas).
Penganut ajaran luas : Mollengraf dan Hamaker yg pendptnya tsb
mempengaruhi pembentuk UU dlm merumuskan RUU th 1911 d 1913,
onrechtmatige daad adalah tindakan/sikap yg melanggar hak orang lain,
atau bertentangan dg kewajiban hk si pelaku, atau bertentangan dg kesusilaan
baik, atau bertentangan dg kepatutan dlm memperhatikan kepentingan diri
dan harta orang lain dlm pergaulan hidup.
Contoh Keputusan Pengadilan :
- HR, 31-1-1919 Perkara Lindenbaum melawan Cohen.
PMH adalah berbuat atau tidak berbuat yang
a. melanggar hak orang lain, atau
b. bertentangan dg kewajiban hk nya sendiri, atau
c. bertentangan dg kesusilaan baik , atau
d. bertentangan dg kepatutan yg hrs diindahkan dlm pergaulan masy
mengenai diri atau benda orang lain
Kata atau menunjukkan alternatif.
Hubungan Ps 1365 dan 1366 KUHPdt
Ps.1365 : tanggung gugat krn onrechtmatige daad (PMH)
PS. 1366: tanggung gugat krn onrechtmatige nalaten (melalaikan scr
onrechtmatige)

Hubungan PMH dg Perbuatan Pidana


Ada persamaan dan perbedaan.
Persamaan: PMH dan Perbuatan pidana sama-sama merupakan
perbuatan yg melanggar suatu larangan
Perbedaan:
PMH Perbuatan Pidana
- Ruang lingkup lebih luas, krn - Hanya bertentangan dg UU
PMH suatu perbuatan yg Pidana (hk. tertulis).
bertentangan dg UU Pidana
(hk. tertulis) maupun
bertentangan dg hk yg tdk
tertulis.
- Bertujuanagar si pelaku
- Gugatan PMH bertujuan agar mendpt sanksi pidana.
si pelaku mengganti kerugian.
- Jika sipelaku perbuatan
- Jika si pelaku mati tanggung pidana mati, tanggung
jawab mengganti kerugian jawabnya atas sanksi pidana
beralih kpd ahli warisnya. menjadi gugur.
Tuntutan PMH dan Pidana:
- Perbuatan pidana dapat dituntut pidana dan perdata (PMH) tetapi
tdk sebaliknya.
- Tuntutan perdata (PMH) tidak perlu menunggu putusan pidana
(dasar hknya: Putusan MA No.925K/Pdt/2004).
- Dimungkinkan adanya penggabungan perkara pidana dan perdata
(PMH) dalam hal yg demikian, perkara perdata dimajukan sebelum
penuntut umum mengajukan tuntutan pidana, jika penuntut umum
tdk hadir diajukan sebelum hakim menjatuhkan putusan (Dasar hk:
Ps. 98 KUHAP)
Hubungan antara PMH dg Wanprestasi
Ada persamaan dan perbedaan
Persamaan: PMH dan wanprestasi sama-sama perbuatan
yg bertentangan dengan kepatutan yg berlaku
dalam masyarakat.
Perbedaan:

PMH Wanprestasi
- Pelanggaran thd hk. Tertulis - pelanggaran kewajiban
dan tidak tertulis di luar perjanjian krn kesalahan
perjanjian. debitur.

- Akibat hk PMH debitur wajib - Akibat hk wanprestasi deb


mengganti kerugian dpt dituntut u melaks perj;
pelaks perj dg ganti rugi;
pembatalan perj; atau
pembatalan perj gd ganti rugi.

- Dlm menuntut ganti rugi - Dlm menuntut wanprestasi,


PMH, kreditur hrs kreditur tdk perlu
membuktikan kesalahan deb. membuktikan kesalahan deb.
(Ps. 1365 KUHPdt.). (Ps. 1244 KUHPdt.).
Bagaimana dg Perbarengan/samenloop/concursus
tanggung jawab antara PMH dan Wanprestasi?
- Perbarengan hanya ada apabila isi masing-masing norma berbeda.
Kedua macam tanggung jawab saling melengkapi, tanpa saling
menutupi (van Dunne)

- Contoh perbarengan wanprestasi dg PMH

Tuntutan PMH dan Wanprestasi:


- Putusan MA No.886K/Pdt/2007 (Pemkab Bekasi vs PT Maruta
Bumi Prima) Komulasi gugatan PMH d Wanprestasi
dibenarkan, sepanjang dalam posita diuraikan secara terpisah
- Putusan MA No.571 PK/PDT/2008 PMH d wanprestasi
tdk dapat disatukan dalam satu gugatan.
Penyalahgunaan hak (misbruik van Recht)
- contoh: kasus cerobong asap palsu (Perancis), kasus kain-kain kumal
dan watermolen (Belanda).
- Kriteria penyalahgunaan hak:
1. Pendapat yurisprudensi: perbuatan itu tdk masuk akal (tidak
patut) dan dilakukan dg maksud untuk merugikan orang lain.
2. Pendapat Pitlo: perbuatan itu antara manfaat baginya dg
kerugian yg ditimbulkan kpd orang lain tdk seimbang, lebih
banyak kerugiannya kepd orang lain.
3. Pendapat J Satrio: perbuatan itu tujuannya tdk sesuai dg hk,
tdk ada kepentingan atau kepentingannya tdk layak/pantas, ada
maksud merugikan orang lain, ada ketdk seimbangan antara
manfaat bgnya dg kerugian yg ditimbulkan kepd orang lain.
- Penyalahgunaan hak dianggap PMH dan dpt digugat melalui Ps.1365
BAB II. SYARAT-SYARAT MENGAJUKAN TUNTUTAN
GANTI RUGI BERDASARKAN
PS.1365 KUHPerdata

Pasal 1365 KUHPdt: Tiap perbuatan yg melawan hk, yg membawa


kerugian kpd orang lain, mewajibkan orang krn salahnya menerbitkan
kerugian itu mengganti kerugian.

Syarat-syarat/unsur-unsur:
1. Ada PMH
2. Ada kesalahan
3. Ada kerugian
4. Ada hubungan causal antara perbuatan dg kerugian

Syarat/unsur tsb bersifat komulatif


Syarat 1. Ada PMH/onrechtmatigedaad (dalam arti luas)
a. melanggar hak orang lain, atau
b. bertentangan dg kewajiban hk nya sendiri, atau
c. bertentangan dg kesusilaan baik , atau
d. bertentangan dg kepatutan yg hrs diindahkan dlm pergaulan masy
mengenai orang lain atau benda.
Kata atau menunjuk sifat alternatif.

Ad.a. melanggar hak orang lain,


Hak = hak subyektif yaitu hak perdata yang diatur oleh UU
Menurut Mejers: wewenang khusus yg diberikan oleh hk kpd seseorang untuk
digunakan bagi kepentingannya.

Karakteristik hak subyektif:


- hak tsbt mrpk kepentingan yg mempunyai nilai tinggi;
- ada pengakuan langsung thd hak ybs dlm per perUUan;
- mempunyai suatu posisi pembuktian yg kuat dalam suatu perkara yg
mungkin timbul.
Hak-hak subyektif yg diakui yurisprudensi:
1. hak-hak perorangan/pribadi spt. hak integritas atas jiwa dan tubuh,
hak kebebasan pribadi, hak atas kehormatan, hak atas
nama baik
2. hak-hak atas harta kekayaan spt. Hak-hak kebendaan dan hak
mutlak lainnya.
PMH: perbuatan yg melanggar hak subyektif sesorang yg diakui oleh
hukum spt hak pribadi dan hak hak kebendaan
Hinder (gangguan)?
Penggunaan hak milik yg mrpk gangguan pd hak orang lain dan krnnya
mengakibatkan kerugian pd orang lain mrpk PMH
- menimbulkan kerugian materiil PMH melanggar hak subyektif
- menimbulkan kerugian immateriil PMH melanggar sikap hati-hati
yg hrs diindahkan thd orang lain (norma kepatutan)
Ad. b. bertentangan dg kewajiban hukum nya sendiri.
Terminologi kewajiban hukum:
- Sekarang kewajiban yg didasarkan hk tertulis dan tidak tertulis
- Dalam pengertian PMH ini adalah kewajiban berdasarkan UU
Yg dimaksud UU: peraturan umum yang mengikat umum yg berasal
dari penguasa yg berwenang (UU formil dan UU
materiil), baik peraturan umum privat/ pdt maupun
publik (spt Hk Pidana, Hk Administrasi)
PMH: perbuatan yg bertentangan dg kewajiban hk dlm perUUan

Ad.c. bertentangan dg kesusilaan baik


Kesusilaan: norma-norma moral yg dlm kehidupan masy diakui sbg
norma-norma hukum yg baik yg tidak tertulis.
PMH: perbuatan bertentangan dg norma-norma moral yg baik yg diakui
sbg norma hk yg tdk tertulis
Ad.d. bertentangan dg kepatutan yg berlaku dlm pergaulan di masy thd
diri atau barang orang lain.
Dlm mel perb, orang itu hrs memperhatikan kepentingan sendiri,
kepentingan orang lain d mengikuti apa yg men masy patut/layak.
Perbuatan dianggap bertentangan dg kepatutan:
1. Perbuatan itu sangat merugikan orang lain tanpa kepentingan yg
layak/patut (perb itu tdk mengindahkan keharusan dlm perg masy)
2. Perbuatan itu tdk berguna yg menimbulkan bahaya thd orang lain,
dimana menurut manusia normal hal tsb harus diperhatikan (perb
itu tdk mengindahkan kehati-hatian dlm perg masy)
PMH: perbuatan itu sangat merugikan atau menimbulkan bahaya thd
orang lain yg hrs diperhatikan sbg manusia yg normal

Alasan pembenar (rechtvaardigingsgrond)


- Sifatnya eksepsional/pengecualian
- Akibat hknya meniadakan sifat melawan hknya suatu perbuatan,
krnya pelaku bebas dr kewajiban atas ganti rugi.
- Dlm KUHPerdt tdk diatur, scr umum alasan pembenar yg diakui
dan dpt diterapkan: keadaan memaksa/overmacht (Ps.48 KUHP)
atau keadaan darurat/noodtoestand (Arrest HR,3-5-1934),
pembelaan terpaksa/noodweer (Ps.49 ayat 1 KUHP), menjalankan
peraturan UU /wettelijk voorchrijt (Ps.50 KUHP), perintah
jabatan/ambtelijk bevel (Ps.51 KUHP)
- Menurut Niewenhuis, perkembangan dlm peradilan perdata
mrpk alasan pembenar krn: ada izin; ada persetujuan korban

Syarat 2. Ada kesalahan/schuld.


- Pelaku dianggap bersalah dan dpt dikenai tanggung jawab apabila ia
menginsyafi ttg akibat -akibat dari perbuatannya
- Kesalahan dibedakan dlm arti luas meliputi kesengajaan dan
kealpaan.
- Kesalahan dalam arti yang sempit hanya berupa kesengajaan.
- Ada kesengajaan (dolus): apabila pelaku pd waktu melakukan
perbuatan itu sdh mengetahui bhw akibat dari perbuatannya akan
merugikan orang lain, dan meski sdh mengetahui masih juga
melakukan perbuatan itu (ada maksud )
- Ada kealpaan (culpa): apabila pelaku pd waktu melakukan
perbuatan seharusnya/semestinya mengetahui akibat yg merugikan itu
akan timbul dr perbuatannya.
- Syarat kesalahan dapat diukur scr obyektif dan subyektif.
Obyektif: hrs dibuktikan apakah sbg manusia normal si pelaku dpt
menduga kemungkinan timbulnya akibat dan kemungkinan
ini akan mencegah manusia yg baik untuk berbuat atau tdk
berbuat.
Subyektif: hrs diteliti apakah si pelaku berdsrkan keahlian yg ia miliki
dpt menduga akan akibat perbuatannya.
Alasan pemaaf/penghapus kesalahan (schulduitingsgrond)
- Alasan penghapus kesalahan al.: gangguan psychis yg bersifat
tetap spt. Sakit jiwa (gila), atau bersifat sementara spt. mabuk,
dihipnotis dll. Gangguan itu hrs sedmk rupa, shg si pelaku tdk
menyadari bhw perbuatannya melawan hk. Kegoncangan jiwa yg hebat
krn serangan/ancaman (noodweer exces) (Ps.49 ayat 2 KUHP) dpt sbg
alasan penghapus kesalahan.
- Sifatnya eksepsional/pengecualian
- Akibat hukumnya si pelaku dibebaskan dr kewajiban mengganti
kerugian.
Pada prinsipnya menurut Ps.1365 KUHPdt si korban hrs
membuktikan adanya unsur salah pd pelaku.
Perkembangan teori pembuktian unsur salah dalam PMH:
1. Doktrin pembuktian terbalik, dikenalkan dlm UU No.8/1999 ttg
UUPK yaitu pelaku dianggap bertanggung jawab bersalah, jk ia ingin
bebas hrs membuktikan bhw pelaku tdk bersalah (Ps.19, 27, 28 UU
PK))
2. Doktrin tanggung jawab mutlak (strict liability) dikenalkan
dlm UU No.32/2009 ttg UU PPLH, yaitu Korban cukup mennjukkan
faktanya d pelaku wajib bertanggung jawab tanpa hak untuk
membuktikan ketdk bersalahannya (Ps.87)
3. Doktrin yang memihak pada korban (Doktrin res ipsa
loquitur), yaitu korban cukup menunjukkan faktanya, yang disangka
Pelaku diberi hak untuk membuktikan ketidak bersalahannya.
Syarat 3. Kerugian (Schade)
- Ps.1365 KUHPdt tdk mengatur ttg kerugian krn PMH.
- Ps.1243 1252 Bag IV Bab I Buku III KUHPdt ttg ganti rugi krn
wanprestasi dpt diterapkan secara analogis pd ganti rugi krn
PMH, kecuali Ps. 1247 (ttg kerugian yg dpt diduga sewaktu perikatan
dilahirkan)) dan 1250 KUHPdt (ttg kerugian krn terlambat
pelaksanaan perikatan.

- ganti rugi krn PMH bersifat materiil dan immateriil.


Kerugian Materiil: kerugian yg sejak semula dpt dinilai dg uang.
Meliputi kerugian sejumlah yg diderita dan kehilangan keuntungan
yg diharapkan. Dpt berupa biaya, rugi dan bunga.
Kerugian immateriil/idiil: kerugian yg sejak semula tak dpt dinilai
uang, namun nantinya akan dijabarkan dlm sejmlh uang ttt jk diputus
Pengadilan, nilainya tgt kebijakasanaan hakim. Contoh kerugian
immateriil: kerugian krn kehilangan nyawa/kematian, kerugian krn
cacat, kerugian krn penghinaan thd nama baik, kerugian krn rasa malu
atau rasa sedih atau rasa tenteram krn ketakutan, kerugian krn
kehilangan kesenangan hidup.
Hakim dlm menentukan kebijaksanaan hrs memperhatikan
kedudukan, kemampuan dan keadaan kedua pihak (Ps.1370, 1371,
1372). al. berat beban mental yg dipikul korban, status dan kondisi
korban, status dan kondisi si pelaku.
- Kerugian harus dibuktikan, yg menuntut wajib membuktikan (Put
MA No.78K/Sip/1973, tgl.22-8-1974).
- Hakim berwenang menentukan besarnya ganti rugi akibat PMH, dapat
mengurangi dr jumlah yg dituntut (Put MA No.610 K/Sip/1968, tgl.23-
5-1970) dan dapatmengabulkan lebih dr jumlah yg dituntut asalkan
msh sesuai dg materiilnya (Put MA No.556 K/Sip.1971, tgl.8-1-1962)
Syarat 4. Hubungan kausal (orzakelijk verband)
- Untuk menentukan apakah ada hub causal/sebab akibat antara PMH
dg kerugian ada beberapa ajaran/teori:
1. Ajaran conditio sine quanon/equivalentie theori oleh Von Buri:
tiap peristiwa/perbuatan yg mrpk syarat untuk timbulnya akibat
merupakan sebab drpd akibat.

2. Ajaran Adequat verorzaking oleh Von Kries:


yg dianggap sbg sebab yg menimbulkan akibat adalah perbuatan yg
seimbang yg menurut perhitungan yg layak dpt menimbulkan
akibat atau perbuatan itu dpt dianggap sbg sebab langsung dari
akibat (kerugian) yg muncul.
BAB III. SCHUTZNORM THEORIE
Theori Schutznorm disebut juga dg Ajaran Relativitas, krn
menurut teori ini seseorang yg menuntut PMH, hrs membuktikan bhw
si pelaku telah melanggar suatu norma yg bertujuan melindungi
kepentingan orang yg dirugikan, artinya PMH itu adalah relatif, hanya
thd orang ttt yg kepentingannya dilindungi oleh norma hk tsb.

Tokohnya: Van Gelein Vitringa


Menurutnya, theori ini mengajarkan bahwa untuk menuntut ganti rugi
berdasarkan Ps. 1365 KUHPdt pihak yg dirugikan harus membuktikan
tidak hanya 4 syarat melainkan 5 hal yaitu:
1. Ada PMH
2. Ada kesalahan
3. Ada kerugian
4. Ada hub an causa antara PMH d kerugian
5. Norma yg dilanggar bertujuan melindung kepentingan orang yg
dirugian
BAB IV. TUNTUTAN YG DPT DIDASARKAN
PADA PS.1365 KUHPdt.
1. Ganti rugi dlm bentuk uang.
2. Ganti rugi dlm bentuk natura/dikembalikan dlm keadaan semula.
3. Pernyataan bhw perbuatan yg dilakukan adalah PMH
4. Melarang untuk melakukan PMH
5. Meniadakan sesuatu yg diadakan secara melawan hukum.
6. Pengumuman dari keputusan.
KONTRAK PERKULIAHAN

Materi Perkuliahan untuk UAS:


a. Ketentuan ttg PMH (KUHPdt)
b. Bab V-IX Buku Ajar:
Bab V : Tanggung Jwb thd PMH yg Dilakukan oleh
Orang lain
Bab VI : Tanggung Jwb atas Kerugian yg Ditimbulkan
oleh benda dan binatang
Bab VII : Tanggung Jwb untuk Kerugian yg Ditimbulkan
krn Kematian, Cacat, Penghinaan
Bab VIII : Tanggung Jwb dari Badan Hukum
Bab IX : PMH oleh Penguasa
Kepustakaan:
a. Sulistyandari, 2012, Buku Ajar Perbuatan Melawan Hukum, Fakultas
Hukum Unsoed, Purwokerto.
b. Wirjono Prodjodikoro, 1992, Perbuatan Melanggar Hukum, Sumur,
Bandung.
c. Moegni Djojodirdjo, 1982, Perbuatan Melawan Hukum, Pradnya
Paramita, Jakarta.
d. R. Setiawan, 1991, Tinjauan Elementer Perbuatan Melanggar
Hukum, Binacipta, Bandung.
e. Munir Fuadi, 2002, Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan
Kontemporer), Citra Aditya Bakti, Bandung.
f. Rosa Agustina, 2003, Perbuatan Melawan Hukum, Pascasarjana
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta.
g. J Satrio, 2005, Gugat Perdata Atas Dasar Penghinaan Sebagai
Tindakan Perbuatan Melawan Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung
Tatap muka direncanakan 7 pertemuan (5 pertemuan penyampaian materi dan
2 kali responsi yang hasilnya sbg nilai tugas )

Evaluasi : UTS (40% ) , UAS (40%) dan tugas terstruktur (20%)

Tugas: Analisis Putusan Pegadilan tentang PMH

Petunjuk Tugas:
1. Sebutkan siapa para pihak yg bersengketa
2. Sebutkan duduk perkara scr ringkas
3. Sebutkan tuntutannya
4. Sebutkan pertimbangan hukum hakim
5. Sebutkan putusan hakim
6. Analisis saudara thd putusan tsb
BAB V. TTG. TG. JWB. THD. PMH. YG.
DILAKUKAN ORANG LAIN
Istilah tanggung jwb/tanggung gugat: lebih menekankan
krn ada gugatan pd seorang pelaku PMH, mk pelaku hrs
bertanggung jwb atas perb nya dlm gugatan yg diajukan ke
pengadilan oleh si korban/penderita.

Pasal 1367 ayat (1) KUHPdt ada 2 jenis pertanggungan-


jawab:
1. Pertanggungan-jawab thd PMH yg dilak orang lain yg
menjadi tanggungannya. (Bab V)
2. Pertanggungan-jawab thd kerugian yg ditimbulkan oleh
brg2 yg berada dlm pengawasannya. (Bab VI)
Pasal 1367 ayat (1) KUHPdt: Pertanggungan-jawab
thd PMH yg dilakukan orang lain yg menjadi
tanggungannya, membedakan 3 gol yi:
1. Ps.1367 ay (2) OT/wali thd anak yg blm dewasa
2. Ps 1367 ay (3) majikan thd pelayan dan mereka
yg mengangkat or lain u mewakili urusannya thd
bawahan2nya
3. Ps. 1367 ay (4) guru sekolah thd murid dan
kepala tukang thd tukang
Permasalahan:

1. Apakah Ps 1367 ay (1) mrpk pendahuluan bg ayat


berikutnya?

2. Apakah Ps 1367 ay (1) dpt digunakan sbg dasar kett bg


pertanggungjwb thd orang lain diluar ketiga ayat tsb.?

3. Adakah selain ketiga gol orang yg disebutkan dlm Ps.


1367 atau masih adakah gol lain yg belum disebutkan
oleh Ps 1367 KUHPdt?
Beberapa Pendapat:

1. HR, 28-1-1859: Ps. 1367(1) disusun scr limitatif

2. Sebagian besar sarjana (Diephuis, Hofmann, van


Brakel, Asser, Rutten): Pasal 1367 (1) disusun sebagai
pemberitaan untuk perat pertanggungan jawab yg
diatur oleh ayat berikutnya.

3. Opzomer, Schut, Land Lohman: Ps 1367 (1): berdiri


sendiri.

4. Veegens, Oppenheim: orang yang disebut dlm ps 1367


scr tegas hrs dinyatakan sbg contoh.
Dalam praktek, korban menuntut baik kepada pelaku
atas dasar Ps 1365 KUHPdt dan orang yg
bertanggungjawab atas dasar Ps.1367 KUHPdt.

Tujuan Ps 1367 KUHPdt hendak memberikan jaminan yg


lebih besar akan diterimanya penggantian kerugian kepd
si korban, mengapa?

Orang yg bertanggungjawab atas dasar Ps.1367 dapat


menggunakan hak regresnya jk ia telah memenuhi
tuntutan tsb.
Tg Jwb OT/wali thd Anak
(Ps. 1367 ay 2)

Ada 3 syarat/unsur agar OT dpt dipertg jwbkan atas


dasar Ps. 1367 ay 2:
1. Anak yg belum dewasa melakukan PMH
2. Anak yg belum dewasa hrs bertempat tinggal dg
OT atau wali.
3. Anak yg belum dewasa berada dibawah kekuasaan
OT/Wali.
Apa dsr pertgjwb PMH yg dilakukan anak
dibebankan kpd OT/wali?

1. Menurut UU: dasarnya kesalahan atau kurangnya


pengawasan (culpa in custodiendo). Lihat Ps. 1367
(2) jo Ps.1367 (5)

2. Menurut Pengadilan Belanda:


HR (26-11-1948) kasus putera van Sweden; HR (9-
12-1966) kasus Joke Stapper ; Pengadilan
Amsterdam (23-4-1928) kasus senapan angin,
dasarnya kesalahan.

3. Pendapat sarjana: kesalahan dan resiko.


Dalam Ps 1365 KUHPdt pembuktian ada pada si
Penggugat (yg dirugikan).

Dalam Ps 1367 (2) dihubungkan dg Ps.1367 (5)


dimungkinkan Tergugat (OT/Wali) yg membuktikan
bhw OT/wali tdk bersalah.

OT /wali mempunyai hak regres thd anak.


Masalahnya berapa besarnya?
Penganut teori kesalahan sebagian, teori resiko
semua yg telah dikeluarkan oleh OT/Wali.
NBW (New BW)

- Anak berumur dibawah 14 tahun, OT/wali


bertangjwb, dsrnya unsur resiko.
- Anak berumur antara 14 16 tahun, OT/Wali
bertanggjwb, kecuali jika mrk bisa membuktikan
bhw mrk tdk bisa menghalangi-halangi PMH
anak, dsrnya unsur kesalahan
- Anak berumur 16 tahun, OT/wali tidak
bertanggjwb.
Analisis:
1. Putusan PN Bandung No. 423/PDT/G/2011/PN. BDG
2. Putusan PN Pematang Siantar No. 44/Pdt.G/2014/PN Pms Tahun
2015
TG JWB MAJIKAN DAN MEREKA YG MENGANGKAT O.L.
PASAL 1367 (3)

Majikan bertanggungjwb atas dsr Ps.1367 (3) jika terpenuhi unsur-


unsur/syarat-syarat:
Pelayan/bawahan melakukan PMH yg memenuhi unsur Ps
1365 KUHPdt.

Hubungan Majikan dg pelayan/bawahan mrpk hubungan kerja


dan sub ordinasi

Ada hubungan antara PMH dg pekerjaan yang diberikan oleh


majikan
Contoh: (PN Amsterdam, 3-12-1959 ttg kasus pencurian oleh buruh
perush listrik, HR, 4-11-1938 ttg kasus Meurer-Kota Praja
Voorburg, HR, 21-5-1937 ttg kasus tentara yg dilukai oleh
temanya menuntut kerugian pada negara)
Dasar Pertanggungan jwb majikan d mereka yg mengangkat o.l u
mewakili urusan:
1. Dasarnya teori kesalahan (HR, 14-1-1916 ttg kasus Zwiring yg bekerja
pada Wolf/majikan).
2. Dasarnya teori manfaat/keuntungan.
3. Dasarnya teori resiko.

Apakah majikan mempunyai hak regres?


- Jk PMH yg dilakukan oleh pelayan/bawahan mrpk
pelanggaran perj kerja (wanprestasi) antara majikan dg
pelayan/bawahan, mk majikan mempunyai hak regres.
- Menurut teori resiko, prinsipnya majikan tidak mempunyai hak
regres, kecuali PMH oleh pelayan dilakukan dg kesengajaan.
Analisis Putusan MA No.957/K/Pdt/2006
Tanggung Jwb para guru d kepala tukang
Berdasarkan Ps.1367 (4) KUHPdt

Guru/kepala tukang dpt dipertanggungjwbkan atas dsr


Ps.1367 (4) apabila memenuhi unsur-unsur:
Ada hubungan antara guru dengan murid
Ada hubungan antara kepala tukang dengan tukangnya
Selama waktu antara guru dengan murid

Dasar pertanggung jwb guru sekolah dan kepala tukang


1. Menurut UU, Ps.1367 (4) dihubungkan dg Ps.1367 (5)
dsrnya adalah kesalahan.
2. Menurut pendapat para sarjana, dsrnya resiko.
BAB VI: Tg Jwb atas Kerugian yg Ditimbulkan oleh
Benda dan Binatang
Ps. 1367 (1) kalimat terakhir : tentang kerugian yg ditimbulkan oleh
benda itu sendiri, bukan benda sbg alat. Tgjwb ada pd pengawas benda
tsb, dsrnya kesalahan. Mis.ambruknya gedung, pohon yg tumbang.

Ps.1368 : Tgjwb atas kerugian yg ditimbulkan oleh binatang. Tgjwb ada


pd Pemilik atau Pemakai binatang. Kerugian hrs ditimbulkan oleh
binatang itu sendiri baik langsung atau tdk langsung. Dsr pertgjwb nya:
1. kesalahan : (HR, 2-1-1931 ttg diseruduk sapi). 2. Resiko: (HR, 7-3-
1990 ttg diseruduk banteng).

Ps.1370 dan 1371 dapat diterapkan jk ada seseorang mati atau luka oleh
sesekor binatang.

Kasus Putusan HR,31-5-1966 ttg diseruduk sapi yg dititipkan. Orang yg


dititipi binatang dianggap sbg orang yg mengawasi binatang u
kepentingan pemilik/pemakai.
Ps,1369: kerugian yg ditimbulkan oleh ambruknya gedung. Tgjwb ada
pada pemilik gedung. Unsur-unsur yg hrs dipenuhi:
1. Ada gedung (adalah sgl sesuatu yg dibentuk dg pembangunan, hrs
terikat dg tanah)
2. Gedungnya ambruk seluruh/sebagian.
3. Ada kelalaian dlm pemeliharaan atau kesalahan dlm pembangunan.
Dsr pertanggjwb: 1. UU krn kesalahan (kelalaian). 2. HR krn resiko, krn
pemilik tetap bertgjwb.

Tg jwb dr Pemilik/Pemegang kendaraan bermotor atas dsr Ps.1365 dan


1367 (3). Berdsrkan UU No.33/1964 atau UU No.34/1964 korban
mendptkan santunan atas dsr UU ini, ttp tdk menutup kemungkinan
korban tetap menuntut atas dsr Ps, 1365, 1367 (3), 1370 d 1371KUHPdt.
Bab VII: Tg. Jwb u Kerugian yg timbul krn
Kematian (Ps.1370), Luka/Cacat (Ps.1371),
krn Penghinaan (Ps.1372-1380)

Ps. 1370 mengatur tentang:


Perbuatannya
Yang mempunyai hak untuk menuntut
Pembatasan hak menuntut
Cara menentukan besarnya ganti rugi
C0ntoh: Putusan MA No.202k/Pdt/1992

Ps. 1371
Perbuatannya
Yang mempunyai hak tuntut
Yang dapat dituntut
Cara menentukan besarnya ganti
Contoh: Putusan PT No.45/Pdt/2011/PT.TK
Ps. 1372 mengatur tentang:
Perbuatannya (penghinaan Ps.310-321 KUHP) d syaratnya
Yang dapat dituntut
Cara menentukan besarnya ganti rugi

Ps. 1373 mengatur tentang:


Yg dapat menuntut (lihat Ps. 1375 pula)
Yg dapat dituntut selain yg disebutkan dlm Ps 1372

Ps. 1374 mengatur tentang:


Yg dapat dituntut selain yg disebutkan dlm Ps 1372
Ps.1376 : maksud menghina dianggap tidak ada, jk perb itu dilakukan
demi kepentingan umum atau pembelaan darurat.

Ps 1377: Tuntutan perdata tdk dikabulkan jk si terhina dg kep hakim tlah


memperoleh kekuatan yg mutlak yg telah dipersalahkan ttg mel
perbuatan itu.

Ps 1378: Hak tuntut atas dasar penghinaan gugur, bila ada pembebasan
scr tegas atau scr diam-diam dan adanya perdamaian atau
pengampunan.

Ps. 1379: hak tuntut ganti rugi a.d. penghinaan tdk hilang dg matinya
orang yg menghina d yg terhina.

Ps. 1380: Tuntutan penghinaan gugur dg lewatnya waktu 1 th terhitung


sejak diketahui penghinaan oleh yg dihina.
Tuntutan penghinaan hanya dpt diajukan atas dasar
Ps.1372 KUHPerdata, ttp jk terjadi ada orang yg
mengutarakan kata-kata yg menyebabkan ybs
merasa terhina, ttp tdk dpt dikualifisir sbg
penghinaan men UU (Ps.310-321 KUHP), mk Pasal
1365 KUHPdt dpt diterapkan.
Bab VIII: Tg Jwb dr Badan Hukum dan Orgaannya

Bd Hk sbg subyek hukum


Pembedaan bd hk
Ps. 1654: Bd hk berwenang mel perbuatan pdt
Ps. 1655: pengurus bertindak untuk atas nama Bd
hk.
Kewenangan pengurus mewakili bd hk krn
statusnya sbg orgaan.
Sejauh mana kewenangan orgaan dlm mewakili bd
hk?
Perbedaan pertgjwb bd hk berdsrkan Ps.1365 dan
Ps.1367 ay 3
Bab IX: PMH oleh Penguasa

Penguasa adalah bd hk publik yg dpt mel perb hk dlm bidang publik d


bidang privat.

Pengertian PMH oleh Penguasa (Men Rutten): PMH yg dilakukan oleh


kek. eksekutif/alat perlengkapan neg yg disebut dg badan administrasi.

Ps. 1365 adalah kett umum yg dpt diterapkan pd PMH yg dilakukan


oleh orang atau bd hk baik publik maupun privat.

Jk penguasa mel PMH, mk Ps 1365 dpt diterapkan dg ukuran yg


berbeda, krn perb penguasa hrs dianggap tujuan u kepentingan umum
yi kesejahteraan rakyatnya.
Penguasa dianggap melakukan PMH (bertentangan dg
kepatutan) jk mel. Detournement de povoir dan willekuer.

Detournement de povoir (penyalahgunaan


hak/kekuasaan): Perb penguasa tdk sesuai dg maksud dan
tujuan peraturan per UUan.

Willekuer (sewenang-wenang): Perb penguasa setelah


mempertimbangkan semua kepentingan yg tersangkut dg
perbnya sehrsnya tdk sampai mel perb seperti itu.
Apakah Pengadilan umum wenang mengadili PMH
penguasa?
Wenang dasarnya Ps.134 IS d Ps.2 RO

Apakah PTUN wenang mengadili perb penguasa?


wenang sepanjang itu merupakan sengketa tata
usaha negara (lihat Ps.1 ayat 4 UU No.5/1986)

Anda mungkin juga menyukai